Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN LENGKAP AMAMI II (P)

Identifikasi rodamin B pada sampel minuman metode kromatografi


lapis tipis ( KLT)

Di susun oleh :

Nama : Rizki amalia

Nim : 153145453150

Kelas : 015 D

Kelompok : 4 ( Empat)

PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN


STIkes MEGA REZKY
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

A. Judul percobaan :

Identifikasi rodamin B pada sampel


minumanmetode kromatografilapis tipis ( KLT)
A. Tujuan percobaan :

Untuk mengetahui ada atau tidaknya rodamin b


pada sampel minumanmetode kromatografilapis
tipis ( KLT)

B. Nama praktikan :Rizki amalia


C. Hari /tangal percobaan :
D. Kelompok : 4 empat
E. Rekan kerja :
1. Ade safitri
2. Nurlaela fitriani
3. Rasmi titawael
4. Yohanes delu
5. Suharti

makassar,

Di setujui oleh

Dosen pembimbing Praktikan

Sulfiani S.Si, M.pd Rizki amalia


A. Judul percobaan :
Identipikasi rodamin B pada sampel minuman
B. Tujuan percobaan :

Untuk mengetahui ada atau tidaknya rodamin b


pada sampel minuman

C. Landasan teori
Minuman ringan (soft drink) merupakan minuman yang tidak
mengandung alkohol dengan bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan
tambahan alami maupun sintetik yang dikemas siap untuk dikonsumsi. Pada
awalnya minuman ringan diproduksi untuk penghilang rasa haus kemudian
berkembang dan muncul berbagai konsep dan inovasi baru tentang
minuman.Konsep awal minuman dimodifikasi bukan hanya sebagai
penghilang rasa haus namun juga menawarkan fitur lainnya seperti penambah
rasa dan warna, penambah kandungan minuman seperti vitamin, mineral dan
sebagainya. Selain fitur yang telah disebutkan diatas, konsumsi minuman
ringan semakin meningkat dikarenakan cara konsumsinya yang praktis yang
membuat konsumen lebih memilih minuman ringan tersebut.( Adnan.1997. )
Walaupun pemerintah telah menetapkan larangan atas penggunaan
Rhodamin B dalam produk minman, namun masih banyak produsen minman
yang melakukan kecurangan dengan menambahkan pewarna sintetis
Rhodamin B didalam minman yang mereka produksi. Padahal Rhodamin B
memiliki banyak sekali dampak negatif yang akan ditimbulkan jika sampai
masuk ke dalam tubuh konsumen.
Minimnya pengetahuan tentang dampak negatif Rhodamin B terhadap
makanan, membuat masyarakat awam kurang berhati-hati dalam memilah
dan memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi, dan juga karena
kurangnya pengetahuan dari pihak produsen terhadap undang-undang produk
makanan sehingga masih terdapat kecenderungan penyalahgunaan pemakaian
zat pewarna sintetis untuk sembarang bahan pangan. Hal ini jelas sangat
berbahya bagi kesehatan karena dengan adanya residu logam berat pada zat
pewarna tersebut.
Minuman ringan termasuk dalam kategori pangan. Adapun pengertian
panagn menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004 pangan adalah
segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah
maupun yang tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan
baku tambahan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan
pengolahan dan pembuatan makanan dan minuman.

Defenisi BTP

Bahan tambahan pangan secara definisi dapat diartikan sebagai bahan


yang ditambhakan dengan sengaja terdapat dalam makanan sebagai akibat dari
berbagai tahap budidaya, pengelolaan penyimpanan maupun
pengemasan.Tujuan penggunaan bahan tambahan salah satunya adalah untuk
memperbaiki penampilan atau aroma makanan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No:


329/Menkes/PER/X11/76, yang dimaksud dengan zat tambahan makanan
adalah bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan
makanan untuk meningkatkan mutu, termasuk kedalamnya adalah pewarna,
penyedap rasa dan aroma, pemantab, antioksidan, pengawet, pengemulsi,
antigumpal, pemucat, dan pengental. Dari sekian banyak jenis dari bahan
tambahan pangan yang sering digunakan adalah zat pewarna, karena
penggunaannya yang mudah serta harganya yang masih relatif terjangkau
dibandingkan bahan tambahan pangan yang lain.

Warna dari suatu produk makanan atau minuman merupakan salah satu
ciri yang penting.Warna merupakan salah satu kriteria dasar untuk menentukan
kualitas makanan antara lain warna dapat memberi petunjuk mengenai
perubahan kimia dalam makanan. Oleh karena itu, warna menimbulkan banyak
pengaruh terhadap konsumen dalam memilih suatu produk makanan dan
minuman sehingga produsen makanan sering menambahkan pewarna dalam
produknya..

Zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk


memberi warna pada suatu objek.Penentuan mutu bahan makanan pada
umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna,
tekstur, dan nilai gizinya, disamping itu ada faktor lain, misalnya sifat
mikrobiologis, tetapi sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan, secara visual
faktor warna tampil lebih dahulu dan kadang-kadang sangat menentukan. Suatu
bahan yang dinilai bergizi, enak, dan teksturnya sangat baik tidak akan dimakan
apabila memiliki warna yang tidak sedap dipandang atau memberi kesan telah
menyimpang dari warna yang seharusnya.

Pewarna buatan

1. Tartazine (kuning-jingga).

2. Sunset yellow (merah-jingga).

3. Carmoisine (merah).

4. Quinoline yellow.

5. Ponceau 4R (merah terang).


6. Brilliant Blue FCF, biasanya digunkan untuk es krim.

7. Eritrosit (merah).

Ada hal-hal yang mungkin memberikan dampak negatif dalam

Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)


No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya.Rhodamin B
termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna
berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan. Namun demikian,
penyalahgunaan rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering
terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa.

Rhodamin B mempunyai rumus molekul yaitu C28H31N2O3Cl dengan


berat molekul sebesar 479.000. Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam
makanan ini berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu-kemerah merahan,
sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan
berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol,
HCl, dan NaOH, selain dalam air.Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan
sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg dan titik leburnya pada
suhu 165oC.( Winarno, F.G. 200 )

Di dalam Rhodamin B sendiri terdapat ikatan dengan klorin ( Cl ) yang


dimana senyawa klorin ini merupakan senyawa anorganik yang reaktif dan juga
berbahaya. Reaksi untuk mengikat ion klorin disebut sebagai sintesis zat
warna.Disini dapat digunakan Reaksi Frield- Crafts untuk mensintesis zat warna
seperti triarilmetana dan xentana.Rekasi antara ftalat anhidrida dengan
resorsinol dengan keberadaan seng klorida menghasilkan fluoresein. Apabila
resorsinol diganti dengan N-N-dietilaminofenol, reaksi ini akan menghasilkan
rhodamin B.(Sudarmadji. 1996. )
Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi
bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit
hampir mirip dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan
dalam struktur Rhodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika
dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa
radikal adalah senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui
mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi
atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut
karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan
dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita
sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada manusia.

Ciri makanan yang mengandung Rhodamin B:

. Warna kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik.


Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).
Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
Baunya tidak alami sesuai makanannya
Harganya Murah seperti saus yang cuma dijual Rp. 800 rupiah per botol

Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian


diikuti dengan analisis metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun
rhodamin B tidak hanya disebabkan oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh
kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal dan arsen (Anonim,
2009).Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B berbahaya
jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun
kosmetik.(Syah.2005)

Kromatografi Kertas
Kromatografi didefinisikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut oleh
suatu proses migrasi diferensial dinamis dengan system yang terdiri dari dua
fase atau lebih, salah satu dianttaranya bergerak secara berkesinambungan
dalam arah tertentu dan didalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan
mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarutan,
tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion. Dengan demikian
masing-masing zat dapat diidentifikasi attau ditetapkan dengan metode analitik.

Teknik kromatografi umum membutuhkan zat terlarut terdistribusi di


antarra dua fase, satu diantaranya diam (fase diam), yang lainnya bergerak (
fase gerak). Fase gerak membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah
dari zat terlarut lainnya, yang tereluasi lebih awal atau lebih akhir.Umumnya zat
terlarut dibawa melewati media pemisah oleh aliran suatu pelarut berbentuk
cairan atau gas yang disebut eluen. Fase diam dapat bertindak sebagai zat
penyerap, seperti halnya penyerap alumina yang diaktifkan, silica gel dan resin
penukar ion, atau dapat bertindak melarutkan zat terlarut sehingga terjadi partisi
antara fase diam dan fase gerak. Dalam proses akhir ini suatu llaisan cairan
pada suatu penyangga yang inert berfungsi sebagai fase diam. Partisi
merupakan mekanisme pemisahan yang utama dalam kromatografi gas-cair,
kromatografi kertas dan bentuk kromatografi kolom yang disebut kromatografi
cair-cair. Dalam praktik seringkali pemisahan disebabkan oleh suatu kombinasi
efek adsorpsi dan partisi.( Budianto, P.E. 2008.)

Jenis-jenis kromatografi yang bermanfaat dalam analisis kualitatif dan


kuantitatif yang digunakan dalam penetapan kadar dan pengujian Farmmakope
Indonesia adalah Kromatografi kolom, kromatografi gas, kromatografi kertas,
kromatografi lapis tipis, dan kromatografi cair kinerja tinggi. Kromtografi
kertas dan kromatografi lapis tipis umunya bermanfaat untuk tujuan identifikasi,
karena mudah dan sederhana.Kromatografi kolom memberikan fase diam yang
lebih luas dan berguna untuk pemisahan masing-masing senyawa secarra
kuantitatif dari suatu campuran.Kromatografi gas dan kromatografi cair kinerja
tinggi kedua-duanya membutuhkan peralatan yang lebih rumit dan umumya
merupakan metode dengan resolusi tinggi yang dapat mengidentifikasi serta
menetapkan secara kuantitatif bahan dalam jumlah yang sangat kecil.(
Budianto, P.E. 2008.)

Pada kromatografi kertas yaitu sehelai kertas dengan susunan serabut dan
tebal yang sesuai. Pemisahan kromatografi dapat berlangsung menggunakan
fase cair tunggal dengan proses yang sama dengan kromatografi adsorbsi dalam
kolom. Oleh karena kandungan air pada kertasnya, atau inhibisi selektif dari
komponen hidrofilik fase cair oleh serat kertasnya, dapat dianggap sebagai fase
diam, maka mekanisme partisi berperan penting dalam pemisahan.(FI IV
hal.1012).

Kromatografi kertas merupakan suatu cara pemisahan dan identifikasi


senyawa kimia dengan memanfaatkan rambatan pelarut dan zat terlarut
pada suatu lembaran kertas saring.Selain kertsa saring whatman dalam
teknik kromatografi dpat pula digunakan kertas selulosa murni, kertas selulosa
yanng dimodifikasi dan kertas serat kaca.Untuk memilih kertas yang menjadi
pertimbangan adalah tingkat kesempurnaa pemisahan, difusivitas pembenrukan
spot, efek tailing, pembentukan ekor serta laju pergerakan pelarut terutama
untuk teknik descending. Pengotor yang terdapat pada kertas saring adalah ion-
ion Ca2+, Mg2+, Fe3+, Cu2+

Larutan uji ditotolkan pada kertas dengan pipet mikro pada titik-titik
tertentu pada garis pensil, diameter bercak 6 mm hingga 10 mm dengan jarak
antar bercak tidak kurang dari 3 cm. Jika larutan jumlah yang ditotolkan akan
menghasilkan bercak dengan diameter melebihi 6 mm hingga 10 mm, totolkan
larutan dikit demi sedikit pada titik yang sama, tiap kali biarkan mengering
dahulu sebelum ditotolkan lagi, diatas batas kertas yang tercelup dalam fase
gerak. Dasar bejana digenangi dengan system pelarut untuk eluasi.Jika
digunakan sistem dua fase, maka kedua fase tersebuut ditambahkan.Sebaiknya
dinding bagian dalam bejana dilapisi dengan kertas saring dan lapisan kertas ini
dijenuhkan dengan system pelarut.Bak pelarut kosong ditempatkan pada dasar
bejana dan kertas digantung dan sedemikian hingga bagian ujung kertas yang
telah ditotolkan bebas di dalam bak pelatrut kosong.

Bejana ditutup rapat dan dijenuhkan dengan cara melapis dinding bagian
dalam bejana dengan kertas saring yang dibasahi dengan system pelarut yang
ditetapkan, untuk bejana yang berukuran besar, mungkin perlu dilakukan
penjenuhan selama satu malam. Kemudian fase gerak dengan jumlah berlebih
dari yang diperlukan untuk membasahi seluruh kertas dituangkan ke dalam bak
pelarut melalui lubang.Bejana kemudian ditutup lagi.Jika batas perambatan
pelarut telah mencapai ketinggian yang dikehendaki, bejana dibuka, kertas
dikeluarkan dan kemudian dikeringkan. (FI IV)

D. Pra analitik
A. ALAT DAN BAHAN
a. Alat yang digunakan adalah gelas kimia,, gelas ukur, camber, pipet tetes,
plat, oven, pinset, dan botol semprot.
b. Bahan yang digunakan adalah amoniak 5%, asam asetat 5%, kertas PH,
normal butanol, aquadest, sampel minuman (sting Pwr) dan plat.

B. PROSEDUR KERJA
1. Persiapan untuk Eluent (fase gerak)
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan,
b. 40 ml larutan normal butanol ditambahkan 50 ml asam asetat dan 10
ml aquadest,
c. Dihomogengkan,
d. Kemudian larutan eluent yang telah dibuat tadi dimasukkan kedalam
chamber kemudia ditutup.
2. Persiapan untuk plat silica (fase diam)
a. Plat dikeringkan terlebih dahulu pad oven dengan suhu 100oc selama 30
menit,
b. Kemudian plat disiapkan sesuai ukuran chamber,
c. Plat diberi garis 1,5 cm dari bawah dan 1,5 cm dari atas plat dengan
menggunakan pensil, kemudian ditandai 2 titik pada garis bawah untuk
sampel dan control positif (larutan rodamin B),
d. Plat yang sudah ditotolkan dibiarkan mongering dan dimasukkan
kedalam chamber yang berisi eluent (jangan sampai garis bawah
menyentuh eluent),
e. Kemudian chamber ditutup dan dibiarkan beberapa menit hingga
eluennya menyerap sampai batas garis atas,
f. Plat diangkat dan diukur noda yang berwarna merah muda,
g. Kemudian ukuran noda diukur,
h. Ditentukan nilai Rf sampel dengan Rf rodamin-b,
i. Jika Rf rodamin-b sama atau mendekati dengan nilai Rf sampel, maka
sampel dinyatakan positif (+) mengandung rodamin-b.

Rf = jarak yang ditempuh senyawa tersebut


Jarak uang ditempuh pelarut

3. Preparasi sampel
a. Dipipet 10 ml larutan sampel kemudian ditambahkan asam asetat 5 %
sampai Ph 3,
b. Kemudian dimasukkan benang wol yang panjangnya 15 cm,
c. Dipanaskan di hote plate sampai benang wol mengikat warna,
d. Benang wol diangkat dan dibilas dengan aquadest,
e. Jika benang wol masih berwarna setelah dibilas, selanjutnya benang
wol dimasukkan kedalam gelas kimia dan ditambahkan larutan
amoniak 5 % sampai Ph bersifat basa,
f. Dipanaskan kembali benang wol yang berisi amoniak sampai larutan
tersisa 1 ml.

E. Tabel hasil pengamatan

sampel Warna waktu Di bilas dengan hasil


pemanasan aquades

Minuman fanta Berwarna merah Kehilangan warna Negatif ( tidak


pada saat merah menjadi tak mengandung
pemanasan berwarna rodamin B)

F. Pembahasan
bahan tambahan pangan secara definisi dapat diartikan sebagai bahan
yang ditambhakan dengan sengaja terdapat dalam makanan sebagai akibat dari
berbagai tahap budidaya, pengelolaan penyimpanan maupun pengemasan.
Tujuan penggunaan bahan tambahan salah satunya adalah untuk memperbaiki
penampilan atau aroma makanan.
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengujian menggunakan metode
kromatografi lapis tipis terhadap sampel fanta.Sampel fanta ditambahkan sedikit
dengan asam asetat dan dimasukan benang wol bebas lemak.Kemudian
digambarkan garis- garis pembatas pada lempengan. Panjang lempengan yang
digunakan adalah 8 cm. Diberi garis yang berjarak 1,5 cm dari dasar
lempengan, Sedangkan untuk bagian atas lempengan juga diberi garis yang
berjarak 1 cm. Setelah diberi garis, ditetesi/ ditempeli sampel dan larutan standar
pada garis bawah lempengan. Penetesan atau penotolan sampel dinamakan
dengan pembuatan noda.Pembuatan noda sebaikanya menggunakan
micropipet agar noda yang dibuat memiliki diameter yang sesuai dengan
diameter titik pada garis.Setelah dilakukan pembuatan noda, dimasukkan
lempengan kedalam wadah chamber yang telah berisi larutan standar dimana
batas pencelupannya adalah ketika permukaan larutan sejajar dengan garis bawah
lempengan.
Setelah dihitung, jarak yang ditempuh antara sampel terhadap pelarutan
dapat dinyatakan sebagai Rf. Rf atau Retardation Factor merupakan
Namun setelah kami melakukan uji rodamin b pada sampel minuman
kami tidak melanjutkan pemeriksaan kami menggunakan metode kromatograpi
karna sampel yang kami gunakan negative ( tidak mengandung rodamin B
)parameter

G. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang kami lakukan pada uji rodamin b terhadap
minuman kemasan ( Fanta ) menggunakan metode kromatografi dengan
pemanasan . dan hasil yang kami peroleh dari paraktikum ini kami mendapat hasil
berupa negatit( sampel panta yang kami uji tidak terdapat kandungan rodamin B)
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2008.zat berbahaya dalam makanan.di

dikunjungi.www.doktercantik.com.di akses pada pada tanggal 19Maret

.2014pukul12.12

Budianto, P.E. 2008. Analisis Rhodamin BDalam Saos dan Cabe Giling Di

PasaranKecamatan Laweyan KotamadyaSurakarta dengan Metode

KromatografiLapis Tipis.Menteri Kesehatan RI. 1985

Sudarmadji. 1996. keamanan makanan.ol.jakarta


Syah.2005.Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan

. Teknologi Pertanian IPB: CV.ANDI offset :92-93.

Winarno, F.G. 2004. Keamanan Pangan. Himpunan Alumni Fakultas

. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah:Bogor.