Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Critical Book Report ini, penulis ingin melaporkan dan menganalisa buku yang
berjudul Matematika Diskrit II (Graf). Buku ini ditulis oleh beberapa peneliti yang sesuai
dengan bidang dan keahliannya masing-masing. Buku yang berjudul Matematika Diskrit II
(Graf) ditulis oleh Dr. Asrin Lubis, Mpd, Faridawaty Marpaung, S.Si, M.Si, Andrea
Arifsyah, S,Pd, M.Sc ini, penulis ingin melaporkan dan menganalisa isi buku.
Pada BAB II akan dikupas tuntas mengenai pendeskripsian isi buku, pendeskripsian
kekurangan dan kelebihan buku, dan penulis juga tak lupa untuk memberikan masukan dan
saran sebagai pertimbangan oleh peneliti untuk perbaikan kedepannya.

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah isi buku cukup bermanfaat bagi mahasiswa sebagai salah satu sumber belajar.
2. Apakah metode yang digunakan pengarang sesuai dengan kondisi dan lingkungan yang
sedang kita hadapi.

TUJUAN
1. Mahasiswa mengetahui salah satu kualitas buku pembelajaran yang beredar.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah strategi belajar mengajar

1
BAB II
PEMBAHASAN

IDENTITAS BUKU
Judul buku : Matematika Diskrit II (Graf)
Penulis : Dr. Asrin Lubis, M.Pd ,dkk
Penerbit : UNIMED Press
Tahun terbit : 2017
Kota terbit : Medan
Tebal buku : 201

2
RINGKASAN ISI BUKU
BAB I
TEORI GRAF
Pada bab I bab ini membahas tentang teori graf dijelaskan pengertian Graf,
Terminologi Graf, Penyajian Graf, Jenis-jenis Graf, Sub Graf, Operasi Graf, Graf Isomorfik,
yang disertai dengan soal-soal latihan. Isi ringkasan bab ini sebagai berikut:
1. Pengertian Graf : adalah struktur diskrit yang terdiri set dari sejumlah berhingga
objek yang disebut simpul yang menghubungakan simpul-simpul tersebut. Graf
digunakan untuk mempersentasikan objek-objek diskrit dan hubungan di antar objek-
objek .
Defenisi 1 : Sebuah graf G = (V,E) terdiri dari V (yaitu set tak kosong dari
simpul-simpul (vertices atau nodes)) dan E (yaitu set sisi-sisi (edges). Setiap sisi
memiliki satu atau dua simpul yang terkait dengan itu yang disebut dengan
Titik Ujung. Sisi adalah Penghubung titik-titik ujung tersebut.

2. Terminologi Graf : ada beberapa terminologi graf yang perlu diketahu, antar lain :
bertetangga antara dua simpul, bersisian (incidency), derajat suatu simpul, dan lain-
lain. Beberapa terminologi yang penting , yaitu : Bertetangga, Bersisisan, Simpul,
Derajat
Teorema 1 : Teorema Jabat-Tangan. Misalkan G = (V,E) menjadi sebuah
graf dengan m sisi. Maka 2m = deg()
3. Penyajian Graf : Ada banyak cara yang dapat disgunakan untuk mewakili suatu
graf. Dalam bekerja dengan suatu graf akan sangat membantu jika dapat memilih
penyajian yang paling nyaman. Pada bagian ini akan ditunjukkan bagaimana
menyajikan suatu graf dalam cara berbeda, yaitu : Daftar sisi graf, Daftar simpul,
Matriks Adjacency, perbandingan antara Daftar Adjacency dan Matriks adjacency dan
Matriks Insidensi.

4. Jenis-Jenis Graf : Beberapa jenis graf yang perlu diketahui adalah :

3
Graf Sederhana (simple graf) :Graf sederhana merupakan graf tak berarah yang
tidak mengandung gelang maupun sisi ganda.
Graf Ganda (multigraf) : Graf Ganda merupakan graf tak berarah yang
tidak mengandung gelang (loop).
Graf Semu (Pseudo graf) : Graph Semu merupakan graf yang boleh
mengandung gelang (loop).
Berikut ini adalah beberapa jenis dari graf yang perlu diketahui :
a) Graf Lengkap (complete Grapf)
Graf lengkap merupakan graf sederhana yang setiap simpulnya
terhubungan ke semua simpul lainnya. Dengan kata lain, setiap seimpulnya
bertetangga. Graf lengkap n buah simpul dilambangkan dengan Kn. Jumlah
(1)
sisi pada sebuah graf lengkap yang terdiri dari n buah simpul adalah 2

sisi.
b) Graf Melingkar (Cycle Grapf)
Graf Melingkar merupakan graf sederhana yang setiap simpulnya
berderajat dua. Graf melingkar dengan n simpul dilambangkan dengan Cn.
c) Graf Roda (Wheels Graph)
Graf Roda merupakan graf yang diperoleh dengan cara menambahkan satu
simpul pada graf melingkar tersebut.
d) Graf Teratur (Regular Graphs)
Graf teraturmerupakan graf yang setiap simpulnya mempunyai derajat
yang sama. Apabila derajat setiap simpul pada graf teratur adalah r, maka
graf tersebut dinamakan graf teratur berderajat r. Jumlah sisi graf teratur

dengan n simpul adalah sisi.
2

e) Graf Planar (Planar Graph) dan Graf Bidang (Plane graph)


Graf planar adalah graf yang dpaat digambarkan pada bidang datar dengan
sisi-sisi yang tisak saling berpotongan. Jika tidak, maka graf tersebut
dinamakan graf tak planar.
f) Graf Bipartit (Bipartite Graph)

4
Graf sederhana G dikatakan graf bipartit jika himpunan simpul pada graf
tersebut dapat dipisah menjadi dua himpunan tak kosong yang disjoint.
g) Graf Berbobot (Weighted Graph)
Graf berbobot adalah graf yang setiap sisinya diberi sebuah harga (bobot).
5. Sub Grap : Sebuah Sub Graf G adalah graf yang memilki semua simpul
dan sisi di G. Jika G1 adalah sub graf dari G, maka G adalah super graf dari G1.
a. Kompleman Sub Graf
Kompleman dari sub graf G1 terhadap G adalah graf G2 = (V2,E2) sedemikian
sehingga E2=E E1 dan V2 adalah himpunan simpul yang anggota-anggota E2
bersisian dengannya.
b. Spanning Subgraph (Sub Graph Merentang)
Sebuah Spanning Subgraph adalah sub graph yang mengandung semua
simpul dari G. Dengan kata lain, jika V (H) V (G) dan E(H) E(G), maka H
adalah subgraf layak dari G dan jika V(H) = V (G), maka dikatakan bahwa H
adalah spanning Subgraph dari G.
c. Penghapusan simpul dan Sisi
Penghapusan simpul vi dari dalam graf G menhasilkan sub graf G vi dari G
yang mengandung semua simpul di G, kecuali vi dan semua sisi tidak insiden
(bersisian) dengan vi. Dengan demikian G vi adalah sub Graf maksimal dari G
yang tidak mengandung vi. Sedangkan besarnya, penghapusan sebuah x j sisi dari G
menghasilkan spanning sub graf G vi berisi semua sisi G kecuali xj.
d. Induced Graph (Sub Graf Induksi)
Untuk setiap set simpul S dari G, sub Graf Dhuwur induksi simpul atau suatu
sub Graf induksi sederhana.
6. Operasi graf : Terdapat beberapa operasi Graf
1) Gabungan
2) Irisan
3) Penjumlahan Graf
4) Jumlah gelang
5) Produk dari Graf
6) Komposisi

5
7) Komplemen
8) Fusion (perpaduan)
Teorema 1.3 : Untuk stiap Graf G dengan enam simpul, G atau G mengandung
segitiga).
Teorema 1.5 : jumlah maksimum garis antara semua graf simpul P
2
dengan tanpa segitiga adalah [ 4 ]

Teorema 1.6 : Setiap graf adalah graf Irisan


Teorema 1.7 : Misalkan G adalah graf terhubungan dengan P > 3 poin.
Maka (G) = q jika dan hanya jika G tidak memiki segitiga.
2
Teorema 1.8 : Untuk setiap graf G dengan P 4 simpul, (G) [ 4 ]

Teorema 1.9: Sebuah graf G adalah graf klik jika dan hanya jika mengandung F
keluarga sub graf lengkap, yang bergabung pada G, sehingga setiap
kali setiap sepasang graf lengkap seperti beberapa F sub famili
memiliki irisan yang tidak kosong, irisan semua anggota F adalah
tidak kosong.
7. Graf Isomorfik : Adanya korespondensi antara set simpul mereka satu-satu
yang melindungi sisi, kasus ini sering dua graf isomorfik. Graf sederhana isomorfik
juga harus memiliki jumlah sisi yang sama, karena korespondensi satu-satu antara
simpul yang berkorespondensi, akan berkorespondensi satu-satu di antara sisinya.
Derajat simpul dalam graf sederhana isomorfik harus sama. Artinya suatu simpul v
berderajat d di G harus sesuai dengan simpul f(v) dengan derajat d di H, karena simpul
w di G adalah adjacency dengan v, jika dan hanya jika f(v) dan f(w) yang adjacency di
H.
Aplikasi Graf Isomorfisme
Graf isomorfisme dan fungsi yanh hampir graf isomorfisme, muncul dalam
aplikasi teori graf kimia dan desai sirkuit elektronik, dan bidang lain, termasuk
bioinformatika dan komputer. Kimiawan menggunakan multi graf, yang dikenal
sebagai graf molekul, untuk model senyawa kimia. Simpul mempresentasikan
atom dan sisi merupakan ikatan kimia antara atom-atom ini. Dua isomer
struktural, molekul dengan rumus molekul identik tetapi dengan atom terikat

6
secara berbeda, memiliki graf molekul diperiksa untuk melihat apakah graf
senyawa molekul adalah sama seperti salah satu graf yang sudah dikenal.
Sirkuit elektronik dimodelkan menggunakan graf di mana simpul mewakili
komponen dan sisi-sinya mewakili hubungan antara mereka. Sirkuit terpadu
modern, yang dikenal sebgai chip, sirkuit elektronik miniatur, sering dengan
jutaan transistor dan hubungan antara mereka. Graf isomorfis adalah dasar untuk
verifikasi tata letak tertentu dari rangkaian yang dihasilkan oleh alat otomatis
sesuai dengan skema asli dari desain. Graf isomorfis juga dapat digunakan untuk
menentukan apakah sebuah chip dari suatu vendor termasuk kekayaan intelektual
dari vendor yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari subgraph
isomorfik besar di graf pemodelan.
Kekurangan Bab I
Teoremanya masih belum begitu lengkap.
Contoh soal yang terkait juga masih sedikit
Kelebihan Bab I
Penjelasan materi setiap sub bab jelas dan mudah di pahami.
Pembuktian teorema pada bab 1 jelas.
Teorema pada bab 1 ini dari segi bahasa jelas dan mudah dipahami.
Contoh soal mudah untuk dipahami.

BAB II
GRAF BERARAH
Pada bab II bab ini membahas tentang teori graf dijelaskan Pengertian Graf Berarah,
Terminologi Graf Berarah, Penyajian Graf Berarah, jenis Graf Berarah yang disertai dengan
soal-soal latihan. Isi ringkasan bab ini sebagai berikut :
1. Pengertian Graf Berarah
Defenisi 1 : Graf Beraraf (atau Diagraph) (V,E) terdiri dari satu set tidak kosong
dari simpul V dan satu set sisi berarah (atau busur) E. Setiap sisi
berarah dikaitkan dengan sebuah pasangan simpul. Sisi berarah
dikaitkan dengan pasangan berurutan (u,v) yang menyatakan mulai d
ari u dan berakhir pada v.

7
Graf berarah memiliki representasi piktorial sederhana. Sebuah graf berarah
diwakili oleh diagram graf yang mendasarinya bersama-sama dengan panah pada
ujungnya, setiap panah menunjuk ke arah ujung sisi yang berkorespondensi.
Graf berarah merupakan graf yang mempunyai sisi yang berarah, artinya satu
buah simpul yang dihubungkan oleh sisi tersebut merupakan simpul awal dan simpul
yang lain dikatakan sebagai sebagai simpul akhir / ujung (terminal vertex)
Graf berarah D terdiri dari satu set terbatas V titik-tikdan korelasi pasangan
terurut dari titik-titik yang berbeda. Setiap pasangan berurut (u,v) disebut busur atau
garis berarah dan biasanya dinotasikan dengan uv. Busur uv dimulai dari u ke v dan
bersisian antara u dan v. Dikatakan bahwa u bertetangga dengan v dan v bertetangga
dari u.
2. Terminologi graf Berarah :
a. Graf yang Mendasari : Jika D adalah sebuah graf berarah, graf yang
diperoleh dari D dengan menghapus panah dan sisi berarah disebut graf yang
mendasari D
b. Orientasi dari suatu Graf : setiap Graf berarah D dapat di korepondensi
dengan suatu graf G pada set simpul yang sama. Korespondensi tersebut
adalah bahwa setiap busur dalam D dengan sisi dalam G pada simpul-simpul
yang sama. Graf ini adalah graf dasar dari D. Sebaliknya, jika diberikan graf
G, akan dapat diperoleh graf berarah G dengan menentukana setiap link dalam
urutan pada simpul-simpulnya. Graf berarah seperti itu disebut orientasi dari
G.
c. Sisi paralel / Sejajar
Dua (berarah) sisi e dari graf berarah D dikatakan sejajar jika e dan e
memiliki simpul awal yang sama da simpul ujung yang sama.
d. Betetangga dan Bersisisan
Defenisi 2 : Ketika (u,v) adalah sisi graf G dengan sisi berarah, u
dikatakan bertetangga kepada v dan v dikatakan bertetangga
dari u. Simpul u disebut simpul awal (u,v) dan v disebut
terminal atau simpul akhir dari loop adalah sama.

8
Karena sisi dalam graf dengan sisi berarah adalah pasangan berurut,
defenisi derajat simpul dapat didefenisikan kembali untuk mencerminkan
jumlah sisi dengan simpul ini sebagai titik awal dan sebagai titik akhir. Jika
sisi e dimulai dari simpul u dan berakhir pada simpul v, dikatakan bahwa e
adalah insiden (bersisian) keluar dari u dan insiden masuk ke v. U disebut
simpul panhkal dan v disebut simpul terminal atau akhir dari e
e. Derajat Simpul
Defenisi 3 : Dalam graf dengan sisi berarah derajat masuk dari simpul v,
dinotasikan dengan deg-in(v), adalah jumlah sisi dengan v
sebagai simpul akhir graf berarah.
Derajat keluar v, dinotasikan dengan deg-out (v), adalah jumlah
sisi dengan v sebagai simpul awal graf berarah.
f. Simpul terisolasi
Jika v adalah simpul dari graf berarah D, maka v disebut simpul terisolasi dari
D, jika d+(v) = d (v)=0.
g. Simpul Pendant (Ring)
Jika v adalah simpul dari graf berarah D, maka v disebut simpul Ring
(Pendant) dari D jika d+(v) + d+(v) = 1.
h. Sumber (Source)
i. Sink
Jika v adalah simpul dari graf berarah D,maka v disebut sumber (source) dari
D jika d+(v) = 0.
3. Penyajian Graf Berarah ` :
a. Daftar Graf Berarah
b. Daftar Adjacency Graf Berarah
c. Matriks Adjacency Berarah
4. Jenis Jenis Graf Berarah :
a. Graf berarah sederhan :Sebuah graf berarah yang tidak memiliki loop
siri sendiri atau sisi sejajar disebut graf berarah sederhana.

9
b. Graf berarah Asimetris : Graf berarah yang memiliki paling banyak satu
sisi berarah antar sepasang simpul, namun diperbolehkan untuk memiliki
loop dir sendiri.
c. Graf Berarah Simetris :Graf berarah dimana untuk setiap sisi
(a,b)(yaitu, dari simpul a ke b) terdapat juga sisi (b,a)
d. Graf berarah isomofik : Graf yang isomorfik didefenisikan
sedeikian hingga graf-graf tersebut memiliki perilaku yang identik
dalam hal sifat-sifat graf. Dengan kata lain, jika label arah tersebut
dihapus, dua graf isomorfik tidak bisa dibedakan .
e. Graf berarah Seimbang
Sebuah graf berarah D dikatakan graf berarah yang seimbang atau
isograf jika d+(v) = d+ (v).
f. Graf berarah regular
Setiap simpul memiliki derajat masuk dan derajat keluar yang sama
setiap simpulnya.
g. Graf berarah Lengkap
Setiap simpul digabungkan dengan setiap simpul digabungkan dengan
setiap simpul lainnya dengan tepat ke salah satu ujungnya.
h. Graf berarah simetris Lengkap
i. Graf berarah simetris Asimetris Lengkap
Kekurangan Buku :
Contoh soal yang terkait juga masih sedikit.
Penjelasan materi setiap sub bab kurang lengkap.
Kelebihan buku :
Pada bab 1 ini dari segi bahasa jelas dan mudah dipahami.
BAB III
LINTASAN DAN SIRKUIT
Pada bab III bab ini membahas tentang teori graf dijelaskan Pengertian lintasan
dan sirkuit,Graf Terhubung, graf berarah terhubung, Lintasan dan isomorfisma,
Menghitung Lintasan di antara simpul yang disertai dengan soal-soal latihan. Isi
ringkasan bab ini sebagai berikut :

10
1. Pengertian Lintasan dan Sirkuit : Lintasan adalah urutan sisi yang dimulai pada
simpul graf dan perjalanan dari simpul di sepanjang sisi graf. Sirkuit adalah Suatu
lintasan yang berawal dan berakhir pada simpul yang sama.
2. Graf Terhubung : dua buah simpul v1 dan v2 pada suatu graf
dikatakan terhubung jika terdapat lintasan dari v1 dan v2. Jika setiap pasang simpul
vi dan vj dalam set V pada suatu graf G terdapat lintasan dari vi ke vj maka graf
tersebut dinamakan graf terhubung.
Teorema 1 : Terdapat Lintasan sederhana diantara setiap pasang simpul berbeda dari
suatu graf terhubung.
Didalam graf terhubung terdapat Komponen Terhubung, Bagaimana
keterhubungan itu adalah suatu graf, Cut-set, Konektivitas simpul, Konektivitas sisi,
Ketidaksamaan simpul dan konektivitas sisi,Aplikasi konektivitas simpul dan sisi.
3. Graf Berarah Terhubunga : Suatu graf berarah G dikatakan terhubung jika
arah tersebut dihilangkan, maka graf tersebut merupakan graf terhubung. Ada dua
pengertian tentang keterhubungan dalam graf berarah,yaitu graf terhubung kuat dan
graf terhubung lemah. Di dalam graf berarah terdapat komponen kuat dari graf
berarah yaitu komponen graf Terhubung Kuat dan Komponen kuat.
4. Lintasan dan Isomorfisma : Ada beberapa cara yang lintasan dan sirkuit
yang dapat membantu menentukan apakah dua graf isomorfik, salah satu contohnya
keberadaan sirkuit sederhana dengan panjang tertentu adalah invarian yang dapat
digunakan untuk menunjukkan bahwa dua graf tidak isomorfik, dan Lintasan dapat
digunakan untuk membangun pemetaan yang mungkin isomorfisma.
5. Menghitung Lintasan di Antara Simpul : Jumlah lintasan antara dua
simpul dalam graf dapat ditentukan dengan menggunakan matriks adjacency nya.
Teorema 2 : Misalkan G adalah graf dengan matriks adjacency A sehubungan
dengan pemesanan simpul vi, v2, ..., vn dari graf (dengan sisi tidak berarah atau
berarah dengan beberapa sisi dan loop yang diperbolehkan). Jumlah lintasan yang
berbeda dari panjang r dari vi ke vj, dimana r adalah bilangan bulat positif, sama
dengan entri ke (i,j) dari At.

11
Kekurangan Buku :
Teoremanya masih belum begitu lengkap.
Pembuktian teorema pada bab III masih sulit untuk dipahami
Contoh soal yang terkait juga masih sedikit dan sulit untuk dipahami.

Kelebihan buku :
Penjelasan materi setiap sub bab jelas dan mudah di pahami.
Teorema pada bab 1 ini dari segi bahasa jelas dan mudah dipahami.

BAB IV
A. LINTASAN EULER DAN HAMILTON
Pada Bab IV ini membahas tentang lintasan euler dan hamilton yang terdiri dari
lintasan dan sirkuit hamilton, lintasan dan sirkuit hamilton dan masalah lintasan
terpendek.
1. Lintasan dan Sirkuit Euler
Lintasan euler dalam suatu graf merupakan lintasan yang melalui masing-masing sisi
di dalam graf tersebut tepat satu kali. Jika lintasan tersebut kembali ke simpul awal,
sehingga membentuk lintasan tertutup (sirkuit) maka lintasan ini dinamakan Sirkuit
Euler. Graf yang memuat sirkuit euler dinamakan Graf Euler (Eulerian Graph),
sedangkan graf yang memuat lintasan Euler dinamakan Graf Semi-Euler (Semi-
Eulerian Graph). Sirkuit Euler telah terbangun jika semua sisi telah digunakan.
Teorema 1:
Graf ganda terhubunng dengan setidaknya dua simpul memiliki sirkuit Euler jika dan
hanya jika setiap simpul memiliki derajat genap.
Beberapa sifat tentang lintasan dan sirkuit Euler adalah :
Suatu graf G merupakan graf Euler (memiliki sirkui Euler) jika dan hanya jika
setiap simpul pada graf tersebut berderajat genap
Graf terhubung G merupakan graf semi Euler (memiliki lintasan Euler) jika
dan hanya jika di dalam graf tersebut berderajat ganjil.
Teorema 2:

12
Graf ganda terhubung memiliki lintasan Euler tetapi tidak sirkuit Euler jika dan hanya
jika memiliki tepat dua simpul berderajat ganjil.
2. Lintasan dan Sirkuit Hamilton
Definisi :
Lintasan sederhana pada suatu graf G yang melewati setiap simpul tepat satu kali
disebut lintasan Hamilton, dan sirkuit sederhana pada suatu graf G yang melewati setiap
simpul tepat satu kali disebut sirkuit Hamilton.
Lintasan Hamilton dari suatu graf merupakan lintasan yang melalui setiap simpul
dalam graf tersebut tepat satu kali. Jika lintasan tersebut kembali ke simpul awal,
sehingga membentuk lintasan tertutup (sirkuit) maka lintasan ini dinamakan Sirkuit
Hamilton. Sirkuit Hamilton merupakan sirkuit yang melewati masingmasing simpul
tepat satu kali. Graf yang memuat sirkuit Hamilton dinamakan graf Hamilton
(Hamiltonian graph), sedangkan graf yang memuat lintasan Hamilton dinamakan graf
semi Hamilton (semi-Hamiltonian graph).
Syarat keberadaan sirkuit Hamilton:
Tidak diketahui kriteria sederhana yang perlu dan cukup untuk menentukan
keberadaan sirkuit Hamilton. Namun banyak teorema yang diketahui yang memberikan
kondisi yang cukup untuk keberadaan sirkuit Hamilton. Misalnya, graf dengan simpul
yang berderajat satu tidak dapat meemiliki sirkuit Hamilton, karena dalam sirkuit
Hamilton, setiap simpul adalah insidensi dengan dua sisi dalam sirkuit.
Teorema 3:Teorema DIRAC
Jika G adalah graf sederhana dengan n simpul dengan n3 sedemikian sehingga

derajat setiap simpul pada G setidaaknya 2, maka G memiliki suatu sirkuit Hamilton.

Teorema 4 : Teorema ORE


Jika G adalah graf sederhana dengan n simpul dengan n3 sehingga deg(u) + deg(v)
n untuk setiap pasangan simpul non-adjaacent u dan v pada G, maka G memiliki
Sirkuit Hamilton.
Beberapa hal tentang graf Hamilton :
Setiap graf lengkap merupakan graf Hamilton.

13
(1)!
Pada suatu graf lengkap G dengan n buah simpul (n3), terdapat buah
2

sirkuit Hamilton.
Pada suatu graf lengkap G dengan n buah simpul (n3 dan n ganjil), terdapat
(1)
buah sirkuit Hamilton yang saling lepas (tidak ada sisi yang beririsan),
2
(1)
Jika n genap dan n4, maka di dalam G terdapat buah sirkuit Hamilton
2

yang saling lepas.


Aplikasi sirkuit Hamilton yaitu aplikasi yang meminta lintasan atau sirkuit yang
mengunjungi setiap persimpangan lintasan di suatu kota, setiap tempat perpotongan pipa
pada jaringan utilitas, atau setiap node pada jaringan komunikasi, adalah tepat satu kali.
Penemuan lintasan atau sirkuit Hamilton dapat memecahkan masalah perjalanan
ssalesperson (travelling salesperson problem).
3. Masalah Lintasan Terpendek
Banyak masalah yang dapat dimodelkan dengan menggunakan graf dengan bobot
ditugaskan untuk sisi mereka. Sebagai ilustrasi, perhatikan bagaimana sistem maskapai
penerbangan dapat dimodelkan. Model graf dasar yang dibangun adalah dengan mewakili
simpul pada kota dan penerbangan pada bagian sisinya. Masalah yang melibatkan jarak
dapat dimodelkan dengan menetapkan jarak sisi antara kota-kota . masalah yang
melibatkan jarak dapat dimodelkan dengan menetapkan jadwal penerbangan pada sisi.
Masalah yang melibatkan tarif dapat diimodelkan oleh tarif ke sisi.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BAB IV:


- KELEBIHAN
1. Penjelasan tentang lintasan Euler dan Hamilton dalam buku ini sudah cukup
jelas.
2. Materi-materinya dilengkapi contoh soal.
3. Banyak gambar-gambar graf yang dapat membantu pembaca untuk lebih
memahami materi.
4. Banyak soal latihan yang dapat dihgunakan untuk berlatih di rumah
KEKURANGAN
1. Pembuktian teorema-teoremanya belum lengkap.

14
BAB V
POHON
Pada bab V ini membahas tentang Pohon yang terdiri dari: Pohon Rentang, Pohon Berakar,
Pohon Jumlah, Pohon Jumlah Minimal, dan Pohon Biner.
Definisi 1: Pohon ialah graf terhubung yang tidak memiliki sirkuit.
karena pohon tidak memilikisirkuit sederhana, maka pohon tidak memiliki sisi ganda atau
loop. Oleh karena itu suatu pohon haruslah menjadi graf sederhana.
Teorema 1:
Jika T pohon, maka untuk setiap dua titik u dan v yang berbeda di T terdapat tepat satu
lintasan (path) yang menghubungkan kedua titik tersebut.
Teorema 2:
Banyaknya titik dari sebuah pohon T sama dengan banyaknnya sisi ditambah satu atau
di tulis :
Jika T pohon, maka |()| = |()| + 1
Teorema 3:
a. Bila suatu sisi dihapus dari pohon (dan titiknya tetap), maka diperoleh graf yang tidak
terhubung, dan karenanya graf itu bukan pohon.
b. Bila sebuah sisi ditambahkan pada pohon (tanpaa menambahkan titik baru), diperoleh
graf yang memiliki sirkuit, dan karena itu graf tersebut bukan pohon.
Teorema 4: pernyataan berikut ini ekuivalen untuk pohon T.
a. T adalah pohon
b. T terhubung dan banyak titiknya lebih satu dari banyak sisinya
c. T tidak memiliki sirkuit dan banyak titiknya lebih satu dari banyak sisinya.
d. Ada tepat satu lintaasan (path) sederhana antara setiap dua titik di T.
e. T terhubung dan penghapusan sembarang sisi pada T menghasilkan graf yang tidak
terhubung.
f. T tidak memiliki sirkuit dan penambahan sembarang sisi menghasilkan sirkuit pada
graf itu.
Teorema 5:

15
Jika P=(v0, v1, v2, v3,..., vk, vn) sebuah lintasan terpanjang pada pohon T, maka
d(v0)=d(vn)=1.
A. Pohon Rentang (Spanning Tree)
Defenisi 3:
Misalkan G adalah sebuah graf. Sebuah pohon di G yang memuat semua titik G
disebutpohon rentang(Spanning tree) dari G.
Teorema 6:
Graf G terhubung jika dan hanya jika G memuat pohon rentang.

B. Pohon Berakar
Definisi 4:
Pohon berakar adlah graf berarah (digraf) T yang mempunyai dua syarat:
Bila arah sisi-sisi pada T diabaikan, hasil graf tidak berarahnya merupakan sebuah
pohon, dan
Ada titik tunggal R sedemikian hingga derajat masuk R adalah 0 dan derajat masuk
sembarang titik lainnya adalah 1. Titik R disebut akar dari pohon berakar itu.
Teorema 7:
Pada pohon berakar dengan akar R;
a. Banyak titik lebih satu dari banyak sisi berarah.
b. Tidak ada sirkuit berarah.
c. Ada path sederhana berarah yang tunggal dari R ke setiap titik lain.
C. Pohon Jumlah
Definisi 5:
Pohon jumlah graf G adalah pohon (yang dibentuk dengan menggunakan sisi dan titik
graf G) yang memuat semua titik graf G.Jika graf G merupakan pohon, maka pohon
jumlah satu-saunya adalah G sendiri. Suatu graf dapat memiliki lebih dari satu pohon
jumlah.
Ada beberapa cara untuk memperoleh pohon jumlah suatu graf. Salah satunya dengan
menghapuskan sebuah sisi dari setiap sirkuit. Metode ini digunakan untuk menentukan
sistem fundamental sirkuit dalam jaringan kerja listrik.

16
Jika suatu graf terhubung memiliki n titik dan e sisi, dengan e>n, maka harus
dilakukan proses penghapusaan e-n+1 kali dengan tujuan mendapatkan pohon. Karena
dengan melakukan penghapusan ini, bnayak sisi yang semula e berubah menjadi n-1,
yang merupakan banyak sisi dalam pohon dengan n titik.
Algoritma Pohon Jumlah Pencarian Pertama Melebar
Algoritma ini akan mendapatkan pohon jumlah, jika ada, untuk graf G yang bertitik n.
Di dalam algoritma ini, L adalah himpunan titik berlabel dan T adalah himpunan sisi yang
menghubungkan titik-titik di L. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. (mulai pada sebuah titik). Ambil titik U dan berikan pada U label 0. Misalkan
L={U}, T=1, dan k=0.
b. (L memiliki n titik). Jika L memuat semua titik G, berhentilah; sisi-sisi di T
dan titik-titik di L membentuk pohon jumlah untuk G.
c. (L memiliki titik kurang dari n). Jika L tidak memuat semua titik G, tentukan
titik yang tidak berada L yang berdekatan dengan titik di L yang labeb
terbesarnya k. Jika tidak ada titik seperti itu, G tidak memiliki pohon jumlah.
Bila tidak demikian, berikan pada titik yang baru itu label k+1, dan letakkan
titik itu di L untuk setiap titik baru berlabel k+1, letakkan di T satu sisi yang
menghubungkan titik itu ke titik berlabel k. Jika ada lebih dari satu sisi seperti
itu, pilihlah satu sisi sembaarang. Kembalilah ke langkah 2.
Algoritma Pohon Jumlah Pencarian Pertama Dalam
Algoritma ini akan memberikan label titik-titik dan memilih sisi-sisi graf. Pada
algoritma ini, L adalah himpunan titik berlabel dan T adalah himpunan sisi yang
dipilih. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. (mulai berdekatan). Ambil titik U dan berikan paada U label I. Misalkan
L={U}, T=0 dan k=1.
b. (titik berdekatan). Jika titik tertentu di L berdekatan dengan titik tidak di L,
lanjutkan ke langkah 3. Jika tidak demikian, berhenti.
c. (tentukan titik berikutnya). Andaikan V adalah titik dengan label terbesar yang
berdekatan dengan titik W yang tidak di L. Tambahkan 1 pada k, beri W label
k, masukkan pada V dan W di T, dan lanjutkan ke langkah 2.

17
D. Pohon jumlah Minimal
Di dalam graf berbobot, bobot sebuah pohon adalah jumlah bobot sisi-sisi pohon itu.
Pohon jumlah minimal di dalam sebuah graf berbobot adalah pohon jumlah yang
bobotnya sekecil mungkin. Dengan kata lain, pohon jumlah minimal adalah pohon jumlah
sedemikian hingga tidak ada pohon jumlaah lain yang memiliki bobot kurang darinya.
a. Algoritma Prima untuk Pohon Jumlah Minimal
Dengan algoritma ini akan ditemukan pohon jumlah minimal (jika ada) untuk
sebuah graf berbobot G dengan n titik. Dalam algoritma ini S adalah himpunan titik
dan T adalah himpunan sisi.
Langkah 1: (mulai). Pilih titik U, dan misalkan S={U} serta T={ }.
Langkah 2: (pemeriksaan untuk menyelesaikan). Jika S meemuat semua titik G,
kemudian berhenti; sisi di T dan titik di S membentuk pohon jumlah minimal untuk
G.
Langkah 3: (pilih sisi berikutnya). Jika S tidak memuat semua titik G, tentukan sisi-
sisi yang meemiliki satu titik di S dan titik lainnya tidak ada di S. Jika tidak ada sisi
seperti itu, G tidak terhubung dan tidak memiliki pohon jumlah minimal. Jika tidak
demikian, pilih satu sisi seperti itu yang berbobot terkecil (rangkaian dapat
diputuskan secara sembarang) dan tempatkan di T serta titiknya di S (salah satunya
sudah di S), kembali ke langkah 2.

b. Algoritma Kruskal untuk Pohon Jumlah minimal


Langkah 1: (mulai) jika tidak ada sisi, G tidak terhubung, dan krena itu tidak
memiliki pohon jumlah minimal.
Langkah 2: (pemeriksaan untuk penyelesaian). Jika T memuat n-1 sisi, maka
berhentilahsisi-sisi di T dan titik-titikdi S membentuk pohon jumlah minimal.
Jika tidak demikian lanjutkan ke langkah 3.
Langkah 3: (ambil sisi berikutnya). Tentukan sisi berbobot terkecil yang tidak
membentuk sirkuit deengan sembarang sisi yang ada di T.
E. Pohon Biner
Pohon biner adalah pohon berakar yang setiap titiknya memiliki paling banyak dua
anak dan setiap anak ditunjuk sebagai anak kiri atau anak kanan. Jadi, pada pohon

18
biner setiap titik mungkin memiliki 0, 1 atau dua anak. Anak kiri digambarkan di
sebelah kiri dan di bawah orang tuanya, serta anak kanan di sebelah kanan orang
tuanya.
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN BAB V:
KELEBIHAN:
1. Banyak contoh soal yang mudah dipahami
2. Bahasa yang digunakan mudah dipahami
3. Penjelasan materi setiap sub bab jelas
KEKURANGAN:
1. Pada bagian pohon jumlah minimal tidak dijelaskan pengertian secara ringkas (hanya
pengertian dari contoh soal)
BAB VI
GRAF PLANAR (BIDANG)
Pada bab VI ini membahas tentang graf planar(bidang) yang terdiri dari :
Pengertian Graf Planar, Aplikasi Graf Planar, Formula Euler, dan Teorema Kuratowski.
1. Pengertian Graf Planar
Definisi 1:
Graf disebut planar jika dapat ditarik dalam satu bidang tanpa persilangan sisi (dimana
persilangan sisi adalah perpotongan garis atau busur yang mewakili sisi-sisi tersebut
pada satu titik selain titik ujung bersamanya).
2. Aplikasi Graf Planar
Keplanaran suatu graf memainkan peran penting dalam desain sirkuit elektronik.
Keplanaran suatu graf juga berfungsi dalam desain jaringan jalan.
3. Formula Euler
Penyajian planar dari suatu graf membagi bidang ke daerah, termasuk daerah tak
terbatas.
Teorema 1: Formula Euler
Misalkan G adalah graf sederhana terhubung planar dengan e sisi dan v simpul.
Misalkan r menjadi sejumlah daerah dalam sajian planar dari G. Maka r=e-v+2.
Corollarry 1:

19
Jika G adalah graf planar sederhana terhubung dengan e sisi dan simpul v, dimana v
3, 3v-6.
Corolarry 2:
jika G adalah graf planar sederhana terhubung, maka G memiliki simpul berderajat
tidak melebihi lima.
4. Teorema Kuratowski
Sifat graf Kuratowski adalah:
a. Kedua graf Kuratowski adalah graf teratur
b. Kedua graf Kuratowski adalah graf Non-planar
c. Penghapusan sisi atau simpul dari graf Kuratowski menyebabkannya menjadi
graf planar
d. Graf kuratowski pertama adalah graf non planar dengaan jumlah simpul
minimum, dan graf kedua adalah graf non-planar dengan jumlah sisi minimum.
Jika suatu graf adalah planar, sehingga graf yang aakan diperoleh dengan
menghapus sisi {u, v} dan menambahkan simpul baru w bersama-sama dengan sisi
{u, w} dan {w, v}. Operaasi semacam ii disebut Sub-Devisi Dasar. Graf G1= (V1,
E1) dan G2=(V2, E2) disebut homeomorphic jika merka dapat diperoleh dari graf
yang sama dengan urutan masing-masing sub divisi dasar.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BAB VI


KELEBIHAN:
1. Banyak contoh gambar graf yang diberikan untuk membantu pemahaman mater
2. Penjelasan menggunaakan bahasa yang mudah di pahami
KEKURANGAN:
1. Kurang dipaparkan pengertian graf Kuratowski
2. Isi sub bab bagian teorema Kuratowski tidak mengandung teorema Kuratowski sama
sekali
3. Aplikasi graf Planar tidak menyertakan gambar penerapan aplikasi graf Planar.

20
BAB VII
PEWARNAAN GRAF
Pada bab VII ini membahas tentang pewarnaan graf, yang terdiri dari :
Pengertian Pewarnaan Graf dan Aplikasi Pewaenaan Graf.
1. Pengertian Pewarnaan Graf
Definisi 1:
Pewarnaan graf sederhana adalah penempatan warna untuk setiap simpul dari graf
sehingga tidak ada dua simpul adjacent yang ditempatkan dengan warna yang sama.
Sebuah graf dapat diwarnai dengan meemberikan warna yang berbeda untuk masing-
masing simpul. Namun, bagi sebagian besar graf berwarna dapat ditemukan bahwa
penggunaan warna akan lebih sedikit dari jumlah simpul dalam graf.
Definisi 2:
Bilangan Kromatik dari graf adalah jumlah terkecil warna yang diperlukan untuk
mewarnai graf ini.
Bilangan kromatik dari G dinotasikan dengan (). Notasi adalah huruf Yunani chi)
Teorema 1: Teorema Empat Warna
Bilangan kromatik dari graf planar tidak lebih dari empat.
2. Aplikasi Pewarnaan Graf
Pewarnaan graf memiliki berbagai aplikasi untuk maslaah yang melibatkan
penjadwalan dan penugasan (perhatikan bahwaa karena tidak ada algoritma yang
efisien dikenal untuk pewarnaan graf, ini tidak mengarah pada aalgoritma yang efisien
untuk penjadwalan dan penugasan). Misalnya penjadwalan ujian akhir, penugasan
frekuensi dan register indeks.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BAB VII
KELEBIHAN:
1. Disertakan sejarah-sejarah penemuan teorema pewarnaan graf
KEKURANGAN:
Teorema pewarnaan graf tidak terbukti
Kelebihan buku
Kelebihan buku ini adalah penjelasannya yang singkat dan padat, bahasa yang
digunakan dalam buku ini sangat mudah dimengerti. Buku ini cocok sebagai buku saku untuk

21
mahasiswa yang mempelajari Matematika Diskrit II (Graph). Sedikitnya penjelasan pada buku
ini memudahkan pembaca mengingat tentang topik-topik yang dibahas. Skema dan gambar
pada buku ini sangat menarik dan sangat membantu saat dibaca. Desain pada covernya simpel
dan menarik. Banyak contoh soal dan latihan yang disediakan di dalam buku sehingga
pembaca dapat berlatih.
Kelemahan buku
Kelemahan buku ini adalah penjelasan pada buku ini sangat singkat, tidak
meluas. Singkatnya penjelasan pada beberapa topik mengakibatkan adanya beberapa topik
yang tidak dibahas dengan tuntas. Masih Terdapat Teorema yang tidak dibuktikan

22
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan kekurangn dan kelebihan buku dari setiap babnya dapat disimpulkan bahwa
buku ini baik digunakan oleh mahasiswa yang ingin mempelajarai Matematika Diskrit II,
karena penjelasan mudah dipahami, disertai contoh-contoh soal dan banyak soal latihan yang
disediakan di dalam buku ini.
SARAN
Teorema yang berkaitan dengan setiap materi kiranya dapat dilengkapi dan dari segi
bahasa dapat dipermudah. Pembuktian Teorema yang ada kiranya dapat lebih dipermudah
agar pembaca dapat memahami makna dari setiap langkah yang ada.

23
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, A., Faridawaty, M., dan Andrea, A. 2017. Matematika Diskrit II (Graf). Medan:
Unimed Press

24