Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ANALISIS SENYAWA KIMIA


ARGENTOMETRI

Disusun oleh kelompok 2:

1. Rafika Febrianti W. NIM. 12315244001


2. Biyan Munita Dewi NIM. 12315244007
3. Rizki Sukintasari Khazanah NIM. 12315244014
4. Fitra Nugraha Tama NIM. 12315244026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


JURUSAN PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah
ini berjudul Argentometri. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas pada mata
kuliah Analisi Senyawa Kimia.
Makalah ini berisi tentang titrasi argentometri . Argentometri merupakan salah satu
cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi
berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+.
Pemakalah mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah
Analisi Senyawa Kimia yang telah membimbing kami dalam penyelesaian makalah ini.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
penyempurnaan makalah ini. Terima kasih.

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................... i
DAFTAR ISI ................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang............. 1
B. Rumusan masalah........ 1
C. Tujuan.............................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Argentometri.......... 2
B. Metode-metode dalam Titrasi Argentometri....................................... . 6
C. Penetapan Titik Akhir Dalam Reaksi Pengendapan ............... 11
D. Faktor faktor yang mempengaruhi pengendapan ............................ 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................. 14
B. Saran .................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA........................ 15
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan
dari garam yang tidak mudah larut antara titran dan analitnya. Salah satu jenis titrasi
pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion
halida ( Cl-, I-, Br- ) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai
argentometri. Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida dengan
menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO3.
Titrasi argentometri didasarkan pada pembentukan endapan yang tidak mudah
larut antara titrant dan analitnya. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi
penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit
membentuk garam yang tidak mudah larut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan titrasi argentometri?
2. Apa saja metode-metode yang ada dalam titrasi argentometri?
3. Bagaimanakah penetapan titik akhir dalam reaksi pengendapan?

C. Tujuan
1. Mengetahui pemgertian titrasi argentometri.
2. Mengetahui metode-metode yang ada dalam titrasi argentometri.
3. Mengetahui penetapan titik akhir dalam reaksi pengendapan.
BAB II
PENDAHULUAN

A. Pengertian Argentometri

Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan


dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Salah satu jenis titrasi
pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion
halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai
Argentometri, yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya)
dengan menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Istilah Argentometri
diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri
merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang
dilakukan dengan titrasi berdasarkan pembentukan endapan dengan ion Ag+
(Underwood, 2001).
Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator
dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur
volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat
diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan.
Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi argentometri ini adalah ion
halida (Cl-, Br-, dan I-) (Khopkar, 1990). Tidak hanya dapat digunakan untuk
menentukan ion halida saja, tetapi dapat juga dipakai untuk menentukan merkaptan
(thioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion
arsenat AsO43-. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian
keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak
adanya interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut
antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan
NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk
garam yang tidak mudah larut AgCl.
Ag(NO3) (aq) + NaCl (aq) AgCl (s) + NaNO3 (aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi
dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO4- dimana
dengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan
sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Inikator lain yang bisa dipakai
adalah tiosianida dan indicator adsorbsi.
Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan AgNO3 yaitu:
1. Indikator
2. Amperometri
3. Indikator kimia
Titik akhir potensiometri didasarkan pada potensial elektrode perak yang dicelupkan
kedalam larutan analit. Titik akhir amperometri melibatkan penentuan arus yang
diteruskan antara sepasang mikroelektrode perak dalam larutan analit. Sedangkan titik
akhir yang dihasilkan indikator kimia, biasanya terdiri dari perubahan warna/muncul
tidaknya kekeruhan dalam larutan yang dititrasi. Syarat indikator untuk titrasi
pengendapan analog dengan indikator titrasi netralisasi, yaitu :
1. Perubahan warna harus terjadi terbatas dalam range pada p-function dari reagen
/analit.
2. Perubahan Warna harus terjadi dalam bagian dari kurva titrasi untuk analit.
(skogg,1965)

B. Metode-metode dalam Titrasi Argentometri


Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi yang dipakai, maka titrasi
argentometri dapat dibedakan menjadi beberapa metode. Metode-metode dalam titrasi
argentometri, antaralain:
1. Metode Mohr
Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida
dalam suasana netral (contoh air, misalnya air sungai, air laut, air sumur, air hasil
pengolahan industri sabun, dan sebgainya) dengan larutan baku perak nitrat dengan
penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. Pada permulaan titrasi akan
terjadi endapan perak klorida dan setelah tercapai titik ekivalen, maka penambahan
sedikit perak nitrat akan bereaksi dengan kromat dengan membentuk endapan perak
kromat yang berwarna merah.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi dengan metode Mohr adalah
Titrasi dengan cara ini harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit
alkalis, pH 6,5 10. Oleh sebab itu jika pH dibawah 6,5 maka ion kromat akan
terprotonasi sehingga asam kromat akan mendominasi di dalam larutan akibatnya
dalam larutan yang bersifat sagat asam konsentrasi ion kromat akan terlalu kecil
untuk memungkinkan terjadinya endapan Ag2CrO4 sehingga hal ini akan berakibat
pada sulitnya pendeteksian titik akhir titrasi. Pada pH diatas 10 maka endapan AgOH
yang berwarna kecoklatan akan terbentuk sehingga hal ini akan menghalangi
pengamatan titik akhir titrasi. Analit yang bersifat asam dapat ditambahkan kalsium
karbonat agar pH nya berada pada kisaran pH tersbut atau dapat juga dilakukan
dengan menjenuhkan analit dengan menggunakan padatan natrium hydrogen
karbonat.
Disebabkan kelarutan AgCl dan Ag2CrO4 dipengaruhi oleh suhu maka semua
titrasi dilakukan pada temperature yang sama. Pengadukan/ pengocokan selama
larutan standar ditambahkan sangat dianjurkan disebabkan hal ini dapat
mempermudah pengamatan pencapaian titik akhir titrasi dan perak kromat yang
terbentuk sebelum titik akhir titrasi dicapai dapat dipecah sehingga terlarut kembali.
Cara yang mudah untuk membuat larutan netral dari larutan yang asam adalah
dengan menambahkan CaCO3 atau NaHCO3 secara berlebihan. Untuk larutan yang
alkalis, diasamkan dulu dengan asam asetat kemudian ditambah sedikit berlebihan
CaCO3. Kerugian metode Mohr adalah :
a. Adanya ion-ion seperti sulfida, fosfat, dan arsenat juga akan mengendap.
b. Titik akhir kurang sensitif jika menggunakan larutan yang encer.
c. Ion-ion yang diadsorbsi dari sampel menjadi terjebak dan mengakibatkan hasil
yang rendah sehingga penggonjongan yang kuat mendekati titik akhir titrasi
diperlukan untuk membebaskan ion yang terjebak tadi.
Titrasi langsung iodide dengan perak nitrat dapat dilakukan dengan
penambahan amilum dan sejumlah kecil senyawa pengoksidasi. Warna biru akan
hilang pada saat titik akhir dan warna putih-kuning dari endapan perak iodida (AgI)
akan muncul. Reaksi argentometri adalah :
Ag(NO3) + K2CrO4 Ag2CrO4 + 2KNO3 (coklat kemerahan)
NaCl + AgNO3 AgCl + NaNO3 (endapan putih)
Baku standar pada titrasi argentometri dengan metode mohr adalah AgNO3. Baku
primernya adalah NaCl dan indikator yang digunakan adalah K2CrO4.

2. MetodeVolhard
Pada prinsipnya, penentuan titik akhir ditandai dengan pembentukan senyawa
berwarna yang larut. Perak (Ag) dapat ditetapkan secara teliti dalam suasana asam
dengan larutan baku kalium atau ammonium tiosianat (NH4SCN) yang mempunyai
hasil kali kelarutan 7,1 x 10-13.
Selama titrasi Ag(SCN) terbentuk, sedangkan titik akhir dicapai bila NH4SCN
berlebih bereaksi dengan membentuk larutan berwarna merah gelap yaitu
[Fe(SCN)]2+. Dengan jumlah tiosianat yang menghasilkan warna harus sedikit.
Reaksi yang terjadi dalam titrasi argentometri dengan metode volhard adalah
sebagai berikut:

Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s) (endapan putih)

Ag+(aq) + SCN-(aq) AgSCN(s) (endapan putih)

Fe3+(aq) + SCN(aq) Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)

Pada metode ini menggunakan titrasi balik karena AgNO3 berlebih yang
ditambahkan ke larutan klorida tentunya tidak bereaksi. Larutan tersebut dititrasi
balik dengan besi (III) amonium sulfat sebagai indikator. Cara ini kurang akurat
karena endapan yang dihasilkan yaitu AgSCN kurang larut dibanding AgCl.

Kelebihan tiosianat dapat ditetapkan secara jelas dengan garam besi (III) nitrat
atau besi (III) ammonium sulfat sebagai indikator yang akan membentuk warna
merah dari kompleks besi (III) tiosianat dalam lingkungan asam nitrat 0,5 1,5 N.

Pada metode ini, saat menentukan kadar klorida harus dalam susana asam karena pada
suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis dan diendapkan menjadi Fe(OH)3, sehingga titik
akhirnya tidak dapat ditunjukkan. pH larutan harus berada di bawah 3. Pada titrasi ini
terjadi perubahan warna 0,7-1% sebelum titik ekuivalen. Untuk mendapatkan hasil
yang teliti pada waktu akan dicapai titik akhir, titrasi dikocok kuat-kuat supaya ion
perak yang diadsorbsi oleh endapan perak tiosianat dapat bereaksi dengan tiosianat.

Titrasi dengan cara ini disebut sebagai titrasi balik atau titrasi kembali. Mol
analit diperoleh dari pegurangan mol perak mula-mula yang ditambahkan dengan
mol larutan standar tiosianat. Karena perbandingan mol dari reaksi adalah 1:1 semua
maka semua hasil diatas dapat langsung dikurangi.

Mol analit = mol Ag+ total mol SCN

Aplikasi dari argentometri dengan metode Volhard ini adalah penentuan


konsentrasi ion halide. Kondisi titrasi denga metode Volhard harus dijaga dalam
kondisi asam disebabkan jika laruran analit bersifat basa maka akan terbentuk
endapat Fe(OH)3. Jika kondisi analit adalah basa atau netral maka sebaiknya titrasi
dilakukan dengan metode Mohr atau fajans.

3. Metode K. Fajans
Pada metode ini digunakan indicator adsorbsi, senyawa yang biasa digunakan
adalah fluoresein dan eosin. Pada titik ekivalen, indicator terabsorpsi oleh endapan,
bukan bereaksi dengan titran. Indikator ini tidak memberikan perubahan warna
kepada larutan, tetapi pada permukaan endapan. Jadi titik akhir dari metode ini dilihat
dari perubahan warna endapan yang terbentuk.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini, endapan harus dijaga tepat
dalam bentuk koloid. Garam netral dalam jumlah besar dan ion bervalensi banyak
harus dihindarkan karena mempunyai daya mengkoagulasi. Larutan tidak boleh
terlalu encer karena endapan yang terbentuk sedikit sekali sehingga mengakibatkan
perubahan warna indicator tidak jelas. Ion indicator harus bermuatan berlawanan
dengan ion pengendap. Ion indicator harus tidak terabsorpsi lebih dulu sebelum titik
ekuivalen tercapai.
Contoh pada titrasi ion klorida dengan larutan standart Ag+. Dimana hasil
reaksi dari kedua zat tersebut adalah:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)

Endapan perak klorida membentuk endapan yang bersifat koloid. Sebelum


titik ekuivalen dicapai maka endapat akan bermuatan negative disebakkan
teradsorbsinya Cl- di seluruh permukaan endapan. Dan terdapat counter ion
bermuatan positif dari Ag+ yang teradsorbsi dengan gaya elektrostatis pada endapat.
Setelah titik ekuivalen dicapai maka tidak terdapat lagi ion Cl- yang teradsorbsi pada
endapan sehingga endapat sekarang bersifat netral.

Kelebihan ion Ag+ yang diberikan untuk mencapai titik akhir titrasi
menyebabkan ion-ion Ag+ ini teradsorbsi pada endapan sehingga endapan bermuatan
positif dan beberapa ion negative teradsorbsi dengan gaya elektrostatis sebagai
counter ion. Indikator adsorbsi merupakan pewarna, seperti diklorofluorescein yang
berada dalam keadaan bermuatan negative dalam larutan titrasi akan teradsorbsi
sebagai counter ion pada permukaan endapan yang bermuatan positif. Dengan
terserapnya ini maka warna indicator akan berubah dimana warna diklorofluorescein
menjadi berwarna merah muda.

4. Metode Liebig
Pada metode ini titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator, akan
tetapi ditunjukkan dengan terjadinya kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat
ditambahkan dengan larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih, tetapi pada
penggojokan larut kembali karena terbentuk kompleks sianida yang stabil. Jika
reaksi telah sempurna, penambahan larutan perak nitrat lebih lanjut akan
menghasilkan endapan perak sianida. Titik akhir ditunjukkan oleh terjadinya
kekeruhan yang tetap. Kesukaran dalam memperoleh titik akhir yang jelas
disebabkan karena sangat lambatnya endapan melarut pada saat mendekati ititk akhir
Selain menggunakan jenis indicator diatas maka kita juga dapat
menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen.
Ketajaman titik ekuivalen tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk dari
reaksi antara analit dan titran. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan
menghasilkan kurva titrasi argentometri yang memiliki kecuraman yang tinggi
sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan, akan tetapi endapan dengan kelarutan
rendah akan menghasilkan kurva titrasi yang landai sehingga titik ekuivalen agak
sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dengan basa
kuat dan anatara asam lemah dengan basa kuat.

C. Penetapan Titik Akhir Dalam Reaksi Pengendapan


1. Pembentukan suatu endapan berwarna
Ini dapat diilustrasikan dengan prosedur mohr untuk penetapan klorida dan
bromide. Pada titrasi suatu larutan netral dari ion klorida dengan larutan perak nitrat,
sedikit larutan kalium kromat ditambahkan untuk berfungsi sebagai indikator. Pada
titik akhir, ion kromat ini bergabung dengan ion perak untuk membentuk perak
kromat merah yang sangat sedikit sekali dapat larut. Titrasi ini hendaknya dilakukan
dalam suasana netral atau sangat sedikit sekali basa, yakni dalam jangkauan pH 6,59.
(Bassett, 1994)
2. Pembentukan suatu senyawaan berwarna yang dapat larut
Contoh prosedur ini adalah metode volhard untuk titrasi perak dengan adanya
asam nitrat bebas dengan larutan kalium atau ammonium tiosianat standar.
Indikatornya adalah larutan besi(III) ammonium sulfat. Penambahan larutan tiosianat
menghasilkan mula-mula endapan perak klorida. Kelebihan tiosianat yang paling
sedikitpun akan menghasilkan pewarnaan coklat kemerahan, disebabkan oleh
terbentuknya suatu ion kompleks.
Ag+ + SCN- AgSCN
Fe3+ + SCN- [FeSCN]2+
Metode ini dapat diterapkan untuk penetapan klorida, bromide dan iodide
dalam larutan asam. Larutan perak nitrat standar berlebih ditambahkan dan
kelebihannya dititrasi balik dengan larutan tiosianat standar. (Bassett, 1994)
Ag+ + Cl- AgCl
Ag+ + SCN- AgSCN
3. Penggunaan indikator adsorpsi
Aksi dari indikator-indikator ini disebabkan oleh fakta bahwa pada titik
ekuivalen, indikator itu diadsorpsi oleh endapan dan selama proses adsorpsi terjadi
suatu perubahan dalam indikator yang menimbulkan suatu zat dengan warna
berbeda, maka dinamakan indikator adsorpsi.Zat-zat yang digunakan adalah zat-zat
warna asam, seperti warna deret flouresein misalnya flouresein an eosin yang
digunakan sebagai garam natriumnya.
Untuk titrasi klorida, boleh dipakai flouresein. Suatu larutan perak klorida
dititrasi dengan larutan perak nitrat, perak klorida yang mengendap mengadsorpsi
ion-ion klorida. Ion flouresein akan membentuk suatu kompleks dari perak yang
merah jambu. (Bassett, 1994)

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengendapan


Keberhasilan proses pengendapan sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
diantaranya temperatur, sifat alami pelarut, pengaruh ion lain, pH, hidrolisis,dan
pembentukan kompleks. Pengaruh ini dapat kita jadikan sebagai dasar untuk memahami
titrasi argentometri dan gravimetri.

1. Temperatur

Kelarutan semakin meningkat dengan naiknya suhu, jadi dengan


meningkatnya suhu maka pembentukan endapan akan berkurang disebabkan
banyak endapan yang berada pada larutannya.

2. Sifat alami pelarut

Garam anorganik mudah larut dalam air dibandingkan dengan pelarut


organik seperti alkohol atau asam asetat. Perbedaan kelarutan suatu zat dalam
pelarut organik dapat dipergunakan untuk memisahkan campuran antara dua zat.
Setiap pelarut memiliki kapasitas yang berbeda dalam melarutkan suatau zat, begitu
juga dengan zat yang berbeda memiliki kelarutan yang berbeda pada pelarut
tertentu.

3. Pengaruh ion sejenis

Kelarutan endapan akan berkurang jika dilarutkan dalam larutan yang


mengandung ion sejenis dibandingkan dalam air saja. Sebagai contoh kelarutan
Fe(OH)3 akan menjadi kecil jika kita larutkan dalam larutan NH4OH dibanding
dengan kita melarutkannya dalam air, hal ini disebabkan dalam larutan NH4OH
sudah terdapat ion sejenis yaitu OH- sehingga akan mengurangi konsentrasi
Fe(OH)3 yang akan terlarut. Efek ini biasanya dipakai untuk mencuci endapan
dalam metode gravimetri.
4. Pengaruh pH

Kelarutan endapan garam yang mengandung anion dari asam lemah


dipengaruhi oleh pH, hal ini disebabkan karena penggabungan proton dengan anion
endapannya. Misalnya endapan AgI akan semakin larut dengan adanya kenaikan
pH disebabkan H+ akan bergabung dengan I- membentuk HI.

5. Pengaruh hidrolisis

Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air maka akan dihasilkan
perubahan konsentrasi H+ dimana hal ini akan menyebabkan kation garam tersebut
mengalami hidrolisis dan hal ini akan meningkatkan kelarutan garam tersebut.

6. Pengaruh ion kompleks

Kelarutan garam yang tidak mudah larut akan semakin meningkat dengan
adanya pembentukan kompleks antara ligan dengan kation garam tersebut. Sebagai
contoh AgCl akan naik kelarutannya jika ditambahkan larutan NH3, hal ini
disebabkan karena terbentuknya kompleks Ag(NH3)2Cl.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari
garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Istilah Argentometri
diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri
merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang
dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi
argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indicator dicampur dengan larutan
standar garam perak nitrat (AgNO3).
2. Metode-metode dalam titrasi argentometri, antaralain:
a. metode Mohr
b. metode Volhard
c. metode K. Fajans,
d. dan metode Leibig.
3. Penetapan titik akhir dalam reaksi pengendapan
a. Pembentukan suatu endapan berwarna
b. Pembentukan suatu senyawaan berwarna yang dapat larut
c. Penggunaan indikator adsorpsi

B. Saran
Dalam melakukan titrasi argentometri haruslah memperhatikan metode apa yang
kita gunakan dalam titrasi argentometri tersebut dan memperhatikan apa titrasi akhir
yang seharusnya terjadi saat melakukan titrasi argentometri.
DAFTAR PUSTAKA

Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI Press.


Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jilid I.
Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jilid II.
Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.