Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ANALISIS OBAT, KOSMETIK DAN MAKANAN


PENETAPAN KADAR NITRIT DALAM DAGING OLAHAN (CORNED BEEF)
SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

Penyusun:

1. Laras Perwita Dewi FA/10023 ( )

2. Meilida Wulandari FA/10025 ( )

3. Muhammad Faishal Mahdi FA/10029 ( )

4. Mutia Ulinur FA/10030 ( )

5. Mandara Lamigi FA/10042 ( )

Kelas : FKK
Golongan/ Kelompok : II / 2
Tanggal Praktikum : 25 April 2017
Asisten Jaga :
Asisten Koreksi :
Dosen Pembimbing :

LABORATORIUM ANALISIS OBAT, KOSMETIKA DAN MAKANAN


BAGIAN KIMIA ANALISIS
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM ANALISIS OBAT, KOSMETIK DAN MAKANAN
PENETAPAN KADAR NITRIT DALAM DAGING OLAHAN (CORNED BEEF)
SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

I. TUJUAN
Praktikan mampu menetapkan kadar nitrit dalam daging kornet secara kuantitatif
menggunakan metode spektrofotometri Visibel.

II. DASAR TEORI


Dalam pengolahan daging, nitrit dalam bentuk garam semisal natrium nitrit
(NaNO2) lazim digunakan. Penggunaan senyawa tersebut memberikan warna kemerahan
pada daging karena nitrit bereaksi dengan pigmen myoglobin, pemberi warna merah
daging, sehingga terbentuk nitrosomioglobin, senyawa berwarna merah cerah yang stabil.
Di samping itu nitrit juga mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri, di
antaranya Clostridium botulinum (Silalahi, 2005). Akan tetapi, karena nitrit dalam
jumlah berlebih bersifat toksik hingga karsinogenik pada konsumennya, maka Badan
Pengawasan Obat dan Makanan dalam Peraturan Kepala BPOM No. 36/2013 membatasi
jumlah nitrit untuk pengawet dalam produk daging olahan sebesar 30 mg/kg.
Sifat karsinogenik nitrit disebabkan oleh interaksinya dengan amina dan amida
membentuk senyawa nitrosamin, yang dapat menimbulkan tumor pada bermacam organ,
termasuk: hati, ginjal, kandung kemih, paru-paru, lambung, saluran pernapasan, pankreas.
Oleh karena itu, dalam pembuatan daging olahan dianjurkan untuk ditambahkan zat yang
dapat menghambat terbentuknya nitrosamin; misalnya asam askorbat (Silalahi, 2005)
Telah dilaporkan berbagai macam metode untuk menganalisis kadar nitrit, antara
lain: flow injection method, stopped flow analysis, sequential injection analytical
technique dan spektrofotometri. Akan tetapi, sebagian besar dari metode tersebut
membutuhkan instrumen yang mahal dan prosedurnya memakan waktu (Nagaraj dkk.,
2016)
Prinsip analisis nitrit dengan spektrofotometri adalah dilakukannya reaksi diazotasi
terlebih dahulu terhadap sampel; direaksikan sampel dengan senyawa sulfa untuk
membentuk garam diazonium, lalu dikopling dengan Naftiletilendiamin (NED) untuk
menghasilkan senyawa dengan kromofor panjang berwarna keunguan, sehingga dapat
dibaca absorbansinya pada spektrofotometer visibel.
Dalam analisis secara kuantitatif dengan spektrofotometri visibel, suatu berkas
radiasi dikenakan pada larutan sampel dan diukur besar intensitas sinar radiasi yang
diteruskan. Radiasi yang diserap oleh sampel ditentukan dengan membandingkan
intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies
penyerap lainnya (Gandjar & Rohman, 2008).

III. ALAT DAN BAHAN

ALAT BAHAN

- labu Erlenmeyer - Kornet

- Gelas Beaker - Aquadest

- Labu takar 100 ml dan 10ml - Sulfanilat baku

- pipet tetes - NED.2HCl

- gelas ukur - NaNO2 0,1 %

- Spektrofotometer UV-vis - HCl 0,5N

- Kuvet

- Sentrifugator

IV. CARA KERJA

1. Pembuatan Pereaksi Griess


1 gram asam sulfnilat ad 300 ml Dididihkan 0,2 gram naftilendiamin
asam asetat30 dalam 40 ml aquades

Setelah mendidih dituang ke beaker


glass yang telah diisi 300 mL asam
asetat glasial

Dicampur dalam perbandingan 1:1 dengan volume akhir 100mLL dan di simpan
dalam botol coklat
2. Pembuatan larutan baku Natrium nitrit
50 mg NaNO2 dimasukan ke dalam labu ukur 50 mL

Ditambah aquades ad 50 mL (konsentrasi 1000 g/mL)

Konsentrasii tersebut dilakukan pengenceran menjadi 10 g/mL

3. Pembuatan seri konsentrasi baku natrium nitrit


Larutan seri dibuat dengan konsentrasi 1,0 ; 1,4; 1,8; 2,2; 2,6; 3,0 g/mL dengan
cara mengambil 10 g/mLlarutan dengan pipet volume pada volume tertentu
kemudian dimasukan ke dalam labu takar

4. Pembuatan kurva baku nitrit


Larutan baku konsentrasi tersebut diambil masing-masing 10 mL, ditambah 2mL
pereaksi Griess

Larutan dibiarkan selama OT yaitu 15 menit dan dibaca absorbansinya pada


panjang gelombang 548 nm

5. Penetapan kadar sample


Sample daging kornet dihaluskan, kemudian ditimbang 5 gram dan dimasukkan ke
beaker glass 50 mL

Dilarutkan kedalam 500mL aquadest pada 80o C

Disaring lalu diambil sebanyak 10mL dan dimasukkan ke labu ukur 50mL dan di ad
aquadest hingga tanda tera

Ditambahkan 4mL pereaksi Griess dan dibiarkan pada OT 15 menit

Dibaca absorbansi pada panjang gelombang maksimal


V. DATA DAN PERHITUNGAN
I. DATA DAN PERHITUNGAN
Identifikasi Sampel
Sampel : Kornet
Tanggal Analisis : 25 April 2017
Tanggal Produksi :-
Tgl Kadaluwarsa : 27 Oktober 2018
No. Batch : CBP 120 2.1
Netto : 120 gram
Diproduksi oleh : PT Canning Indonesian Products,
Denpasar, Indonesia

Organoleptis
Warna : Merah daging (kecoklatan)
Bentuk : Cacahan halus daging sapi
Bau : Wangi khas kornet sapi

Pembuatan Kurva Baku


Konsentrasi Baku
Absorbansi
(g/ml)
0,833 0,457
1,167 0,600
1,5 0,715
1,833 0,838
2,167 0,940
2,5 1,069

A = 0,1695
B = 0,3602
r = 0,999
Persamaan regresi linier
y = 0,3602 x + 0,1695

Penetapan Kadar NaNO2


Sampel Berat Sampel Absorbansi
I 5,0796 g 0,568
II 5,0707 g 0,667
III 5,0789 g 0,604
IV 5,0725 g 0,518

Penetapan Kadar Regresi dan %Kadar


Absorbansi Sampel (y)A Absorbansi Sampel (y)0,1695
Kadar regresi (x) = =
B 0,3602

Kadar regresi () vol pelarutan faktor pengenceran (fp)


%Kadar = 100%
massa sampel

Massa sampel
Sampel (mg/L) Vol pelarutan (L) FP %Kadar
(mg)
I 1,1063 0,05 5 5079,6 0,0054%
II 1,3812 0,05 5 5070,7 0,0068%
III 1,2063 0,05 5 5078,9 0,0059%
IV 0,9675 0,05 5 5072,5 0,0048%

Uji Pencilan
Nilai yang dicurigai = 0,0068%
| | |0,00680,0059|
Qhitung = = = 0,45
0,006800048

Qkritik untuk 4 data = 3,18. Karena Qhitung < Qkritik, nilai yang dicurigai bukan
pencilan.
0,0054%+0,0068%+0,0059%+0,0048%
Kadar rata-rata = = 0,0057% =
4

0,000057 = 57 = 57

SD = 0,0085%

CV = 100% = 14,91% (nilai CV kurang presisi)

Kadar Nitrit dalam 1 kaleng kornet (Netto = 120 gram)


Sampel 1 = Kadar sampel 1 x Bobot total = 0,0054% x 120 gram = 6,48 mg
Sampel 2 = Kadar sampel 2 x Bobot total = 0,0068% x 120 gram = 8,16mg
Sampel 3 = Kadar sampel 3 x Bobot total = 0,0059% x 120 gram = 7,08 mg
Sampel 4 = Kadar sampel 4 x Bobot total = 0,0048% x 120 gram = 5,76 mg

VI. PEMBAHASAN

Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kadar nitrit dalam makanan daging olahan
(kornet) dengan menggunakan metode spektrofotometri visibel. Analisis kadar nitrit dalam
sampel makanan daging olahan dilakukan menggunakan metode spektrofotometri visibel
dengan perlakuan awal reaksi diazotasi dan pengkoplingan dengan reagen yang spesifik
terhadap gugus tertentu. Reaksi diazotasi yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan
metode Griess II dengan agen pereaksi diazotasi berupa asam sulfanilamide yang menghasilkan
garam diazonium dengan asam nitrit dalam suasana asam, kemudian garam diazonium
direaksikan dengan agen pengkopling N-1 Naftil Etilendiamin (NED) sehingga menghasilkan
senyawa berwarna hasil dari pengkoplingan sehingga dapat diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer visible. Perlu dilakukan analisis kadar nitrit dalam daging olahan
dikarenakan, kadar nitrit yang berlebih dalam daging olahan kornet dikhawatirkan dapat
berakibat buruk bagi kesehatan konsuman. Hal ini disebabkan, nitrit dalam daging olahan
terseut dapat membentuk suatu senyawa karsinogen, yaitu nitrosamine. Sehingga jika kadar
nitrit dalam daging olahan tinggi, maka dimungkinkan kadar nitrosamine yang mungkin
terbentuk dalam daging olahan tersebut juga tinggi.
Sampel kornet yang digunakan bermerk PRONAS CLASSIC Corded Beef (Kornet
Daging Sapi). Kornet ini diproduksi oleh PT. Canning Indonesian Producis, Denpasar 80113-
Indonesia, dengan bahan bahan yang terkandung didalamnya, yaitu : daging sapi, garam,
penguat rasa, terigu, gula, mononatrium glutamat, protein kedelai, bumbu, sekuestran natrium
tripolifosfat dan pengawet Natrium Nitrit. Organoleptis sampel yaitu berwarna merah muda
dan pucat; berbau khas daging dan sedikit amis; berasa khas daging, agak asin dan gurih; serta
bertekstur lunak.
Berikut pemerian bahan baku yang digunakan dalam praktikum ini:
a. Natrium Nitrit (NaNO2)
Nama resmi : Natrii nitrit
Sinonim : Natrium nitrit
RM/BM : NaNO2/69,00
Pemerian : Hablur atau granul, tidak berwarna atau putihkekuningan rapuh
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larutdalam etanol 95 %
P
Khasiat : Zat tambahan
Kegunaan : Sebagai larutan baku
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Anonim, 1979)
b. Asam Sulfanilat
Sinonim : 4-Aminobenzenesulfonic acid, Aniline-4-
sulfonic acid
RM/BM : C6H7NO3S / 173,18 g/mol
Pemerian : Hablur atau serbuk putih atau hampir putih
Kelarutan : Larut dalam 33 bagian air panas, terjadi larutan jernih tidak
berwarna, jika dingin menghablur.
(Anonim, 1979 ; Anonim, 2015)
c. N-(1-Naftil) dihidroklorida etilendiamina (NED.2HCl)

Nama Produk : N-(1-Naftil) dihidroklorida etilendiamina


Sinonim : N-1-Naphthalenyl-1 ,2-ethanediamine dihidroklorida
Nama Kimia : etilenadiamina, N-(1-naftil) -, dihidroklorida
Berat Molekul : 259,18 g / mol
Melting Point : 188 C (370,4 F) - 190 C
Kelarutan : Larut dalam panas, aseton air. Larut dalam alkohol 95%, Asam
klorida encer, alkohol absolut.
Kegunaan : Sebagai agen pengkopling (membentuk senyawa kompleks
berwarna)
(Anonim, 1979)

d. Asam asetat p.a


RM/BM : C2 H4O2/60,05
Asam Asetat mengandung tidak kurang dari 36,0% dan tidak lebih dari 37,0% b/b C 2
H4O2.
Pemerian : Cairan, Jernih tidak berwarna, bau khas menusuk, rasa asam
yang tajam
Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dengan etanol dan dengan
gliserol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

(Anonim, 2015)

e. Asam asetat glasial


RM/BM : C2 H4O2/60,05
Asam Asetat glasial mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 100,5%
b/b C2 H4O2.
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, menusuk, rasa asam jika
diencerkan dengan air. Mendidih pada suhu lebih kurang 118, Bobot Jenis lebih kurang
1,05.
Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dengan etanol dan dengan gliserol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Anonim, 2015)

f. Asam klorida (Hydrochloric Acid)


Nama resmi : Acidum hydrochloridum
Sinonim : Asam klorida
RM/BM : HCl/36,46
Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang, jika
diencerkan dengan 2 bagian volume air, asap hilang. Bobot jenis
lebih kurang 1,18.
Khasiat : Zat tambahan
Kegunaan : Sebagai pemberi asam
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
(Anonim, 1979; Anonim, 2015)
g. Aquadest
Nama resmi : Aqua destillata
Nama lain : Air suling
RM/BM : H2O / 18, 02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai
rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
(Anonim, 1979)

Penetapan kadar nitrit dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri visible


maupun metode volumetri. Metode spektrofotometri visible digunakan dalam analisis
kuantitatif nitrit berdasarkan reaksi diazotasi yang dilanjutkan dengan reaksi kopling
menggunakan pereaksi asam sulfanilat dan NED sehingga membentuk suatu zat
pewarna azo yang merah keunguan dan dapat diukur dengan panjang gelombang
maximum 540 nm menggunakan spektrofotometer Visible. (Vogel, 1985). Sedangkan
Volumetri atau titrimetri merupakan teknik yang sederhana, analisis kuantitatif
dilakukan dengan mengukur volume, sejumlah zat yang diselidiki direaksikan dengan
larutan baku yang kadarnya sudah diketahui secara teliti dan reaksinya berlangsung
secra kuantitatif (Rohman, 2007)
Analisis kandungan nitrit dalam sampel makanan dilakukan untuk mengetahui
kadar nitrit yang terkandung dalam sampel yang diperiksa. Karena penggunaan nitrit
sebagai bahan tambahan memiliki batas maksimum berdasarkan peraturan kepala
BPOM No. 36 tahun 2013 dalam produk daging olahan seperti daging burger yaitu
sebesar 30mg/kg. Jika dikonsumsi berlebihan makan bisa menimbulkan keracunan
sebagai efek langsung dan sifat karsinogenik sebagai efek tidak langsung (Cahyadi,
2009)
Langkah pertama yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu membuat larutan
pereaksi Griess. Larutan pereaksi Griess dibuat dengan cara melarutkan 1 gram asam
sulfanilat dalam 300ml asam asetat 30%, selanjutnya pada tempat terpisah dilarutkan
0,1 gram NED dalam 20mL aquadest kemudian dididihkan. Setelah mendidih larutan
NED dimasukan kedalam gelas beaker bervolume 150ml dan ditambahkan larutan asam
asetat glasial sampai tanda tera. Kemudian kedua larutan tersebut diambil masing-
masing 50mL untuk dicampur 1:1 sehingga volume akhir 100mL.
Langkah selanjutnya yaitu Pembuatan Larutan Baku Natrium Nitrit, caranya
dengan melarutkan 51,2mg NaNO2 di dalam labu takar bervolume 50mL kemudian
ditambahkan aquadest sampai tanda tera (konsentrasi 1mg/mL). Lalu dilakukan
pengenceran agar konsentrasinya menjadi 10g/mL (dipipet 1mL, dilarutkan dalam
labu takar 100mL dan ditambahkan aquadest sampai tanda tera)
Kemudian dilakukan pembuatan seri konsentrasi baku natrium nitrit. Larutan
seri dibuat dengan cara mengambil larutan baku NaNO2 10g/mL sebanyak 2,5 ; 3,5 ;
4,5 ; 5,5 ;6,5 ; 7,5. Lalu masing-masing larutan dimasukan kedalam labu ukur 25mL
dan ditambahkan aquadest hingga tanda tera, hasilnya diperoleh kadar 1 : 1,4 : 1,8 : 2,2:
2,6: 3 g/mL
Langkah berikutnya dibuat kurva baku Natrium Nitrit., masing-masing larutan
dalam seri kadar diambil 10mL. Lalu ditambahkan 2mL pereaksi Griss. Larutan
didiamkan selama 15 menit untuk operating time (OT). Kemudian dibaca
absorbansinya menggunakan spektrofotometer visible dengan max. Hasilnya
sealnjutnya dibuat persamaan regresi linier.
Larutan seri akan bereaksi dengan asam sulfanilat pada reagen griss dalam
suasana asam membentuk garam diazonium. Selanjutnya akan bereaksi dengan NED
yang juga ada dalam pereaksi Griss sebagai pengkopling menghasilkan warna merah
ungu (zat pewarna azo). Larutan didiamkan pada operating time (OT) dengan tujuan
agar reaksi NED dengan garam diazonium berlangsung dengan optimal dan
menghasilkan absorbansi yang stabil. selanjutnya pembacaan absorbansi menggunakan
spektrofotometer Visible dengan panjang gelombang maksimal yaitu 548nm. Diukur
pada panjang gelombang maksimal karena kepekaannya tinggi, selain itu disekitar
panjang gelombang maksimal bentuk kurva absorbansi datar dan memenuhi hukum
Lambert-Beer. Absorbansi yang terbaca kemudian dibuat kurva baku sehingga
diperoleh persamaan garis y = bx+a, hasilnya persamaan baku y = 0,3602 x + 0,1695
yang kemudian digunakan dalam perhitungan sampel.
Reaksi dalam pembentukan garam diazotasi dan pengkoplingan:

(Kar, Ashutosh, 2005)


Langkah terakhir adalah penetapan kadar nitrit dalam sampel yaitu kornet.
Sampel diambil sebanyak 5 gram dan dihaluskan tujuannya untuk menghomogenkan
sampel agar saat pengambilan sampel bisa representatif, lalu dimasukan ke dalam
beaker glass 50mL, sampel tersebut dilarutkan dalam 50mL aquadest pada suhu 80C.
Penggunaan air panas bertujuan untuk mengekstraksi nitrit dari kornet. Hasil percobaan
menggunakan prosedur ini memberikan perolehan kembali sebesar 92% untuk nitrat
maupun nitrit pada analisis kornet (Dennis et al, 1990). Kemudian divortex untuk
mengendapkan matriks pada daging kornet. Hasil vortex diambil supernatannya
kemudian disaring dengan kertas saring untuk menyaring lapisan lemak agar tidak ikut
dalam analisis selain itu penyaringan juga bertujuan agar memperoleh larutan yang
bebas dari partikel yang tidak larut. Karena salah satu syarat analisis menggunakan
spektrofotometri UV-Vis larutan harus larut atau tidak mengandung larutan yang tidak
larut karena bisa menimbulkan pemantulan sinar sehingga hasil pengukuran menjadi
bias. Kemudian filtrat diambil sebanyak 10mL dan ditambahkan 4mL pereaksi Griess,
kemudian dimasukan kedalam labu takar 50mL ditambah aquadest sampai tanda tera
dan didiamkan pada OT selama 15 menit. Kemudian larutan dibaca absorbansinya pada
maks (548nm).
Dari hasil percobaan diperoleh persamaan kurva baku y = 0,3602x + 0,1695.
Sehingga diperoleh konsentrasi rata rata nitrit dalam sampel adalah 57 mg/kg sampel.
Sedangkan menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan dalam Peraturan Kepala
BPOM No. 36/2013 jumlah nitrit untuk pengawet dalam produk daging olahan dibatasi
sebesar 30 mg/kg. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar nitrit dalam sampel kornet
berada di atas kadar maksimum yang ditentukan, sehingga kornet tersebut berbahaya jika
dikonsumsi oleh konsumen. Hal ini disebabkan nitrit dapat bergabung dengan ikatan
amina untuk membentuk N-nitrosamin. Nitrosamin merupakan zat yang bersifat
karsinogen yang mudah terbentuk dari beragam senyawa nitrogen (Preussmann dan
Stewart, 1984). Sehingga, apabila kadar nitrit terlalu tinggi dalam suatu daging olahan,
maka kadar nitrosamine dalam makanan tersebut juga menjadi lebih tinggi, yang artinya
makanan tersebut memiliki resiko yang tinggi menyebabkan kanker. Kadar nitrit yang
tinggi dapat berasal dari proses curing daging kornet supaya memiliki warna yang lebih
menarik dan menjadi lebih awet dan terhindar dari Clostridium botulinum.

VII. KESIMPULAN
1. Kandungan nitrit dalam sampel kornet dapat dideteksi menggunakan spektrofotometer
visibel dengan diawali reaksi pengkoplingan untuk menghasilkan warna
2. Persamaan kurva baku yang didapat adalah y = 0,3602 x + 0,1695
3. Kadar rata-rata nitrit dalam kornet adalah 0,685 g/g sampel dengan SD = 0,0085 dan
CV = 14,91 %
4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar nitrit dalam sampel kornet 57 mg/kg
sampel sudah melebihi kadar maksimum yang ditentukan dalam Peraturan menteri
kesehatan RI nomor 722/Menkes/Per/IX/88 yaitu 30 mg/kg sample sehingga dapat
dikatakan kornet ini tidak aman.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2015, Farmakope Indonesia, Edisi V, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2015, Asam Sulfanilat, http://www.merckmillipore.com/, 28 April 2017
Anonim, 2015,Pusat Informasi Obat Nasional BPOM, diakses dari: pionas. Po.go.id
pada tanggal 28 april 2017 pukul 10.30
Cahyadi W,2009, Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Makanan, Edisi
kedua, PT Bumi Aksara, Jakarta.
Dennis, M. J . , Key, P. E., Papworth, T., Pointer, M. and Massey, R. C., 1990, The
determination of nitrate and nitrite in cured meats by HPLC/UV, Food Add.
Contam. in the press, Department of the Environment cit. Massey, R.C., 1996,
Methods for The Analysis of Nitrate and Nitrite in Food and Water, dalam Hill,
M. J., (Ed.), Nitrates and Nitrites in Food and Water, 19-21, Woodhead
Publishing, England.
Gandjar, I.G. & Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Kar, Ashutosh, 2005, Pharmaceutical Drug Analysis, 2nd Edition, 207-208, New Age
International Publisher, India.
Preusmann, R. and B.W. Stewart, 1984, N-nitroso carcinogens. In "Chemical
carcinogens", 26 edn., ed. C.E. Searle, Am. Chem. Soc., Washington DC., US.
Rohman, A., 2007, Kimia Farnasi Analisis, Cetakan I, 252, 255, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
Vogel, 1985, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, edisi V, PT Kalman Media
Pustaka, Jakarta.

Silalahi, J., 2005, Masalah Nitrit dan nitrat dalam Makanan, Medika 7:460-1.

Yogyakarta, 9 Mei 2017


Praktikan,
1. Laras Perwita Dewi ( )
2. Meilida Wulandari ( )
3. Muhammad Faishal Mahdi ( )
4. Mutia Ulinur ( )
5. Mandara Lamigi ( )