Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM

PWM (Pulse Width Modulation)

Kelompok 2 JTD 2A:

Atkisa Imanhadi (05)


Ilmi Difna (13)
Linda Amalia (14)
M Vinsyah F (17)
Nafa Milantu (18)
Wisnu Ferdiansyah (23)

JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
PRAKTIKUM 1

PWM MODULATION

1.1 Tujuan
a. Untuk memahami karakteristik dan dasar tentang rangkaian LM555
b. Untuk menerapkan pulsa pada modulator menggunakan LM555
c. Untuk mengukur dan menganalisa pulsa dengan rangkaian modulasi

1.2 Alat dan Bahan


No Alat dan Bahan Jumlah
1 Modul PWM 1 buah
2 Kabel Jumper Secukupnya
3 Power Supply 1 buah
4 Generator Fungsi 1 buah
5 Osiloskop 1 buah
6 Kabel BNC to Aligator 3 buah
7 Kabel Banana to banana 3 buah

1.3 Teori Dasar


Pulsa dengan modulasi (PWM) adalah metode modulasi digital dan analog,
yang dapat digunakan untuk memproses pengiriman data digital dan analog. Amplitude
modulasi lebar pulsa adalah tetap, namun lebar pulsa akan divariasikan dan dikontrol
oleh amplitude sinyal input audio. Jika kita mengendalikan variasi waktu dari tingkat
listrik, maka ini berarti bahwa kita dapat mengendalikan lebar pulsa. Ketika amplitude
dari sinyal audio semakin besar, maka lebar pulsa akan menjadi lebar, di sisi lain, ketika
amplitude audio semakin kecil, maka lebar pulsa akan menjadi sempit. Oleh karena itu,
PWM dapat diterapkan dalam cepat dan lambat dari tingkat protation dari motor,
semakin kuat dan lemah dari sumber cahaya dari bola lampu dan sebagainya. Hubungan
anatara audio dan sinyal modulasi lebar pulsa ditunjukkan pada Gambar 3-1.
Umumnya, gelombang modulasi pulsa dapat diklasifikasikan sebagai pulsa modulasi
amplitude (PAM), posisi pulsa modulasi (PPM), lebar pulsa modulasi (PWM) dan
sebagainya. Tabel 3-1 menunjukkan perbandingan antara setiap modulasi dan gambar
3-2 menunjukkan diagram keluaran karakteristik PAM, PPM dan modulasi PWM.
Gambar 3-3 adalah sirkuit osilasi gelombang persegi, sinyal output lebar pulsa
yang dikontrol oleh R2, C2 dan Vin (+) tegangan input terminal. Op penguat A741
adalah komparator dalam rangkaian ini. Vin (+), input (pin 3) tegangan referensi
ditentukan oleh VR1 resistor resistor R1 dan variable. R2 dan C2 dibangun untuk
menjadi jalur biaya/debit. Bila tidak ada pasokan sinyal ke terminal masukan sinyal
audio, jika kita menyesuaikan VR1, maka Vin (+) terminal input tegangan operasi akan
berubah, yang berarti tegangan referensi dari komparator akan berubah, dengan
demikian, sinyal output dari lebar pulsa juga akan berubah.

Gambar 3-1 bentuk sinyal audio dan sinyal PWM

Tabel 3-1 perbandingan antara 3 perbedaan tipe dari modulasi

Tipe Fitur Pulse Pulse Pulse


Modulasi Amplitude Width Interval
amplitudo pulsa akan bervariasi Bermacam- Lebar Tidak
dengan amplitudo sinyal input. macam tetap berubah
PAM

posisi pulsa akan bervariasi Amplitude Lebar Berubah-


dengan amplitudo sinyal input. tetap tetap ubah
PPM

Lebar pulsa akan bervaariasi Amplitude Bermacam Tidak


PWM dengan amplitude sinyal input tetap -macam berubah
1.

Gambar 3-2 diagram karakteristik keluaran dari PAM,PPM dan modulasi PWM
Gambar 3-3 diagram rangkaian dari PWM menggunakan A741

Gambar 3-4 diagram bentuk sinyal dari perubahan dan ketetapan dari A741
Jika VR1 adalah tetap, itu berarti bahwa tegangan operasi Vin (+) terminal input adalah
tetap. Jika input sinyal audio ke terminal masukan sinyal audio, maka tengangan sinyal
audio akan menambah tegangan pengoperasian terminal (+) masukan Vin. Selain itu,
dengan mengikuti jalur pengisian dan pengosongan dari rand C2, tegangan operasi Vin
(-) akan berubah juga, seperti pada gambar 3-4. Namun, ketika kita mengubah titik bias
yang yang oeh tuning resistor variable VR1, kita dapat mengubah tingkat dan lebar
output gelombang persegi Vin (+) dan Vin (-) pada waktu yang sama. Pada saat ini,
tegangan referensi komparator akan divariasikan dan dikontrol oleh tegangan dari
sinyal audio. Oleh karena itu, sinyal output dari lebar pulsa juga akan berubah
sehubungan dengan tegangan sinyal input audio, maka lebar pulsa sinyal modulasi yang
dihasilkan.
Diagram rangkaian LM555 astablemultivibrator ditunjukkan pada Gambar 3-5.
Pada Gambar 3-4, sirkuit dapat dibagi menjadi 5 bagian penting, yaitu komparator
rendah, komparator atas, flip-flop (FF), transistor debit dan output driver. Jika terminal
tegangan dikendalikan (pin 5) tidak ada sinyal input, maka tegangan pembanding atas
referensi adlah 2Vcc / 3 dan tegangan referensi komparator bawah adalah Vcc / 3. Jika
kita menambahkan controller tegangan ke terminal tegangan control (pin 5), tegangan
referensi komparator dapat secara eksternal dikendalikan. Ketika terminal tegangan
terkontrol tidak digunakan, maka kita dapat membuat terminal tegangan dikendalikan
terhubung dengan 0,01 F kapasitor ke tanah untuk menghindari gangguan dari
kebisingan.

Gambar 3-5 Diagram Sirkuit dari LM555 astablemultivibrator


Gambar 3-5 adalah diagram sirkuit dari astablemultivibrator dengan
menggunakan LM555 IC. Sinyal output dari sirkuit ini adalah gelombang persegi.
Frekuensi osilasi ditentukan oleh R1, R2, dan C1. Waktu charge (t1) dari kapasitor
0.693 x (R1 + R2) x C1, waktu debit (t2) dari kapasitor C1 adalah 0,693 x R2 x C1.
Jadi T adalah waktu tl biaya ditambah waktu t2 debit sama dengan 0,693 x (R1 + 2xR2)
x C1. Gambar 3-6 menunjukkan bentuk gelombang output dadi LM555
astablemultivibrator di berbagai titik. Gambar 3-7 adalah diagram sirkuit dari
monostablemultivibrator dengan menggunakan LM555 IC. Ketika perubahan masukan
memicu dari tinggi (+12V) ke rendah (0V). terminal output akan menghasilkan denyut
nadi. Ini T lebar pulsa ditentukan olej R1 x C1 sebenarnya adalah sekitar 1,1 x R1 x
C1. Jika R1 = 10kohm dan C1 = 0,01F, maka lebar pulsa adalah sekitar 110
mikrodetik. Jika frekuensi kurang dari 9,1 KHz di terminal memicu sinyal input (pin
2), (mengacu pada bentuk gelombang dari astablemultivibrator dalam gambar 3-6),
maka output akan menjadi kerja 50% siklus sinyal pulsa. Para signal audio didata oleh
terminal tegangan terkontrol. Oleh karena itu, akan menghasilkan sinyal PWM.
Gambar 3-8 adalah diagram sirkuit PWM dengan menggunakan dua IC LM555,
yang U, yang U1 adalah astablemultivibrator (U2) perlu pulsa pemicu dari
astablemutivibrator (U1) terminal keluaran (pin 3), sinyal audio didata pada tegangan
terkontrol (pin 5) dari monostabllemultivibrator (U2). Sinyal PWM output di terminal
output (pin 3) dari monostablemultivibrator tersebut.

Gambar 3-6 bentuk sinyaloutput dari LM555 astablemutivibrator pada poin berbeda
Gambar 3-7 diagram rangkaian monostablemutivibrator menggunakan LM555 IC

Gambar 3-8 diagram rangkaian PAM menggunakan 2 LM555 ICs


1.4.1 Gambar Rangkaian

Gambar 3-9 Diagram Jalur PWM

1.4.2 Langkah Percobaan


1. Lihat mencari 3-8 atau mencari DCT3-2 pada GOTT modul DCT-6000-02.
2. Dengan menggunakan osiloskop, amati pada TP3 titik uji dan output sinyal
gelombang, pada saat yang sama menyesuaikan variabel resistor VR1 sampai
ketika sinyal gelombang persegi uji titik TP3 di tingkat tegangan perbedaan,
sinyal output gelombang persegi memiliki lebar pulsa yang berbeda . (Yaitu
berbeda duty-cycle).
3. Pada terminal input sinyal audio (Audio I / P), masukan amplitudo 2,5 V dan 1
kHz frekuensi gelombang persegi. Kemudian menulis hasil yang diukur dalam
tabel 3-4.
4. Dengan menggunakan osiloskop, amati pada bentuk gelombang sinyal output
dari pembuangan kapasitor TP1, TP2 titik kritis, memicu sinyal TP3, titik
kritis dari debit kapasitor TP4, dan PWM O / P.
5. Dengan menggunakan osiloskop dan beralih ke saluran DC, amati pada bentuk
gelombang sinyal output dan mencatat hasil diukur dalam tabel 3-5.
6. Ubah sinyal input untuk gelombang segitiga, yang lain tetap sama, ulangi
langkah 5.
7. Ubah sinyal input untuk gelombang sinusoidal, yang lain tetap sama, 7 ulangi
langkah 5.
8. Mengubah amplitudo sinyal input untuk 1,5 V, yang lain tetap sama, ulangi
langkah 6 hingga langkah 7, kemudian mencatat hasil yang diukur dalam tabel
3-6.
9. Ulangi langkah 3 hingga langkah 5, kemudian mencatat hasil yang diukur
dalam tabel 3-7.
1.5 Hasil Percobaan

Tabel 3-4 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 2.5 V, fm = 1 kHz)


Input Signals Input Signal Waveforms Keterangan
CH 1
Frekuensi 1 KHz
Amplitudo
2,8Vpp
Volt/div 1V
Time/div 500s
Gelombang
Kotak

CH 1
Frekuensi
984,3Hz
Amplitudo
2,64Vpp
Gelombang
Volt/div 1V
Segitiga Time/div 500s

CH 1
Frekuensi 998 Hz
Amplitudo
2,68Vpp
Volt/div 1V
Time/div 500s
Gelombang
Sinusoida
Tabel 3-5 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 2.5 V, fm = 1 kHz gelombang segitiga)
Input Input Signal Waveforms Keterangan
Signals
Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
TP1 Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,42KHz
Amplitudo 86Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
TP2
2,5Vpp
Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
22,42KHz
Amplitudo 32Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
TP3 Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,4KHz
Amplitudo
110Vpp
Volt/div 50V
Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
TP4 Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
5,721KHz
Amplitudo 66Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
PWM Volt/div 1V
O/P
CH 2
Frekuensi
8,447KHz
Amplitudo
136Vpp
Volt/div 50V

Tabel 3-5 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 2.5 V, fm = 1 kHz gelombang sinusoida)
Input Input Signal Waveforms Keterangan
Signals
Time/div 50s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 2,5Vpp
Volt/div 1V
TP1
CH 2
Frekuensi
11,3KHz
Amplitudo 86Vpp
Volt/div 50V
Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 2,5Vpp
TP2
Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,36KHz
Amplitudo 34Vpp
Volt/div 50V

Time/div 50s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 2,5Vpp
Volt/div 1V
TP3
CH 2
Frekuensi
11,34KHz
Amplitudo
128Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 2,5Vpp
Volt/div 1V
TP4
CH 2
Frekuensi
5,605KHz
Amplitudo 70Vpp
Volt/div 50V
Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 2,5Vpp
Volt/div 1V
PWM
O/P CH 2
Frekuensi
5,581KHz
Amplitudo
152Vpp
Volt/div 50V

Tabel 3-5 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 2.5 V, fm = 1 kHz gelombang kotak)
Input Input Signal Waveforms Keterangan
Signals
Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
TP1 Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,42KHz
Amplitudo 90Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
TP2
2,5Vpp
Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,16KHz
Amplitudo 36Vpp
Volt/div 50V
Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
TP3 Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,36KHz
Amplitudo
100Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
TP4 Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,65KHz
Amplitudo 74Vpp
Volt/div 50V

Time/div 100s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo
2,5Vpp
PWM Volt/div 1V
O/P
CH 2
Frekuensi
11,36KHz
Amplitudo
136Vpp
Volt/div 50V
Tabel 3-6 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 1.5 V, fm = 1 kHz gelombang sinusoida)
Input Input Signal Waveforms Keterangan
Signals
Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
TP1
CH 2
Frekuensi
11,38KHz
Amplitudo 9,6Vpp
Volt/div 5V

Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
TP2
Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi
11,39KHz
Amplitudo 3,52Vpp
Volt/div 1V

Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
TP3
CH 2
Frekuensi
11,49KHz
Amplitudo 11,2V
Volt/div 5V
Time/div 500s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
TP4
CH 2
Frekuensi
6,098KHz
Amplitudo 8,2Vpp
Volt/div 5V

Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 1V
PWM
O/P CH 2
Frekuensi
3,965KHz
Amplitudo 9Vpp
Volt/div 5V

Tabel 3-7 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 1.5 V, fm = 1 kHz gelombang segitiga)
Input Input Signal Waveforms Keterangan
Signals
Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
TP1
CH 2
Frekuensi
11,49KHz
Amplitudo
11,4Vpp
Volt/div 5V
Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
TP2
Volt/div 500mV

CH 2
Frekuensi
11,49KHz
Amplitudo
3,44Vpp
Volt/div 2V

Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
TP3
CH 2
Frekuensi
11,6KHz
Amplitudo
10,4Vpp
Volt/div 5V

Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
TP4
CH 2
Frekuensi
5,747KHz
Amplitudo 6,8Vpp
Volt/div 5V
Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 500mV
PWM
O/P CH 2
Frekuensi
5,79KHz
Amplitudo
10,8Vpp
Volt/div 5V

Tabel 3-7 Hasil pengukuran LM555 PWM (Vm = 1.5 V, fm = 1 kHz gelombang kotak)
Input Input Signal Waveforms Keterangan
Signals
Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 1V
TP1
CH 2
Frekuensi 11,51KHz
Amplitudo 11,4Vpp
Volt/div 5V

Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
TP2
Volt/div 1V

CH 2
Frekuensi 11,43KHz
Amplitudo 3,12Vpp
Volt/div 2V
Time/div 250s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 1V
TP3
CH 2
Frekuensi 11,61KHz
Amplitudo 13,2Vpp
Volt/div 5V

Time/div 500s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 1V
TP4
CH 2
Frekuensi 5,814KHz
Amplitudo 8,2Vpp
Volt/div 5V

Time/div 500s

CH 1
Frekuensi 1KHz
Amplitudo 1,5Vpp
Volt/div 1V
PWM
O/P CH 2
Frekuensi 5,75KHz
Amplitudo 9,2Vpp
Volt/div 5V
1.6 Analisa Data dan Pembahasan
TP1

Pada hasil TP1 menghasilkan sinyal keluaran kotak yang konstan,


dimana frekuensi dan amplitudonya mengalami peningkatan. Sinyal ini
berfungsi sebagai inputan LM555 input op-amp inverting menjadikannya
penentu bentuk keluaran (output) yang disebut duty cycle.

TP2

Pada hasil TP2 menghasilkan sinyal keluaran segitiga, dimana


frekuensi dan amplitudonya mengalami peningkatan. Hasil keluaran sinyal
segitiga konstan. Pulsa gigi gergaji (sawtooth wave) diberikan pada input
LM555 input op-amp non-inverting secara kontinu dan banyaknya pulsa ini
menentukan frekuensi keluarannya.
TP3

Pada hasil TP3 menghasilkan sinyal keluaran kotak, dimana frekuensi


dan amplitudonya mengalami peningkatan. Pada TP3 merupakan hasil
keluaran dari IC LM555 namun masih belum terlihat hasil modulasinya.
Duty cyclenya sebesar 50% jadi lebar pulsanya terlihat sama / konstan.
VR1 berfungsi agar hasil pada TP3 berbentuk gelombang kotak.

TP4

Pada hasil TP4 menghasilkan sinyal keluaran segitiga, dimana


frekuensi dan amplitudonya mengalami peningkatan. Setiap amplitude
rendah dari sinyal inputan menghasilkan lebar pulsa yang sempit,
sedangkan jika amplitude tinggi dari sinyal inputan menghasilkan lebar
pulsa yang lebar.
PWM O/P

Pada hasil PWM O/P menghasilkan sinyal keluaran kotak, dimana


frekuensi dan amplitudonya mengalami peningkatan. Ketika amplitude dari
sinyal informasi semakin besar, maka lebar pulsa akan menjadi lebar, di sisi
lain, ketika amplitude informasi semakin kecil, maka lebar pulsa akan
menjadi sempit

Dimana duty cycle di dapat dengan persamaan

1.7 Kesimpulan
Percobaan PWM ini memanfaatkan lebar pulsa
Adjusting pada VR1 dapat menyesuikan lebar pulsa yang di inginkan
Untuk pemanfaatan motor DC jika pada tegangan rendah lebar pulsanya
melebar maka kecepatan motor rendah, namun jika pada tegangan tinggi
lebar pulsanya melebar maka kecepatan motor tinggi.
Ketika amplitude dari sinyal informasi semakin besar, maka lebar pulsa
akan menjadi lebar, di sisi lain, ketika amplitude informasi semakin kecil,
maka lebar pulsa akan menjadi sempit
PRAKTIKUM 2

PWM DEMODULATION

2.1 Tujuan
a. Untuk memahami teori pengoperasian PWD
b. Untuk memahami teori pengoperasian PWM untuk PAM PWD
c. Untuk memahami teori pengoperasian PWM untuk PWM PWD
d. Untuk mengimplementasikan produk pendeteksi PWD

2.2 Alat dan Bahan


No Alat dan Bahan Jumlah
1. Power Supply 1 buah
2. Generator Fungsi 1 buah
3. Osiloskop Digital 1 buah
4. Modul PWM 1 buah
5. Jumper Secukupnya
6. Banana to banana 3 buah
7. BNC to alligator 2 buah

2.3 Teori Dasar


Dalam bab 3, kita menggunakan osilator gelombang persegi dan
monostablemultivibrator untuk menghasilkan sinyal PWM. sinyal termodulasi ini
digunakan untuk mengirimkan data digital dan analog. Amplitudo sinyal PWM
mempertahankan konstan, tetapi lebar pulsa akan divariasikan dengan amplitudo
sinyal input audio. Bab ini terutama memperkenalkan metode demodulasi sinyal
PWM dan sinyal PWM yang dihasilkan adalah sesuai dengan
monostablemultivibrator dalam bab 3.
Ada banyak jenis lebar pulsa demodulator, kami akan memperkenalkan
demodulasi PWM umum di bab ini. Tipe pertama adalah membiarkan sinyal
dikonversi ke PAM (pulsa modulasi amplitudo) sinyal, kemudian melalui filter
low-pass dan demodulasi. Jika ada tiga PWM berturut-turut pulsesclose satu sama
lain seperti yang ditunjukkan pada gambar 4-1 (a), kemudian masukan pulsa ini ke
dalam integrator dan tegangan rangkaian ambang batas. Ketika pulsa muncul,
maka akan mulai untuk mengintegrasikan dan menghasilkan jalan sampai pulsa
terakhir muncul. Jadi, ketinggian jalan sebanding dengan lebar pulsa, jalan
dipertahankan pada saat puncak maksimum, setelah waktu yang tetap, tegangan
akan kembali ke nol tegangan. Maka akan menghasilkan Vbas sinyal yang
ditunjukkan pada gambar 4-1 (b). demodulator perlu menghasilkan amplitudo
tetap dan lebar sinyal pulsa yang sama, maka jumlah sinyal pulsa ini dengan sinyal
Vbof angka 4-1 (b), akhirnya kita mendapatkan VC sinyal seperti pada gambar 4-
1 (c). Biarkan sinyal VC melewati rangkaian limiter jika sinyal lebih tinggi dari
tegangan referensi VTh. Hasilnya ditunjukkan pada gambar 4-1 (d), yang
merupakan sinyal PAM. Akhirnya membiarkan sinyal PAM melewati low-pass
filter untuk mendapatkan sinyal PWM demodulasi.
Tipe kedua adalah membiarkan sinyal PWM mengkonversi ke PPM (posisi
pulsa modulasi) sinyal, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4-2. Pada gambar
4-2, kita bisa memperoleh sinyal PPM dengan membedakan sinyal PWM. Setelah
itu, maka akan menghasilkan pulsa tepi PPM negatif pada tepi positif dari pulsa
PWM sampai akhir negatif tepi PWM pulsa. Pada saat yang sama, ulang tepi pulsa
positif sampai periode pulsa dihentikan, yang adalah PPM (1) sinyal pada Gambar
4-2. Berikutnya kami menggunakan diode untuk menghilangkan pulsa tepi negatif
dari PPM (1) sinyal, maka kita memperoleh PPM (2) sinyal. Jika kita membiarkan
sinyal ini melewati monostablemultivibrator, yang dapat memberikan bandwidth
tetap dengan sinyal gelombang persegi, maka kita dapat memperoleh sinyal PPM
khas seperti yang ditunjukkan dalam PPM (3) pada Gambar 4-2. Akhirnya,
membiarkan sinyal PPM melewati timer sempit dan R-S flip-flop dengan efek tepi
memicu, maka pada port output, kita dapat memperoleh sinyal PWM
didemodulasi.
Tipe lain dari PWM demodulator adalah detektor produk. Blok diagram dan
sinyal gelombang detektor produk PWM demodulator ditunjukkan pada Gambar
4-3. Jika kita membiarkan sinyal PWM dan pembawa sinyal input ke detektor
produk, di Sementara itu, membiarkan sinyal PWM dan sinyal pembawa menjadi
positif atau negatif secara bersamaan, maka terminal output dari detektor produk
akan menerima sinyal pulsa Va, dan mengirim sinyal Va ke low-pass filter untuk
mendapatkan sinyal PWM didemodulasi.
Gambar 4-4 adalah diagram sirkuit internal dari MC1496. Transistor Q5and
Q6 adalah pembeda. Mereka digunakan untuk mengaktifkan penguat diferensial
ganda, yang dibentuk oleh Q1, Q2, Q3 dan Q4. Q5 dan Q6 juga dapat digunakan
untuk mengontrol kapasitas saat amplifier diferensial ganda. Transistor Q7 dan Q8
adalah sumber arus. Mereka menyediakan arus konstan untuk Q5 dan Q6. Kita bisa
menghubungkan resistor antara pin 2 dan pin 3 untuk mengontrol gain dari seluruh
rangkaian.

Figure 1 Gelombang Sinyal PWM


Figure 2 Gelombang Tersebut Setelah Diproses oleh Integrator dan Ambang Tegangan Rangkaian

Figure 3 Sinyal Keluaran dari Vb dengan Sinyal Pulsa

Figure 4 Gelombang Sinyal PWM

Figure 5 Diagram Jalur PWM ke PPM


Figure 6 Gelombang PWM ke PPM

Figure 7 Blok Diagram dari Sinyal Gelombang dari Hasil Demodulator PWM
PWM sinyal termodulasi diinput melalui pin 1 dan pin 4. sinyal pembawa
diinput melalui pin 8 dan pin 10. Arus bias penguat ditentukan oleh resistor
eksternal, yang biasanya menghubungkan ke basis Q7 dan Q8 di adalah pin 5. Hal
ini karena detektor memiliki dua terminal output (pin 6 dan pin 12), sehingga kita
dapat membiarkan salah satu terminal output menjadi output dari detektor. Maka
output yang lain dapat digunakan sebagai kontrol gain otomatis (AGC).

Figure 8 Diagram Jalur MC1496

Gambar 4-4 adalah diagram sirkuit PWM demodulator dengan


menggunakan detektor produk MC1496, yang sebelumnya diperkenalkan di Bab
3. Ada dua op-amp U1 dan U2 di sirkuit, tujuannya adalah untuk menyesuaikan
tingkat tegangan dari sinyal PWM dan sinyal pembawa sehingga MC1496 dapat
beroperasi dengan baik. Sinyal input yang sebenarnya biasanya antara 300 mVppto
1400 mVpp.If sinyal PWM lebih tinggi dari 300 mVpp, maka detektor produk
beroperasi di daerah linier. R7 digunakan untuk mengontrol gain dari MC1496.
Kapasitor C1, C2, C4, C5and C9 adalah kapasitor kopling, yang digunakan untuk
memblokir sinyal DC dan membiarkan sinyal AC melewatinya. VR1 dan VR2
digunakan untuk mengatur gain dari U1 dan U2. VR3 digunakan untuk changethe
berbagai masukan sinyal PWM. Dalam percobaan ini, sinyal output dari MC1496
adalah sinyal pulsa, biarkan sinyal pulsa ini melewati U4, C11, C12, R11, R12 dan
R13 yang merupakan urutan 2 low-pass filter untuk mendapatkan sinyal PWM
demodulasi.
Gambar 4-5 adalah diagram sirkuit dari produk terdeteksi demodulator
PWM atau sinkron PWM demodulator. Implementasi ini sangat sederhana, yang
hanya perlu pengganda IC dan beberapa dari op-amp. Praktis, sulit untuk
mendapatkan sinyal pembawa sinkron; Oleh karena itu, kita perlu beberapa
rangkaian tambahan sinkron atau fase-terkunci. Gambar 4-1 menunjukkan metode
PWM untuk PAM demodulasi atau disebut asynchronous PWM .Modulator. Sejak
sirkuit ini membutuhkan tidak sinyal sinkron, oleh karena itu, kita dapat
menghemat sirkuit fase-terkunci, ini adalah teknik demodulasi lain.

Figure 9 Diagram jalur Demodulator PWM menggunakan MC1496

2.4.1 Gambar Rangkaian

Figure 10 Diagram Jalur Demodulator PWM


2.4.2 Langkah Percobaan
1. Lihat mencari 4-5 atau mencari DCT4-1 pada GOTT modul DCT-
6000-02.
2. Dalam percobaan ini, sinyal PWM termodulasi diproduksi oleh
modulasi PWM pada gambar 3-8. Pada saat ini, input sinyal amplitudo
terminal audio 1,5 V dan frekuensi input 700 Hz.
3. Pada gambar 3-8, output terminal astabil multivibrator (yaitu, pin 3
dari U1 LM555, uji titik TP3) menghubungkan ke terminal masukan
sinyal pembawa (Carrier I / P).
4. Pada gambar 3-8, terminal output monostable multivibrator (yaitu, pin
3 dari U2 LM555) menghubungkan ke terminal PWM sinyal input
(PWM I / P).
5. Sesuaikan VR1 untuk meminimalkan distorsi sinyal output dari U1
(A741).
6. Sesuaikan VR2 dan VR3 sampai kita mendapatkan sinyal
didemodulasi dengan benar.
7. Dengan menggunakan osiloskop, amati pada sinyal input PWM, sinyal
pembawa, sinyal output U1 (uji titik TP1), keluaran U2 sinyal (uji titik
TP2), sinyal output dari MC1496 pin 10 (uji titik TP3), sinyal output
dari MC1496 pin 1 (uji titik TP4), sinyal output dari MC1496 pin 12
(TP5 titik uji), sinyal input dari low-pass filter (uji titik TP6) dan sinyal
demodulasi PWM (Audio O / P). Akhirnya mencatat hasil yang diukur
dalam tabel 4-1.
8. Rujuk untuk mencari 3-8, mengubah input frekuensi sinyal audio ke
500 Hz dan yang lainnya tetap sama.
9. Ulangi langkah 5 hingga langkah 7 dan mencatat hasil yang diukur
dalam tabel 4-2.
2.5 Hasil Percobaan

Demodulator PWM (Amplitudo 1,5 Vpp dan Frekuensi 500 Hz ) CH1 sinyal informasi CH2
sinyal keluaran
Port Gambar Keterangan

Time/div 50s
Volt/div 5V
Frekuensi 11,44KHz
Amplitude 9Vpp

Sinyal
Carrier

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 500Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 1V
TP 1 Frekuensi 11,38KHz
Amplitude 3,16Vpp
Time/div 500 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 501,5Hz
Amplitude 1,56Vpp

CH2
TP 2 Volt/div 2V
Frekuensi 11,26KHz
Amplitude 3,64Vpp

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 500Hz
Amplitude 1,62Vpp

CH2
Volt/div 2V
TP 3 Frekuensi 11,43KHz
Amplitude 2,8Vpp

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 499,5Hz
Amplitude 1,56Vpp

CH2
Volt/div 2V
TP 4 Frekuensi 4,231KHz
Amplitude 3,6Vpp
Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 500Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 2V
TP 5 Frekuensi 28,48KHz
Amplitude 5,04Vpp

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 500Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 1V
TP 6 Frekuensi 500,3Hz
Amplitude 2,68Vpp

Time/div 500 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 500Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 500mV
O/P Frekuensi 508,1Hz
PWM Amplitude 1,68Vpp
Demodulator PWM (Amplitudo 1,5 Vpp dan Frekuensi 700 Hz ) CH1 sinyal informasi CH2
sinyal keluaran
Port Gambar Keterangan

Time/div 50s
Volt/div 5V
Frekuensi
11,44KHz
Amplitude 10,2Vpp

Sinyal
Carrier

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 1V
TP 1 Frekuensi
10,96KHz
Amplitude 1,84V
Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
TP 2 Volt/div 2V
Frekuensi
10,94KHz
Amplitude 4,72Vpp

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 2V
TP 3 Frekuensi
10,94KHz
Amplitude 1,92Vpp

Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 2V
TP 4 Frekuensi
10,93KHz
Amplitude 4,64Vpp
Time/div 250 s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 2V
TP 5 Frekuensi
20,59KHz
Amplitude 4,96Vpp

Time/div 500s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 500mV
TP 6 Frekuensi 685,4Hz
Amplitude 1,5Vpp

Time/div 250s

CH1
Volt/div 500mV
Frekuensi 700Hz
Amplitude 1,5Vpp

CH2
Volt/div 1V
O/P Frekuensi 698,3Hz
PWM Amplitude 1,24Vpp
2.6 Analisa Data dan Pembahasan
Sinyal Carrier

Pada demodulasi PWM menggunakan sinyal carrier dari TP3 modulasi


PWM yang memiliki bentuk gelombang kotak.
TP 1

Pada hasil TP1 hasil sinyal carrier telah melewati C1 dimana pada
capasitor hanya melewatkan sinyal AC, kemudian melewati op-amp yang
berguna menguatkan frekuensi inputan dan menyesuaikan tingkat tegangan
dari sinyal carrier. Pada proses ini VR1 di atur agar hasil sinyal keluaran tidak
mengalami distorsi.

TP 2
Pada hasil TP2 hasil sinyal modulasi PWM telah melewati C2 dimana
pada capasitor hanya melewatkan sinyal AC, kemudian melewati op-amp yang
berguna menguatkan frekuensi inputan dan menyesuaikan tingkat tegangan
dari sinyal carrier. Pada proses ini VR2 di atur agar hasil sinyal keluaran tidak
mengalami distorsi.

TP 3

Pada hasil TP3 bentuk sinyal kotak namun tidak flat(datar). Sinyal dari
TP1 merupakan sinyal AC karena telah melewati C4. Sinyal ini berfungsi
sebagai inputan carrier pada IC MC1496.

TP 4

Pada hasil TP4 ini bentuk sinyalnya kotak dan telah melewati C5
sengga menghasilkan sinyal AC. Pada TP4 ini telah dipengaruhi oleh VR3
yang berfungsi untuk merubah-ubah sinyal inputan untuk IC MC1496.
TP 5

Pada TP5 ini mulai terlihat tinggi amplitudonya karena sinyal ini hasil
keluaran dari IC MC1496. Arus bias penguat ditentukan oleh R7. Hal ini karena
detektor memiliki dua terminal output, sehingga kita dapat membiarkan salah satu
terminal output menjadi output dari detektor. Maka output yang lain dapat
digunakan sebagai kontrol gain otomatis (AGC).

TP 6

Pada hasil TP6 bentuk sinyal mulai membentuk sinusoida namun masi
memiliki noise. Sinyal ini telah melewati LPF(Low Pass Filter) dimana
tersusun dari komponen kapasitor dan resistor, sehingga mengakibatkan
pelemahan pada frekuensi.
O/P PWM

Pada hasil keluaran sinyal demodulasi PWM mulai terlihat, bentuk


sinyal demodulasi sama dengan informasi, namun amplitodonya lebih rendah
karena telah melewati banyak proses dan fasanya sedikit bergeser kita-kira
sebesar 20.

2.7 Kesimpulan
Proses demodulasi adalah mengembalikan hasil sinyal modulasi menjadi
seperti sinya informasi dengan cara memisahkan dari sinyal carriernya
Pada hasil demodulasi PWM hasilnya sama dengan sinyal informasi namun
amplitudonya mengalami pelemahan dan fasanya sedikit bergeser kira-kira
sebesar 20