Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN LENGKAP AMAMI II (P)

Identifikasi rodamin B pada sampel minuman metode kromatografi


lapis tipis ( KLT)

Di susun oleh :

Nama : Muhammad asrul

Nim : 15 3145 453 021

Kelas : 015 A

Kelompok : III ( tiga)

PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN


STIkes MEGA REZKY
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

A. Judul percobaan :
Identifikasi rodamin B pada sampel minuman
metode kromatografi lapis tipis ( KLT)
B. Tujuan percobaan :

Untuk mengetahui ada atau tidaknya rodamin b


pada sampel minuman metode kromatografi
lapis tipis ( KLT)

C. Nama praktikan :Muhammad asrul


D. Hari /tangal percobaan : kamis /08 juni 2017
E. Kelompok : III ( tiga)
F. Rekan kerja :
1) Sukri patty
2) Rella saputra
3) Rina wahyuni
4) Nurhalfiati sahaka
5) Irnawati
6) Dedi faisal

makassar,08 juni 2017

Di setujui oleh

Dosen pembimbing Praktikan

Sulfiani S.Si, M.pd Muhammad asrul


A. Judul percobaan :
Identipikasi rodamin B pada sampel minuman
B. Tujuan percobaan :

Untuk mengetahui ada atau tidaknya rodamin b


pada sampel minuman

C. Landasan teori
Minuman ringan (soft drink) merupakan minuman yang tidak
mengandung alkohol dengan bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan
tambahan alami maupun sintetik yang dikemas siap untuk dikonsumsi. Pada
awalnya minuman ringan diproduksi untuk penghilang rasa haus kemudian
berkembang dan muncul berbagai konsep dan inovasi baru tentang minuman.
Konsep awal minuman dimodifikasi bukan hanya sebagai penghilang rasa
haus namun juga menawarkan fitur lainnya seperti penambah rasa dan warna,
penambah kandungan minuman seperti vitamin, mineral dan sebagainya.
Selain fitur yang telah disebutkan diatas, konsumsi minuman ringan semakin
meningkat dikarenakan cara konsumsinya yang praktis yang membuat
konsumen lebih memilih minuman ringan tersebut.
Dipasaran banyak terjual bebas produk minuman ringan bermerk
ataupun tanpa merek yang produksinya dilakukan oleh produsen makanan
besar maupun dari industri rumahan. Produksi tersebut mengalami
peningkatan dari aspek jenis sehingga terjadi persaingan sesama industri.
Untuk meraih pasar maka para pelaku industri melakukan berbagai upaya agar
produk yang dihasilkan dapat menarik perhatian konsumen. Dalam memenuhi
usaha tersebut ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pelaku industri yaitu
dengan menggunakan Bahan Tambahan Makanan (BTM).
Secara luas bahan tambahan pangan terdiri dari berbagai macam jenis
antara lain, pewarna sintetis, pemanis sintetis, aroma serta penyedap rasa. Dari
berbagai jenis tambahan pangan tersebut warna merupakan daya tarik terbesar
yang dapat meningkatkan penerimaan konsumen terhadap suatu produk
makanan. Namun, dalam penggunaannya harus dibatasi karena dalam jumlah
besar, penggunaan BTM dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan
konsumen yang mengonsumsi makanan tersebut. Baru-baru ini pemerintah
telah menetapkan 30 zat pewarna berbahaya salah satunya adalah rhodamin B
yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada
produk pangan
Walaupun pemerintah telah menetapkan larangan atas penggunaan
Rhodamin B dalam produk makanan, namun masih banyak produsen makanan
yang melakukan kecurangan dengan menambahkan pewarna sintetis
Rhodamin B didalam makanan yang mereka produksi. Padahal Rhodamin B
memiliki banyak sekali dampak negatif yang akan ditimbulkan jika sampai
masuk ke dalam tubuh konsumen.
Minimnya pengetahuan tentang dampak negatif Rhodamin B terhadap
makanan, membuat masyarakat awam kurang berhati-hati dalam memilah
dan memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi, dan juga karena
kurangnya pengetahuan dari pihak produsen terhadap undang-undang produk
makanan sehingga masih terdapat kecenderungan penyalahgunaan pemakaian
zat pewarna sintetis untuk sembarang bahan pangan. Hal ini jelas sangat
berbahya bagi kesehatan karena dengan adanya residu logam berat pada zat
pewarna tersebut.
Menanggapi hal tersebut kelompok kami mencoba untuk menganalisa
rhodamin B yang diduga terdapat pada minuman ringan tanpa merk yang
dijual bebas dipasaran.
Minuman ringan termasuk dalam kategori pangan. Adapun pengertian
panagn menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004 pangan adalah
segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun
yang tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku tambahan dan
bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan pengolahan dan pembuatan
makanan dan minuman.
Minuman ringan adalah minuman yang tidak mengandung alkohol,
merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan
makanan baik alami maupun sintetis yang dikemas dalam kemasan yang siap untuk
dikonsumsi. Minuman ringan diperoleh tanpa melalui proses fermentasi dengan atau
tanpa pengenceran sebelum diminum tetapi tidak termasuk air, sari
buah,susu,teh,kopi,cokelat dan minuman beralkohol.
Minuman ringan terdiri dari dua jenis yaitu : minuman ringan dengan
karbonasi dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan dengan karbonasi
adalah minuman yang dibuat dengan mengabsorpsi karbondioksida ke dalam air
minum, sedangkan minuman ringan tanpa karbonasi adalah minuman selain
minuman ringan dengan karbonasi. Fungsi minuman ringan yaitu sebagai minuman
untuk melepas dahaga sedangkan dari segi harga, ternyata minuman ringan
berkarbonasi relatif lebih mahal dibandingkan minuman non karbonasi. Hal ini
disebabkan karena teknologi yang digunakan dalam proses kemasan lebih khas
Industri minuman awalnya menghasilkan produk minuman penghilang rasa
haus kemudian berkembang dan muncul berbagai konsep dan inovasi baru tentang
minuman. Konsep awal minuman dimodifikasi bukan hanya sebagai penghilang rasa
haus namun juga menawarkan fitur lainnya seperti penambah rasa dan warna,
penambah kandungan minuman seperti vitamin, mineral dan sebagainya.
Minuman ringan memiliki komposisi dasar yaitu air sebanyak 90% dan
selebihnya merupakan bahan tambahan seperti zat pewarna, zat pemanis, gas
CO2 dan zat pengawet. Adapun rincian minuman ringan berkarbonasi secara umum
dpaat diuraikan sebgai berikut:
a. Air berkarbonasi merupakan kandungan terbesar didalam carbonated soft
drink. Air yang digunakan harus mempunyai kualitas tinggi yaitu jernih, tidak
berbau, tidak berwarna, bebas dari organisme yang hidup didalam air,
alkalinitasnya kurang dari 50 ppm, total padatan terlarut kurnag dari 500 ppm
dan kandungan logam besi dan mangan kurang dari 0,1 ppm. Sederet prose
dilakuka untuk mendapatkan kualitas air yang diinginkan, anatara lain klorinasi,
penambahan kapur, koagulasi, sedimentasi, filtrasi pasir, penyaringan dengan
karbonaktif dan demineralisasi dengan ion exchanger.Karbondioksida yang
digunakan juga harus murni dan tidak berbau. Air berkarbonasi harus dibuat
denngan cara melewatkan es kering (dry ice) ke dalam air es.
b. Bahan pemanis yang digunakan dalam minuman ringan terbagi menjadi dua
kategori yaitu:
Bahan pemanis natural (nutritive) yang terdiri dari gula pasir, gula cair,
gula invertcair, sirup jagung dengna kadar fruktosa tinggi dan dekstrosa.
Bahan pemanis sintetik (non nutritive) satu-satuna bahan pemanis sintetik
yang direkomendasikan oleh FDA (Food And Drugs Administration
Standard,Amerika Serikat) adalah sakarin.
c. Zat asam (acidulants) biasanya dalam minuman ringan berkarbonasi dengan
tujuan untuk memberikan rasa asam, memodifikasi manisnya gula dalam sirup
atau minuman. Zat asam yang digunakan adalah asam sitrat, asam fosfat, asam
malat, asam tartarat, asam fumarat dll.
d. Pemberi aroma disiapkan oleh industri yang berkaitan dengan industri minuman
dengan formula khusus, kadang-kadang telah ditambahn dengan asam dan
pewarna dalam bentuk;
Ekstrak alkoholik (menyaring bahan kering dengan larutan alkoholik) misalnya
jahe, anggur, lemon lime dll.
Larutan alkoholik (melarutkan bahan dengan larutan air-alkohol)
mislalnyastrawberry, cherry, cream soda.
Emusi (mencampur essential oil dengan bahan pengemulsi)
misalnya vegetable rum, citrus flavor, rootbeer dan cola.
Fruit juice, misalnya orange, grapefruit, lemon, lime dan grape.
Kafein, sebagai pemberi rasa pahit (bukan sebagai stimulant).
Ekstrak biji kola.
Sintetik flavor misalnya ethyl acetate, yang memberikan aroma grape.
e. Zat pewarna untuk meningkatkan daya tarik minuman terdiri dari:
zat pewarna natural, mislnya dari strawberry,cherry, grape.
Zat pewarna semi sintetik misalnya caramel color.
Zat pewarnas sintetik, hanya 5 zat pewarna dari 8 jenis pewarna yang
diperkenankan oleh FDA digunakan sebagai pewarna dalam minuman
ringan.
f. Zat pengawet, misalnya asam sitrat untuk mencegah feermentasi dan sodium
benzoat.
Bahan Tambahan Makanan
Bahan tambahan pangan secara definisi dapat diartikan sebagai bahan yang
ditambhakan dengan sengaja terdapat dalam makanan sebagai akibat dari berbagai
tahap budidaya, pengelolaan penyimpanan maupun pengemasan. Tujuan penggunaan
bahan tambahan salah satunya adalah untuk memperbaiki penampilan atau aroma
makanan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No: 329/Menkes/PER/X11/76, yang
dimaksud dengan zat tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan dan
dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu, termasuk
kedalamnya adalah pewarna, penyedap rasa dan aroma, pemantab, antioksidan,
pengawet, pengemulsi, antigumpal, pemucat, dan pengental. Dari sekian banyak jenis
dari bahan tambahan pangan yang sering digunakan adalah zat pewarna, karena
penggunaannya yang mudah serta harganya yang masih relatif terjangkau
dibandingkan bahan tambahan pangan yang lain
Warna dari suatu produk makanan atau minuman merupakan salah satu ciri
yang penting.Warna merupakan salah satu kriteria dasar untuk menentukan kualitas
makanan antara lain warna dapat memberi petunjuk mengenai perubahan kimia dalam
makanan. Oleh karena itu, warna menimbulkan banyak pengaruh terhadap konsumen
dalam memilih suatu produk makanan dan minuman sehingga produsen makanan
sering menambahkan pewarna dalam produknya..
Zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi
warna pada suatu objek. Penentuan mutu bahan makanan pada umumnya sangat
bergantung pada beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai
gizinya, disamping itu ada faktor lain, misalnya sifat mikrobiologis, tetapi sebelum
faktor-faktor lain dipertimbangkan, secara visual faktor warna tampil lebih dahulu dan
kadang-kadang sangat menentukan. Suatu bahan yang dinilai bergizi, enak, dan
teksturnya sangat baik tidak akan dimakan apabila memiliki warna yang tidak sedap
dipandang atau memberi kesan telah menyimpang dari warna yang seharusnya.
Kestabilan zat warna alami tergantung pada beberapa faktor antara lain cahaya,
oksigen, logam berat, oksidasi,temperatur, keadaan air, dan pH, sehingga penggunaan
zat warna sintetik pun semakin meluas
Zat pewarna dibagi menjadi dua kelompok yaitu certified color dan uncertified
color. Certified color merupakan zat pewarna sintetik yang diijinkan penggunaannya
dalam makanan. Uncertified color adalah zat pewarna yang berasal dari bahan alami.
Berikut ini adalah jenis-jenis pewarna alami dan buatan yang sering digunakan:
Pewarna alami
1. Anato (orange) antara lain digunakan untuk es krim keju dll.
2. Caramel (coklat hitam) biasanya digunakan dalam proses pembuatan selai, jeli,
atau jamur kalengan.
3. Beta-karoten (kuning), terdapat dalam wortel.
4. Kapsaisin (merah) terdapat dalam cabai merah.
5. Klorofil (hijau) terdapat dalam daun suji dan daun pandan biasanya digunakan
pada saat proses pembuatan kue.
6. Kunyit (kuning).
Pewarna buatan
1. Tartazine (kuning-jingga).
2. Sunset yellow (merah-jingga).
3. Carmoisine (merah).
4. Quinoline yellow.
5. Ponceau 4R (merah terang).

6. Brilliant Blue FCF, biasanya digunkan untuk es krim.


7. Eritrosit (merah).

Ada hal-hal yang mungkin memberikan dampak negatif dalam penggunaan


bahan pewarna sintetis apabila :
Bahan pewarna sintetis ini dimakan dalam jumlah kecil namun berulang.
Bahan pewarna sintetis dimakan dalam jangka waktu yang lama.
Kelompok masyarakat yang luas dengan daya tahan yang berbeda-beda
yaitu tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, mutu makanan
sehari-hari dan keadaan fisik.
Beberapa masyarakat menggunakan bahan pewarna sintetis secara
berlebihan.
Penyimpanan bahan pewarna sintetis oleh pedagang bahan kimia yang
tidak memenuhi persyaratan.

Rhodamin B
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamin B
termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya
dan dilarang digunakan pada produk pangan. Namun demikian, penyalahgunaan
rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan
diberitakan di beberapa media massa.
Rhodamin biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini
digunakan sebagai pewarna bahan kain atau pakaian. Campuran zat pewarna tersebut
akan menghasilkan warna-warna yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil,
rhodamin B juga sangat diperlukan oleh pabrik kertas. Fungsinya sama yaitu sebagai
bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas yang menarik.
Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas
tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan. Zat pewarna ini mempunyai
banyak sinonim, antara lain D and C Red no 19, Food Red 15, ADC Rhodamin B,
Aizen Rhodamin dan Brilliant Pink B.

Rhodamin B mempunyai rumus molekul yaitu C28H31N2O3Cl dengan berat molekul


sebesar 479.000. Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam makanan ini
berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu-kemerah merahan, sangat larut dalam air
yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin
B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di
dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi,
Co, Au, Mg dan titik leburnya pada suhu 165oC.
Di dalam Rhodamin B sendiri terdapat ikatan dengan klorin ( Cl ) yang dimana
senyawa klorin ini merupakan senyawa anorganik yang reaktif dan juga berbahaya.
Reaksi untuk mengikat ion klorin disebut sebagai sintesis zat warna. Disini dapat
digunakan Reaksi Frield- Crafts untuk mensintesis zat warna seperti triarilmetana dan
xentana. Rekasi antara ftalat anhidrida dengan resorsinol dengan keberadaan seng
klorida menghasilkan fluoresein. Apabila resorsinol diganti dengan N-N-
dietilaminofenol, reaksi ini akan menghasilkan rhodamin B.
Selain terdapat ikatan Rhodamin B dengan Klorin terdapat juga ikatan
konjugasi. Ikata konjugasi dari Rhodamin B inilah yang menyebabkan Rhodamin B
bewarna merah. Ditemukannya bahaya yang sama antara Rhodamin B dan Klorin
membuat adanya kesimpulan bahwa atom Klorin yang ada pada Rhodamin B yang
menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam tubuh manusia. Atom
Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen, dan sifat halogen yang berada
dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen
Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila
terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip
dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur
Rhodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah
senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah senyawa
yang tidak stabil. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui mengandung klorin (senyawa
halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi
maka dengan demikian senyawa tersebut karena merupakan senyawa yang radikal
akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-
senyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada
manusia.
Klorin sendiri pada suhu ruang berbentuk sebagai gas. Sifat dasar klorin
sendiri adalah gas beracun yang menimbulkan iritasi sistem pernafasan. Efek toksik
klorin berasal dari kekuatan mengoksidasinya. Bila klorin dihirup pada konsentrasi di
atas 30ppm, klorin mulai bereaksi dengan air dan sel-sel yang berubah menjadi asam
klorida (HCl) dan asam hipoklorit (HClO). Ketika digunakan pada tingkat tertentu untuk
desinfeksi air, meskipun reaksi klorin dengan air sendiri tidak mewakili bahaya utama
bagi kesehatan manusia, bahan-bahan lain yang hadir dalam air dapat menghasilkan
disinfeksi produk sampingan yang dapat merusak kesehatan manusia. Klorit yang
digunakan sebagai bahan disinfektan yang digunakan dalam kolam renang pun
berbahaya, jika terkena akan mennyebabkan iritasi pada mata dan kulit manusia.
Ciri makanan yang mengandung Rhodamin B:
1. Warna kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik.
2. Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).
3. Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
4. Baunya tidak alami sesuai makanannya
5. Harganya Murah seperti saus yang cuma dijual Rp. 800 rupiah per botol
Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamin B
termasuk karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan
fungsi hati atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati. Beberapa penelitian
telah membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan
pada makanan. Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit,
Rhodamine B menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi
nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan
hati ditandai dengan adanya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan
hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma.
Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti
dengan analisis metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamin B tidak
hanya disebabkan oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa
anorganik terutama timbal dan arsen (Anonim, 2009). Keberadaan kedua unsur
tersebut menyebabkan rhodamine B berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada
makanan, obat maupun kosmetik.

Kromatografi Kertas
Kromatografi didefinisikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut
oleh suatu proses migrasi diferensial dinamis dengan system yang terdiri dari dua
fase atau lebih, salah satu dianttaranya bergerak secara berkesinambungan dalam
arah tertentu dan didalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan mobilitas
disebabkan adanya perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarutan, tekanan uap,
ukuran molekul atau kerapatan muatan ion. Dengan demikian masing-masing zat
dapat diidentifikasi attau ditetapkan dengan metode analitik.
Teknik kromatografi umum membutuhkan zat terlarut terdistribusi di
antarra dua fase, satu diantaranya diam (fase diam), yang lainnya bergerak ( fase
gerak). Fase gerak membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat
terlarut lainnya, yang tereluasi lebih awal atau lebih akhir. Umumnya zat terlarut
dibawa melewati media pemisah oleh aliran suatu pelarut berbentuk cairan atau
gas yang disebut eluen. Fase diam dapat bertindak sebagai zat penyerap, seperti
halnya penyerap alumina yang diaktifkan, silica gel dan resin penukar ion, atau
dapat bertindak melarutkan zat terlarut sehingga terjadi partisi antara fase diam
dan fase gerak. Dalam proses akhir ini suatu llaisan cairan pada suatu penyangga
yang inert berfungsi sebagai fase diam. Partisi merupakan mekanisme pemisahan
yang utama dalam kromatografi gas-cair, kromatografi kertas dan bentuk
kromatografi kolom yang disebut kromatografi cair-cair. Dalam praktik
seringkali pemisahan disebabkan oleh suatu kombinasi efek adsorpsi dan partisi.
Jenis-jenis kromatografi yang bermanfaat dalam analisis kualitatif dan
kuantitatif yang digunakan dalam penetapan kadar dan pengujian Farmmakope
Indonesia adalah Kromatografi kolom, kromatografi gas, kromatografi kertas,
kromatografi lapis tipis, dan kromatografi cair kinerja tinggi. Kromtografi kertas
dan kromatografi lapis tipis umunya bermanfaat untuk tujuan identifikasi, karena
mudah dan sederhana. Kromatografi kolom memberikan fase diam yang lebih
luas dan berguna untuk pemisahan masing-masing senyawa secarra kuantitatif
dari suatu campuran. Kromatografi gas dan kromatografi cair kinerja tinggi
kedua-duanya membutuhkan peralatan yang lebih rumit dan umumya merupakan
metode dengan resolusi tinggi yang dapat mengidentifikasi serta menetapkan
secara kuantitatif bahan dalam jumlah yang sangat kecil.

Pada kromatografi kertas yaitu sehelai kertas dengan susunan serabut dan
tebal yang sesuai. Pemisahan kromatografi dapat berlangsung menggunakan fase
cair tunggal dengan proses yang sama dengan kromatografi adsorbsi dalam
kolom. Oleh karena kandungan air pada kertasnya, atau inhibisi selektif dari
komponen hidrofilik fase cair oleh serat kertasnya, dapat dianggap sebagai fase
diam, maka mekanisme partisi berperan penting dalam pemisahan.(FI IV
hal.1012).
Kromatografi kertas merupakan suatu cara pemisahan dan identifikasi
senyawa kimia dengan memanfaatkan rambatan pelarut dan zat terlarut
pada suatu lembaran kertas saring. Selain kertsa saring whatman dalam teknik
kromatografi dpat pula digunakan kertas selulosa murni, kertas selulosa yanng
dimodifikasi dan kertas serat kaca. Untuk memilih kertas yang menjadi
pertimbangan adalah tingkat kesempurnaa pemisahan, difusivitas pembenrukan
spot, efek tailing, pembentukan ekor serta laju pergerakan pelarut terutama untuk
teknik descending. Pengotor yang terdapat pada kertas saring adalah ion-ion
Ca2+, Mg2+, Fe3+, Cu2+
Larutan uji ditotolkan pada kertas dengan pipet mikro pada titik-titik
tertentu pada garis pensil, diameter bercak 6 mm hingga 10 mm dengan jarak
antar bercak tidak kurang dari 3 cm. Jika larutan jumlah yang ditotolkan akan
menghasilkan bercak dengan diameter melebihi 6 mm hingga 10 mm, totolkan
larutan dikit demi sedikit pada titik yang sama, tiap kali biarkan mengering
dahulu sebelum ditotolkan lagi, diatas batas kertas yang tercelup dalam fase
gerak. Dasar bejana digenangi dengan system pelarut untuk eluasi. Jika
digunakan sistem dua fase, maka kedua fase tersebuut ditambahkan. Sebaiknya
dinding bagian dalam bejana dilapisi dengan kertas saring dan lapisan kertas ini
dijenuhkan dengan system pelarut. Bak pelarut kosong ditempatkan pada dasar
bejana dan kertas digantung dan sedemikian hingga bagian ujung kertas yang
telah ditotolkan bebas di dalam bak pelatrut kosong.
Bejana ditutup rapat dan dijenuhkan dengan cara melapis dinding bagian
dalam bejana dengan kertas saring yang dibasahi dengan system pelarut yang
ditetapkan, untuk bejana yang berukuran besar, mungkin perlu dilakukan
penjenuhan selama satu malam. Kemudian fase gerak dengan jumlah berlebih
dari yang diperlukan untuk membasahi seluruh kertas dituangkan ke dalam bak
pelarut melalui lubang. Bejana kemudian ditutup lagi. Jika batas perambatan
pelarut telah mencapai ketinggian yang dikehendaki, bejana dibuka, kertas
dikeluarkan dan kemudian dikeringkan. (FI IV).

Eluen
1. Fungsi kloroform adalah digunakan sebgai zat pembius, selain itu kloroform
dapat digunakan untuk melarutkan senyawa organik dan dapat digunakan
juga sebagai senyawa yang dapat melarutkan lemak karena
kloroform merupakan bahan yang bersifat nonpolar, sehingga dapat
melarutkan lemak yang juga bersifat nonpolar.
2. Air berfungsi sebagai pelarut yang bersifat polar.Karena sifatnya yang polar,
air tidak dapat melarutkan lipid yang bersifat nonpolar.
3. Eluen (chlorofom : methanol : air) 15:5:3 sebagai fase cair yaitu berfungsi
menciptakan suasana organik sehingga sampel dapat terdistribusi dari fase
csair ke fase organik, sehingga bisa terpisah. Dimana pelarut dan zat pewarna
bersifat polar, sehingga terjadi interaksi antara zat tersebut.
D. Pra analitik
A. ALAT DAN BAHAN
a. Alat yang digunakan adalah gelas kimia,, gelas ukur, camber, pipet tetes,
plat, oven, pinset, dan botol semprot.
b. Bahan yang digunakan adalah amoniak 5%, asam asetat 5%, kertas PH,
normal butanol, aquadest, sampel minuman (sting Pwr) dan plat.

B. PROSEDUR KERJA
1. Persiapan untuk Eluent (fase gerak)
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan,
b. 40 ml larutan normal butanol ditambahkan 50 ml asam asetat dan 10
ml aquadest,
c. Dihomogengkan,
d. Kemudian larutan eluent yang telah dibuat tadi dimasukkan kedalam
chamber kemudia ditutup.
2. Persiapan untuk plat silica (fase diam)
a. Plat dikeringkan terlebih dahulu pad oven dengan suhu 100oc selama 30
menit,
b. Kemudian plat disiapkan sesuai ukuran chamber,
c. Plat diberi garis 1,5 cm dari bawah dan 1,5 cm dari atas plat dengan
menggunakan pensil, kemudian ditandai 2 titik pada garis bawah untuk
sampel dan control positif (larutan rodamin B),
d. Plat yang sudah ditotolkan dibiarkan mongering dan dimasukkan
kedalam chamber yang berisi eluent (jangan sampai garis bawah
menyentuh eluent),
e. Kemudian chamber ditutup dan dibiarkan beberapa menit hingga
eluennya menyerap sampai batas garis atas,
f. Plat diangkat dan diukur noda yang berwarna merah muda,
g. Kemudian ukuran noda diukur,
h. Ditentukan nilai Rf sampel dengan Rf rodamin-b,
i. Jika Rf rodamin-b sama atau mendekati dengan nilai Rf sampel, maka
sampel dinyatakan positif (+) mengandung rodamin-b.

Rf = jarak yang ditempuh senyawa tersebut


Jarak uang ditempuh pelarut

3. Preparasi sampel
a. Dipipet 10 ml larutan sampel kemudian ditambahkan asam asetat 5 %
sampai Ph 3,
b. Kemudian dimasukkan benang wol yang panjangnya 15 cm,
c. Dipanaskan di hote plate sampai benang wol mengikat warna,
d. Benang wol diangkat dan dibilas dengan aquadest,
e. Jika benang wol masih berwarna setelah dibilas, selanjutnya benang
wol dimasukkan kedalam gelas kimia dan ditambahkan larutan
amoniak 5 % sampai Ph bersifat basa,
f. Dipanaskan kembali benang wol yang berisi amoniak sampai larutan
tersisa 1 ml.

Tabel hasil pengamatan

sampel Warna waktu Di bilas dengan hasil


pemanasan aquades

Minuman fanta Berwarna merah Kehilangan warna Negatif ( tidak


pada saat merah menjadi tak mengandung
pemanasan berwarna rodamin B)
E. Pembahasan
bahan tambahan pangan secara definisi dapat diartikan sebagai bahan
yang ditambhakan dengan sengaja terdapat dalam makanan sebagai akibat dari
berbagai tahap budidaya, pengelolaan penyimpanan maupun pengemasan.
Tujuan penggunaan bahan tambahan salah satunya adalah untuk memperbaiki
penampilan atau aroma makanan.
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengujian menggunakan metode
kromatografi lapis tipis terhadap sampel fanta.Sampel fanta ditambahkan sedikit
dengan asam asetat dan dimasukan benang wol bebas lemak.Kemudian
digambarkan garis- garis pembatas pada lempengan. Panjang lempengan yang
digunakan adalah 8 cm. Diberi garis yang berjarak 1,5 cm dari dasar
lempengan, Sedangkan untuk bagian atas lempengan juga diberi garis yang
berjarak 1 cm. Setelah diberi garis, ditetesi/ ditempeli sampel dan larutan standar
pada garis bawah lempengan. Penetesan atau penotolan sampel dinamakan
dengan pembuatan noda.Pembuatan noda sebaikanya menggunakan
micropipet agar noda yang dibuat memiliki diameter yang sesuai dengan
diameter titik pada garis.Setelah dilakukan pembuatan noda, dimasukkan
lempengan kedalam wadah chamber yang telah berisi larutan standar dimana
batas pencelupannya adalah ketika permukaan larutan sejajar dengan garis bawah
lempengan.
Setelah dihitung, jarak yang ditempuh antara sampel terhadap pelarutan
dapat dinyatakan sebagai Rf. Rf atau Retardation Factor merupakan
Namun setelah kami melakukan uji rodamin b pada sampel minuman
kami tidak melanjutkan pemeriksaan kami menggunakan metode kromatograpi
karna sampel yang kami gunakan negative ( tidak mengandung rodamin B )para

sampel Warna waktu Di bilas dengan hasil


pemanasan aquades
Minuman fanta Berwarna merah Kehilangan warna Negatif ( tidak
pada saat merah menjadi tak mengandung
pemanasan berwarna rodamin B)

F. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang kami lakukan pada uji rodamin b terhadap
minuman kemasan ( Fanta ) menggunakan metode kromatografi dengan
pemanasan . dan hasil yang kami peroleh dari paraktikum ini kami mendapat hasil
berupa negatit( sampel panta yang kami uji tidak terdapat kandungan rodamin B)
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2008.zat berbahaya dalam makanan.di

dikunjungi.www.doktercantik.com.di akses pada pada tanggal 19Maret

.2014pukul12.12

Budianto, P.E. 2008. Analisis Rhodamin BDalam Saos dan Cabe Giling Di

PasaranKecamatan Laweyan KotamadyaSurakarta dengan Metode

KromatografiLapis Tipis.Menteri Kesehatan RI. 1985

Sudarmadji. 1996. keamanan makanan.ol.jakarta

Syah.2005.Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan

. Teknologi Pertanian IPB: CV.ANDI offset :92-93.

Winarno, F.G. 2004. Keamanan Pangan. Himpunan Alumni Fakultas

. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah:Bogor.