Anda di halaman 1dari 24

1.

Keutamaan Memelihara Ukhuwah Islamiah


By Nurjannah Usman Posted in Khutbah Jumat
Posted on 21 Agustus 2015

Facebook20TwitterWhatsAppGoogle+Share20
Gema JUMAT, 21 Agustus 2015
Khutbah Jumat, Ust. Akhi Tamlicha Hasan Lc, Penceramah Kuliah Shubuh Masjid Raya
Baiturrahman
ISlAM mengajak kepada persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas,
saling menolong dan membantu serta mengecam perpecahan dan perselisihan.
Menghindari segala hal yang dapat memecah belah jamaah atau kalimat mereka.
Perselisihan dapat menimbulkan kerusakan dalam hubungan baik sesama mereka,
memutuskan persaudaraan dan silaturrahmi, melemahkan agama umat dan
menggagalkan berbagai target yang hendak dicapai dari kehidupan dunianya.
Persaudaraan adalah tali yang mengikat hati antar individu agar menyatu, padu, kuat dan
solid. Persaudaraan juga sebagai bagian dari aktualisasi hakikat keimanan.
Al-Hujurat ayat 10 Allah SWT berfirman: Sesungguhnya orangorang mukmin adalah
bersaudara, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat. Dalam surat Ali Imran ayat 100-107 dengan terang
disebutkan untuk tidak mengikuti hasutan Ahli Kitab yang menebar kebencian dan
permusuhan. Ayat-ayat ini meminta umat Islam berpegang teguh kepada agama Allah,
bertakwa kepada Allah, mati dalam keadaan Islam, menjaga persatuan dan kesatuan,
membina ukhuwah Islamiyah, mengingat anugerah dan nikmat persaudaraan, menyeru
kepada kebaikan, menyuruh yang maruf serta mencegah dari yang mungkar, tidak
berselisih setelah datang petunjuk dan keterangan yang jelas, serta agar orang-orang
beriman mengingat performa, siksa, dan kesudahan orang yang bercerai-berai,
pada hari dimana muka ditampilkan putih berseri dan muka yang hitam durja bermuram
kesedihan dan kehinaan.
Ayat-ayat tersebut merupakan ajaran serius kepada persatuan kalimat (pandangan
hidup), kesatuan barisan dan persaudaraan muslim di atas landasan Islam. Ayat ayat
tersebut mengandung pengertian sebagai berikut :
Pertama, peringatan agar berhati-hati terhadap intrikintrik orang-orang di luar Islam
karena isu dan intrik yang mereka lontarkan tidak lain hanya untuk memurtadkan orang-
orang Mukmin.
Kedua, mengungkapkan bahwa satu dan bersaudara merupakan buah keimanan,
sedangkan perpecahan dan permusuhan adalah buah kekafiran. Hal ini karena makna
mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah beriman yakni setelah kamu bersatu dan
bersaudara, kamu berpecah belah dan bermusuhan.
Ketiga, berpegang teguh pada tali Allah; Islam dan Al Quran, dan konsep persaudaraan.
Keempat, mengingatkan bahwa setelah aneka permusuhan dan peperangan Jahiliah,
ukhuwwah imanniyah (persaudaraan atas dasar keimanan) merupakan nikmat terbesar
sesudah nikmat iman. Dan (Dia) mempersatukan hati mereka (Mukminin). Walaupun
kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya, Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,
(QS. Al-Anfal 63).
Kelima, tidak ada sesuatupun yang dapat mempersatukan umat kecuali jika umat
tersebut memiliki sasaran besar dan risalah termulia yang diperjuangkannya. Tidak ada
sasaran atau risalah yang lebih besar dan lebih tinggi bagi umat Islam, selain dari dakwah
kepada keabaikan yang dibawa oleh Islam untuk dimensi yang seluas-luasnya. Dan yang
terakhir, dalam ayat tersebut, umat diingatkan bahwa sejarah memuat perjalanan hidup
yang dapat memberi nasihat yang baik bagi manusia. Sejarah telah mencatat bahwa
orang-orang sebelum kita telah berpecah belah dan berselisih dalam masalah agama,
kemudian mereka binasa. Perselisihanyang tidak beralasan, karena terjadi setelah
mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan penjelasan dari Allah SWT.
Demikian Al Quran telah menegaskan bahwa kendatipun kaum muslimin berbeda jenis,
warna, negeri, bahasa, dan tingkatan mereka adalah satu umat. Umat pertengahan
yang dijadikan oleh Allah sebagai saksi atas manusia. Wakazaalika jaalnaakum
ummatan washathan litakuunu syuhadaa alannaas (Al Baqarah: 143). Umat yang
disebut dalam Al Quran dengan: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan umat
manusia, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman
kepada Allah. (Ali Imran: 110).
Al Quran juga menjelaskan bahwa ukhuwah yang kokoh merupakan ikatan suci antara
jamaah kaum Muslimin dan bukti yang mengungkapkan hakikat iman. Bahkan disisi
berbeda AlQuran menyatakan bahwa kehidupan yang tidak bersaudara adalah bagian
dari kehidupan di dalam neraka: Famaa lanaa min syaafiin, wala shadiiin hamiim (As
Syuaraa: 100-101). Bila sejenak merenung maksud ayat-ayat tersebut, sangat wajar
kekayaan melimpah tidak mampu menjamin ketenangan dan kedamaian bisa terwujud,
cita-cita akan gagal diraih, dan setiap tingkatan pembangunan akan terpuruk, ekonomi
dan pasar nihil pengendalian, jika Ukhuwah Islamiyah tidak teraktualisasi dengan baik
dan benar. Bahkan dengan tanpa Ukhuwah Islamiyah siksa, bencana, mala petaka,
maupun keganasan suatu kaum akan ditimpakan dan dirasakan kepada kaum lainnya.
Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atas kamu
atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang
saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang
lainnya (alAnam:65).
Membina ukhuwah Dalam hadits Rasul SAW meminta kita menyemai cinta antar sesama
dengan menebar salam, karena cinta adalah bagian dari keimanan. Dari Abi Hurairah
sabda Rasul saw: Demi yang diriku berada di tanganNya, tidaklah kalian akan masuk
surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling
mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian akan sesuatu yang jika kalian lakukan
pasti kalian akan saling mencintai?. Sebarkanlah salam diantara kalian(H.R. Muslim).
Sikap dan prilaku lainnya yang mampu menumbuhkan persaudaraan adalah menjaga
kehormatan dan melindungi keamanan sesama. Sabda Nabi saw: Darah sesama
Muslimin setara. Orang terdekat berkewajiban melindungi kehormatannya. Orang terjauh
berkewajiban melindungi keamanannya. Dan mereka adalah satu tangan (kekuatan)
dalam menghadapi orang lain(H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr).
Menjaga diri dan umat ini dari perkara-perkara bidah, ahli syubhat, dan kelompok
kesesatan. sekalipun hal itu berhubungan dengan al-Quran. Firman Allah swt:
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah)
menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan
memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat(al-Anam:159). Dalam
hal ini, Rasulullah saw meminta kita berhatihati dan menghindari mereka. Sabda Rasul
SAW:Jika kamu melihat orang-orang yang suka mengikuti mutasyabih dari Al-Quran,
hendaklah kamu waspada terhadap mereka. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim,
Rasul SAW member ketegasan:Bacalah alQuran selama bacaan itu dapat menyatukan
hati kalian, tetapi jika kalian berselisih, hentikanlah bacaan itu.
Sikap lainnya adalah mengedepankan toleransi dalam masalah yang diperselisihkan, lalu
mencari solusi dengan cara musyawarah, persuasif, damai, dan saling menghargai.
Sikap ini dilandasi kemungkinan adanya ragam kebenaran dan corak sudut pandang
pada masalah-masalah ijtihadiyah dan furuiyyah, lalu berimplikasi pada kesimpulan dan
vonis atas realitas. Kasus-kasus seperti inilah yang merealisir kebenarn makna dari
pesan Nabi saw dalam hadits yang masyhur dikalangan Ulama bahwa:Perbedaan
Umatku adalah rahmat. Disisi ini pula, harus dipahami dengan pasti bahwa sebuah
konsensus atas banyak masalah furu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Ada
kaedah yang dapat menjadi inspirasi bagi Umat; Nataawan fimaa ittafaqnaa alaih, wa
yadziru badhunaa badhan fimaa ikhtalafnaa fih.
Diantara perilaku yang menguatkan ikatan persaudaraan dan kesatu-paduan umat
adalah menjadikan fasilitas ibadah sebagai wadah kearah itu. Bagi lalkilaki sehari
semalam 5 waktu shalat berjamaah, ditambah ibadah Jumatan dalam sepekan,
sangatlah mendukung terciptanya iklim perasaan bersaudara. Apalagi telah diberikan
garansi oleh Nabi saw terhadap majelis rumah Allah dan keilmuan akan naungan sayap
(doa) para malaikat, turunnya rahmat dan ketentraman (sakinah), serta dielukan oleh
majelis yang ada di langit (di sisi Allah). Namun demikian, sebagai manusia masih
terdapat kemungkinan terjadinya kekeliruan, kesilapan, kesalahan, dan kealpaan dalam
berinteraksi. Ketika ini terjadi, sikap memahami keterbatasan diri, meminta maaf dan
saling memaafkan akan menjadi budaya yang mesti dikedepankan.
Khutbah Jumat: 10 Hak Ukhuwah dan Kasih Sayang |

Terimakasih Atas Kunjungannya

Muslim yang satu dengan muslim yang lain adalah satu


ikatan yang diikat dengan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Mukmin yang satu dengan mukmin
yang lain adalah saudara.

Sampai kapan pun, musuh-musuh Islam tidak rela jika umat Islam bersatu dan saling berkasih sayang.
Padahal itu adalah karakter yang harus dimiliki oleh kaum mukminin. Sebagai pengingat agar kita semakin
meneguhkan kasih sayang sesama Muslim ini, khutbah Jum'at edisi 26 Shafar 1433 H bertepatan 20
Januari 2012 bertemakan 10 Hak Ukhuwah dan Kasih Sayang.

***

KHUTBAH PERTAMA


.
.








*


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya
yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua
kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain
menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah.
Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Salawat dan salam atas Rasulullah SAW, yang telah mengajarkan ukhuwah dan memancangkan
keteladanan dalam memenuhi hak ukhuwah sesama muslim. Maka para sahabat beliau pun menjadi
generasi terbaik yang luar biasa kasih sayangnya kepada sesama Muslim.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,


Allah SWT menyebutkan bahwa generasi Muslim terbaik adalah generasi yang saling berkasih sayang antar
mereka.





Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath : 29)

Dalam ayat yang lain, Allah juga menyebutkan karakter itu sebagai karakter generasi pengganti; generasi
pilihan.






Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya,
yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin (QS. Al-maidah : 54)

Bagaimana bentuk kasih sayang sesama muslim yang menjadi hak ukhuwah itu? Setidaknya ada 10 bentuk
kasih sayang yang menjadi hak ukhuwah :

1. Berlemah lembut dalam bersikap dan bertutur





Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imran :
159)

2. Memaafkan dan memohonkan ampun serta bermusyawarah dengan mereka




Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan
mereka dalam urusan itu (QS. Ali Imran : 159)

3. Tawadhu' terhadap sesama Muslim






Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu. Janganlah seseorang
menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain. (HR. Muslim).

4. Menghilangkan hal-hal yang bisa menyakiti mereka


Dalam sebuah hadits, Abu Barzah Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,


:



Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat bermanfaat bagiku. Beliau
menjawab, Singkirkanlah gangguan dari jalan-jalan kaum muslimin. (H.r. Muslim dan Ibnu Majah)

5. Senyum, Salam dan Sapa




Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah (HR. Tirmidzi)






Wahai sekalian manusia, sebarkan salam, berikan makanan, dan lakukan shalat saat orang lain tidur
malam, niscaya kalian masuk surga dengan tenang. (HR. Tirmidzi, "hasan shahih")

6. Meringankan kesusahan sesama Muslim dan membantu mencarikan solusi baginya







Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya. Barangsiapa
menghilangkan kesusahan seseorang, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari
kiamat. (Muttafaq 'alaih)

7. Menutupi aib sesama Muslim




Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah menutup aibnya pada hari kiamat.(Muttafaq
'alaih)

8. Senang melakukan/memberikan sesuatu yang disenangi sesama Muslim




Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya(HR.
Bukhari)

9. Menunaikan hak-hak mereka, terutama enam hak sosial Muslim dari Muslim lainnya
, ,
:



, , ,

Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam; jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah
salam kepadanya, jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika dia meminta nasihat
kepadamu maka nasihatilah dia, jika dia bersin dia memuji Allah subhanahu wataala maka
bertasymitlah untuknya, jika dia sakit maka jenguklah, dan jika dia mati maka iringilah
jenazahnya. (H.R. )Muslim

Tasymit adalah mendoakan Muslim yang bersin dengan ucapan "Yarhamukallah" (semoga Allah
)merahmatimu

10. Mendoakan sesama Muslim dalam doa-doa kita, baik sepengetahuannya ataupun di luar
sepengetahuannya




Tidak ada seorang hamba pun yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan
)malaikat akan berkata kepadanya, "Dan bagimu seperti apa yang kamu pinta" (HR. Muslim





KHUTBAH KEDUA






.



*











.



.


.




.






.






.
.
.

.






:



[Khutbah Jum'at 10 Hak Ukhuwah dan Kasih Sayang edisi 26 Shafar 1433 H bertepatan
]dengan 20 Januari 2012 M; Bersama Dakwah
LANGKAH MEWUJUDKAN UKHUWAH ISLAMIYYAH
(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jamaah Ansharusy Syariah)

KHUTBAH PERTAMA


.






:


:







.






Hadirin jamaah jumat rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita dengan sebenar-benarnya. Adapun
tema yang kita bahas pada kesempatan hari ini adalah Langkah Mewujudkan
Ukhuwah Islamiyyah.
Ikatan hati tak akan terjadi jika hanya berdasarkan materi. Bersaudara juga tidak akan
ada jikalau Iman bukanlah penyangganya. Prinsip inilah yang harus dimiliki oleh setiap
mereka yang menamakan dirinya muslim, dan prinsip ini yang mesti dimiliki oleh setiap
mereka yang bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang madani. Bahan di dalam
Al-Quran dijelaskan bahwa SESAMA MUSLIM ITU ADALAH BERSAUDARA.

Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
keduasaudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-
Hujurat:10)
Begitu pula tidak ada yang namanya ukhuwah tanpa adanya taqwa dan tidak ada taqwa
tanpa ukhuwah Allah berfirman :

Teman-teman karib pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain
kecuali orang-orang yang bertaqwa. (QS. Az-Zukhruf:67)
Ukhuwah islamiyyah merupakan ikatan Iman yang berdasarkan manhaj Allah dan
terpancar dari rasa taqwa ia merupakan tujuan suci, cahaya tarbiyah rabbaniyah
sekaligus nikmat ilahiyah, Dari Numan bin Basyir, Rasulullah bersabda :


Perumpamaan orang-orang mumin dalam saling cinta, saling belas kasihnya dan saling
perhatiannya laksana badan-jika ada salah satu anggota yang sakit, maka yang lainnya
merasa mengeluh dan demam (panas)."
Jamaah jumat yang dirahmati Allah
Ukhuwah yang dibina berdasarkan aqidah akan mudah menghancurkan dan meluluhkan
segala bentuk kebatilan. Namun apabila benang ukhuwah tidak terajut dengan kuat dan
rapih, maka kaum muslimin akan menjadi sasaran empuk buat ummat yang lain dari
berbagi kepentingan. Dan ini semua terjadi apabila kita terlalu cinta dunia dan tidak
perduli lagi akan perkara akhirat.
Rasulullah bersabda :
Hampir-hampir ummat lain bersekongkol mengeroyok kalian seperti orang yang makan
yang mengeroyok makanan dari nampan. Seorang bertanya apakah disaat itu kita sedikit
wahai Rasulullah? Beliau menjawab: bahkan kalian banyak tetapi kalian seperti buih
banji dan Allah mencabut dari hati-hati musuhmu rasa takut terhadap kalian, lalu Allah
memasukkan dihati kalian (penyakit) Wahan, Wahai Rasulullah apakah Wahan itu?
Beliau menjawab Cinta dunia dan takut mati. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Rasa ukhuwah akan timbul jika sifat suka mementingkan pribadi dan cinta dunia tersebut
disingkirkan dari pribadi muslim. Dan rasa ukhuwah inilah yang menjadi salah satu faktor
penyempurnaan keimanan. Rasulullah bersabda :

Tidak sempurna iman seseorang hingga ia menginginkan bagi saudaranya apa yang
diinginkan untuk dirinya (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah jumat rahimakumullah
Bagaimanakah cara untuk mewujudkan ukhuwah ? kita akan menyebutkan beberapa hal
yang InsyaAllah dapat mengantarkan menuju ukhuwah fillaah. Adapun beberaapa
metode tersebut antara lain :
Iman yang benar, menghilangkan ashabiyah atau fanatisme jahiliyah, dan berhukum
dengan Al-Quran dan As-Sunnah pada setiap persoalan, sebagai way of life [undang-
undang hidup dan kehidupan]. Maka hendaklah setiap individu diantara kita berjalan di
atas bumi berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, mewujudkan apa yang
dipedomani itu dalam bentuk aktifitas nyata sehingga setiap ucapan yang dikeluarkan
dari mulutnya adalah merupakan denyutan qalbu.
Jika sudah tercapai maka akan didapati mayoritas individu hidup dengan semangat yang
satu dan dengan nafas yang satu pula. Ukhuwah islamiyyah terjadi atas ikatan keimanan
yang benar, bukan atas ikatan kebangsaan, kesukuan, kemanusiaan, dan ikatan-ikatan
jahiliyah yang lainnya. Allah taala berfirman :


Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat. (QS. Alhujurat : 10)
Musibah yang menimpa umat islam adalah fanatisme jahiliyah, seperti fanatisme
kebangsaan, fanatisme kesukuan, fanatisme golongan/kelompok, fanatisme partai, dan
setiap golongan berbangga-banggan dengan golongannya dan tidak memperdulikan
orang diluar mereka. Allah taala berfirman :
)30(



) 31(
32()
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan
kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan
janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang
yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap
golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Ruum
: 30-32)
Terpecahnya umat islam, lalu rusaknya persaudaraan islam ini semua diantara makar
jahat syetan dan golongan syetan sehingga umat islam terkotak-kotak dan terjadilah
fanatisme golongan, Allah taala berfirman :



Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan
penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih
anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Sesungguhnya Fir'aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Membudayakan salam.
Rasulullah pernah bersabda :


Tidaklah kalian masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah sempurna iman kalian
sehingga kalian saling mencintai. Apakah mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian
lakukan akan timbul diantara kalian rasa saling mnencintai? Sebarkanlah salam diantara
kalian! Menyempatkan diri untuk mengujungi saudaranya."
Imam Malik dalam kitab AL-MUWATHTHO meriwayatkan, berkata Nabi shalallaahu
alaihi wasallam- bahwa Allah befirman yang artinya :
Pasti akan mendapat cintaku orang-orang yang mencintai karena aku, dimana keduanya
saling berkunjung karena aku dan saling memberi karena aku.
Memenuhi hak-hak saudaranya.
:

Hak seorang muslim atas muslim ada enam, yaitu jika bertemu maka ucapkanlah salam,
jika diundang maka penuhilah, jika ia bersin lau mengucapkan Alhamdulillah maka
doakanlah dengan Yarhamukallah, jika sakit jenguklah ia, dan jika ia meninggal
antarkanlah [kekubur]."
Saling mendoakan dan memohonkan ampun.
Allah taala berfirman :


Orang-orang yang datang setelah mereka [Muhajirin dan Anshar], mereka berdoa : Ya
Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati-hati kami
terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya engkaau maha
penyantun lagi maha penyayang.
Marilah kita rajut kembali tali persaudaraan islam (ukhuwah islamiyyah) dengan sebenar-
benarnya, marilah kita jauhi penyebab dan factor yang dapat merusakan ukhuwah
islamiyyah , dan marilah kita waspadai tipu daya syetan serta golongan syetan dari para
pembela kebatilan, orang-orang kafir, dan orang-orang munafiq dimana mereka selalu
berupaya dengan sungguh-sungguh ingin menghancurkan umat islam yang konsisten
dan komitmen diatas Syariat Islam, Al-Quran dan As-Sunnah.
Demikianlah khutbah yang singkat ini semoga bermanfaat. Dan mohon maaf atas segala
kekurangan dan kesalahan atas penyampaian materi khutbah ini.

.


Khutbah Kedua

.

{
. : :

{:






:

.











.
. .









- See more at: http://www.ansharusyariah.com/read/sariyah -dakwah/469/khutbah-jumat-edisi009-
langkah-mewujudkan-ukhuwah-islamiyyah/#sthash.Dn0o1l9e.dpuf
MENINGKATKAN UKHUWAH ISLAMIYAH


,
.

, ,
: .




.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Dalam kesempatan khutbah jumat kali ini, saya ingin mengajak hadirin semua, marilah kita
senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu takwa yang dapat
menjadikan diri kita patuh serta taat dalam mengerjakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala
larangan-Nya, juga takwa yang dapat membuahkan kesadaran untuk memelihara persatuan dan
menjauhkan diri dari perpecahan dan permusuhan.
Hadirin sidang jumat yang berbahagia...
Sebagaimana kita ketahui, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW ke Madinah dengan
terbentuknya masyarakat Islam menjadi suatu Umat maka datanglah perintah Allah SWT, agar
semua kaum muslimin baik kaum Anshor maupun kaum Muhajirin bersatu padu dibawah naungan
aqidah Islamiyah secara utuh dan sempurna. Seorangpun tidak ada yang mencari jalan hidup
sendiri-sendiri.
Dalam rangka mentaati dan mempertahankan prinsip tersebut baik dalam keadaan susah
ataupun senang, baik pahit ataupun manis, harus dirasakan bersama-sama oleh kaum muslimin
pada saat itu. Persatuan Islam kurun Madinah itu bagaikan suatu sistim, yang satu sama lain saling
memperkuat, saling menunjang dan saling mendukung serta saling memperkokoh.
Persatuan yang dibina dengan aqidah Islamiyah itu tidak hanya sewaktu menghadapi
penderitaan dan kesulitan hidup, tetapi yang lebih penting daripada itu adalah semangat setia
kawan yang tetap tumbuh dan berkembang disaat mengalami keberuntungan dan kesenangan yang
melimpah.
Oleh karena itu, nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan, bahwa Islam itu tidak hanya
dapat dihancurkan dari luar, akan tetapi dapat juga dilemahkan dari dalam, lewat perpecahan dan
perselisihan diantara kita.
Nabi Muhammad SAW selalu memberikan dorongan bagi kehidupan kaum muslimin, bahwa
dalam keadaan susah dan senang kita harus tetap bersatu padu. Alangkah prihatin suatu umat,
manakala mereka mengalami kesusahan dan semangat kesetiakawanan tumbuh subur dan
berkembang pesat, tetapi jika belenggu penderitaan di ambang bayang-bayang sukses, maka
masing-masing dari mereka selalu mencari jalan sendiri-sendiri untuk kepuasan dan melampiaskan
ambisi pribadinya, teman senasib ditinggalkan, Ukhuwah Islamiyah terlupakan, prinsip hidup
gotong-royong dan kebersamaan juga ditinggalkan.
Persatuan dan kesatuan umat, tegasnya ukhuwah Islamiyah, sangat dituntut oleh Islam,
sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 103, yang berbunyi :






Artinya :Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat
Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu,
agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran : 103)
Ayat tersebut mengatakan bahwa perpecahan timbul di kalangan ahli-ahli kitab, mereka
hancur binasa akibat dari perpecahan dan perselisihan, karena hanya memperturutkan ambisi
masing-masing untuk bersaing dan memperebutkan kekuasaan.
Peringatan Nabi Muhammad SAW yang terkandung dalam hadits beliau, seperti yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Saad Muawiyah, Amru Bin Auf, dan lainnya lagi, yang
menyatakan bahwa perpecahan umat terdahulu itu pasti akan terulang menimpa muslimin dimasa-
masa mendatang, jika mereka tidak istiqomah dalam menempuh jalan lurus yang telah digariskan
oleh ajaran Islam.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Allah SWT dengan tegas menyuruh kita umat Islam agar bersatu padu di bawah naungan panji
Islam yang didalamnya terkandung nikmat sangat banyak yang telah dilimpahkan oleh-Nya
kepada kita sekalian dalam segala aspek kehidupan.
Itulah tujuan agama kita yang murni, karena dengan persatuan, kita menjadi kuat dan sanggup
menegakkan ketentuan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Inilah prinsip kehidupan yang harus
kita pelihara bersama-sama dengan baik.
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa kita diperintahkan untuk bertuhan kepada-Nya semata,
yaitu Allah SWT dia Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Nabi akhir zaman adalah
Muhammad SAW. Kitab sucinya yaitu Al-Quranul Karim sebagai pedoman hidup dalam segala
aspek kehidupan sehari-hari. Kiblat kita yaitu Kabah di Masjidil Haram Mekkah Al-Mukarromah
yang menjadi kaum muslimin di seluruh dunia dalam melaksanakan sholat. Puasa dibulan
Ramadhan. Demikian pula masalah zakat dan haji serta muamalat dan sebagainya. Kesemuanya
telah diatur dengan sedemikian rupa dengan tujuan satu, yaitu mengharap keridhoan Allah SWT.
Selanjutnya, mari kita perhatikan dengan cermat tentang makna Rukun Islam, kaitannya
mengarah kepada persatuan dan kesatuan umat, seperti dalam melakukan sholat berjamaah.
Dalam sholat berjamaah semua makmum harus mematuhi gerak-gerik imam, sepanjang imam itu
baik dan benar sesuai ketentuan. Itulah pendidikan Allah SWT bagi seluruh kaum muslimin agar
selalu berpijak diatas asas persatuan yang kokoh dalam rangka mencapai derajat hidup yang mulia
baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Kita yakin bahwa Allah SWT tidak akan mengingkari janji-Nya, selama kaum muslimin
menunaikan kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Sebaliknya, Allah SWT akan
menimpakan azab manakala kaum muslimin tidak mampu menegakkan persatuan diantara
sesamanya. Kita harus selalu menunjukkan kepada mereka bahwa Islam itu benar, dan kebenaran
itu harus ditegakkan serta dikembangkan dengan tulus ikhlas. Islam menganjurkan, kebenaran di
semua sektor kehidupan, apakah dikantor, dijalan, didalam dunia perdagangan, dan lain-lain.
Tegasnya Islam harus selalu mewarnai kehidupan kaum muslimin di mana saja berada dalam
situasi serta kondisi apapun dan bagaimanapun.
Tuntunan Allah SWT kepada kaum muslimin hendaknya melahirkan rasa senasib
sepenanggungan dan satu tujuan dalam setiap gerak dan langkah. Satu hal yang perlu mendapat
perhatian kita semua yaitu agar menjaga keutuhan dan persatuan disiplin dalam menjalankan
ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya, dan tolong menolong antar sesama seagama.
Dalam hal ini rasulallah SAW bersabda dalam haditsnya :



) (

Artinya : Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hubungan silaturrahim, hubungan kasih
sayang serta hubungan cinta mencintai sesama mereka, bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu
anggota badan merasa sakit, seluruh tubuh yang lain turut terasa demam dan tidak dapat
tidur. (HR. Bukhari)
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Demikianlah seharusnya kaum muslimin harus saling bantu-membantu, saling mendukung
dan saling memperkuat untuk membina keutuhan dan kesatuan dimana saja umat berada. Kita
harus lebih mementingkan keutuhan umat Islam, dari pada mementingkan diri sendiri, dan
menjauhi rasa permusuhan dan perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Persatuan membuat kita menjadi kokoh dan kuat sedangkan perselisihan membuat kita lemah
dan mudah dipatahkan lawan. Umat yang bersatu walaupun jumlahnya kecil pastilah akan kuat.
Sebaliknya umat yang banyak, tetapi selalu berselisih akan mudah dapat dikalahkan lawan.
Oleh karena itu Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 249, yang
berbunyi :






Artinya : Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang
banyak dengan izin Allah. (QS. Al-Baqarah : 249)
Hendaklah kita menyadari, betapa besar bahayanya jika selalu terjadi perpecahan yang akan
membawa bencana dan malapetaka serta hilangnya kekuatan umat itu sendiri.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Bangsa Indonesia kini sedang membangun untuk menuju era tinggal landas, dua puluh lima
tahun pertama jangka panjang. Sedang sektor kehidupan dan pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya tengah dipersiapkan, agar hasil-hasil pembangunan dapat dirasakan dan dinikmati
secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia di tanah air kita.
Hanya dengan kehidupan beragamalah akan dapat dicapai hidup sejahtera lahir bathin,
bahagia di dunia dan akhirat. Dengan tumbuh suburnya penghayatan dan pengamalan agama kita
pasti akan menambah tumbuh suburnya falsafat negara Pancasila yaitu Baldatun Thoyyibatun Wa
Rabbun Ghafur. Sekali lagi, marilah kita tingkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama
kita serta hidup antar kita sesama seagama yang saling menguntungkan terutama dalam pergaulan,
sosial kemasyarakatan.
Dari uraian tersebut diatas, dapatlah disimpulkan bahwa persatuan dan kesatuan umat Islam
sangatlah diperlukan karena dapat membuahkan satu kekuatan dan mendatangkan kemaslahatan
bagi kaum muslimin, bagi keutuhan bangsa negara. Sebaliknya, perpecahan dan pertentangan akan
mengakibatkan kehancuran umat Islam itu sendiri.



.

,
.
Pertama-tama, Marilah kita panjatkan puja-puji dan syukur kehadlirat Allah SWT karena
dengan qudratdan iradat-Nya kita semua dapat berkumpul di masjid yang penuh berkah
ini, dalam rangka menjalankan salah satu kewajiban kita sebagai umat Islam yakni ibadah
shalat Jumat berjamaah. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan ridho dan pahala
yang berlipat ganda dari Allah SWT. Shalawat dan salam selalu kita haturkan kepada
junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya, dan para
pengikutnya yang setia sampai hari kiamat nanti.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah


Pada kesempatan kali ini, khatib berwasiat wabilkhusus untuk diri khatib sendiri dan
umumnya kepada jamaah sekalian. Marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita
kepada Allah SWT, takwa dalam arti takwa yang sebenar-benarnya. Imtitsalun
awamirillahi wajtinabu nawahih, yakni menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi
segala larangan-larangannya.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah SWT, kondisi
masyarakat Arab Jahiliyah saat itu sangat menyedihkan. Perang antar suku selalu
berkecamuk, tanpa ada yang menghentikan. Masyarakat yang lemah menjadi santapan
penindasan bagi kaum yang kuat. Perpecahan dan pertikaian sudah menjadi hal yang
biasa. Dalam kondisi yang gelap seperti ini, datanglah cahaya Islam yang menerangi
mereka sehingga seluruh negeri Arab mendapat perdamaian, persaudaraan, dan
persatuan. Hati mereka yang kotor dan penuh dengan kedengkian dan permusuhan,
berganti menjadi keihklasan dan kasih sayang. Keadaan seperti ini, digambarkan oleh
Allah SWT dalam firman-Nya :
) : ( ..
Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali agama Allah dan jangan bercerai-
berai( QS Al Imran : 103 )
Allah SWT memerintahkan kaum muslimin supaya mereka bersatu dalam kesatuan
aqidah, yaitu berpegang teguh kepada agama Allah SWT. Dia melarang kepada kaum
muslimin hidup bercerai-berai, karena bercerai-berai dan pertengkaran dapat
menghilangkan kekuatan umat Islam. Persatuan dan kesatuan umat Islam disebut
juga ukhuwah Islamiyah artinya persaudaraan sesama umat Islam. Karena orang-orang
yang beriman itu sesungguhnya bersaudara.
Agama Islam adalah satu-satunya agama yang paling kokoh yang dapat mewujudkan
persatuan dan persaudaraan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada
umumnya. Islam sangat menganjurkan kepada seluruh umat manusia yang hidup di
dunia ini untuk saling kasih mengasihi, sayang menyayangi tidak terbatas hanya antar
satu golongan dan suku saja, tetapi antara bangsa yang satu dan bangsa yang lain.
Bahkan kita sebagai umat manusia diperintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk
Allah, termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.
Oleh sebab itu, kita sebagai penganut agama Islam harus mampu memperlihatkan
kepada dunia bahwa Islam adalah agama persatuan dan persaudaraan untuk semua
umat manusia di muka bumi ini. Islam mengajarkan umatnya untuk mempertahankan
serta memelihara Negara, mempersatukan umat, dan membangun masyarakat. Sebagai
contoh yang kita ambil adalah, bahwa Rasulullah SAW beliau adalah seorang pemimpin
dan negarawan yang telah berhasil menyatukan berbagai golongan masyarakat sejak
berpuluh-puluh tahun saling bermusuh-musuhan. Firman Allah SWT dalam Al Quran :
) : (
Artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah
antar kedua saudaramu ( yang berselisih ) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu
mendapat rahmat. ( QS Al Hujurat : 10 )
Untuk mengatasi kondisi umat Islam yang saat ini sangat memprihatinkan, maka
persatuan dan kesatuan sesama umat Islam sangatlah diperlukan. Dengan persatuan
dan persaudaraan inilah para sahabat Rasulullah SAW dan para pendahulu kita dapat
meraih kemenangan dan keberhasilan. Demi menjaga persatuan dan persaudaraan,
marilah kita hindari pertikaian dan permusuhan diantara sesama umat Islam.
Nilai persatuan yang diajarkan agama Islam adalah persatuan lahir dan batin, saling
tolong menolong, saling menyayangi dan senasib sepenanggungan. Sebagaimana
dalam hadits Nabi Muhammad SAW :

) (
Artinya : Diriwayatkan dari Numan bin Basyir ra : Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda
: Perumpaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling
menyayangi , seperti satu tubuh. Apabila satu organ tubuh merasa sakit, akan menjalar
kepada semua organ tubuh yaitu tidak dapat tidur dan merasa demam. ( HR. Muslim )
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Persaudaraan itu terbagi menjadi tiga, yaitu ( 1 ) Ukhuwah Islamiyah ( 2 ) Ukhuwah
Wathoniyah, ( 3 )Ukhuwah Basyariyah. Oleh mari kita tingkatkan kualitas hablum
minannas dalam arti menjaga dan memelihara hubungan kita dengan sesama manusia.
Agar tercipta kehidupan yang aman dan sentosa serta menjadikan negeri kita
sebagai Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati
Demikianlah khutbah singkat yang dapat khatib sampaikan, semoga apa yang khatib
sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal amin.

Manusia adalah mahluk sosial yang pasti membutuhkan lingkungan dan pergaulan. Di
dalam pergaulannya tersebut seseorang akan memiliki teman, baik itu di sekolahnya, di
tempat kerjanya ataupun di lingkungan tempat tinggalnya. Banyak di antara manusia
yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan dikarenakan bergaul
dengan teman-teman yang tidak baik.

Namun banyak pula di antara manusia yang mereka mendapatkan hidayah disebabkan
bergaul dengan teman- teman yang shalih. Di dalam sebuah hadits Rasullullah
shallallaahu alaihi wasallam menyebutkan tentang peranan dan dampak seorang teman:
Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk adalah seperti
penjual minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia
memberimu, engkau membelinya, atau engkau akan mendapatkan baunya yang enak,
sementara pandai besi ia akan membakar bajumu atau engkau akan mendapatkan
baunya yang tidak enak. (Muttafaqun alaihi)

Berdasarkan hadits tersebut dapat diambil faedah penting bahwasanya bergaul dengan
teman yang shalih mempunyai dua kemungkinan yang kedua-duanya baik, yaitu: Kita
akan menjadi baik atau kita akan memperoleh kebaikan yang dilakukan teman kita.
Sedangkan bergaul dengan teman yang buruk juga mempunyai dua kemungkinan yang
kedua-duanya jelek, yaitu: Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh
kejelekkan yang dilakukan teman kita.

Di dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menjadikan seorang


teman sebagai tolak ukur terhadap baik atau buruknya agama seseorang, oleh sebab itu
beliau memerintahkan kepada kita agar memilah dan memilih kepada siapa kita bergaul.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
Seseorang bisa terpengaruh agama sahabatnya, maka hendaknya seseorang di antara
kamu melihat kepada siapa dia bergaul. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dll. dengan Sanad
yang saling menguatkan satu dengan yang lain)

Ulama menjelaskan bahwa,


Hati itu lemah, sedang syubhat kencang menyambar. Sehingga pengaruh kejelekkan
akan lebih mudah mempengaruhi kita dikarenakan lemahnya hati kita. Kaum muslimin
sekalian, merupakan sikap yang diajarkan Ahlus Sunnah wal jama'ah adalah menjauhi
para penyeru bidah, para pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa) dan orang-orang fasik yang
terang-terangan menampakkan dan menyerukan kefasikannya, ini merupakan salah satu
tindakan preventif terhadap bahaya lingkungan pergaulan serta agar umat terhindar dari
pengaruh kemaksiatan tersebut.

Seorang teman memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, janganlah ia
menyebabkan kita menyesal pada hari kiamat nanti dikarenakan bujuk rayu dan
pengaruhnya sehingga kita tergelincir dari jalan yang haq dan terjerumus dalam
kemaksiatan. Renungkanlah baik-baik firman Allah berikut ini: Dan ingatlah hari ketika
orang-orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata: Aduhai kiranya aku dulu
mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besar bagiku! Kiranya dulu aku tidak
mengambil si fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku
dari al-Quran sesudah al-Quran itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau
menolong manusia. (QS. al-Furqan: 27-29)

Lihatlah bagaimana Allah menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-


orang fasik dan pelaku maksiat sebagai teman-temannya ketika di dunia, sehingga di
akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi baginya, karena di
akhirat adalah hari hisab bukan hari amal sedang di dunia adalah hari amal tanpa hisab.

Kaum muslimin sekalian, jadikanlah orang-orang shalih sebagai teman akrab kita,
merekalah sebaik-baik teman dan persahabatan dengan mereka adalah sebaik-baik
persahabatan. Adapun selain itu adalah persahabatan yang semu. Maha benar Allah
yang menyebutkan dalam kitab-Nya:
Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain,
kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. az-Zukhruf: 67)

Di akhir tulisan yang singat ini kami akan membawakan perkataan seseorang yang bijak
tentang hakekat seorang teman: Saudaraku, teman sejatimu adalah yang selalu
mendorongmu untuk berbuat kebajikan dan mencegahmu dari berbuat kejelekkan
walaupun engkau jauh dan engkau tidak bergaul dengannya, dan musuh sejatimu adalah
yang mendorongmu berbuat kejelekkan dan tidak mencegahmu dari berbuat dosa
walaupun ia dekat denganmu dan engkau selalu bergaul dengannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu memberikan taufik kepada kita dan
menyelamatkan kita dari kejelekkan lingkungan dan pergaulan serta menganugerahkan
kepada kita lingkungan dan pergaulan yang mendorong kita untuk selalu taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Amin ya Rabbal alamin. [Oleh: Ricky Tripinda]
Bulan Februari merupakan bulan yang identik dengan simbol-simbol yang dianggap
sebagai
lambang cinta dan kasih sayang, yaitu tepatnya pada tanggal 14 Februari. Namun pada
kenyataannya
yang banyak kita dapati bukanlah kasih sayang yang menyelamatkan, akan tetapi yang
kita dapati
adalah semakin meratanya kemungkaran yang membinasakan umat. Karena pada hari
itu pergaulan
bebas di kalangan para pemuda dan pemudi semakin tidak terkontrol. Banyak pula yang
meninggalkan
kewajiban hanya karena merayakan hari valentine. Pandangan haram, sentuhan haram
bahkan zina
pun harus diterjang dengan mengatasnamakan cinta dan kasih sayang. Anehnya, tidak
sedikit para
pemuda dan pemudi muslim yang ikut-ikutan meramaikan dan memeriahkan hari
tersebut, bahkan
banyak pula orang tua yang mendukung anak-anaknya berbuat maksiat.
Memang cinta dan kasih sayang adalah fitrah bagi manusia. Mengasihi dan disayangi
merupakan tabiat dasar dalam kehidupannya. Sebagai agama yang diridhai oleh Allah,
Islam tidak
mungkin melarangnya, sebagaimana juga tidak mungkin membiarkannya terumbar
bebas tanpa
kendali. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa kiat
agar kita bisa
menjalin cinta dan kasih sayang yang sesuai dengan syariat Islam dan tidak
menyelisihinya. Kiat-kiat
tersebut adalah:
1. Memberitahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintainya karena Allah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Apabila salah seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia mendatangi
rumahnya dan
mengabarinya bahwa ia mencintainya karena Allah. (HR. Ibnu al-Mubarak dalam kitab
az-Zuhdu
dengan sanad shahih)
Memberitahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintainya karena Allah harus
dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan dengan cara yang tidak menyelisihi syariat
Islam. Sehingga
kita tidak terjerumus pada kemaksiatan yang mengatasnamakan cinta.
2. Saling menyebarkan salam
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sehingga
kalian beriman,
dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan
tentang sesuatu
yang apabila kalian melakukannya akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara
kalian. (HR.
Muslim, no 54)
Hadits tersebut menjelaskan tiga perkara yang saling berkaitan, yaitu: bahwasanya
masuk
surga tergantung iman, kesempurnaan iman tergantung pada saling kasih mengasihi,
dan saling
mengasihi tergantung pada penyebaran salam.
3. Saling mengunjungi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Wahai Abu Hurairah, berkunjunglah dengan baik (tidak terlalu sering dan tidak terlalu
jarang),
niscaya akan bertambah rasa kasih sayang. (HR. ath-Thabrani dan al-Baihaqi dengan
sanad yang
shahih)
Saling mengunjungi di antara saudara, teman, tetangga, dan sanak famili merupakan
sarana untuk menjalin kasih sayang. Yang perlu diperhatikan adalah hendaknya dalam
berkunjung
mengetahui waktu dan kondisi, serta berusaha menjaga adab-adab bertamu sehingga
tidak
mengganggu ataupun menimbulkan kebencian tuan rumah.
4. Saling memberikan hadiah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Saling memberi hadiahlah kalian,
niscaya
kalian akan saling mencintai. (HR. al-Bukhari dalam kitab Adab al-Mufrad dan al-Baihaqi
dengan
sanad hasan)

Dari hadits tersebut dapat kita ketahui bahwa saling memberi hadiah dapat
menumbuhkan
rasa kasih sayang, dan kenyataannya pun demikian. Hadiah tidaklah harus mahal, akan
tetapi
yang hendaknya diperhatikan adalah memberinya harus dengan tulus ikhlas dan dengan
cara yang
benar. Waktu memberinya pun tidak boleh dikhususkan pada saat perayaan hari
valentine, tahun
baru, ataupun yang lainnya. Yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa pemberian
tersebut tidak
mengandung dosa dan maksiat, seperti suap, barang haram, makanan haram, ataupun
selainnya.
5. Meninggalkan perbuatan ghibah (menggunjing)
Ghibah ialah kerusakan yang sangat berbahaya dari kerusakan-kerusakan yang
disebabkan oleh
lisan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang ghibah dengan sabdanya:
Apakah kalian
mengetahui apa ghibah itu? Para sahabat berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih
mengetahui.
Beliau berkata: Yakni engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.
Para sahabat
berkata: Bagaimana pendapatmu jika seandainya yang aku bicarakan itu memang ada
pada dirinya.
Maka beliau berkata: Jika engkau berkata tentang apa yang ada pada saudaramu maka
sungguh
engkau telah mengghibahnya, namun jika yang engkau bicarakan itu tidak ada pada
dirinya maka
sungguh engkau telah berdusta atas dirinya. (HR. Muslim, no. 2589)
Dalam menjalin dan mempererat kasih sayang hendaknya meninggalkan perbuatan
mengghibah saudaranya dan bahkan menjauhi majelis-majelis ghibah, karena ghibah
dapat
menimbulkan persengketaan dan pertikaian di antara saudara, tetangga atau sesama
manusia
yang lainnya. Sungguh sangat jelek perbuatan ghibah sehingga Allah subhanahu wa
ta'ala
memperumpamakan orang yang ghibah (menggunjing orang lain) laksana memakan
daging
saudaranya yang sudah mati.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan
prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
diantara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.
(QS. al-Hujurat (49): 12)
6. Meninggalkan dosa dan kemaksiatan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah atau karena Islam kemudian
berpisah kecuali
salah satu dari keduanya telah melakukan dosa. (HR. al-Bukhari dalam kitabnya al-Adab
al-Mufrad,
hadits ini adalah hasan)
Apabila seorang muslim memperhatikan hadits tersebut maka ia akan berusaha untuk
menjauhi dan menghindari perbuatan dosa, baik dosa-dosa besar maupun kecil. Seorang
muslim yang
baik akan menjauhi kesyirikan, durhaka kepada orang tua, zina dan perkara-perkara yang
dapat
mengantarkan kepada zina seperti pacaran, berdua-duaan, bercampur-baur antara laki-
laki dan
perumpuan, dan menjauhi hal-hal lain yang termasuk dosa dan kemaksiatan.
Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca sekalian baik di
dunia
maupun di akhirat kelak, sehingga kita dapat meraih kasih sayang dengan cara yang
sesuai dengan
syariat Islam. Dan semoga kita semua dimudahkan untuk menghindari kemaksiatan-
kemaksiatan yang
ada, khususnya pada hari yang dikenal dengan valentine's day. Aamiin
[Abu Hisyam Liadi]