Anda di halaman 1dari 73

KTI HIPEREMESIS GRAVIDARUM TK 1

Senin, 01 Juli 2013


ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. S UMUR 33 TAHUN G4P1A2
USIA KEHAMILAN 7 MINGGU 6 HARI DENGAN HIPEREMESIS
GRAVIDARUM TINGKAT I DI BPS LISNANI TELUK BETUNG TIMUR
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2013

BAB 1

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Menurut data Menurut data World Health Organitation (WHO), pada tahun 2012,

sebanyak 585.000 perempuan meninggal saat hamil atau persalinan. Sebanyak 99% kematian ibu

akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian

ibu di negara-negara berkembang merupakan tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu

kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di 9 negara maju dan 51

negara persemakmuran. ( WHO, 2012 )


(http://wordpress.com/2012/02/angka -kematian-meurutwho.html)
Sekitar 20-30% dari kehamilan mengandung resiko atau komplikasi yang dapat

menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayinya. Salah satu indikator utama derajat

kesehatan suatu negara adalah Angka Kematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah wanita yang

meninggal mulai dari saat hamil hingga 6 minggu setelah persalinan per 100.000 persalinan.

Angka Kematian Ibu menunjukkan kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan, kapasitas

pelayanan kesehatan, kualitas pendidikan dan pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan


lingkungan, sosial budaya serta hambatan dalam memperoleh akses terhadap pelayanan

kesehatan. Tingginya AKI dan lambatnya penurunan angka ini menunjukkan bahwa pelayanan

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan

maupun kualitas pelayanannya. Menurut data World Health Organitation( WHO), pada tahun

2012, sebanyak 585.000 perempuan meninggal saat hamil atau persalinan. Sebanyak 99%

kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang.

Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan tertinggi dengan 450 kematian ibu

per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di 9 negara maju

dan 51 negara persemakmuran.


Menurut Depkes RI tahun 2008 jika dibandingkan AKI Singapura adalah 6 per 100.000

kelahiran hidup, AKI Malaysia mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan AKI Vietnam

sama seperti Negara Malaysia, sudah mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup, Filipina 112

per 100.000 kelahiran hidup, Brunei darusalam 33 per 100.000 per kelahiran hidup, sedangkan

di Indonesia 228 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut depkes pada tahun 2010, penyebab

langsung kematian maternal di Indonesia terkait kehamilan dan persalinan terutama yaitu

perdarahan 28%. Sebab lain, yaitu eklampsi 24%,infeksi 11%, partus lama 5%, dan abortus 5%.
(http//ASEAN, 2012 midwifecare.wordpress.com/2012/02/21/)
Visi dan misi depkes 2010-2014 adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dam masyarakat madani ,

melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna

merata, bermutu, dan berkeadilan, menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya

kesehatan serta menciptakan tata kelola pemerinta yang baik.


(http://info@puskom depkes.go.id Diakses 04 juli 2012)
Pada Tahun 2012 di Provinsi Lampung terjadi 787 kasus kematian Perinatal, 110 kasus

kematian neonatal, 159 kasus kematian bayi dan kasus kematian Balita sebanyak 64 kasus.

Tingginya kasus kematian Ibu dan anak di Provinsi Lampung memperlihatkan betapa rawannya
derajat kesehatan Ibu dan anak. Karena kematian Ibu bayi dan Balita merupakan salah satu

parameter derajat kesehatan suatu Negara. Masalah kesehatan ibu dan anak ini perlu diatasi

dengan segera karena derajat kesehatan ibu dan anak akan sangat menentukan kualitas sumber

daya manusia pada masa yang akan datang. (Dinkes Provinsi Lampung, 2012)
Setiap tahun sekitar 160 juta perempuan di seluruh dunia hamil. Sebagian besar

kehamilan ini berlangsung dengan aman. Namun, sekitar 15 % menderita komplikasi berat,

dengan sepertiganya merupakan komplikasi yang mengancam jiwa ibu. Kompikasi ini

mengakibatkan kematian lebih dari setengah juta ibu setiap tahun. Dari jumlah ini diperkirakan

90 % terjadi di Asia dan Afrika subsahara, 10 % di negara berkembang lainnya, dan dari 1 % di

negara-negara maju. Di beberapa negara risiko kematian ibu lebih tinggi dari 1 dalam 10

kehamilan, sedangkan di negara maju risiko ini kurang dari 1 dalam 6.000.
Kematian ibu atau kematian maternal adalah kematian seorang ibu sewaktu hamil atau

dalam waktu 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak bergantung pada tempat atau usia

kehamilan. Indikator yang umum digunakan dalam kematian ibu adalah Angka Kematian Ibu

(Maternal Mortality Rasio) yaitu jumlah kematian ibu dalam 100.000 kelahiran hidup. Angka ini

mencerminkan risiko obstetrik yang dihadapi oleh seorang ibu sewaktu ia hamil. Jika ibu

tersebut hamil beberapa kali, risikonya meningkat dan digambarkan sebagai risiko kematian ibu

sepanjang hidupnya, yaitu probabilitas menjadi hamil dan probabilitas kematian karena

kehamilan sepanjang masa reproduksi.


Kematian ibu dibagi menjadi kematian langsung dan tidak langsung. Kematian ibu

langsung adalah sebagai akibat komplikasi kehamilan, persalinan, atau masa nifas, dan segala

intevensi atau penanganan tidak tepat dari komplikasi tersebut. Kematian ibu tidak langsung

merupakan akibat dari penyakit yang sudah ada atau penyakit yang timbul sewaktu kehamilan

(25 5, biasanya perdarahan pasca persalinan), sepsis(15 %), hipertensi dalam kehamilan (12 %) ,
partus macet (8 %), komplikasi aborsi tidak aman (13 %), dan sebab-sebab lain (8%).

(Prawirohardjo, 2010;h.53-54)
Pengawasan sebelum lahir (antenatal) terbukti mempunyai kedudukan yang sangat

penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik serta dalam proaes pelayanan

pada ibu hamil untuk persiapan persalinannya. Dengan pengawasan tersebut dapat diketahui

berbagai komplikasi yang dapat mempengaruhi kehamilan sehingga dapat segera diatasi.

(Jannah, 2012;h.9)

Penyebab hiperemesis gravidarum belum di ketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa

penyakit ini belum di ketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini di sebabkan oleh

faktor toksis juga tidak di temukan kelainan biokimia, perubahan-perubahan anatomik yang

terjadi pada otak, jantung, hati dan susunan syaraf, di sebabkan oleh kekurangan vitamin serta

zat-zat lain akibat kelemahan tubuh karena tidak makan dan minum. Beberapa faktor

predisposisi dan faktor lain yang telah di temukan adalah sering terjadi pada primigravida,

masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolisme akibat hamil serta

resistensi yang menurun dan pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik alergi,

faktor psikologik, molahidatidosa, faktor adaptasi dan hormonal (Rukiyah, 2010;h.118-119)


Hiperemesis gravidaraum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah

gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada

pagi hari , tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala gejala ini kurang lebih

terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10

minggu.
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu

diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan ini disebabkan oleh

karena meningkatnya kadar hormone esterogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik

kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung
yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun

demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Keadaan inilah

yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologi menentukan berat

ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2005;h.275)


Berdasarkan hasil study kasus pendahuluan di BPS Lisnani Ali,S.ST, Teluk Betung Timur

Bandar Lampung pada bulan Januari-Mei Tahun 2013 diperoleh hasil 93 Ibu Hamil, dari data

tersebut didapat 43 ibu hamil primigrvida dan 53 ibu hamil multigravida, pada survey ibu hamil

di BPS Lisnani, S.ST didapat 30 ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum. Karena faktor Adat

Istiadat pula dapat mempengaruhi terjadinya Hiperemesis Gravidarum serta kuarang nya ibu

hamil memantau kehamilannya ketenaga kesehatan, karena bagi ibu hamil mual-muntah yang

mereka rasakan adalah hal yang normal jadi mual-muntah yang tak tertangani akan menjadi

mual-muntah yang berlebihan yaitu Hiperemesis Gravidarum. Pada tanggal 20 mei 2013 terdapat

3 ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum Di BPS Lisnani,S.ST . Dari kasus diatas penulis

tertarik untuk mengambil study kasus dengan judul: Asuhan Kebidanan Pada ibu hamil Terhadap

Ny. S Umur 33 tahun G4P1A2 Dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat 1 Di BPS Lisnani, S.ST

Teluk Betung Timur Bandar Lampung Tahun 2013.

II. Rumusan masalah

Bagaimanakah asuhan kebidanan ibu hamil pada ny. S umur 33 tahun G4P1A2 usia Kehamilan 7
minggu 6 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Lisnani Ali, S.ST, Teluk Betung
Timur Bandar Lampung Tahun 2013?
III. Tujuan penulisan

A. Tujuan Umum
Dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di

BPS Lisnani Ali ,SST sesuai dengan standart yang berlaku dengan menggunakan pendekatan

manajemen varney .
B. Tujuan Khusus
1. Dapat melaksanakan pengkajian data dasar terhadap Ny.S umur 33 tahun G4P1A2 usia

kehamilan 7 minggu 6 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Lisnani Ali, SST
2. Dapat menentukan interpretasi data untuk mengidentifikasi diagnosa masalah serta kebutuhan

terhadap Ny.S umur 33 tahun G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan hiperemesis

gravidarum tingkat I di BPS Lisnani Ali, SST.


3. Dapat menentukan identifikasi masalah potensial dan mengantisipasi penanganan pada asuhan

kebidanan terhadap Ny.S umur 33 tahun G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan

hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Lisnana Ali, SST.


4. Dapat melaksanakan tindakan segera pada asuhan kebidanan terhadap Ny.S umur 33 tahun

G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS

Lisnani Ali, SST.


5. Dapat menyusun rencana asuhan yang menyeluruh pada asuhan kebidanan terhadap Ny.S umur

33 tahun G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di

BPS Lisnani Ali, SST.


6. Dapat melaksanakan rencana asuhan yang efisien dan aman pada asuhan kebidanan terhadap

Ny.S umur 33 tahun G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan hiperemesis gravidarum

tingkat I di BPS Lisnani Ali, SST.


7. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah di berikan pada asuhan kebidanan terhadap

Ny.S umur 33 tahun G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan hiperemesis gravidarum

tingkat I di BPS Lisnani Ali, SST.

IV. Ruang lingkup

A. Sasaran
Penelitian ini mengambil sasaran yaitu satu orang ibu hamil yang mengalami Hyperemesis

Gravidarum tingkat I yaitu Ny.S

B. Tempat
Penelitian dilakukan di BPS Lisnani Ali, S.ST dan dilanjutkan di kediaman Ny.S. Diruang

Pemeriksaan ANC BPS Lisnani dan Home Visite.


C. Waktu
Penelitian dilaksanakan dari tanggal 20 Mei-2 juni 2013

V. Manfaat penulisan

Adapun manfaat penulisan kasus diatas adalah :


A. Bagi institusi
Sebagai bahan acuan / pedoman bagi intitusi jurusan kebidanan untuk penulisan karya tulis

ilmiah selanjutnya

B. Bagi Lahan Praktik


Sebagai masukan dan gambaran informasi untuk meningkatkan manajemen asuhan kebidanan

pada ibu hamil agar menurunkan angka kematian pada ibu bersalin akibat komplikasi yang tidak

tertangani pada ibu hamil.

C. Bagi penulis
Merupakan pengalaman yang dapat menambah kemampuan dalam penerapan manajemen asuhan

kebidanan khususnya hiperemesis gravidarum tingkat 1.

D. Bagi Masyarakat
Agar dapat memberikan informasi pada ibu hamil agar dapat sedini mungkin mengetahui

penyakit yang akan menghambat kehamilannya. Dan agar ibu tidak segan untuk memeriksakan

kehamilannya bila ada keluhan ketenaga kesehatan terdekat agar mendapat penanganan lebih

lanjut.

VI. Metodologi penelitian dan teknik pengumpulan data

A. Metode Penelitian
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode penulisan. Dimana

metode penulisan yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif. Metode penelitian

deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif. Metode penelitian deskriptif

digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalan yang sedang dihadapi pada situasi

sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data,

klasifikasi, pengolahan/analisis data, membuat kesimpulan, dan laporan


(Notoatmodjo, 2005;h.138)

B. Teknik memperoleh data


1. Data Primer
a. Wawancara
Adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, dimana penelitian

mendapatkan keterangan ataun pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian

(responden).
(Notoatmodjo, 2005;h.102)
Wawancara dilakukan dengan cara :
1) Auto anamnesa
Wawancara yang langsung dilakukan kepada klien mengenai penyakitnya
2) Allo anamnesa
Wawancara yang dilakukan kepada keluarga atau orang lain mengenai penyakit klien.

b. Observasi
Adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya

rangsangan. Mula-mula rangsangan dari luar mengenai indra, dan terjadilah penginderaan,

kemudian apabila rangsangan tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya

pengamatan.
(Notoatmodjo, 2005;h.95)

c. Pengkajian Fisik
Adalah suatu pengkajian yang dapat dipandang sebagai bagian tahap pengkajian pada proses

keperawatan atau tahap pengkajian atau pemeriksaan klinis dari sistem pelayanan terintegrasi,

yang prinsipnya mengggunakan cara-cara yang sama dengan pengkajian fisik kedokteran, yaitu

inspeksi, palpasi, dan auskultasi


(Priwahardjo, 2006;h.2-3)

2. Data Sekunder
a. Studi Pustaka
Adalah metode pengumpulan data dengan mempelajari catatan tentang pasien yang ada.

(Notoatmodjo, 2005;h.62).

b. Studi Dokumenter
Adalah semua bentuk dokumen baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan, yang ada

dibawah tanggung jawab instansi resmi, misalnya laporan, statistic, catatan-catatan di dalam

kartu klinik. (Notoatmodjo, 2005;h.62).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Tinjauan Teori Medis

A. Kehamilan
1. Pengertian kehamilan

Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi,

migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigo, nidasi (implantasi) pada uterus,

pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.

(Manuaba, 2010;h.75)

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi

atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila

dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam

waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi

dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15

minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minngu (minngu ke-28 hingga ke-

40). (Prawirohardjo, 2010;h.213)


Proses terjadinya kehamilan
a. Ovulasi
1) Dengan pengaruh FSH, folikel primer mengalami perubahan menjadi folikel de Graaf yang

menuju ke permukaan ovum disertai pembentukan cairan folikel.


2) Selama pertumbuhan menjadi folikel de graaf permukaan ovarium menyebabkan penipisan dan

devaskilarisasi
3) Selama pertumbuhan menjadi folikel de graaf ovarium mengeluarkan hormone esterogen yang

dapat mempengaruhi :
a) Gerak dari tuba yang makin mendekati ovarium
b) Gerak sel rambut lumen semakin tinggi
c) Peristaltic tuba makin aktif
4) Dengan pengaruh LH yang semakin besar dan fluktasi yang mendadak, terjadi proses pelepasan

ovum yang disebut ovulasi


5) Dengan gerak aktif tuba yang mempunyai umbai (fimbriae) maka ovum yang telah dilepaskan

segera ditangkap oleh fimbriae tuba.


6) Ovum yang tertangkap terus berjalan mengikuti tuba menuju uterus, dalam bentuk pematangan

pertama, artinya telah siap untuk dibuahi .


7) Spermatozoa
Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang komplek
a) Spermatogonium berasal dari selprimitif
b) Menjadi spermatosit pertama
c) Menjadi spermatid
d) Akhirnya spermatozoa

Pertumbuhan spermatozoadipengaruhi matarantai hormonal yang komplek dan pancaindra,

hipotalamus, hipofisis dan intersititial leydig sehingga spermatogenium dapat mengalami miosis,

Sebagai besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya beberapa ratus yang dapat mencapai

tuba fallopi. Spermatozoa masuk kedalam alat genetalia wanita dapat hidup selama tiga hari

sehingga cukup waktu untuk mengadakan konsepsi.

8) Konsepsi
Proses konsepsi dapat berlangsung sebagai berikut :
a) Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi, diliputi oleh korona radiata yang mengandung

persediaan nutri.
b) Pada ovum dijumpai inti dalam bentuk metaphase di tengah sitoplasma yang disebut vitelus
c) Dalam perjalanan korona radiata makin berkurang pada zona pallusida. Nutrisi dialirkan ke

dalam vitelus, melalui saluran pada zona pellusida .


d) Konsepsi terjadi pada ampula pars ampularis tuba, tempat yang paling luas yang dinding nya

penuh jonjot dan tertutup sel yang mempunyai silia.


e) Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selama 48 jam.
9) Implantasi
Pembelahan berjalan terus dan didalam morula terjadi di ruangan yang mengandung cairan yang

disebut blastula. Perkembangan dan pertumbuhan berjalan, blastula dengan villi korealisnya

yang dilapisi sel trofobla telah siap untuk mengadakan nidasi. Sementara sekresi endometrium

telah mungkin gemur dan makin banyak mengandung glikogen yang disebut desidua. Sel

trofoblas primer villi korialis melakukan destruksi enzimatik-proeolitik sehingga dapat

menanamkan diri di dalam endometrium. Proses penanaman blastula disebut nidasi atau

implantasi, pada hari ke-6 sampai ke-7 setelah konsepsi (Manuaba, 2010;h.75-82 )

II. Perubahan Anatomi dan fisiologi kehamilan

1. Sistem reproduksi
a. Uterus
Pada kehamilan cukup bulan, ukuran uterus adalah 30x25x20 cm dengan kapasitas lebih dari

4.000 cc. Hal ini rahim membesar akibat hipertropi dan hiperplasi otot polos rahim, serabut-

serabut kolagennya menjadi higgroskopik, dan endometrium menjadi desidua.


Tabel 2.1
TFU menurut penambahan pertiga jari

Usia kehamilan Tinggi Fundus Uteri (TFU)


(Minggu)
12 3 jari di atas simfisis
16 Pertengahan pusat simfisis
20 3 jari di bawah pusat
24 Setinggi pusat
28 3 jari di atas pusat
32 Pertengahan pusatprosesus xiphoideus (px)
36 3 jari di bawah prosesus xiphoideus (px)
40 Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)
Sumber : Sulistyawati, 2009;h.61
Posisi rahim dalam kehamilan
1) Pada permulaan kehamilan, dalam posisi antefleksi atau retrofleksi.
2) Pada bulan kehamilan, rahim tetap berada dalam rongga pelvis
3) Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas

hati.
4) Pada ibu hamil, rahim biasanya mobile,lebih mengisi rongga abdomen kanan atau kiri.
b. Vaskularisasi

Arteri uterine dan ovarika bertambah dalam diameter, panjang, dan anak-anak cabangnya,

pembuluh darah vena mengambang dan bertambah.

c. Serviks uteri

Bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak, kondisi ini yang disebut tanda Goodell. Kelenjar

endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mucus. Oleh karena pertambahnya

pembuluh darah, warnanya menjadi livid dan ini disebut dengan tanda chedwick.

d. Ovarium

Kedua ovarium terletak dalam cavitas peritonealis pada cekungan kecil dinding posterior

ligamentum latum. Kedua ovarium terletak pada ujung tuba fallopi yang mengandung fimbriae

pada kir-kira setinggi pintu masuk pelvis. Ovarium merupakan organ yang kecil berbentuk

seperti buuuah kenari berwarna putih dan permukaan bergerigi. Dengan ukuran 3 cm x 2 cm x 1

cm dan beratnya 5-8m gr. Organ ini berfungsi untuk menghasilakan ovum untuk fertilisasi, serta

menghasilkan hormon esterogen dan progesteron. Di dalam ovarium terjadi siklus perkembangan

folikel dari folikel primordial menjadi folikel de Graff dimana pada fase ovulasi akan muncul ke

permukaan ovarium dan mengeluarkan ovum. Sisa dari folikel de Graff yang ada di ovarium

akan berkembang menjadi korpus luteum yang akan mengahasilkan progesteron dan

berdegenerasi, jika tidak terjadi pembuahan maka akan menjadi korpus albikan. ( Ummi Hani,

2010:28-29)

e. Vagina dan vulva


Selama kehamilan peningkatan hormon esterogen, terjadi hypervaskularisasi pada vagina dan

vulva, sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau kebiruan, kondisi ini disebut

dengan tanda Chadwick ( Sulistyawati, 2009;h.61)

2. Payudara

Karena adanya peningkatan suplai darah dibawah pengaruh aktivitas hormon, jaringan

glandular dari payudara membesar dan puting lebih efektif walaupun perubahan payudara dalam

bentuk yang membesar terjadi pada waktu menjelang persalinan. Esterogen menyebabkan

pertumbuhan tubulus lactiferous dan ductus juga menyebabkan penyimpanan lemak.Progesteron

menyebabkan tumbuhnya lobus, alveoli lebih tervaskularisasi dan mampu bersekresi. Hormon

pertumbuhan dan glukokortikoid juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan ini.

Prolaktin merangsang produksi kolostrum dan air susu ibu.

(Jannah, 2012;h.90)

Sebagai organ target untuk proses laktasi mengalami banyak perubahan sebagai persiapan

setelah janin lahir. Beberapa perubahan yang dapat di amati oleh ibu adalah sebagai berikut:

a. Selama kehamilan payudara bertambah besar,tegang dan berat


b. Dapat teraba nodul-nodul, akibat hipertropi kelenjar hipertrofi
c. Bayangan vena-vena lebih membiru
d. Hiperpigmentasi pada areola dan puting susu
e. Kalu di peras akan keluar air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning (Sulistyawati, 2009:h.42)

3. Sistem integumen

Sehubungan dengan tingginya kadar hormonal, terjadi peningkatan pigmentasi selama

kehamilan. Keadaan ini sangat jelas terlihat pada kelompok wanita dengan warna kulit gelap atau

hitam dan dapat dikenali pada payudara, abdomen, vulva dan wajah. Ketika terjadi pada kulit

dan muka dikenal sebagaim chloasma atau topeng kehamilan. Bila terjadi pada muka biasanya

pada daerah pipi dan dahi dan dapat mengubah penampilan wanita tersebut.
Linea Alba, garis putih tipis yang membentang dari shimpisis pibis sampai umbilicus,

dapat menjadi gelap yang biasa disebut Linea nigra. Peningkatan pigmentasi ini akan berkurang

sedikit demi sedikit setelah masa kehamilan. Tingginya kadar hormon yang tersirkulasi dalam

darah dan peningkatan regangan pada kulit abdomen, paha, dan payudara bertanggung jawab

pada timbulnya garis-garis yang berwarna merah muda atau kecoklatan pada daerah tersebut.

Tanda tersebut biasa dikenal dengan nama striae gravidarum dan bisa menjadi lebih gelap atau

hitam. Striae gravidarum ini kan berkurang setelah masa kehamilan danbiasanya nampak seperti

garis-garis yang berwarna keperakan pada wanita kulit putih atau warna gelap/hitam yang

mengkilap.

Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini

disebabkan oleh pengaruh melanophore stimulating hormone (MSH) yang meningkat. MSH

ini adalah salah satu hormon yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior, hipofisi. Kadang-kadang

terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi, hidung yang disebut chloasma gravidarum. Esterogen

dan progesteron telah dilaporkan menimbulkan efek perangsangan melanosit (Jannah,

2012;h.101-102)

4. Sistem endokrin
a. Hormon plasenta

Sekresi hormon plasenta dan HEG dari plasenta janin mengubah organ endokrin secra langsung.

Peningkatan kadar estrogen menyebabkan produksi globulin meningkatkan dan menekan

produksi tiroksin, kostikosteroid dan steroid. Akibat plasma yang mengandung hormon-hormon

ini akan meningkat jumlahnya, tetapi kadar hormon bebas tidak mengalami peningkatan yang

besar.

b. Kelenjar Hipofisis
Berat kelenjar hipofisis anterior meningkat sampai 30-50 % yang menyebabkan wanita hamil

menderita pusing. Sekresi hormon prolaktin, adrenokortikotropik, tirotropik, dan melanocyt

stimulating hormon meningkat. Produksi hormon perangsang folikel dan LH dihambat oleh

esterogen dan progesteron plasenta. Efek meningkatnya sekresi prolaktin adalah ditekannya

produksi esterogen dan progesteron pada masa kehamilan.

c. Kelenjar Tiroid

Dalam kehamilan, normal ukuran kelenjar tiroid akan mengalami pembesaran kira-kira 13 %

karena adanya hyperplasia dari jaringan glandula dan peningkatan vaskularisasi secara fisiologis

akan terjadi peningkatan ambilan iodine sebagai kompensasi kebutuhan ginjal terhadap iodine

yang meningkatkan laju filtrasi glomerulus. Walaupun kadang-kadang kehamilan dapat

menunjukan hipertiroid, fungsi tiroid biasanya normal. Namun, peningkatan konsentrasi T4

(tiroksin), T3 (Triodotironin) juga dapat merrangsang peningkatan laju basal. Hal ini disebabkan

oleh produksi esterogen stimulated hepatic dari tiroksin yang menekan glubolin .

d. Kelenjar Adrenal

Karena dirangsang oleh hormon esterogen, kelenjar adrenal memproduksi lebih banyak kortisol

plasma bebas dan juga kortikosteroid, termasuk ACTH dan hal ini terjadi usiakehamilan12

sampai dengan aterm. Peningkatan konsentrasi kortisol bebas pada saat masa kehamilan juga

menyebabkan hiperglikemia pada saat setelah makan. Peningkatan plasma kortikol bebas juga

dapat menyebabakan ibu hamil mengalami kegemukan di bagian-bagian tertentu karena adanya

penyimpanan lemak dan juga dapat merangsang adanya striae gravidarum.

( Jannah, 2012;h.104-106 )

5. Sistem Urinaria
Selama kehamilan ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang volumenya

meningkat (sampai 30-50% atau lebih),yang puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24

minggu sampai sesaat sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang akibat

penekanan rahim yang membesar) dalam keadaan normal, aktivitas meningkat ketika berbaring

dan menurun ketika berdiri, keadaan ini semakin menguat pada saat kehamilan karena itu wanita

hamil sering ingin merasa berkemih ketika mereka mencoba untuk berbaring/tidur. Pada akhir

kehamilan, peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar terjadi pada wanita hamil yang tidur

miring. Tidur miring mengurangi tekanan dari rahim pada vena yang membawa darah dari

tungkai sehingga sehingga terjadi perbaikan aliran darah yang selanjutnya akan meningkatkan

aktivitas ginjal dan curah jantung .

(Sulistyawati, 2009;h.62-63 )

6. Sistem Metabolisme

Janin membutuhkan 30-40 gram kalsium untuk pembentukan tulangnya dan ini terjadi

ketika trimester terakhir. Oleh karena itu, peningkatan asupan kalsium mencapai 70% dari diet

biasanya. Penting bagi ibu hamil untuk selalu sarapan karena kadar glukosa darah ibu sangat

berperan dalam perkembangan janin , dan berpuasa saat kehamilan akan memperbanyak ketosis

yang dikenal denagn cepat merasakan lapar yang mungkin berbahaya pada janin.

Kebutuhan zat besi wanita kurang lebih 1.000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk meningkatkan

massa sel darah merah dan 300 mg dibutuhkan untuk transportasi ke fetus ketika kehamilan

memasuki usia 12 minggu, 200 mg sisanya untuk menggantikan cairan yang keluar dari tubuh.

Wanita hamil membutuhkan zat besi rata-rata 3,5 mg/hari.


Pada metabolism lemak terjadi peningkatan kadar kolesterol sampai 350 mg atau lebih per

100 cc. Hormon somatotropin mempunyai peranan dalam pembentukan lemak pada payudara.

Deposit lemak lainnya tersimpan di badan, perut, paha, dan lengan.

Pada metabolisme mineral yang terjadi adalah senagai berikut:

a. Kalsium. Dibutuhkan rata-rata 1,5 gram sehari, sedangakan untuk pembentukan tulang terutama

di trimester akhir dibutuhkan 30-40 gram.


b. Fosfor. Dibutuhkan rata-rata 2 gram/hr
c. Air. Wanita hamil cenderung mengalami retensi air.

7. Sistem kardiovaskuler

Selama kehamilan jumlah darah yang di pompa oleh jantung yang di pompa setiap

menitnya atau biasa di sebut sebagai curah jantung (cardiac autput) meningkat sampai 30-50%

peningkatan ini mulai terjadi pada usia kehamilan 6 minggu dan mencapai puncaknya pada usia

kehamilan16-28 minggu. Oleh karena curah jantung yang meningkat, maka denyut jantung pada

saat istirahat juga meningkat. Setelah mencapai usia kehamilan 30 minggu curah jantung agak

menurun karena pembesaran rahim menekan vena yang membawa darah dari tungkai ke

jantung. Peningkatan curah jantung selama kehamilan kemungkinan terjadi karena adanya

perubahan dalam aliran darah ke rahim. Janin yang terus tumbuh, menyebabkan darah lebih

banyak di kirim ke rahim ibu. Pada akhir usia kehamilan, rahim menerima seperlima dari seluruh

darah ibu (Sulistyawati, 2009;h.61-62).

8. Sistem Respirasi

Ruang abdomen yang membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan

hormone progesterone menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit bebeda dari biasanya. Wanita

hamil benafas lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan banyak oksigen untuk janin dan

untuk dirinya. Lingkaran dada wanita hamil agak membesar. Lapisan saluran pernapasan
menerima lebih banyak darah dan menjadi agak tersumbat oleh penumpukan darah (kongesti).

Kadang hidung dan tenggorokan mengalami penyumbatan parsial akibat kongesti ini. Tekanan

dan kualitas suara wanita hamil gak berubah.

(Sulistyawati, 2009;h.69)

Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa

sesak dan pendek napas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-

usus tertekan oleh uterus yang membesar kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa

bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20 %, seorang wanita

hamil selalu bernafas lebih dalam, dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke sisi, yang

sesudah partus kadang-kadang menetap jika tidak dirawat denagn baik. (Prawirohardjo,

2006;h.96)

9. Perubahan berat badan

Perkiraan peningkatan berat badan :

a. 4 kg dalam kehamilan trimester I


b. 0,5 kg/minggu pada kehamilan trimester II sampai III
c. Totalnya sekitar 15-16 kg (Sulistyawati, 2009;h.57).
III. Kebutuhan ibu hamil

A. Diet Makanan
Kebutuhan makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi. Kekurangan nutrisi dapat

menyebabkan anemia, abortus, IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis

puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan kelebihan makanan karena beranggapan pemenuhan makan

untuk dua orang akan berakibat kegemukan, pre-eklamsi, janin terlalu besar, dan sebagainya. Hal

penting yang harus diperhatikan sebenarnya adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu

tersebut dengan berpedoman pada pedoman umum gizi seimbang. Bidan sebagai pengawas

kecukupan gizinyadapat melakukan pemantauan terhadap kenaikan berat badan selama hamil.
Status gizi ibu yang kurang baik sebelum dan selama hamil merupakan penyebab utama

dari berbagai persoalan kesehatan yang serius pada ibu dan bayi. Yang berakibat terjadinya bayi

lahir dengan berat badan rendah , kelahiran prematur, serta kematian neonatal dan prenatal.

Padahal, usaha perbaikan status gizi ibu hamil telah banyak dilakukan diberbagai negara.
Pengaruh suplementasi multigizi mikro (MGM) dan Fe-folat terhadap status gizi mikro ibu

hamil dengan menggunakan penambahan berat badan hamil (PBBH) sebagai indikator, masih

sangat sedikit. Padahal, PBBH merupakan indikator utama yang menetukan hasil kehamilan,

disamping berat badan prahamil (BBpH).


Berat badan sebelum hamil, PBBH, dan indeks massa tubuh (IMT) masih merupakan

indikator yang bnayak dipakai untuk menentukan status gizi ibu. Rendahnya PBBH yang

diperburuk oleh rendahnya berat badan sebelum hamil dan otomatis rendahnyaIMT ditengarai

meningkatkan resiko kehamilan, seperti BBLR, kelahiran prematur dan kom[likasi pada saat

melahirkan.
PBBH yang trlalu tinggin resiko terhadap komplikasi kehamilan seperti hipertensi,

diabetes, dan preeklamsi, komplikasi waktu melahirkan, serta makrosomia. Untuk menghindari

risiko tersebut, ibu hamil harus memperhatikan asupan gizi sebelum , ketika, dan setelah

kehamilan, karena rat-rat PBBH yang dianjurkan di negara berkembang adalah 12,5 kilogram.

1. Kebutuhan energi
Widya Karya Pangan dan Gizi Nasional . menganjurkan pada ibu hamil untuk

meningkatkan asupan energinya sebesar 285 kkal perhari. Tambahan energi ini bertujuan untuk

memasok kebutuhan ibu dalam memenuhi kebutuhan janin. Pada trimester I kebutuhan energi

meningkat pada trimester II dan III untuk pertumbuhan janin .


Protein, ibu hamil mengalami peningkatan kebutuhan protein sebanyak 68% Widya Karya

Pangan dan Gizi Nasional menganjurkan untuk menambah asupan protein menjadi 12% perhari

atau 75-100 gram


Zat Besi, Anemia sebagian besar disebabkan oleh defisinsi zat besi, oleh karena itu perlu

ditekankan kepada ibu hamil untuk mengkonsumsi zat besi selama hamil dan setelah melahirkan.

Kebutuhan zat besi selama hamil meningkat sebesar 300%(1.040 mg selama hamil )dan

peningkatan ini tidak dapat tercukupi hanya dari asupan makanan ibu selama hamil melainkan

ibu perlu ditunjang dengan suplemen zat besi yang diberikan sejak minggu ke-12 kehamilan

sebesar 30-60 gram setiap hari selama kehamilan dan 6 minggu setelah kelahiran untuk

mencegah anemia postpartum.


Asam Folat, Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya meningkat

dua kali lipat selama hamil. Asam folat sangat berperan dalam metabolisme normal makanan

menjadi energi, pematangan sel darah merah, sintesis DNA, pertumbuhan sel, dan pembentukan

heme, jika kekurangan asam folat maka ibu dapat menderita anemia megaloblastik dengan gejala

diare, depresi, lelah berat, dan selalu mengantuk. Jika kondisi ini terus berlanjut dan tidak segera

ditangani maka pada ibu hamil akan terjadi BBLR, ablasio plasenta, dan kelainan bentuk tulang

janin(spina bifida)
Kalsium, Metabolisme kalsium selama hamil mengalami perubahan yang sangat berarti.

Kadar kalsium dalam darah ibu hamil turun drastis sebanyak 5%. Oleh karena itu, asupan yang

optimal perlu dipertimbangkan. Sumber utama kalsium adalah susu dan hasil olahannya,udang,

sarang burung, sarden dalam kaleng, dan beberapa bahan makanan nabati, seperti sayuran warna

hijau tua dan lain-lain.


Selain beberapa zat gizi yang dianjurkan untuk mengkonsumsi oleh ibu hamil, ada

beberapa makanan yang harus dihindari karena kemungkinan akan dapat membahayakan ibu dan

pertumbuhan janin. Makanan yang tidk sehat atau bebahaya bagi janin diantaranya dalah sebagai

berikut.
Hati dan produk hati. Mengandung vitamin A dosis tinggi yang bersifat teratognetik

(menyebabkan cacat pada janin)


Makanan mentah atau setengah matang karena beresiko toksoplasma.
Ikan yang mengandung metil merkuri dalam kadar tinggi seperti hiu, marlin, yang dapat

menggagu sistem saraf janin).


Kafein yang terkandung dalam kopi, teh, coklat, kola dibatasi 300 mg perhari. Efek yang dapat

terjadi diantaranya adalah insomnia, refluks, dan frekuensi berkemih yang meningkat.
Vitamin A dalam dosis >20.000-50.000 IU/hari dapat menyebabkan kelainan bawaan.
(Sulistyawati, 2009;h.108-110)

2. Lingkungan yang bersih


Salah satu pendukung untuk keberlangsungan kehamilan yang sehat dan aman adalah

adanya lingkungan yang bersih,karena kemungkinan terpapar dan zat toksis yang berbahaya bagi

ibu dan janin. Lingkungan yang bersih di sini adalah termasuk adlah bebas dari polusi udara

seperti asap rokok. Selain udara, prilaku hidup bersih dan sehat juga perlu di laksanakan seperti

menjaga kebersihan diri, makanan yang di makan, buang air besar di jamban dan mandi

menggunakan air yang bersih (Sulistyawati, 2009;h.110)

3. Pakaian
Meskipun pakaian bukan merupakan hal yang berakibat langsung dalam kesejahteraan ibu

dan janin, namun perlu kiranya jika tetap di pertimbangkan beberapa aspek kenyamanan dalam

berpakaian. Pemakaian pakaian dan kelengkapannya yang kurang tepat akan mengakibatkan

beberapa ketidaknyamanan yang akan menganggu fisik dan psikologis ibu. Beberapa hal yang

perlu di perhatikan dalam pakaian ibu hamil adalah sebagai berikut:


Pakaian harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut, bahan

pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat. Pakaialah bra yang menyokong

payudara,Memakai hak sepatu dengan hak rendah, pakaian dalam yang selalu bersih.

4. Kebersihan tubuh
Kebersihan tubuh ibu hamil perlu di perhatikan karena dengan perubahan sistem

metabolisme mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang menempel di kulit

dan memungkinkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. jika tidak di bersihkan


(dengan mandi) maka ibu hamil sangat mudah untuk terkena penyakit ibu hamil sangat mudah

untuk terkena penyakit kulit.


Bagian tubuh lain yang sangat membutuhkan perawatan kebersihan adalah daerah vital,

karena saat hamil terjadi pengeluaran sekret vagina yang berlebihan selain dengn mandi,

mengganti celana dalam secara rutin minimal dua kali sehari sangat di anjurkan (Sulistyawati,

2009;h.117-118).

5. Perawatan payudara
Payudara merupakan aset yang penting sebagai persiapan penyambutan kelahiran sang

bayi dalam proses menyusui. Beberapa hal yang harus di perhatikan dalam perawatan payudar

adalah sebagai berikut:


a. Hindari pemakaian bra dengan ukuran yang terlalu ketat dan yang menggunakan busa, karena

akan mengganggu penyerapan keringat payudara,


b. Gunakan bra dengan bentuk yang menyangga payudara.
c. Hindari membersihkan puting dengan sabun karena akan menyebabkan iritasi, bersihkan puting

dengan minyak kelapa lalu bilas dengan air hangat,


d. Jika di temukan pengeluaran cairan yang berwarna kekuningan dari payudara berarti produksi

ASI sudah di mulai.

6. Eliminasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan eliminasi adalah konstipasi dan

sering buang air kemih. Konstipasi sering terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron

yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus. Selain itu desakan usus

oleh pembesaran janin yang menyebabkan bertambahnya konstipasi. Tindakan pencegahanyang

dapat di lakukan adalah mengkonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air putih,

terutama ketika lambung kosong. Meminum air putih hangat ketika perut dalam keadaan kosong

dapat merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah mengalami dorongan maka segeralah

untuk buang air besar agar tidak terjadi konstipasi.


Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum di rasakan ibu hamil, terutama pada

trimester I dan III, hal ini tersebut adalah kondisi yang fisiologi, ini terjadi karena awal

kehamilan terjadi pembesaran uterus yang mendesak kantong kemih sehingga kapasiatasnya

berkurang, sedangkan pada trimester III terjadi pembesaran janin yang juga menyebabkan

desakan kada kantong kemih. Tindakan mengurangi asupan cairan untuk mengurangi keluhan ini

sangat tidak di anjurkan, karena akan menyebabkan dehidrasi (Sulistyawati, 2009;h.118-119).

a. Seksual
Hubungan seksual selama kehamilan tidak di larang selam tidak ada riwayat penyakit sebagai

berikut,
1) Sering abortus dan kelahiran prematur,
2) Perdarahan pervaginam,
3) Koitus harus di lakukan dengan hati0hati terutama pada minggu terakhir kehmilan,
4) Bila ketuban sudah pecah, koitus di larang karena dapat menyebabkan infeksi janin intrauteri
(Sulistyawati, 2009;h.119)
b. Pekerjaan
Wanita hamil tetap dapat bekerja namun aktivitas yang di jalaninya tidak boleh terlalu berat.

Istirahat untuk ibu hamil sangat di anjurkan sesering mungkin. Seorang wanita hamil di sarankan

untuk menghentikan aktivitasnya apabila merasakan gangguan dalam kehamilan. Pekerjaan yang

membutuhkan aktivitas berat, berdiri dalam waktu yang lama, pekerjaan dalam industri mesin,

atau pekerjaan yang memiliki efek samping lingkungan (Sulistyawati, 2009;h.127).

IV. Tanda-tanda bahaya/komplikasi pada ibu dan janin selama masa kehamilan

A. Perdarahan pervaginam
1. Abortus imminens

Sering juga di sebut dengan keguguran membakat dan akan terjadi jika di temukan

perdarahan pada kehamilan muda, namun pada tes kehamilan masih menunjukkan hasil yang

positif. Dalam kasus ini keluarnya janin masih dapat di cegah dengan memberikan terapi

hormonal dan antispasmodik serta istirahat, jika setelah beberapa minggu ternyata perdarahan
masih di temukan maka dalam dua kali tes kehamilan menunjukan hasil yang menunjukkan

negatif, maka harus di lakukan kuretase karena hal tersebut menandakan abortus sudah terjadi

2. Abortus insipiens (keguguran sedang berlangsung)

Terjadi apabila di temukan adanya perdarahanpada kehamilan muda di sertai dengan

membukanya ostium uteri dan terabanya selaput ketuban. Penengannya sama dengan abortus

inkompletus.

3. Abortus habitualis (keguguran berulang)

Pasien termasuk dalam abortus tipe ini jika telah mengalami keguguran berturut-berturut

selama lebih dari tiga kali.

4. Abortus inkomplitus (keguguran bersisa)

Tanda pasien dalama abortus ini adalah jika terjadi perdarahan pervaginam di sertai dengan

pengeluaran janin tanpa pengeluaran desidua atau plasenta. Jika terdapat tanda syok maka atasi

terlebih dulu dengan pemberian transfusi darah dan cairan, kemudian keluarkan jaringan

secepatnya dengan metode digital atau dengan kuretase dan selanjutnya berikan obat-obatan

uterotonika dan antibiotik.

5. Abortus komplitus (keguguran lengkap)

Di temukan pasien dengn perdarahan pervaginam di sertai dengan pengeluaran hasil

konsepsi (janin dan desidua sehingga rahim dalam keadaan kosong. (Sulistyawati, 2009;h.149-

150)

V. Hiperemesis gravidarum dalam kehamilan

A. Pengertian
Wiknjosatro mengatakan bahwa Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang

berlebihan pada ibu hamil, seorang ibu menderita hipeemesis gravidarum jika seorang ibu
memuntahkan segala yang dimakan dan diminumnya hingga berat badan ibu sangat turun, turgor

kulit kurang dan timbul aseton dalam air kecing.


Hipeemesis Gravidarum juga dapat diartikan keluhan mual muntah yang dikatagorikan

berat jika ibu hamil selalu muntah setiap kali minum ataupun makan. Akibatnya, tubuh sangat

lemas, muka pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun drastis, aktifasi sehari-hari menjadi

terganggu dan keadaan umum menurun. Meski begitu, tidak sedikit ibu hamil yang masih

mengalami mual muntah sampai trimester ketiga


(Rukiyah, dkk, 2010;h.118)
Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil.

Istilah hiperemesis gravidarum dengan gangguan metabolik yang bermakna karena mual dan

muntah. Penderita hiperemesis gravidarum biasanya dirawat dirumah sakit.


Insiden dari hiperemesis gravidarum adalah 0,5-10/1.000 kehamilan. Kemungkinan

terjadinya penyakit ini adalah tinggi pada orang kulit putih (16/1.000 kelahiran )dan rendah pada

orang kulit hitam (17/1.000 kelahiran ). Penyakit ini rata-rat muncul pada usia kehamilan 8-12

minggu .(Fadlun, dkk, 2011;h..39)

B. Hiperemesis gravidarum
Hiperemesis grvidarum adalah gejala mual-munatah yang berlebihan pada ibu hamil.

Istilah hiperemesis gravidarum denagan gangguan metabolik yang bermakna karena mual-

muntah. Penderita hiperemesis gravidarum biasanya dirawat dirumah sakit. Etiologinya belum

pasti, diduga ada hubungannya dengan paritas, hormonal, neurologis, metabolik, stres

psikologik, keracunan, dan tipe kepribadian.


Salah satu masalah yang terjadi pada masa kehamilan, yang bisa meningkatkan derajat

kesakitan adalah terjadinya Gestosis pada masa kehamilan atau penyakit yang khas terjadi pada

masa kehamilan, dan salah satu gestosis dalam kehamilan adalah Hiperemesis Gravidarum.
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan

aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat membahayakan kehidupan. Faktor-faktor yang dapat

menimbulkan hiperemesis adalah sebagai berikut .


1. Kemungkinan vili korialis masuk ke dalam darah.
2. Adanya faktor elergi.
3. Adanya faktor predisposisi, seperti primigravida dan overdistensi rahim.
4. Adanya faktor psikologis, seperti ketidak harmonisan dalam rumah tangga, kehamilan yang

tidak diinginkan, atau ketidaksiapan untuk memiliki anak (takut untuk hamil ). (Sulistyawati,

2009;h.153)

1. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa

penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-

perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan

vitamin serta zat-zat lain akibat inanisia.Beberapa faktor predisposisi dan factor lain yang telah

ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut.


a. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa, dan

kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda

menimbulakan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan

tersebut hormone khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.


b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic hamil serta resistensi

yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organic.
c. Alergi, sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah

satu faktor organic.


d. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak,

kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab

sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah

sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian

kesukaran hidup.
(Rukiyah, dkk, 2010;h.118-119)
Menurut Teori Psikosomatik, hiperemesis gravidarum merupakan keadaan gangguan

psikologik yang dirubah dalam bentuk gejala fisik. Kehamilan yang tidak di rencanakan dan

tidak diinginkan serta tekanan pekerjaan dan pendapatan menyebabkan terjadinya perasaan
berduka, ambivalen, serta konflik dan hal tersebut dapat menjadi faktor psikologis penyebab

hiperemesis gravidarum. (Runiari, 2010;h.9)

2. Diagnosis
Menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum tidak sukar, dengan menentukan kehamilan,

muntah berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah

yang terus menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin

dalam rahim dengan manifestasi klinisnya, oleh karena itu hiperemesis gravidarum berkelanjutan

harus dicegah dan harus mendapat pengobatan yang adekuat. Kemungkinan penyakit lain yang

menyertai kehamilan harus berkonsultasi dengan dokter tentang penyakit hati, ginjal, dan

penyakit tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan ketiga kemungkinan

hamil yang disertai penyakit .

( Manuba, 2010;h.230 )

Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya

kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum.

Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis,

ulkus ventrikuli dan tumor serebi yang dapat pula memberikan gejala muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan

yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.

(Prawirahardjo, 2006;h.278)

3. Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar

esterogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone

hormone esterogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system saraf pusat atau akibat
berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil,

meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung bebulan-bulan.


Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila

terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan

alkalosis hipokoremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil

wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, disamping itu pengaruh hormonal.

Yang jelas, Wanita yang sebelum kehamilan sesudah menderita lambung spastik dengan gejala

tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis

terpakai untuk keperluan energi. Karna oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis

denagn tertimbun nya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.

Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi,

sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun, demikian

pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran

darah kejaringan berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan

kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi

mual-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit

dipatahkan. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi

robekan pada selaput lender dan esofagus dan lambung(Sindroma Mallory-Weiss), Denagn

akibat perdarahan gastro intestinal. Pada umunya robekan ini ringan dan perdarahan dapat

berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfuse atau tandaka operatif. (prawirohardjo,

2006;h.276-277)

4. Tanda dan gejala


Batas antara mual dan muntah dan kehamilan yang masih fisiologik dengan hiperemesis

gravidarum tidak jelas, akan tetapi muntah yang menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari
dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah memerlukan perawatan yang

intensif (Rukiyah, dkk, 2010;h.121).


Hiperemesis gravidarum berdasarkan berat ringannya di bedakan atas 3 tingkatan, yaitu:
a. Tingkat I
Ringan di tandai dengan muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita,

ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium, nadi

meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang lidah

mengering dan mata cekung.


b. Tingkat II
Sedang penderita lebih lemah dan apatis, turgor kulit mengurang lidah mengering dan tampak

kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris berat badan turun

dan mata cekung, tensi turun dan hemokonsentrasi,oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium

dalam hawa pernafasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula di temukan dalam

kencing.
c. Tingkat III
Berat keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan samnolen sampai

koma nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada

susunan syaraf yang di kenal sebagai ensefalopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia

dan perubahan mental. Keadan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan termasuk

vitamin B komplek. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati (Rukiyah, dkk,

2010:121-122).

5. Pengelolaan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan

memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik,

memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang

fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan

mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu
bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau

biscuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.

Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi

yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor

yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

6. Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut diatas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan

pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang

sering diberikan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurakan adalah vitamin B1 dan B6, Anti

histaminika juga dianjurkan, seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan

antiemetic seperti disiklomin hidrokkloride atau khlorpromasin. Penanganan hiperemesis

gravidarum yang lebih berat perlu dikelola dirumah sakit.

a. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik.

Catat cairan yang keluar dan masuk. Hnaya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam

kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan

makanan/minuman dan selama 24 jam. Kadang- kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan

berkurang atau hilang tanpa pengobatan.


b. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh

karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya

dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

C. Hiperemesis Gravidarum Tingkat III

Penanganan hiperemesis gravidarum tingkat III dperlukan tambahan yaitu Cairan parentral

yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glucose 5 % dalam cairan gram cairan
fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium, dan vitamin, khususnya

vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam

amino secara intra vena. (Prawirihardjo, 2006;h.279)

1. Penanganan
a. Pencegahan dengan informasi dan edukasi. Hiperemesis akan berkurang sampai umur kehamilan

4 bualn.
b. Dinasehatkan agar tidak terlalu cepat bangun dari tempat tidur, sehingga tercapai adaptasi aliran

darah menuju susunan saraf pusat


c. Nasehat diit dianjurkan makan dengan porsi kecil tapi lebih sering. Makanan yang menimbulakn

mual dan muntah dihindari.


d. Terapi obat menggunakan sedative ringan luminal 3x 30 mg (luminal, stesolid, valium), vitamin

(B1&B6) anti muntah (mediamer B6, Drammamin, avopreg, avomin, torecan, primperan),

antasida dan anti mulas.


e. Nasihat pengobatan : banyak minum dan hindari minuman atau makanan yang asam untuk

mengurangi iritasi lambung.


f. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap dirumah sakit:
1) Istirahat baring
2) Isolasi dan Therapi psikologik
3) Penambahan cairan ; berikan infuse dekstrosa atau glukosa 5%-10% sebanyak 2-3 liter dalam 24

jam.
4) Observasi cairan yang masuk dan keluar denagn pemasangan kateter.
5) Observasi keadaan umu dan tanda vital.
6) Beri obat-obatan sda.
(Nugraheny, 2010;h.59-60)

2. Diet

Ciri khas diet hiperemesis adalah penekanan karbohidrat kompleks terutama pada pagi

hari, serta menghindari makanan yang berlemak dan goring-gorengan untuk menekan rasa mual

dan muntah, sebaiknya di beri jarak dalam pemberian makan dan minum. Diet pada hiperemesis
bertujuan untuk mengganti persediaan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur

memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup. Diet hiperemesis gravidarum memiliki

beberapa syarat, diantaranya adalah karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total,

lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan energi total, protein sedang, yaitu 10-15% dari

kebutuhan energi total, makanan di berikan dalam bentuk kering, pemberian cairan di sesuaikan

dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari, makanan mudah di cerna, tidak merangsang

saluran pencernaan dan di berikan sering dalam porsi kecil, bila makan pagi dan sulit di terima,

pemberian di optimalkan pada makan malam dan selingan malam, makanan secara berangsur di

tingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi pasien.

(Rukiyah, dkk, 2010;h.124).

Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu;


a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan

buah-buahan. Cairan tidak di berikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini

kurang akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya di berikan selam beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II di berikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai di

berikanbahan mkanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian mnum tidak di berikan bersamaan

dengan makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zt gizi kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III di berikan pada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan

penderita minuman boleh di berikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi

kecuali kalsium.
d. Makanan yang di anjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah roti panggang, biscuit,

crakers, buah segar dan saribuah, minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh hangat.

Sedangkan makanan yang tidak di anjurkan adalah makanan yang pada umumnya merangsang
saluran pencernaan dan berbumbu tajam. Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi dan

makanan yang mengandung zat pengawet, pewarna, dan penyedap rasa juga tidak di anjurkan.

Diet pada ibu yang mengalamihiperemesis terkadang melihat kondisi si ibu dan tingkatan

hiperemesisnya, konsep saat ini di anjurkan pada ibu adalah makanlah apa yang ibu suka, bukan

makan sedikit-sedikit tapi sering juga jangan di paksakan ibu memakan apa yang saat ini

membuat mual karena diet tersebut tidak akan berhasil malah akan memperparah kondisinya

(Rukiyah, dkk, 2010;h.124-125)


3. Komplikasi
Menurut Wiknjosastro dalam Rukiyah dampak yang di timbulkan dapat terjadi pada ibu

dan janin, seperti ibu akan kekurangan nutrisi dan cairan sehinga keadaan fisik ibu menjadi

lemah dan lelah dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa, pneumoni aspirasi, robekan

mukosa pada hubungan gastroesofagus yang menyebabkan perdarahan ruptur esofagus,

kerusakan hepar dan kerusakan ginjal, ini akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan

perkembangan janin karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau tidak sesuai dengan kehamilan,

yang mengakibatkan peredaran darah janin berkurang.


Pada bayi, jika hiperemesis ini terjadi hanya di awal kehamilan tidak berdampak terlalu

serius, tetapi jika sepanjang kehamilan si ibu menderita hiperemessi gravidarum, maka

kemungkinan bayinya mengalami BBLR, IUGR, Prematur hingga terjadi abortus .


Hal ini didukung oleh pernyataan Gross et al menyatakan bahwa ada peningkatan peluang

retradasi pertumbuhan intrauterus jika ibu mengalami penurunan berat badan sebesar 5 % dari

berat badan sebelum kehamilan, karena pola pertumbuhan janin terganggu oleh metabolisme

maternal. Terjadi pertumbuhan janin terhambat sebagai akibat kurangnya pemasukan oksigen

dan makanan yang kurang adekuat dan hal ini mendorong terminasi kehamilan lebih dini

(Rukiyah, dkk, 2010;h.128-129)

VI. Teori Manajemen Kebidanan Menurut Varney


A. Pengertian
Manajemen asuhan kebidanan atau sering disebut manajemen asuhan kebidanan adalah

suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan

kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klient maupun pemberi asuhan.

Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebgaai metode

untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan,

keterampilan, dalam rangkaian tahap-tahap yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang

berfokus terhadap klien.


Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen

Varney dalam buku Varneys Midwifery, edisi ketiga tahun 1997, menggambarkan proses

manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang berturut secara sistematis dan

siklik.

(Soepardan, 2008;h.96).

Varney menjelaskan bahwa proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat dan

bidan pada tahun 1970-an.

B. Langkah dalam manajemen kebidanan menurut Varney


1. Pengumpulan data dasar
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua

sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.


Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:
a. Auto anamnesa

Adalah anamnesa yang di lakukan kepada pasien langsung. Jadi data yang di peroleh adalah data

primer, karena langsung dari sumbernya.

b. Allo anamnesa
Adalah anamnesa yang di lakukan kepada keluarga pasien untuk memperoleh data tentang

pasien. Ini di lakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk

memberikan data yang akurat.

Anamnesa dilakukan untuk mendapatkan data anamnesa terdiri dari beberapa kelompok penting

sebagai berikut:

2. Data subjektif
a. Biodata
1) Nama pasien dikaji untuk membedakan pasien satu dengan yang lain.
2) Umur pasien dikaji untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat- alat

reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap.


3) Agama pasien dikaji untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau

mengarahkan pasien untuk berdoa.


4) Suku pasien dikaji untuk mengetahui adat dan kebiasaan seharihari yang berhubungan dengan

masalah yang dialami.


5) Pendidikan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan metode komunikasi yang

akan disampaikan.
6) Pekerjaan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi pasien, karena ini juga

berpengaruh pada gizi pasien.


7) Alamat pasien dikaji untuk mengetahui keadaan lingkungan sekitar pasien, dan kunjungan

rumah bila diperlukan.


b. Riwayat pasien
Keluhan utama
Keluhan ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.

c. Riwayat kebidanan
Data ini penting diketahui oleh tenaga kesehatan sebagai data acuan jika pasien mengalami

penyulit.
1) Menstruasi
Data ini memang secara tidak langsung berhubungan, namun dari data yang kita peroleh kita

akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data

yang harus diperoleh dari riwayat menstruasi antar lain sebagai berikut :
2) Menarche
Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya

mengalami menarche sekitar 12 sampai 16 tahun


3) Siklus
Siklus menstruasi adalah jarak anatar menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya,

dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.


4) Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan

kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya kita gunakan kriteria

banyak, sedang, dan sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif,

namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dalam beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai

berapa kali mengganti pembalut dalam sehari.


5) Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi, misalnya

nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, jumlah darah yang banyak. Ada beberapa keluhan yang

disampaikan oleh pasien dapat menunjuk pada diagnosis tetentu.


6) Gangguan kesehatan alat reproduksi
Beberapa data yang perlu kita kaji dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan

seperti berikut ini:


a) Keputihan
b) Infeksi
c) Gatal karena jamur
d) Tumor

d. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu.


1) Riwayat kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penanda (warning) akan adanya

penyulit masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan

seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa

data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien

pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus (DM),

hipertensi/hipotensi, ginjal, dan hepatitis.


2) Status perkawinan
Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan mendapatkan gambaran mengenai suasana

rumah tangga pasangan.


3) Pola makan
Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi

asupan gizinya selama hamil. Kita bisa menggali dari pasien tentang makanan yang disukai dan

yang tidak disukai, seberapa banyak dan sering ia mengonsumsinya, sehingga jika kita peroleh

data yang tidak sesuai dengan standar pemenuhan, maka kita dapat memberikan klarifikasi

dalam pemberian pendidikan kesehatan mengenai gizi ibu hamil.


Beberapa hal yang perlu kita tanyakan adalah :
a) Menu
Kita dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur,

lauk, buah, makanan selingan dan lain-lain)

b) Frekuensi
Data ini member petunjuk bagi kita tentang seberapa banyak asupan makanan yang dikonsumsi

ibu.
c) Jumlah per hari
Data ini memberikan volume atau seberapa banyak makanan yang ibu makan dalam waktu satu

kali makan.
d) Pantangan
Ini juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan pasien berpantangan justru pada

makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan atau telur.
4) Pola minum
Kita juga harus dapat memperoleh data dari kebiasaan pasien dalam memenuhi kebutuhan

cairannya. Apalagi dalam masa kehamilan asupan cairan yang cukup sangat dibutuhkan. Hal-hal

yang perlu ditanyakan :


a) Frekuensi

Kita dapat tanyakan pada pasien berapa kali ia minum dalam sehari dan dalam sekali minum

menghabiskan berapa gelas.

b) Jumlah per hari


Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak ibu minum dalam sekali waktu minum akan

didapatkan jumlah asupan cairan dalam sehari.

c) Jenis minuman

Kadang pasien mengonsumsi minuman yang sebenarnya kurang baik untuk kesehatannya.

5) Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan perlu menggali kebiasaan

istirahat ibu supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang

tentang pemenuhan kebutuhan istirahat. Bidan dapat menanyakan tentang berapa lama ia tidur

dimalam dan siang hari.


a) Istirahat malam hari
Rata rata lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam
b) Istirahat siang hari
Tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, hal ini dapat kita

sampaikan kepada ibu bahwa tidur siang sangat penting unuk menjaga kesehatan selama hamil.
c) Aktifitas sehari-hari
Kita perlu mengkaji aktifitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang

seberapa berat aktifitas yang biasa dilakukan pasien dirumah. Jika kegiatan pasien terlalu berat

sampai dikhawatirkan dapat menimbulakn penyulit masa hamil, maka kita dapat memberikan

peringatan sedini mungkin kepada pasien untuk membatasi dulu aktifitasnya sampai ia sehat dan

pulih kembali. Aktifitas yang terlalu berat dapat menyebabkan abortus dan persalinan premature.
6) Personal hygiene
Data ini perlu kita kaji karena bagaimanapun juga hal ini akan memengaruhi kesehatan pasien

dan bayinya. Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan kebersihan

dirinya, maka bidan harus dapat memberikan bimbingan mengenai cara perawatan kebersihan

diri dan bayinya sedini mungkin. Beberapa kebiasaan yang dilakukan dalam perawatan

kebersihan diri diantaranya adalah sebagai berikut :


a) Mandi
Kita dapat menanyakan pada pasien berapa kali ia mandi dalam sehari dan kapan waktunya (jam

berapa pagi dan sore)


b) Keramas
Pada beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan kebersihan rambutnya karena mereka

beranggapan keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan. Jika kita menemukan pasien

yang seperti ini maka kita harus memberikan pengertian kepadanya bahwa keramas harus selalu

dilakukan ketika rambut kotor karena bagian kepala yang kotor merupakan sumber infeksi.
c) Ganti baju dan celana dalam
Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali. Namun jika

sewaktu- waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya diganti tanpa harus menunggu

waktu untuk ganti berikutnya.


d) Kebersihan kuku
Kuku ibu hamil harus selalu dalam keadaan pendek dan bersih. Kuku ini selain sebagai tempat

yang mudah untuk bersarangnya kuman sumber infeksi, juga dapat menyebabkan trauma pada

kulit bayi jika terlalu panjang. Kita dapat menanyakan pada pasien setiap berapa hari ia

memotong kukunya, atau apakah ia selalu memanjangkan kukunya supaya terlihat menarik.
7) Aktifitas seksual
Walaupun ini dalah hal yang cukup privasi bagi pasien, namun bidan harus menggali data dari

kebiasaan ini, karena terjadi beberapa kasus keluhan dalam aktifitas seksual yang cukup

mengganggu pasien namun ia tidak tahu kemana harus berkonsultasi. Dengan teknik yang

senyaman mungkin bagi pasien. Hal- hal yang ditanyakan:

a) Frekuensi
Kita tanyakan berapa kali melakuakn hubungan seksual dalam seminggu.
b) Gangguan
Kita tanyakan apakah pasien mengalami gangguan ketika melakukan hubungan seksual.
8) Respon keluarga terhadap kehamilan ini
Bagaimanapun juga hal ini sangat penting untuk kenyamanan psikologis ibu. Adanya respon

yang positif dari keluarga terhadap kehamilan akan mempercepat proses adaptasi ibu dalam

msenerima perannya.
9) Respon ibu terhadap kelahiran bayinya
Dalam mengkaji data ini kita dapat menanyakan langsung kepada pasien mengenai bagaimana

perasaannya terhadap kehamilan ini.


10) Respon ayah terhadap kehamilan ini
Untuk mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan ini kita dapat menanyakan

langsung pada suami pasien atau pasien itu sendiri. Data mengenai respon ayah ini sanagat

penting karena dapat kita jadikan sebagai salah satu acuan mengenai bagaimana pola kita dalam

memberikan asuhan kepada pasien.

11) Adat istiadat setempat yang berkaitan dengan masa hamil


Untuk mendapatkan data ini bidan sangat perlu melakukan pendekatan terhadap keluarga pasien,

terutama orang tua. Hal ini penting yang biasanya mereka anut berkaitan dengan masa hamil

adalah menu makan untuk ibu hamil, misalnya ibu hamil pantang makanan yang berasal dari

daging, ikan telur, dan gorengan karena dipercaya akan menyebabkan kelainan pada janin. Adat

ini akan sangat merugikan pasien dan janin karena hal tesebut justru akan membuat pertumbuhan

janin tidak optimal dan pemulihan kesehatannya akan terhambat.

3. Data objektif

Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita dalam menegakan

diagnosis, maka kita harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi,

palpasi, auskultasi dan perkusi.

Langkah-langkah pemeriksaanya sebagai berikut :

a. Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan.

Hasil pengamatan kita laporkan dengan criteria sebagai berikut :

1) Baik
Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara

fisik paien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.


2) Lemah
Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik

terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri.
b. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian

tingkat kesadaran mulai dari keadaan compos mentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma

(pasien tidak dalam sadar). (Sulistyawati, 2009;h.83 )


c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi:
1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi )
2) Pemeriksaan penunjang ( laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada formulir pengumpulan data kehamilan, persalinan,

dan masa nifas.

Dalam manajemen kolaborasi, bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan

kepada dokter, bidan akan melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal yang

akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang

dihadapi akan menentukan benar tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh

karena itu, pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data subjektif, data objektif, dan hasil

pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya serta valid. kaji

ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat (Soepardan,

2008;h.51).

C. Langkah II (Interpretasi Data Dasar)

Dalam langkah kedua ini bidan membagi interpretasi data dalam tiga bagian, yaitu sebagai

berikut:

1. Diagnosis kebidanan/ nomenklatur


Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain:
a. Paritas
Paritas adalah riwayat repsoduksi seorang wanita yang berkaitan dengan primigravida (hamil

yang pertama kali), dibedakan dengan multigravida (hamil yang kedua atau lebih).
Contoh cara penulisan paritas dalam interpretasi data aalah sebagai berikut:
1) G1(gravid 1) atau yang pertama kali
2) P0 (Partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan
3) A0( Abortus) berarti belum pernah mengalami abortus
4) Multigravida
5) G3 (gravid 3) atau ini adalah kehamilan yang ketiga
6) P1 (Partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu kali
7) A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalimi abortus satu kali
8) Usia kehamilan dalam minggu
9) Keadaan janin
10) Normal atau tidak normal
b. Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah masalah dan diagnosis. Kedua istilah tersebut

dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu

dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan

dengan bagaimana wanita itu menngalami kenyataan terhadap diagnosisnya.


c. Kebutuhan pasien
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya.
(Sulistyawati, 2009;h.166-180 )

D. Langkah III (Identifikasi Diagnosis/ Masalah Potensial dan Antisipasi Penangannya).

Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial

berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah dididentikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi,

bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap

mencegah diagnosis/masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam

melakukan asuhan yang aman.

Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial,

tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan

antisipasi agar masalah atau diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang

rasional atau logis . (Soepardan, 2008;h.99-100).

E. Langkah IV (Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi Segera dengan Tenaga


Kesehatan Lain).
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan

segera bersama anggota tim kesehatan lain dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu, seorang

bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim

kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir.

Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada

siapa sebaiknya konsultasi dan kolaborasi dilakukan.

(Soepardan, 2008;h.100-101)

F. Langkah V ( Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh)

Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan

langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah

diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum lengkap

dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yang sudah

teridenfikiasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka

pedoman antisipasi untuk klien tersebut. Pedoman antisipasi ini mencakup perkiraan tentang hal

yang akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah bidan perlu

merujuk klien bila ada sejumlah masalah terkait social, ekonomi, kultural, atau psikologis.

Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan

dengan semua aspek asuhan kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan

dan klien, agar dapat dilaksanakan secara efektif. Semua keputusan yang telah disepakati

dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan in harus bersifat rasional dan valid yang

didasarkan pada pengetahuan, teori terkini (up to date), dan sesuai dengan asumsi tentang apa

yang akan dilakukan klien (Soepardan, 2008;h.101)


G. Langkah VI (Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman)

Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman.

Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau

anggota tim kesehatan yang lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap

memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

Dalam situasi ketika bidan berkonsultasi dengan dokter untuk menangani klien yang

mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama

yang menyeluruh tersebut

(Soepardan, 2008;h.102)

H. Langkah VII (Evaluasi)

Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak

efektif untuk mengetahui factor mana yang menguntungkan atau menghambat keberhasilan yang

diberikan. Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan.

Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan: apakah benar-benar telah terpenuhi

sebagaimana diidentifikasi didalam masalh dan diagnosis. Rencana tersebut dapat dianggap

efektif jika memang benar efektif dalam pelaksaannya

(Soepardan, 2008;h.102)

VII.Teori Landasan Hukum


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010

tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
1. Kewenangan normal:
a. Pelayanan kesehatan ibu

b. Pelayanan kesehatan anak

c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.


2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah
3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter.
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan. Kewenangan

ini meliputi:
1. Pelayanan kesehatan ibu

a. Ruang lingkup:

1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil

2) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

3) Pelayanan persalinan normal

4) Pelayanan ibu nifas normal

5) Pelayanan ibu menyusui

6) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan

b. Kewenangan:

1) Episiotomi

2) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II

3) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

4) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil

5) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

6) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI) eksklusif

7) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum

8) Penyuluhan dan konseling

9) Bimbingan pada kelompok ibu hamil

10) Pemberian surat keterangan kematian

11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin


2. Pelayanan kesehatan anak

a. Ruang lingkup:

1) Pelayanan bayi baru lahir

2) Pelayanan bayi

3) Pelayanan anak balita

4) Pelayanan anak pra sekolah

b. Kewenangan:

1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi

menyusu dini (IMD), injeksi vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28

hari), dan perawatan tali pusat

2) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk

3) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan

4) Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah

6) Pemberian konseling dan penyuluhan

7) Pemberian surat keterangan kelahiran

8) Pemberian surat keterangan kematian

3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, dengan

kewenangan:

a. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

berencana

b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom


Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan yang menjalankan

program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan

yang meliputi:

1) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan

alat kontrasepsi bawah kulit

2) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu (dilakukan di

bawah supervisi dokter)

3) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan

4) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia

sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah

6) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas

7) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual

(IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya

8) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui

informasi dan edukasi

Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemeriksaan .


(http://www.Kesehatan.depkes.go.id/archives/171) Diambil pada tanggal 15 juni 2012, pukul

10.25 WIB

BAB III

TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PADA NY. S UMUR 33 TAHUN G4P1A2
USIA KEHAMILAN 7 MINGGU 6 HARI DENGAN HIPEREMESIS
GRAVIDARUM TINGKAT I DI BPS LISNANI ALI
DI TELUK BETUNG TIMUR
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2013

I. Pengkajian
Tanggal : 20 April 2013
Jam : 17.00 WIB
Tempat : BPS Lisnani
Nama Mahasiswa : Rafita Sari.S
Nim : AB/A/Y/2010.603

A. Data subyektif
1. Identitas pasien Suami
Nama : Ny. S Nama : Tn.A
Umur : 33 th Umur : 34 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan :Swasta
Alamat :JL.Marthadinata, Alamat :JL.Marthadinata,
Rumah susun Keteguhan. Rumah susun Keteguhan.
Teluk Betuk Barat . Teluk Betuk Barat .
2. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilan
3. Keluhan utama
Ibu mengatakan mual muntah lebih dari 10 kali dalam sehari tubuh terasa lemas dan kepala

terasa pusing
4. Riwayat kesehatan
a. Sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menular dan menurun
b. Yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita suatu penyakit apapun
c. Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit menular dan menurun
5. Riwayat obstetri
a. Riwayat haid
Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Teratur/tidak : Teratur
Lama : 5-7 hari
Volume : 2 kali ganti pembalut dalam sehari
Warna : Merah
Disminorhea : Tidak
Bau : Khas darah
Flour albus : Tidak ada
HPHT : 25-02-2013
TP : 02-12-2013
b. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu

Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu

N Tahun Usia Jenis Tempat Kesulit Penolo Bayi


o persalin Kehamilan Persalina Persali an dlm ng
an n nan persali J BB PB Ket
nan K
1 2004 39 minggu Spontan BPS Tidak Bidan P 3000 49
2 hari ada gram cm

2007 8 minggu abortus

2009 10 minggu abortus


2013 Hamil ini

c. Tanda-tanda kehamilan
Amenorea, mual muntah : Ya
Tes kehamilan : Di lakukan
Tanggal :25-03-2013
Hasil : Positif
d. Pergerakan janin belum di rasakan
e. Keluhan yang di rasakan:
Rasa lelah : Ada
Mual-mual : Ada
Pegal pada kaki dan pinggang : Tidak ada
Malas beraktifitas : Ada
Panas menggigil : Tidak ada
Sakit kepala : Ada
Penglihatan kabur : Tidak ada
Rasa nyeri/ panas waktu BAK : Tidak ada
Rasa gatal pada vulva, vagina : Tidak ada
Nyeri kemerahan pada tungkai : Tidak ada
f. Riwayat pernikahan
Menikah 1 kali lamanya 12 tahun
g. Riwayat KB
KB suntik 3 bulan
h. Riwayat imunisasi TT
Pada kehamilan pertama lengkap
Belum pernah mendapatkan imunisasi TT pada hamil ini
i. Riwayat sosial
Kehamilan saat ini di rencanakan : Ya
Kepercayaan yang berhubungan dg kehamilan
dan nifas : Tidak ada
Susunan anggota keluarga yang tinggal serumah
Tabel 3.2
Susunan anggota keluarga yang tinggal serumah

No Jenis Umur Hubungan Pendidikan Pekerjaan Keterangan


Kelamin

1 Laki-laki 34 th Suami SMA Swasta Sehat

2 Perempuan 8 th Anak SD Pelajar Sehat

6. Pola kebutuhan sehari-hari


a. Nutrisi
l : ibu mengatakan makan 2 kali sehari dengan Nasi, sayur

dan lauk serta minum air putih 3-4 gelas per hari
: ibu mengatakan selama hamil kurang nafsu makan, ibu

makan tidak teratur dengan porsi sedikit. Ibu lebih sering makanan seperti biskuit dan minum 3-4

gelas perhari.
b. Pola eliminasi
l : ibu mengatakan BAK 6-7 kali sehari warna kuning

jernih dan berbau khas urine, dan BAB 1 kali perhari sekali warna kuning kecoklatan.
: ibu mengatakan BAK 4-5 kali sehari warna kuning

pekat, berbau khas urine, dan BAB 1 hari sekali warna kuning kecoklatan.
c. Pola istirahat
l : ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam perhari dan tidur

siang 1-2 jam perhari.


: ibu mengatkan tidur malam 5-6 jam perhari dan tidur

siang 1 jam perhari.


d. Personal hygiene
l : ibu mengatakan ganti celana dalam 2 kali dalam sehari,

mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas 1 hari sekali dan potong kuku 2 minggu

sekali.
: ibu mengatakan ganti celana dalam 2-3 kali sehari dan

mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari dan keramas 2 hari sekali, potong kuku 2 minggu

sekali.
e. Pola sexual
l : 2 kali seminggu
: 1 kali seminggu

f. Pekerjaan
l : Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
: ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
7. Pola psikososial
Ibu dapat bersosialisi dengan baik pada keluarga dan tetanganya

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Tekanan darah : 110/70 mmHg
d. Nadi : 102x/menit
e. Suhu : 36,40C
f. RR : 22x/menit
g. Tinggi badan : 154 cm
h. Berat badan sebelum hamil : 54 kg
Berat badan sekarang : 50 kg
i. LILA : 24 cm
2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : Tidak ada nyeri tekan
b. Rambut : Bersih, penyebaran warna rambut merata
c. Muka
Cloasma : Tidak ada
Oedema : Tidak ada
d. Mata
Kelopak mata : Cekung
Konjungtiva : Merah muda
Sklera : Putih
e. Hidung : Simetris kanan dan kiri, tidak pembesaran
polip
f. Telinga : Simetris kanan dan kiri
Tidak ada gangguan pendengaran.
g. Mulut : Bersih, bibir kering.
h. Gigi : Tidak ada caries
i. Leher
Kelenjar tyroid : Tidak ada pembesaran
Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran
j. Payudara
Pembesaran : Simetris kanan dan kiri
Puting susu : Menonjol
Benjolan : Tidak ada
Rasa nyeri : Tidak ada
Hiperpigmentasi : Tidak ada
Pengeluaran : Tidak ada
k. Abdomen
Bekas luka operasi : Tidak ada
Pembesaran : Sesuai usia kehamilan
Konsistensi : Lunak
Linea : Tidak ada
Acites : Tidak ada
Tumor : Tidak ada
Pembesaran liver/lien : Tidak ada

Uterus : Tidak di lakukan

l. Punggung : : Normal
m. Pinggang : nyeri ketuk : Tidak ada
n. Genetalia
Perineum : Tidak ada bekas luka parut
Vulva dan vagina : Merah muda
Pengeluaran pervaginam : Tidak ada
Kelenjar bartholini : Tidak ada pembesaran
o. Periksa dalam : Tidak di lakukan
p. Anus : Tidak ada hemoroid
q. Ekstremitas
Oedema : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Refleks patella : Positif kanan dan kiri
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Hb : 11 gr%
b. Protein urine : (-)
c. Glukosa urine : (-)
BAB IV

PEMBAHASAN

I. Pengumpulan data dasar

Pada asuhan kebidanan yang telah dilakukan terhadap Ny S umur 33 tahun G4P1A2 usia

kehamilan 7 minggu 6 hari dengan Hiperemesis gravidarum tingkat I. Terdapat satu kesenjangan

antara teori dan asuhan yang dilakukan. Pengkajian dilakukan untuk mengumpulkan data dasar

tentang pasien, pada kasus ini penulis melakukan pengkajian pada ibu hamil yaitu Ny S umur 33

tahun G4P1A2 dengan Hiperemesis gravidarum tingkat I sebagai berikut :


Data subjektif

1. Nama

a. Tinjauan teori

Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari hari agar tidak keliru dalam

memberikan penanganan (Ambarwati, 2009;h.131)

b. Tinjauan kasus

Dalam kasus ini nama ibu adalah Ny. S

c. Pembahasan

Dalam kasus ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik karena Ny. S memiliki nama

jelas yang dapat membedakan dengan klien yang lain.

2. Umur
Umur adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai saat ini. Umur merupakan periode

terhadap pola-pola kehidupan yang baru, semakin bertambahnya umur akan mencapai usia

reproduksi (Notoatmodjo, 2003;h.73).

a. Menurut tinjauan teori

Umur ibu mempunyai pengaruh yang erat dengan perkembangan alat reproduksi. Hal ini

berkaitan dengan keadaan fisiknya dari organ tubuh ibu di dalam menerima kehadiran dan

mendukung perkembangan janin. Seorang wanita memasuki usia perkawinan atau mengakhiri

fase tertentu dalam kehidupannya yaitu umur repoduksi (Yunita, 2005;h.58).

Kehamilan dikatakan beresiko tinggi adalah kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun. Usia

dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum

sempurna, hal ini tentu menyulitkan proses kehamilan dan persalinan. Sedangkan kehamilan

diatas usai 35 tahun mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan

persalinan antara lain perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus

lama.

(Manuaba, 2003;h.42).

umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20-35 tahun. kehamilan diusia kurang

20 tahun dan diatas 35 tahun dapat menyebabkan Hiperemesis karena pada kehamilan diusia

kurang 20 secara biologis belum optimal emosinya, cenderung labil, mentalnya belum matang

sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap

pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilanya. sedangkan pada usia 35 tahun terkait

dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering

menimpa di usia ini.

(Ridwan, dkk, 2007;h.36).

b. Menurut tinjauan kasus


Pada kasus ini Ny. S usia nya adalah 33 tahun.

c. Pembahasan

Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus ini tidak terjadi kesenjangan pada usia ibu. Karena

usia 33 tahun dianggap baik karena organ reproduksi ibu maupun psikis masih berkembang

dengan baik.

3. Suku

a. Menurut tinjauan teori

Dalam hal ini pengaruh suku terhadap kebidanan adalah dalam hal adat istiadat dan kebiasaan

kebiasaan yang sering dilakukan oleh ibu.

b. Menurut tinjauan kasus

Ibu bersuku jawa dan selama ini ibu tidak memiliki kebiasaan kebiasaan yang berpengaruh

terhadap kehamilan, persalinan dan nifas.

c. Pembahasan

Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan karena ibu tidak memiliki kebiasaan adat istiadat yang

berpengaruh terhadap kehamilan, persalinan dan nifas.

4. Pendidikan

a. Menurut tinjauan teori

Pengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya,

sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya.

b. Menurut tinjauan kasus

Pendidikan terakhir Ny. S adalah jenjang SMP

c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan kerena Ny. S memiliki pendidikan SMP dimana ketika

petugas kesehatan memberikan penyuluhan atau konseling Ny. S dapat lebih mudah dalam

memahaminya.

5. Keluhan Utama

a. Menurut tinjauan teori


Menurut teori keluhan utama dikaji untuk mengetahui keluhan yang ibu rasakan berkaitan

dengan mual dan muntah yang berlebihan sampai >10 kali/hari yang ibu alami saat ini .
Menurut Wiknjosatro Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan pada

ibu hamil, seorang ibu menderita hiperemesis gravidarum jika seorang ibu memuntahkan segala

yang dimakan dan diminumnya hingga berat badan ibu sangat turun, turgor kulit kurang dan

timbul aseton dalam air kecing.

b. Menurut tinjauan kasus


Ny. S mengeluh mual-muntah terus menerus >10 kali dalam sehari, ibu merasa lemah dan

kepala terasa pusing.


c. Pembahasan
Berdasarkan pengkajian di atas penulis menyimpulkan bahwa tidak terjadi kesenjangan

antara teori yang di dapat dengan hasil pengkajian terhadap Ny. S yang mengalami hiperemesis

gravidarum. Menurut , hiperemesis gravidarum keluhan utama yang biasanya dialami oleh ibu

yaitu di tandai dengan muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita. Dan

kesepakatan yg ada batas muntah >10 kali/sehari dan apabila keadaan umum ibu berpengaruh

maka bisa disebut hiperemesis gravidarum (Nugraheny, 2010;h.58)


Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan yang terjadi pada wanita hamil,

Hal tersebut mulai terjadi pada minggu keempat sampai kesepuluh kehamilan dan selanjutnya

akan membaik pada usia kehamilan dan selanjutnya akan menbaik pada umumnya pada usia

kehamilan 20 minggu.(Runiari, 2010;h.8)

6. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu


a. Tinjauan teori
Riwayat kehamilan yang lalu ibu mengatakan ini kehamilannya yang ke 4 sebelumnya ibu

sudah 1 kali melahirkan dan sudah 2 kali keguguran, ibu mengatakan kehamilan yang

sebel;umnya tidak pernah mengalami mual dan muntah yang seperti ibu rasakakn saat ini.
Pada kasus Hiperemesis gravidaraum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis

gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I.
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu

diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan ini disebabkan oleh

karena meningkatnya kadar hormone esterogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik

kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung

yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun

demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Keadaan inilah

yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologi menentukan berat

ringannya penyakit.

(Prawirohardjo, 2005;h.275)

b. Tinjauan kasus
Kehamilan yang sedang di alami Ny. S saat ini merupakan kehamilannya yang ke Empat

(Multigravida) . Dan ibu sudah 2 kali keguguran pada usia 8 minggu dan 10 minggu. Dan pada

kehamilan sebelumnya ibu ytidak pernahmengalami mual dan muntah yang berlebihan seperti

yang ibu alami saat ini.


c. Pembahasan
Pada kasus tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, dikarenakan

kehamilan Ny.S saat ini adalah yang ke empat (Multigravida), Hiperemesis gravidaraum adalah

Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu diantara

seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan ini disebabkan oleh karena

meningkatnya kadar hormone esterogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan
hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung yang

berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian

gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Keadaan inilah yang

disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologi menentukan berat

ringannya penyakit.(Prawirohardjo, 2005;h.275)

7. Riwayat sosial

Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan


a. Tinjauan teori
Selain faktor psikologis, faktor budaya juga dapat menjadi pemicu terjadinya Hyperemesis

gravidarum. Menurut Tiran, 2004 dalam runiar menyatakan bahwa faktor budaya yang

merupakan hal penting adalah berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan dikonsumsi

(Runiari, 2010;h.27).
b. Tinjauan kasus
Keluarga Ny. S tidak memiliki kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan seperti

pantangan dari orang tua yang tidak memperbolehkan makan-makanan tertentu .


c. Pembahasan
Menurut tinjauan teori yang diungkapkan oleh Runiari selain faktor psikologis, faktor

budaya juga dapat menjadi pemicu terjadinya Hyperemesis gravidarum. Sedangkan menurut

Tiran dalam buku Runiari menyatakan bahwa faktor budaya yang merupakan hal penting

adalah berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan dikonsumsi, serta pembatasan

makanan yang akan dikonsumsi karena hal ini berpengaruh pada kesehatan ibu selama

kehamilannya terutama ketika ibu mengalami mual-muntah pada awal kehamilannya, namun

pada tinjauan kasus keluarga Ny. S tidak memiliki kepercayaan yang berhubungan dengan

kehamilannya. Jadi pada kasusu dan teori tidak terdapat kesenjangan antar tinajuan teori dan

tinjauan kasus.
(Runiari, 2010;h.10)

8. Pola kebutuhan sehari-hari


Nutrisi
a. Tinjauan teori
Ibu hamil membutuhkan nutrisi dan cairan yang cukup untuk kebutuhan bagi si ibu itu

sendiri dan janinnya yang dikandung, ibu hamil harus benar-benar memperhatikan makanan apa

saja yang baik untuk dikonsumsi bagi dirinya dan calaon bayi yang dikandung nya saat ini. Ibu

hamil harus mengkonsumsi banyak makanan yang kaya akan zat besi, protein, Asam folat yang

baik bagi pembentukan janin yang dikandsungnya saat ini dan kebutuhan nutrisi ibu .
Menurut penelitian lain mengenai pengaruh budaya terhadap Hyperemesis gravidarum

dilakukan juga oleh Rabinerson, et. All, hasil penelitiannya menemukan bahwa kejadian

hiperemsis gravidarum dapat meningkat pada wanita yang mengalami pembatasan dalam intake

nutrisi (contohnya pada wanita yang menjalankan puasa)


Dan memberitahukan pada ibu nutrisi yang baik bagi ibu hamil seperti nutrisi yang baik

bagi ibu adalah Makanan yang banyak mengandung protein seperti(Daging, ikan,telur,susu)

dantinggi akan Asam folat (Ragi,hati,brokoli, sayuran berdaun hijau seperti bayam,asparagus dan

kacang kedelai bisa juga didapat dari sumber lain yaitu dari ikan,daging,buah jeruk,dan telur).
(Runiari, 2010;h.120 ) (Sulistyawati, 2009;h.108-109)
b. Tinjauan kasus
Pada kehamilan ini pola asupan nutrisi Ny. S tidak adekuat karena selama kehamilan ini

Ny. S hanya makan sehari satu kali dari porsi sebelum hamil karena mual yang ibu alami saat ini

nafsu makan berkurang.ibu telah mengerti nutrisi yang baik bagi ibu tetapi saat ini ibu masih

belum dapat mengkonsumsi karna faktor mual muntah yang ibu rasakan saat ini.
c. Pembahasan
Dari hasil pengkajian, pada tinjauan kasus bahwa asupan nutrisi Ny. S tidak adekuat

selama kehamilannya, Ny. S hanya makan satu kali sehari dari porsi sebelum hamil dua kali

sehari, karena timbul rasa eneg pada Ny. S sehingga menimbulkan rasa mual yang semakin

lama semakin berat karena Ny. S tidak merubah pola kebutuhan nutrisinya, hal ini didukung oleh

data subjektif Ny. S yang mengatakan bahwa Ny. S hanya makan sedikit selama masa
kehamilannya. Dan ibu sebelum nya telah mengerti nutrisi yang baik bagi dirinya beserta janin

nya. Dari pembahasan ini tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus.

Data objektif

1. Pemeriksaan umum
a. Tinjauan teori
1) Keadaan umum
Data ini di kumpulkan guna melengkapi data untuk menegakkan diagnosis. Bidan melakukan

pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi dan

pemeriksaan penunjang yang dilakukan secara berurutan


(Sulistyawati, 2010;h.226).
2) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang ke sadaran pasien, kita dapat melakukan pegkajian derajat

kesadran pasien dari keadaan compos mentis sampai dengan koma (Sulistyawati, 2010;h.226).
b. Tinjauan kasus
Keadaan umum : Lemah
Keadaan emosianal : Stabil
Kesadaran : Compos mentis
c. Pembahasan
Dalam pemeriksaan umum ada kesenjangan dikarenakan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus

ada kesenjangan antara keadaan, dan kesadaran ibu dalam keadaan kurang baik karena dalam

tinjauan kasus keadaan umum ibu lemah.

2. Pemeriksaan fisik
a. Muka
1) Tinjauan teori
Pada banyak perempuan kulit di garis pertengahan perutnya (linea alba) akan berubah

menjadi hitam kecokelatan yang disebut dengan linea nigra. Kadang-kadang akan muncul dalam

ukuran yang bervariasi pada wajah dan leher yang disebut chloasma gravidarum. Adanya

peningkatan kadar serum melanocyte stimulating hormone (MSH). Topeng kehamilan (cloasma

gravidarum) adalah bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan pipi.

(Sulistyawati, 2009;h.39).
2) Tinjauan kasus
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan tidak terdapat cloasma gravidarum
3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena ibu hamil mulai

akan mengalami hiperpigmentasi pada muka biasanya terjadi pada usia kehamilan 12 minggu,

sedangkan saat ini usia kehamilan Ny. S yaitu 8 minggu diman Ny. S belum mengalami

hiperpigmentasi pada bagian muka yang disebabkan oleh hormone MSH.


b. Mata dan mulut
1) Tinjauan teori
Pada pemeriksaan fisik ibu pada daerah wajah ibu terlihat mata cekung dan mulut ibu

kering karena dehidrasi ringan yang dialami ibu yang dikarenakan muntah >10 klai/ hari dan

kurang nya intake cairan pada ibu.


Menurut Wiknjosastro dalam Rukiyah, Hyperemesis gravidarum tingkat I ditandai dengan

muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu

makan tidak ada, berat badan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium. Nadi

meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah

mengering dan mata cekung (Rukiyah, dkk, 2010;h.119).


2) Tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan didapatkan bahwa mata Ny. S cekung dan

lidah ibu kering.


3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus, hal ini disebabkan

karena Ny. S mengalami hiperemesis tingkat I dan ibu mengalami dehidrasi ringan yang di

sebabkan karena nafsu makan yang berkurang dan segala makanan dan minuman yang di makan

di muntahkan kembali sehingga mengakibatkan intake makanan berkurang hal ini menyebabkan

mata Ny. S cekung dan lidah ibu kering.

II. Interpretasi data untuk mengidentifikasi diagnosa/masalah

1. Tinjauan teori
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnose, masalah, dan kebutuhan

berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan (Damayanti,

2011;h.112).
Langkah awal dari perumusan diagnosa atau masalah adalah pengolahan data dan analisis

dengan menghubungkan data satu dengan data yang lainnya.


Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur

kehamilan 4 bulan, karna keluahn ini pekerjaan sehari-hari dapat terganggu dan keadaan bisa

menjadi buruk

(Prawirohardjo, 2005;h.275).

Kesepakatan batas muntah lebih dari 10 kali dan apabila keadaan umum ibu berpengaruh

maka disebut hiperemesis, menurut gejala dan tingkat pada kasus ini menbahas Hiperemesis

GravidarumTtinkat I:

Ciri-ciri Hiperemesis Tingkat I : Ringan

a. Mual muntah terus menyebabkan penderita lemah


b. Tidak mau makan
c. Berat badan turun
d. Rasa nyeri epigastrium
e. Nadi sekitar 100 kali/menit
f. Turgor kulit kurang
g. Lidah kering
h. Mata cekung (Nugraheny, 2010;h.58)

2. Tinjauan kasus
Dari hasil pengkajian data di temukan data fokus : Ny. S umur 33 tahun, ibu mengatakan

saat ini mengeluh mual muntah lebih dari 10 x dalam 24 jam, hingga menganggu aktivitas

sehari-hari ibu, ibu tubuh terasa lemas, kepala terasa pusing mata terlihat cekung serta lidah

kering.

3. Pembahasan
Ny S umur 33 tahun mengeluh mual muntah lebih dari 10 x dalam 24 jam, hingga

menganggu aktivitas sehari-hari ibu, ibu tubuh terasa lemas, kepala terasa pusing mata terlihat

cekung serta lidah kering. Berdasarkan data di atas maka penulis menegakkan diagnosa Ny. S

adalah: Ny. S umur 33 tahun G4P1A2 dengan hiperemesis Gravidarum tingkat I. Diagnosis

tersebut secara prinsip tidak bertentangan dengan teori, dan tidak ada kesenjangan.
III. Diagnosa potensial

1. Tinjauan teori
Pada langkah ketiga ini mengidentifikasi masalah potensial berdasarkan diagnosa atau

masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan

dilakukan pencegahan. (Suryani, 2008;h.99)


Pada tinjauan teori apabila Hyperemesis gravidarum tingkat 1 dengan salah satu tanda

adalah dehidrasi saat ini mata cekung, lidah ibu keringdan disertai ologuria karena dehidrasi

ringan apabila tidak segera ditangani akan mengakibat kan keadaaan ibu lebih parah dan

diagnosa potensial yang mungkin terjadi adalah akan menjadi Hyperemesis gravidarum tingkat

2.
2. Tinjauan kasus
Pada kasus Ny. S terdapat tanda-tanda hiperemesis gravidarum tingkat I yaitu dehidrasi

ringan seperti mata ibu cekung dan lidah kering, dan oliguria dan masalah akan segera ditangani

agar tidak terjadi hiperemesis gravidarum tingkat lanjut .


3. Pembahasan
Dalam kasus diatas tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus

karena Ny. S terdapat tanda-tanda Hiperemesis gravidarum tingkat I dan telihat tanda-tanda

dehidrasi ringan yaitu mata cekung,lidah kering disertai oliguria, Dehidrasi ringa yang

disebabkan oleh mual muntah yang dialaminya lebih dari 10 kali dalam sehari dan kurangnya

intake cairan pada Ny. S yang apabila tidak cepat ditangani memperburuk keadaan Ny. S, dari

HEG tingkat 1 menjadi HEG tingkat 2.

IV. Tindakan segera


1. Tinjauan teori
Dalam pelaksanaan terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi memerlukan

penanganan segera (emergensi) di mana bidan harus segera melakukan tindakan untuk

menyelamatkan pasien.
(Sulistyawati, 2009;h.182)
2. Tinjauan kasus
Ny. S mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I. Pada pemeriksaan keadaan ibu saat ini

masih dalam batas normal karna masih bisa ditangani.


3. Pembahasan
Dalam hal ini maka tindakan segera terhadap Ny.S tidak ada di karenakan masalah yang di

alami Ny.S tidak menunjukkan situasi kegawatdaruratan yang mampu membahayakan ibu dan

janin.

V. Perencanaan

1. Tinjauan teori
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah

diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yang sudah teridenfikiasi dari

kondisi klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi

untuk klien tersebut. Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap

hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua belah

pihak, yaitu bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan secara efektif. Semua keputusan yang telah

disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh.

2. Tinjauan kasus
a) Jelaskan kepada ibu keadaannya saat ini. Dalam prinsip pokok asuhan kehamilan di lakukan

bidan di antaranya bidan memberikan informasi, penjelasan, serta konseling yang cukup

mengenai kesehatannya, bidan memberikan asuhan yang menumbuhkan rasa aman dan nyaman,

serta bidan memberikan dukungan emosional, serta dalam memberikan asuhan bidan harus
menjaga privasi klien, menghormati praktik adat istiadat, kebudayaan, serta keyakinan/agama

yang ada di lingkungan setempat. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dengan

asuhan yang di berikan oleh bidan terhadap klien.


(Sulistyawati, 2009;h.182).
Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami. mual dan muntah yang di alami ibu dan

sehingga ibu mengalami penurunan nafsu makan sehingga menimbulkan rasa lemas dan pusing.

Hal yang di rasakan ibu saat ini dalam kehamilan di sebut dengan hiperemesis gravidarum yaitu

mual muntah yang terjadi pada 60-80% primi gravid dan 40-60% multi gravid. Pada umunya

wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah

yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Ny.S mengatakan mual muntah sehingga

mengalami pusing dan tubuh terasa lemah, sehingga dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara

kasus dan teori. ( Prawirohardjo, 2005;h.275) .


b) Beritahu ibu cara mengurangi mual dan muntah yang di alami yaitu dengan menganjurkan ibu

untuk mengkonsumsi teh hangat dan roti kering, serta menghindari makanan yang berlemak.

Penanganan hiperemesis gravidarum ini yaitu tentang cara mengurangi mual muntah yaitu

dengan menghindari makanan berlemak, minyak, pedas dan berbau terlalu menyengat serta

mengkonsumsi air putih hangat. kemudian ibu untuk tidak segera bangun dari tempat tidur

anjurkan ibu untuk Sminum teh hangat dan makanan roti kering atau makanan yang di sukai ibu

hal ini di lakukan untuk tetap memenuhi nutrisi ibu. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara

kasus dan teori.

c) Berikan terapi obat dan vitamin pada ibu untuk mengurangi rasa mual dan muntah. vitamin yang

di anjurkan adalah vitamin B1 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf, jantung,

otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel, dan B6 berfungsi untuk menurunkan

keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak

untuk pembentukan sel darah merah. Ny.S di berikan Tablet B6 untuk mengurangi mual yang di
alami, dalam hal ini ada kesenjangan antara kasus dan teori karena di lahan praktik tidak

diberikan B1 melainkan hanya B6 untuk mengurangi mual pada ibu. (Rukiyah, dkk, 2010;h.123).
d) Jelaskan pada ibu kembali menganai cara mengatur susunan menu yang dapat di lakukan ibu

meningkatkan nafsu makan ibu sehingga nutrisi ibu dan janin tetap terpenuhi yaitu dengan

memakan sedikit tapi sering sesuai dengan menu kesukaan ibu dengan menghindari makanan

yang berlemak dan merangsang mual dan muntah dengan mengkonsumsi roti kering atau bubur.

Menurut. Kebutuhan nutrisi yang harus di penuhi yaitu memberikan diit ke-III HEG yaitu makan

sesuai kesanggupan ibu dan minuman boleh di berikan bersama makanan yang cukup energy

seperti roti panggang, biscuit, krekers, buah segar, sari buah,minuman botol ringan, sirup, kaldu

tak berlemak, dan teh. (Rukiyah, 2010;h.124)


3. Pembahasan

Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena asuhan

yang diberikan pada Ny.S telah sesuai dengan tinjauan teori .

VI. Pelaksanaan

1. Tinjauan teori

Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien

atau anggota tim kesehatan yang lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia

tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Dalam situasi ketika bidan

berkonsultasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap

bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut.

2. Tinjauan kasus
a) Menjelaskan pada ibu tentang keluhan yang dirasakan ibu saat ini
Dalam prinsip pokok asuhan kehamilan di lakukan bidan di antaranya bidan memberikan

informasi, penjelasan, serta konseling yang cukup mengenai kesehatannya, bidan memberikan
asuhan yang menumbuhkan rasa aman dan nyaman, serta bidan memberikan dukungan

emosional, serta dalam memberikan asuhan bidan harus menjaga privasi klien, menghormati

praktik adat istiadat, kebudayaan, serta keyakinan/agama yang ada di lingkungan setempat
(Sulistyawati, 2009:h.3).
Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dengan asuhan yang di berikan oleh bidan

terhadap klien.
b) Menjelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami. mual dan muntah yang di alami ibu dan

sehingga ibu mengalami penurunan nafsu makan sehingga menimbulkan rasa lemas dan pusing.

Hal yang di rasakan ibu saat ini dalam kehamilan di sebut dengan hiperemesis gravidarum yaitu

mual muntah yang berlebih yang mengakibatkan penurunan keadaan umum ibu hal ini di

sebabkan karena terjadinya peningkatan hormon, dan sering terjadi pada ibu primigravida dan

hiperemesis ini terjadi pada usia awal kehamilan <20 minggu. Ny.S mengatakan mual muntah

sehingga mengalami pusing dan tubuh terasa lemah, sehingga dalam hal ini tidak ada

kesenjangan antara kasus dan teori.


c) Memberitahu ibu cara mengurangi mual dan muntah yang di alami yaitu dengan menganjurkan

ibu untuk mengkonsumsi teh hangat dan roti kering, serta menghindari makanan yang berlemak.

Penanganan hiperemesis gravidarum ini yaitu tentang cara mengurangi mual muntah yaitu

dengan menghindari makanan berlemak, minyak, pedas dan berbau terlalu menyengat serta

mengkonsumsi air putih hangat. kemudian ibu untuk tidak segera bangun dari tempat tidur

anjurkan ibu untuk minum teh hangat dan makanan roti kering atau makanan yang di sukai ibu

hal ini di lakukan untuk tetap memenuhi nutrisi ibu. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara

kasus dan teori.


d) Memberikan terapi obat dan vitamin pada ibu untuk mengurangi rasa mual dan muntah. vitamin

yang di anjurkan adalah vitamin B1 dan B6 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan

syaraf, jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel, dan B6 berfungsi untuk

menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam
sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah. Ny.S di berikan vitamin dan terapi Tablet FE

untuk penambah darah dan B6 untuk mengurangi mual yang di alami, dalam hal ini ada

kesenjangan antara kasus dan teori menurut lahan pemberian B1 belum perlu diberikan.
Jelaskan pada ibu kembali menganai cara mengatur susunan menu yang dapat di lakukan

ibu meningkatkan nafsu makan ibu sehingga nutrisi ibu dan janin tetap terpenuhi yaitu dengan

memakan sedikit tapi sering sesuai dengan menu kesukaan ibu dengan menghindari makanan

yang berlemak dan merangsang mual dan muntah dengan mengkonsumsi roti kering atau bubur.

Kebutuhan nutrisi yang harus di penuhi yaitu memberikan diit ke-III HEG yaitu makan sesuai

kesanggupan ibu dan minuman boleh di berikan bersama makanan yang cukup energi (Rukiyah,

2010;h.119)
3. Pembahasan
Setelah dilakukan asuhan pada Ny. S tidak terdapat kesenjangan karena asuhan yang

dilakukan sesuai dengan tinjauan teori.

VII. Evaluasi

1. Tinjauan Teori

Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak

efektif untuk mengetahi factor mana yang menguntungkan atau menghambat keberhasilan yang

diberikan. Pada langkah terakhir dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan

(Soepardan, 2008;h.36).

2. Tinjauan kasus

Ny. S telah diberikan asuhan kebidanan sesuai kebutuhan. Ny. S selama 3 hari,. Asuhan

kebidanan yang diberikan pada Ny. S dengan kasus hiperemesis gravidarum dapat dikatakan

berhasil karena dari hari pertama Ny. S sampai hari ketiga dengan keadaan umum baik,

kesadaran compos mentis, mual-muntah berkurang, TTV: TD 110/70 mmHg, Nadi 102 x/mnt,
respirasi 22 x/mnt dan suhu 36,50C. Dengan diberikannya asuhan secara menyeluruh,

permasalahan pada Ny. S dapat teratasi, keadaan Ny. S baik, dan Ny. S pun dapat menjalani

kehamilannya. Ny. S dianjurkan untuk selalu menjaga kehamilannya dengan memperhatikan

pola makan, istirahat, aktivitas yang tidak terlaluberat, dan melakukan pemeriksaan kehamilan

secara teratur atau apabila ada keluhan maka segera datang ke tenaga kesehatan.

3. Pembahasan

Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjausn teori tidak terdapat kesenjangan karena setelah

dilakukan pengkajian terhadan Ny. S dengan hiperemesis gravidarum tingkat I, ibu sudah mulai

merasakan keluhan sedikit berkurang seperti muntah ibu berkurang . Dan keadaan ibu sedikit

membaik ibu dapat beraktivitas seperti biasanya .

BAB V

PENUTUP

Dari hasil yang penulis uraikan dalam laporan study kasus kebidanan terhadap Ny. S

dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Lisnani Ali,S.ST, Teluk betung Barat Bandar

lampung, maka penulis menentukan kesimpulan dan saran yang bermanfaat.

I. Kesimpulan

A. Mahasiswa telah melakukan pengumpulan data dasar terhadap Ny. S dengan hiperemesis

gravidarum tingkat I. Pengkajian data yang telah di lakukan terhadap Ny.S menggunakan tekhnik
asuhan kebidanan manajemen langkah varney berdasarkan format asuhan kebidanan dan secara

teori pengkajian data, terdiri atas data subyektif dan obyektif.


Data subyektif : data yang di peroleh dengan melakukan wawancara untuk menggali atau

mengetahui keadaan kehamilan, riwayat penyakit dan apa yang di rasakan ibu.
Data obyektif : setelah data subyektif kita dapatkan, untuk melengkapi data dalam menegakkan

diagnosis, maka kita harus melakukan pengkajian data obyektif melalui pemeriksaan inspeksi,

palpasi, perusi dan auskultasi di lakukan secara berurutan. Data sudah di kaji dapat di lihat pada

Bab III

B. Mahasiswa telah melakukan interpretasi data dasar berdasarkan hasil pengumpulan data

terhadap Ny. S, yaitu Ny. S umur 33 tahun G4P1A2 usia kehamilan 7 minggu 6 hari dengan

hiperemesis gravidarum tingkat I


C. Mahasiswa telah mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang akan mungkin terjadi

terhadap Ny. S. Antisipasi masalah dalam asuhan kebidanan terhadap Ny. S adalah terjadi

hiperemesis tingkat II.


D. Mahasiswa telah mengidentifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera. Dalam

kasus ini di mana Ny. S mengalami hiperemessi gravidarum tingkat I yang tidak menimbulkan

kegawat daruratan terhadap dirinya saat melakukan pemeriksaan maka tindakan segera adalah

pemberian tablet B6 untuk mengurangi mual dan muntah yang Ny.S rasakan .
E. Mahasisswa telah merencanakan asuhan yang sesuai kebutuhan Ny.S. rencana di berikan kepada

Ny. S sesuai dengan kebutuhan yang dapat di berikan berdasarkan diagnosa. Dalam hal ini

perencanaan yang di buat berdasarkan pertimbangan yang tepat meliputi, pengetahuan, teori

yang up to date, perawatan berdasarkan (evidence base care) serta di validasikan dengan asumsi

mengenai apa yang di inginkan dan tidak di inginkan oleh pasien.


F. Mahasiswa telah melaksanakan perencanaan segera menyeluruh terhadap Ny.S . Pelaksanaan di

lakukan berdasarkan hasil perencanaan yang telah di tuliskan sebelumnya di mana perencanaan

di laksanakan secara efisien dan aman berdasarkan kebutuhan klien.


G. Mahasiswa telah melakukan evaluasi berdasarkan hasil asuhan yang telah di lakukan terhadap

Ny. S. Evaluasi hasil asuhan di lakukan setiap setelah pemberian asuhan kebidanan dan di tindak

lajuti hari berikutnya dalam bentuk matrik.

II. Saran
Saran yang penulis berikan di tujukan kepada :
A. Bagi institusi
Sebagai bahan acuan / pedoman bagi intitusi jurusan kebidanan untuk penulisan karya tulis

ilmiah selanjutnya
B. Bagi Lahan Praktik
Sebagai masukan dan gambaran informasi untuk meningkatkan manajemen asuhan kebidanan

pada ibu hamil agar menurunkan angka kemtian pada ibu bersalin akibat komplikasi yang tidak

tertangani pada ibu hamil .


C. Bagi penulis
Merupakan pengalaman yang dapat menambah kemampuan dalam penerapan manajemen asuhan

kebidanan khususnya hiperemesis gravidarum tingkat 1


D. Bagi Masyarakat
Agar dapat memberikan informasi pada ibu hamil agar dapat sedini mungkin mengetahui

penyakit yang akan menghambat kehamilannya. Dan agar ibu tidak segan untuk memeriksakan

kehamilannya bila ada keluhan ketenaga kesehatan terdekat agar mendapat penanganan lebih

lanjut .

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Ida Manuaba, dkk. 2010. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC
Fadlun & Achmad Feryanto. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika
Jannah, Nurul. 2012.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.
Maryunani, Anik. 2010. Biologi reproduksi dalam kebidanan. Jakarta: Trans info media
Nugraeheny, Esti. 2009. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta: Pustaka Rihana
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirihardjo
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Profil DinKes Provinsi Lampung Tahun 2012
Rukiyah, Ai Yeyeh & Lia Yulianti..2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta: Trans
Info Media
Runiari, Nengah. 2010. Asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis Sgravidarum :
penerapan konsep dan teori keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Soepardan, Soeryani. 2008. Konsep kebidanan. Jakarta : EGC
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
.........http//ASEAN,2012 midwifecare.wordpress.com/2012/02/21/sekitar-20-30/
.........http://ayicuwie.wordpress.com/2012/03/20/wanita-usia-subur-wus/
.........http://dezyrealtrav.blogspot.com/2011/12/hiperemesis-gravidarum.html
.........http://lampost.co/berita/kematian-ibu-dan-anak-jadi-kendala-di-lampung
.........http://www.Kesehatan.depkes.go.id/archives/171 Diambil pada tanggal 15 juni 2012, pukul 10.25
WIB

Diposkan oleh Rafita Sari Segagau di 06.06


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog
Juli (1)

Mengenai Saya

Rafita Sari Segagau


bandar lampung, lampung,
Indonesia
Lihat profil lengkapku
Template Picture Window. Gambar template oleh MadCircles. Diberdayakan oleh Blogger.