Anda di halaman 1dari 16
  • 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Kebutuhan air bersih baik itu untuk keperluan industri ataupun rumah tangga, semakin lama semakin meningkat. Sebelum digunakan, air harus memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk masing-masing penggunaannya. Contohnya pada sebuah PLTN, sebagai pendingin reaktor dan umpan pembangkit uap, air harus diolah sehingga kandungan ion-ion yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan. Salah satu sistem pengolahan tersebut adalah menggunakan proses demineralisasi. Metode demineralisasi air dapat dilakukan dengan menggunakan membran secara reverse osmosis (RO), keuntungan teknologi ini diantaranya yaitu tergolong mudah untuk diperasikan, mampu memisahkan komponen-komponen pada temperatur kamar serta biaya instalasi rendah.

  • 1.2 Tujuan

    • 1. Membuat kurva/grafik hubungan antara kadar zat terlarut (solute) di aliran permeat dan konsentrat terhadap waktu.

    • 2. Menghitung persen zat terlarut yang ditolak (% Reject).

1

| L

a p

o r

a n

P

r a

k t

i k u m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

  • 2.1 Teknologi Membran

BAB II DASAR TEORI

Membran adalah selaput semi permeabel yang melewatkan komponen tertentu yang berukuran lebih kecil dan menahan komponen lain yang berukuran lebih besar melalui pori-pori.

Larutan yang mengandung komponen yang tertahan disebut konsentrat dan larutan yang mengalir disebut permeat (Rahmatia, 2009).

Teknologi pemisahan membran berdasarkan ukuran pori membran dan ukuran dari zat yang akan dipisahkan dapat dibagi menjadi mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi dan reverse osmosis (Wenten, 2005).

Skema pemisahan membran filtrasi dapat ditunjukkan pada Gambar 1.

2.1 Teknologi Membran BAB II DASAR TEORI Membran adalah selaput semi permeabel yang melewatkan komponen tertentuhttp://xflow.pentair.com/en/technologies/membrane-technology-in-general Parameter utama yang digunakan dalam penilaian kinerja membran filtrasi adalah fluks dan rejeksi (Osada & Nagawa, 1992; Rahmatia, 2009). Fluks adalah jumlah volume permeat yang diperoleh pada operasi membran per satuan waktu per luas permukaan membran. Sedangkan rejeksi merupakan kemampuan membran untuk memisahkan komponen tertentu dari aliran umpan (Wenten, 1999). 2 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e n g o l a h a n L i m b a h I n d u s t r i “ R e v e r s e O s m o s i s ” " id="pdf-obj-1-16" src="pdf-obj-1-16.jpg">

Gambar 1. Skema proses pemisahan membran Sumber: http://xflow.pentair.com/en/technologies/membrane-technology-in-general

Parameter utama yang digunakan dalam penilaian kinerja membran filtrasi adalah fluks dan rejeksi (Osada & Nagawa, 1992; Rahmatia, 2009). Fluks adalah jumlah volume permeat yang diperoleh pada operasi membran per satuan waktu per luas permukaan membran. Sedangkan rejeksi merupakan kemampuan membran untuk memisahkan komponen tertentu dari aliran umpan (Wenten, 1999).

2 | L

a p

o r

a n

P

r a

k t

i k u m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

Presentasi rejeksi dinyatakan sebagai berikut:

(

)

Keterangan :

R

C

umpan

C

permeat

= presentasi rejeksi = konsentrasi partikel dalam umpan = konsentrasi partikel dalam permeat

Nilai rejeksi bervariasi antara 0 sampai 100 persen. Nilai rejeksi 100 persen berarti pemisahan partikel sempurna, dalam hal ini membran bersifat semipermeabel ideal dan 0 persen berarti seluruh partikel larutan dapat melewati membran secara bebas (bersama-sama).

  • 2.2 Prinsip Dasar Reverse osmosis

Proses osmosis yaitu apabila dua buah larutan dengan konsentrasi rendah dan tinggi dipisahkan oleh membran semi permeabel, maka larutan dengan konsentrasi yang rendah akan terdifusi melalui membran semi permeabel tersebut dan masuk ke dalam larutan yang pekat sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi. Sebagai contoh, jika air tawar dan air payau dipisahkan dengan membran semi permeabel, maka air tawar akan terdifusi ke dalam air payau melalui membran semi permeabel tersebut sampai terjadi kesetimbangan. Daya penggerak yang menyebabkan terjadinya aliran/difusi tersebut dinamakan tekanan osmosis. Besarnya tekanan osmosis tersebut dipengaruhi oleh karakteristik/ jenis membran, temperatur air, dan konsentarsi garam serta senyawa lain yang terlarut dalam air (Widayat dan Satmoko, 2002).

Sedangkan proses reverse osmosis yaitu apabila pada suatu sistem osmosis diberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmosisnya, maka aliran air tawar akan berbalik yakni dari air payau ke air tawar melalui membran semi permeabel, sedangkan garamnya tetap tertinggal di dalam larutan garammya sehingga menjadi lebih pekat. Proses tersebut dikenal dengan proses reverse osmosis (Widayat dan Satmoko, 2002).

Di dalam membran reverse osmosis terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul, dimana partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, seperti molekul garam dan lainnya, akan terpisah dan akan ikut ke dalam air buangan. Oleh karena itu untuk menjaga membran agar tidak terjadi sumbatan, maka air yang akan masuk ke dalam membran reverse

3 | L a

p

o r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

osmosis harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi dan mangan harus < 0,1 mg/l, pH netral dan harus selalu dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat dan lainnya (Widayat dan Satmoko, 2002).

Prinsip dasar proses osmosis dan proses reverse osmosis tersebut ditunjukkan seperti pada Gambar 2.2.

osmosis harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi dan mangan harus < 0,1

Gambar 2. Proses osmosis dan reverse osmosis

Sumber: Widayat dan Satmoko, 2002

Tekanan operasi pada sistem osmosis balik adalah sebesar 5,3 24,6 kg/cm 2 (75 350 psi). Menurut jenis tekanan operasinya sistem osmosis balik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu unit tekanan tinggi dan unit tekanan rendah. Sistem osmosis balik yang bekerja pada tekanan rata rata sebesar 17,6 kg/cm 2 (250 psi) dapat diklasifikasikan sebagai unit tekanan rendah. Unit tekanan tinggi mempunyai tekanan ratarata di atas 24,6 kg/cm 2 (Said, 2008).

4 | L a

p o

r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

  • 3.1 Alat Dan Bahan

3.1.1

Alat

Alat ukur TDS dan DHL

3.1.2

Bahan

Seperangkat alat reverse osmosis ( 3

Air sumur

tabung filter, berisi media filter)

Stopwatch

Gelas kimia 600 mL

Gelas kimia 100 mL

Gelas ukur 100 mL

  • 3.2 Langkah Kerja

Semua valve di aliran influen dibuka

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

Alat reverse osmosis dinyalakan

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

TDS dan DHL di aliran umpan diukur

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

Laju alir campuran (permeat dan konsentrat) diukur

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

TDS dan DHL di aliran permeat dan konsentrat diukur pada periode tertentu (selang 10 menit)

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

Hasil pengukuran di aliran permeat ditampung dan dimasukkan ke bak penampung, aliran konsentrat dibuang ke saluran pembuangan

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

Langkah diulang untuk laju alir selanjutnya

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

Tutup seluruh aliran, alat RO dimatikan

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat Alat ukur TDS dan DHL 3.1.2

Peralatan dirapikan

5 | L a

p

o r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

BAB IV DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

  • 4.1 Data Pengamatan

    • 1. Umpan

Laju alir

= 854 mL/menit

Konsentrasi

TDS

= 0,235 mg/L

DHL

= 0,322 mS/cm

  • 2. Permeat Volume Permeat (P 7 psi ) Volume Permeat (P 6 psi )

 

= 281

mL/menit

 
 

Tabel 1. Data pengamatan

 

= 250

mL/menit

Tekanan

 

Laju Alir

 

t

 

Permeat

   

Konsentrat

 

(psi)

(mL/detik)

(menit)

 

TDS

   

DHL

   

TDS (mg/L)

DHL

   

(mg/L)

 

(mS/cm)

(mS/cm)

       

10

   

0

 

0.0224

     
  • 0.372 0.469

 

0.7

 

13

   

20

   

0

 

0.0184

     
  • 0.374 0.432

     

30

   

0

 

0.0206

     
  • 0.356 0.471

 

40

   

0

 

0.0188

   

0.33

0.44

       

10

   

0

 

0.0188

     
  • 0.319 0.482

 

0.6

 

10.5

   

20

   

0

 

0.01777

     
  • 0.316 0.437

       

30

   

0

 

0.0172

     
  • 0.327 0.457

   

40

   

0

 

0.01756

     
  • 0.329 0.474

 

TDS

Influen

     

TDS

Permeat

 

= C umpan = C permeat

 

= 0,235 mg/L = 0 mg/

a p

o r

a n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

  • 4.2 Pengolahan Data Penentuan %Reject

6 | L

%Reject = %Reject = 100 % x 100 % 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0
%Reject =
%Reject = 100 %
x 100 %
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
DHL (mS/cm)
  • Permeat pada laju alir

    • 13 mL/detik

  • Konsentrat pada laju alir 13 mL/detik

  • Permeat pada laju alir

    • 10.5 mL/detik

  • Konsentrat pada laju alir 10.5 mL/detik

0

10

20

30

40

50

 

t (menit)

Gambar 3. Grafik nilai DHL (mS/cm) terhadap waktu (menit)

TDS (mg/L) 0.4 0.3 0.1 0 0.35 0.25 0.05 0.2 0.15 0 10 20 30 40
TDS (mg/L)
0.4
0.3
0.1
0
0.35
0.25
0.05
0.2
0.15
0
10
20
30
40
50
t (menit)
  • Permeat pada laju alir

    • 13 mL/detik

  • Konsentrat pada laju alir 13 mL/detik

  • Permeat pada laju alir

    • 10.5 mL/detik

  • Konsentrat pada laju alir 10.5 mL/detik

Gambar 4. Grafik nilai TDS (mg/L) terhadap waktu (menit)

7 | L

a p

o r

a n

P

r a

k t

i k u m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

BAB V PEMBAHASAN

  • 5.1 Pembahasan oleh Anggun Islamagesvi (141424004)

Praktikum “Reverse Osmosis” yang telah dilakukan praktikan bertujuan untuk mengerti proses pemisahan kation dalam air baku (air sumur) dengan sistem reverse osmosis, dengan parameter nilai TDS dan DHL dari aliran konsentrat dan permeat, sehingga data yang didaptkan digunakan untuk menentukan keberhasilan proses.

Bahan baku yang digunakan pada praktikum ini adalah air keran (ledeng) yang akan dihilangkan zat-zat terlarut yang terkandung di dalamnya menggunakan alat reverse osmosis. Prinsip kerja dari alat ini adalah perpindahan massa larutan melalui membran dengan driving force berupa perbedaan tekanan. Skema alat RO yang praktikan gunakan seperti gambar berikut :

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pembahasan oleh Anggun Islamagesvi (141424004) Praktikum “Reverse Osmosis” yang telah dilakukan praktikan

Gambar 1. Skema Alat RO 1) Filter Sedimen 5 Mikron. Filter dengan ukuran ini efektif untuk menyingkirkan kotoran, karat dan partikel pasir, yang mempengaruhi rasa, bau dan warna air.

8 | L a

p

o r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

2) Filter Sedimen 1 Mikron. Penggunaan filter guna melindungi membran Reverse Osmosis dan secara efektif mening-katkan kemampuannya dalam menyingkirkan/ menolak 95 % TDS (Total Disolve Solids). 3) Filter Granular/Block Activated Carbon. Filter ini mampu untuk menyingkirkan 99% chlorine dan bahan kimia yang bersifat organik. Juga berfungsi baik dalam mengurangi rasa, bau dan warna yang mengganggu. Menyingkirkan fungisida, pestisida, in-sektisida, dan herbisida. 4) Membran Reverse Osmosis. Berupa membran Thin Film Composite (TFC), membran berkualitas tinggi yang mampu mengalirkan 50 galon air minum berkualitas per hari. Membran ini mampu menyingkirkan kontaminan berbahaya seperti lead, cooper, barium, chromium, mercury, sodium, cadnium, fluoride, nitrite, nitrate, dan selenium. Menyingkirkan bakteria, E.Coli, giardia, cryptosporodium, dan lain-lain. 5) Post Carbon Filter. Filter ini membuang semua rasa dan bau yang tidak diinginkan dan meningkatkan kualitas air minum yang dihasilkan

Pada proses pemisahan air yang mengandung ion-ion terlarut akan mengalir ke saluran keluaran dan disebut konsentrat, sedangakan air yang sudah berhasil terfilter akan mengalir ke saluran permeat. Air permeat ini ini TDS dan DHL akan lebih rendah dibandingan air di konsentrat karena padatan terlarut yang ada dalam air sudah terpisah dan nilai TDS akan berbanding lurus dengan nilai DHL.

Percobaan ini dilakukan dengan variasi tekanan operasi yaitu 0.6 MPa (6 bar) dengan laju alir 10,5 ml/det dan 0,7 Mpa (7 bar) dengan laju alir 13 ml/det, dengan pengcekan nilai TDS dan DHL pada aliran permeat dan konsentrat setiap 10 menit sekali selama 40 menit.

Berdasarkan Grafik 4.2.1 dan Grafik 4.2.2 nilai DHL dan TDS konsentrat pada laju alir 10,5 ml/det pada titik 1 dan 2 nilai DHL dan TDS memiliki selisih yang tidak berbeda jauh namun pada titik 3 dan 4 menurun seiring dengan penambahan waktu, sedangkan untuk laju alir 13 ml/det meningkat pada titik 3 dan 4. Hal ini dapat di pengaruhi oleh

9 | L

a p

o r

a n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

kontaminasi udara maupun ketidak bersihan alat pengukuran dan wadah yang digunakan untuk menampung air yang diamati nilai TDS dan DHL nya. Untuk nilai TDS pada aliran permeat laju alir 13 ml/det dan 10,5 ml/det menghasilkan nilai 0 dimana sebelum nya air umpan mengandung nilai TDS 0,235 mg/L, dan pada umpan nilai DHL yang sebesar 0,332 mg/L dapat diturunkan pada aliran permeat laju alir

13 ml/det menjadi 0.0200, dan pada aliran permeat laju alir10,5 l/det nilai DHL menjadi sebesar

0.018. Serta nilai %reject mecapai 100 % dimana hal ini membuktikan pemisahan yang dilakukan oleh alat RO sangat baik.

Pada aliran konsentrat, nilai TDS dan DHL yang terukur lebih besar dari nilai TDS dan DHL awal. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa ion-ion atau zat terlarut pada air akan tertahan oleh membran lalu akan dikeluarkan pada aliran konsentrat sehingga pada aliran konsentrat, konsentrasi zat-zat terlarut akan lebih tinggi dari konsentrasi awal. Pada aliran konsentrat, air mengalami pemekatan konsentrasi zat terlarut sehingga nilai konsentrasinya lebih tinggi dari onsentrasi awal sebelum dilakukan pengolahan menggunakan metode reverse osmosis

10 | L a p

o r

a n

P

r a

k t

i k u m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

5.2

Pembahasan oleh Annisa Aulia (141424005)

Percobaan reverse osmosis yang kami lakukan dalam praktikum ini sebenarnya untuk mengetahui kondisi alat Reverse osmosis yang ada apakah masih mampu bekerja dengan baik dalam memfilter air umpan (influen) menjadi air yang lebih murni dengan memperhatikan parameter-parameter yang dapat mempengaruhi hasil kemurnian air keluaran (Permeat). Reverse osmosis inibertujuanunukmeningkatkan kualitas kejernihan dan kebersihan air dari kandungan zat terlarut seperti ion-ion garam yang paling banyak terkandung didalam air baku. Pada proses ini zat terlarut atau konsentrat akan mengendap pada membran sedangkan larutan yang murni atau permeatnya akan lolos ke lapisan berikutnya. Air baku yang digunakan yaitu air kran.

Pada percobaan ini kami melakukan pengukuran TDS dan DHL terhadap air konsentrat dan permeat yang bertujuan untuk menguji kualitas alat reverse osmosis. Daya Hantar Listrik / DHL adalah gambaran numerik dari kemampuan air untuk meneruskan listrik. Oleh karena itu, semakin banyak garam-garam terlarut yang dapat terionisasi, semakin banyak pula nilai DHL. Reaktivitas, bilangan valensi, dan kosentrasi ion-ion terlarut sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai DHL. Senyawa organik adalah penghantar listrik (konduktor) yang baik, sedangkan senyawa anorganik adalah penghantar listrik (konduktor) yang lemah sehingga semakin banyak kandungan senyawa organiknya maka semakin besar pula nilai DHL. Sedangkan TDS merupakan senyawa yang dapat terlarut dalam air seperti mineral, garam, logam, serta kation- anion yang terlarut . senyawa-senyawa di dalam air tersebut berasal dari sumber organik seperti lumpur, plankton, serta limbah industri dan kotoran,sehingga semakin banyak kandungan organik yang terlarut dalam air semakin besar pula nilai TDS nya maka semakin besar. Sedangkan, sumber anorganik berasal dari batuan dan udara yang mengandung kasium bikarbonat, nitrogen, besi fosfor, sulfur, dan mineral lain.

Pengukuran nilai TDS dan DHL dilakukan pada variasi laju alir berbeda untuk mengetahui pengaruh laju alir dan tekanan terhadap hasil TDS dan DHL di permeat dan konsentrat . Awalnya kami melakuakan kalibrasi laju alir umpan agar mendapatkan laju alir dan konstan dan tepat dengan cara menentukan waktu untuk menampung 100 ml air konsentrat dan permeat sehingga didapatkna laju alir 854 mL/menit dengan konsentrasi TDS = 0,235 mg/L dan DHL = 0,322 mS/cm .

11 | L a

p

o r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

Berdasarkan percobaan didapatkan nilai TDS dan DHL di aliran permeat yaitu pada run 1 dengan pengaturan laju alir 13 mL/detik (tekanan 7 psi) didapatkan nilia rata-rata TDS adalah 0 mg/L dan nilai rata-rata DHL adalah 0,022 mS/cm .Pada run 2 dengan pengaturan laju alir 10,5 mL/detik (tekanan 0,6 psi) di dapatkan nilai rata-rata TDS adalah 0 mg/L dan nilai rata-rata DHL adalah 0,0187 mS/cm . Sedangkan nilai TDS dan DHL di aliran konsentrat yaitu pada run 1 dengan pengaturan laju alir 13 mL/detik (tekanan 7 psi) didapatkan nilia rata-rata TDS adalah 0,37 mg/L dan nilai rata-rata DHL adalah 0,46 mS/cm. Pada run 2 dengan pengaturan laju alir 10,5 mL/detik (tekanan 0,6 psi) di dapatkan nilai rata-rata TDS adalah 0,317 mg/L dan nilai rata- rata DHL adalah 0,461 mS/cm

Dari hasil data percobaan ini dapat diketahui bahwa tekanan mempengaruhi laju alir bahan pelarut yang melalui membran itu. Laju alir meningkat dengan terus meningkatnya tekanan, dan mutu air olahan (permeat) juga semakin meningkat. Tekanan memegang peranan penting bagi laju permeat yang terjadi pada proses membran. Semakin tinggi tekanan suatu membran, maka semakin besar pula fluks yang dihasilkan permeat.

Hasil dari nilai reject dari percobaan ini berdasarkan pembagian antara (selisih TDS influean dengan TDS permeat ) terhadap TDS influen di kali 100 % di dapatkan nilai % reject adalah sebesar 100 %. Salt rejection (rejeksi garam-garaman) menetukan persentase penghilangan kandungan garam-garam yang terkandung didalam air . Berdasarkan parameter TDS dan % reject yang telah kami ukur maka dapat diketahui bahwa alat reverse osmosis yang kami gunakan masih bekerja dengan baik untuk mengolah atau memfilter air keran yang kami gunakan sebagai bahan percobaan. Nilai yang masih baik ini dapat kami hasilkan dikarenakan air umpan yang kami gunakan merupakan air sumur yang bersih jadi kandungan padatan didalam umpan pun masih sesuai kadar yang diperbolehkan untuk di gunakan, lain halnya bila kami menggunakan air umpan dari laut atau air hasil limbah industri pastinya hasil TDS dan DHL akan jauh lebih besar dari hasil yang kami dapatkan ini.

12 | L a

p

o r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

5.3

Pembahasan oleh Asri Ambarwati (141424006)

Praktikum ini dimulai dengan mengalirkan air baku pada alat reverse osmosis sehingga permeat (air bersih hasil olahan) dan konsentrat (air buangan) tertampung pada wadah tersendiri. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah air kran/sumur di TKA POLBAN.

Membran RO (Reverse osmosis) banyak digunakan untuk penyisihan TDS dikarenakan ukuran porinya yang sangat kecil hingga kurang dari 10 Angstrom (Rahmawati, 2011). Di dalam membran RO terjadi proses penyaringan, yakni partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, akan terpisah dan akan ikut ke dalam konsentrat. Oleh karena itu air yang akan masuk ke dalam membran RO harus memenuhi persyaratan tertentu misalnya, kandungan zat besi/mangan kurang dari 0.01 ppm dan pH harus selalu dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat. Berdasarkan kriteria tersebut maka apabila kita memiliki air baku yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diperlukan pre- treatment, sehingga menunjang penerapan teknologi ini.

Variasi yang digunakan pada praktikum ini adalah variasi laju alir. Laju alir yang digunakan adalah 13 dan 10.5 mL/menit dengan nilai tekanan berturut-turut 0.7 dan 0.6 psi. Semakin besar tekanan operasi pada membran maka semakin banyak pula air olahan atau permeat (debit aliran keluar) yang diperoleh, dengan debit 13 mL/s diperoleh 281 mL permeat dalam satu menit sedangkan dengan debit umpan 10.5 mL/s diperoleh 250 mL permeat dalam satu menit. Namun dengan tekanan yang lebih tinggi belum tentu kualitas permeat lebih baik, karena kualitas dipengaruhi pula oleh kemampuan membran.

Parameter yang diukur pada praktikum ini adalah DHL (Daya Hantar Listrik) dan kadar TDS (Total Padatan Terlarut). Nilai TDS dan DHL pada aliran konsentrat dan permeat cenderung stabil terhadap waktu. Pada aliran 13 mL/s dan 10.5 mL/s, nilai TDS dan DHL permeat berturut-turut 0 mg/L dan ± 0.02 mS/cm. Sedangkan pada aliran konsentrat nilai TDS dan DHL berturut-turut ± 0.35 mg/L dan ± 0.45 mS/cm. Namun nilai TDS dan DHL konsentrat lebih besar dibandingkan pada aliran permeat. Hal ini menunjukkan bahwa ion dan solute yang terkandung pada air umpan tertahan pada membran dan mengalir pada aliran konsentrat sedangkan air dapat menembus membran dan keluar sebagai permeat.

13 | L a

p o

r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

Pada praktikum diketahui presentasi penyisihan kadar TDS baik itu pada debit 13 mL/s atau 10 mL/s, sebesar 100%. Sehingga dapat dikatakan bahwa alat reverse osmosis masih berfungsi dengan baik.

  • 5.4 Pembahasan oleh Asri Nurdiana (141424007)

Pada praktikum ini dilakukan pengolahan reverse osmosis pada air baku berupa air sumur. Pada proses reverse osmosis ini terjadi kesetimbangan antara dua larutan yang memiliki perbedaan konsentrasi yang melewati membran semi permeabel. Pada proses reverse osmosis, larutan diberi tekanan hidrostatik yang melebihi tekanan osmosis larutan sehingga pelarut dalam hal ini air sumur dapat berpindah dari larutan yang memiliki konsentrasi zat terlarut tinggi ke larutan yang memiliki konsentrasi zat terlarut rendah (Ariyanti, 2011). Sehingga effluent dari proses reverse osmosis ini adalah didapat air dengan tingkat kemurnian yang tinngi.

Parameter yang dicari untuk menentukan keberhasilan proses reverse osmoisis ini adalah nilai DHL (Daya Hantar Listrik) dan TDS (Total Disolved Solids). Sampel diambil setiap 10 menit selama 40 menit dengan variasi tekanan 0,7 psi (13 mL/detik) dan 0,6 psi (13 mL/detik) . Percobaan dengan variasi tekanan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan maka banyaknya permeat semakin banyak.

Berdasarkan hasil percobaan, didapat TDS pada aliran permeat cenderung stabil, baik pada run 1 (tekanan 0,7 psi) maupun run 2 (tekanan 0,6 psi). Nilai TDS pada permeat sangat kecil sehingga pada alat pengukur terbaca 0 mg/L. TDS di aliran konsentrat pada run 1 (tekanan 0,7 psi) cenderung turun, sedangkan pada run 2 (tekanan 0,6 psi) cenderung naik.

Pada pengamatan nilai DHL aliran permeat cenderung stabil, baik pada run 1 (tekanan 0,7 psi) maupun run 2 (tekanan 0,6 psi). Nilai DHL tersebut menunjukkan kadar garam yang terdapat dalam larutan. Nilai DHL pada permeat sangat kecil yaitu rata-rata 0,02 mS/cm pada run 1 (tekanan 0,7 psi) dan DHL rata-rata 0,0178 mS/cm pada run 2 (tekanan 0,6 psi). Sedangkan pada DHL di aliran konsentrat cenderung fluktuatif pada run 1 (tekanan 0,7 psi) maupun pada run 2 (tekanan 0,6 psi). Seharusnya TDS dan DHL berbanding lurus, hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya zat pengotor dalam sampel atau kesalahan praktikan dalam membaca alat. Nilai DHL tersebut menunjukkan kadar garam yang terdapat dalam larutan.

14 | L a p

o r

a n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

Nilai TDS dan DHL pada aliran permeat lebih kecil dibandingkan dengan nilai TDS dan DHL pada aliran umpan dan aliran konsentrat. Hal tersebut menunjukkan bahwa ion-ion telah tersaring oleh membran akan mengalir keluar disebut aliran konsentrat yang kandungan ion-ion terlarutnya banyak sementara hasil saringan akan mengalir keluar disebut aliran permeat yang ion-ion terlarutnya sedikit.

Efisiensi pemisahan dapat ditentukan dengan menghitung %Reject yang menunjukan hubungan antara konsentrasi atau kadar garam influen dengan permeat. % Reject yang didapat yaitu 100% pada tekanan 7 psi maupun 6 psi. Nilai %Reject yang besar menunjukkan bahwa proses reverse osmosis berlangsung dengan baik dan permeat yang dihasilkan semakin murni.

15 | L a

p

o r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”

BAB VI

SIMPULAN

Gambar 3 dan 4 berturutturut menunjukkan nilai DHL dan TDS permeat dan konsentrat terhadap waktu Nilai TDS dan DHL pada aliran konsentrat dan permeat cenderung stabil terhadap waktu. Pada aliran 13 mL/s dan 10.5 mL/s, nilai TDS dan DHL permeat berturut- turut 0 mg/L dan ± 0.02 mS/cm. Sedangkan pada aliran konsentrat nilai TDS dan DHL berturut-turut ± 0.35 mg/L dan ± 0.45 mS/cm. Nilai TDS dan DHL konsentrat lebih besar dibandingkan pada aliran permeat. Hal ini menunjukkan bahwa ion dan solute yang terkandung pada air umpan tertahan pada membran dan mengalir pada aliran konsentrat sedangkan air dapat menembus membran dan keluar sebagai permeat. Nilai %Rejection proses reverse osmosis pada laju alir 13 mL/s dan 10,5 mL/s adalah sebesar 100 % yang artinya alat reverse osmosis masih beroperasi dengan baik.

16 | L a

p o

r a

n

P

r a

k t

i

k u

m

P

e n g

o

l

a

h a n

L i m

b a

h

I

n d

u s

t r

i

R e v e r s e

O s m o s i s ”