Anda di halaman 1dari 41

Flotasi adalah satuan operasi untuk pemisahan partikel

padat dan cair dari suatu fase cairan.


Dua metode flotasi :
Metode flotasi udara tersuspensi (dispersed Air Flotation),
dimana gelembung-gelembung udara terbentuk akibat
memasukkan fase gas melalui impeller berputar atau
melalui media berpori. Diameter gelembung sekitar 1.000
mikron (m). Metode ini sangat banyak digunakan dalam
industri logam.
Metode Flotasi Udara Terlarut (Dissolved Air Flotation),
dimana gelembung merupakan hasil presipitasi gas dari
suatu larutan yang lewat jenuh terhadap gas. Ukuran
gelembung rata-rata 70-90 mikron. Metode ini banyak
digunakan dalam pengolahan buangan industri.
Mekanisme kontak antara gelembung gas dan partikel
terapung dapat merupakan salah satu tipe atau kedua
tipe berikut:
Tipe yang terutama ditujukan pada materi flok dan
meliputi pemerangkapan gelembung-gelembung gas yang
membesar dan naik kedalam struktur partikel flok yang
membesar. Disini ikatan antara gelembung dan partikel
hanya merupakan penangkapan secara fisik.
Tipe kedua adalah adhesi yang dihasilkan dari ikatan
intramolekul yang terjadi pada permukaan antara fase gas
dan padat dan meningkatkan tegangan permukaan.
Tingkat dimana adhesi akan terjadi dapat diprediksi dari
tegangan permukaan pada sistem gas-cair-padat.
Kontak antara gelembung gas dan partikel di dalam suatu
cairan membentuk fase kontinu

Gambar 4.1 Tegangan Permukaan Yang Terjadi Di Dalam Sistem Tiga Fase
Sudut yang terbentuk antara permukaan gas-cairan dan
permukaan padat-cairan pada titik dimana ketiga fase
berkontak disebut sudut kontak alfa ( ).
Secara aljabar, kesetimbangan diekspresikan sebagai:

cos
GS SL GL

Dimana: GS = tegangan permukaan antara fase gas dan padat


GS = tegangan permukaan antara fase padat dan cair
GL = tegangan permukaan antara fase gas dan cair

Catt: Jika GS sama atau kecil daripada SL , sudut kontaknya bernilai


nol atau tidak ada karena film cairan menghalangi kontak antara fase
cairan dan padat. Jika lebih besar dari pada SL, sudut kontaknya lebih
besar dari nol dan gelembung gas dapat terikat pada partikel padat.
Kecendrungan pengikatan gelembung udara ke padat dipengaruhi oleh
sudut kontak ().
Pemerangkapan gelembung udara biasanya
dipengaruhi oleh penggunaan bahan kimia
koagulan. Senyawa-senyawa kimia, termasuk
alum, feri klorida, silika aktif, dll., mampu
meningkatkan struktur flok partikel terapung
karena adanya peristiwa penangkapan
gelembung udara.
Senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan bantu flotasi,
karena mempengaruhi sifat permukaan fase-fase yang terlibat
adalah :
Frothers : senyawa alkohol, minyak pinus dan asam kresilat yang dapat
menurunkan tegangan permukaan antara gas dan cairan. Dengan
penambahan senyawa ini membentuk gelembung dan froth yang lebih stabil
pada permukaan cairan.
Collectors yang dapat:
Menurunkan tegangan permukaan antara padat dan cair, atau
Meningkatkan tegangan antara gas dan padat
Kedua hal diatas dapat meningkatkan sudut kontak . Senyawa kimia yang tergolong
collectors adalah sabun, asam-asam lemak dan amina.
Activators merupakan kelompok senyawa kimia yang meningkatkan
pengaruh collectors.
Depressants mencegah flotasi dari fase-fase tertentu tanpa mencegah fase
yang diinginkan untuk terflotasi.
Promoters merupakan gabungan antara activators dan depressants
Dua metode flotasi udara terlarut;
Vacuum Flotation
Buangan diaerasi pada tekanan atmosfer dalam waktu
pendek dalam keadaan vakum (mendekati 9 in.Hg)
diaplikasikan sehingga menimbulkan presipitasi udara
terlarut dari larutan jenuh. Kenyataan menunjukkan bahwa
hanya jumlah udara terbatas yang dapat dipresipitasikan
dari suatu larutan jenuh pada tekanan 1 atm.
Pressure Flotation
Metode ini mencakup pelarutan udara pada tekananyang
meninkat dan kemudian diikuti oleh pelepasan udara pada
tekanan atmosfer.
Pemisahan partikel tersuspensi dengan flotasi tidak
tergantung pada ukuran dan densitas relatif partikel,
tetapi tergantung pada struktur dan sifat permukaan
partikel serta jumlah udara yang digunakan dalam
flotasi
Faktor yang sangat penting dalam desain operasi flotasi
adalah:
Konsentrasi padatan yang diolah
Jumlah udara yang digunakan
Overflow Rate
Waktu detensi, terutama dalam pemadatan bahan
terapung
Sebagai ketentuan dan
untuk pertimbangan
praktis:
Kedalaman 6 ft
diperlukan untuk unit
flotasi untuk
meminimalkan turbulensi
dan short circuiting
Overflow Rate 1-4
gal/ft3/menit
Waktu detensi 10-40
menit
Gambar 4.2 Hubungan Antara Ratio Udara-Padatan Dan
Konsentrasi Ss Effluen Dan Padatan Terflotasi
1. Karakteristik Partikel
2. Pengendap Gravitasi

Text
Text
5. Electrostatic Presipitator

Text Aerosol

Text

Text 3. Pemisah Sentrifugasi

4. Impingement Separators
www.themegallery.com
Company Logo
Karakteristik Partikel
Aerosol merupakan suspensi partikel halus di dalam
medium gas, biasanya udara. Partikel dapat berupa
padat dan cair. Suspensi partikel padat biasanya
dinyatakan sebagai debu (dust) sedangkan suspensi
partikel cair disebut sebagai kabut (mist) atau
entrainment
Gambar 4.3 Klasifikasi Ukuran Partikel Aerosol dan Peralatan
yang Digunakan untuk Pemisahan Partikel
Peralatan sederhana untuk tipe ini adalah bentuk
reaktor seperti box panjang dan horizontal diaman
aerosol mengalir.
Daerah cross section box dibuat cukup besaar untuk
mengurangi kecepatan aliran aerosol ke titik dimana
partikel dapoat mengendap dibawah pengaruh
gravitasi.
Untuk kebanyakan aerosol, kecepatan kritisnya
adalah sekitar 10 ft/dt. secara umum, tidak feasible
menggunakan box untuk memisahkan partikel
dengan diameter kurang dari 40 mu.
Contoh Gravity Settler (GS)
Gambar 4.4 Pengendap Gravitasi Howard)
Hubungan yang dikembangkan untuk klarifikasi
golongan 1 suspensi cairan dapat diterapkan pada
pemisahan aerosol ini:
4 g . 0,5

vt = v = [ ( s
)D ]

p
3CD s

Persamaan diatas dapat digunakan untuk menghitung


kecepatan terminalnya. Kapasitas aliran suatu bak
pengendap untuk penyisihan sempurna partikel dengan
ukuran tertentu diestimasi dengan persamaan :
q0 = vto .A
Seperti telah disinggung sebelumnya, kebanyakan aerosol
mengandung partikel-partikel dengan berbagai ukuran.
Untuk aerosol seperti ini, analisis pengendapan dan
penyisihan totalnya dapat dihitung dengan persamaan :
1
v .dx
xo
XT = (1- xo) + 0 t
v t0
Peralatan ini paling banyak digunakan untuk
pemisahan aerosol. Tipe paling sederhananya adalah
siklon yang terdiri dari kerucut yang dilengkapi dengan
suatu inlet tangensial pada lokasi bagian atas.
Aerosol yang masuk akan terdefleksi oleh dindingakan
menimbulkan gerakan rotasi yang kuat. Gas berputar
seperti spiral ini menuju kebagian bawah kerucut. Pada
bagian bawah gas akan memperkuat spiralnya dan
bergerak ke atas karena vortex luar. Untuk selanjutnya
dilepaskan pada bagian atas.
Gambar 4.5 Separator Siklon
Gaya-gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh gerakan
melingkar baik pada spiral yang menyebabkan partikel
aerosol terpisah dari gas yang lebih ringan maupun
pada dinding siklon. Dengan demikian, momen gaya
gravitasi dan komponen vertikal bekerja untuk
memindahkan partikel ke bagian dasar separator.
Meskipun siklon dapat digunakan untuk memisahkan
partikel berdiameter 2-1000 mu, dalam prakteknya
pemisahanpa yang lebih besar dari 200 mu, gravity
settler akan memberikan hasil yang lebih baik
Dalam desainnya, hukum stokes berlaku untuk partikel 2-200
mu dengan memasukkan nilai 24/NRe dan aE untuk CD dan G
pada persamaan 4.2. Sehingga menjadi :

Dimana : vt = Kecepatan terminal pengendapa partikel,


ft/dt
DP = Diameter partikel, ft
NRe= Bilangan Reynold
CD = Koefisien Drag
aE = Percepatan partikel, ft/d2
= densitas gas, lb.massa/ft3
..4.7 s = densitas partikel, lb.massa/ft3
= viskositas absolut, lb.massa/ft.dt
Dengan hubungan antara kecepatan aerosol yang masuk ke
siklon dan kecepatan sudut dalam siklon adalah :
V .r Dimana : V = kecepatan aliran linier, ft/dt
= kecepatan sudut aliran, radian/dt
r = radius rata-rata, ft

Percepatan dalam bidang sentrifugal dinyatakan dengan:


Substitusi persamaan 4.9 dan 4.11 ke dalam persamaan 4.7:
9..S .
0,5

D r
.4.12

p
.V .n .(
e
s
)
Jika lebar aliran aerosol masuk ke siklon, Bc disubstitusikan untuk Sr
pada persamaan 5.12 , DP menjadi diameter ukuran partikel terkecil
yang dipisahkan secara sempurna dari aerosol. Namun biasanya
dalam siklon diametere dinyatakan dalam ukuran terpotong (cut
size), DPc. Yang merupakan diameter diaman setengah dari partikel
masuk terpisahkan dari aerosol karena beratnya. Sedangkan 50%
partikel masih tersisa.
Jarak dimana partikel dengan diameter DPC bergerak sebelum
bertabrakandengan sisi silinder siklon adalah ssebesar Bc/2. Dengan
mengganti Sr pada persamaan 5.12 menjadi:

4,5..B .
0,5

D
c Dimana: DPC = diameter partikel yang 50% terpisah secara


beratnya, ft.

pc
.
V .n .( e
) s
Bc = lebar aliran aerosol masuk, ft
Istilah ne merupakan kuantitas empiris yang haus ditentukan
berdasarkan eksperimen. Nilai n e- untuk siklon mendekati 5.
pemisahan keseluruhan dari aerosol yang mengandung
partikel-partikel berbeda ukuran akan sama dengan efisien
penyisihan berat untuk setiap partikel dan fraksi berat total
partikel-partikel dengan ukuran tersebut adalah sebagai
berikut:
Gambar 4.6 Cut Size untuk siklon dengan proporsi geometrik sama dengan yang terdapat pada gambar 4.5
a.cut size sebagai fungsi diameter siklon dan gravitasi spesifik partikel
b.faktor koreksi viskositas dan kecepatan untuk cut size
Gambar 4.7 Efisiensi penyisihan untk siklon dengan
proporsi geometrik seperti pada gambar 4.5
Gambar 4.8 Integrasi Grafis
Pada tipe ini pemisahan aerosol yang paling sederhananya
hanya terdiri dari suatu seri piringan perforasi dimana
aliran aerosol bergerak melalui suatu bukaaan.
Partikel-partikel bertumbukan dan terkumpul sepanjang
permukaan antara bukaan.
Di dalam alat ini partikel aerosol cendrung untuk terus
bergerak akibat gaya inersianya dalam arah asli dan
bertumbukan pada permukaan suatu bagian.
Lihat gambar 4.9, disini diamater silinder Db ada sepanjang
aliran aerosol yang ditandai dengan garis penuh
melengkung sekitar silinder. Partikel, karena densitasnya
yang besar dan momentum yang juga besar akan mengikuti
jalur seperti digambarkan oleh garis putus-putus.
Gambar 4.9 impingement partikel aerosol pada sebuah silinder
Jarak partikel bergerajk melalui garis aliran tersebut sebagai
stopping distance, s, yang secara matematis jarak tersebut
dituliskan sebagai:

s v.dt .4.15
Dimana v=kecepatan relatif partikel dalam
arah dimana pergerakan dimulai, ft/dt
0

Drag force partikel diberikan oleh :


C . A . .v 2

F
D
D P

2.g c

Dalam hukum stokes kisaran persamaan ini menjadi partikel


sferik
3. ..D .v 2
Dimana : Ap = luas proyeksi partikel, ft2
F
D
P

g c
Drag force dapat menyebabkan penurunan momentum
partikel dalam arah asli pergerakan. Persamaan diatas bila
dalam tinjauan momentum linier akan menjadi:
d (mu ) / dt
F
D
dimana : m = massa, lb. Massa
g c

Dengan pengaturan kembali dan integrasi antara batasan


waktu = 0 dan t maka :
v dv 3 ..D t

dt
P

vi
v m 0

v v .e
( 3 . . Dp . t ) / m

i 4.19

dimana : vi = kecepatan relatif awal, ft/dt


Dengan mensubstitusikan persamaan ini ke
dalam persamaan (4.15) dan dengan
mengintegrasikannya

s v e
( 3. . . D p . t ) / m

i
0

s
m.vi



vi .( s . .D p ) / 6 vi . s .D p
3 2

3. ..DP . 3. ..DP 18.


Rasio stopping distance, s, dan diameter target, Db, diameter
bagian reaktor dimana partikel bertumbukan, mempunyai
korelasi dengan efisiensi target untuk bentuk bentuk target
yang berbeda. Efisiensi ini merupakan fraksi partikel yang
terpisah dari aliran aerosol pada saat tersapu melalui target.

Gambar 4.10 Efisiensi Target Untuk Sferik, Silinder Dan Piringan


Dalam gambar 5.10 efisiensi target dinayatakan dalam
bentuk rasio jarak x (a ke b) dan diameter target Db.
Untuk memperoleh hubungan seperti pada gambar 5.10
harus diingat bahwa:
Target harus cukup jauh terpisah sehingga tidak terjadi
distorsi pola aliran.
Hubungan ini hanya berlaku untuk partikel yang
mengendap secara gravitasi menurut hukum stokes.
Pada alat ini akan terjadi proses penariakan dan
pengumpulan partikel-partikel aerosol berarus pada
permukaan suau elektroda yang mempunyai polaritas
berlawanan. Ada dua jenis elekroda yang digunakan :
Discharge electode yang terdiri dari kawat atau beberapa
objek lain dengan permukaan kecil. Discharge ini
dihasilkan oleh voltase sebesar 100.000 Volt. Dan
berfungsi untuk mengionisasi molekul gas di dalam aerosol
Collecting electrode mempunyai permukaan luas dan
berfungsi untuk mengumpulkan partikel aerosol setelah
diarusi oleh ion-ion gas.
Presipitator Presipitator
Satu Tingkat Dua Tingkat

www.themegallery.com
Company Logo
Presipitator Satu Tingkat
Sering disebut juga denganm presipitator Cottrell. Yang
mengkombinasikan ionisasi gas dan pengumpulan partikel di
dalam satu alat. Tipe ini biasanya digunakan untuk
memisahkan debu (tipe piringan) dan mist (tipe pipa).

1 e 1 e
v / v0 v . Ke

Dimana:
= efisiensi pemisahan
V = kecepatan diaman partikel berpindah menuju collecting
electrode, ft/dt
Vo = kecepatan migrasi partikel pada saat aerosol meninggalkan
presipitator, ft/dt
Ke = konstanta presipitator, dt/ft
Vo berhubungan dengan luas permukaan collecting electrode dan
dengan laju aliran aerosol seperti pada persamaan (4.19) maka :
q V .B
Presipitator tipe piringan: v 0
0

A L e

2.q 2.V .D
Presipitator tipe pipa v
0
0

A e
L
Dimana:
q0 = laju aliran aerosol dimana partikel yang memliki kecepatan migrasi sama atau
lebih besar dari V0 akan terpisah seluruhnya, ft3/dt.
Ae = luas permukaan collecting electrode, ft2
V = kecepatan rata-rata aliran gas melalui presipitator, ft/dt
B = jarak antara discharge dan collecting electrode, ft
L = panjang collecting electrode dalam arah aliran gas, ft
D = diameter dalam pipa, ft
Rasio 1/v0 merupakan konstanta presipitator, Ke.
Sedangkan kecepatan perpindahamn partikel berarus
di dalam medan listrik dapat dihitung berdasarkan:
Presipitator Dua Tingkat
Untuk presipitator dua tingkat dengan jarak
antara piringannya dekat, maka efisiensi
penyisihannya adalah :
v.L
v
0
V .B