Anda di halaman 1dari 9

I.

Pendahuluan
Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang
dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa
mendatang (Tandelilin, 2010:2). Investasi dilakukan, karena seorang investor
termotivasi oleh suatu keutungan yang akan diterima nantinya sesuai dengan
investasi yang dijalankan, selain itu investasi dilakukan untuk meningkatkan
kesejahteraan investor, karena investasi memberikan suatu pilihan bagi investor
untuk memutuskan saat kapan akan menginvestasikan dananya guna memperbesar
jumlah keuntungan yang akan di dapatkan nantinya. Keutungan dalam berinvestasi
yang didapatkan oleh investor bisa dikatakan sebagai imbalan atas waktu dan risiko
yang ditangggung selama menjalankan investasi tersebut. Investasi berkaitan dengan
berbagai macam aktivitas. Menginvestasikan sejumlah dana pada aset real atau aset
finansial adalah aktivitas umum yang dilakukan dalam dunia investasi.
Investasi di pasar modal memang menjanjikan tingkat pengembalian yang lebih
besar, akan tetapi ketika investasi yang dijalankan menghasilkan tingkat
pengembalian yang diharapkan semakin besar maka tingkat risiko yang akan didapat
juga akan semakin besar, dan begitu sebaliknya semakin kecil tingkat pengembalian
yang diharapkan maka tingkat risiko yang akan didapat juga semakin kecil. Dalam
melakukan investasi, banyak pertimbangan yang harus diperhatikan agar dapat
mengambil keputusan yang tepat. Investor yang mengharapkan tingkat pengembalian
yang tinggi atas investasi yang dijalankan, harus siap dan mampu menanggung risiko
yang dimiliki oleh investasi tersebut. Maka dari itu sebelum melakukan investasi,
sebaiknya terlebih dahulu selalu mempertimbangkan tingkat risiko yang akan
didapatkan dari investasi tersebut. Risiko bisa diartikan sebagai kemungkinan return
aktual yang berbeda dengan return harapan. Secara spesifik, mengacu pada
kemungkinan realisasi return aktual lebih rendah dari return minimum yang
diharapkan. Sikap investor terhadap risiko akan dipengaruhi oleh prefrensi investor
tersebut terhadap risiko (Tandelilin, 2010:10). Dalam dunia investasi para investor
harus mampu melihat peluang investasi yang menjanjikan, sehingga nantinya
investasi tersebut dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang besar dengan
menanggung tingkat risiko yang kecil.
Cara yang dapat membantu investor dalam menentukan investasi yang tepat di
pasar modal, salah satunya dengan menggunakan model-model keseimbangan
dalam menentukan risiko dan tingkat pengembalian yang diharapkan suatu aset,
sehingga mampu memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. CAPM
adalah salah satu model yang dapat menghubungkan tingkat return harapan dari
suatu aset berisiko dengan risiko dari aset tersebut pada kondisi pasar yang
seimbang (Tandelilin, 2010:187). Menurut Lemiyana (2015), dan Candra, serta
Madyan (2004), model CAPM lebih akurat dibandingkan dengan model
keseimbangan lainnya, yaitu Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam memprediksi
tingkat pengembalian saham. CAPM sebagai model keseimbangan dapat
memberikan kemudahan dalam menyederhanakan gambaran antara tingkat
pengembalian saham dan risiko.
Berdasarkan uraian mengenai perkembangan investasi saham tersebut, maka
tertarik diteliti mengenai investasi di pasar modal Indonesia. Tujuan penelitian ini
adalah menerapkan metode CAPM untuk mengetahui jenis saham yang tergolong
undervalued dan overvalued, berdasarkan tingkat pengembalian saham berserta
risikonya, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Penelitian
ini akan dilakukan pada saham perusahaan-perusahaan sektor infrastruktur, utilitas
dan transportasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengingat pemerintah baru-baru ini
mengeluarkan kebijakan guna mendorong para investor untuk berinvestasi, salah
satunya Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meluncurkan kemudahan
dalam mengurus izin investasi yang membutuhkan waktu hanya selama 3 jam untuk
investasi di bidang infrastruktur. BKPM membuka layanan itu untuk 4 sektor utama,
yakni ESDM, komunikasi dan informatika serta pekerjaan umum, dan perumahan
rakyat.

II. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka, rumusan masalah yang didapat
adalah Bagaimanakah mengambil keputusan investasi saham dengan menggunakan
metode CAPM pada perusahaan-perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan
transportasi di BEI ?
III. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah didapat, maka tujuan penelitian ini
adalah menerapkan metode CAPM untuk mengetahui jenis saham yang tergolong
undervalued dan overvalued, berdasarkan tingkat pengembalian saham dan
risikonya, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi saham
pada perusahaan-perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi di BEI.

IV. Metode Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.
Tujuan dari metode deskriptif adalah mengumpulkan informasi aktual secara rinci,
mengidentifikasi masalah, membuat perbandingan, dan menentukan apa yang
dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah dan belajar dari pengalaman
mereka (Fauzi, 2010: 25). Kemudian jika dilihat dari pendekatan analisisnya, metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian
kuantitatif banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data,
penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Variabel yang
diidentifikasi antara lain, tingkat pengembalian saham individual (Ri), tingkat
pengembalian bebas risiko (Rf), tingkat pengembalian pasar (Rm), risiko beta (), dan
expected return (E(Ri)). Metode pengambilan sampel dengan menggunakan metode
purposive sampling pada sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi sehingga
sampel yang diambil sebanyak 5 saham perusahaan yang paling sering diperjual
belikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut daftar perusahaan yang masuk dalam
sampel penelitian :
Tabel 1. Daftar Perusahaan yang Masuk Dalam Sampel Penelitian
No Kode Nama Perusahaan
1 PGAS Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
2 JSMR Jasa Marga (Persero) Tbk
3 TLKM Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
4 GIAA Garuda Indonesia (Persero) Tbk
5 IBST Inti Bangun Sejahtera Tbk
Sumber: www.idx.co.id
Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
dokumentasi. Metode analisis data yang dipergunakan adalah analisis deskriptif.
Analisis data yang dilakukan menggunakan bantuan program komputer Microsoft
Office Excel 2007. Adapun tahapan yang dilakukan dalam analisis data adalah
sebagai berikut.
1) Menghitung tingkat pengembalian saham individu (Ri) tiap bulannya.
2) Menghitung tingkat pengembalian pasar (Rm).
3) Menghitung rata-rata dan varian terhadap return individu (Ri) dan return market
(Rm).
4) Menghitung risiko sistematis dari masingmasing saham individu (i).
5) Menghitung tingkat pengembalian bebas risiko (Rf) melalui suku bunga SBI.
6) Menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan [E(Ri)].
7) Menggambarkan Security Market Line (SML).

V. Hasil dan Pembahasan


V.1 Tingkat Pengembalian Individu (Ri)
Harga penutupan saham Periode Juni 2016 April 2017 mengalami fluktuaktif.
Tingkat pengembalian saham individu dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut.

Hasil perhitungan dari tingkat pengembalian saham individu (Ri) Periode Juni
2016April 2017, menunjukkan bahwa 5 saham memiliki rata-rata tingkat
pengembalian negatif [(Ri)<0] sebesar -0.01601. Telekomunikasi Indonesia
(Persero) Tbk. (TLKM) memiliki rata-rata tingkat pengembalian saham tertinggi, yaitu
sebesar 0.004024 atau 0.40%. Sedangkan perusahaan Inti Bangun Sejahtera Tbk.
(IBST) memiliki rata-rata tingkat pengembalian saham terendah, yaitu sebesar -
0.03176 atau -3.18%.
V.2 Tingkat Pengembalian Bebas Risiko (Rf)
Tingkat suku bunga Bank Indonesia pada Periode Juni 2016 April 2017
berada di tingkat tertinggi, yaitu sebesar 6,5%. Sedangkan besarnya return bebas
risiko adalah 0.54% return bebas risiko tersebut diperoleh dari Rf= 6,5%/12= 0,54%.

V.3 Tingkat Pengembalian Pasar


IHSG selama Periode Juni 2016 April 2017 tercatat IHSG selalu mengalami
fluktuaktif. Hal ini disebabkan kondisi ekonomi Indonesia yang kurang stabil akibat
kebijakan baru dari pemerintah. Hal ini menyebabkan investor masih ragu-ragu untuk
melakukan transaksi. Perhitungan tingkat pengembalian pasar dapat menggunakan
rumus sebagai berikut.

Hasil perhitungan tingkat pengembalian pasar Periode Juni 2016 April 2017
dapat diketahui rata-rata tingkat pengembalian pasar selama Periode Juni 2016
April 2017 adalah sebesar 0.009868 atau 0.99%. Tingkat pengembalian pasar
tertinggi selama Periode Juni 2016 April 2017 terjadi di bulan Februari 2017, yaitu
sebesar 0.033678 atau 3.37%. Sedangkan, tingkat pengembalian pasar terendah
terjadi pada bulan Desember 2016, yaitu sebesar -0.00049 atau -0,05.

V.4 Risiko Sistematis (Beta) Masing-masing Saham Individu


Beta merupakan ukuran risiko yang berasal dari hubungan anata tingkat
pengembalian suatu saham dengan tingkat pengembalian pasar. Perhitungan beta
dapat menggunakan rumus sebagai berikut.
Rata-rata beta dari 5 saham perusahaan-perusahaan sampel adalah -1.60127,
sehingga dapat disimpulkan bahwa Periode Juni 2016 April 2017 rata-rata risiko
perusahaan-perusahaan sampel penelitian berada di bawah 1 (<1). Hal ini
menggambarkan kondisi risiko saham menunjukkan harga saham perusahaan
meningkat lebih kecil dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini
menandakan bahwa risiko sistematis saham lebih kecil dibandingkan dengan risiko
sistematis pasar. Saham jenis ini sering juga disebut difensif. Telekomunikasi
Indonesia (Persero) Tbk. (TKLM) menjadi saham yang paling agresif dengan beta
sebesar 0.402437. Sedangkan Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) memiliki nilai beta
terendah, yaitu sebesar -3.17635

V.5 Tingkat Pengembalian yang Diharapkan [E(Ri)]


Return yang diharapkan dari sekuritas dapat dihitung dengan menggunakan
rumus SML:

(Tandelilin, 2001: 97)


Rata-rata tingkat pengembalian yang diharapkan dari 5 saham perusahaan-
perusahaan yang diteliti adalah sebesar 1,38%. Saham individu perusahaan Inti
Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan
tertinggi dibandingkan 5 saham individu lainnya, yaitu 2,22%. Sedangkan, saham
individu perusahaan Telekomunikasi Indonesia (Persero). (TLKM) memiliki tingkat
pengembalian yang diharapkan terendah, yaitu sebesar 0,32%.

V.6 Penggambaran Security Market Line (SML)


Security Market Line (SML) atau Garis Pasar Sekuritas (GPS) merupakan
suatu garis yang menghubungkan antara tingkat return yang diharapkan dari suatu
sekuritas (E(Ri)) dengan risiko sistematis () (Fahmi, 2012: 294). Penggambaran
hubungan antara nilai risiko beta () dan tingkat pengembalian yang diharapkan
(E(Ri)) dari 5 perusahaan sampel penelitian berurutan dari nilai terkecil hingga
terbesar, yang dapat disajikan pada Gambar 1 berikut.

Grafik SML
1.000
0.500
0.000
-0.500
-1.000
Grafik SML
-1.500
-2.000
-2.500
-3.000
-3.500

Gambar 1. Security Market Line


Gambar di atas menampakkan bahwa risiko sistematis sama dengan 1 (<1),
maka diharapkan sekuritas mempunyai return ekspektasian yang sama dengan
dengan return ekspektasian portofolio pasar E(Rm).

V.7 Klasifikasi Investasi Saham


Mengingat bahwa kondisi pasar tidak selalu berada dalam kondisi yang
diharapkan (actual return), maka sekuritas tersebut artinya tidak berada pada posisi
garis SML yang disebabkan sekuritas tersebut overvalued atau undervalued (Fahmi,
2012: 296). Kondisi yang undervalued dan kondisi overvalued akan mempengaruhi
investor untuk menentukan sikap. Penggolongan undervalued atau overvalued
sebagai dasar keputusan investasi saham dari perusahaan-perusahaan sampel
penelitian adalah pada Tabel 1. Dari 5 perusahaan sampel penelitian diperoleh 4
saham yang tergolong saham undervalued yaitu Perusahaan Gas Negara (Persero)
Tbk, (PGAS), Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), Garuda Indonesia (Persero) Tbk
(GIAA), Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dengan rekomendasi membeli saham atau
menahan untuk menjual saham, sedangkan 1 saham tergolong saham yang
overvalued yaitu Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TKLM) dengan
rekomendasi menjual saham sebelum harga saham tersebut turun.

VI. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis, peneliti dapat menyimpulkan bahwa rata-rata return
saham individual dari 5 perusahaan sampel penelitian lebih kecil daripada rata-rata
return pasar, hal ini menunjukkan saham dalam performance yang kurang baik.
Sedangkan rata-rata risiko dari 5 saham perusahaan sampel penelitian berada di
bawah 1 (<1), hal ini menggambarkan kondisi risiko saham menunjukkan harga
saham perusahaan lebih mudah berubah dibandingkan indeks pasar. Serta rata-rata
tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berada pada 0,54%, yang merupakan
tingkat return bebas risiko. Selanjutnya, dengan menggunakan metode analisis
Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang diharapkan dapat memberikan prediksi
yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan pengembalian,
diperoleh hasil dari estimasi bahwa dari 5 perusahaan sampel penelitian diperoleh 4
saham yang tergolong saham undervalued karena tingkat return individu (Ri) lebih
kecil daripada yang diharapkan (E(Ri)). Sedangkan 1 saham tergolong saham yang
overvalued, dikarenakan tingkat return individu (Ri) lebih besar dari return yang
diharapkan (E(Ri)). Pada saat posisi sekuritas undervalued, rekomendasi untuk
keputusan yang diambil oleh investor adalah membeli/menahan saham tersebut,
sedangkan keputusan terhadap sekuritas overvalued adalah menjual sekuritas
tersebut sebelum harga saham mengalami penurunan. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa penerapan metode CAPM ini layak untuk digunakan sebagai
metode estimasi dalam estimasi investasi untuk memperoleh hasil yang efektif dan
efisien.
Daftar Pustaka
Fahmi, Irham. 2012. Pengantar Pasar Modal. Bandung: Alfabeta
Kurniawan, Fauzi Adi, Hidayat, Raden Rustan dan Azizah, Devi Farah. Penerapan
Metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) untuk Penetapan Kelompok Saham-
Saham Efisien (Studi pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2013). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB),
Vol. 24, No. 1 Juli 2015.
Lemiyana. Analisis Model CAPM dan APT Dalam Memprediksi Tingkat Return Saham
Syariah (Studi kasus Saham di Jakarta Islamic Index). I-Finance Vol. 1, No. 1 Juli
2015.
Premanto, Gancar Candra dan Madyan, Muhammad. Perbandingan Keakurtan
Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory dalam Memperediksi
Tingkat Pendapatan Saham Industri Manufaktur Sebelum dan Semasa Krisis
Ekonomi. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial, Vol. 5, No. 2 Agustus 2004 : 125-139.
Tandelilin, Eduardus. 2010. Analisis Investasi Dan Manajemen
Portofolio. Yogyakarta: Bpfe Yogyakarta.