Anda di halaman 1dari 27

Puteri Mentari

1112012025
DAKWAH SEMESTER 6
GENERASI ISLAMI
Pembuka

Segala puji hanya milik Allah Rabb alam semesta, kepada Allah kita memohon
pertolongan atas segala urusan dunia dan agama, shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah atas sebaik-baik Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW, dan atas
semua keluarganya, para shahabatnya, para tabi`in, dan semua yang mengikuti
mereka dengan baik sampai hari pembalasan. Wa bad.
Isi
Pemuda islam hari ini adalah gambaran masa depan islam. Apabila baik
pemudanya maka akan baik pula islam di dalamnya. pemuda islam merupakan
tumpuan umat. oleh karena itu existensinya sangat diperlukan di masyarakat.
Maka apakah kamu mengira, bahwa kami menciptakan kamu main-main
(saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami QS. al-
Muminuun:115
Menurut Hasan Al-Banna, perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali
dengan perbaikan individu, yang dalam hal ini adalah pemuda. Perbaikan
individu (pemuda) tidak akan sukses kecuali dengan perbaikan jiwa.

Perbaikan jiwa tidak akan berhasil kecuali dengan pendidikan dan pembinaan.
Yang dimaksud dengan pembinaan adalah membangun dan mengisi akal dengan
ilmu yang berguna, mengarahkan hati lewat doa, serta memompa dan
menggiatkan jiwa lewat instropeksi diri. Dr. Syakir Ali Salim AD berpendapat,
pemuda Islam merupakan tumpuan umat, penerus dan penyempurna misi
risalah Ilahiah. Perbaikan pemuda berarti adalah perbaikan umat. Oleh karena
itu, eksistensinya sangat menentukan di dalam masyarakat. Beberapa ulama
menggolongkan peranan pemuda Islam seperti di bawah ini :
1. Pemuda sebagai Generasi Penerus Dan orang-orang yang beriman, dan yang
anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak
cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala
amal mereka. (QS. Ath-Thur : 21)
2. Pemuda sebagai Generasi Pengganti Hai orang-orang yang beriman, barang siapa
di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan
suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya (QS. Al-
Maidah : 54)
3. Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu (Reformer) Ingatlah ketika ia
(Ibrahim-pen) berkata kepada bapaknya : wahai bapakku, mengapa kamu
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat
menolong sedikitpun (QS. Maryam : 42) Perbedaan jarak dan waktu bukan alasan
bagi kita untuk menjadi generasi yang lemah. Contoh saja Yahya Ayyash, Imad Aqil,
Izzudin Al Qasam, dan pemuda-pemuda Palestina lainnya, berkat ketangguhan,
kesungguhan dan kedekatannya dengan Allah menjadikan mereka seorang mujahid
muda Begitu juga dengan pemuda lainnya di berbagai tempat dan zaman. Pemuda
Harapan Islam Al-Quran banyak mengisahkan perjuangan para Nabi dan Rasul
a.s yang kesemuanya adalah orang-orang terpilih daripada kalangan pemuda
yang berusia sekitar empat puluhan. Bahkan ada diantara mereka yang telah diberi
kemampuan untuk berdepat dan berdialog sebelum umurnya genab 18 tahun.
Berkata Ibnu Abbas r.a. Tak ada seorang nabi pun yang diutus Allah,
melainkan ia dipilih di kalangan pemuda sahaja (yakni 30-40 tahun). Begitu
pula tidak seorang Alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari
kalangan pemuda. Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah swt: Mereka
berkata: Kami dengan ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang
bernama Ibrahim: Qs. Al Anbiyaa:60, Tafsir Ibnu Katsir III/183). Tentang Nabi
Ibrahim, Al-Quran lebih jauh menceritakan bahawa beliau telah berdebat dengan
kaumnya, menentang peribadatan mereka kepada patung-patung. Saat itu beliau
belum dewasa. Sebagaimana firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah
memberikan kepada Ibrahim kepandaian sejak dahulu (sebelum mencapai remajanya)
dan Kami lenal kemahirannya. Ketika dia berkata:Sungguh kalian dan bapak-bapak
kalian dalam kesesatan yang nyata. Mereka menjawab: Apakah engkau membawa
kebenaran kepada kami, ataukah engkau seorang yang bermain-main sahaja? Dia
berkata: Tidak! Tuhan kamu adalah yang memiliki langit dan bumi yang diciptakan
oleh-Nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang
demikian itu. Qs. Al Anbiyaa:51-56. Perlu ditekankan bahawa para Nabi a.s itu
hanya diutus untuk mengubah keadaan, sehingga setiap Nabi yang diutus adalah
orang-orang terpilih dan hanya daripada kalangan pemuda (syabab) sahaja. Bahkan
kebanyakan daripada pengikut mereka daripada kalangan pemuda juga (meskipun
begitu ada juga pengikut mereka itu terdiri daripada mereka yang sudah tua dan juga
yang masih kanak-kanak. Ashabul Kahfi, yang tergolong sebagai pengikut nabi Isa
a.s adalah sekelompok adalah sekelompok anak-anak muda yang usianya masih muda
lagi yang mana mereka telah menolak untuk kembali keagama nenek moyang mereka
yakni menyembah selain Allah. Disebabkan bilangan mereka yang sedikit (hanya
tujuh orang), mereka telah bermuafakat untuk mengasingkan diri daripada masyarakat
dan berlindung di dalam sebuah gua. Fakta ini diperkuatkan oleh Al-Quran di dalam
surah Al-Kahfi ayat 9-26, diantaranya: (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu
mencari tempat perlindungan (gua) lalu berdoa: Wahai uhan kami berikanlah rahmat
depada kami dari sisi-Mu dan tolonglah kami dalam menempuh langkah yang tepat
dalam urusan kami (ini) (10)Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad
saw) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang
beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta) dan Kami beri mereka tambahan
pimpinan (iman, taqwa, ketetapan hati dan sebagainya) (13). Junjungan kita Nabi
Muhammad saw diangkat menjadi Rasul tatkala baginda berumur 40 tahun. Pengikut-
pengikut baginda pada generasi pertama kebanyakannya juga daripada kalangan
pemuda, bahkan ada yang masih kecil. Usia para pemuda Islam yang dibina pertama
kali oleh Rasulullah saw di Daarul Arqaam pada tahap pembinaan, adalah sebagai
berikut: yang paling muda adalah 8 tahun, iaitu Ali bin Abi Thalib dan Az-Zubair bin
Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun, Al Arqaam bin Abil Arqaam 12 tahun,
Abdullah bin Mazhun berusia 17 tahun, Jafar bin Abi Thalib 18 tahun, Qudaamah
bin Abi Mazhun berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia
dibawah 20 tahun, Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mushab bin Umair dan Al Miqdad
bin al Aswad berusia 24 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Umar bin al Khathab
26 tahun, Abu Ubaidah Ibnuk Jarrah dan Utbah bin Rabiah, Amir bin Rabiah,
Nuaim bin Abdillah, Usman bin Mazhun, Abu Salamah, Abdurrahman bin Auf
dimana kesemuanya sekitar 30 tahun, Ammar bin Yasir diantara 30-40 tahun, Abu
Bakar Ash Shiddiq 37 tahun. Hamzah bin Abdul Muththalib 42 tahun dan Ubaidah
bin Al Harith yang paling tua diantara mereka yaitu 50 tahun. Malah ratusan ribu lagi
para pejuang Islam yang terdiri daripada golongan pemuda. Mereka
memperjuangkan dakwah Islam, menjadi pembawa panji-panji Islam, serta
merekalah yang akan kedepan menjadi benteng pertahanan ataupun serangan
bagi bala tentera Islam dimasa nabi ataupun sesudah itu. Mereka secara
keseluruhannya adalah daripada kalangan pemuda, bahkan ada diantara
mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa. Terdapat satu peristiwa
yang sangat menarik untuk renungan para pemuda di zaman ini. Peristiwa ini
selengkapnnya diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf: Selagi aku berdiri di dalam
barisan perang Badar, aku melihat kekanan dan kekiri ku. Saat itu tampaklah olehku
dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat
daripada mereka. Tiba-tiba salah seorang daripada mereka menekanku sambil berkata:
Wahai pakcik apakah engkau mengenal Abu Jahal ? Aku menjawab: Ya, apakah
keperluanmu padanya, wahai anak saudara ku ? Dia menjawab: Ada seorang
memberitahuku bahawa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah saw. Demi (Allah)
yang jiwaku ada ditangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah tak kan kulepaskan
dia sampai siapa yang terlebih dulu mati antara aku dengan dia! Berkata
Abdurrahman bin Auf: Aku merasa hairan ketika mendengarkan ucapan anak muda
itu. Kemudian anak muda yang satu lagi menekan ku pula dan berkata seperti
temannya tadi. Tidak lama berselang daripada itu aku pun melihat Abu Jahal mundar
dan mandir di dalam barisannya, maka segera aku khabarkan (kepada dua anak muda
itu): Itulah orang yang sedang kalian cari. Keduanya langsung menyerang Abu
Jahal, menikamnya denga pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri
Rasulullah saw(dengan rasa bangga) melaporkkan kejadian itu. Rasulullah berkata:
Siapa di anara kalian yang menewaskannya? Masing-masing menjawab: sayalah
yang membunuhnya. Lalu Rasulullah bertanya lagi: Apakah kalian sudah
membersihkan mata pedang kalian? Belum jawab mereka serentak. Rasulullah pun
kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: Kamu berdua telah
membunhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senajta yang dipakai Abu Jahal(boleh)
dimiliki Muadz bin al Jamuh. (Berkata perawi hadits ini): Kedua pemuda itu adalah
Muadz bin afra dan Muadz bin Amru bin Al Jamuh (Lihat Musnad Imam Ahmad
I/193 . Sahih bukhari Hadits nomor 3141 dan Sahih Muslim hadits nombor 1752.
Pemuda seperti itulah yang sanggup memikul beban dakwah serta menghadapi
berbagai cobaan dengan penuh kesabaran. Allah SWT berfirman: Tetapi Rasul dan
orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan diri
mereka. Jadi Islamlah yang berhak memimpin dunia ini seperti dulu pernah tejadi.
Rasulullah SAW bersabda: Perkara ini (iaitu Islam) akan merebak ke segenap
penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu
rumahpun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga
dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang
dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran. (HR ibnuHibban no.
1631-1632)
Inilah misi dan tanggung jawab generasi Islam di masa kini, iaitu mengembang
dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin untuk
menghidupkan Islam kembali. Hanya pemuda-pemuda Islamlah yang mampu
mensukseskan rencana tersebut. Banyak di antar pemuda sekarang yang telah
bangkit, sedar dan bangun dari tidurnya bahawa Islamlah satu-satunya
pandangan hidup mereka. Timbul dorongan besar dalam diri mereka untuk
memperjuangkan islam, bersama gerakan-gerakan Islam yang saat ini sudah
ada di seluruh dunia Islam yang jumlahnya sudah mencapai ratusan dan
anggotanya kebanyakan adalah dari kalangan pemuda. Inilah masa kebangkitan
pemuda Islam. Persatuan dunia Islam dan tegaknya kembali panji Laa Ilaha
Illallaah MuhammadurRasululllah ada di hadapan mereka
_____________________________________________________________________
Islam dan Semangat Berkarya
Seluruh agama dapat dikatakan sangat menekankan sikap disiplin, prestasi, dan jiwa
karsa setiap penganutnya. Bahkan, sikap disiplin, misalnya, menjadi bagian integral
dari keabsahaan ibadah-ibadah keagamaan yang pada gilirannya merupakan pilar dari
agama itu sendiri. Dengan kata lain, tanpa pemenuhan disiplin yang telah ditetapkan
dan hukum-hukum agama, maka ibadah yang dikerjakan setiap pemeluk agama
menjadi tidak sah bahkan sia-sia. Dalam Islam, masalah disiplin, etos kerja, motivasi,
dan prestasi menduduki peranan yang sangat penting.
Sebagaimana dikemukakan di atas, disiplin sangat di tekankan dalam ajaran Islam.
Dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama disiplin. Hampir seluruh ibadah
dalam ajaran Islam mengandung unsur pengajaran dan latihan disiplin. Begitu
juga dengan disiplin spiritual yang mendidik dan melatih batin (innerself) merupakan
salah satu inti dari Islam. Disiplin ruhani ini membebaskan manusia dari
penghambaan kepada dirinya sendiri yang bersumber dari hawa nafsu yang
cenderung tidak terkendalikan terhadap godaan kehidupan manusia.
Sebaliknya, ia menamakan dalam dirinya hasrat dan cinta hanya kepada
Tuhannya. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam al-Quran [6]: 162,
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, dan matiku hanya untuk Alloh
Tuhan semesta alam.
S elanjutnya adalah disiplin moral. Konsep Islam tentang moralitas berdasarkan pada
konsep tauhid. Dalam konsepsi dan ajaran tauhid, Alloh Yang Mahatunggal adalah
Pencipta, Tuhan sekalian alam. Tuhan adalah sumber sekaligus tujuan kehidupan
karena prinsip moral Islam berdasarkan pada wahyu Alloh, maka mereka bersifat
permanen. Oleh karena itu, Islam memilikik standar moralitas dengan
karekternya yang khas. Islam tidak hanya mengajarkan ukuran moral, tetapi
juga memberikan kesempatan kepada potensi yang dimiliki manusia untuk itu
menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Potensi yang dimiliki manusia,
yang dapat membantunya dalam memahami dan membenarkan norma moral Islam
yang bersumbar dari wahyu Alloh itu termasuk akal dan kalbu (hati nurani).
Islam juga memberikan perhatian dan penekanan yang kuat kepada etos kerja
(work ethics). Bahkan, dapat dikatakan Islam adalah agama yang menjunjung
tinggi semangat bekerja keras. Dalam Islam setiap manusia di berikan kebebasan
berusaha dan bekerja untuk kepentingan hidupnya dengan sebaik-baiknya. Akan
tetapi, disamping menekankan hak dan kebebasan individ, Islam juga sangat
menjunjung tinggi semangat kebersamaan (jamaah). Inilah kelebihan nilai-nilai
yang terkandung dalam ajaran Islam.
kekuatan Pemuda: Kesediaan untuk Belajar
Pemuda adalah aset bangsa yang tidak tergantikan. Keberadaannya indikasinya
adanya penerus terhadap keberlangsungan kehidupan selanjutnya. Akan tetapi, apakah
semua pemuda dapat di jadikan tumpuan dalam mewujudkan kemajuan dan
kesejahteraan rakyat dan bangsa? Tentu kita akan menjawab tidak sebab ada juga
pemuda yang justru menjadi duri dalam daging perjuangan menegakkan keadilan dan
kedamaian.
Untuk menemukan pemuda yang bisa diandalkan, elemen yang bisa digunakan adalah
melalui media pendidikan. Melalui pendidikan yang benar akan lahir generasi
muda yan bisa menjadi pahlawan bagi rakyat dan bangsanya dikemudian hari.
Akan tetapi, yang diperlukan oleh seorang pemuda adalah kemauan untuk terus
bel;ajar dan berkarya, bukan hanya menunggu, bersikap pasif, dan berkhayal.
Pemuda Islam yang berjiwa besar tidak pernah mempersoalkan secara
berlebihan masalah peluang sejarah. Bagi mereka, kematangan pribadi adalah
seperti modal dalam investasi. Seperti apapun baiknya peluang, hal itu tidak akan
berguna kalau tidak memiliki modal. Peluang sejarah adalah ledakan keharmonisan
dari kematangan yang terabaika. Seperti keharmonisan antara pedang dan keberanian
dalam medan perang, antara kecerdasan dan pendidikan formal dalam dunia ilmu
pengetahuan. Akan tetapi, jika kita harus memilih salah satunya, maka yang harus kita
pilih adalah keberanian tanpa pedang dalam perang, atau kecerdasan tanpa pendidikan
formal dalam wilayah ilmu.
Kesadaran semacam ini mempunyai dampak karakter yang sangat mendasar. Inilah
yang harus dilakukan oleh generasi muda Islam. Komitmen mereka untuk meniti jalan
terjal perjuangan membebaskan manusia dari keterbelakangan adalah syarat untuk
menjadi seorang pahlawan. Oleh karena itu pahlawan mukmin sejati bukanlah
pemimpi disidang bolong atau orang brerdosa dalam kebohongan dan ketidak
berdayaan. Mereka adalah petani yang berdoa ditengah sawah, pedagang yang berdoa
di pasar, petarung yang berdoa ditengah pecamuk perang. Sekali-sekali mereka
menatap langit untuk menyegarkan ingatan pada misi mereka. Mereka menyeka
keringat dan bekerja kembali.
Peran Pemuda dalam Mewujudkan Pendidikan Islam yang Revolusioner
Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Alloh untuk merangsang
munculnya semangat perubahan sekaligus nurani kepahlawanan dalam diri manusia.
Orang-orang yang tidak memiliki nurani akan melihat tantangan sebagai beban berat,
mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak
terhormat. bagi orang yang mempunyai nurani kepahlawanan akan mengatakan
kepada tantangan tersebut: Ini untuk ku.
Pemuda Islam akan selalu berjuang untuk menjadikan tantangan sebagi
motifasi demi kesejahteraan umat manusia. Dalam beragama mereka tidak
memahaminya sebagai ritual belaka, melainkan sebuah kerja, sebuah aksi
nyata. Tidak sedikit yang memahami agama merupakan ritual belaka, para
digma harus segera di ubah karena agama tidak seperti itu. Abdul Malik
Utsman dari CRSe (community for Religion and Social Engineering) Yogyakart,
mengutip gagasan John D. Caputo, seorang intelektual yang berusaha
memaknai agama dan kereligiusan dengan cara yang baru. Menurutnya, agama
adalah cinta-kasih, dan kebijakan merupakan hal inti yang niscaya ada dalam
agama sehingga seorang yang religius adalah orang yang memiliki sekaligus
mengamalkan sikap ini. Korupsi, illegal logging, penjualan manusia, menaikan
harga BBM, disaat banyak karya kecil terhimpit banyak kesusahan, merupakan
beberapa ciri tidak adanya cinta-kasih dan kebajikan.
Moral Force atu gerakan moral cenderung jalan di tempat dan kurang greget karena
gerakan ini hamnya berkutap pada permasalahan yang normatif. Dengan demikian,
untuk menambah daya gedornya adalh dengan membingkai gerakan moral dan
gerakan spiritual atau spiritual force menjadi satu kesatuan yang padu. Agama juga
bukan dogma, lembaga, dan heararki kepemimpinan yang terkesan formal dan kaku.
Agama adalah formasi antara saleh indifidu dan saleh sosial. Formulasi dua sikap ini
akan mengejawantah dan menjadikan para pemeluk agama berpandangan sufistik-
transformatif, yang tercermin dalam perilakunya sehari-hari.
ketika agama hanya diprediksikan denganketaatan ritual-simbolis saja, implikasinya
adalah moral, mental, dan jiwa pemeluk agama akan beku dan kering. Agama harus di
pahami dengan segala bentuk keuniversalannya dan nilai yang dikandungnya.
Manakala pemahaman terhadap agama seperti ini, jiwa kemanisiaan pemeluknya akan
berusaha memahami ajaran agamanya dan mengaktualisasikan dalam alam nyata.
Mereka tidak hanya mempraktikan ketaatan ritualistik, tetapi juga bersemangat untuk
melakukan transformasi kebaikan dalam kehidupannya.
Perlu diketahui bahwa berbagai konflik yang terjadi akhir-akhir ini, bukanlah karena
faktor doktrinal melainkan problem yang bersifat praksis, yaitu problem kemanusiaan,
seperti konflik sosial, kekuasaan, kemiskinan, ketidak adilan, perlakuan yang otoriter,
pengekangan, dan diskriminasi. Pada konteks inni, gerakan moral saja tidak cukup
sehingga diperlukan gerakan spiritual. Oleh karena itu, berbagai sikap di atas seoalh
sudah menjadi kebiasaan dan menjadi idiologi kebanyakan masyarakat di negeri ini,
baik yang dilakukan oleh rakyat, ataupun yang dilakukan oleh mereka yang
mempunyai kekuasaan.
Agama merupakan pranata untuk menyempurnakan kemanusiaan manusia,
dan pada waktu yang bersamaan berfungsi untuk mengangkat harkat dan
derajat manusia. Dengan demikian, pemahaman yang komperhensif terhadap
agama akan mampu membangun moral force yang tangguh dan compatible,
sebagai salah satu syarat membangun bangsa yang telah sekian lama di himpit
dan terjerumus dalam kemunduran.
Untuk membangun bangsa menuju kepada kemajuan dan kejayaan, tidak hanya
menitik beratkan pada pembangunan fisik, tetapi ada yang lebih penting untuk di
bangun, yaitu pembangunan kristal nilai dan rasa yang terdapat pada wilayah yang
transenden. pendekatannya menggunakan pendekatan yang berorientasi pada wilayah
spiritual.
Moral force selama ini cenderung bergumel pada tataran wacana sehingga kekerasan
erosentrisme-imperialistik mulai mendapatkan tempatnya, meski dengan merambat
namun pasti. Salah satu alat pencegahan kekerasan tersebut adalah dengan
pemahaman yang serta pengamalan terhadap ajaran agama. Formulasi tersebut akan
menjadikan agama sebagai barometer dalam berperilaku dan menjelma menjadi
kearifan intertekstual. Hal ini menjadikan para pemeluk agama mampu
mengeksplorasi makna transformatif dan universal yang terkandung dalam agama
sebagai pijakan tidak dalam menjalani kehidupan dinegara dengan multi-etnis, multi-
agama, dan multi-kepentingan ini. kemudian, kita pun menjadi salah satu aktor
penting kemajuan negara ini, menjadi negara yang beradab, damai, dan berbudaya.
Dengan peradigma seperti ini, kita (pemuda) akan bisa berperan aktif dalam
menyusun kerangka terbaik untuk dunia pendidikan Islam di negara ini, yang
selama ini belum mampu mengentaskan rakyat dari tabir keterbelakangan
pemuda seperti ini akan mampu melakukan revormasi dan menciptakan
formulasi baru terhadap pendidikan Islam, dan menjadikannya sebagai jalan
merengkuh pencerahan hidup dan kehidupan.
_____________________________________________________________________
Dalam kitab Muhammad Al-Matsalul Kamil karya Ahmad Jad Maula Bey
dikemukakan ada sembilan macam akhlak Rasulullah yang perlu diteladani oleh
ummatnya.
1. Mengharap Ridha Allah
Segala amal dan tindakan Nabi itu murni mencari dan mengharapkan ridha Allah
semata-mata. Beliau hanya takut dan tunduk kepada Allah. Dalam menyampaikan
ajaran-Nya dan menegakan kebenaran beliau tidak takut dibenci orang, bahkan beliau
rela menghadapi resiko. Oleh karenake teguhan itu maka beliau jauh dari kebiasaan
menjilat kekanan, kekiri, menyanjung ke atas maupun ke bawah serta tidak pula mau
disanjung.
2. Berkata Benar dan Menjauhi Kepalsuan
Di samping menjaga perkataan yang benar dan ucapan-ucapan yang palsu, beliau
tidak segan-segan mengemukakan kebenaran walau dirasakan pahit akibatnya. Nabi
tidak suka bahkan tidak mau menyembunyikan sesuatu yang perlu dijelaskan dan
ditegaskan, apalagi membungkus hal-hal yang buruk. Rasulullah menjaga komitmen
pada firman Allah:
Janganlah menyembunyikan kesaksian (keterangan, kenyataan). Barangsiapa
yang menyembunyikan kesaksiannya. Sesungguhnya hatinya dibalut dengan
dosa. (QS. Al-Baqarah: 283)
Bertindak Lurus dan Benci pada Kebohongan

Rasulullah SAW adalah merupakan pribadi yang lurus dan jujur. Sifat lurus itu
menjadi salah satu akhlak beliau yang menonjol semenjak masih kanak-kanak.
Karena kejujuran dan kelurusannya inilah maka ia dihormati dan disegani tidak hanya
oleh kawan melainkan juga oleh lawannya. Beliau amat membenci orang-orang yang
berbohong dan memiliki sifat hypokrit (munafik). Apa yang beliau perbuat tersebut
adalah dalam rangka mengamalkan firman Allah:
Bertaqwalah kepada Allah dan ucapkanlah selalu perkataan yang betul. Tuhan
nanti akan memperbaiki amal-amal kamu dan mengampuni dosa-dosamu. (QS.
Al-Ahzab 70-71)
Membela dan Memperjuangkan Agama
Akhlak Rasulullah SAW senantiasa membela dan memperjuangkan agama. Dan
beliau merasa bangga kepada para sahabat-sahabat dan generasi penerusnya yang
mempunyai kepedulian untuk membela agama guna mewarisi perjuangannya. Beliau
senantiasa mengibur para sahabat yang diambang keputusasaan dalam berjuang
dengan janji Allah pada kehidupan akhirat. Seperti:
Jangan engkau kira bahwa orang yang mati karena membela agama Allah itu
mati melainkan mereka hidup di sisi Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya
akan tetapi banyak orang yang tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah: 154)
6. Menegakkan Usaha yang Halal
Makanan adalah merupakan sumber energi manusia. Manakala yang dikonsumsi
adalah makan yang halal dan thoyyibah, maka akan melahirkan manusia-manusia
yang berjiwa lurus dan bersih. Apabila sebaliknya maka juga akan melahirkan
manusia-manusia yang memiliki sifat-sifat yang tidak terpuji. Karena itulah beliau
mencontohkan kehidupan yang halal. Beliau bertahan hidup menderita daripada
memakan makanan yang diperoleh dengan cara yang curang. Akhlak ini didasarkan
pada firman Allah:
Makanlah rezeki yang Kami berikan kepadamu yang baik, dan besyukurlah
kepada Allah, jika memang hanya Dia saja yang kamu sembah. (QS. Al-
Baqarah: 172)
7. Mensyukuri Nikmat Allah
Apa saja yang dianugerahkan oleh Allah apapun bentuknya, seberapapun jumlahnya
itulah yang terbaik bagi kita. Ridha atas pemberian Allah dan memanfaatkannya untuk
kebaikan itulah hakekatnya syukur. Apabila pola hidup yang dicontohkan oleh
Rasulullah ini benar-benar dipedomani Insya Allah akan lahirlah manusia-manusia
yang bersahaja. Jadilah orang yang selalu bersyukur karena Allahakan memberi lebih
banyak dikemudian hari. Sebaliknya jangan ingkari nikmat Allah karena siksaan Allah
itu amat dahsyat.
8. Lapang Dada
Firman Allah dalam surat Al-Hasyr di ayat 9 dijelaskan:
Mereka mengutamakan kawannya lebih dari mereka sendiri meskipun mereka dalam
kesulitan.
Perintah Allah tersebut benar-benar diamalkan oleh Nabi SAW. Beliau tidak iri hati
tatkala melihat orang lain mendapat lebih, dan beliau begitu peduli tatkala melihat
orang lain bersedih. Sikap lapang dada itu membentuk semangat optimis,
menghilangkan sifat lemah, murung, kecil hati dan sifat-sifat buruk lainnya. Manusia
yang lapang dadanya akansenantiasa memberikan kemudahan terhadap orang lain
serta memberi rasa senang atas prestasi kerja orang lain walau sekecil apapun.
9. Sabar terhadap Musibah dan Ridha Menerima Takdir
Hidup manusia di dunia ini akan senantiasa diliputi oleh senang dan susah, sehat dan
sakit yang datang silih berganti dan itu merupakan dinamika kehidupan yang tidak
dapat dihindari. Nabi SAW yang merupakan figur yang amat mencintai dan Allah-pun
mencintainya ternyata hidupnya penuh dengan ujian semenjak masih kanak-kanak.
Namun semua itu diterimanya dengan tabah dan kesabaran yang sempurna. Berkat
kesabaran itulah beliau menerima bintang penghargaan Allah dengan gelar Ulul Azmi.
Ciri orang sabar itu antara lain adalah apabila mereka tertimpa musibah dia berkata:
Sesungguhnya semua itu datang dari Allah dan kepada Allah-lah akan
berpulang kembali. (QS. Al-Baqarah: 155)
Demikianlah sembilan Akhlaqul Karimah yang dicontohkan Rasulullah SAW, apabila
segenap kaum muslimin yang mengaku sebagai pengikut Muhammad mau
mengambilnya Insya Allah akan muncul tatanan hidup dan kehidupan yang adil dan
makmur dalam ridha Allah SWT.
Kesimpulan
1. Banyaknya orang yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad SAW tapi mereka
tidak meneladani akhlaknya
2. Ummat Islam masih banyak yang mencintai Nabi hanya dalam bentuk sanjungan
dan pujian terhadap beliau, akan tetapi tidak beramal sesuai dengan apa yang
diamalkan oleh Nabi SAW
3. Ummat Islam banyak yang terbius oleh pemikiran filsafat para ilmuwan yang
sekuler dibandingkan pemikiran yang ditawarkan oleh Nabi SAW dan pemikiran-
pemikiran Islam pewaris Nabi
4. Ummat Islam belum mampu keluar untuk membebaskan diri dari jeratan tradisi
adat kebiasaan sehingga adat kebiasaan lebih dahulu diperjuangkan daripada syariat
agama.
Akhirnya penulis menghimbau dan mengajak kepada segenap pembaca, marilah
dalam suasana peringatan Maulid Nabi SAW 1432 H ini kita tidak hanya
menonjolkan acara-acara yang bersifat seremonial saja. Melainkan mari kita
bangkitkan semangat untuk menegakkan dan menghidupkan Sunnah Nabi SAW sebab
yang ini lebih besar pahalanya. Nabi SAW menjelaskan:
Orang yang menegakkan sunnahku pada masa kerusakan ummatku, maka ia akan
mendapatkan pahala seratus kali lipat orang yang mati sahid. (HR. Thabrani)

Kecintaan generasi muda terhadap Alquran dinilai masih kurang.

Menyedihkan sekali keadaannya, ungkap Ketua Yayasan Tahta Arsyika AKBP Tien
Abdullah di acara Kajian Akbar bertemakan Generasi Cinta Alquran, Ahad (22/3).

Tien mengaku memperoleh informasi yang penting mengenai kondisi umat Islam di
Palu, Sulawesi tengah. Menurutnya, berdasarkan riset yang dilakukan rektor salah
satu institut Islam di Palu setahun lalu, terdapat 80 persen anak yang tidak bisa
membaca dan menulis Alquran.
Mengetahui kondisi tersebut, Tien menyatakan sangat prihatin. Apalagi, lanjutnya,
wilayah tersebut merupakan basis agama Islam yang cukup besar di Pulau
Sulawesi.

Menurut Tien, kondisi anak yang semakin tidak mencintai Alquran itu akibat
teknologi. Dia menegaskan, saat ini anak-anak cenderung lebih mencintai gadget
dan media sosial.

Selain itu, menurut Tien, peran orangtua juga mempengaruhi kecintaan anak
terhadap Alquran. Tien juga menyebut televisi sebagai pihak yang telah
membuat pengaruh negatif terhadap anak.

Mereka lebih suka nonton sinetron yang tidak mendidik, main laptop, games,
gadget
_____________________________________________________________________
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah penyebab penyimpangan
dan larinya kebanyakan generasi muda dari nilai-nilai agama ?

Jawaban
Penyimpangan dan larinya kebanyakan generasi muda dari segala yang
berkaitan dengan nilai-nilai agama seperti yang anda sebutkan disebabkan
banyak hal : Yang paling prinsip adalah kurangnya ilmu dan bodohnya mereka
terhadap hakekat Islam dan keindahannya, tidak ada perhatian terhadap Al-
Quran Al-Karim, kurangnya pendidik yang memiliki ilmu dan kemampuan
untuk menjelaskan hakekat Islam kepada generasi muda, menjelaskan segala
tujuan dan kebaikannya secara terperinci yang bakal didapatkan di dunia dan
akhirat.

Ada beberapa penyebab yang lain, seperti lingkungan, radio dan telepon,
rekreasi keluar negeri, dan bergabung dengan kaum pendatang yang memiliki
aqidah yang batil, akhlak yang menyimpang, dan kebodohan yang berlipat
ganda, hingga faktor-faktor lainnya yang menyebabkan mereka lari dari Islam
dan mendorong mereka dalam pengingkaran dan ibahiyah (permisivisme). Pada posisi
ini, banyak generasi muda yang bergabung, hati mereka kosong dari ilmu-ilmu
yang bermanfaat dan aqidah-aqidah yang benar, datangnya keraguan, syubhat,
propaganda-propaganda menyesatkan dan syahwat-syahwat yang menggiurkan.
Akibat dari semua ini adalah yang telah kamu sebutkan dalam pertanyaan
berupa penyimpangan dan larinya kebanyakan pemuda dari segala hal yang
mengandung nilai-nilai Islam. Alangkah indahnya ungkapan dalam pengertian ini.

Hawa nafsu datang kepadaku, sebelum aku mengenalnya. Maka ia mendapatkan hati
yang kosong, lalu menetap (di dalamnya)

Dan yang lebih mantap lebih benar dan lebih indah dari ungkapan itu adalah firman
Allah Subhanahu wa Taala.

Artinya : Terangkan kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya


sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ? Atau
apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu [Al-Furqan : 43-44]

Menurut keyakinan saya, pengobatannya bervariasi menurut jenis penyakitnya, yang


terpenting adalah memberikan perhatian terhadap Al-Quran Al-Karim dan As-
Sunnah An-Nabawiyah, ditambah lagi adanya guru, direktur, pengawas dan metode
yang shalih, melakukan reformasi terhadap berbagai sarana informasi di Negara-
negara Islam, dan membersihkan dari ajakan kepada ibahiyah, akhlak yang tidak
Islami, berbagai macam pengingkaran dan kerusakan yang ada padanya, apabila para
pelaksananya adalah orang-orang yang jujur dalam dakwah Islam, dan memiliki
keinginan dalam mengarahkan rakyat dan generasi muda kepadanya. Di antaranya
adalah memprioritaskan perbaikan lingkungan dan membersihkannya dari berbagai
wabah yang ada padanya.
Termasuk pengobatan juga adalah larangan melancong ke luar negeri kecuali karena
terpaksa. Dan perhatian terhadap organisasi-organisai Islam yang bersih, serta terarah
lewat perantara berbagai sarana informasi, para guru, dai dan para khatib. Aku
memohon kepada Allah agar memberikan nikmat atas hal itu, membimbing para
pemimpin umat Islam, memberikan taufiq kepada mereka untuk memahami dan
berpegang dengan agama, dan melawan sesuatu yang menyalahi dengan jujur, ikhlas,
usaha yang berkesinambungan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar serta Dekat.

[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiah, Jilid V hal, 253-256. Syaikh Ibn Baz]

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pemuda Sebagai Generasi Harapan Islam
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para
pemuda, al-Quran menceritakan tentang potret pemuda ashaabul kahfi sebagai
kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan
mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, sehingga Allah
SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama
309 tahun (QS 18/).
Kisah pemuda ashaabul ukhdud dalam al-Quran juga menceritakan tentang
pemuda yang tegar dalam keimanannya kepada Allah SWT sehingga
menyebabkan banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka
penguasa sehingga ratusan orang dibinasakan dengan diceburkan ke dalam
parit berisi api yang bergejolak (sabab nuzul QS ). Dan masih banyak lagi
contoh-contoh kisah para pemuda lainnya, diantaranya bahwa mayoritas dari
assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada
Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abubakar ra masuk Islam pada usia 32
tahun, Umar ra 35 th, Ali ra 9 th, Utsman ra 30 th, dst).
Sifat-sifat yang menyebabkan para pemuda tersebut dicintai Allah SWT dan
mendapatkan derajat yang tinggi sehingga kisahnya diabadikan dalam al-
Quran dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa, adalah sebagai
berikut :
Karena mereka selalu menyeru pada al-haq (QS 7/181)
Mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (QS
5/54)
Mereka saling melindungi, menegakkan shalat (QS 9/71) tidak
sebagaimana para pemuda yang menjadi musuh Allah SWT (QS 9/67)
Mereka adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT
(QS 13/20)
Mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban diri dan harta mereka untuk
kepentingan Islam (QS 49/15)
(2): Pemuda Sebagai Generasi Yang Memahami Kondisi Realitas Ummat
Jika kita menyaksikan kondisi mayoritas ummat Islam saat ini, maka terlihat bahwa
sebagian besar ummat berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan, mereka
bagaikan buih terbawa banjir, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Jika
dilakukan analisis secara mendalam dari sudut pandang agama, maka akan terlihat
bahwa realitas ummat yang demikian disebabkan oleh hal-hal sbb:
Penyakit ummat Islam saat ini (baik di Indonesia maupun di berbagai negara Islam)
berpangkal pada sikap infirodiyyah (individualisme). Maksudnya adalah bahwa
mayoritas ummat Islam saat ini bekerja sendiri-sendiri dan sibuk dengan masalahnya
masing-masing tanpa berusaha untuk menggalang persatuan dan membuat suatu
bargaining position demi kepentingan ummat. Para ulama dan muballigh sibuk
bertabligh, para pengusaha muslim sibuk dengan usahanya dan para pejabatnya sibuk
mempertahankan jabatannya, tidak ada koordinasi dan spesialisasi untuk bekerja
sesuai dengan bidangnya kemudian hasilnya dimusyawarahkan untuk kepentingan
bersama. Demikian pula di tingkat ORMAS dan ORPOL, masing-masing bekerja
sendiri tidak ada kerjasama satu dengan lainnya. Hal inilah yang menyebabkan jurang
pemisah antara masing-masing kelompok semakin besar.
Secara kejiwaan beberapa penyakit yang memperparah kondisi ummat Islam saat ini
diantaranya adalah:
1. Emosional, artinya bahwa ikatan keislaman mayoritas ummat saat ini baru pada
ikatan emosional saja, belum disertai dengan kefahaman yang mendalam akan ajaran
agamanya. Sehingga disiplin untuk bekerja, semangat untuk berdakwah, gairah
berinfak, dsb baru pada taraf emosional, bersifat reaktif dan sesaat saja (QS 22/11).
2. Orientasi kultus. Dalam pelaksanaan ibadah ritual, menjalankan pola hidup sampai
dengan mensikapi berbagai peristiwa kontemporer, mayoritas masyarakat muslim
tidak berpegang kepada dasar (dhawabith) kaidah-kaidah Islam yang jelas, karena
pengetahuan keislaman yang pas-pasan, sehingga lebih memandang kepada pendapat
berbagai tokoh yang dikultuskan. Celakanya para tokoh tersebut kebanyakan
dikultuskan oleh berbagai lembaga yang tidak memiliki kompetensi sama sekali
dalam bidang agama, seperti media massa, sehingga bermunculanlah para ulama
selebriti yang berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan.
3. Sok pintar. Sifat kejiwaan lain yang menonjol pada mayoritas kaum muslimin saat
ini adalah merasa sok pintar dalam hal agama. Jika dalam bidang kedokteran
misalnya, mereka sangat menghargai spesialisasi profesi, sehingga yang memiliki
otoritas untuk berbicara masalah penyakit adalah dokter, demikian seterusnya kaidah
ini berlaku untuk bidang-bidang lainnya, kecuali bidang agama. Dalam bidang agama,
dengan berbekal pengetahuan Islam yang ala kadarnya setiap orang sudah merasa
cukup dan merasa tidak perlu belajar lagi untuk berani berbicara, berpendirian,
bahkan berfatwa. Seolah-olah agama tidak memiliki kaidah-kaidah dan hukum-
hukum yang perlu dipelajari dan dikuasai sehingga seorang layak berbicara dengan
mengatasnamakan Islam.
4. Meremehkan yang lain. Sifat lain yang muncul sebagai kelanjutan dari rasa sok
pintar diatas adalah meremehkan pendapat orang lain. Dengan ringannya seorang
yang baru belajar agama di sebuah universitas di Barat berani menyatakan bahwa
jilbab adalah sekedar simbol saja bukan suatu kewajiban syari, yang dengan fatwa-
prematurnya ini ia telah berani menafsirkan tanpa kaidah atas ayat al-Quran,
mentawil secara bathil hadits-hadits shahih serta membuang sirah nabawiyyah
(perjalanan kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya) dan ijma (kesepakatan) fatwa
para ulama sedunia, baik salaf (terdahulu) maupun khalaf (kontemporer).
Adapun secara aktifitas (amaliyyah) beberapa penyakit yang menimpa mayoritas
ummat Islam saat ini diantaranya adalah :
1. Sembrono. Dalam aspek aktifitas, maka mayoritas ummat melakukan kegiatan
dakwah secara sembrono, tanpa perencanaan dan perhitungan yang matang
sebagaimana yang mereka lakukan jika mereka mengelola suatu usaha. Akibat
aktifitas yang asal jadi ini, maka dampak dari dakwah tersebut kurang atau tidak
terasa bagi ummat. Kegiatan tabligh, ceramah, perayaan hari-hari besar agama yang
dilakukan hanya sekedar menyampaikan, tanpa ada follow up dan reevaluasi terhadap
hasilnya. Khutbah jumat hanya sekedar melaksanakan rutinitas tanpa dilakukan
pembuatan silabi yang berbobot sehingga jamaah sebagian besar datang untuk tidur
daripada mendengarkan isi khutbah. Kegiatan membaca al-Quran hanya terbatas
kepada menikmati keindahan suara pembacanya, tanpa diiringi dengan keinginan
untuk menikmati dan merenungkan isinya, sehingga disamakan dengan menikmati
lagu-lagu dan nyanyian belaka.
2. Parsial. Dalam melaksanakan Islam, mayoritas ummat tidak berusaha untuk
mengamalkan keseluruhan kandungan al-Quran dan as-Sunnah, melainkan lebih
memilih kepada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginannya dan menghindari
hal-hal yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya (QS 2/85). Sehingga seorang sudah
dipandang sebagai muslim sejati, hanya dengan indikator melakukan shalat atau puasa
saja. Padahal shalat hanya bagian yang sangat kecil saja yang menjadi kewajiban
seorang muslim, disamping aturan-aturan lain yang juga wajib dilaksanakan oleh
seorang muslim dalam berekonomi, politik, pergaulan, pola pikir, cita-cita, bekerja,
dsb. Yang kesemuanya tanpa kecuali akan diminta pertanggungjawaban kita di akhirat
kelak (QS 2/208).
3. Tradisional. Islam yang dilaksanakan masih bersifat tradisional, baik dari sisi
sarana maupun muatannya. Dari sisi sarana, kaum muslimin belum mampu
menggunakan media-media modern secara efektif untuk kepentingan dakwah, seperti
ceramah dengan simulasi komputer, VCD film-film yang islami, iklan-iklan yang
sesuai dengan nilai-nilai Islam, kebanyakan masih mengandalkan kepada cara
tradisional seperti ceramah di mesjid, musholla dan di lapangan. Sementara dari sisi
muatannya, maka isi ceramah yang disampaikan kebanyakan masih bersifat fiqih
oriented; masalah-masalah aqidah, ekonomi yang islami, sistem politik yang islami,
apalagi masalah-masalah dunia Islam kontemporer sama sekali belum banyak
disentuh.
4. Tambal-sulam. Dalam menyelesaikan berbagai persoalan ummat, pendekatan yang
dilakukan bersifat tambal sulam dan sama sekali tidak menyentuh esensi
permasalahan yang sebenarnya. Sebagai contoh, mewabahnya AIDS cara
mengatasinya sama sekali bertentangan dengan Islam, yaitu dengan membagi-bagi
kondom. Seolah-olah lupa atau sengaja melupakan bahwa pangkal sebab dari AIDS
adalah melakukan hubungan seks tidak dengan pasangan yang sah. Dan cara
menanggulanginya adalah dengan memperbaiki muatan pendidikan agama yang
diajarkan dari sejak sekolah menengah sampai perguruan tinggi. Demikian pula
masalah2 lainnya seperti tawuran pelajar, meningkatnya angka kriminalitas,
penyalahgunaan Narkoba, menjamurnya KKN ; kesemuanya berpangkal pada satu
sebab yaitu lemahnya pemahaman dan kepedulian pemerintah dalam mengajarkan
dan menerapkan aturan-aturan Islam.

(3): Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Bekerja dan Aktif Berdakwah
Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor
yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktifitas-aktivitas yang
bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan Islam menaruh harapan yang
besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah
Islam. Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan
dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, diantaranya adalah bahwa
mereka relatif masih bersih dari pencemaran (baik aqidah maupun pemikiran), mereka
memiliki semangat yang kuat dan kemampuan mobilitas yang tinggi.
Para musuh Islam sangat menyadari akan hal tersebut, sehingga mereka berusaha
sekuat tenaga untuk mematikan potensi yang besar tersebut dari awalnya dan
menghancurkan para pemuda dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai
dan melalaikan), dan bahkan destruktif.
Pemuda yang baik oleh karenanya adalah pemuda yang memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1. Mereka beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang
benar
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri? (QS Haa Miim [41]: 33)
2. Mereka selalu bekerja membangun masyarakat
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan
baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik
perbuatannya. (QS Al Kahfi [18]: 7)
3. Dan mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling
bermanfaat untuk ummat dan masyarakatnya
Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-
orang mumin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At Taubah
[9]: 105).
(4): Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Menjadi Potret Islam
Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang
mampu mempresentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat, yaitu:
1. Mereka menjadi generasi yang hidup qalbunya karena senantiasa dekat dengan al-
Quran, dan tenang dengan dzikrullah (QS 13/28) [1], bukan generasi yang berhati
batu (QS 57/16) [2] akibat jauh dari nilai-nilai Islam, ataupun generasi mayat (QS
6/122) [3] yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemana-mana.
2. Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, maka para pemuda harus sabar dan
terus berjuang menegakkan Islam, hendaklah mereka berprinsip bahwa jika cintanya
kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.
3. Dalam perjuangan, jika yang menjadi ukurannya adalah keridhoan manusia maka
akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridhoan Allah SWT maka apalah artinya
dunia ini (QS 16/96) [4].
(bersambung, insya Allah)
_____________________________________________________________________
Jika saja setiap orang mau jujur ketika ditanya siapa orang yang layak dan pantas
dijadikan panutan hidup
dalam sepanjang sejarah peradaban manusia sejak nabi Adam hingga sekarang? Maka
tentu jawabannya adalah Muhammad bin Abdullah yakni nabiyullah sekaligus Rasul-
Nya. Terlepas apakah yang ditanya itu Non Muslim dan terlebih lagi yang beragama
Islam.
Kita tentu masih ingat nama Michael H. Hart (seorang non Muslim) yang
menempatkan Rasulullah sebagai manusia pertama dalam buku yang berjudul
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah manusia. Atau kita bisa
melihat beberapa pengakuan para pemikir barat tentang Nabi Muhammad saw.
Muhammad adalah suatu jiwa yang bijaksana dan pengaruhnya dirasakan dan tak
akan dilupakan oleh orang orang di sekitarnya. (Diwan Chand Sharma, seorang
sarjana beragama Hindu, dalam bukunya The Prophets of the East (Nabi-nabi dari
Timur), Calcutta 1935, halaman 122.)
Empat tahun setelah kematian justinian, 569 m, lahir di Makkah di tanah Arab,
seorang yang memberikan pengaruh yang terbesar bagi umat manusia. Orang itu
adaIah Muhammad . (John William Draper, M.D., LLD., dalam bukunya A
History of the Intellectual Development of Europe (Sejarah Perkembangan Intelektual
di Eropa), London 1875.)
Saya ragu apakah ada orang lain yang bisa merubah kondisi manusia begitu besar
seperti yang dilakukan oleh dia (Muhammad SAW). (R.V.C. Bodley dalam The
Messenger (Sang Utusan), London 1946, halaman 9.).
Saya telah mempelajari dia (Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) laki-laki
yang luar biasa dan menurut saya, terlepas dari pemikiran anti kristen, dia adalah
penyelamat umat manusia. (George Bernard Shaw dalam The Genuine of Islam
(Islam yang Murni), volume I no. 81936).
Dengan sebuah keberuntungan yang sangat unik dalam sejarah, Muhammad adalah
pendiri dari suatu negara, suatu kerajaan dan suatu agama. (R.Bosworth-Smith dalam
Mohammed and Mohammedanism, 1946)
Muhammad adalah pribadi religius yang paling sukses (Encyclopedia Britannica,
edisi ke-11)
Itulah beberapa pengakuan dari orang-orang yang jujur dalam memberikan sebuah
penilaian terhadap kepemimpinan Rasulullah saw sebagai nabi dan Rasul, sebagai
kepala Negara, bahkan sebagai pemimpin di dalam rumah tangga beliau. Lantas,
kenapa kita masih tidak mau atau jarang menjadikan perjalanan hidup Rasulullah,
baik dakwah dan perjuangannya sejak dari Makkah hingga berhasil mendirikan
Negara di Madinah sebagai sebuah teladan bagi kita? Bukankah Allah swt telah
mengatakan di dalam al quran bahwa di dalam diri Muhammad itu ada suri tauladan
bagi kita.
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu
(iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah. (TQS Al-Ahzab:21)
Meneladani Akhlak Beliau
Ketika Rasulullah telah wafat, datanglah seorang arab badui menemui Umar bin
Khattab dan bertanya kepadanya, Ceritakan padaku akhlak Muhammad. Umar
menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh
Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yang
sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat
menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior
Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka
tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui
ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata : Ceritakan padaku keindahan
dunia ini!
Badui ini menjawab, Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan
dunia ini
Ali menjawab, Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia ini, padahal
Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau
belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah
telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS.
Al-Qalam 68: 4).
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh
Nabi. Aisyah menjawab,Khuluquhu al-Quran (Akhlaknya Muhammad itu Al-
Quran). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Quran
berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau
ia harus melihat seluruh kandungan Quran. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini
untuk membaca dan menyimak QS Al-Muminun (23: 1-11).
Karakteristik Dakwah Nabi Muhammad saw
Ketika kita telah melihat dan mengetahui bagaimana akhlaq nabi yang mulia tersebut,
tentu kita sebagai umatnya ingin sekali seperti beliau, karena beliau adalah sebaik-
baiknya panutan. Bahkan dalam perkara akhlak, beliau sangat menekankan kepada
umatnya. Namun, bukan hanya dari segi akhlak saja yang kita harus tunduk dan patuh
sebagaimana yang beliau lakukan, akan tetapi dari segi metode beliau dalam
menyampaikan risalah Islam pun harus kita ikuti. Itu jika kita benar-benar ingin
mengatakan bahwa beliau adalah suri tauladan kita dalam kehidupan kita, terlebih lagi
dalam hal berdakwah sebagai wujud untuk menyampaikan atau melanjutkan risalah
Islam sebagai solusi atas segala permasalah yang menimpa dunia karena Islam adalah
solusi, Islam al huwal hal.
Sungguh, siapa saja yang mau sungguh membaca dan mengkaji sirah nabawiyah,
tentu akan sangat mudah melihat bagaimana metode dakwah Rasulullah sejak
melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun di Makkah, kemudian
dakwah secara terang-terangan selama 10 tahun di Makkah, hingga ketika berhasil
mendirikan Daulah Islam di Madinah al Munawarah dalam fase dakwah selama 10
tahun yakni dakwah beliau memilki karakter khas yakni dakwah Pemikiran, politik
dan anti terhadap kekerasan.
Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya
kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa
sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti
urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-
salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.
Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu
lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren
atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan
dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-
lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya
dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah
banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.
Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama
seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak
semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung
diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak
salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti
atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau
terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban
untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan?
Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa,
man! Bener.
Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas
belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian
ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak
mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin
orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding
orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS al-Muj?dalah [58]: 11)
Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat
keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa
tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama.
Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak
ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak
mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam.
Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah
pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya
kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen
lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi.
Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu
mau. Yakin deh.
Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam
memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada
jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap
dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin
yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya
kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak
mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir
jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?
Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang
mulia, lho. FirmanNya:
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
muslim (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah.
Seperti dalam firmanNya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang maruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar
merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya,
mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni
daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu
bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan.
Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat
yang tinggi untuk menegakkan kalimat tauhid di bumi ini. Sesuai dengan seruan
Allah (yang artinya): Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan
(sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di jaman onta, arus informasi
makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya
baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa
menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada
lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya
nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak
yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa
saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda
dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan
beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk
membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita.
Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan
perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup,
kita memang selalu ditakdirkan untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita
untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita
lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk
dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran
Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita
dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja?
Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin
tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi
dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi
perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi
makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban
yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat
untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab,
kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi
menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan
berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah.
Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam
yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi
ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia
untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib
berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan
waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam.
Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak
langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai
bentuk ?kecerewetan mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal,
justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat
saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang
menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu
rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-
masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang
yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk
di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: Seandainya aku
melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak
mengganggu orang lain di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya,
tentu mereka semua akan binasa. (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita
yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban
dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada
orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat
manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal kenangan. Yuk, kita
kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya. [osolihin:
sholihin@gmx.net]
PENUTUP
Akhirnya, saya berharap Allah Taala berkenan memberi-nya hidayah
dan mengembalikannya ke jalan yang lurus. Seruan terakhir kami,
segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam untuk
nabi kita Muhammad, keluarga, dan semua sahabat beliau.







Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa
tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
(tiga kali)