Anda di halaman 1dari 6

Analisis Sample Berbahan Flourine Tin Oxide (FTO) dan

Dye dengan Metode Spektrofotometer UV-Vissible

Haekal Putera Bale


Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Email : Haekal.haekalputera@student.uns.ac.id

Received (date), Revised (date), Accepted (date), Published (date)

ABSTRACT
I dont know how to make an abstract

ABSTRAK
Aku tidak mengerti membuat abstract

PENDAHULUAN

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan
untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang
didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam
spektrofotometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya
visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang
lebih berperan adalah elektron valensi. Pengertian spektroskopi dan spektrofotometri pada
dasarnya sama, yaitu di dasarkan pada interaksi antara materi dengan radiasi
elektromagnetik. Namun pengertian spektrofotometri lebih spesifik atau pengertiannya
lebih sempit karena ditunjukan pada interaksi antara materi dengan cahaya (baik yang dilihat
maupun tidak terlihat). Sedangkan pengertian spektroskopi lebih luas misalnya cahaya
maupun medan magnet termasuk gelombang elektromagnetik [1].
Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai radiasi
elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari
adalah cahaya matahari. Dalam interaksi materi dengan cahaya atau radiasi elektromagnetik,
radiasi elektromagnetik kemungkinanan dihamburkan, diabsorbsi atau dihamburkan
sehingga dikenal adanya spektroskopi hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun
spektroskopi emisi [2].
Ketika cahaya dengan berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis) mengenai
suatu zat, hanya panjang gelombang tertentu saja yang dapat diserap. Di dalam suatu
molekul, elektron valensi memegang peranan penting dari setiap atom yang ada hingga
terbentuk suatu materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah
(eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu energi [3].
Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV, akan terjadi perpindahan elektron dari
keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi
elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah, elektron yang ada dalam
atom atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi).
Sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya
pada gelombang radio. Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur
konsentrasi suatu suatu yang ada dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel
disinari dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya mengenai
sampel sebagian akan diserap, sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan
diteruskan. Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang
mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat

diukur adalah atau (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati

[4]
materi(sampel)) .
Proses penyerapan cahaya oleh suatu zat dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel.

Pada gambar di atas, terlihat bahwa zat sebelum melewati sel sampel lebih terang
atau lebih banyak di banding cahaya setelah melewati sel sampel. Cahaya yang diserap
diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai
transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum Lambert-Beer atau Hukum Beer, berbunyi:
jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau
ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat
dan tebal larutan. Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk
menghitung banyaknya cahaya yang hamburkan:
=
atau
% = 0 100%
dan absorbansi dinyatakan dengan rumus:
= log = log 0
dimana 0 merupakan intensitas cahaya datang dan atau 1 adalah intensitas cahaya setelah
melewati sampel. Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai [5] :
= . .
atau
= . .
dimana:
A = absorbansi
b = tebal larutan (tebal kuvet diperhitungkan juga umumnya 1 cm)
c = konsentrasi larutan yang diukur
= tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)
a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm).

Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan yang


digunakan memenuhi kriteria-kriteria berikut [6]:
1. Sinar yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan
dengan panjang gelombang tunggal (monokromatis).
2. Penyerapan sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak dipengaruhi
oleh molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan.
3. Penyerapan terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal kuvet)
yang sama.
4. Penyerapan tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan yang
diukur harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh partikel-
partikel koloid atau suspensi yang ada di dalam larutan
5. Konsentrasi analit rendah. Karena apabila konsentrasi tinggi akan menggangu
kelinearan grafik absorbansi versus konsntrasi
Faktor-faktor yang sering menyebabkan kesalahan dalam menggunakan
spektrofotometer dalam mengukur konsentrasi suatu analit [7]:
1. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko,
yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat
pembentuk warna.
2. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa, namun
kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik.
3. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah
atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai
dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau
pemekatan).
METODE

Eksperimen Spektrofotmeter yang memiliki tujuan, yakni mengukur nilai Absorbansi dan
%Transmitasi pada sample FTO dan dye ini menggunakan instrumen Spektrofotometer
Ultra Violet Vissible Frankin Elmer Lambda 25 dengan kaca FTO dan dye sebagai sample
uji. Prosedur percobaan dengan mengukur serapan pada interval lambda 200-800 nm untuk
blank kaca FTO yang digunakan sebagai pembanding atau acuan dasar. Output dari analisis
ini akan diubah menjadi data biner yang akan ditampilkan di dalam software yang
terintegrasi oleh instrumen tersebut.
Gambar 1. Instrumen Spektrofotometer UV-Vissible

Jalankan aplikasi tersebut untuk menentukan nilai absorbansi bahan hingga terdapat
perintah memasukkan bahan acuan, yakni FTO. Sebelum memproses, ada baiknya harus
melakukan pengaturan dalam interval panjang gelombang. Panjang gelombang yang akan
menganalisis, yakni dengan interval 200-800 nm. Setelah sudah ada perintah, buka penutup
pada bagian analisis Spektrofometer dan masukkan bahan acuan. Kemudian tutup dan
jalankan proses analisis. Tunggu hingga proses selesai dan mendapatkan data analisis nilai
absorbansi dari berbagai panjang gelombang yang telah diatur sebelumnya. Lakukan hal
yang sama pada bahan selanjutnya, yakni bahan uji FTO dan bahan uji dye.
Untuk menganalisis nilai Transmitasi pada bahan FTO dan dye, dilakukan proses
yang sama pada analisis nilai Absorbansi. Perbedaannya terletak pada pengaturan di
software spektrofotometer. Ubah pengaturan analisis dari nilai Absorbansi (A) menjadi nilai
Transmitasi (%T). Selanjutnya, lakukan proses yang sama seperti analisis nilai Absorbansi.
Hasil yang didapat kemudian analisis dengan dibuat grafik. Grafik yang dibuat, yaitu grafik
hubungan antara panjang gelombang dengan nilai Absorbansi dan hubungan antara panjang
gelombang dengan nilai Transmitasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut adalah hasil analisis secara kuantitatif yang ditunjukkan dalam tabel :
Absorbansivitas Transmitansi(%)
(nm)
FTO dye FTO dye
800 0,016726 0,11941 77,191 70,482
799 0,016731 0,11906 77,178 70,523
798 0,016736 0,11923 77,225 70,573
797 0,016741 0,11904 77,322 70,626
796 0,016747 0,11920 77,347 70,673
795 0,016752 0,11899 77,451 70,723
... ... ... ... ...
... ... ... ... ...
202 0,1182 0,03725 78,115 68,816
201 0,11808 0,03794 78,158 68,726
200 0,1185 0,03707 78,331 68,780
Tabel 1. Data hasil analisis nilai Absorbansi dan Transmitasi pada bahan FTO dan dye

Spektrofotometer UV-Vis merupakan salah satu metode analisis yang berdasarkan


pada penurunan Intensitas cahaya yang diserap oleh medium. Prinsip dari analisis
spektroskopi sendiri yaitu cahaya dari spektrometer yang terdifraksi menggunakan
difraktometer (cermin / prisma), sehingga cahaya terbagi menjadi dua dengan itensitas yang
sama. Sebagian cahaya melalui pelarut dengan intensitas sebesar Io, dan sebagian lagi
melalui sampel dengan intesnsitas I. Kemudian 9 hubungan antara Io dengan I. Atau dapat
dikatakan bagian cahaya yang diteruskan disebut transmisi (T) dan bagian yang diserap oleh
sampel disebut (A). Hubungan antara A dan T dapat dirumuskan:
= log
Analisis ini juga didasarkan pada hukum Lambert-Beer, yaitu bila cahaya
monokromatik bergerak melalui suatu medium, sebagian dari cahaya tersebut diserap oleh
medium, sebagian dipantulkan, dan sebagian diteruskan oleh medium tersebut. Setelah
cahaya melalui sample, selanjutnya akan sampai di detektor yang berupa transducer yang
dapat mengubah energi cahaya menjadi sebuah isyarat. Dari isyarat tersebut, kemudian
diteruskan pada amplifier hingga akhirnya dapat ditampilkan dalam bentuk data biner nilai
absorbansi dan %Transmitansi.
Dalam Ek
Grafik Perbandingan Absorbansi
pada FTO dan (FTO+TiO2+Dye
Ruthenium)
1
Absorbansi 0.8
0.6
0.4 FTO
0.2
DYE RU
0
200 400 600 800
(nm)

Gambar 2. Grafik Perbandingan Hubungan antara nilai Absorbansi dengan panjang gelombang pada bahan FTO dan
dye

Grafik Perbandingan %Transmitansi


pada FTO dan (FTO+TiO2+Dye
Ruthenium)
100
% Transmitansi

80
60
40 FTO
20
DYE RU
0
200 400 600 800
(nm)

Gambar 3. Grafik Perbandingan Hubungan antara nilai %Transmitasi dengan panjang gelombang pada bahan FTO dan
dye