Anda di halaman 1dari 6

Nama

: Asri Ambarwati (141424006)

Kelas

: 3A TKPB

PEMBAHASAN Lumpur aktif merupakan proses pengolahan air limbah secara biologis yang melibatkan reaksi reaksi metabolik mikroba. Prinsip pengolahan limbah secara biologis ini adalah dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme yang dapat merombak limbah organik dan kompleks menjadi senyawa organik sederhana. Senyawa organik yang lebih sederhana dapat dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO 2 ) dan air (H 2 O). Pada praktikum, dilakukan pemeriksaan pH, temperatur, DO pada keadaan awal limbah dalam bak lmupur aktif. Nilai pH yang didapat sebesar 6,9 artinya pH termasuk netral dan termasuk pada kondisi optimum sesuai referensi yaitu pH 6,5-8,5 sehingga cukup mendukung proses pertumbuhan mikroorganisme untuk mendegradasi limbah. Sedangkan temperatur awal limbah yaitu 23,6 o C, termasuk pada daerah suhu mesofilik, dimana kecepatan reaksi biologi mendekati harga maksimal pada suhu 31°C. Pada proses penguraian bahan organik oleh lumpur aktif diperlukan suplai oksigen yang memadai. Konsentrasi oksigen tidak boleh terlalu tinggi ataupun rendah, berkisar antara 1-2 mg/L (Suryani, 2010). Menurut Woodard (2001), DO optimum pengolahan lumpur aktif yaitu 1,5 ppm sedangkan pada praktikum didapat nilai oksigen terlarut (DO) awal pada limbah yaitu 7,5 mg/L, konsentrasi oksigen yang terlalu tinggi ini dapat menyebabkan flok- flok sulit diendapkan, kondisi seperti ini menimbulkan adanya lumpur mumbul (rising sludge) yang disebut carry over. TSS didapat melalui gravimetri (dipanaskan pada temperatur 105 o C selama 1 jam). Nilai TSS yang didapat dari praktikum yaitu 23.017,5 mg/L, nilai ini cukup besar. Secara visual, pengamatan pada bak lumpur aktif menunjukkan banyak padatan halus yang mengapung. Bahan padat tersuspensi adalah bahan padat yang dihilangkan pada penyaringan melalui media standar halus dengan diameter 1 mikron. Bahan padat tersuspensi dikelompokkan lagi dalam bahan padat yang tetap (fixed solids) dan yang menguap (volatile solids). Bahan padat yang menguap merupakan bahan yang bersifat organik yang diharapkan dapat dihilangkan melalui penguraian secara biologis (biological degradation) atau pembakaran (incineration). Fixed solids merupakan bahan padat yang bersifat tetap. Cawan yang telah terdapat filter dan endapan yang telah dipanaskan pada temperatur 105 o C tadi dilanjutkan pemanasannya selama dua jam pada temperatur 600 o C, maka didapat nilai VSS. Nilai MLVSS pengolahan lumpur aktif yang baik berkisar antara 1500-4500 mg/L.

Hasil praktikum didapat nilai VSS yang merupakan nilai MLVSS sebesar 200 mg/L. Nilai MLVSS merupakan suatu pendekatan untuk menyatakan jumlah populasi bakteri. Biomassa yang dinyatakan dalam MLVSS adalah mikroorganisme yang memanfaatkan senyawa- senyawa organik bagi pertumbuhan. Nilai MLVSS yang dibawah kondisi optimum ini menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme karena mikroorganisme yang diperlukan untuk mendegradasi substrat atau senyawa organik jumlahnya tidak mencukupi. Mikroorganisme diperlukan untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalam air limbah menjadi produk akhir yang sederhana dan biomassa tambahan. Oleh karena itu, diperlukan jumlah mikroorganisme yang cukup untuk menguraikan bahan-bahan organik tersebut. Kebutuhan pertumbuhan mikroorganisme memerlukan substrat sebagai penyedia nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel baru dalam pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Oleh karena itu ditambahkan substrat penyedia nutrisi yang terdiri dari glukosa, KNO 3 sebagai sumber Nitrogen dan KH 2 PO 4 sebagai sumber Posfat (dengan perandingan BOD:N:P = 100:5:1). Salah satu kegunaan dari aerasi pada pengolahan air limbah adalah memberikan suplai oksigen pada proses pengolahan biologi secara aerobik. Adanya proses penambahan kandungan oksigen pada proses aerasi maka nilai konsentrasi COD akan mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena pada proses aerasi adanya suplai oksigen yang dapat digunakan untuk melakukan oksidasi proses penguraian. Sebagai tolak ukur evaluasi percobaan adalah presentase penurunan COD. Pada penentuan nilai COD awal dari sampel dengan mencampurkan 2,5 mL sampel yang telah diencerkan 20 kali, 3,5 mL pereaksi kalium bikromat, dan 1,5 mL pereaksi asam sulfat pekat. K 2 Cr 2 O 7 berfungsi sebagai oksidator, sedangkan pereaksi asam sulfat pekat sebagai pemberi suasana asam. Reaksi berikut ini merupakan reaksi oksidasi terhadap bahan buangan organik:

C a H b O c + Cr 2 O 7 2- + H + → CO 2 + H 2 O + Cr 3+ Reaksi tersebut perlu pemanasan, oleh karena itu larutan didigest pada suhu 150 o C selama 90 menit. K 2 Cr 2 O 7 yang tersisa di dalam larutan tersebut digunakan untuk menentukan berapa oksigen yang telah terpakai. Sisa K 2 Cr 2 O 7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro ammonium sulfat (FAS), dimana reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut:

6Fe 2+ + Cr 2 O 7 2- + 14H + → 6Fe 3+ + 2Cr 3+ + 7H 2 O Indikator feroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu disaat warna hijau larutan berubah menjadi coklat-merah. Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan bahwa hampir semua bahan organik dapat dioksidasi menjadi karbondiokasida dan air dengan

bantuan oksidator kuat (K 2 Cr 2 O 7 ) dalam suasana asam. Hasil analisis parameter COD pada

perlakuan lumpur aktif dengan aerasi selama lima hari menunjukan penurunan nilai COD dari

selang hari ke-1 sebesar 4.102,4 mg O 2 /L hingga hari ke-5 dengan nilai COD akhir sebesar

2.564 mg O 2 /L dengan efisiensi sebesar 37,5 %. Hal tersebut dikarenakan terjadi proses

degradasi pada air limbah. Penurunan kandungan bahan organik dalam sampel limbah belum

optimum, dan menghasilkan kandungan organik yang masih tinggi dimana nilai ini masih

lebih besar bila dibandingkan dengan baku mutu air kelas IV batas nilai COD adalah 100 mg

O 2 /L (Air kelas empat, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi,

pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan

kegunaan tersebut, hal ini terdapat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor

82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air).

Revisi Lumpur Aktif

Nama

:

1.

Anggun Islamagesvi (141424004)

2.

Annisa Aulia (141424005)

3.

Asri Ambarwati (141424006)

4.

Asri Nurdiana (141424007)

Kelompok

: 2

Kelas

: 3A TKPB

Data Pengamatan dan Perhitungan

a. Pengukuran Keadaan Awal

Tabel 1. Keadaan awal limbah

Parameter

Nilai

pH

6,9

Temperatur

23,6 o C

DO

7,5 mg/L

b. Penentuan Konsentrasi Nutrisi Bagi Mikroorganisme

Diketahui :

BOD

= 500 mg/L

BOD : N : P

= 100 : 5 : 1

Volume tangki lumpur = 10 L

Reaksi :

→ 6 2 + 6 2

Berat glukosa yang ditambahkan :

6 12 6

+

6 2

MR

C 6 H 12 O 6

= 180 g/mol

MR

O 2

= 322 g/mol

Berat glukosa yang ditambahkan =

Berat glukosa yang ditambahkan =

1

6

1

6

x V tangki x BOD x

x 10 L x 500 mg⁄L

Mr C 6 H 12 O 6

Mr O 2

180 gmol

x

32 g⁄mol

Berat glukosa yang ditambahkan = 4.687,5 mg

= ,

Berat KNO 3 sebagai N yang ditambahkan :

Mr KNO 3

= 101 g/mol

Ar N

= 14 g/mol

Berat KNO 3 yang ditambahkan =

Berat KNO 3 yang ditambahkan =

5

100

5

100

× V tangki × BOD × Mr Ar KNO N 3

× 10 L × 500 mg⁄L × 101 14 g⁄mol gmol

Berat KNO 3 yang ditambahkan = 6.312,5 mg

= ,

Berat KH 2 PO 4 sebagai P yang ditambahkan :

Mr KH 2 PO 4

Ar P

Berat

KH 2 PO 4

Berat

KH 2 PO 4

Berat

KH 2 PO 4

= 136 g/mol

= 31 g/mol

yang ditambahkan =

yang ditambahkan =

1

100

1

100

× V tangki × BOD × Mr KH Ar 2 P PO 4

× 10 L × 500 mg⁄L × 136 31 g⁄mol gmol

yang ditambahkan = 219,35 mg

= ,

 

Penimbangan ke-

1

2

Rata-Rata

(gram)

(gram)

(gram)

Cawan pijar

a 34,2466

34,2464

34,2465

Kertas saring

b 0,9048

0,9046

0,9047

Cawan pijar + kertas saring + endapan setelah dipanaskan T =105 o C

c 35,1674

35,1670

35,1672

Cawan pijar + kertas saring + endapan pada furnace setelah dipanaskan T = 600

d 34,2546

34,2543

34,2545

o

C

TSS =

(c − (a + b))

mL sampel

x 10 6

TSS = (35,1674 gram − (34,2465 gram + 0,9047) 40 mL

= /

FSS =

(d − a) mL sampel x10 6

FSS = (34,2545 gram − 34,2465 gram) 40 mL

= /

VSS = TSS − VSS

x 10 6

VSS = 400 mg − 200 mg

L

L

= /

x 10 6

c. Perhitungan Nilai COD (Chemical Oxygen Demand)

c.1 Standarisasi K2Cr2O7

N K 2 Cr 2 O 7

: 0,2500 N

Volume K 2 Cr 2 O 7

: 5,0 mL

Volume FAS

: 3,9 mL

N FAS x V FAS = N K 2Cr2O7 x V K 2Cr2O7

N

N

FAS=

FAS=

V K 2 Cr 2 O 7 x N K 2 Cr 2 O 7

V FAS

5,0 mL x 0,2500 N

3,9 mL

= ,

Tabel 2. Data titrasi

 

Titrasi ke-

Volume FAS (mL)

Sampel sebelum penambahan nutrisi

1

0,1

2

0,1

 

Rata-rata

0,1

Blanko sebelum penambahan nutrisi

1

0.3

2

0.3

 

Rata-rata

0.3

Sampel setelah penambahan nutrisi (5 hari)

1

0,15

2

0,20

 

Rata-rata

0,175

Blanko setelah penambahan nutrisi (5 hari)

1

0.3

2

0.3

 

Rata-rata

0.3

COD (mg/L)

COD (mg/L)

= (volume blanko−volume sampel)x NFAS x1000 xpengenceran x BE oksigen

mL sampel

= (0.3 mL−0,1 mL)x 0,3205 N x 1000 x 20x 8 2,5 mL

COD (mg/L) = 4.102,4 mg O2/L (sebelum proses lumpur aktif)

COD (mg/L)

COD (mg/L)

= (volume blanko−volume sampel)x NFAS x 1000 x pengenceran x BE oksigen

mL sampel

= (0.3 mL−0,175 mL)x 0,3205 N x 1000 x 20x 8 2,5 mL

COD (mg/L) = 2.564 mg O2/L (setelah proses lumpur aktif/degradasi 5 hari)

d. Efisiensi pengolahan

Kandungan COD awal = 4.102,4 mg/L

Kandungan COD akhir = 2.564 mg O 2 /L

Efisiensi pengolahan = kandungan COD awal−kandungan COD akhir kandungan COD awal

X 100%

Efisiensi pengolahan =

4.102,4 mg O 2 L 2.564 mg O 2 L

4.102,4 mg O 2 ⁄L

× 100%

Efisiensi pengolahan

=

37,5 %