Anda di halaman 1dari 154

NASKAH AKADEMIK

BUKU PUTIH
PENGUATAN
SISTEM INOVASI
NASIONAL

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI


NASKAH AKADEMIK
BUKU PUTIH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang

Pengarah : Dr. Marzan Aziz Iskandar


Penanggungjawab : Dr. Tatang A Taufik
Koordinator : Ir. Nunu Noviandi, MT
Penyusun : Tim BPPT
Desain Sampul & Tata Letak: Agus Pramudya T.

Diterbitkan oleh:
DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN KEBIJAKAN TEKNOLOGI
BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

Alamat Yang Dapat Dihubungi :


Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Gedung II BPPT, Lantai 13


Jl. MH. Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340
Telp : (021) 316.9441; 316.9442
Fax : (021) 319.24127
Email : tatang@ceo.bppt.go.id

Dilarang menggandakan buku ini, baik sebagain atau seluruhnya, dalam


bentuk dan dengan tujuan apappun melalui media elektronik maupun secara
mekanis, termasuk fotokopi, rekaman, atau berbagai bentuk penyimpanan dan
pengaksesan informasi lainnya, tanpa ijin tertulis dari Penerbit. Pembuata n
duplikasi buku ini, atau sebagaian dari buku ini, dengan tujuan apapun, adalah
pelanggaran terhadap Undang-undang Hak Cipta Republik Indonesia.

ii
Kata Pengantar
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Di era ekonomi berbasis pengetahuan, inovasi memegang peranan penting dalam me-
ningkatkan daya saing dan memperkuat kohesi sosial suatu bangsa. Indonesia yang pada
tahun 2011 berada di urutan ke-46 dari 142 negara berdasarkan Global Competitiveness
Index yang dikeluarkan oleh WEF (World Economic Forum), baru ditempatkan ke dalam
kelompok negara dengan perekonomian yang didorong oleh efisiensi (efficiency-driven
economy) dan masih dua tahap lagi menuju innovation driven di mana kelompok negara-
negara maju berada. Sedangkan berdasarkan MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perlua-
san Pembangunan Ekonomi Indonesia), Indonesia diproyeksikan sebagai negara maju dan
merupakan kekuatan 12 besar dunia pada tahun 2025. Untuk mencapai target ini, Bangsa
Indonesia tidak dapat lagi terjebak dalam keadaan sekedar business as usual, tetapi perlu
dilakukan usaha-usaha terobosan melalui penguatan sistem inovasi di Indonesia secara
serius. Artinya langkah sinergis dalam mendorong perkembangan inovasi, difusinya dan
proses pembelajaran perlu dilakukan secara lebih bersistem dan sistematis agar tercapai
pertumbuhan ekonomi tinggi, yang inklusif dan berkelanjutan.

BPPT telah memprakarsai penguatan sistem inovasi sejak awal tahun 2000an. Beberapa
kajian dan prakarsa daerah/lokal mulai dilakukan dalam menelaah dan memperkenal-
kan pendekatan sistem inovasi di Indonesia. Sejak tahun 2009, BPPT telah menerapkan
Kerangka Kerja Sistem Inovasi dalam perencanaan dan pelaksanaan seluruh program
dan kegiatannya. Dalam kerangka kerja tersebut, sistem inovasi mencakup sub sistem poli-
tik, sub sistem pendidikan dan litbangyasa (penelitian, pengembangan dan perekayas-
aan), dan sub sistem industri, serta elemen-elemen permintaan (demand), intermediasi,
suprastruktur dan infrastruktur khusus, dan kondisi umum (framework conditions). Kemudian
sejak tahun 2011, BPPT telah bekerja sama dengan mitra-mitra pemerintah daerah, baik
di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota, mengimplementasikan penguatan sistem
inovasi dalam rangka membangun kisah sukses (success stories) dari daerah-daerah per-
contohan tersebut agar nantinya dapat direplikasi ke daerah-daerah lain sesuai dengan
karakteristiknya masing-masing.

Dalam melaksanakan penguatan sistem inovasi ini, BPPT mengacu kepada Kerangka Kebi-
jakan Inovasi dengan 6 Agenda Strategis Penguatan Sistem Inovasi yang telah disepakati
dalam Rakornas Ristek (Rapat Koordinasi Riset dan Teknologi) tahun 2008 di Palembang
dan kemudian dicantumkan dalam Rencana Strategis (Renstra) 2010-2014 Kementerian
Riset dan Teknologi. Enam Agenda Strategis tersebut terdiri dari:
(1) Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi dan bisnis,
(2) Memperkuat kelembagaan dan daya dukung Iptek/litbangyasa dan mengem-
bangkan kemampuan absorpsi oleh industri, khususnya UKM,

iii
(3) Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi inovasi,
praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbangyasa serta meningkatkan pelayanan ber-
basis teknologi,
(4) Mendorong budaya inovasi,
(5) Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan sistem inovasi
dan klaster industri nasional dan daerah, dan
(6) Penyelarasan dengan perkembangan global.
Kerangka Kebijakan Inovasi ini merupakan kerangka kerja kolaboratif sebagai pijakan ber-
sama (common platform) para pihak bagi pengembangan koherensi dan sinergitas kebi-
jakan dan tindakan implementasi operasionalnya.

Wahana pelaksanaan 6 Agenda tersebut dilakukan oleh BPPT melalui 5 inisiatif strategis
yaitu: Penguatan Sistem Inovasi Daerah, Pengembangan Tekno Industri (berbasis Klaster
Industri), Pengembangan Jaringan Inovasi, Pengembangan Teknoprener, dan Penguatan
Pilar-pilar Tematik Nasional.

Penguatan Sistem Inovasi Daerah merupakan wahana untuk memperkuat pilar-pilar bagi
penumbuhkembangan kreativitas-keinovasian di tingkat daerah, di mana penguatan
sistem inovasi daerah merupakan bagian integral dari penguatan sistem inovasi nasional.
Pengembangan Tekno-Industri (Klaster Industri) merupakan wahana untuk mengembang-
kan potensi terbaik dan meningkatkan daya saing industrial. Pengembangan Jaringan
Inovasi merupakan wahana untuk membangun keterkaitan dan kemitraan antar aktor,
serta mendinamisasikan aliran pengetahuan, inovasi, difusi, dan pembelajaran. Selanjut-
nya, Pengembangan Teknoprener adalah wahana untuk memodernisasi bisnis/ekonomi
dan sosial, serta mengembangkan budaya inovasi. Adapun Penguatan Pilai-pilar Tematik
Sistem Inovasi Nasional merupakan wahana untuk memperbaiki elemen-elemen pengua-
tan sistem yang bersifat tematik dan kontekstual, seperti misalnya kebencanaan, pemana-
san global, pertahanan dan keamanan, dan sebagainya.

Naskah akademik ini disiapkan oleh BPPT berdasarkan kajian panjang sejak tahun 2002
ditambah dengan pengalaman-pengalaman di lapangan dalam membangun kisah suk-
ses penguatan sistem inovasi di Indonesia bersama para pemangku kepentingan lainnya,
termasuk lembaga pemerintah, pelaku bisnis, maupun mitra-mitra daerah dan organisasi
non pemerintah.

Kami harapkan dokumen ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan awal bagi semua
pihak dalam penguatan sistem inovasi di Indonesia dan mendorong gerakan bersama
dan serentak dalam membangun inovasi, daya saing, dan kohesi sosial di seluruh wilayah
Nusantara. BPPT menilai perlunya konsensus acuan atau referensi bersama bagi para pi-
hak dalam mendorong penguatan Sistem Inovasi Nasional. Sehubungan dengan itu, kami
mengusulkan segera disusunnya dan ditetapkannya Buku Putih Penguatan Sistem Inovasi
Nasional oleh Menteri Riset dan Teknologi. Buku Putih tersebut diharapkan dapat menjadi
suatu naskah akademis resmi dalam merumuskan arah kebijakan, strategi dan flagship
program beserta kegiatan kongkrit yang terpadu dan sinergis bagi semua pihak dalam
penguatan sistem inovasi di Indonesia dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis

iv
pengetahuan/knowledge economy (dan masyarakat berpengetahuan/knowledge soci-
ety) Indonesia 2025 sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 2025.

Salam Inovasi Indonesia.


Jakarta, Januari 201

Kepala Badan pengkajian dan Penerapan teknologi

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR KA. BPPT iii


DAFTAR ISI vi
BAB I PENTINGNYA SISTEM INOVASI DALAM PEMBANGUNAN 1
NASIONAL
1.1. Latar Belakang 1
1.2 Maksud, Tujuan dan Sasaran 3
1.3. Ruang Lingkup 4
1.4. Kedudukan Buku Putih Penguatan Sistem Inovasi Nasional 4
Dalam Tata Kelola Dokumen Perencanaan
1.5. Landasan Hukum 4
BAB II KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI 7
2.1 Indikator Tingkat Capaian Inovasi di Indonesia 7
2.1.1. Daya Saing Nasional 10
2.1.2. Perkembangan Kewirausahaan 14
2.1.3. Perkembangan Perolehan Paten 15
2.1.4. Tingkat Kesiapan Teknologi 19
2.1.5. Peranan Teknologi dalam Pertumbuhan Ekonomi 19
2.2. Kondisi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Capaian 25
Inovasi di Indonesia
2.1.1. Kebijakan Penguatan Sistem Inovasi 25
2.2.2. Infrastruktur Inovasi 30
2.2.3. Kapasitas Lembaga Iptek 34
2.2.4. Kapasitas Absorpsi Industri 38
2.2.5. Keterkaitan Lembaga Iptek dengan Industri 41
2.2.6. Budaya Inovasi 42
2.2.7. Perkembangan Klaster Industri 45
2.2.8 Posisi di Pasar Global dan Kerjasama Regional 47
2.2.9. Kohesi Sosial 55
BAB III KONDISI YANG DIINGINKAN DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM 59
INOVASI NASIONAL
3.1. Tujuan pembangunan Ekonomi Nasional 59
3.1.1. Amanat Undang-Undang 59
3.1.2. Masterplan Percepatan dan Perluasan 61
Pembangunan Ekonomi Indonesia
3.2 Kondisi Sistem Inovasi Nasional yang Diinginkan 62
3.2.1. Platform Struktur Sistem Inovasi Nasional 62
3.2.2. Indikator Utama Sistem Inovasi Nasional 65
3.2.3. Lingkup Penguatan Sistem Inovasi Nasional 67

vi
DAFTAR ISI

3.3. Permasalahan dan Tantangan Penguatan Sistem Inovasi 70


Nasional
3.3.1. Permasalahan Penguatan Sistem Inovasi Nasional 70
3.3.2. Tantangan Penguatan Sistem Inovasi Nasional 74
BAB IV TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI PENGUATAN 85
SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025
4.1. Tujuan Penguatan Sistem Inovasi Nasional 2010-2025 85
4.2. Arah Kebijakan Sistem Inovasi Nasional 2010-2025 85
4.3. Visi Penguatan Sistem Inovasi Nasional 86
4.4. Misi Penguatan Sistem Inovasi Nasional 87
4.5. Sasaran Strategis Penguatan Sistem Inovasi Nasional 88
4.6. Arahan Strategi Penguatan Sistem Inovasi Nasional 90
4.6.1. Pengembangan Pilar-Pilar Sistem Inovasi Pada 91
Tataran Nasional
4.6.2. Penetapan Fokus dan Tema Prioritas Serta 94
Pengembangan Bisnis Proses Penguatan Sistem
Inovasi Nasional Dalam Kerangka MP3EI
4.6.3. Penguatan Sistem Inovasi Daerah Pada Koridor 95
Ekonomi Nasional
4.6.4. Penguatan Sistem Inovasi Nasional dalam Mendu- 103
kung Penguatan konektivitas Nasional
4.6.5. Penguatan Sistem Inovasi Daerah pada Koridor 114
Ekonomi Nasional
4.6.6 Penguatan Jaringan Inovasi 112
4.6.7. Penguatan Teknoprener 115
4.6.8 Kerangka Kebijakan Penguatan Sistem Nasional 117
BAB V FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS PENGUATAN SISTEM INOVASI 119
NASIONAL 2011-2014
5.1. Indikator Sasaran Penguatan Sistem Inovasi Nasional 119
5.2. PRAKARSA STRATEGIS1: 119
Pengembangan Pilar-Pilar Kebijakan Tematik
5.2.1. Fokus Prioritas 120
5.2.2. Program Prioritas 126
5.3. PRAKARSA STRATEGIS 2: 127
Pengembangan Penguatan Klaster Industri Nasional
5.3.1. Fokus Prioritas 128
5.3.2. Program Prioritas 132
5.4. PRAKARSA STRATEGIS 3 : 133
Penguatan Sistem Inovasi Daerah
5.4.1. Fokus Prioritas 133
5.4.2. Program Prioritas 139

vii
5.5. PRAKARSA STRATEGIS 4 : 139
Pengembangan Jaringan Inovasi
5.5.1. Fokus Prioritas 139
5.5.2. Program Prioritas 142
5.6. PRAKARSA STRATEGIS 5 : 143
Pengembangan Teknoprener
5.6.1. Fokus Prioritas 143
5.6.2. Program Prioritas 144
BAB VI PENUTUP 145

viii
BAB I.
PENTINGNYA SISTEM INOVASI
DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL

1.1. LATAR BELAKANG


Di era pengetahuan dewasa ini, peningkatan daya saing dan kohesi sosial merupakan
tumpuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat (kemakmuran), membangun
kemandirian, dan memajukan peradaban bangsa. Semakin dipahami bahwa daya
saing tidak sekedar dipengaruhi oleh sumber daya alam saja, melainkan juga
faktor-faktor buatan (fikir dan ikhtiar), terutama pengetahuan yang dikembangkan,
dimanfaatkan dan disebarluaskan untuk mendorong berkembangnya inovasi
dan difusinya secara terus-menerus. Perkembangan perekonomian internasional
yang berkecenderungan didominasi oleh aktivitas dan produk yang semakin sarat
dengan pengetahuan, semakin menyisihkan posisi negara-negara yang masih
banyak bergantung kepada aktivitas dan produk bernilai tambah rendah.
Daya saing suatu negara ditentukan oleh kemampuan negara tersebut dalam
mendayagunakan sumber daya yang dimiliki untuk memperkuat posisi dalam
persaingan global. Menghadapi dinamika perubahan yang cepat dan semakin
kompleks, upaya peningkatan daya saing akan semakin bertumpu pada kemampuan
berinovasi berbagai pihak pada beragam dimensi dan berbagai tataran. Seperti
ditunjukkan oleh pengalaman berbagai negara, sistem inovasi (dalam arti luas) baik
pada tataran daerah maupun nasional akan semakin menentukan keunggulan
daya saing.
Hasil pengukuran yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) dalam Global
Competitiveness Index menunjukan bahwa daya saing Indonesia mengalami
peningkatan dari peringkat ke 54 di tahun 2009 menjadi peringkat ke-46 di tahun
2011, dari 139 negara. Tetapi daya saing Indonesia masih relatif lebih rendah bila
dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN, seperti Thailand pada peringkat
38, Brunei Darussalam peringkat 28, Malaysia peringkat 26 dan Singapura peringkat
3.
Variabel daya saing yang dikembangkan oleh WEF, terdiri atas 12 pilar pembangunan,
yakni kelembagaan, infrastruktur, makro ekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar,
pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang dan jasa, perkembangan
pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, tingkat kecanggihan bisnis,
dan inovasi. Sesungguhnya pilar-pilar tersebut merupakan representasi kinerja dari
elemen-elemen yang membangun sistem inovasi nasional.
Salah satu dari 12 pilar daya saing yang diukur oleh WEF adalah daya saing inovasi.
Menurut laporan tersebut, rendahnya daya saing inovasi Indonesia terkendala oleh:
rendahnya kapasitas inovasi nasional; kolaborasi antar perguruan tinggi- lembaga
litbang-industri yang masih lemah, rendahnya penggunaan paten sebagai alat
perlindungan hak penemu dan sekaligus alat untuk diseminasi teknologi; serta
masih rendahnya dukungan pemerintah dalam bentuk pembelian teknologi hasil
litbangyasa dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan dan
pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam sistem produksi
serta jejaring antar lembaga Iptek dengan industri di negara kita perlu diperkuat.
Sesuai dengan hakikatnya yang dinamis, Iptek harus terus dibina, digali dan dikuasai
untuk dikembangkan kegunaannya. Pengembangan dan penguatan Iptek
umumnya dilaksanakan melalui penelitian dan pengembangan serta rekayasa

1
BAB I. PENDAHULUAN

secara sistematis dan terus menerus. Teknologi yang bermanfaat adalah teknologi
yang secara nyata memberikan pengaruh terhadap pembangunan ekonomi.
Dengan demikian Iptek yang umumnya bersifat teoritis akan dapat dikembangkan
dan diterapkan menjadi teknologi komersial atau teknik produksi untuk diterapkan
dalam menghasilkan barang atau jasa dengan mutu dan jumlah yang optimal.
Implementasi dan pengembangan inovasi akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana
aktor atau pelaku yang ada dalam sebuah komunitas (baik di tingkat perusahaan,
daerah, maupun negara) tersebut berperan. Untuk mensinergikan aktivitas yang
sangat beragam dari berbagai aktor yang berperan dalam inovasi, diperlukan
adanya mekanisme sistem, sistem tersebut disebut sistem inovasi. Sistem inovasi bisa
terjadi dalam tataran mikro perusahaan (sistem inovasi sektor atau klaster industri),
tataran daerah (sistem inovasi daerah), maupun dalam tataran nasional (sistem
inovasi nasional).
Menurut UU no 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJN) 2005-2025, dalam rangka memperkuat perekonomian domestik
dengan orientasi dan berdaya saing global diperlukan adanya dukungan
penguatan sistem inovasi, yakni melalui pengembangan Iptek yang diarahkan pada
peningkatan kualitas dan kemanfaatan Iptek nasional dalam rangka mendukung
daya saing secara global. Hal itu dilakukan melalui peningkatan, penguasaan, dan
penerapan Iptek secara luas dalam sistem produksi barang/jasa, pembangunan
pusat-pusat keunggulan Iptek, pengembangan lembaga penelitian yang handal,
perwujudan sistem pengakuan terhadap hasil pertemuan dan hak atas kekayaan
intelektual, pengembangan dan penerapan standar mutu, peningkatan kualitas
dan kuantitas SDM Iptek, peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana
Iptek. Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pembangunan
ekonomi yang berbasis pengetahuan, serta pengembangan kelembagaan sebagai
keterkaitan dan fungsional sistem inovasi dalam mendorong pengembangan
kegiatan usaha.
Namun demikian, pelaksanaan amanat penguatan sistem inovasi sebagaimana
telah digariskan di dalam UU No 17 tahun 2007, hingga kini masih bersifat parsial.
Langkah-langkah penguatan sistem inovasi yang telah diwadahi dalam RPJMN
2010-2015 masih membutuhkan penguatan dan penyempurnaan, terutama
dari sisi penatakelolaannya. Sampai saat ini dokumen resmi yang berisi tentang
rencana induk, panduan, pedoman, atau dokumen lain sejenis yang berisi tentang
penguatan sistem inovasi nasional masih sangat terbatas dan cenderung sektoral.
Inovasi tidak dapat berjalan secara parsial, dia harus merupakan kolaborasi antar
aktor yang saling berinteraksi dalam suatu sistem atau sering disebut sebagai sistem
inovasi yaitu suatu kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, hubungan
interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan
kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktek baik/terbaik)
serta proses pembelajaran (Taufik, 2005). Inti dari sistem inovasi adalah jaringan
atau Network, dimana didalamnya terjadi aliran pengetahuan antar aktor beserta
pengelolaanya dalam rangka menciptkan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah
organisasi lembaga, organisasi maupun daerah.
Berangkat dari kondisi ini, maka dibutuhkan suatu arahan dan panduan umum
penguatan sistem inovasi nasional yang dapat mensinergikan langkah, tindakan
dan kebijakan dari berbagi komponen bangsa dalam menumbuhkembangkan
inovasi di Indonesia. Buku putih penguatan sistem inovasi nasional disusun dalam
rangka memenuhi kebutuhan akan rahan dan pedomen yang bersifat nasional
tersebut.

2
BAB I. PENDAHULUAN

1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

1.2.1 Maksud
Buku Putih Penguatan Sistem Inovasi Nasional merupakan dokumen yang
disusun untuk menjadi pedoman dan pijakan bersama seluruh pemangku
kepentingan dalam melaksanakan penguatan sistem inovasi di Indonesia.
Buku Putih juga memberikan arahan tentang tahapan pencapaian (road
map), strategi, serta kerangka prioritas dalam penguatan sistem inovasi
nasional secara komprehensif. Dengan demikian, diharapkan terjadi
koherensi dan keterpaduan dalam pelaksanaan gerakan penguatan
sistem inovasi nasional oleh para pemangku kepentingan di berbagai
tingkat pembangunan. Dengan demikian diharapakan terjadi percepatan
terwujudnya kemandirian dan daya saing bangsa.
1.2.2 Tujuan
Buku Putih Penguatan Sistem Inovasi Nasional ini dibuat dengan tujuan menjadi
dasar kebijakan pengembangan sistem inovasi ditinjau dari beberapa
aspek, serta merumuskan arah, strategi, dan kebijakan penguatannya. Isi
pokoknya adalah gagasan-gagasan konkrit dan aplikatif tentang ruang
lingkup dan materi muatan yang akan dituangkan di dalam rekomendasi
kebijakan pengembangan Sistem Inovasi. Buku Putih Penguatan Sistem
Inovasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai:
a. Bahan penyediaan data dan informasi dasar yang merupakan hal
sangat mendasar dan penting dikembangkan pada tingkat nasional
maupun daerah, sebagai pijakan untuk melakukan langkah-langkah
selanjutnya dalam penguatan sistem inovasi;
b. Bahan rujukan untuk berbagai pihak, yang dipandang penting selain
untuk meningkatkan pengetahuan tentang posisi sendiri dalam
lingkungan baru beserta perkembangannya juga memahami dan
memetik pelajaran dari keberhasilan, maupun kegagalan pihak lain,
dengan menyesuaikannya dengan konteks yang dihadapi;
c. Bahan membangun kapasitas inovasi yang merupakan proses
jangka panjang dan kumulatif;
d. Bahan dasar bagi para penyedia teknologi yang berperan penting
dalam pemajuan sistem inovasi.;
e. Bahan pembahasan dalam forum konsultasi pengharmonisasian,
pembulatan, dan pemantapan konsep kebijakan pengembangan
Sistem Inovasi.

1.2.3 Sasaran
Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah:
a. Tersedianya data dan informasi dasar bagi pemangku kepentingan
yang berkaitan dengan penguatan sistem inovasi nasional;
b. Tersedianya bahan rujukan bagi pemangku kepentingan penguatan
sistem inovasi nasional;
c. Tersedianya berbagai bahan untuk membangun kapasitas inovasi
seluruh elemen sistem inovasi, yang merupakan proses jangka
panjang dan kumulatif;
d. Tersedianya bahan untuk pembahasan dalam forum konsultasi

3
BAB I. PENDAHULUAN

pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsep


kebijakan pengembangan sistem inovasi.

1.3 RUANG LINGKUP


Ruang lingkup Buku Putih Penguatan Sistem Inovasi Nasional ini mencakup:
a. Gambaran Kondisi dan Permasalahan Sistem Inovasi saat ini di
Indonesia;
b. Kondisi yang diharapkan dalam kerangka penguatan sistem inovasi;
c. Visi, Misi, Arah, Strategi dan Kerangka Kebijakan Penguatan Sistem
Inovasi di Indonesia
d. Prakarsa Strategis Penguatan Sistem Inovasi Nasional
e. Arahan Rencana Tindak Jangka Menengah.

1.4 KEDUDUKAN BUKU PUTIH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL


DALAM TATA KELOLA DOKUMEN PERENCANAAN

Buku Putih Penguatan Sistem Inovasi Nasional diharapkan dapat menjadi


rujukan bagi upaya-upaya terstruktur dalam pengembangan inovasi
nasional untuk mencapai visi pembangunan nasional dalam jangka
pendek-menengah dan panjang. Kedudukan dokumen ini adalah untuk
memperkuat dokumen perencanaan yang sudah ada,Buku Putih Penguatan
Sistem Inovasi Nasional menjabarkan lebih rinci amanat pengembangan
sistem inovasi yang tertuang dalam RPJPN 2005-2025 dan RPJMN 2010-2014,
sekaligus memperjelas kedudukan sistem inovasi nasional dalam mendukung
percepatan dan perluasan ekonomi Indonesia yang secara formal tertuang
dalam dokumen MP3EI.

1.5 LANDASAN HUKUM


a. Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen ke 4): Pasal 28C ayat (1) dan
Pasal 31 ayat (5)
b. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian,
Pengembangan, dan Perenapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007; tentang Rencana Pembangunan
Nasional Jangka Panjang 2005-2025;
d. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 Buku II
Memperkuat Sinergi Antar Bidang Pembangunan Bab IV Ilmu Pengetahuan
Dan Teknologi;
e. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Masterplan Percepatan
dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.
f. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan
dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
g. Keputusan Menteri Riset Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 193/M/
Kp/IV/2010 Tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu

4
Pengetahuan Dan Teknologi Tahun 2010-2014;
h. Buku Putih Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek 2005-2025
Tahun 2006;

5
6
BAB II
KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL
SAAT INI
Sistem inovasi nasional merupakan integrasi dari berbagai komponen pembentuknya yang
terkait satu dengan yang lainnya. Pemahaman terhadap kondisi sistem inovasi nasional
saat ini dapat didekati melalui beberapa indikator yang dianggap dapat mewakili kondisi
komponen-komponen inti sistem inovasi seperti kebijakan dan regulasi, infrastruktur inovasi,
kelembagaan Iptek, sistem industri hingga pada budaya inovasi. Secara garis besar indikator
yang merepresentasikan kondisi sistem inovasi nasional dapat dikategorikan dalam 2(dua)
kategori, yakni indikator tingkat capaian inovasi dan indikator yang menunjukkan faktor-
faktor yang mempengaruhi sistem inovasi di Indonesia. Hasil dari telaahan terhadap
berbagai referensi terkait indikator sistem inovasi, maka pembahasan pada bab ini
menjelaskan kinerja indikator yang relevan dengan kondisi sistem inovasi di Indonesia.

2.1. INDIKATOR TINGKAT CAPAIAN INOVASI DI INDONESIA

2.1.1. Daya Saing Nasional

Indeks daya saing Indonesia menurut Global Competiveness Index (GCI) yang
dimuat dalam The Global Competiveness Report 2011-2012 yang diterbitkan oleh
World Economic Forum (WEF) pada tahun 2011, menunjukkan bahwa Indonesia
menempati peringkat 46 (empat puluh enam) dari 142 (seratus empat puluh dua)
negara, atau turun 2 (dua) tingkat dari tahun sebelumnya.

Daya saing didefinisikan sebagai kondisi institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang
menentukan tingkat produktivitas ekonomi suatu negara. Produktivitas yang tinggi
mencerminkan daya saing yang tinggi, dan daya saing yang tinggi berpotensi
memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan selanjutnya akan
meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Ada banyak determinan pendorong produktivitas, yang oleh WEF dikelompokkan
ke dalam 12 pilar daya saing yang dibangun dari 103 indikator, yaitu: institusi,
infrastruktur, makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi,
efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pasar keuangan, kesiapan
teknologi, besaran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi. Selanjutnya ke 12 pilar
itu dikelompokkan ke dalam 3 kelompok pilar, yaitu: kelompok persyaratan dasar,
kelompok penopang efisiensi, dan kelompok inovasi dan kecanggihan bisnis.
Dalam memperkirakan tingkat daya saing negara, setiap pilar mendapat bobot
yang berbeda, tergantung pada kemajuan ekonomi negara tersebut, dengan
pertimbangan bahwa indikator yang sama mempunyai pengaruh berbeda pada
negara-negara dengan tahapan kemajuan ekonomi yang berbeda. Tahapan
ekonomi yang dimaksud adalah: pada awalnya ekonomi lebih didorong oleh
faktor-faktor alam (seperti sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil),
kemudian oleh faktor efisiensi, dan tahap akhir oleh faktor inovasi.
Diantara negara-negara ASEAN, setelah Singapura, Malaysia menempati posisi
teratas (peringkat ke 21), disusul oleh Thailand (39). Lihat Tabel 2.1. Vietnam dan
Filipina berada di belakang Indonesia, pada peringkat ke 65 dan 75 bertururt-turut.
Cukup mengejutkan adalah Filipina, yang naik 10 tingkat dari peringkat ke 85 tahun
lalu. Kinerja daya saing Indonesia lebih buruk daripada Thailand, yang hanya turun
satu tingkat, kendati Thailand mengalami gejolak politik cukup lama. Malaysia
mengalami kenaikan peringkat yang sangat besar (5 tingkat), melampaui posisi

7
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Korea Selatan (24).

Tabel 2.1. Peringkat Daya Saing Beberapa Negara ASEAN Tahun 2011

NEGARA PERINGKAT 2011 SKOR PERINGKAT 2010 PERUBAHAN


Singapura 2 5.63 3 1
Malaysia 21 5.08 26 5
Thailand 39 4.52 38 -1
Indonesia 46 4.38 44 -2
Vietnam 65 4.24 59 -6
Filipina 75 4.08 85 10
Sumber: WEF (2011)

Dibandingkan dengan negara-negara setingkat BRICS (kesatuan ekonomi yang


terdiri daripada negara-negara Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), tingkat
daya saing Indonesia lebih baik daripada Afrika Selatan (50), Brazil (53), India (56),
Meksiko (58), Turki (59) dan Rusia (66). Namun Indonesia berada di bawah tingkat
daya saing Korea Selatan (24) dan China (26). Lihat Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Peringkat Daya Saing Beberapa Negara Lain Tahun 2011

NEGARA PERINGKAT 2011 SKOR PERINGKAT 2010 PERUBAHAN


Korea Selatan 24 5.02 22 -2
China 26 4.90 27 1
Indonesia 46 4.38 44 -2
Afrika Selatan 50 4.34 54 4
Brazil 53 4.32 58 5
India 56 4.30 51 -5
Meksiko 58 4.29 66 8
Turki 59 4.28 61 2
Rusia 66 4.21 63 -3
Sumber: WEF (2011)

Sebagaimana disebutkan di depan, peringkat daya saing dibentuk oleh 12 pilar,


yang dikelompokkan ke dalam 3 kelompok, yaitu Kelompok Persyaratan Dasar,
Kelompok Penopang Efisiensi, dan Kelompok Inovasi dan Kecanggihan Bisnis. Untuk
Indonesia, dari tiga kelompok pilar daya saing, hanya Kelompok Persyaratan Dasar
yang mengalami kenaikan peringkat, yaitu naik 7 tingkat (dari ke 60 menjadi ke
53). Lihat Tabel 2.3. Dua kelompok lain, yaitu Kelompok Penopang Efisiensi dan
Kelompok Inovasi dan Kecanggihan Bisnis, mengalami penurunan peringkat yang
cukup besar, yaitu masing-masing -5 dan -4. Menjadi pertanyaan, apakah yang
menyebabkan terjadinya penurunan peringkat pada ke dua kelompok pilar ini.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka perlu diketahui bagaimana kinerja dari
setiap pilar daya saing dibandingkan dengan pilar daya saing lain dalam kelompok
yang sama maupun terhadap semua pilar lain. Kelompok Persyaratan Dasar
dibangun dari pilar-pilar Institusi, Infrastruktur, Makroekonomi, dan Kesehatan Dan

8
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Pendidikan Dasar. Kelompok Penopang Efisiensi dibangun dari pilar-pilar Pendidikan


Tinggi, Efisiensi Pasar Barang, Efisiensi Pasar Tenaga Kerja, Pasar Keuangan, Kesiapan
Teknologi, dan Besaran Pasar. Sedangkan Kelompok Inovasi dan Kecanggihan Bisnis
dibangun dari pilar-pilar Kecanggihan Bisnis dan Inovasi.

Tabel 2.3.Peringkat Daya Saing Indonesia menurut Kelompok Pilar Tahun 2011
KELOMPOK PILAR PERINGKAT 2011 PERINGKAT 2010 PERUBAHAN
Peringkat keseluruhan 46 44 -2
Kelompok Persyaratan 53 60 7
Dasar
Kelompok Penopang 56 51 -5
Efisiensi
Kelompok Inovasi dan 41 37 -4
Kecanggihan Bisnis
Sumber: WEF (2011)
Tabel 2.4. menunjukkan bahwa penurunan peringkat pada Kelompok Penopang
Efisiensi disebabkan oleh penurunan peringkat semua pilar di dalamnya, kecuali
pilar Besaran Pasar yang tidak mengalami penurunan maupun kenaikan.
Sedangkan penurunan peringkat pada Kelompok Inovasi dan Kecanggihan Bisnis
disebabkan oleh penurunan peringkat pada pilar Kecanggihan Bisnis. Tabel 2.4.
juga menunjukkan bahwa kenaikan peringkat pada Kelompok Persyaratan Dasar
didukung oleh kenaikan peringkat pilar Makroekonomi dan Infrastruktur.
Tabel 2.4. Peringkat Daya Saing Indonesia menurut Pilar Tahun 2011
No PILAR PERINGKAT PERINGKAT 2010 PERUBAHAN
2011
Kelompok Persyaratan 53 60 7
Dasar
1 Institusi 71 61 -10
2 Infrastruktur 76 82 6
3 Makroekonomi 23 35 12
4 Kesehatan dan pendidi- 64 62 -2
kan dasar
Kelompok Penopang 56 51 -5
Efisiensi
5 Pendidikan tinggi 69 66 -3
6 Efisiensi pasar barang 67 49 -18
7 Efisiensi pasar tenaga kerja 94 84 -10
8 Pasar keuangan 69 62 -7
9 Kesiapan teknologi 94 91 -3
10 Besaran pasar 15 15 0
Kelompok Inovasi dan 41 37 -4
Kecanggihan Bisnis
11 Kecanggihan bisnis 45 37 -8
12 Inovasi 36 36 0
Sumber: WEF (2011)
Tabel 2.5. mengurutkan perubahan peringkat daya saing Indonesia menurut pilar-

9
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

pilar daya saing. Terlihat bahwa hanya dua pilar daya saing yang menunjukkan
kenaikan peringkat, yaitu Makro Ekonomi (12) dan Infrastruktur (6). Delapan pilar
lain mengalami penurunan, dan dua pilar lagi tetap. Perubahan peringkat daya
saing yang terburuk terjadi pada pilar-pilar Efisiensi Pasar Barang (-18), Institusi (-10),
Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (-10), Kecanggihan Bisnis (-8), dan empat pilar lainnya.

Analisis lebih lanjut ditujukan untuk mengetahui perubahan daya saing menurut
indikator. Dari 103 indikator yang digunakan dalam mengukur peringkat daya saing
ini, indikator-indikator yang menunjukkan kenaikan peringkat sangat tinggi (lebih dari
5 tingkat) ada 6 indikator, diantaranya: Pelanggan Telpon Gerak (naik 16 Tingkat),
Hutang Pemerintah (14), Peringkat Kredit Negara (13), Neraca Anggaran dan
Belanja Pemerintah (11), dan Penyerapan Teknologi Perusahaan (11). Sedangkan
indikator-indikator yang menunjukkan kenaikan peringkat sedang (1-5 tingkat)
ada 15 indikator, seperti Kemampuan Membayar Jasa Keuangan (5), Transparansi
Pemerintah (4), Kualitas Infrastruktur Kereta Api (4), Tingkat Partisipasi Pendidikan
Menengah (4), dan Beban Prosedur Kepabeanan (4).
Indikator-indikator yang tetap peringkatnya ada 6 indikator. Dan indikator-indikator
yang menunjukkan penurunan peringkat berjumlah 75 indikator, dimana 53
indikator diantaranya mengalami penurunan peringkat cukup besar (lebih dari 5
tingkat), seperti indikator-indikator Dampak Bisnis Peraturan PMA (-29), Kesediaan
Mendelegasikan Kewenangan (-24), Ongkos Bisnis dari Kejahatan dan Kekerasan
(-20), Keberadaan Hambatan Perdagangan (-20), Kepemilikan Investor Asing (-20),
dan Kesehatan Bank (-20).

Tabel 2.5. Urutan Perubahan Peringkat Daya Saing Indonesia


menurut Pilar Tahun 2011
No PILAR PERINGKAT 2011 PERINGKAT 2010 PERUBAHAN
1 Efisiensi pasar ba- 67 49 -18
rang
2 Institusi 71 61 -10
3 Efisiensi pasar tena- 94 84 -10
ga kerja
4 Kecanggihan bisnis 45 37 -8
5 Pasar keuangan 69 62 -7
6 Pendidikan tinggi 69 66 -3
7 Kesiapan teknologi 94 91 -3
8 Kesehatan dan 64 62 -2
pendidikan dasar
9 Besaran pasar 15 15 0
10 Inovasi 36 36 0
11 Infrastruktur 76 82 6
12 Makroekonomi 23 35 12
Sumber: WEF (2011)

Peringkat daya saing Indonesia yang mengalami penurunan tersebut menuntut


perlunya dilakukan kaji ulang terhadap kebijakan, program dan kegiatan
pembangunan yang dilakukan selama ini. Kementerian dan lembaga yang
membidangi setiap pilar dan indikator yang mengalami penurunan peringkat perlu
bekerja lebih dari biasa untuk menaikkan peringkat pada masing-masing indikator

10
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

dan pilar daya saing tersebut

Tabel 2.6. Indikator Peringkat Daya Saing Indonesia menurut Tingkat Perubahan
Tahun 2011
TINGKAT
No INDIKATOR
PERUBAHAN
1 Naik lebih dari Pelanggan Telpon Gerak (16), Hutang Pemerintah
5 tingkat (14), Peringkat Kredit Negara (13), Neraca Anggaran
(6 indikator) dan Belanja Pemerintah (11), Penyerapan Teknologi
Perusahaan (11), Tingkat Partisipasi Pendidikan Dasar
(7)
2 Naik 1-5 tingkat Kemampuan Membayar Jasa Keuangan (5),
(15 indikator) Transparansi Pemerintah (4), Kualitas Infrastruktur
Kereta Api (4), Tingkat Partisipasi Pendidikan
Menengah (4), Beban Prosedur Kepabeanan (4),
Sambungan Telpon Tetap (3), Keberadaan Teknologi
Terbaru (3), Paten Per Sejuta Penduduk (3), Tingkat
Partisipasi Pendidikan Tinggi (2), Keberadaan Jasa
Keuangan (2), Kualitas Infrastruktur Transportasi Udara
(1), Kejadian Malaria (1), Kualitas Pendidikan Dasar
(1), Akses Internet Sekolah (1), Partisipasi Perempuan
dalam Ketenagakerjaan (1)
3 Tidak berubah Hak Cipta (0), Persebaran HIV (0), Harapan Hidup
(6 indikator) (0), Waktu untuk Memulai Bisnis (0), PDB (PPP) (0),
Kapasitas Inovasi (0)
4 Turun 1-5 tingkat Kualitas Pasokan Listrik (-1), Tingkat Pajak Total (-1),
(22 indikator) Kemudahan Akses Pinjaman (-2), Indeks Hak Hukum
(-2), Kekuatan Perlindungan Investor (-3), Kejadian
TBC (-3), Kematian Bayi (-3), Kepanjangan Rantai
Nilai (-3), Kerjasama Universitas-Industri dalam Riset
(-3), Perlindungan HAKI (-4), Kebocoran Anggaran
(-4), Inflasi (-4), Kualitas Sistem Pendidikan (-4),
Kekakuan Lapangan Kerja (-4), Biaya Redundansi
(-4), Pelanggan Internet Pita Lebar (-4), Kecanggihan
Proses Produksi (-4), Lelang Pemerintah untuk Produk
Teknologi Maju (-4), Kepercayaan terhadap Politisi (-5),
Tingkat Tabungan Nasional (-5), Keluasan Pemasaran
(-5), Belanja Riset Perusahaan (-5), Penyimpangan
Kepercayaan terhadap Politisi (-5), Tingkat Tabungan
Nasional (-5), Keluasan Pemasaran (-5), Belanja Riset
Perusahaan (-5)

11
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

TINGKAT
No INDIKATOR
PERUBAHAN
5 Turun lebih dari 5 Penyimpangan Penyimpangan Dana Pemerintah
tingkat (-6), Efiensi Hukum dalam Penegakan Peraturan
(53 indikator) (-6), Dampak Bisnis Malaria (-6), Keluasan dan Efek
Perpajakan (-6), Jumlah Prosedur untuk Memulai
Bisnis (-6), Impor/PDB (-6), Pita Lebar Internet
(-6), Kualitas Infrastruktur Pelabuhan (-7), Kualitas
Pendidikan Matematika Dan Keilmuan (-7), Peraturan
Perdagangan Saham (-7), Ekspor/PDB (-7), Penyuapan
(-8), Kolusi Pejabat (-8), Beban Regulasi Pemerintah
(-8), Kehandalan Polisi (-8), Perilaku Etis Perusahaan
(-8), Pembayaran dan Produktivitas (-8), Keberadaan
Modal Ventura (-8), Sifat Keunggulan Daya Saing
(-8), Kebebasan Peradilan (-9), Efisiensi Hukum dalam
Penyelesaian Sengketa (-9), Keberadaan Pendidikan
dan Riset Khusus (-9), Perpindahan Keluar Negeri
Tenaga Terdidik (-10), PMA dan Transfer Teknologi
(-10), Pengguna Internet (-10), Pengendalian Distribusi
Internasional (-10), Kriminalitas Terorganisasi (-11),
Tempat Duduk Pesawat (-11), Kualitas Lembaga Riset
Keilmuan (-11), Pembiayaan Melalui Pasar Saham
Lokal (-12), Ongkos Bisnis dari Terorisme (-13), Kualitas
Sekolah Manajemen (-13), Praktek Penerimaan
dan Pemutusan Kerja (-13), Kebergantungan pada
Manajemen Profesional (-13), Dampak Bisnis TBC
(-14), Tingkat Orientasi Konsumen (-14), Keberadaan
Ilmuwan dan Insinyur (-14), Tarif Perdagangan
(-15), Kekuatan Standar Akuntansi dan Pelaporan
(-16), Cakupan Pelatihan Staf (-16), Kepuasan/
Kecanggihan Pembeli (-16), Dampak Bisnis HIV/AIDS
(-17), Perlindungan Kepentingan Pemegang Saham
Minoritas (-18), Sebaran Suku Bunga (-18), Efektivitas
Kebijakan Anti Monopoli (-18), Kemampuan
Dewan Direksi (-19), Ongkos Kebijakan Pertanian
(-19), Ongkos Bisnis dari Kejahatan dan Kekerasan
(-20), Keberadaan Hambatan Perdagangan (-20),
Kepemilikan Investor Asing (-20), Kesehatan Bank
(-20), Kesediaan Mendelegasikan Kewenangan (-24),
Dampak Bisnis Peraturan PMA (-29)
Sumber: WEF (2011)

Selain itu, berbagai faktor umum yang menghambat peningkatan daya saing
sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2.7. perlu dibenahi dengan cepat agar tahun
depan dan seterusnya peringkat daya saing Indonesia tidak merosot melainkan
meningkat dengan konstan.

12
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Tabel 2.7. Faktor-faktor Penghambat Daya Saing Dalam Kerangka Sistem Inovasi
NO KERANGKA SISTEM INOVASI FAKTOR BISNIS INTENSITAS
MASALAH

1 Kerangka umum yang Korupsi 16,2


kondusif bagi inovasi dan Birokrasi pemerintah yang 16,0
bisnis tidak efisien
Ketidakstabilan politik 7.4
Ketidakstabilan pemerintah 6,0
Peraturan pajak 5,6
Peraturan buruh yang 5,3
membatasi
Peraturan mata uang asing 2,2
2 Daya dukung Iptek dan Infrastruktur yang tidak 8,4
kemampuan absorpsi oleh memadai
industri Tenaga kerja terdidik yang 5,4
tidak memadai
3 Kolaborasi dan keterkaitan Akses pada pembiayaan 7,8
antar aktor-aktor inovasi Inflasi 6.7
Tingkat pajak 2,7
Kriminalitas dan pencurian 3,6
4 Budaya inovasi Etika kerja yang buruk 4,9
Kesehatan umum yang 2,7
buruk
Perpindahan Keluar Negeri 2.1
Tenaga Terdidik
Sumber: WEF (2011)

Sumber: Herry Darwanto. Analisis Peringkat Daya Saing Indonesia 2008-2011. Bappenas.
2011.

13
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Gambar 2.1. Kedudukan Ekonomi Indonesia


Sumber : WEF, 2011-2012, diolah, 2011

2.1.2. Perkembangan Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi


terbangunnya daya saing bangsa. Hingga kini, jumlah wirausahawan di
Indonesia baru mencapai 0,24 persen dari total jumlah penduduk Indonesia
dan jumlah itu termasuk sangat rendah jika dibandingkan Negara maju
seperti Amerika yang memiliki wirausahawan sekitar 11% dan Singapura
sebanyak 7% dari jumlah penduduknya.

Berdasarkan data BPS, jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus


2011 mencapai 117,4 juta orang. Atau berkurang sekitar 2 juta orang
dibanding Februari 2011 yang mencapai 119,4 juta orang. Sedangkan
jumlah penduduk yang berkerja di Indonesia pada Agustus 2011 mencapai
109,7 juta orang yang juga berarti berkurang sekitar 1,6 juta orang dibanding
keadaan Februari 2011 sebesar 111,3 juta orang.

Angka pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2011 sebesar 7,7


juta orang (6,56 persen). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS)
angka tersebut menunjukkan penurunan angka yang biasa disebut tingkat
pengangguran terbuka (TPT) ini jika dibandingkan pada Februari 2011 yang
mencapai 8,12 juta orang (6,8 persen).

Untuk mengurangi angka pengangguran salah satu cara yang bisa dilakukan
adalah perlu dikembangkannya semangat entrepreneurship sedini mungkin,
karena suatu bangsa akan maju apabila jumlah entrepreneurnya paling
sedikit 2% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2007, Indonesia yang mana
jumlah penduduk kurang lebih sebesar 220 juta, jumlah entrepreneurnya
sebanyak 400.000 orang (0,18%), yang seharusnya sebesar 4.400.000 orang.
Berarti jumlah entrepreneur di Indonesia kekurangan sebesar 4 Juta orang.

14
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Gambar 2.2. Prosentase Kewirausahaan Nasional

Sumber : KUMKM, 2010,

2.1.3. Perkembangan Perolehan Paten

Salah satu indikator tingkat inovasi sebuah negara adalah


dihasilkannya paten oleh para pelaku Litbangyasayasa dan pelaku
bisnis. Indonesia sampai saat ini belum memiliki jumlah paten yang
signifikan dibandingkan dengan negara-negara lain. Berdasarkan
data yang diperoleh, jumlah paten indonesia yang diakui di kantor
paten Amerika menunjukkan nilai yang masih rendah yakni rata-
rata dibawah 20. Perkembangan paten yang terdaftar di lembaga
tersebut juga berfluktuasi dari tahun ke tahun seperti terlihat pada
Gambar 2.3.
Menurut WIPO, suatu agensi di Perserikatan Bangsa-Bangsa, selama
kurang lebih 20 tahun terakhir permohonan hak paten meningkat
dua kali lipat. Dalam empat tahun terakhir rata-rata pertumbuhan
mencapai jumlah menakjubkan 18% atau 727.000 permohonan per
tahun, namun yang mendapatkan paten rata-rata sebesar 150.000.
Untuk negara-negara di Asia Tenggara masih jauh tertinggal, baik
secara intenasional maupun dengan negara-negara Asia (China
dan India).

Gambar 2.3.Pola Perkembangan jumlah paten yang diakui


Lembaga Paten Internasional
Sumber : Dirjen Haki, 2011

15
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Dari Tabel 2.8. Indonesia tertinggal dari Filipina. Data tahun 2006 menunjukkan
bahwa Indonesia dengan hanya 8 paten sudah dilampaui oleh Vietnam
yang mempunyai tambahan 11, dan Filipina 24, dan Malaysia 61.

Tabel 2.8. Paten Yang Diperoleh Negara-negara di Asia Tenggara dan Asia
Negara 2006 2007 2008 2009 2010
Estimate
Brunei Darus- 1
salam
Cambodia
Indonesia 8 9 10 7 15
Malaysia 61 110 206 224 302
Myanmar 1
Philippines 24 17 13 21 15
Singapore 474 519 586 593 637
Thailand 11 6 17 20 69
Timor-Leste
Viet Nam 11 6 6 5 7
China 3,942 5,455 6,120 7,900 12,337
India 833 902 1,072 961 1,109

Sumber: WIPO, 2011

Posisi Indonesia ini jauh di bawah negara lain di ASEAN seperti Malaysia dan
Singapura. Pada tahun 2010 yang lalu, Malaysia mengajukan aplikasi paten
di berbagai bidang seperti electrical engineering, instruments, chemistry,
mechanical engineering, dan bidang lainnya sebanyak 302 aplikasi,
sedangkan Singapura lebih banyak lagi, yaitu sebanyak 603 aplikasi paten.
Thailand pun masih lebih banyak dibandingkan Indonesia, yaitu sebanyak 69
aplikasi paten. Tentu hal ini menandakan sedikitnya inovasi yang dilakukan
para peneliti Indonesia di tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya.

Jumlah permohonan paten dari dalam negeri ke Indonesia hingga akhir


tahun 2010 naik 20,63% dibandingkan dengan 2009. Menurut data. Ditjen
Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM, pada 2009
jumlah permohonan paten mencapai 4.803, sedangkan data 2010 tercatat
sebanyak 5.794. Jumlah paten Indonesia pada 2001-2010 berjumlah 76.795
buah. Paten domestik yang diajukan orang Indonesia berjumlah 6.542 buah.
Sedangkan paten yang diajukan asing secara langsung ataupun dalam
kerangka perjanjian kerja sama paten (PCT) mencapai 70.253 buah.2.2.9.
Kohesi Sosial

16
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Tabel 2.9. Jumlah Permohonan Paten

PATEN PATEN SEDERHANA

PCT NON PCT


Tahun JUMLAH
DALAM LUAR
DALAM LUAR DALAM LUAR NEGERI NEGERI
NEGERI NEGERI NEGERI NEGERI
1991- 2000 1 4.628 749 23.872 782 465 30.497
2001 4 2.901 208 813 197 24 4.147
2002 6 2.976 228 633 157 48 4.048
2003 0 2.620 201 479 163 29 3.492
2004 1 2.989 226 452 177 32 3.877
2005 1 3.536 234 533 163 32 4.499
2006 6 3.805 282 519 242 26 4.880
2007 5 4.357 279 493 209 34 5.377
2008 11 4.278 375 469 214 34 5.381
2009 2 3.761 413 342 247 38 4.803
2010 11 4.596 497 401 251 38 5.794

JUMLAH 48 40.447 3.692 29.006 2.802 800 76.795


Sumber : Dirjen Haki, 2011

Daftar ini menjadi menarik karena paten merupakan hal penting dari sebuah
penemuan teknologi tertentu. Dengan mematenkan suatu penemuan
tertentu, paling tidak teknologi yang ditemukan tersebut terlindungi dari
pembajakan atau kegiatan ilegal lainnya. Hal ini juga memperlihatkan sejauh
mana fungsi penelitian dan pengembangan teknologi di suatu negara.
Negara-negara maju memang paling banyak mengajukan paten karena
kemauan pemerintah mereka dan dana penelitian yang tidak terbatas.
Bahkan banyak negara maju yang membawa peneliti dari negara lain,
misalnya dari Indonesia dan diberikan dana tanpa batas untuk penelitian
asalkan hasil penelitian dan hak paten teknologi hasil penelitian tersebut
nantinya milik mereka.

Gambar 2.4. Data Paten Dalam 10 Tahun


Sumber : Dirjen Haki,

17
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

2.1.4. Tingkat Kesiapan Teknologi

Tingkat Kesiapan Teknologi merupakan indikator yang menunjukkan


seberapa siap atau matang suatu teknologi untuk diterapkan dalam dunia
nyata dan diadopsi oleh pengguna/calon pengguna (fokus pada sisi
penyedia/muatan teknologi).
Dalam indikator daya saing sebuah negera, aspek kesiapan teknologi
dapat memperlihatkan kelincahan ekonomi dalam mengadopsi teknologi
yang sudah ada untuk meningkatkan produktivitas industri. Pokok utamanya
adalah bahwa perusahaan yang beroperasi di negara itu memiliki akses
keproduk canggih dan cetak biru dan kemampuan untuk menggunakannya.
Di antara sumber utama teknologi asing, Foreign Direct Investment (FDI)
sering memainkan peran kunci. Penting untuk dicatat bahwa, dalam
konteks ini, tingkat teknologi yang tersedia untuk perusahaan-perusahaan
di suatu negara perlu dibedakan dari kemampuan negara untuk berinovasi
dan memperluas batas-batas pengetahuan. Itulah sebabnya indikator ini
memisahkan kesiapan teknologi dari inovasi.
Terkait dengan hal ini, menurut data WEF, 2011-2012 Tingkat Kesiapan
Teknologi Indonesia menempati ranking ke 74 (turun 3 tingkat) dari 142
negara. Di kawasan Asia Tenggara untuk indikator ini Indonesia masih kalah
dari Malaysia (35), Philipina (62), serta Singapura (17), tetapi masih lebih baik
dibanding Thailand (82) Kelemahan aspek kesiapan teknologi ini, antara
lain disebabkan rendahnya ketersediaan teknologi terkini, rendahnya daya
absorpsiteknologi pada level perusahaan, rendahnya teknologi tranfers
terkait FDI, serta masih rendahnya tingkat kepuasan penggunaan teknologi
internet.

Gambar 2.5. Kedudukan Kesiapan Teknologi Indonesia


Sumber : WEF, 2011-2012

18
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

2.1.5 Peranan Teknologi dalam Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu indikator yang sering digunakan dalam mengukur peranan


teknologi dalam pertumbuhan ekonomi adalah Total Factor Productivity (TFP).
TFP merupakan indikator yang paling banyak dipakai untuk menunjukkan
pengaruh teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam konsep ini
pertumbuhan ekonomi diasumsikan sebagai penjumlahan tertimbang
dari pertumbuhan kapital, pertumbuhan tenaga kerja dan pertumbuhan
teknologi. Kapital dan tenaga kerja adalah faktor produksi. Oleh karena
itu dapat dikatakan pula bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan
penjumlahan tertimbang dari pertumbuhan faktor produksi dan teknologi.

Dalam teknik perhitungannya justru pertumbuhan ekonomi dan faktor


produksi yang dihitung terlebih dahulu, karena datanya tersedia. Selisih
antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan faktor produksi inilah
yang kemudian disebut TFP. Karena asumsi tentang komponen pertumbuhan
ekonomi di atas, maka TFP diidentikkan dengan pertumbuhan teknologi, atau
lebih populer disebut sebagai pengaruh teknologi terhadap pertumbuhan
ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, dihitung berasarkan PDB at factor cost,


selama kurun waktu 1976 2009 dapat dilihat dalam Gambar 1. Dapat dilihat
bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 1976 mengalami beberapa
tahapan (fase), mengikuti pola tertentu sesuai peristiwabaik yang bersifat
nasional maupun internasionalyang dialami bangsa Indonesia.

Gambar 2.6 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1976-2009 (persen)


Sumber : Perhitungan BPPT, 2011.

Fase pertama adalah fase pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena


berlimpahnya ekspor migas (oil boom), sampai tahun 1981. Tahun 1982-
1986 pertumbuhan tidak stabil yang dipengaruhi oleh resesi dunia, sebut
saja sebagai fase resesi ekonomi. Fase selanjutnya 1987-1996, pertumbuhan
ekonomi terlihat stabil dan cukup tinggi. Pada masa itu adalah masanya
deregulasi dan debirokratisasi. Tahun 1997 terjadi krisis moneter disusul
berbagai krisis sosial ekonomi dan politik. Pertumbuhan ekonomi pun
kembali tidak stabil. Terlihat dalam gambar bahwa ketidakstabilan tersebut
berlangsung sampai tahun 2001. Maka tahun 1997-2001 dapat kita sebut
sebagai fase krisis multidimensi. Sejak tahun 2002 pertumbuhan ekonomi
mengalami kenaikan kembali dan diharapkan sebagai dimulainya fase
kebangkitan ekonomi.

19
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

TFP Growth
Dengan menggunakan pendekatan growth accounting tersebut Tim
BPPT menghitung TFP Growth (TFPG) dalam rentang waktu 1976-2009.
Hasil perhitungan TFPG rata-rata setiap fase ekonomi dapat dilihat dalam
Gambar 2.

Jika nilai TFPG menunjukkan perkembangan (pertumbuhan) teknologi,


maka terlihat dalam gambar bahwa besarnya perkembangan teknologi
berbeda pada setiap fase perekonomian Indonesia. Pada fase resesi dan
krisis, teknologi tidak mengalami perkembangan, dan oleh karenanya tidak
memberi sumbangan pada pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya pada fase
normal, teknologi mampu memberi sumbangan positif pada pertumbuhan
ekonomi.

Dalam Gambar 2 juga terlihat bahwa dalam fase normal perkembangan


teknologi Indonesia mengalami peningkatan. Rata-rata TFPG fase kebangkitan
ekonomi (1,78%) lebih besar dari fase deregulasi dan debirokratisasi (0,81%),
lebih besar dari fase oil boom (0,72%). Pertumbuhan ekonomi pada fase
kebangkitan ekonomi perlu terus dijaga bahkan ditingkatkan melalui
peningkatan peranan teknologi. Sedangkan Ganbar 3 menunjukkan
peranan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi beberapa sektor
pada fase kebangkitan ekonomi. Untuk meningkatkan peranan teknologi
terhadap pertumbuhan ekonomi, perlu terus didorong penguatan sistem
inovasi nasional, termasuk dalam tataran daerah maupun sektoral.

Keterangan: angka dalam kurung adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi pada setiap fase
Gambar 2.7 Rata-rata TFPG pada Setiap Fase Perekonomian Indonesia (persen)
Sumber : Perhitungan BPPT, 2011.

Hasil perhitungan TFP 33 provinsi di Indonesia, dikelompokkan atas 6 koridor


percepatan pembangunan ekonomi dapat dilihat dalam Gambar 5.
Diagram yang ada menunjukkan besarnya TFP rata-rata tahun 2001-2008
setiap provinsi. Terlihat bahwa di sebagian besar provinsi, TFP berkontribusi
positif. Untuk koridor Jawa dan juga Bali dan Nusa Tenggara, pada semua
provinsi TFP berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi. Pada koridor
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku Papua, terdapat beberapa
provinsi dengan kontribusi TFP negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Ini
berarti pada provinsi-provinsi tersebut pertumbuhan ekonomi yang terjadi
tidak sebesar pertumbuhan faktor produksi.

20
Gambar 2.8 . Nilai TFP Provinsi pada 6 Koridor Pembangunan EKonomi, Rata-rata 2001-2008 (%)
Sumber : Hasil Perhitungan BPPT, 2011

21
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Gejala ini biasa disebut decreasing return to scale atau perekonomian


berada pada skala penambahan hasil yang menurun; penambahan faktor
produksi diikuti oleh pertumbuhan hasil produksi yang lebih rendah dari
tumbuhnya faktor produksi yang ditambahkan (ditanamkan). Pada provinsi
dengan TFP negatif ini perlu kebijakan revitalisasi teknologi. Tentu saja perlu
telaah lebih lanjut pada sektor mana saja telah terjadi decreasing return
to scale, sebelum menentukan perbaikan teknologi yang ada. Juga perlu
telaah tentang komponen teknologi mana yang perlu diperbaiki, apakah
pada komponen technoware, humanware, infoware atau orgaware.

Gambar 2.9 TFPG Rata-rata F Koridor Sumatera (persen)

Gambar 2.10 TFPG Rata-rata di Koridor Kalimantan

22
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Gambar 2.11 Koridor Jawa (persen)

Gambar 2.12 TFPG Rata-rata di Koridor Sulawesi (persen)

Gambar 2.13 FPG Rata-rata Koridor Bali Nusa Tenggara (persen)

23
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Gambar 2.14 TFPG Rata-rata Koridor Maluku Papua (persen)

TFPG Sektoral
Perkembangan teknologi nasional tidak terlepas dari perkembangan
teknologi sektoral. Perhitungan TFPG 4 sektor pada fase kebangkitan ekonomi
dirangkum dalam gambar berikut. Rata-rata perkembangan teknlogi dalam
fase kebangkitan ekonomi untuk sektor pangan dan sektor transportasi
hampir sama dengan rata-rata perkembangan teknologi nasional. Rata-
rata perkembangan teknologi sektor teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) lebih tinggi dari pada perkembangan teknologi nasional. Untuk sektor
energi, rata-rata perkembangan teknologinya berada dibawah nasional,
bahkan nilainya negatif. Ini berarti bahwa selama kurun waktu 2002-2009
pertumbuhan input sektor energi lebih besar dari pada pertumbuhan
outputnya. Jika ditelusuri lebih jauh, maka pertumbuhan input yang besar
terjadi pada pertumbuhan kapital. Selama 2002-2009 pertumbuhan kapital
sektor energi mencapai rata-rata 31,7% per tahun, sedangkan pertumbuhan
output hanya 1,88% per tahun.

Gambar 2.15 Rata-rata TFPG Sektoral (persen)

24
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

2.2. KONDISI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT CAPAIAN


INOVASI DI INDONESIA

2.2.1. Kebijakan Penguatan Sistem Inovasi

a. Keberadaan regulasi yang menghambat.

Dalam Pasal 21 UU No. 18 Tahun 2002, dijelaskan bahwa pemerintah dan


pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk
melaksanakan fungsinya. Instrumen kebijakan pada dasarnya diberikan
sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong
pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sisnas P3Iptek. Instrumen kebijakan
tersebut dapat berbentuk dukungan sumber daya, dukungan dana,
pemberian insentif, penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan pembentukan lembaga.
Hasil kajian menunjukkan bahwa regulasi yang ada saat ini banyak yang
justru masih menjadi penghambat terjadinya peningkatan inovasi dan daya
saing, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional. Kajian Bappenas tahun
2010, menunjukkan bahwa sekitar 3.091 Peraturan Daerah (Perda) tahun
2001-2009 sangat berpotensi menghambat perekonomian daerah, sehingga
perlu dikaji atau bahkan dibatalkan.

Gambar 2.16. Prosentase Tema Regulasi yang Bermasalah


Sumber : Kajian KPOD, 2011

Kajian lain, yang dilakukan oleh Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi


Daerah (KPPOD) tahun 2011 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu sepuluh
tahun terakhir tercatat 4.741 Peraturan Daerah (Perda) bermasalah yang
masih diberlakukan di 497 kabupaten dan kota. KPPOD sudah melakukan
kajian terhadap lebih dari 13 ribu Perda, dan 4 ribu lebih di antaranya
dinyatakan bermasalah. Secara keseluruhan, 90 persen Perda bermasalah itu
berkaitan pajak dan retribusi. Dari jumlah itu, 14,4 persen Perda bermasalah
terkait dengan perizinan perindustrian dan perdagangan, sedang 10 persen
terkait pengelolaan energi dan sumber daya mineral. Untuk perindustrian
dan perdagangan, lebih banyak Perda bermasalah dalam penentuan
pajak dan retribusi. Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri
tidak bisa berbuat banyak karena Perda ini sepenuhnya menjadi wewenang
Gubernur. Berdasar Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah Dan Retribusi Daerah, pemerintah pusat tidak bisa berbuat banyak.
Kewenangan penghapusan Perda itu ada di tangan Presiden.

25
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Dalam kaitannya dengan daya tarik bisnis, terdapat fakta bahwa Indonesia
menjadi semakin tidak kompetitif dalam hal iklim regulasi bisnis. Ini terungkap
dalam laporan terbaru Doing Business oleh International Finance Corporation
(IFC) (tahun 2009), yang menyusun peringkat 181 negara berdasarkan
bermacam-macam indikator yang melacak besarnya biaya dan waktu
dalam mematuhi berbagai prosedur dan regulasi dunia usaha. Dalam
laporan ini IFC mencatat terdapat 239 reformasi utama di 113 negara yang
kemudian disimpulkan oleh IFC sebagai angka tertinggi dari reformasi
yang pernah dicapai, yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Di dalam lingkungan internasional yang sangat kompetitif ini, peringkat
Indonesia secara keseluruhan justru turun dari 127 ke 129.

b. Keberadaan regulasi yang dibutuhkan

i. Insentif Fiskal
Insentif fiskal ini akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan inovasi
bangsa, karena melalui insentif fiskal aktivitas bisnis yang berkaitan dengan
pengembangan inovasi dan bisnis dapat didorong lebih berkembang.
Sejumlah insentif fiskal yang telah diberikan untuk mendorong sektor riil
selama tahun 2010 antara lain meliputi insentif perpajakan, insentif bidang
energi, bidang infrastruktur, sektor industri dan perdagangan, dan sektor
lainnya (terkait daerah).Di antara insentif fiskal antara lain diatur dengan PP
Nomor94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak Dan
Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan. Tahun 2011 juga akan
dibuat turunannya berupa Peraturan Menteri Keuangan.

Di samping itu Pemerintah dan DPR juga sedang merivisi PP Nomor 62 tahun
2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007
Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal Di Bidang-
Bidang Usaha Tertentu Danatau Di Daerah-Daerah Tertentu.
Untuk pengembangan Iptek, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2005 Tentang Alih Teknologi
Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan
Oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian Dan Pengembangan.
Walaupun dalam perjalanannya Peraturan Pemerintah ini tidak efektif
dilaksanakan terutama dalam meningkatkan insentif bagi pengembangan
lembaga-lembaga riset. Karena dukungan dari Kementerian Keuangan
masih belum efektif diterapkan.

Pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia Nomor 35 Tahun 2007 Tentang Pengalokasian Sebagian
Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan,
Inovasi, dan Difusi Teknologi. Tetapi dalam pelaksanannya juga tidak efektif
memberikan insentif bagi pengembangan Riset di dunia usaha.

ii. Perlindungan HKI.

Konsekwensi dari keikutsertaan Indonesia dalam WTO serta keikutsertaan


dalam organisasi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dunia (WIPO) serta
dampak dari perdagangan global secara umum, sampai saat ini Indonesia
secara legal telah memiliki 7 undang-undang yang mengatur tentang
perlindunga HKI, yakni:
UU No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta;
UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten;
UU No. 15 tahun 2001 tentang Merek Dagang;
UU No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang;

26
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

UU No. 31 tahun 2000 tentang Dasain Industri;


UU No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tataletak Sirkuit Terpadu;
UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.

HKI sebenarnya merupakan hal baru bagi Indonesia. Bahkan dapat


dikatakan Indonesia ketinggalan lebih 100 tahun dari negera-negara maju,
seperti Amerika Serikat, Jepang, maupun Jerman, serta Inggris.
Implementasi perundang-undangan HKI di Indonesia memang bukanlah
hal mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya
ialah perangkat perundang-undangannya sendiri. Misalnya, masih banyak
UU bidang HKI yang memerlukan peraturan pelaksana (misal, Peraturan
Pemerintah) tetapi belum ada PP-nya. Faktor masyarakatnya juga sangat
berpengaruh, di samping kurangnya pengetahuan tentang HKI juga budaya
hukum masyarakat yang komunal, padahal HKI bentuk perlindungannya
individual. Khususnya hal ini jika dikaitkan dengan Pengetahuan Tradisional
dan Sumber Daya Genetika masyarakat Indonesia. Faktor penegak hukum
sangat mempengaruhi hal tersebut, misalnya belum semua polisi, jaksa
maupun hakim yang betul-betul memahami rezim HKI.

iii. Pembiayaan Beresiko


Sampai saat ini skema pembiayaan di Indonesia yang secara khusus ditujukan
untuk perusahaan berbasis teknologi, masih belum ada. Skema yang
biasanya digunakan untuk PPBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi), di
beberapa negara biasanya adalah modal ventura.
Modal ventura merupakan suatu dana usaha dalam bentuk saham atau
pinjaman yang bisa dialihkan menjadi saham. Sumber dana tersebut adalah
perusahaan ventura yang mengharapkan keuntungan dari investasinya
tersebut (Handoyo Dipo, 1993); Menurut Neil Cross, modal ventura adalah
suatu pembiayaan yang mengandung resiko, biasanya dilakukan dalam
bentuk partisipasi equity, terhadap perusahaan-perusahaan yang
mempunyai potensi berkembang yang tinggi.

Menurut Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan,


yang dimaksud Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company)
adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan/penyertaan
modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan
(investee company) untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan
saham, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau
pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha.

Skema pembiayaan modal ventura yang saat ini banyak dilaksanakan


di Indonesia, berdasarkan hasil studi pendahuluan di beberapa daerah
yang memiliki perusahaan modal ventura, antara lain Makasar, Surabaya,
Palembang, dan Medan, ternyata dalam operasional sebenarnya masih
menggunakan pola-pola kredit perbankan biasa.

Kondisi ini akan menjadi kendala yang sangat besar untuk pengembangan
PPBT di Indonesia. Akar permasalahan dari kondisi tersebut adalah belum
adanya peraturan yang secara khusus mengatur mengenai skema
pembiayaan beresiko, khususnya modal ventura.

Beberapa prakarsa pemerintah dalam rangka pembiayaan perusahaan


pemula berbasis teknologi sudah pernah dilakukan, antara lain Asuransi
Teknologi, SUCP, dan lain-lain. Namun program-program tersebut, dengan
berbagai kendalanya, tidak dapat berjalan dalam waktu yang lama.
Salah satu pangkal permasalahannya adalah belum adanya landasan

27
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

hukum yang kuat, seperti halnya undang-undang perbankan, yang


menjadi sandaran pelaksanaan aktivitas pembiayaan beresiko di Indonesia.
Undang-undang atau Peraturan Pemerintah mengenai sistem atau skema
pembiayaan beresiko (tinggi), misalnya modal ventura, merupakan salah
satu instrumen yang sangat mendesak untuk dibuat, apabila kegiatan
pembiayaan untuk perusahaan pemula, (terutama yang berbasis teknologi)
ingin berkembang baik.

iv. Persaingan Bisnis


Dalam sebuah Negara demokrasi, Negara harus menjamin terwujudnya
nilai-nilai luhur seperti keadilan, pencangkupan kebutuhan dasar, ketertiban,
persamaan atau kebebasan. Terkadang nilai-nilai luhur tersebut saling
bertentangan. Terhadap demokrasi dalam bidang ekonomi misalnya,
terdapat pertentangan yang tajam antara nilai persamaan dengan nilai
kebebasan, khususnya dalam hal pemilikan sumberdaya ekonomi.

Untuk mewujudkan keadilan dalam berusaha, Pemerintah telah mengatur


cara berbisnis yang berkeadilan dan antara lain dengan mengeluarkan
Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-undang ini bertujuan untuk
menegakkan aturan hukum dan memberikan perlindungan yang sama
bagi setiap pelaku usaha di dalam upaya untuk menciptakan persaingan
usaha yang sehat. Undang-undang ini memberikan jaminan kepastian
hukum untuk lebih mendorong percepatan pembangunan ekonomi dalam
upaya meningkatkan kesejahteraan umum, serta sebagai implementasi dan
semangat dan jiwa Undang-Undang Dasar 1945.

c. Kinerja perijinan bisnis

Menurut kajian KPPOD, lamanya proses perizinan bisnis baru di Indonesia


antara lain karena terlalu banyaknya lembaga yang terlibat dalam
memberikan izin usaha. Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) atau One Stop
Service yang saat ini sudah banyak dikembangkan di berbagai daerah
merupakan upaya untuk menyederhanakan proses perizinan bisnis. Tetapi
ternyata untuk tingkat nasional kedudukan PTSP masih belum jelas, serta
peraturan yang mendasarinya masih saling tumpang tindih dan pada
praktiknya, keberadaan PTSP saat ini masih tunduk pada beberapa lembaga.
Sebagai contoh apabila terkait penanaman modal, unit ini harus tunduk
pada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) karena terdapat Perpres
Nomor 27 Tahun 2009 tentang PTSP di bidang penanaman modal.

Tetapi untuk membuka industri atau perusahaan para pengusaha paling tidak
akan berhubungan dengan Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Perdagangan, serta Jamsostek.
Data yang disampaikan dalam laporan Doing Business in Indonesia 2011,
khususnya bagian Starting a Business, menyebutkan bahwa mapping proses
pengurusan ijin usaha harus melalui 9 prosedur yang secara rata-rata perlu
47 hari untuk mengurusnya. Apabila dibandingkan dengan negara-negara
lain, tentu saja perizinan bisnis di tanah air masih sangat terlalu lama. Jika
disimpulkan, untuk memulai suatu bisnis di Indonesia memerlukan 47 hari
dalam melalui 9 prosedur. Tentu saja ini adalah angka rata-rata (tepatnya
median) berdasarkan proses penggalian data oleh team Doing Business.

Dibandingkan negara lain kita menduduki peringkat 155 dari 183 negara.
Sedangkan Menurut WEF (2011-2012) Indonesia dalam perizinan bisnis ada

28
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

pada ranking 121 dari 142 negara.(Sumber : Doing Business 2011 Making a
difference for entrepreneurs, Nopember 2010.)

Tabel 2.10. Kinerja Iklim Bisnis Indonesia Dan Beberapa Negara


Govt Ex-
Fiscal Tariff Income Corporate Tax Burden
No NEGARA penditure
Freedom Rate Tax Rate Tax Rate % of GDP
% of GDP

1 Indonesia 83,0 3,1 30 25 13,3 19,2


2 Burma 81,9 3,9 30 30 3,0 8
3 Malaysia 84,6 3,1 26 25 15,3 26,3
4 Philippines 78,8 3,6 32 30 14,1 17,3
5 Singapore 91,1 0,0 20 17 14,2 17
6 Thailand 74,8 4,6 37 30 16,0 17,7
7 Vietnam 75,9 10,6 35 25 23,6 28,8
8 Timor-Leste 64,7 6,0 10 10 480,0 97
9 China 70,3 4,2 45 25 18,0 20,8
10 Japan 67,0 1,2 40 30 28,3 37,1
11 India 75,4 7,9 30,9 33,99 18,6 27,2

Sumber: Index of Economic Freedom, an annual guide published by The Wall Street Journal and
The Heritage Foundation, Washingtons No. 1 think tank. 2011.

Rata-rata tertimbang tingkat tarif di Indonesia adalah 3,1 persen pada 2009.
Larangan dan pembatasan impor dan ekspor, layanan hambatan akses
pasar, peraturan non-transparan dan sewenang-wenang, persyaratan
perizinan impor dan ekspor, peraturan sanitary dan phytosanitary restriktif,
perdagangan negara, lemahnya penegakan hak kekayaan intelektual,
dan penilaian pabean tidak konsisten dan rawan korupsi yang dapat
meningkatkan biaya perdagangan (ranking 73,8). Indonesia telah
menurunkan pajak untuk tingkat moderat sebagai bagian dari reformasi
fiskal yang lebih luas. Tingkat pajak penghasilan atas individu adalah 30
persen. Tarif pajak atas perusahaan telah dikurangi dari 28 persen menjadi
25 persen. Pajak lainnya termasuk pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak
properti. Pada tahun terakhir, penerimaan pajak secara keseluruhan sebagai
persentase dari PDB adalah 13,3 persen (ranking 83,0).

d. Tata kelola pemerintahan

Tabel 2.11.Karakteristik Budaya Birokrasi di Kabupaten/Kota Sampel


Budaya Birokrasi Mean Standar Deviasi Kabupaten/ kota

Disruptive 0
Kurang kondusif -3,41 31,53 12
Kondusif -6,95 60,66 61
Sangat kondusif -15,06 56,41 14
Total -7,76 56,45 87
Sumber : KPPOD, 2002

29
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

2.2.2. Infrastruktur Inovasi

a. Perkembangan Inkubator Teknobisnis


Salah satu cara yang ditempuh Pemerintah untuk menumbuhkan dan
mengembangkan pengusaha kecil adalah melalui program inkubator bisnis
dan teknologi. Inkubator adalah suatu lembaga yang mengembangkan
calon pengusaha menjadi pengusaha yang mandiri melalui serangkaian
pembinaan terpadu meliputi penyediaan tempat kerja/kantor, sarana
perkantoran, bimbingan dan konsultasi manajemen, bantuan penelitian dan
pengembangan, pelatihan, bantuan permodalan, dan penciptaan jaringan
usaha baik lokal maupun internasional (Pedoman Pembinaan Pengusaha
Kecil Melalui Inkubator, 1998/1999).

Saat ini, kondisi pengembangan inkubator teknobisnis di Indonesia dapat


digambarkan sebagai berikut :
1. Pada tanggal 31 Maret 2010 telah dilaksanakan penandatanganan
kesepakatan bersama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan
Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Riset dan
Teknologi tentang Gerakan Nasional Pengembangan Inkubator Bisnis
dan Teknologi Sebagai Wahana Pengembangan Wirausaha Inovatif.
2. Menurut data dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) per Desember
2009, Inkubator Bisnis dan Teknologi di Indonesia yang aktif antara lain
dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.12. Inkubator Di Indonesia


No Lembaga Inkubator Kota Propinsi
1 CIKAL Inkubator Bisnis dan Teknologi USU Medan Sumut
2 Inkubator Padang, Deperind Padang Sumbar
3 Balai Inkubator Teknologi-BPPT Jakarta DKI Jakarta
Business Entrepreneurship Centre
4 Jakarta DKI Jakarta
Binus University
Inkubator BisnisPusat Penelitian dan Pengem-
5 Bogor Jabar
bangan Kewirausahaan (P3K)-IPB
6 Pusat Inkubator Bisnis-ITB Bandung Jabar
7 Pusat Inkubator Bisnis IKOPIN Bandung Jabar
Inkubator Bisnis Universitas Multimedia Nusan-
8 Tangerang Jabar
tara
9 Unit Inkubator Bisnis POLMAN Bandung Bandung Jabar
10 Inkubator LIPI Subang Jabar
11 Inkubator BisnisUniversitas Indonesia Depok Jabar
12 Pusat Inkubator BisnisPPIB-UNPAD Bandung Jabar
13 Inkubator Sekolah Tinggi Tekstil Bandung Bandung Jabar
14 Inkubator Depkominfo, Bandung Bandung Jabar
15 Inkubator UNSOED Purwokerto Jateng
16 Inkubator Bisnis UNS Solo Jateng
17 Inkubator ATMI Solo Jateng
18 Inkubator Bisnis UGM Yogyakarta DIY
Inkubator Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta,
19 Yogyakarta DIY
Deperind
20 Inkubator Bisnis UNMER Malang Jatim
Pusat Inkubator Bisnis dan Layanan Masyara-
21 Malang Jatim
kat UNIBRAW
22 Inkubator Agribisnis LPM Univ.Jember Jember Jatim
Unit Inkubator Pusat Bisnis Teknologi dan Indus-
23 Surabaya Jatim
tri (Surabaya Business Incubator Center), ITS
Sumber : AIBI, 2009.

30
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Dari data AIBI di atas dapat disimpulkan bahwa saat ini di Indonesia baru
ada 13 kota/kabupaten yang memiliki Inkubator Bisnis dan Teknologi yang
aktif.

b. Infrastruktur TIK
Menurut laporan World Economic Forum Global Information and Technology
Report (GITR) 2010 2011, Indonesia dalam mengimplementasikan
penggunaan IT menempati peringkat NRI (Networked Readiness Index) ke-
54, atau naik dari peringkat ke-67 pada tahun 2009-2010. Sehingga, Indonesia
mengungguli peringkat peringkat NRI dari sejumlah negara-negara maju
tertentu (major emerging economies) dan negara-negara Eropa serta
Amerika Latin seperti Brazil (56), Afrika Selatan (61), Polandia (62), Yunani
(64), Turki (71), Rusia (77) dan Argentina (96). Sedangkan di antara negara-
negara anggota ASEAN, Indonesia pada urutan ke-3 setelah Singapura
(2) dan Malaysia (28), dan berada di atas peringkat Vietnam (55), Brunei
Darussalam (57), Thailand (59), Filipina (86) dan Kamboja (111). Adapun yang
menduduki peringkat ke-1 adalah Swedia, ke-2 Singapura, ke-3 Finlandia,
ke-4 Swiss, ke-5 AS, ke-6 Taiwan, ke-7 Denmark, ke-8 Kanada, ke-9 Norwegia,
dan ke-10 Korea Selatan.

Kenaikan peringkat NRI Indondesia ini khususnya disebabkan oleh


meningkatnya peringkat pada komponen lingkungan, yaitu perlindungan
kekayaan intelektual (dari 67 menjadi 57) dan extent and effect of taxation
(dari 22 menjadi 17). Kenaikan peringkat juga terjadi pada komponen
kesiapan individu, usaha dan pemerintah melalui indikator-indikator seperti
kualitas pengajaran matematika dan sains (dari 50 menjadi 46), kualitas
sistem pendidikan (dari 44 menjadi 40), tarif telefon seluler (dari 35 menjadi
14), government prioritization of ICT (dari 71 menjadi 68), government
procurement of advanced technology (dari 34 menjadi 29), dan importance
of ICT to governments vision (dari 85 menjadi 62). Beberapa indikator pada
komponen individu, usaha dan pemerintah juga meningkat, yaitu akses
internet di sekolah (dari 59 menjadi 50), ICT use and government efficiency
(dari 90 menjadi 72), extent of business internet use (dari 71 menjadi 61), dan
capacity of innovation (dari 44 menjadi 30).

c. Institusi Pembiayaan Berisiko


Fase awal perusahaan pemula merupakan fase kritis, sehingga sangat
berisiko, maka diperlukan skema pembiayaan khusus yang berbeda dengan
skema perbankan pada umumnya. Untuk lebih menjamin keberlangsungan
dukungan sehingga makin banyak perusahaan pemula yang terdukung,
skema pembiayaan semacam ini perlu dilembagakan.

Beberapa institusi di Indonesia yang telah mengembangkan skema


pembiayaan berisiko antara lain :

1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang ditetapkan


melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
Nomor: 23/KEP/Menko/Kesra/VII/2007 tanggal 30 Juli 2007.

2. Ruang lingkup kegiatan PNPM-MANDIRI pada dasarnya terbuka bagi


semua kegiatan penanggulangan kemiskinan yang diusulkan dan
disepakati masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan penyediaan
sumberdaya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro untuk
mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat miskin. Perhatian yang
lebih besar diberikan bagi kaum perempuan untuk memanfaatkan dana

31
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

bergulir ini.

3. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dari


Kementerian Pertanian yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri
Pertanian Nomor: 16/Permentan/OT.140/2/2008 tanggal 11 Pebruari 2008
tentang Pedoman Umum Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan
(PUAP).

Pengembangan Usaha Agribisnis di Perdesaan yang selanjutnya di sebut


PUAP adalah bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui
bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan usaha agribisnis
sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran.

Salah satu sasaran PUAP adalah berkembangnya usaha agribisnis di


10.000 desa miskin/tertinggal sesuai dengan potensi pertanian desa serta
berkembangnya 10.000 GAPOKTAN/POKTAN yang dimiliki dan dikelola
oleh petani.

4. Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (LPDB-KUMKM) yang ditetapkan melalui Surat Keputusan
Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor: 19.4/Per/M.
KUKM/VIII/2006 tanggal 18 Agustus 2006 yang telah diubah dengan
Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor:
11/Per/M.KUKM/VI/2008 tanggal 26 Juni 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah.

LPDB-KUMKM bertugas melaksanakan pengelolaan dana bergulir


untuk pembiayaan KUMKM antara lain berupa pinjaman dan bentuk
pembiayaan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan KUMKM dimana
ketentuan mengenai kriteria KUMKM ditetapkan oleh LPDB-KUMKM.

5. Program bantuan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti)


yang bertujuan melatih jiwa kewirausahaan para mahasiswa. Bantuan ini
disalurkan melalui Perguruan Tinggi.

6. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyediakan bantuan dana bagi


sarjana yang mau berwirausaha di sektor perikanan.

7. Pemerintah Pusat, melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah


Kementerian Perindustrian tengah menyiapkan insentif untuk memajukan
Industri kreatif. Diharapkan, dengan adanya insentif tersebut anak-anak
muda semakin tertarik mengembangkan Industri kreatif dengan menjadi
wirausaha. Sistem insentif yang sedang digodok pemerintah itu meliputi
fasilitas pembiayaan untuk memulai bisnis dan fasilitas keringanan pajak.

8. Putera Sampoerna Foundation memperkenalkan program kewirausahaan


yang memberikan ekosistem kewirausahaan untuk mengembangkan
potensi generasi Indonesia dalam berwirausaha, membuka lapangan
pekerjaan, dan mengembangkan jaringan Angel Investor melalui sarana
fisik dan online dalam bentuk portal berbasis web.

Melihat fakta di atas, kiranya sudah cukup banyak ketersediaan institusi di


Indonesia yang mengembangkan skema pembiayaan untuk pengusaha
pemula yang berisiko. Dalam hal ini yang masih perlu diperhatikan adalah
masalah sosialisasi dan implementasi di lapangan agar berjalan sesuai

32
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

sasaran.

d. Institusi MSTQ
Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pembangunan adalah faktor
pendukung MSTQ, yang di Indonesia secara resmi telah mulai dimasukkan
ke dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun II (Repelita II), PJP I, sebagai
Proyek jaringan Standardisasi, Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi (Proyek
SKIM). Pengelolaan proyek ini dilakukan oleh Menteri Negara Riset (waktu
itu) diserahkan kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam
melaksanakan proyek ini LIPI telah membentuk dua buah Proyek, yaitu:
1. Proyek Pengembangan Sistem Nasional untuk Standardisasi, yang
menghasilkan dibentuknya Dewan Standardisasi Nasional (DSN),
Pusat Standardisasi LIPI sebagai Sekretariat DSN, serta ditetapkannya
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kalibrasi, Instrumentasi dan
Metrologi-LIPI (PusLitbangyasa KIM, LIPI) sebagai Lembaga Pengelola
Standar Nasional untuk Satuan Ukuran.
2. Proyek Pengembangan Sistem Nasional untuk Kalibrasi, Instrumentasi,
dan Metreologi yang menghasilkan pembentukan satu lembaga
baru, yaitu PusLitbangyasa KIM LIPI sebagai penerus dari Lembaga
Instrumentasi Nasional

Dalam perkembangannya, DSN telah membentuk Komite Standar Nasional


untuk Satuan Ukuran (KSNSU) sebagai Lembaga Khusus yang dimaksud
dalam Bab lII Pasal 11 Undang-Undang Metrologi Legal No. 2/ 1981 tentang
Pembinaan Standar Nasional Satuan Ukuran.

Sementara itu, sejak 1978, secara internasional telah berkembang suatu


standar sistem manajemen mutu yang dapat diberlakukan secara
universal, yang dengan cepat mendapat sambutan luas, khususnya dalam
penerapannya di perdagangan bebas. Standar yang mengutamakan
konsistensi dan kestabilan melalui dokumentasi yang ketat dan kaji ulang ini
dikenal dengan nama standar ISO 9000. Standar ini telah diadopsi menjadi
Standar Nasional Indonesia 9000 (SNI 9000) pada tahun 1992.

Sarana dan prasarana teknis MSTQ dikenal juga dengan istilah infrastruktur
teknis atau infrastruktur standar dan kesesuaian. Prasarana teknis ini
merupakan gabungan beberapa sistem atau unsur teknis, seperti sistem
pengukuran dan standar, sistem kalibrasi, akreditasi, pengujian, dan sertifikasi
kesesuaian. Agar infrastruktur teknis yang terdiri dari beberapa unsur itu dapat
berfungsi secara efisisen dan efektif, haruslah ada kesinergian antarunsurnya.
Kesinergian itu diharapkan tidak saja terjadi di suatu negara/ekonomi, tetapi
juga antar negara/ekonomi secara global.

Terbatasnya laboratorium uji dan kalibrasi yang telah diakreditasi berdasarkan


persyaratan di atas belum seimbang dengan jurnlah kebutuhan di sektor
industri. Sebagai gambaran, di Indonesia terdapat sekitar 3.000 industri besar,
puluhan ribu industri menengah, serta jutaan industri kecil. Industri-industri
itu perlu mendapat dukungan pengujian atas produk-produk mereka dan
kalibrasi terhadap alat ukur dan uji yang digunakan dalam proses produksi
yang ruang lingkupnya sangat luas. Sementara itu, kemampuan uji dan
kalibrasi dari laboratorium yang tersedia sering tidak dapat memenuhinya
sehingga masih banyak alat ukur yang masih harus menggunakan jasa
kalibrasi dari negara lain, bahkan masih belum tertangani sampai saat ini.

33
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

2.2.3. Kapasitas Lembaga Iptek

Dalam kerangka sistem inovasi, lembaga Iptek merupakan komponen sistem


(sub sistem) inovasi yang memegang peranan penting, terutama sebagai
penghasil temuan-temuan baru (Invansion Provider). Dengan Demikian
maka kinerja sistem inovasi nasional salah satunya ditentukan oleh sejauh
mana lembaga-Iptek yang ada mampu menghasilkan temuan-temuan
baru yang siap diaplikasikan oleh industri sesuai kebutuhan.

Kemampuan lembaga Iptek dalam menghasilkan temuan-temuan baru


tersebut, ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain kewenangan yang
dimiliki, kapasitas pembiayaan, kapasitas sumber daya manusia, kapasitas
infrastruktur dan kapasitas pengetahuan. Faktor-faktor tersebut terkait satu
sama lain menghasilkan kinerja penciptaan temuan baru pada lembaga
Iptek. Mekanisme keterkaitan faktor-faktor penciptaan temuan baru pada
lembaga-lembaga Iptek tersebut, dalam kerangka sistem inovasi dapat
dilihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.17. Keterkaitan Antar Faktor Dalam Penciptaan Temuan Baru Di Lembaga
Litbangyasa

Permasalahan di sisi ini ditandai dengan masih terbatasnya kemampuan


sumber daya Iptek (jumlah SDM, kepakaran, kekayaan intelektual, sarana
dan prasarana serta anggaran), kelembagaan Iptek (organisasi, regulasi,
koordinasi, intermediasi), serta jaringan Iptek (intersektor; antarsektor;
antarpemangku kepentingan; antarkementrian; serta antarpusat dan
daerah).

Sebagai upaya memahami kinerja faktor-faktor tersebut berikut gambaran


kondisi dari masing-masing faktor yang dapat mempengaruhi kapasitas
lembaga Litbangyasa /Iptek dalam menghasilkan temuan-temuan baru.
Kelembagaan Iptek pemerintah.

Dari sisi kelembagaan, dapat dijelaskan bahwa di luar perguruan tinggi,


pemerintah memiliki dua kategori lembaga penelitian yaitu: Lembaga
Penelitian Non Kementerian (LPNK), dan Lembaga Penelitian Kementerian
(LPK) yang dimiliki oleh beberapa kementerian, sebagaimana digambarkan
pada Gambar 2.8.

34
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Lembaga Iptek di Indonesia terdiri dari 114 perguruan tinggi negeri, 301
perguruan tinggi swasta, 8 badan usaha milik negara, 8 badan usaha milik
swasta, 76 lembaga penelitian kementerian, 91 Lembaga Penelitian Non
Kementrian, dan 24 Lembaga Penelitian Pembangunan Daerah (Sumber :
DRN, 2008).

Gambar 2.18. Struktur Kelembagaan Iptek Pemerintah


Sumber : Hasil Analisis, 2011

Koordinasi antarlembaga penelitian itu masih perlu ditingkatkan baik


antara program, antara produk penelitian yang ada di berbagai lembaga
penelitian, maupun antara program dan produk yang telah dilaksanakan di
masa lampau (re-inventing the wheel syndrome). Hal itu telah mengakibatkan
efisiensi kegiatan Litbangyasa di Indonesia menjadi kurang optimal.

Dalam aspek manajemen program Iptek, persoalan tumpang tindih penelitian


menjadi salah satu permasalahan yang perlu ditangani adalahterjadinya
tumpang tindih hasil riset para peneliti di berbagai lembaga riset, baik di
kampus maupun pemerintahan menyebabkan hasil-hasil riset tersebut tidak
terintegrasi dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
Seharusnya, bila koordinasi dan sinkronisasi riset bisa berjalan dengan baik,
selain bisa menciptakan integrasi riset yang memang dibutuhkan masyarakat,
juga dapat menekan biaya riset yang cenderung mahal.

Upaya untuk mengurangi tumpang tindih dan meningkatkan sinergi


kegiatan riset di berbagai lembaga penelitian baik dalam LPNK dan/atau

35
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

LPK terus dilakukan, antara lain, dengan menerbitkan Buku Putih Penelitian,
Pengembangan dan Penerapan Iptek 2005-2025 dan Kebijakan Strategis
Nasional (Jakstranas) Iptek 2005-2009 yang selanjutnya dijabarkan oleh
DRN ke dalam Agenda Riset Nasional (ARN) 2005-2009. Namun, efektivitas
mekanisme pengelolaan riset nasional yang ditujukan untuk menjaga
sinergisme antar kegiatan riset seperti yang dibangun dalam ARN, dinilai
masih belum terbangun dengan baik.

b. Perkembangan Pembiayaan Iptek


Secara nominal, pembiayaan Iptek di Indonesia terus meningkat dari tahun-
ke tahun. Laju pertumbuhan rata-rata pembiayaan Iptek pemerintah pada
periode 2000- 2006 adalah sebesar 8.4% per tahun. Namun dilihat dari
prosentasenya terhadap APBN maka terlihat kecenderungan yang menurun.
Pada tahun 2000 prosentase anggaran Iptek dalam APBN adalah sebasar
0.7%, semantara pada tahun 2006, prosentase tersebut menurun menjadi
0.49% dari APBN.

Gambar 2.19. Perkembangan Pembiayaan Iptek (Milyar)


Sumber : Ristek, 2010

Gambar 2.20.: Perkembangan Prosentase Pembiayaan Iptek (Milyar)


Terhadap APBN
Sumber : Ristek, 2010

Secara umum data menunjukkan bahwa lebih dari 88% dana lembaga
penelitian berasal dari dana sendiri (DIPA), dan hanya sekitar 4% berasal dari
swasta, 0.16% berasal dari instansi pemerintah lainnya, dan yang berasal dari
luar negeri sebesar 46%. Kondisi ini mencerminkan bahwa kolaborasi strategis

36
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

antara Litbangyasa dengan industri atau swasta masih sangat terbatas.

Gambar 2.21. Komposisi Sumber Pembiayaan Iptek


Sumber : Ristek, 2007

c. Kapasitas SDM Iptek


Pada tahun 2004, jumlah tenaga Litbangyasa di lembaga pemerintah di
Indonesia mencapai 24.967 orang. Jumlah ini masih lebih besar dibandingkan
dengan Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Dilihat dari
pertumbuhannya, jumlah tenaga Litbangyasa menunjukkan pertumbuhan
yang positif yang dari 25.967 orang pada tahun 2004 menjadi 27.261 pada
tahun 2006. Rata-rata pertumbuhan pada periode tersebut adalah sebesar
9.3% per tahun.

Gambar 2.22. Kinerja Perkembangan Jumlah Tenaga Litbangyasa


Sumber : Ristek, 2010

Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk indonesia, maka prosentasi


tenaga Litbangyasa tersebut masih sangat kecil. Selain prosentasenya masih
rendah, distribusi tenaga litbangyasa juga relatif tidak berimbang. Tenaga
Litbangyasa pemerintah lebih banyak terdapat di Pulau Jawa, terutama di
kota-kota besar.

d. Infrastruktur Kelembagaan Iptek


Permasalahan lainnya adalah kurang memadainya ketersediaan infrastruktur
Litbangyasa Iptek, inefisiensi pemanfaatan sumberdaya Litbangyasa yang
ada, serta sulitnya mobilisasi pemanfaatan fasilitas Litbangyasa antar
lembaga.

Saat ini jumlah laboratorium pengujian di Indonesia cukup banyak. Namun


untuk laboratorium kalibrasi yang terakreditasi masih sedikit jumlahnya.
Akreditasi dari KAN bisa menjadi pendukung teknis perdagangan produk
nasional. Nantinya jumlah produk Indonesia bisa bersaing di dunia
internasional, khususnya menghadapi pasar global ASEAN Community 2015.

37
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Adapun data terkini jumlah laboratorium pengujian di Indonesia sekitar 500


laboratorium. Sedangkan laboratorium kalibrasi sekitar 120 laboratorium.
Jumlah ini masih kalah jauh dengan jumlah laboratorium serupa di Australia
pada 10 tahun lalu yang sudah mencapai lebih dari 4.000. Setiap tahun,
laboratorium melayani rata-rata 400 pelanggan industri swasta dan BUMN
yang mengujikan peralatan dan produk. (LIPI,2011).

2.2.4. Kapasitas Absorpsi Industri


Permasalahan di sisi ini ditandai dengan tingginya ketergantungan produk
industri nasional terhadap impor serta lemahnya minat dan kontribusi swasta
dalam pembangunan Iptek Nasional. Ketergantungan industri terhadap
produk impor masih sangat tinggi salah satunya disebabkan oleh lemahnya
kualitas SDM di industri. Hal ini menyebabkan lemahnya penguasaan serta
pengembangan teknologi penunjang industri sehingga sulit diharapkan
tercapainya peningkatan produktivitas melalui inovasi-inovasi teknologi.

Dari hasil survai BPPT Tahun 2006 terhadap industri kecil menengah, terlihat
bahwa walaupun ada perubahan teknis yang dilakukan baik dari sisi produk
maupun proses, tidak banyak kegiatan inovasi yang telah dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan. Hal ini disebabkan oleh pertama, rendahnya
kemampuan teknologi perusahaan, termasuk pengetahuan personelnya
yang tidak mendukung perusahaan untuk melakukan kegiatan inovasi.

Kedua, besarnya biaya yang diperlakukan untuk melakukan kegiatan inovasi


membuat perusahaan tidak memiliki cukup biaya untuk melakukannya.
Ketiga, rendahnya permintaan atas produk hasil inovasi. Persepsi risiko
ini timbul karena ada anggapan di kalangan calon pengguna bahwa
teknologi baru yang dikembangkan lembaga Litbangyasa belum teruji
dengan baik. Kendala lain adalah kesenjangan pengetahuan (knowledge
gap), biaya terlalu tinggi, kemitraan, risiko ekonomi, serta kurangnya personil
yang berkualitas.

Selain itu, rendahnya kandungan dalam negeri produk-produk industri


nasional adalah akibat lemahnya struktur industri utama dalam membangun
industri-industri penunjang dan pemasok bahan baku/antara (intermediate)
di dalam negeri, lemahnya upaya pengembangan produk, serta tidak
adanya koordinasi lintas sektoral yang baik sehingga tuntutan terhadap
kebutuhan Litbangyasa dan teknologi sangat minim.

Permasalahan lain adalah kesesuaian antara ilmu dan teknologi yang


dikembangkan oleh lembaga-lembaga Litbangyasa dengan ilmu dan
teknologi yang dibutuhkan oleh pengguna masih rendah. Ungkapan
bahwa lembaga penelitian tidak menghasilkan produk yang berguna bagi
masyarakat dan dunia usaha tidak tertarik menggunakan teknologi hasil
penelitian lembaga Litbangyasa nasional sering terungkap di berbagai
kesempatan.

Seyogyanya hubungan antara penghasil ilmu dan teknologi dengan


pihak industri yang membutuhkan terjalin melalui mekanisme pasar dalam
bentuk transaksi ekonomi. Hanya dalam hal ini mekanisme pasar tidak
dapat bekerja secara sempurna. Untuk itu, perlu intervensi pemerintah baik
langsung maupun tidak langsung. Kebijakan yang ada belum cukup. Hal ini
ditunjukkan oleh rendahnya transaksi antara lembaga Litbangyasa dengan

38
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

pengguna Iptek di industri.

Gambar 2.23.Sumber Teknologi (lokal) Industri Manufaktur


Sumber : Survey Industri Besar Manufaktur , BPPT, 2011

Regulasi yang memudahkan terjadinya transaksi perlu disusun, fasilitas-fasilitas


intermediasi yang memudahkan pihak industri menemukan expertise yang
diperlukan perlu dibangun. Demikian juga, fasilitas publik yang memudahkan
industri melakukan pengembangan dan penerapan teknologi baru perlu
dibangun. Semua hal itu disebut sebagai masalah koordinasi. Selain itu,
diperlukan juga perbaikan pada sistem dan rantai birokrasi agar kondusif
untuk meningkatkan sistem inovasi di dunia usaha. Data berikut menunjukkan
bukti penjelasan di atas :

a. Penggunaan/Perolehan Paten oleh Industri

Gambar 2.24. Perkembangan Pembayaran Royalti dan Lisensi (milyar)


Sumber : KAM (2009)

Data aktual Pembayaran Fee Royalty dan Lisensi Indonesia pada tahun 2005
sampai 2007 mengalami peningkatan, khususnya tahun 2007 yang meningkat
sebesar 8,5%. Namun jika dilihat rata-rata pertumbuhannya dari tahun 2005-
2007 hanya mencapai 2,7% per tahun.Jika dibandingkan dengan negara
lain seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, pembayaran Fee Royalty dan
Lisensi Indonesia pada tahun 2005 sampai tahun 2007 masih lebih rendah.

b. Pengeluaran Litbangyasa Sektor Swasta


Jumlah belanja Litbangyasa oleh swasta di Indonesia mengalami peningkatan
dari tahun 2006 sampai tahun 2007, tetapi menurun pada tahun 2008. Tahun
2008 pengeluaran Litbangyasa sektor swasta di Indonesia masih lebih rendah
dibandingkan dengan Malaysia (4.6) dan Singapura (5.1) (skala 1 7). Hasil
survai LIPI Tahun 2008, menyatakan bahwa anggaran Litbangyasa sektor
indutri hanya mencapai 200milyar rupiah atau kurang dari 0.01% dari PDB.

39
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Gambar 2.25. Perkembangan Belanja Litbangyasa Swasta


Sumber : LIPI. 2009

c. Ekspor Teknologi Tinggi Sebagai Prosentase Ekspor Manufaktur


Secara umum, dapat disimpulkan bahwa ekspor teknologi tinggi sebagai
persen ekspor manufaktur Indonesia mengalami fluktuasi mulai tahun 2001
sampai tahun 2007.

Gambar 2.26. Perkembangan Ekspor Teknologi Tinggi Sebagai Prosentase EksporManufaktur


Sumber : UNDP, 2008

Pada tahun 2007 ekspor teknologi tinggi sebagai prosentase dari ekspor
manufaktur Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan Singapura
(46%), Malaysia (52 %), Thailand (27%), dan Filipina (54 %).

d. Daya Serap Teknologi di Tingkat Perusahaan


Daya serap teknologi perusahaan-perusahaan di Indonesia mengalami
peningkatan dari tahun 2006 sampai tahun 2008, namun masih berada di
posisi juru kunci dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN. Rata-rata
pertumbuhan daya serap teknologi oleh industri di Indonesia pada periode
2006-2010 adalah sebesar 3,2% per tahun.

Gambar 2.27. Perkembangan Kinerja Daya Absorsi Teknologi Oleh Industri


Sumber : WEF, 2007-2010.

40
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

2.2.5. Keterkaitan Lembaga Iptek dengan Industri

Semakin disadari bahwa dinamika kemajuan Iptek, kecenderungan


globalisasi dan kompleksitas beragam perubahan yang menyertainya
tak lagi memungkinkan aktor dalam sistem inovasi bekerja sendiri secara
terisolasi. Keterkaitan, jaringan, dan interaksi serta sinergi positif merupakan
resep kunci keberhasilan dalam sistem inovasi.

Beragam studi (misalnya OECD (1997, 1999) mengungkapkan bahwa


kolaborasi antara beragam pihak, termasuk antara pengembang/penyedia
dan pengguna teknologi, mempengaruhi kinerja perusahaan secara postif.
Inovasi semakin bergantung kepada interaksi yang efektif antara basis
pengetahuan dan sektor bisnis. Selain itu, jejaring dan kolaborasi antar
perusahaan maupun non perusahaan kini semakin penting dan semakin
membutuhkan keterlibatan jasa layanan yang semakin sarat pengetahuan
dibanding di masa lalu.
Fenomena Silicon Valley dan Research Triangle (Amerika Serikat), Third
Italy (Italia), atau British Motor Sport Industry, Oxfordshire/Northamptonshire
(Inggris) adalah beberapa contoh pentingnya keterkaitan, jaringan, interaksi
dan kolaborasi sinergis multipihak.

Di Indonesia, kondisi keterkaitan lembaga Iptek dengan industri dapat


digambarkan antara lain sebagai berikut:

a. Kerjasama Lembaga Iptek dengan Industri.


Daya inovasi Indonesia terkendala oleh antara lain kolaborasi antara
universitas, Litbangyasa, dan indutsri yang masih rendah. Pengembangan
Iptek untuk ekonomi diarahkan pada peningkatan kualitas dan pemanfaatan
Iptek nasional dalam rangka mendukung daya saing secara global. Namun
demikian masih banyak kendala dalam pelaksanaannya antara lain:
rendahnya kontribusi Iptek nasional di sektor produksi dan belum optimalnya
mekanisme intermediasi Iptek yang menjembatani interaksi antara kapasitas
penyedia Iptek dengan kebutuhan pengguna. Efektivitas kegiatan
Litbangyasa nasional (yaitu kesesuaian antara Iptek yang dikembangkan
dengan kebutuhan nyata) belum memenuhi harapan di mana kemampuan
sisi Litbangyasa menyediakan solusi teknologi belum memadai, kemampuan
sisi pengguna menyerap teknologi baru masih rendah, dan modus transaksi
antara sisi Litbangyasa dan sisi pengguna belum terbangun dengan baik.

Gambar 2.28. Kolaborasi Riset Universitas dengan Perusahaan (skala 1-7)


Sumber: WEF 2009)

Gambar 2.17. menunjukkan kolaborasi riset universitas dengan perusahaan.


Dalam skala 1-7, semakin tinggi angka yang ditunjukkan dalam tabel tersebut
menunjukkan semakin besar kolaborasi riset universitas dengan perusahaan

41
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

yang terjadi di negara yang bersangkutan. Walaupun di Indonesia terjadi


peningkatan dari tahun 2006 ke 2008, namun jika dibandingkan dengan
negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Thailand baik pada tahun
2006, 2007 maupun 2008, kolaborasi riset universitas dengan perusahaan di
Indonesia masih lebih rendah. Namun jika dilihat dari trend peningkatakan
kinerja kerjasama industri dan lembaga Iptek, terlihat adanya peningkatan
yang signifikan yakni mencapai rata-rat 9.8% per tahun pada periode 2006-
2008.

Berdasarkan Global Competitiveness Report 2011-2012 kemitraan universitas-


industri kita berada pada peringkat ke-41 dari 142 negara. Hal ini turut
memberi andil bagi turunnya indeks daya saing global Indonesia ke posisi
44 setelah berada di peringkat ke-54 pada tahun sebelumnya. Sebuah
pencapaian yang cukup memberi harapan. Kendatipun demikian, di sisi lain
pengembangan universitas riset di tanah air nampaknya belum memberi
kontribusi signifikan bagi pembangunan nasional.

Sementara itu, Gambar 2.18. menunjukkan alasan kelemahan dari aspek


linkage. Beberapa alasan-alasan tersebut adalah kurangnya informasi/
sosialisasi, HKI, dukungan regulasi, kuranya aksesibilitas dan mekanisme yang
belum jelas.

Gambar 2.29. Alasan dari Kelemahan dari Aspek Linkage


Sumber : BPPT (2005)

2.2.6. Budaya Inovasi

Budaya inovasi adalah kultur dalam masyarakat yang mendukung


bagi pemajuan inovasi dan kewirausahaan secara umum. Beragam isu
menunjukkan belum berkembangnya kultur dalam masyarakat yang
mendukung bagi kemajuan inovasi dan kewirausahaan secara umum. Isu-
isu tersebut antara lain meliputi :

1. Rendahnya pertumbuhan entrepreneur


Pertumbuhan pebisnis baru merupakan salah satu indikator tumbuhnya
budaya inovasi. Di Indonesia, pertumbuhan pebisnis baru ini masih sangat
rendah. Hingga kini jumlah entrepreneur di Indonesia baru mencapai 0,24
persen dari total jumlah penduduk. Jumlah ini kalah jauh dibandingkan
negara tetangga seperti Singapura yang mencapai 7,2 persen, Thailand
4,1 persen dan Malaysia 2,1 persen. (Sumber : Kementerian Koperasi dan
UKM, Pebruari 2011).

42
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Padahal untuk membangun ekonomi bangsa yang maju, menurut


sosiolog David Mc Cleiland, dibutuhkan minimal 2% pewirausaha dari
seluruh populasi penduduk Indonesia.

2. Rendahnya perolehan HaKI baik di dalam maupun di luar negeri.


Besar kecilnya perolehan Hak Kekayaan Intelektual, terutama yang
bermuatan inovasi yaitu paten dan desain industri, menunjukkan kemajuan
budaya inovasi. Di Indonesia, perolehan ini baik di dalam maupun di luar
negeri masih rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara lain.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal HaKI Departemen Hukum
dan HAM Republik Indonesia, pada tahun 2011 sampai dengan bulan
Mei data Paten di Indonesia dapat disampaikan sebagai berikut :

Permohonan Paten :
Dalam Negeri : 2 + 138 + 84 = 224
Luar Negeri : 1.931 + 163 + 18 = 2.112

Paten Granted di Indonesia :


Dalam Negeri : 87 + 18 = 105
Luar Negeri : 1.007 + 3 = 1.010

Grafik berikut menggambarkan kondisi permohonan paten di Indonesia


dimana permohonan paten dalam negeri sangat jauh dibawah
permohonan paten dari luar negeri :

.
Gambar 2.30.Jumlah Permohonan Paten 1991-2010
Sumber : Direktorat Paten,2010

Grafik dan tabel berikut menggambarkan rendahnya paten Indonesia


dibandingkan beberapa negara Asean lainnya yang terdaftar di Kantor
Paten Amerika (USPTO) :

Gambar 2.31. Paten Indonesia yang Terdaftar di USPTO

43
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Sumber : KMRT, 2010

Data terakhir menurut United States Patent and Trademark Office


(USPTO) menyebutkan pada tahun 2010, aplikasi paten beberapa
negara Asean ke Amerika adalah sebagai berikut :
Singapura : 603 aplikasi.
Malaysia : 202 aplikasi
Thailand : 46 aplikasi
Filipina : 37 aplikasi
Indonesia : 6 aplikasi
Vietnam : 2aplikasi

c. Kurangnya apresiasi terhadap prestasi inovasi baik dari pemerintah maupun


dari swasta.
Proses terjadinya inovasi, sampai dengan capaian komersial atau terjadinya
adopsi secara luas, memiliki beberapa tahapan. Setiap tahapan perlu
diberikan apresiasi agar prakarsa inovatif lebih banyak yang mencapai
tujuan. Namun hal ini masih kurang banyak dijumpai di Indonesia.
Beberapa program apresiasi prestasi inovasi yang pernah berjalan di
Indonesia antara lain :

1. Lomba Inovasi nasional yaoung Inventor Awards (NYIA) LIPI


National Young Inventor Awards adalah kompetisi kreativitas ilmiah bagi
remaja usia 8-18 tahun dalam melakukan inovasi. Kegiatan ini bertujuan
untuk meningkatkan kreativitas, memberikan apresiasi dan menggali
potensi remaja di bidang inovasi teknologi. Lomba tingkat nasional ini
merupakan ajang untuk menjaring inventor remaja ke kompetisi tingkat
regional maupun internasional Kegiatan NYIA ini diselenggarakan oleh
LIPI.

2. Kompetisi Desain Alat Inovatif, Black Innovation Awards Djarum Black.


Kompetisi ini melombakan desain alat alat yang merupakan
pengembangan ide, dan fungsi sehingga memunculkan bentuk baru
yang lebih kreatif, yang memungkinkan dipakai oleh semua orang.
Kompetisi ini diharapkan dapat mendorong dan merangsang masyarakat
untuk dapat mengembangkan bentuk penemuan penemuan itu
melalui desain alat inovatif yang berguna bagi masyarakat. Kompetisi ini
diselenggarakan oleh Djarum Black.

3. Lomba Inovasi Ditjen HaKI.


Dalam upaya mengamankan ide-ide kreatif Bangsa Indonesia dalam
menghadapi Perjanjian Perdagangan Bebas Cina-ASEAN (China-ASEAN
Free Trade Agreement/CAFTA), Direktorat Jenderal Hak Kekayaan
Intelektual Kementerian Hukum & HAM RI menyelenggarakan lomba
inovasi.

4. Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan ITS.


Acara Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan 2011 atau yang lebih akrab
disebut LITL 2011 merupakan acara tahunan dari Himpunan Mahasiswa
Teknik Lingkungan ITS. Kegiatan ini dinaungi oleh Departemen Pengabdian
Masyarakat.

Dari fakta di atas, di Indonesia belum banyak gerakan yang dilakukan untuk
mendorong prakarsa inovatif melalui apresiasi prestasi inovasi. Masih banyak
aktor-aktor penguatan sistem inovasi yang perlu mendapatkan dukungan
dan penghargaan secara nasional.

44
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

d. Kekurangpedulian Terhadap Pengetahuan Tradisional.


Kekurangpedulian terhadap pengetahuan tradisional menyebabkan
terjadinya eksplorasi dan eksploitasi pegetahuan tradisional yang dilakukan
pihak asing tanpa ada ijin dari masyarakat pemiliknya, akibatnya di Indonesia
sendiri tidak terjadi pemanfaatan dan pengembangan pengetahuan
tradisional. Sebagai contoh adalah adanya pengetahuan pengobatan
tradisional Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, yang telah dipatenkan
oleh pengusaha-pengusaha Jepang. Tercatat 39 pendaftaran paten telah
diterbitkan sertifikatnya oleh Japanese Patent Office (JPO).

Dari kasus ini dapat diketahui bahwa peneliti atau perusahaan Jepang telah
berhasil mengembangkan bahan dan pengetahuan tradisional Indonesia
menjadi karya temuan mereka sendiri yang memperoleh perlindungan paten
di Jepang. Pemerintah Indonesia maupun pihak-pihak yang berkompeten
tidak mendapatkan sepersenpun dari keuntungan yang diperoleh
pengusaha-pengusaha Jepang tersebut. (Sumber : Achmad Gusman, UPT.
INRIK-Unpad, 2006).

2.2.7. Perkembangan Klaster Industri

Dalam tataran sektoral-industrial, maka klaster industri merupakan salah satu


perwujudan dari sistem inovasi.

a. Kebijakan Pengembangan Klaster Industri


Landasan pengembangan klaster industri di Indonesia dapat digambarkan
sebagai berikut :

1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2008 Tentang


Kebijakan Industri Nasional, Pasal 3 butir 1 (b) yaitu Pemerintah
Kabupaten/Kota menyusun peta panduan pengembangan kompetensi
inti industri Kabupaten/Kota. Kebijakan tersebut masih belum mendapat
respon yang positif sehingga menjadi kendala tersendiri untuk daerah
pada saat merencanakan pengembangan kompetensi inti daerah.

2. UU No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional


(PROPENAS) Tahun 2000-2004 (Lembaran Negara Tahun 2000 No. 206),
pendekatan klaster industri, dituangkan secara eksplisit dalam dokumen
PROPENAS (khususnya Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan
Memperkuat Landasan Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan
yang Berdasarkan Sistem Ekonomi Kerakyatan,) sebagai salah satu dari
5 agenda kebijakan yang merupakan prioritas pembangunan nasional).
Pendekatan klaster industri dinilai sebagai suatu pendekatan yang tepat
bagi peningkatan daya saing ekonomi.

3. Kementerian Perindustrian telah mengeluarkan kebijakan tentang Peta


Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri dimulai dari Nomor:
103 sampai dengan 137/M-IND/PER/10/2009 dengan rincian klaster
menurut komoditas. Klaster di Indonesia umumnya belum berkembang
dan dalam kondisi dormant (90%), namun masih potensial untuk
dikembangkan. Merujuk pada kondisi klaster yang umum di Indonesia,
maka pengertian klaster yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah
sebagaimana disampaikan oleh Schmitz (1997) yakni berbentuk sentra.
(SCHMITZ, 1997: Klaster didefinisikan sebagai grup perusahaan yang

45
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

berkumpul pada satu lokasi dan bekerja pada sektor yang sama).

4. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan klaster/sentra


adalah sebagai berikut:

Kurangnya kebijakan pemerintah yang melindungi komoditas


unggulan melalui penerapan tarif dan tata niaga;
Beredarnya produk sandang dan pangan impor illegal;
Masuknya perusahaan multinasional dalam berbagai industri;
Biaya produksi yang tinggi (listrik dan bahan bakar minyak/BBM);
Penerapan standar produk yang kurang dapat dipenuhi industri kecil;
Masuknya investasi asing yang menyebabkan beberapa industri
kecil semakin terjepit. Misalnya, kehadiran hypermarket yang menjual
banyak produk termasuk produk pangan dari luar negeri;
Terbatasnya kemampuan manajerialdalam perencanaan,
implementasi serta pengendalian usaha.

b. Perkembangan Klaster Industri


Setelah lima tahun klaster industri Indonesia berlangsung. Pertumbuhannya
signifikan. Salah satu contoh sukses perkembangan klaster komoditas yang
inovatif adalah industri kreatif. Peningkatan kontribusi ekonomi kreatif
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7,74 persen per
2010. Nilai tambah berlaku nilai ekonominya sudah 2 kali lipat dari Rp270
triliun jadi Rp446 triliun di 2010. Kontribusi tehadap PDB Nasional 7,4% pada
2006, sekarang 7,74% (2010).Sementara itu, berdasarkan laporan The
Global Competitiveness Report 2010-2011World Economic Forum (WEF),
pengembangan klaster industri di Indonesia dinilai sudah cukup baik dengan
menempati peringkat 24 dari 142 negara.

Ekspor industri kreatif juga menunjukkan hal mengembirakan, nilainya


naik dari 85 miliar dolar AS menjadi 131 miliar dolar AS. Itu pun masih
belum menghitung jasa yang diekspor. Sementara, sektor yang tumbuh
pesat dan paling tinggi adalah penerbitan dan percetakkan sebesar
17,5%, dimana rata pertumbuhannya 6-7%. Sedangkan untuk fashion,
pertumbuhannya sebesar 52%. Arsitektur, periklanan, riset pengembangan
tingkat partisipasi tenanga kerja 17%. Fashion sumbang ekspor terbanyak
52%. Film dan video dan fotografi dengan pertumbuhan ekspor terbesar
104%. Ditengah perkembangan tersebut, terdapat 5 tantangan utama
dalam mengembangkan industri kreatif. Pertama, tantangan bagaimana
penguasaan teknologi bisa dilakukan; kedua, bagaimana meningkatkan
sumber daya manusia (SDM), memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan
bagaimana peraturan pemerintah bisa melindungi hak kekayaan intelektual
(HaKI). (Sumber : Mari Elka Pangestu. Industri Kreatif Sumbang PDB 7,74 Persen.
Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011, di JCC, Jakarta.)

c. Perkembangan Rantai Nilai Perusahaan.


World Economic Forum (WEF) tahun 2011 juga menilai bahwa Rantai Nilai
Perusahaan di Indonesia berkembang cukup baik. Kinerja perkembangan
rantai nilai perusahaan di beberapa negara ASEAN dinilai dalam skala 1 7
seperti pada tabel 2.5. Semakin tinggi angka, semakin panjang rantai nilai
perusahaan. Angka 1 menunjukkan bahwa perusahaan hanya terlibat dalam
ekstraksi atau produksi sumber daya, sedangkan angka 7 menunjukkan
bahwa perusahaan tidak hanya memproduksi, tetapi juga melakukan
desain produk, penjualan, logistik dan layanan purna jual.

46
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Tabel 2.13. Rantai Nilai Perusahaan di Indonesia

Rangking
Nilai Skala 1-7
No Negara (dari 142 negara)
2010 2011 2010 2011
1 Sigapura 5.3 5.3 10 10
2 Malaysia 4.8 4.8 20 23
3 Indonesia 4.4 4.4 26 29
4 Thailand 4.1 4.1 37 36
5 Philipina 3.7 3.6 59 67
6 Vietnam 3.4 3.1 76 101
Sumber : The Global Competitiveness Report 2010-2011 World Economic Forum.

2.2.8. Posisi di Pasar Global dan Kerjasama Regional

Tantangan global yang dihadapi oleh Indonesia mencakup kepatuhan


terhadap konvensi internasional, dan kepatuhan terhadap standar yang
berlaku secara internasional termasuk pemberlakuan HaKI. Berbagai kelemahan
yang dimiliki tersebut pada akhirnya mempengaruhi tingkat kesiapan Indonesia
(pada tataran nasional maupun daerah) untuk berperan di arena global
beserta beragam kecenderungan perubahan yang berkembang untuk dapat
memaksimumkan kemanfaatan bagi, dan meminimalisasi dampak negatifnya
terhadap masyarakat.

a. Daya Tarik Investasi Global


Sebagai dampak dari pelemahan ekonomi global, salah satu tantangan
terbesar yang masih akan dihadapi dalam beberapa tahun ke depan
adalah kecenderungan menurunnya aliran investasi dari negara-negara
maju. Namun demikian, prospek untuk berinvestasi di Indonesia cukup baik.
UNCTAD (2009) dalam World Investment Prospect 2009-2011 melaporkan
bahwa prospek untuk berinvestasi di Indonesia menduduki peringkat ke-8
(delapan) atau cukup prospektif, terutama karena besarnya pasar dan
ketersediaan sumber daya alam. Meskipun demikian, ke depan keunggulan
berupa besarnya pasar dan sumberdaya alam yang dimiliki perlu
didukung dengan pelayanan perizinan dan ketersedian infrastruktur untuk
meningkatkan daya tarik investasi bagi para investor.

47
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI
Gambar 2.32. Negara Tujuan Paling Atraktif Bagi Investasi Langsung AsingTahun 20092011
Sumber: World Investment Prospect, UNCTAD 2009
Meskipun prospek untuk berinvestasi di Indonesia cukup baik, Indonesia belum
optimal dalam hal menarik investor asing. Kondisi bisnis di Indonesia dinilai
oleh berbagai survai masih belum cukup bersaing dibandingkan dengan
negara-negara lain terutama dalam satu kawasan. Hasil survai yang dilakukan
oleh World Economic Forum terhadap 142 negara menunjukkan bahwa
Indonesia menduduki peringkat ke-46 berdasarkan Global Competitiveness
Index (GCI) 2011-2012.

Dalam hal kebebasan berusaha yang ditentukan dalam Index of Economic


Freedom, pada tahun 2009 Indonesia menduduki peringkat ke-131 dari 181
negara yang disurvai, dan pada tahun 2011 mengalami kenaikan menjadi
peringkat ke 116 dari 179 negara.

Demikian halnya untuk kemudahan usaha, Indonesia masih menduduki


peringkat 122 dari 183 negara yang disurvai oleh IFC-World Bank untuk
Doing Business tahun 2010. Secara umum, baik fasilitas maupun mekanisme
berinvestasi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Singapura,
Malaysia, China, dan Thailand. Selain itu, berdasarkan survai daya saing
yang dilakukan Bappenas dan LPEM UI (2008) terhadap 200 perusahaan
(Gambar 2.22), terlihat bahwa prosedur perizinan serta waktu dan biaya
yang dibutuhkan untuk proses ekspor dan impor merupakan faktor utama
penghambat berinvestasi di Indonesia, yang diikuti dengan kondisi makro
ekonomi, dan ketersediaan infrastruktur.

Gambar 2.33.Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Iklim Investasi


Sumber: LPEM UI (2008)

Berdasarkan berbagai hasil survai tersebut diatas permasalahan yang


dihadapi untuk meningkatkan investasi adalah (a) belum optimalnya
pelaksanaan harmonisasi, sinkronisasi, dan simplifikasi berbagai kebijakan,
baik antarinstitusi di pusat dan antara pusat dengan daerah; (b) kualitas
infrastruktur yang kurang memadai; (c) masih cukup panjangnya proses
perizinan investasi sehingga masih tingginya biaya perjinan investasi
dibandingkan dengan negara-negara kompetitor; (d) belum tercukupinya
pasokan energi yang dibutuhkan untuk kegiatan industri; (e) masih cukup
banyak Peraturan Daerah (PERDA) yang menghambat iklim investasi; (f)
masih terkonsentrasinya sebaran investasi di pulau Jawa, dan (g) belum
optimalnya pelaksanaan alih teknologi.

b. Kedudukan Ekspor
Perekonomian dunia sepanjang tahun 2009 masih terkontraksi. Namun
dengan mulai meredanya tekanan pada perdagangan dunia, kondisi

48
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

permintaan global diharapkan akan mulai membaik di semester II tahun 2009.


Perbaikan ini didukung oleh 2 (dua) faktor penting, yaitu stimulus fiskal yang
dilakukan oleh hampir semua negara yang terkena krisis dan kesepakatan
dunia untuk menghindari upaya proteksi dalam meredam dampak krisis.

Tabel 2.14. Perkembangan Nilai dan Pertumbuhan Ekspor Indonesia


2004-2009*)
Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009*)
Nilai Ekspor
(USD Juta)
Total Ekspor 71.584,6 85.660,0 100.798,6 114.100,9 137.020,4 103.145,3
Ekspor Migas 15.645,30 19.231,50 21.209,50 22.088,60 29.126,30 16.510,0
Ekspor Nonmigas 55.939,3 66.428,5 79.589,1 92.012,3 107.894,1 86.635,3
Pertanian 2.496,2 2.880,3 3.364,9 3.657,8 4.584,6 3.950,1
Industri 48.677,3 55.593,7 65.023,9 76.460,8 88.393,4 65.291,7
Pertambangan 4.761,4 7.946,9 11.191,4 11.885,0 14.906,2 17.393,5

Pertumbuhan (%)
Total Ekspor 17,2 19,7 17,7 13,2 20,1 -19,50
Ekspor Migas 14,6 22,9 10,3 4,1 31,9 -40,44
Ekspor Nonmigas 18,0 18,8 19,8 15,6 17,3 -13,71
Pertanian -1,2 15,4 16,8 8,7 25,3 -6,12
Industri 19,1 14,2 17,0 17,6 15,6 -20,97
Pertambangan 19,2 66,9 40,8 6,2 25,4 28,11
Sumber: Badan Pusat Statistik
Keterangan: *) Angka Januari-November 2009

Kinerja ekspor Indonesia selama periode 2005- 2008 menujukkan tren


pertumbuhan yang cukup tinggi, dari USD 85,7 miliar pada tahun 2005
menjadi USD 137,0 miliar pada tahun 2008 atau meningkat rata-rata 17,6
persen per tahun. Peningkatan ekspor tersebut didukung oleh kenaikan
ekspor migas dan ekspor non-migas, ekspor migas meningkat dari USD 19,2
miliar menjadi USD 29,1 miliar dengan rata-rata pertumbuhan 17,3 persen,
dan ekspor nonmigas meningkat dari USD 66,4 menjadi USD 107,9 dengan
rata-rata pertumbuhan 17,8 persen.

Namun demikian, pada tahun 2009, ekspor Indonesia mengalami tekanan


sejalan dengan krisis ekonomi dunia sehingga ekspor migas menurun 47,52
persen sebagai akibat dari menurunnya harga minyak dan gas di pasar
internasional. Sementara itu, ekspor non-migas Indonesia diperkirakan
mengalami penurunan sebesar 13,71 persen pada Januari- November 2009.
Secara umum, penurunan nilai ekspor non-migas disebabkan oleh dua faktor
utama, yaitu turunnya permintaan dan harga secara bersamaan.

Tabel 2.15. Pangsa Pasar Ekspor Nonmigas Periode 2004-2009*)


Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009*)
Nilai Ekspor Nonmigas
(USD Juta)
Dunia 55.939,30 66.428,40 79.589,10 92.012,30 107.894,10 86.635,3
Total Pasar Ekspor
Tradisional 30.147,90 35.458,50 41.575,50 45.368,50 50.412,10 39.470,5

Amerika 8.272,10 9.507,90 10.682,50 11.311,30 12.531,10 9.412,6


Singapura 5.390,70 7.068,60 7.824,20 8.990,40 10.104,50 7.254,0

49
BAB II. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL SAAT INI

Jepang 8.383,50 9.561,80 12.198,60 13.092,80 13.795,30 10.717,2


Uni Eropa 8.101,60 9.320,20 10.870,30 11.974,00 13.981,20 12.086,6
Total Pasar Ekspor
Non Tradisional 25.791,40 30.969,90 38.013,60 46.643,80 57.482,00 22.912,6

RRT 3.437,40 3.959,80 5.466,60 6.664,10 7.787,10 7.711,6


India 2.115,20 2.865,40 3.326,50 4.885,00 7.060,80 5.818,3
Korea Selatan 1.846,00 2.595,40 3.414,60 3.746,40 4.660,30 4.482,9
Malaysia 2.870,10 3.309,60 3.789,60 4.593,10 5.984,50 4.899,9
Lainnya 15.522,70 18.239,70 22.016,30 26.755,20 31.989,30 24.252,2
Pangsa Pasar
(persen)
Dunia 100 100 100 100 100 100
Total Pasar Ekspor
Tradisional 53,9 53,4 52,2 49,3 46,7 45,6
Amerika 14,8 14,3 13,4 12,3 11,6 10,9
Singapura 9,6 10,6 9,8 9,8 9,4 8,4
Jepang 15 14,4 15,3 14,2 12,8 12,4
Uni Eropa 14,5 14 13,7 13 13 14,0
Total Pasar Ekspor
Non Tradisional 46,1 46,6 47,8 50,7 53,3 54,5
RRT 6,1 6 6,9 7,2 7,2 8,9
India 3,8 4,3 4,2 5,3 6,5 6,7
Korea Selatan 3,3 3,9 4,3 4,1 4,3 5,2
Malaysia 5,1 5 4,8 5 5,5 5,7
Lainnya 27,7 27,5 27,7 29,1 29,6 28,0
Sumber : Badan Pusat Statistik | Keterangan : *) Angka Januari - November 2009

Struktur produk ekspor non-migas Indonesia pada periode 2005-2009 sudah


mengalami diversifikasi, dimana semula didominasi oleh komoditi bernilai
tambah rendah (ekspor non-manufaktur), saat ini sudah mulai didominasi
oleh komoditi yang bernilai tambah relatif tinggi, yaitu komoditi sektor Industri.
Rata-rata komposisi ekspor non-migas 2004-2008 adalah sebagai berikut:
produk industri berkontribusi sebesar 82 persen senilai US$ 66,5 miliar,
sementara sisanya adalah sektor pertambangan dan pertanian yang
berperan masing-masing sebesar 13,5 persen senilai US$ 11,3 miliar dan 4,6
persen senilai US$ 3,4 miliar.

Upaya diversifikasi pasar tujuan ekspor Indonesia sudah menunjukkan hasil.


Pangsa pasar ekspor Indonesia di pasar nontradisional semakin menunjukkan
peningkatan setiap tahunnya, dari sebesar 46,1 persen pada tahun 2004,
menjadi 54,5 persen pada tahun 2009.
Dalam periode 2010-2014, persaingan untuk meningkatkan ekspor akan
semakin kuat. Oleh sebab itu, agar daya saing ekspor semakin meningkat,
berbagai permasalahan yang terkait dengan perdagangan luar negeri
harus disederhanakan.

Permasalahan pokok dalam pengembangan ekspor, antara lain adalah


sebagai berikut.

Pertama, kurangnya akses pasar, sehingga ekspor Indonesia masih


terkonsentrasi pada beberapa negara tujuan ekspor. Meskipun
ketergantungan terhadap beberapa negara tujuan ekspor utama sudah
semakin berkurang, namun upaya untuk melakukan diversifikasi pasar masih
perlu ditingkatkan.

50
Kedua, kualitas produk yang belum sesuai dengan permintaan dan standar
internasional. Sebagai contoh, produk ekspor terutama bahan dan produk
makanan serta produk kayu dan hasil olahannya sering menghadapi
hambatan di pasar ekspor negara maju karena adanya permasalahan standar
kesehatan, standar lingkungan, dan standar produksi (Good Manufacturing
Practices). Hambatan yang sering dihadapi oleh produk ekspor Indonesia
adalah ketatnya kebijakan impor dalam rangka perlindungan terhadap
konsumen dan kelestarian lingkungan di negara maju.

Ketiga, meningkatnya hambatan non-tarif di pasar tujuan ekspor, karena


adanya kecenderungan berbagai negara menerapkan kebijakan
mengamankan perekonomian untuk meredam dampak krisis global.
.
Tabel 2.16. Perbandingan Biaya Dan Waktu Ekspor Di Beberapa Negara
DOKUMEN
WAKTU UNTUK BIAYA EKSPOR
KAWASAN/ UNTUK MELAKU-
MELAKUKAN (USD PER KON-
NEGARA KAN EKSPOR
EKSPOR (HARI) TAINER)
(JUMLAH)
OECD 10,5 1.089,7 4,3
Asia Timur dan Pasifik 23,1 909,3 6,7
Amerika Latin dan Karibia 18,6 1.243,6 6,8

Asia Selatan 32,4 1.364,1 8,5


Sub-Sahara Afrika 33,6 1.941,8 7,8
Indonesia 21 704 5

Singapura 5 456 4
Thailand 14 625 4
Malaysia 18 450 7

China 21 500 7

Vietnam 22 756 6
Sumber: Doing Business, World Bank (2010)

Keempat, belum optimalnya upaya untuk meningkatkan keberagaman


produk ekspor di pasar global. Padahal, produk ekspor yang lebih beragam
menjadi faktor penting dalam menghadapi tingkat persaingan produk ekspor
dari sesama negara berkembang di pasar internasional yang diperkirakan
akan semakin ketat.

Kelima, belum optimalnya pemanfaatan berbagai kesepakatan


perdagangan (seperti: perjanjian perdagangan bebas) yang dapat
dimanfaatkan sebagai wahana untuk meningkatkan ekspor ke negara
mitra, baik multilateral, regional, maupun bilateral.

Keenam, masih belum optimalnya upaya fasilitasi ekspor-impor, yang


tercermin dari: (i) belum optimalnya pemanfataan berbagai skema
perdagangan, seperti imbal dagang sebagai alternatif pola perdagangan
dalam rangka penetrasi di pasar non-tradisional; (ii) waktu yang diperlukan
untuk ekspor lebih lama dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, seperti
Thailand, Singapura, dan Malaysia; (iii) Jumlah dokumen untuk ekspor yang
belum berkurang dalam beberapa tahun terakhir; serta (iv) biaya ekspor
per kontainer yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara tetangga
akibat sistem logistik yang tidak efisien. Penyebab utama ketidakefisienan ini

51
adalah tingginya biaya transportasi kargo, belum efisiennya manajemen di
pelabuhan, serta rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur

Berdasarkan hasil survai Bappenas dan LPEM UI (2008) terhadap 200


perusahaan di 5 (lima) kota Indonesia, faktor terpenting yang mempengaruhi
daya saing perdagangan luar negeri adalah proses ekspor-impor; yang
menurut persepsi dunia usaha faktor ini memberikan kontribusi sebesar
55,17 persen (dari total sebesar 100 persen) terhadap peningkatan daya
saing perdagangan luar negeri (Gambar 3.23). Oleh sebab itu, upaya untuk
meningkatkan fasilitas ekspor akan berperan penting dalam meningkatkan
daya saing perdagangan luar negeri.

Gambar 2.34. Faktor Penting Yang Mempengaruhi Daya Saing Perdagangan Luar
Negeri
Sumber: LPEM UI (2008),

c. Pencapaian Standard-Standard Internasional


Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agreement
Establishing the World Trade Organization (WTO)), sebagaimana telah
diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dengan Undang-undang Nomor 7
Tahun 1994 tentang Persetujuan Pembentukan WTO (LN RI Tahun 1994 No.
57, TLN No. 3564) telah menciptakan sistem perdagangan global yang gerak
arus transaksi produk melintasi batas-batas wilayah suatu negara dengan
meminimalkan hambatan teknis perdagangan.

Untuk mendukung produk nasional dalam menghadapi proses globalisasi


tersebut, Indonesia terus berupaya maksimal meningkatkan pengembangan
dan harmonisasi Standar Nasional Indonesia terhadap standar internasional,
sebagai bagian strategi memperlancar perdagangan produk-produk
Indonesia di pasar internasional.

52
Gambar 2.35. Komposisi Penggunaan SNI
berdasarkan Sektor Tahun 2010
Sumber: http://www.bsn.go.id/ diakses pada 3 Juli 2011

BSN mewakili Indonesia dalam berbagai kegiatan pengembangan


standar internasional yang dilaksanakan oleh International Organization for
Standardization (ISO), International Electrotechnical Commision (IEC), Codex
Alimentarius Commission (CAC), serta kegiatan penerapan harmonisasi
standar dan penilaian kesesuaian dalam rangka mengurangi hambatan
perdagangan di tingkat regional ASEAN melalui ASEAN Consultative
Committee for Standards and Quality (ACCSQ), di tingkat regional Asia
Pasifik melalui APEC - Sub-Committee on Standards and Conformance
(APEC-SCSC), Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC),
Pacific Accreditation Cooperation (PAC), Pacific Area Standards Congress
(PASC) dan di tingkat internasional melalui World Trade Organization
Technical Barriers to Trade (WTO-TBT), International Laboratory Accreditation
Cooperation (ILAC) dan International Accreditation Forum (IAF).

Kegiatan standardisasi internasional tersebut mendukung peningkatan


produktivitas, daya guna produksi, mutu produk, proses, sistem dan
meningkatkan kemampuan personel, dengan tetap mempertimbangkan
kepentingan Indonesia, sehingga kemampuan daya saing bangsa menjadi
lebih meningkat, khususnya terhadap perlindungan konsumen, industri,
tenaga kerja dan lingkungan hidup.

Standar Nasional Indonesia (SNI) merupakan standar yang diberlakukan


secara nasional dan disusun berdasarkan konsensus dan bersifat sukarela.
SNI tidak mempunyai nilai bila tidak digunakan oleh pelaku pasar. Badan
Standardisasi Nasional (BSN) menitipkan beberapa pertanyaan standardisasi
pada Survai Tahunan Perusahaan Industri Pengolahan tahun 2008 yang
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mendapatkan informasi
penggunaan SNI di industri. Jumlah responden pada kajian ini adalah 12.723
industri pengolahan yang meliputi industri skala besar sebesar 3.034 (23.7%)
dan industri skala sedang sebesar 9.753 (76.3%).

Jumlah industri pengguna SNI adalah 969 (7.6%), industri pengguna Standar
Internasional (SI) sebesar 282 (2.2%), industri pengguna SNI dan SI sebesar 354
(2,78%) dan industri yang tidak pengguna SNI maupun SI sebesar 8.353 (65.6%).
Hasil survai Industri pengguna SNI berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia (KBLI) 2 digit menunjukkan bahwa industri pengguna SNI

53
yang paling besar terkonsentrasi pada KBLI 15 yaitu jenis makanan dan
minuman (47.4%), KBLI 36 industri furniture dan industri pengolah lainnya
(7.7%), KBLI 25 industri karet dan barang dari karet (6%), KBLI 24 industri Kimia
dan barang-barang dari bahan kimia (5.4%) dan KBLI 20 industri Kayu, barang
dari kayu (tidak termasuk furnitur) dan barang-barang anyaman ( 5.3%.).

Industri yang tidak menggunakan SNI dan tidak menggunakan SI adalah


sebesar 8.353 industri (sekitar 65.7%). Alasan tidak menggunakan SNI maupun
SI adalah tidak dipersyaratkan oleh pasar atau konsumen (37.6%); biaya
mahal, prosedur sulit, tidak ada LPK dan tidak disyaratkan pasar (26.7%) dan
biaya mahal, prosedur sulit, tidak tahu prosedur, tidak ada LPK dan tidak
disyaratkan pasar (12.5%).

Pengaruh penggunaan standar terhadap upah tenaga kerja, output per


tenaga kerja, produktivitas per tenaga kerja bagi industri, hasil survei BPS
menunjukkan bahwa industri pengguna SNI dapat memberikan upah rata-
rata per bulan sebesar 1,3 juta rupiah, pengguna SI sebesar 2,4 juta, pengguna
standar SNI dan SI sebesar 2,87 Juta dan industri yang tidak menggunakan
SNI maupun SI sebesar 1,67 juta rupiah per bulan; Industri pengguna SNI
dapat menghasilkan output per tenaga kerja sebesar 330 juta, sedangkan
perusahaan pengguna SI sebesar 2,9 milyar, pengguna SI & SNI sebesar 13,3
milyar, dan perusahaan yang tidak menggunakan standar SNI maupun SI
sebesar 540 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan pengguna
SNI belum mampu memberikan kontribusi rata-rata output per tenaga
secara maksimal, sehingga penggunaan SNI masih banyak menghadapi
kendala dan pengguna SNI dapat menghasilkan produktivitas per tenaga
kerja sebesar 93 juta rupiah per tahun, pengguna SI sebesar 2 milyar dan
pengguna SI dan SNI sebesar 13 milyar. Hal ini menunjukkan perpaduan
penggunaan SI & SNI menghasilkan nilai tambah yang paling baik. (Sumber :
Untari Pudjiastuti, Biatna Dulbert Tampubolon, Kajian Pengaruh Penggunaan
Standar Nasional Iindonesia (SNI) Di Industri, Majalah : Prosiding PPIS Volume
: Edisi Banjarmasin 2010).

d. Kelembagaan Intelejensi Pasar Internasional


Konsep bussiness inteligent disebut juga kecerdasan bisnis. Konsep ini
merupakan penerapan dari konsep artificial inteligent pada company
inteligent. Konsep ini merupakan salah satu yang wajib dilakukan oleh
semua perusahaan multi nasional company untuk dapat mempertahankan
penguasaannya atas perdagangan skala dunia ataupun skala negara.
Suatu konsep yang wajib dipelajari oleh setiap pengusaha lokal Indonesia
yang hendak bergerak menjadi perusahaan berskala nasional. Juga wajib
bagi pengusaha nasional yang hendak mempertahankan market share
menjelang AFTA.

Bussiness inteligent juga telah banyak dipakai di bidang R&D. Penggunaan


konsep Bussiness inteligent oleh Boeing bahkan telah berhasil menekan
kesalahan dalam pengembangan pesawat penumpang masa depan,
boeing 777 hingga 50 persen. Juga berhasil memangkas 30 hingga
40 persen biaya pembuatan pesawatnya. Salah satu contoh lain dari
penerapan bussiness inteligent di bidang R&D adalah perusahaan Kalbe
Farma, sebuah perusahaan farmasi nasional. Dengan bussiness inteligent,
Kalbe Farma telah berhasil menjadi perusahaan yang patut diperhitungkan
di skala Asia Tenggara. Kunci penerapan bussiness inteligent di bidang R&D
adalah penggunaan basis data yang dapat diakses oleh semua orang di
perusaahaan untuk menyimpan hasil-hasil penelitian. Penerapan bussiness
inteligent telah menurunkan anggaran uji coba hingga hanya sepertiga.

54
Terlepas dari beberapa keuntungan penerapan bussiness inteligent,
sesungguhnya keunggulan utama dari penerapan konsep tersebut adalah
adanya knowledge management. Knowledge management memungkinkan
semua karyawan mengetahui apa yang terjadi di dalam perusahaan.
Terlepas dari apakah kejadian tersebut terjadi di kota lain, pulau lain, benua
lain, ataupun belahan dunia lain.Salah satu contoh terbaik dari knowledge
management adalah yang telah diterapkan oleh Coca-Cola Company.
Coca-Cola Companymengelola perusahaan bisnis yang membuat empat
dari lima minuman ringan paling laku di dunia. Kira-kira dua pertiga penjualan
Coca-Cola dan hampir 80 persen labanya diperoleh dari pasar internasional.
Coca-Cola mempunyai lebih dari 160 merek minuman yang mencakup jus,
teh, kopi, minuman olahraga, dan minuman berbahan dasar susu yang
dijual hampir ke setiap negara di dunia.

2.2.9. Kohesi Sosial

Masalah konflik sosial, kerusuhan antar kampung, demo yang anarkhis dan
keinginan daerah untuk memisahkan diri dari NKRI merupakan fenomena sosial
yang semakin banyak muncul di Indonesia sejak digulirkannya era reformasi.
Berapa biaya yang harus dibayar akibat masalah ini, sampai sekarang belum
ada penelitian (baik nasional maupun internasional) yang mengukur seberapa
besar kerugian baik materil maupun non materil yang ditimbulkan.

Namun demikian penelitian yang dilakukan para peneliti bidang politik


(Putnam et al. 1993, Knack 2002, Coffe and Geys 2005) mendapatkan bukti
bahwa negara atau daerah yang memiliki tingkat keguyuban yang lebih tinggi
menunjukan tingkat pelayanan publik yang lebih baik yang dapat diberikan
pemerintah, akuntabilitas keuangan dan kepatuhan pada norma dan
peraturan. Beberapa ahli psikologi (Berkman and Syme 1979, Coleman 1988,
Helliwell 2003), mendapatkan bukti bahwa tingkat keterlibatan masyarakat
dalam aktivitas memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kesehatan
dan pendidikan yang dicapai.

Selain itu temuan apara ahli ekonomi juga mendapatkan hubungan yang
kuat antara modal sosial dengan kesejahteraan ekonomi negara atau
daerah termasuk pendapatan rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi
yang menyeluruh. (Knack and Keefer 1997, Zak and Knack 2001, Narayan and
Pritchett 1999, Grootaert 2001, Tabellini 2005, Knowles and Weatherston 2007).

Kohesi sosial termasuk dalam katagori moda sosial. Selama dua puluh tahun
terakhir, topik kohesi sosial hampir hilang dari perdebatan politik, ekonomi dan
akademisi. Meskipun demikian, tatanan masyarakat modern dan kaya termasuk
negara-negara Eropa, menghadapi tantangan baru yang ditimbulkan oleh
pembangunan ekonomi dan sosial baru-baru ini.

Pendekatan utama untuk studi kohesi sosial telah diidentifikasikan dengan dua
pendekatan (Chan et al., 2006). Pertama adalah pendekatan sosiologi dan
psikologi berdasarkan pada studi integritas dan stabilitas sosial (Berger, 1998;
Gough dan Olofsson, 1999). Kedua adalah pendekatan yang berorientasi
pada kebijakan; telah diadopsi oleh pemerintah Kanada, pemerintah Eropa
dan lembaga internasional lainnya yang menganggap bahwa kohesi sosial
sebagai prasyarat bagi kemakmuran ekonomi.

55
Kohesi sosial terkadang didefinisikan sebagai perekat yang menyatukan
masyarakat, membangun keselarasan dan semangat kemasyarakatan, serta
komitmen untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Diasumsikan bahwa kohesi
sosial merupakan syarat dasar bagi sebuah masyarakat. Di sisi lain, konflik
merupakan sebuah proses dinamis dan saling mempengaruhi antara isu-isu
yang bertentangan (situasi konflik yang mendasar), sikap negatif (persepsi
pihak-pihak yang bertentangan terhadap pihak lain dan pihaknya sendiri),
serta perilaku pemaksaan dan kekerasan (tindakan antara pihak-pihak yang
bertentangan).

Dewan Eropa mendefinisikan kohesi sosial sebagai:

kemampuan suatu masyarakat untuk menjamin kesejahteraan anggotanya,


menekan perbedaan dan menghindari polarisasi. Masyarakat yang kohesif
merupakan komunitas yang terdiri dari individu-individu bebas yang saling
mendukung, mencapai tujuan bersama secara demokratis.

Sebaliknya, Ritzen et al. (2000) lebih menekankan aspek modal sosial dari kohesi
sosial, dengan mendefinisikannya sebagai satu keadaan dimana sekelompok
orang (dalam suatu wilayah geografis) menunjukkan kemampuan untuk
berkolaborasi dan menghasilkan iklim untuk perubahan.
Lima dimensi utama dari kohesi sosial ditemukan dari empat dokumen kebijakan
pemerintah Perancis dan Kanada, OECD, dan Kelompok Roma. Lima dimensi
tersebut mencakup :

1. Kebersamaan Isolasi
(nilai-nilai bersama, identitas, perasaan komitmen),
2. Pengikutsertaan Pengesampingan
(kesempatan yang setara untuk memperoleh akses),
3. Partisipasi Ketidakterlibatan
(dalam hal kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya),
4. Penerimaan Penolakan
(menghargai dan mentoleransi perbedaan dalam masyarakat majemuk)
dan
5. Legitimasi Ilegitimasi
(akan institusi-institusi yang berperan sebagai mediator dalam konflik di
mayarakat majemuk).

Ulasan ini mengidentifikasi dua dimensi tujuan sosial dari kohesi sosial. Yang pertama
mengenai mengurangi perbedaan, ketidakadilan, dan pengesampingan sosial.
Sementara yang kedua menekankan pada memperkuat hubungan, interaksi
dan ikatan sosial, kurang lebih mencakup landasan konsep yang sama seperti
modal sosial.

Tabel 2.17. Operasionalisasi 18 Indikator Kohesi Sosial


Relations
Sphere
Formal/ attitudinal Substantial/behavioural
Economic income insertion

56
Political Confidence in national distribu- Participation in legal political activi-
tive systems ties
Confidence in national organi- Participation in illegal political activi-
zations ties
Confidence in authority institu- Political interest
tions
Political adherence
Intended voting participation
Socio- Proximal solidarity Involvement in social activities/
cultural Vulnerable people solidarity associations
Family solidarity Involvement in political activi-
Intention of solidarity ties/ associations
Involvement in cultural activi-
ties/associations
Involvement in youth and lei-
sure activities/associations
Intensity of social relations

Sumber: Social Cohesion: Measurement Based on the Data from European


Value Study, 1999

Menurut Mitchell ada 3 karakteristik kohesi sosial, yaitu:


1. Komitmen individu untuk norma dan nilai umum,
2. Kesalingtergantungan yang muncul karena adanya niat untuk berbagi
(shared interest), dan
3. Individu yang mengidentifikasi dirinya dengan grup tertentu.

Dimensi tersebut kemudian dikembangkan oleh Bernard (1999) berdasarkan


dua faktor yaitu domain aktivitas manusia (ekonomi, politik dan sosial budaya )
dan domain yang berhubungan dengan perbedaan relasi sosial alami seperti
misalnya nilai-nilai dan sikap yang ditunjukan dalam gambar dibawah ini.

Tabel 2.18. Index of Social Cohesion, Country Scores:


RANK NEGARA INDEX ITEMS
1 Canada 9.42 11
2 New Zealand 8.73 11
3 Sweden 8.51 10
4 United States 8.34 11
5 Switzer land 7.93 7
6 Australia 7.83 11
7 Ireland 7.77 7
8 Hong Kong, China 7.75 6
9 Finland 7.50 10
10 Nether lands 7.15 10
18 Singapore 6.77 8
20 Taiwan, China 6.69 6
35 Vietnam 5.64 10
42 China 5.52 10
79 Malaysia 4.76 9
84 Indonesia 4.70 9
107 Philippines 4.43 8
131 Cambodia 3.89 6
136 Thailand 3.81 9

Sumber: 2011 The Economic Rationale for Social Cohesion The Cross-Country Evidence, hal .10,
Roberto Foa, Harvard University

57
Berdasarkan skema konsep yang dikembangkan oleh Woolcock et al.
(2004), Bank Dunia melalui proyek pengembangan indikator sosial telah
membuat serangkaian indeks kohesi sosial termasuk pengukuran kohesi antar
kelompok, serta pengukuran aspek hubungan interpersonal yang aman
dan terpercaya, yang mencakup 165 masyarakat diseluruh dunia (Foa,
2010) dimana didalamnya termasuk Indonesia. Indeks kohesi sosial ini telah
diluncurkan pada tahun 2011 oleh Institute for Social Studies at the Hague-
Den Haag, merupakan sumber data yang kaya antar negara tentang aspek
kohesi sosial (ISS 2011).

Data yang mendasari indeks berkisar hampir 200 indikator berasal dari 25
sumber meliputi data hasil survai dari masalah diskriminasi antar kelompok
sampai frekuensi berita koran yang dipublikasi tentang kerusuhan antara
kelompok, serta penilaian para ahli tentang ketegangan etnis dan agama.

Gambar 2.36. Korelasi GDP per kapita dengan indeks kohesi sosial
Sumber: 2011 The Economic Rationale for Social Cohesion The Cross-Country Evidence, hal
.10, Roberto Foa, Harvard University

Gambar di atas menunjukan korelasi yang kuat dan positif antara GDP per
kapita dengan kohesi sosial. Hal disebabkan dua hal: pertama adanya modal
sosial yang lebih kuat merupakan outcome dari hasil proses ekonomi yang
berkelanjutan.

Penguatan kohesi sosial dapat dilakukan melalui antara lain:


Sistem pengelolaan teknologi tradisional (Masyarakat);
Prakarsa inventarisasi dan dokumentasi pengetahuan/teknologi
masyarakat;
Kampanye kepedulian pengelolaan, pengetahuan/teknologi
masyarakat;
Kemitraan Inovasi pengetahuan/ teknologi masyarakat;
Program reverse brain-drain (inklusi sosial).

58
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN
SISTEM INOVASI NASIONAL

3.1. TUJUAN PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL

3.1.1. Amanat Undang-Undang

Berdasarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi dalam
dua puluh tahuna mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia, dan amanat pembangunan yang tercantum
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, maka diterbitkan Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana
pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 disebutkan Visi Rencana
pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 Indonesia, adalah Indonesia
yang maju, mandiri, adil dan makmur.
Adapun Misi Pembangunan Nasional adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya,
dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila yaitu dengan memperkuat jati
diri dan karakter bangsa melalui pendidikan yang bertujuan membentuk
manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi
aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama,
melaksanakan interaksi antar budaya, mengembangkan modal sosial,
menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan
sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual,
moral, dan etika pembangunan bangsa.
2. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing yaitu dengan mengedepankan
pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing;
meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan Iptek melalui penelitian,
pengembangan, dan penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan;
membangun infrastruktur yang maju serta reformasi di bidang hukum
dan aparatur negara; dan memperkuat perekonomian domestik berbasis
keunggulan setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan
membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi, dan pelayanan termasuk
pelayanan jasa dalam negeri.
3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum yaitu dengan
memantapkan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh; memperkuat
peran masyarakat sipil; memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi
daerah; menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam
mengkomunikasikan kepentingan masyarakat; dan melakukan pembenahan
struktur hukum dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hukum
secara adil, konsekuen, tidak diskriminatif, dan memihak rakyat kecil.
4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu yaitu dengan membangun
kekuatan TNI hingga melampaui kekuatan esensial minimum serta disegani
di kawasan regional dan internasional; memantapkan kemampuan
dan meningkatkan profesionalisme Polri agar mampu melindungi dan
mengayomi masyarakat; mencegah tindak kejahatan, dan menuntaskan
tindakan kriminalitas; membangun kapabilitas lembaga intelijen dan kontra-

59
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

intelijen negara dalam penciptaan keamanan nasional; serta meningkatkan


kesiapan komponen cadangan, komponen pendukung pertahanan dan
kontribusi industri pertahanan nasional dalam sistem pertahanan semesta.
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan yaitu dengan
meningkatkan pembangunan daerah; mengurangi kesenjangan sosial secara
menyeluruh, keberpihakan kepada masyarakat, kelompok dan wilayah/
daerah yang masih lemah; menanggulangi kemiskinan dan pengangguran
secara drastis; menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap
berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi; serta
menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek termasuk gender.
6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari yaitu dengan memperbaiki
pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga
keseimbangan antara pemanfaaatan, keberlanjutan, keberadaan, dan
kegunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan tetap
menjaga fungsi, daya dukung, dan kenyamanan dalam kehidupan pada
masa kini dan masa depan, melalui pemanfaatan ruang yang serasi antara
penggunaan untuk pemukiman, kegiatan sosial ekonomi, dan upaya
konservasi; meningkatkan pemanfaatan ekonomi sumber daya alam dan
lingkungan yang berkesinambungan; memperbaiki pengelolaan sumber
daya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan;
memberikan keindahan dan kenyamanan kehidupan; serta meningkatkan
pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal
dasar pembangunan.
7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju,
kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional yaitu dengan menumbuhkan
wawasan bahari bagi masyarakat dan pemerintah agar pembangunan
Indonesia berorientasi kelautan; meningkatkan kapasitas sumber daya
manusia yang berwawasan kelautan melalui pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kelautan; mengelola wilayah laut nasional
untuk mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran; dan membangun
ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan
sumber kekayaan laut secara berkelanjutan.
8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia
internasional yaitu dengan memantapkan diplomasi Indonesia dalam rangka
memperjuangkan kepentingan nasional; melanjutkan komitmen Indonesia
terhadap pembentukan identitas dan pemantapan integrasi internasional
dan regional; dan mendorong kerja sama internasional, regional dan bilateral
antarmasyarakat, antarkelompok, serta antarlembaga di berbagai bidang.
Strategi untuk melaksanakan Visi dan Misi tersebut dijabarkan secara bertahap
dalam periode lima tahunan atau RPJM (Rencana Pembangunan Jangka
Menengah). Masing-masing tahap mempunyai skala prioritas dan strategi
pembangunan yang merupakan kesinambungan dari skala prioritas dan strategi
pembangunan pada periode-periode sebelumnya.
Tahapan skala prioritas utama dan strategi RPJM secara ringkas adalah sebagai
berikut:
1. RPJM ke-1 (20052009) diarahkan untuk menata kembali dan membangun
Indonesia di segala bidang yang ditujukan untuk menciptakan Indonesia
yang aman dan damai, yang adil dan demokratis, dan yang tingkat
kesejahteraan rakyatnya meningkat.
2. RPJM ke-2 (20102014) ditujukan untuk lebih memantapkan penataan
kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya
peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan

60
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

kemampuan Iptek serta penguatan daya saing perekonomian.


3. RPJM ke-3 (20152019) ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan
secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian
daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber
daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan Iptek
yang terus meningkat.
4. RPJM ke-4 (20202025) ditujukan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia
yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di
berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian
yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang
didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing.

Gambar 3.1. Pentahapan Pembangunan Dalam RPJPN 2005 - 2025

3.1.2. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi


Indonesia
Sejalan dengan amanat RPJPN 2010-2025, Peraturan Presiden No. 32 Tahun
2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI) juga mengamanatkan pentingnya penguatan kapasitas
inovasi untuk mendukung tercapainya kondisi ekonomi nasional yang lebih
maju (lihat Gambar 3.2).
Melalui langkah MP3EI, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi
akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025
dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD 14.250 USD
15.500 dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 4,5
Triliun. Untuk mewujudkannya diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar
6,4 7,5 persen pada periode 2011 2014, dan sekitar 8,0 9,0 persen
pada periode 2015 2025. Pertumbuhan ekonomi tersebut akan dibarengi
oleh penurunan inflasi dari sebesar 6,5 persen pada periode 2011 2014
menjadi 3,0 persen pada 2025. Kombinasi pertumbuhan dan inflasi seperti itu
mencerminkan karakteristik negara maju.

61
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Gambar 3.2. Kondisi Ekonomi Nasional yang Diharapkan

Visi 2025 tersebut diwujudkan melalui 3 (tiga) misi yang menjadi fokus utamanya,
yaitu:
1. Peningkatan nilai tambah dan perluasan rantai nilai proses produksi serta
distribusi dari pengelolaan aset dan akses (potensi) Sumber Daya Alam
(SDA) geografis wilayah, dan SDM, melalui penciptaan kegiatan ekonomi
yang terintegrasi dan sinergis di dalam maupun antar-kawasan pusat-
pusat pertumbuhan ekonomi.
2. Mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran
serta integrasi pasar domestik dalam rangka penguatan daya saing dan
daya tahan perekonomian nasional.
3. Mendorong penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi, proses,
maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang
berkelanjutan, menuju innovation-driven economy.

3.2. KONDISI SISTEM INOVASI NASIONAL YANG DIINGINKAN


Berdasarkan amanat Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tersebut, maka secara
jelas dapat disimpulkan bahwa penguatan sistem inovasi diharapkan dapat
mendukung proses transformasi struktur perekonomian nasional dari ekonomi
berbasis warisan sumber daya alam kepada struktur ekonomi yang didukung oleh
sistem inovasi. Persoalaannya adalah apakah sistem inovasi nasional di Indonesia
sudah siap dalam mendukung pencapaian visi nasional tersbut atau belum. Untuk
itu perlu diperjelas konsepsi tentang sistem inovasi nasional yang dapat dijadikan
platform penguatan sistem inovasi di Indonesia.

62
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

3.2.1. Platform Struktur Sistem Inovasi Nasional


Sistem inovasi adalah suatu kesatuan dari aktor, kelembagaan atau proses
produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan
inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik), serta
proses pembelajarannya. Sistem inovasi dapat dipandang sebagai suatu
pendekatan atau proses bisnis dalam pembangunan yang menitikberatkan
pada upaya sistematis dalam penguatan dan percepatan difusi
pengetahuan/teknik/temuan baru pada sistem ekonomi/industri sehingga
tercapai peningkatan nilai tambah.
Secara keseluruhan, kinerja inovasi (innovation performance) bergantung
bukan saja pada bagaimana para aktor tertentu (seperti misalnya perusahaan,
lembaga riset, perguruan tinggi) bekerja melaksanakan perannya, tetapi
juga pada interaksi satu dengan lainnya sebagai elemen dari suatu sistem
inovasi, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional (OECD, 1999).
Sistem Inovasi Nasional sebagai suatu pendekatan dalam pembangunan
dapat digambarkan seperti terlihat pada Gambar 3.3.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber, 2011.


Gambar 3.3. Struktur Sistem Inovasi Nasional

Struktur Sistem Inovasi Nasional dibentuk dari keterkaitan berbagai sub sistem
yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Secara garis besar terdapat
7 (tujuh) sub sistem yang terkait dalam Sistem Inovasi Nasional yakni :
1. Sub Sistem Pendidikan Dan Litbang (Supply). Sub sistem ini merupakan
komponen pokok sistem inovasi yang berperan sebagai sumber-sumber
pengetahuan, teknologi dan temuan baru yang diharapkan dapat
didifusikan pada sub sistem industri untuk meningkatkan nilai tambah
industri nasional. Penguatan Sistem Inovasi Nasional pada dasarnya
merupakan upaya untuk mendukung peningkatan kapasitas inovatif
pada sub sistem ini sehingga mampu mendukung peningkatan daya
saing industri dalam memenuhi permintaan pasar global.
2. Sub Sistem Industri (Supply-Demand). Sub sistem ini merupakan komponen
utama Sistem Inovasi Nasional yang dapat berperan sebagai penghasil
inovasi maupun sebagai pengguna dan pengembang temuan-
temuan baru yang dihasilkan dari sub sistem pendidikan dan litbang
untuk meningkatkan daya saing industri yang bersangkutan. Penguatan

63
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

kapasitas inovatif pada industri nasional juga merupakan fokus utama


dalam penguatan Sistem Inovasi Nasional.
3. Sub Sistem Permintaan (Demand). Sub sistem permintaan memiilki
peran startegis dalam penguatan Sistem Inovasi Nasional karena
menentukan arah kebijakan dan fokus prioritas pengembangan inovasi
secara nasional. Salah satu indikator keberhasilan penguatan Sistem
Inovasi Nasional adalah kinerja kapasitas lembaga pendidikan/litbang
dan industri nasional dalam mengembangkan inovasi yang mampu
memenuhi permintaan pasar, baik pasar domestik maupun pasar
global.
4. Sub Sistem Intermediasi atau Intermediaries (Linkage). Sub sistem
intemediasi memiliki peran strategis dalam proses penguatan Sistem
Inovasi Nasional melalui penguatan keterkaitan antara lembaga
litbang dengan industri. Peran intermediasi semakin dirasakan penting
ketika kebutuhan akan interaksi antara lembaga litbang/pendidikan
dengan industri meningkat seiring meningkatnya kebutuhan akan
inovasi untuk memenuhi tuntutan pasar. Peran intermediasi dapat
dikembangkan melalui pengembangan pusat-pusat inovasi maupun
inkubator teknologi.
5. Sub Sistem Politik. Sub sistem ini berperan sebagai pendukung
terlaksananya proses pengembangan inovasi melalui kebijakan atau
regulasi yang secara langsung mempengaruhi arah perkembangan
dan penguatan kapasitas inovatif pada sub sistem lainnya (pendidikan,
litbang, sistem industri, permintaan, dan lain sebagainya).
6. Sub Sistem Kerangka Umum. Sub sistem kerangka umum merupakan
komponen pendukung terlaksananya proses bisnis penguatan
Sistem Inovasi Nasional melalui penciptaan iklim yang kondusif bagi
pengembangan pengetahuan, temuan baru hingga inovasi. Fokus
prioritas penguatan sub sistem ini adalah pada pengembangan
kebijakan yang secara tidak langsung mempengaruhi proses
pengembangan inovasi seperti kebijakan fiskal, moneter, perpajakan
dan infrastruktur umum, hingga pada penguatan budaya inovasi.
7. Subsistem Supra Dan Infrastruktur Khusus. Sub sistem supra dan infrastruktur
khusus berperan sebagai pendukung proses pengembangan inovasi
melalui penyediaan fasilitas dan sarana yang langsung berpengaruh
terhadap pengembangan inovasi. Beberapa fokus prioritas penguatan
pada sub sistem ini adalah pengembangan lembaga HKI, Kelembagaan
pembiayaan khusus, standar dan norma khusus dan lain sebagainnya.
Berdasarkan kerangka struktur sistem inovasi tersebut, maka dalam rangka
mendukung transformasi ekonomi nasional yang diinginkan maka struktur
Sistem Inovasi Nasional harus terbentuk dan berjalan sesuai tujuan. Untuk itu,
maka setiap komponen dalam sistem inovasi diharapkan mampu berfungsi
sesuai dengan peran startegisnya dalam sistem inovasi nasional secara garis
besar dapat dilihat pada Gambar 3.4. Sub sistem lembaga litbang dan
pendidikan diharpka mampu berperan sebagai Stok Pengetahuan/Temuan
baru yang siap didifusikan atau dikomersialisasikan. Sementara sub sistem
industri diharapkan mampu meningkatkan kapasitas absorpsi pengetahuan
dan temuan baru hingga dapat meningkatkan nilai tambah produk yang
dihasilkannya. Sub sistem politik diharapkan memberikan dukungan regulasi
dan kebijakan politik yang memihak pada upaya penumbuhkembangan
inovasi secara nasional

64
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Gambar 3.4. Kondisi Struktur Sistem Inovasi Nasional yang Diiginkan

Dengan demikian, maka upaya membangun Sistem Inovasi Nasional dalam


rangka mendukung visi pembangunan nasional membutuhkan kolaborasi
yang kuat antar berbagai elemen (Pemerintah, DPR/DPRD, Industri/Swasta,
Lembaga litbang dan Perguruan tinggi) dalam suatu kepemimpinan/
kelembagaan yang kuat. Penguatan Sistem Inovasi Nasional tidak dapat
berlangsung secara optimal bila prasyarat dasar tersebut tidak dapat
dipenuhi.

3.2.2. Indikator Utama Sistem Inovasi Nasional

Sejalan dengan amanah peraturan dan perundangan, terkait pembangunan


nasional, penguatan Sistem Inovasi Nasional diharapkan mampu mendukung
proses transformasi ekonomi nasional dari factor driven menuju inovation
driven. Warisan ekonomi berbasis sumber daya alam yang bertumpu pada
labor intensive perlu ditingkatkan secara bertahap menuju skilled labor
intensive dan kemudian menjadi human capital intensive. Peningkatan
kemampuan modal manusia yang menguasai Iptek sangat diperlukan
ketika Indonesia memasuki tahap innovation-driven economies. Bank dunia
mengidentifikasi tiga pilar Ekonomi Pengetahuan/EP (Knowledge Economy/
KE), yaitu Pendidikan; Inovasi; dan Informasi, Komunikasi dan Teknologi.
Dengan demikian, maka ukuran keberhasilan penguatan Sistem Inovasi
Nasional tidak terlepas dari ukuran kontribusi sistem inovasi dalam peningkatan
kinerja pilar-pilar ekonomi berbasis pengetahuan. Ukuran keberhasilan
penguatan sistem inovasi juga mencerminkan besarnya kontribusi Iptek
dalam peningkatan produktivitas nasional. Dari berbagai referensi, salah satu
indikator yang sering digunakan dalam mengukur kontribusi Iptek dalam
perekonomian nasional adalah indikator TFP (Total Factor Productivity).
Namun karena dalam perumusannya teknologi dipandang sebagai residu
maka dibutuhkan penjelasan dan indikator lain yang lebih jelas dan lebih
mencerminkan peranan Iptek terutama dalam kaitannya dengan sistem
inovasi.

65
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Untuk itu dalam struktur sistem inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya,
maka indikator keberhasilan dari suatu sistem inovasi yang dapat digunakan
adalah meningkatnya absorpsi pengetahuan-pengetahuan/temuan-
temuan baru oleh sistem industri, baik yang dihasilkan oleh sistem pendidikan
dan litbang pemerintah maupun litbang swasta/industri, untuk meningkatkan
nilai tambah produk, sehingga mampu memenuhi dan mengembangkan
pasar produknya. Indikator meningkatnya absorpsi pengetahuan oleh
sistem industri tersebut juga mencerminkan berjalan tidaknya peran dan
fungsi setiap sub sistem yang membentuk Sistem Inovasi Nasional. Secara
sederhana indikator keberhasilan sistem inovasi seperti dapat digambarkan
seperti pada 3.5.

Gambar 3.5. Indikator Utama Keberhasilan Sistem Inovasi

Interaksi antar sub sistem dalam mendukung indikator utama penguatan


sistem inovasi selanjutnya dapat dituang secara lebih lebih operasional,
pada indikator ouput untuk masing-masing sub sistem sesuai peran dan
fungsinya dalam sistem inovasi seperti terlihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Indikator Penguatan Sistem Inovasi
No Sub Sistem Indikator Sasaran Varibel Terkait
1. Sub Sistem Litbang Ketersediaan penge- Kapasitas Inovatif Litbang
tahuan/temuan baru
sesuai kebutuhan sistem Kualitas SDM Litbang
industri Ketersediaan Anggaran Lit-
bang
Ketersediaan Infrastruktur Lit-
bang
Paten
Kerjasama dengan Industri

66
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

No Sub Sistem Indikator Sasaran Varibel Terkait


2. Sub Sistem Industri Nilai tambah produk ha- Kapasitas Inovatif Industri Be-
sil inovasi sar, Sedang dan UMKM
Tumbuhnya Perusahaan Kerjasama dengan Litbang
Pemula Berbasis
Teknologi (PPBT) atau Ketersediaan Anggaran Lit-
Teknoprener bang Industri
Paten

3. Sub Sistem Berkembangnya Peran Lembaga Intermediasi


Intermediaries Lembaga Intermediasi
Litbang-Industri Kapasitas Intermediasi

4. Sub Sistem Demand Tumbuhnya pasar Barrier To entry


produk industri yang
inovatif Pasar Domestik
Pasar Internasional

5. Sub Sistem Politik Ketersediaan kebijakan Kebijakan Pembiayaan Iptek


yang mendukung
terhadap penguatan Kebijakan Penguatan Pasar
sistem inovasi Produk Industri Lokal
Kebijakan Insentif pajak bagi
inovasi
Regulasi penguatan sistem
inovasi
Tata kelola penguatan
sistem inovasi

6. Sub Sistem Infrastruk- Ketersediaan infrastruk- Fasilitas HKI


tur Khusus tur khusus pendukung
inovasi Pembiayaan Beresiko
NSPM
Dukungan Bisnis

7. Sub Sistem Kerangka Ketersediaan ikilm yang Budaya Inovasi


Umun kondusif bagi pengem-
bangan inovasi Infrastruktur pendukung
Kebijakan ekonomi
Kebijakan pendidikan
Kebijakan industri
Kebijakan Investasi
Kebijakan keuangan
Sumber : analisis, 2011.

3.2.3. Lingkup Penguatan Sistem Inovasi Nasional


Menurut OECD (1999), ruang lingkup sistem inovasi nasional mencakup
beberapa tingkat yang pada dasarnya saling melengkapi, yakni :
1. Tingkat mikro: Fokus penguatan sistem inovasi pada level ini adalah
kapabilitas internal perusahaan dan keterkaitan yang melingkupi satu
atau beberapa perusahaan, serta menelaah hubungan pengetahuan
suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya dan lembaga-
lembaga non-pasar dalam sistem inovasi, dengan pandangan untuk
mengidentifikasi kelemahan keterkaitan dalam rantai nilai (value chain).
2. Tingkat meso: Pada tingkat ini fokus penguatan sistem inovasi
adalah pada aliran pengetahuan pada klasterisasi sektoral, spasial
dan fungsional. Suatu klaster sektoral (atau klaster industri) meliputi
pemasok, lembaga litbang dan pelatihan, pasar, transportasi, dan

67
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

lembaga pemerintah khusus/tertentu, keuangan atau asuransi yang


terorganisasi di sekitar basis pengetahuan umum tertentu. Analisis
klaster daerah/regional menekankan faktor-faktor lokal di balik
aglomerasi geografis yang berdaya saing tinggi dari aktivitas-aktivitas
yang sarat pengetahuan (knowledge-intensive). Analisis klaster
fungsional mengidentifikasi kelompok-kelompok perusahaan yang
memiliki karakteristik tertentu yang serupa (misalnya gaya inovasi umum
atau tipe tertentu keterkaitan eksternal).
3. Tingkat makro: Analisis pada tingkatan ini fokus penguatan sistem
inovasi adalah pada klasterisasi-makro dan analisis fungsional (macro-
clustering and functional analysis) dari aliran pengetahuan. Klasterisasi-
makro melihat ekonomi sebagai suatu jaringan dari klaster-klaster yang
saling terkait. Sementara analisis fungsional melihat ekonomi sebagai
jaringan-jaringan antarlembaga dan memetakan interaksi antara
lembaga-lembaga tersebut. Hal ini melibatkan pengukuran lima jenis
aliran pengetahuan, yaitu:
a. interaksi antarperusahaan;
b. interaksi antara perusahaan, perguruan tinggi dan lembaga riset
publik, termasuk riset bersama (joint research), paten bersama,
publikasi bersama, dan keterkaitan-keterkaitan yang lebih informal;
c. Interaksi kelembagaan lainnya yang mendukung inovasi, seperti
pembiayaan/pendanaan inovasi, pelatihan teknis, fasilitas riset
dan rekayasa, jasa pelayanan pasar, dan sebagainya;
d. Difusi teknologi, termasuk tingkat adopsi teknologi baru oleh
industri dan difusi melalui permesinan dan peralatan;
e. Mobilitas personil, yang berfokus pada perpindahan/pergerakan
personil teknis didalam dan antara sektor publik dengan swasta.

Gambar 3.6. Lingkup Sistem Inovasi Nasional

Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa lingkup Sistem Inovasi


Nasional terdiri dari beberapa sub sistem lainnya antara lain sub sistem inovasi
pada level sektoral, sub sistem pada level spasial (daerah), sub sistem inovasi
pada level perusahaan (klaster industri komoditas). Ketiga sub sistem tersebut

68
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

saling terkait satu dengan lainnya, membentuk sistem inovasi nasional.


Sejalan dengan lingkup sistem inovasi yang bersifat multidimensional, maka
kinerja Sistem Inovasi Nasional akan mencapai kondisi ideal bila pada tiap
strata atau sub sistem dilakukan penguatan-penguatan secara sinergis
dan terorganisir dengan baik. Kondisi ini menuntut adanya suatu kerangka
kebijakan penguatan sistem inovasi yang jelas, sistematis dan terukur pada
tiap tingkatan atau lingkup dari Sistem Inovasi Nasional.

3.2.4 Kondisi Sistem Inovasi Nasional yang Diinginkan


Mengacu pada target-target dan kebutuhan pembangunan nasional
berdasatkan amanah peraturan pembangunan dan kondisi ekonomi
nasional saat ini, maka beberapa indikator sasaran penguatan sistem
inovasi nasional dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Meningkatnya kontribusi peranan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (Total
Factor Productivity) terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hingga
mampu mencapai 3,0%
2. Meningkatnya daya dukung Iptek yang ditandai dengan meningkatnya
rasio anggaran Iptek terhadap PDB hingga mencapai 3% pada 2025.
3. Meningkatnya interaksi lembaga litbang dengan industri yang ditandai
dengan meningkatnya paten dalam negeri yang digunakan oleh industri
nasional minimal 10 % per tahun hingga 2025
4. Meningkatkan jumlah kewirausahan sebesar 4% dari penduduk Indonesia;
5. Meningkatnya kerjasama pemajuan sistem inovasi pada tingkat daerah
(provinsi dan kabupaten)
6. Meningkatnya kerjasama internasional dalam penguatan sistem inovasi
nasional

Gambar 3.7 Indikator Kondisi Sistem Inovasi Nasional Yang Diinginkan

Sumber : Hasil Analisis, 2011

69
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

3.3. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI


NASIONAL

3.3.1. Permasalahan Penguatan Sistem Inovasi Nasional

Beberapa tantangan penguatan sistem inovasi di Indonesia antara lain


meliputi berikut:
1. Rendahnya input inovasi. Ini ditunjukkan oleh:
a. Ketidakmemadaian pembiayaan Iptek, termasuk rendahnya
dana litbang. Pengeluaran dana litbang sebesar 0,05% dana
litbang terhadap PDB merupakan rasio yang sangat rendah
(bukan saja dalam perbandingan internasional, tetapi juga
perbandingan dengan negara-negara anggota ASEAN tertentu
seperti Singapura, Malaysia dan Thailand) dan merupakan salah
satu kendala bagi pencapaian masa kritis aktivitas pengetahuan/
inovasi (dan termasuk litbang) yang kompetitif dengan negara
lain. Gambaran ini semakin memprihatinkan jika melihat proporsi
alokasi pendanaan Iptek daerah pada umumnya (khususnya yang
bersumber dari APBD).
b. Kurang berkembangnya sistem pendanaan inovasi. Pembiayaan
aktivitas inovasi (terutama litbang) yang rendah yang sebagian
besar masih didukung oleh pengeluaran pemerintah Pusat
belum mendorong perkembangan sumber pembiayaan lain
terutama pembiayaan berupa kapital berisiko (risk capital) bagi
komersialisasi inovasi/teknologi (hasil litbang) dan perkembangan
perusahaan pemula (baru) yang inovatif.
c. Terbatasnya SDM bagi pemajuan inovasi dan difusi. Jumlah, kualitas
dan sebaran tenaga SDM yang terspesialisasi masih sangat terbatas.
Ketidakmemadaian SDM ini merupakan di antara persoalan serius
yang dihadapi oleh setiap daerah umumnya di Indonesia. Tenaga
teknis terampil, pakar/ahli terspesialisasi sesuai dengan kebutuhan
daerah serta pewirausaha-pewirausaha inovatif adalah di antara
kelompok yang sangat kurang.
2. Kegiatan litbang yang sejauh ini masih didominasi oleh lembaga
litbang pemerintah dan perguruan tinggi, keluarannya masih belum
memuaskan. Ini diindikasikan antara lain oleh:
a. Masih rendahnya keluaran HKI nasional dan publikasi ilmiah.
b. Kualitas keluaran yang beragam dan seringkali tidak terinformasikan
dengan baik. Termasuk dalam hal ini adalah belum berkembangnya
informasi tentang sejauh mana tingkat kesiapan teknologi/TKT
(Technology Readiness Level/Trl) yang dihasilkan/dikembangkan
oleh lembaga litbang dan/atau perguruan tinggi untuk diadopsi
oleh pengguna (calon pengguna).
c. Hasil litbang yang diadopsi oleh industri relatif masih terbatas.
3. Swasta belum menjadi pelaku inovasi yang dominan.
a. Usaha kecil dan menengah (UKM), yang merupakan pelaku bisnis
terbesar dalam ekonomi nasional dan daerah pada umumnya
belum mempunyai kemampuan inovasi (jika pun ada masih sangat
terbatas) dan menghadapi kendala untuk dapat melaksanakan
sendiri kegiatan litbang.
b. Sementara itu, usaha skala besar (UB) Indonesia umumnya bukan

70
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

industrialis, sumber teknologi umumnya dari luar (impor), dan bukan


saja belum menjadi sumber inovasi yang signifikan tetapi juga
belum menjadi pengguna utama hasil-hasil litbang (mitra utama)
lembaga litbang atau perguruan tinggi nasional.
c. Investasi asing (FDI) walaupun tentu sangat penting bagi
perkembangan perekonomian (terutama penyediaan kesempatan
kerja), namun sebenarnya belum menjadi sumber alih dan difusi
teknologi yang efektif, terutama bagi perkembangan aktivitas
bisnis setempat/sekitar (keterkaitan dengan ekonomi lokal rendah).
Bentuk alih pengetahuan/teknologi lebih berupa embodied
knowledge/technology, dan belum ada bukti signifikan terjadi
dalam bentuk disembodied knowledge/technology. Walaupun
beberapa telah menjalin keterkaitan bisnis dengan perusahaan
setempat, sebagian perusahaan demikian (terutama yang berada
di kawasan-kawasan industri) umumnya masih seperti enclave
industries yang terisolasi bagi (dalam) perekonomian daerah.
4. Persoalan umum di sisi penyediaan teknologi. Di luar investasi asing,
perusahaan pemasok dan pengguna (terutama bagi UKM), atau
bahkan para pesaing bisnis, penyediaan teknologi biasanya berasal
dari lembaga litbang dan perguruan tinggi. Namun sejauh ini biasanya
pihak penyedia ini menghadapi berbagai persoalan, yang umumnya
adalah sebagai berikut:
a. Kompetensi yang masih relatif rendah. Terbatasnya sumber daya
(terutama SDM dan dana) dan kurang terfokusnya pengembangan
bidang yang ditangani serta kendala masa kritis di bidang yang
ditangani menyulitkan terbangunnya kompetensi khas dan
kompetitif dari lembaga litbang dan perguruan tinggi.
b. Orientasi ke dalam (inward) yang terlampau menonjol dibanding
terhadap kemanfaatan bagi pengguna atau calon penggunanya
menjadi penghambat terbangunnya keterkaitan dengan komunitas
pengguna dan bahkan untuk terbangunnya jaringan knowledge
pool yang komplementatif dan sinergis.
c. Knowledge pool yang berada di daerah, pada umumnya belum
menjadi penggerak signifikan bagi perkembangan bisnis/
perekonomian setempat (walaupun beberapa keterkaitan telah
ada). Walaupun beberapa daerah telah mengembangkan Badan
Litbang Daerah (Balitbangda), namun selain organisasi ini relatif
masih baru, juga pada umumnya memiliki SDM dengan kualifikasi
peneliti dan keahlian terspesialisasi yang relatif masih terbatas.
d. Lambatnya regenerasi SDM berkemampuan riset dan
pengembangan. Apresiasi yang rendah terhadap profesi litbang
dan pembatasan perekrutan tenaga baru serta peraturan
perundangan (UU Kepegawaian) tidak saja menjadi kendala yang
sering dikeluhkan bagi perkembangan profesionalisme di bidang
Iptek/litbang, tetapi juga mobilitas dan regenerasi SDM Iptek di
masa depan.
e. Brain drain di lembaga litbang dan daerah. Persoalan-
persoalan yang disampaikan di atas turut mempengaruhi gejala
terjadinya brain drain (surut atau hilangnya tenaga berkualifikasi,
yang semestinya diharapkan dapat berperan penting), sekalipun
ini tidak selalu nampak secara jelas. Pengangguran tersembunyi
(disguised unemployement) di lembaga litbang atau perguruan
tinggi, alih profesi SDM Iptek/litbang, penempatan SDM yang
tidak sesuai dengan bidang keahlian, atau kecenderungan SDM

71
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

terdidik di daerah untuk lebih memilih berkarir di kota-kota besar


tertentu adalah di antara gejala brain drain demikian.
Brain drain umumnya terkait dengan faktor insentif/reward
yang buruk (imbalan keuangan dan/atau non-keuangan yang
rendah, kesempatan karir yang terbatas, dan lainnya) dan
lingkungan yang biasanya dinilai tidak mendukung atau tidak
sekompetitif bidang profesi/tugas atau daerah lainnya. Ketika
gejala/persoalan demikian meluas, maka persoalan brain drain
sebenarnya bukan sekedar menyangkut etika/komitmen personil
individual, tetapi juga menyangkut kelemahan manajemen dalam
organisasi atau daerah yang bersangkutan dan kesungguhan
pemerintah mengatasinya. Jika hal demikian dibiarkan berlarut,
maka pengembangan kompetensi lembaga litbang/perguruan
tinggi ataupun kompetensi daerah memang masih akan terbatas
sebagai mimpi.

5. Isu umum di sisi pengguna. Pengguna dalam sistem inovasi terutama


adalah pihak swasta (badan usaha) sebagai pelaku bisnis ataupun
pemerintah baik sebagai pembuat kebijakan ataupun pengguna
jasa tertentu sesuai tugas/fungsi pemerintahannya. Detail persoalan
membutuhkan elaborasi untuk masing-masing pengguna secara
kontekstual dan tentunya bukan maksud buku ini mencakup hal
demikian. Namun persoalan utama yang umumnya dihadapi dapat
disampaikan sebagai berikut:
a. Keperdulian (awareness) yang masih rendah. Ketertinggalan pelaku
usaha (terutama UKM), misalnya dalam memenuhi ketentuan
perundangan tertentu, bidang teknologi, manajemen atau bidang
lain, sering terjadi karena keterbatasan kesadaran/ pengetahuan
atau pemahaman atas isu tertentu atau tuntutan penyikapan
atas perkembangan perubahan tertentu yang semestinya
dilakukannya. Beberapa kasus pelanggaran HKI dan keterbatasan
pemanfaatan hasil litbang oleh UKM di beberapa daerah adalah
diantara contoh akibat hal ini. Serupa dengan hal tersebut,
terbatasnya peran pembuat kebijakan untuk memanfaatkan hasil
litbang atau mengembangkan instrumen kebijakan (program)
yang sesuai, menindaklanjuti hasil litbang atau kajian kebijakan
misalnya sering terkendala hal ini. Perubahan/perkembangan
yang terjadi, termasuk misalnya urgensi pengembangan sistem
inovasi yang terintegrasi dengan strategi pembangunan daerah
(dan bukan semata tugas Pemerintah Pusat), menuntut semua
pihak menyadari dan meningkatkan pemahamannya akan hal
ini.
b. Keterbatasan kemampuan absorpsi pelaku bisnis, terutama
UKM. Sebagian besar pelaku bisnis adalah UKM, yang sejauh ini
harus diakui kemampuan absorpsi terhadap hal-hal yang baru
baginya (misalnya teknologi atau praktik-praktik baik) masih relatif
rendah. Perbaikan-perbaikan dalam praktik bisnis pada umumnya
membutuhkan kemampuan menyerap dan memanfaatkan hal
baru secara lebih baik dari sebelumnya. Aliran pengetahuan,
baik yang berupa tacit (tacit knowledge) ataupun yang
terkodifikasi (codified knowledge) membutuhkan kemampuan
absorpsi yang sesuai pada penggunanya (selain elemen-elemen
lain). Pengabaian pada perbaikan (upgrading) kemampuan
pengguna sering menjadi kendala atau faktor yang menentukan
kegagalan alih pengetahuan/teknologi dari lembaga litbang/

72
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

perguruan tinggi kepada UKM.


c. Pelaku bisnis berskala besar umumnya belum berorientasi inovasi.
Pernyataan ini mungkin bernada kontroversial. Tetapi sebenarnya
ini juga bukan hal yang baru dan telah cukup banyak diskusi
menyoroti hal ini. Orientasi jangka pendek perusahaan yang
terlampau mendominasi strategi bisnis (yang juga umumnya terjadi
di berbagai negara) menyulitkan terbangunnya kemampuan
inovatif perusahaan yang bersangkutan dan mengembangkan
kerjasama dengan lembaga litbang atau perguruan tinggi. Sama
dengan isu-isu lainnya, ini memang tidak berdiri sendiri. Beberapa
hal mungkin patut diberi catatan:
Kesenjangan orientasi dan kultur kerja antara lembaga litbang/
perguruan tinggi dengan pelaku bisnis misalnya, sering dinilai
sebagai faktor penghambat atau mempengaruhi potensi
kolaborasi antar pihak. Persepsi umum terhadap lembaga
litbang dan/atau perguruan tinggi nampaknya belum sebagai
bagian penting bagi perbaikan nilai tambah aktivitas bisnis;
Keengganan swasta berinvestasi dalam aktivitas inovasi
(litbang) juga terkait dengan tidak/belum adanya insentif
yang efektif dibanding dengan di negara lain. Aktivitas
yang berpotensi memberikan imbalan tinggi tetapi juga
berisiko demikian lebih diserahkan kepada mekanisme pasar.
Karenanya, ketika mekanisme pasar yang berkembang
di Indonesia tidak memberikan sinyal insentif yang efektif
(artinya pelaku bisnis harus menanggung sendiri risiko tersebut,
walaupun berpotensi memberikan manfaat sosial yang besar),
maka tentu saja yang terjadi adalah kegagalan pasar yang
tidak terpecahkan. Ini menjadi isu umum, berbeda dengan
negara yang relatif maju, mengapa sejauh ini aktivitas inovasi
(termasuk litbang) di swasta di Indonesia masih sangat
underinvest.
6. Lemahnya keterkaitan antara penyediaan potensi inovasi dengan
industri. Aliran pengetahuan atau proses inovasi yang masih terbatas
tidak saja karena kelemahan-kelemahan seperti disampaikan, tetapi
juga dihadapi berkaitan dengan keterkaitan dan/atau interaksi antar
pihak. Ini terutama berupa:
a. Belum berkembangnya antarmuka (interface) yang efektif antara
penyedia dan pengguna pengetahuan/inovasi atau praktik baik.
Kemitraan/aliansi triple helix belum banyak berkembang. Demikian
juga jasa intermediasi inovasi yang masih lemah. Asosiasi bisnis,
profesi dan/atau intermediaries lainnya belum berperan signifikan
dalam aktivitas terkait dengan inovasi atau komersialisasi hasil
litbang.
b. Sistem litbang dan industri (swasta), BUMN, BUMNIS, maupun
militer belum saling memperkuat. Industri yang semula diharapkan
menjadi wahana alih teknologi (BUMNIS) bahkan dapat dikatakan
melemah sejak krisis ekonomi 1997.
c. Keragaman lembaga dalam aktivitas inovasi masih cenderung
tersegmentasi/ terfragmentasi dan kerjasama/kolaborasi antar
lembaga belum berkembang.
7. Kelemahan yang berkaitan dengan kondisi umum dan kerangka
kebijakan inovasi:
a. Infrastruktur inovasi, seperti misalnya lembaga litbang, perguruan

73
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

tinggi, dan lembaga pendukung lainnya yang terspesialisasi relatif


belum berkembang di seluruh daerah.
b. Kerangka regulasi penting yang masih lemah. Ini berupa regulasi
yang menghambat yang masih sering dirasakan oleh para aktor
dalam sistem inovasi misalnya perijinan bisnis, dan perundangan
PNBP), maupun belum adanya instrumen kebijakan yang dinilai
diperlukan (misalnya insentif perpajakan bagi aktivitas inovasi oleh
swasta).
c. Belum koherennya kebijakan inovasi. Ini merupakan isu kompleks
terkait dengan beragam isu lain seperti disebutkan sebelumnya
dan juga beberapa hal berikut:
Pengembangan/penguatan sistem inovasi sendiri belum
sepenuhnya menjadi agenda nasional (dan daerah),
walaupun perundangan yang telah dimiliki memberikan
landasan hukum bagi hal ini.
Lembaga pemerintah yang ada (pada tataran nasional
maupun daerah) cenderung terfragmentasi dan bekerja
untuk sektornya masing-masing. Koordinasi antarlembaga
pemerintah (dan termasuk juga antar lembaga litbang
dan/atau perguruan tinggi) dalam kerangka sistem inovasi
masih lemah.
Pengembangan yang tidak/belum terfokus sehingga sulit
mendorong terbentuknya masa kritis bagi perkembangan
inovasi.
Kebijakan/rencana nasional masih belum efektif sebagai
acuan bagi banyak pihak. Sebagai contoh, kebijakan
strategis pembangunan nasional Iptek belum menjadi
acuan lembaga lain di luar KRT (dan LPND di bawah
koordinasinya), termasuk bagi daerah. Sementara daerah,
pada umumnya belum memiliki dokumen strategis terkait
dengan pengembangan sistem inovasi dan peningkatan
daya saingnya.
Masa transisi, misalnya terkait dengan otonomi daerah,
jika tidak diiringi perbaikan penadbiran (governance)
dapat menjadi potensi ancaman kontra produktif bagi
perkembangan inovasi di daerah maupun secara nasional.
d. Instrumen kebijakan yang dikembangkan, walaupun secara
konsep telah baik, secara operasional sering kurang efektif. Ini
antara lain karena tidak/kurang memiliki cakupan yang memadai.
e. Kapabilitas implementasi kebijakan inovasi, baik pada lembaga
pembuat kebijakan maupun lembaga-lembaga pelaksana masih
lemah. Ini juga terkait antara lain dengan kelemahan koordinasi
dan belum adanya mekanisme yang efektif bagi implementasi
kebijakan yang saling memperkuat.

3.3.2. Tantangan Penguatan Sistem Inovasi Nasional


Berapa tantangan penguatan sistem inovasi nasional dalam 5-20 Tahun ke
depan antara lain meliputi :

a. Transformasi Ekonomi Nasional


Di antara perubahan dewasa ini adalah perkembangan ekonomi
internasional menunjukkan kecenderungan ke arah ekonomi

74
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

pengetahuan. Pengetahuan dan inovasi dipandang semakin


menentukan aktivitas ekonomi, dan pada akhirnya tentunya
kesejahteraan ekonomi masyarakat. Negara yang masih terlampau
bertumpu pada melimpahnya sumber daya alam semata (dengan
proses peningkatan nilai tambah rendah) cenderung memiliki tingkat
pendapatan lebih rendah.
Seperti halnya analisis dari WEF, studi Bank Dunia menunjukkan hubungan
erat antara kemajuan ekonomi berbasis pengetahuan (diindikasikan
oleh Indeks Ekonomi Pengetahuan/IEP, yang antara lain mencakup
kemampuan inovasi) dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat
(yang diindikasikan oleh PDB per kapita) suatu negara. Uraian yang
disampaikan menunjukkan bahwa Indonesia, sebagai suatu negara
berpenduduk besar dan memiliki peran sangat penting di masa lalu
(setidaknya di kawasan ASEAN), kini merupakan salah satu negara yang,
menurut beragam indikator kemajuan, khususnya berkaitan dengan
kapasitas inovatif atau sistem inovasi, mengalami ketertinggalan bahkan
dari sebagian negara ASEAN sekalipun. Tanpa upaya sungguh-sungguh
untuk memperbaikinya secara cepat, maka ancaman ketertinggalan
(kesenjangan) dari negara ASEAN lain berpotensi semakin melebar.

Sumber: MP3EI, 2011


Gambar 3.7. Tantangan Penguatan Sistem Inovasi Nasional: Transformasi Ekonomi Nasional

Kemampuan suatu bangsa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi


yang berkesinambungan sangat bergantung pada kemampuan
bangsa tersebut dalam meningkatkan inovasi. Inovasi yang berbasis
pada kapitalisasi produk riset teknologi akan memberi dampak langsung
pada peningkatan produktivitas yang berkelanjutan yang pada
akhirnya dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi
modal dasar untuk dapat menghasilkan sebuah inovasi yang sangat
bermanfaat untuk pengembangan ekonomi agar dapat bersaing
secara global.

75
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Peningkatan produktivitas menuju keunggulan kompetitif akan dicapai


seiring dengan upaya memperkuat kemampuan sumber daya manusia
berbasis inovasi. Warisan ekonomi berbasis sumber daya alam yang
bertumpu pada labor intensive perlu ditingkatkan secara bertahap
menuju skilled labor intensive dan kemudian menjadi human capital
intensive. Peningkatan kemampuan modal manusia yang menguasai
Iptek sangat diperlukan ketika Indonesia memasuki tahap innovation-
driven economies
Dalam upaya mempercepat proses transformasi ekonomi nasional
maka pemerintah telah mengembangkan Masterplan Percepatan dan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) melalui Peraturan Presiden
No. 32 Tahun 2011. MP3EI mengedepankan pendekatan kolaboratif
dari seluruh pemangku kepentingan serta terfokus pada prioritas yang
konkrit dan terukur. MP3EI berisikan arahan pengembangan kegiatan
ekonomi utama yang sudah lebih spesifik, lengkap dengan kebutuhan
infrastruktur dan rekomendasi perubahan/revisi terhadap peraturan
perundang-undangan yang perlu dilakukan maupun pemberlakuan
peraturan perundangan-undangan baru yang diperlukan untuk
mendorong percepatan dan perluasan investasi. Selanjutnya MP3EI
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional.
Terdapat 3 (tiga) strategi utama dalam MP3EI yakni strategi peningkatan
potensi wilayah melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di
dalam koridor ekonomi, strategi memperkuat konektivitas nasional, serta
strategi meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia dan Iptek. Ketiga
strategi tersebut terkait satu sama lain sehingga tidak bisa dilaksanakan
secara terpisah. Oleh karena itu, tantangan penguatan sistem inovasi
nasional aalah bagaimana mengintegrasikan ketiga strategi tersebut
sehingga dapat menjadi suatu Sistem Inovasi Nasional percepatan dan
perluasan ekonomi nasional.

b. Pengembangan Potensi Ekonomi Melalui Koridor Ekonomi


Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
diselenggarakan berdasarkan pendekatan pengembangan
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, baik yang telah ada maupun
yang baru. Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari
pendekatan sektoral dan regional. Setiap wilayah mengembangkan
produk yang menjadi keunggulannya. Tujuan pengembangan pusat-
pusat pertumbuhan ekonomi tersebut adalah untuk memaksimalkan
keuntungan aglomerasi, menggali potensi dan keunggulan daerah serta
memperbaiki ketimpangan spasial pembangunan ekonomi Indonesia.
Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan
mengembangkan klaster industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan
penguatan konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan
antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi
serta infrastruktur pendukungnya. Secara keseluruhan, pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi dan konektivitas tersebut menciptakan Koridor
Ekonomi Indonesia.

76
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Sumber: MP3EI, 2011


Gambar 3.8. Postur Pengembangan Koridor Ekonomi Nasional

Pembangunan koridor ekonomi ini juga dapat diartikan sebagai


pengembangan wilayah untuk menciptakan dan memberdayakan basis
ekonomi terpadu dan kompetitif serta berkelanjutan. Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia melalui pembangunan Koridor
Ekonomi Indonesia memberikan penekanan baru bagi pembangunan
ekonomi wilayah sebagai berikut:
1. Koridor Ekonomi Indonesia diarahkan pada pembangunan yang
menekankan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah
pengelolaan sumber daya alam melalui perluasan dan penciptaan
rantai kegiatan dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan.
2. Koridor Ekonomi Indonesia diarahkan pada pembangunan ekonomi
yang beragam dan inklusif, dan dihubungkan dengan wilayah-wilayah
lain di luar koridor ekonomi, agar semua wilayah di Indonesia dapat
berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing
wilayah.
3. Koridor Ekonomi Indonesia menekankan pada sinergi pembangunan
sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan
kompetitif secara nasional, regional maupun global.
4. Koridor Ekonomi Indonesia menekankan pembangunan konektivitas
yang terintegrasi antara sistem transportasi, logistik, serta komunikasi dan
informasi untuk membuka akses daerah.
5. Koridor Ekonomi Indonesia akan didukung dengan pemberian insentif
fiskal dan non-fiskal, kemudahan peraturan, perijinan dan pelayanan
publik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah.

Dalam hal ini tantangan penguatan Sistem Inovasi Nasional, adalah


bagaimana mensinergikan fokus pengembangan inovasi pada penguatan
dan perluasan ranta nilai potensi-potensi unggulan untuk masing-masing
wilayah koridor, sehingga hasil penguatan Sistem Inovasi Nasional tersebut
sekaligus mengintegrasikan 2 (dua) strategi utama MP3EI.

77
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

c. Penguatan Konektivitas Nasional


Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia tersebut sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas
ekonomi nasional (intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi
internasional Indonesia dengan pasar dunia.
Konektivitas Nasional merupakan pengintegrasian 4 (empat) elemen
kebijakan nasional yang terdiri dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem
Transportasi Nasional (Sistranas), Pengembangan wilayah (RPJMN/RTRWN),
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT). Upaya ini perlu dilakukan agar
dapat diwujudkan konektivitas nasional yang efektif, efisien, dan terpadu.
Sebagaimana diketahui, konektivitas nasional Indonesia merupakan bagian
dari konektivitas global. Oleh karena itu, perwujudan penguatan konektivitas
nasional perlu mempertimbangkan keterhubungan Indonesia dengan
dengan pusat-pusat perekonomian regional dan dunia (global) dalam
rangka meningkatkan daya saing nasional. Hal ini sangat penting dilakukan
guna memaksimalkan keuntungan dari keterhubungan regional dan global/
internasional.
Maksud dan tujuan Penguatan Konektivitas Nasional adalah sebagai berikut:
1. Menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama untuk
memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan, bukan
keseragaman, melalui inter-modal supply chains systems.
2. Memperluas pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aksesibilitas
dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah belakangnya
(hinterland).
3. Menyebarkan manfaat pembangunan secara luas (pertumbuhan
yang inklusif dan berkeadilan) melalui peningkatan konektivitas dan
pelayanan dasar ke daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan
dalam rangka pemerataan pembangunan
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diintegrasikan beberapa komponen
konektivitas yang saling berhubungan ke dalam satu perencanaan terpadu.
Beberapa komponen dimaksud merupakan pembentuk postur konektivitas
secara nasional, yang meliputi: (a) Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS);
(b) Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS); (c) Pengembangan Wilayah
(RPJMN dan RTRWN); (d) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT).
Rencana dari masing-masing komponen tersebut telah selesai disusun,
namun dilakukan secara terpisah. Oleh karena itu, Penguatan Konektivitas
Nasional berupaya untuk mengintegrasikan keempat komponen tersebut.

78
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Sumber: MP3EI, 2011 Tabel 3.2. Postur Pengembangan Konektivitas Nasional

Dalam hal ini tantangan penguatan sistem inovasi nasional, adalah


bagaimana mensinergikan fokus pengembangan inovasi pada
penguatan infrastruktur yang dapat mendukung penguatan
konektivitas nasional, sehingga hasil penguatan sistem inovasi nasional
tersebut sekaligus mengintegrasikan 3 (tiga) strategi utama MP3EI.

d. Peningkatan Kapasitas Sumber daya manusia dan Iptek

Kemampuan suatu bangsa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi


yang berkesinambungan sangat bergantung pada kemampuan bangsa
tersebut dalam meningkatkan inovasi. Inovasi yang berbasis pada
kapitalisasi produk riset teknologi akan memberi dampak langsung pada
peningkatan produktivitas yang berkelanjutan yang pada akhirnya
dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Kemampuan
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi modal dasar
untuk dapat menghasilkan sebuah inovasi yang sangat bermanfaat
untuk pengembangan ekonomi agar dapat bersaing secara global.

Peningkatan produktivitas menuju keunggulan kompetitif akan dicapai


seiring dengan upaya memperkuat kemampuan sumber daya manusia
berbasis inovasi. Warisan ekonomi berbasis sumber daya alam yang
bertumpu pada labor intensive perlu ditingkatkan secara bertahap menuju
skilled labor intensive dan kemudian menjadi human capital intensive.
Peningkatan kemampuan modal manusia yang menguasai Iptek sangat
diperlukan ketika Indonesia memasuki tahap innovation-driven economies.
(Sumber : Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia.)
Untuk mewujudkan peningkatan produktivitas, maka direkomendasikan
usulan Inisiatif Inovasi 1-747 sebagai pendorong utama terjadinya proses
transformasi sistem ekonomi berbasis inovasi melalui penguatan sistem
pendidikan (human capital) dan kesiapan teknologi (technological readiness).

Proses transformasi tersebut memerlukan input pendanaan Penelitian


dan Pengembangan (R & D) sebesar 1 persen dari GDP yang perlu terus
ditingkatkan secara bertahap sampai dengan 3 persen GDP menuju
2025. Porsi pendanaan penelitan dan pengembangan tersebut diatas,
berasal dari Pemerintah maupun dunia usaha. Pelaksanaannya dilakukan

79
melalui 7 langkah perbaikan ekosistem inovasi, sedangkan prosesnya
dilakukan dengan menggunakan 4 wahana percepatan pertumbuhan
ekonomi sebagai model penguatan aktor-aktor inovasi yang dikawal
dengan ketat. Dengan demikian diharapkan 7 sasaran visi inovasi 2025
di bidang SDM dan Iptek akan dapat tercapai sehingga menjamin
percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Tabel 3.3. Inisiatif Penguatan Inovasi dalam Kerangka MP3EI


4 WAHANA PERCEPATAN
1% DARI GDP PER 7 LANGKAH PERBAIKAN 7 SASARAN VISI INOVASI
PERTUMBUHAN EKO-
TAHUN EKOSISTEM INOVASI 2025
NOMI

Untuk menunjang 1. Sistem insentif dan 1. Industri kebutuhan 1. Meningkatkan jumlah


program inovasi regulasi yang men- dasar (pangan, HaKI dari penelitian dan
melalui skema 747 dukung inovasi dan obat-obatan, energi industri yang langsung
diperlukan dana budaya penggu- dan air bersih) berhubungan dengan
R&D hingga 1% naan produk dalam pertumbuhan ekonomi
dari GDP per tahun negeri 2. Industri kreatif (ber-
s/d tahun 2014 basis budaya dan 2. Meningkatkan infrastruk-
2. Peningkatan Kuali- digital content) tur S & T Park berstandar
Peningkatan terse- tas dan Fleksibilitas internasional
but dapat dilak- perpindahan sum- 3. Industri berbasis
sanakan secara ber daya manusia daya dukung dae- 3. Mencapai swasembada
bertahap sesuai rah Science & Tech- pangan, obat-obatan,
dengan daya 3. Pembangunan nology (S & T) Park energi dan air bersih
dukung pemer- Pusat-pusat inovasi & Industrial Park yang berkesinambun-
intah, BUMN dan untuk mendukung gan
partisipasi swasta IKM 4. Industri strategis
(pertahanan, trans- 4. Meningkatkan ekspor
4. Pembangunan portasi, dan ICT) produk industri kreatif
Klaster Inovasi Dae- menjadi dua kali lipat
rah
5. Meningkatkan jumlah
5. Sistem Remunerasi produk-produk unggulan
Peneliti dan nilai tambah industri
dari berbagai daerah
6. Revitalisasi Infra-
struktur R & D 6. Mencapai swasembada
produk dan sistem indus-
7. Sistem dan Manaje- tri pertahanan, transpor-
men Pendanaan tasi dan ICT
Riset yang yang
mendukung Inovasi 7. Mencapai pertumbuhan
ekonomi yang ber-
kesinambungan, kemak-
muran yang merata,
dan memperkokoh NKRI

INPUT PROSES OUTPUT
Sumber : MP3EI, 2011

80
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Inisiatif Pelaksanaan Inovasi dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan


Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Berikut ini adalah beberapa inisi-
atif pelaksanaan inovasi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi
MP3EI:
1. Pengembangan Klaster Inovasi untuk Mendukung 6 (enam) Koridor Eko-
nomi Pengembangan 6 (enam) koridor ekonomi harus diiringi dengan
penguatan klaster inovasi sebagai centre of excellence dalam rangka
mendukung peningkatan kemampuan berinovasi untuk meningkatkan
daya saing. Pengembangan centre of excellence tersebut diharapkan
terintegrasi dengan klaster-klaster industri.
2. Revitalisasi PUSPIptek sebagai S & T Park. Merevitalisasi PUSPIptek sebagai
S & T Park bertujuan untuk melahirkan IKM/UKM berbasis inovasi dalam
berbagai bidang strategis yang mampu mengoptimalkan interaksi dan
pemanfaatan sumber daya universitas, lembaga Litbangyasa, dan dunia
usaha sehingga dapat menghasilkan produk inovatif. Untuk menjaga ke-
berlanjutan pengelolaan S & T Park tersebut perlu dilakukan:
a. Menjadikan PUSPIptek sebagai Badan Layanan Umum (BLU) dengan
manajemen profesional sehingga tercipta link antara bisnis dan riset;
a. Menjadikan PUSPIptek sebagai pusat unggulan riset berteknologi
tinggi.
3. Pembentukan Klaster Inovasi Daerah untuk pemerataan pertumbuhan
MP3EI mendorong dan memberdayakan upaya masyarakat, pelaku
usaha, pemerintah daerah yang sudah memiliki inisiatif untuk menumbuh-
kembangkan potensi inovasi pada beberapa produk dan program ung-
gulan wilayah, antara lain:
a. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Agroindustri, di Gresik Utara
Provinsi Jawa Timur;
b. Model pengembangan kawasan industri inovasi produk-produk hilir
yang terintegrasi, untuk pengembangan kelapa sawit, kakao, dan
perikanan;
c. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Energi yang berbasis non-
renewable dan renewable energy di Provinsi Kalimantan Timur.

4. Penguatan Aktor Inovasi


Salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan MP3EI tergantung pada upa-
ya cerdas dan efektif para aktor inovasi dari unsur akademisi/peneliti,
dunia usaha/industri, masyarakat, legislator, dan pemerintah. Beberapa
pemikiran berikut harus diupayakan dalam perencanaan dan peman-
faatan secara cerdas potensi anak bangsa dalam rangka membangun
Indonesia maju dan bermartabat, antara lain:
a. Menciptakan SDM yang memiliki kompetensi, berkepribadian luhur,
berharkat dan bermartabat melalui pendidikan sains teknologi,
pranata sosial dan humaniora yang berkualitas;
b. Optimalisasi sumber daya manusia berpendidikan S2 dan S3 yang
telah ada, dan menambah 7.000-10.000 Ph.D di bidang sains dan
teknologi secara bertahap dan terencana sampai tahun 2014;
c. Pengadaan laboratorium berstandar international baik di bidang
ilmu-ilmu dasar maupun terapan di perguruan tinggi, lembaga
Litbangyasa LPK dan LPNK serta pusat riset swasta, untuk kepentingan
kemakmuran bangsa;

81
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

d. Kerjasama internasional yang mendorong pemahaman dan


penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemanfaatan
berbagai best practices yang sudah dikembangkan di berbagai
negara.
5. Memperkuat Operasionalisasi Sistem Inovasi Nasional
Pengembangan inovasi produk suatu invensi melibatkan 3 pelaku utama
dalam sistem inovasi nasional yaitu: (a) pemerintah sebagai regulator,
fasilitator dan katalisator; (b) pelaku usaha/industri sebagai pengguna
hasil invensi; dan (c) lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi
sebagai penghasil produk invensi. Kolaborasi ketiga pelaku utama terse-
but sangat penting dan diperlukan untuk berkembangnya produk-produk
inovasi sesuai dengan kebutuhan.
Dalam rangka pengembangan inovasi, Pemerintah akan memberikan:
a. Insentif fiskal kepada Dunia Usaha (swasta, BUMN) yang melakukan
inovasi, dan perusahan asing yang menggunakan teknologi dalam
negeri atau mentransfer teknologi dari luar negeri ke Indonesia;
b. Dana penelitian kepada pelaku inovasi dengan syarat bahwa (a)
produk inovasi sesuai dengan kebutuhan atau minat pihak industri,
(b) produk inovasi tersebut sudah terbukti dapat meningkatkan
produktivitas pihak industri yang bersangkutan (return of investment
yang jelas). Persyaratan ini menjadi penting bagi pengembangan
inovasi secara nasional. Pihak industri diminta untuk menjadi
penggerak utama inovasi dengan memberikan informasi state of the
art kebutuhan invensi teknologi yang memiliki nilai pasar yang baik.

3.4. GAP KONDISI SISTEM INOVASI YANG DIINGINKAN DENGAN KONDISI


SAAT INI.

Analisis Gap dilakukan dengan membandingkan targer/sasaran/ atau kondisi sistem


inovasi yang diinginkan dengan kondisi saat ini. Kondisi kapasitas sistem inovasi
nasional yang ada saat mengakibatkan rendahnya capaian indikator sistem ino-
vasi seperti terlihat pada Gambar. Sehingga terlihat gap yang cukup besar untuk
tiap indikator sasaran yang telah ditetpakan berdasarkan undang-undang maupun
kondisi idealnya.
Perbandingan antara indikator target/sasaran/kebutuhan bidang sitem inovasi
dengan kondisi indikator yang bersangkutan pada saat ini mencerminkan besarnya
kebutuhan penguatan bidang sisten inovasi dalam pembangunan nasional. Upaya
memenuhi gap tersebut dalam membutuhkan kolaborasi berbagai pihak terkait.

82
BAB III.
KONDISI YANG DIINGINKAN
DAN TANTANGAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Gambar 3.9 Analisis GAP Pembangunan Bidang Sistem Inovasi


Sumber : Hasil Analisis, 2011

Berdasarkan pemetaan terhadap kondisi penguatan sistem inovasi di In-


donesia, maka dapat disimpulkan bahwa dalam jangka pendek hingga
menengah dibutuhkan suatu upaya tersruktur untuk membangun tata ke-
lola sistem inovasi nasional. Upaya membangun tatakelola sisten inovasi na-
sional dapat diawali dengan mengembangkan kepeloporan dan prakarsa-
prakarsa strategis penguatan sistem inovasi nasional yang didasarkan pada
kompetensi dan peran lembaga-lembaga yang ada saat ini. Hal terpenting
dari pengembangan prakarsa strategis tersebut adalah menghasilkan suc-
cess story yang dapat menyakinkan semua pihak bahwa penguatan sistem
inovasi nasional adalah kunci menuju tercapainya visi pembangunan nasi-
onal sesuai amanat undang-undang.

83
84
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025
4.1. TUJUAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Sejalan dengan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, penguatan Sitem Inovasi
Nasional bertujuan untuk mendukung pencapaian tujuan dan visi pembangunan
nasional melalui peningkatkan kapasitas inovatif nasional melalui kerangka kerja
sistem inovasi. Penguatan Sistem Inovasi Nasional harus mampu menjadi salah satu
wahana utama pencapaian tujuan pembangunan nasional.

4.2. ARAH KEBIJAKAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025


RPJPN 2005--2025 mengarahkan agar dalam mentransformasikan perekonomian
dari yang berbasis keunggulan komparatif sumber daya alam ke perekonomian
yang berbasis keunggulan kompetitif dilakukan dengan prinsip dasar mengelola
peningkatan produktivitas nasional melalui inovasi. Hal ini membutuhkan cara
pandang dan tindakan yang sistemik dan sistematis dalam Sistem Inovasi Nasional
(SIN).
Tranformasi ekonomi nasional menuju perekonomian yang berbasis keunggulan
kompetitif tidak dapat terlepas dari penguatan ekonomi nasional berbasis
pengetahuan. Sedikitnya terdapat delapan pilar penting (dan saling terkait) bagi
penguatan sistem inovasi dalam kerangka knowledge base economy/KBE dan
knowledge society, yaitu :
1. Insentif ekonomi dan rejim kelembagaan yang memberikan insentif untuk
pemanfaatan pengetahuan yang ada maupun yang baru secara efisien
dan menumbuhkembangkan kewirausahaan;
2. SDM yang terdidik, kreatif dan terampil;
3. Infrastruktur informasi yang dinamis;
4. Sistem Informasi dan komunikasi;
5. Pembelajaran seumur hidup dan budaya inovasi;
6. Modal sosial;
7. Kepemimpinan/Kepeloporan dalam pemajuan sosial budaya masyarakat;
8. Sistem inovasi yang efektif.

SIN Indonesia diatur melalui Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem
Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (SisnasIptek). Undang-undang ini memberikan landasan hukum bagi
pengaturan pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan,
pemanfaatan, dan pemajuan Iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk
mencapai tujuan.
Kunci keberhasilan implementasi penguatan sistem inovasi di suatu negara adalah
koherensi kebijakan inovasi dalam dimensi antarsektor dan lintas sektor; intertemporal
(antarwaktu); dan nasional-daerah (interteritorial), daerah-daerah, dan internasional.
Dalam perspektif hubungan nasional-daerah, koherensi kebijakan inovasi dalam
penguatan SIN di Indonesia perlu dibangun melalui kerangka kebijakan inovasi
(innovation policy framework) yang sejalan, dengan sasaran dan milestones terukur,

85
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

serta komitmen sumberdaya yang memadai baik pada tataran pembangunan


nasional maupun daerah sebagai platform bersama.
Dengan demikian kebijakan Iptek sebagai salah satu pilar penguatan Sistem
Inovasi Nasional sesuai RPJPN 2005-2025 diarahkan kepada :
1. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan litbangyasa dan
lembaga pendukung untuk mendukung proses transfer dari ide -prototip
laboratorium prototip industri -produk komersial (penguatan Sistem Inovasi
Nasional);
2. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya Iptek untuk
menghasilkan produktivitas litbangyasa yang berdayaguna bagi sektor
produksi dan meningkatkan budaya inovasi serta kreativitas nasional;
3. Mengembangkan dan memperkuat jejaring kelembagaan baik peneliti
di lingkup nasional maupun internasional untuk mendukung peningkatan
produktivitas litbangyasa dan peningkatan pendayagunaan litbangyasa
nasional;
4. Meningkatkan kreativitas dan produktivitas litbangyasa untuk ketersediaan
teknologi yang dibutuhkan oleh industri dan masyarakat serta
menumbuhkan budaya kreativitas masyarakat;
5. Meningkatkan pendayagunaan Iptek dalam sektor produksi untuk
peningkatan perekonomian nasional dan penghargaan terhadap Iptek
dalam negeri.

4.3. VISI PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Sistem Inovasi Nasional adalah suatu kerangka kerja berbasis pendekatan sistem
dalam membangun kapasitas inovasi nasional. Dengan demikian, penguatan
Sistem Inovasi Nasional merupakan wahana strategis dalam mendukung proses
transformasi ekonomi nasional sesuai visi pembangunan nasional 2025.

Gambar 4.1. Visi Penguatan Sistem Inovasi Nasional

86
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, maka Visi Penguatan Sistem


Inovasi Nasional yang dapat dikembangkan adalah menjadikan gerakan
penguatan Sistem Inovasi Nasional sebagai Wahana utama peningkatan
daya saing dan kohesi sosial dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera,
adil, maju mandiri dan beradab . Visi tersebut menekankan pada beberapa
hal pokok yakni :
Perlunya menjadikan aktivitas nasional menjadi suatu gerakan
nasional yang tersetruktur dan sistematis dari tingkat mikro-meso
maupun makro sehingga terwujud suatu wahana yang dapat
mempersarukan langkah-langkah pencapaian tujuan pembangunan
nasional secara sinergis.

Perlunya memprioritaskan peningkatan daya saing dan kohesi


sosial yang merupakan tumpuan bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat di suatu negara pada dasarnya semakin ditentukan oleh
bagaimana perkembangan sistem inovasi negara yang bersangkutan
(baik pada tataran nasional, daerah ataupun mikro).

Perlunya memperhatikan dinamika sistem inovasi yang pada dasarnya


menunjukkan bagaimana suatu bangsa mampu menguasai,
memanfaatkan dan mengembangkan pengetahuan, berinovasi dan
mendifusikan inovasi tersebut, serta berproses dalam pembelajaran
dan beradaptasi terhadap beragam perubahan.

4.4. MISI PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Dalam upaya mencapai tujuan dan visi penguatan Sistem Inovasi Nasional tersebut,
maka beberapa misi penguatan sistem inovasi perlu dikembangkan. Pengembangan
misi ini didasarkan pada lingkup penguatan kapasitas inovatif untuk setiap sub sistem
yang membentuk struktur Sistem Inovasi Nasional (lihat gambar 4.2). Misi tersebut
antara lain :
1. Membangun kondisi dasar/iklim pengembangan yang kondusif sebagai
prasyarat bagi peningkatan upaya pengembangan/penguatan sistem
inovasi. Fokus prioritas yang perlu diperhatikan dalam membangun kondisi
dasar ini antara lain: penguatan kelembagaan termasuk kepeloporan
(leadership), reformasi dan dukungan kebijakan serta regulasi, dan
penguatan infrastruktur dasar.
2. Membangun dan memperkuat kapasitas inovatif kelembagaan litbangyasa
dan meningkatkan kemampuan absorpsi sistem industri. Beberapa fokus
prioritas dari misi ini antara lain: peningkatan kapasitas inovatif lembaga
litbangyasa pemerintah maupun swasta/industri (Supply Side), serta
memperkuat kapasitas absorpsi sistem industri dan UMKM (Demand Side).
3. Membangun dan meningkatkan keterkaitan antara lembaga litbangyasa
dan industri/UMKM (Supply-Demand Linkage) dengan fokus prioritas pada
penguatan peran dan fungsi lembaga-lembaga intermediasi sperti inkubator
teknologi dan pusat inovasi UMKM
4. Membangun dan meningkatkan budaya inovasi secara nasional dengan
fokus prioritas pada pengembangan teknoprener dan pengembangan
fasilitas pendukungnya.
5. Membangun dan meningkatkan koherensi kebijakan tingkat pusat dan
daerah dalam suatu fokus atau tema spesifik/sektoral melalui penguatan

87
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

klaster industri.
6. Membangun dan meningkatkan kemampuan dalam menghadapai
perkembangan global dengan fokus prioritas pada penguatan daya saing
global dari lembaga litbangyasa/pendidikan dan industri nasional.

Keenam misi penguatan sistem inovasi tersebut pada dasarnya merupakan upaya
untuk membangun Sistem Inovasi Nasional sehingga mampu berfungsi dan berperan
sebagai wahana utama peniningkatan daya saing dan kohesi sosial menuju ekononi
nasional berbasis inovasi pada tahun 2025.

Gambar 4.2. Lingkup Misi Penguatan Sistem Inovasi Nasional

4.5. SASARAN STRATEGIS PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Dalam upaya memperjelas arah penguatan Sistem Inovasi Nasional, maka


perlu ditetapkan beberapa sasaran strategis dari gerakan penguatan Sistem
Inovasi Nasional. Sasaran strategis tersebut mengacu pada visi, misi dan
permasalahan strategis penguatan Sistem Inovasi Nasional dalam jangka
menengah dan panjang.
Adapun sasaran strategis yang ingin dicapai adalah:
1. Tahun 2011-2014 adalah membangun dan merevitalisasi pilar-pilar
sistem inovasi pada tataran nasional, daerah, industrial, dan jaringan
inovasi serta mengembangkan contoh kisah sukses pengembangan
sistem indikator sasaran seperti :

Terbentuknya kelembagaan penguatan Sistem Inovasi


Nasional;

Tersusunnya dokumen strategis penguatan Sistem Inovasi

88
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Nasional;

Terbangunnya dukungan politik dalam penguatan Sistem


Inovasi Nasional melalui reformasi kebijakan terkait;

Terumuskannya fokus dan tema priotas penguatan Sistem


Inovasi Nasional;

Telaksananya pengembangan praktek baik (succes story)


penguatan Sistem Inovasi Nasional.

2. Tahun 2015-2019 adalah memperkuat sistem inovasi pada tataran


nasional, daerah, industrial, dan sebagai salah satu hub jaringan
inovasi regional serta memperluas kisah sukses pengembangan
sistem inovasi dengan beberapa indikator sasaran seperti :

Menguatnya kondisi dasar penguatan Sistem Inovasi Nasional


pada tataran nasional, daerah maupun industrial;

Menguatnya kapasitas inovatif lembaga Iptek dan industri


nasional termasuk UMKM;

Menguatnya keterkaitan antar lembaga Iptek dan industri


serta meningkatnya kapsitas lembaga intermediasi;

Menguatnya budaya inovasi nasional;

Menguatnya koherensi kebijakan nasional pada fokus dan


tema prioritas;

Menguatnya kemampuan nasional dalam mengantisipasi


perkembangan global;

Meningkatnya kisah sukses penguatan Sistem Inovasi Nasional;

Terbangunnya jaringan inovasi skala regional.

3. Tahun 2020-2024 adalah memperkokoh Sistem Inovasi Nasional,


daerah, industrial yang berkelas internasional dan sebagai salah
satu hub jaringan inovasi internasional dengan beberapa indikator
sasaran sebagai berikut :

Semakin kokohnya kondisi dasar penguatan Sistem Inovasi


Nasional pada tataran nasional, daerah maupun industrial;

Semakian kokohnya kapasitas inovatif lembaga Iptek dan


industri nasional termasuk UMKM;

Meningkatnya keterkaitan antar lembaga Iptek dan industri


serta meningkatnya kapsitas lembaga intermediasi;

Semakian kuatnya budaya inovasi nasional;

Semakian kuatnya koherensi kebijakan nasional pada fokus


dan tema prioritas;

Semakian kuatnya kemampuan nasional dalam mengantisipasi


perkembangan global;

Meningkatnya kisah sukses penguatan Sistem Inovasi Nasional;

89
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Terbangunnya jaringan inovasi skala internasional.

Gambar 4.3. Sasaran Misi Penguatan Sistem Inovasi Nasional

4.6. ARAHAN STRATEGI PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Untuk mencapai sasaran penguatan Sistem Inovasi Nasional, dibutuhkan strategi


yang tepat. Mengacu pada visi, misi dan sasaran penguatan Sistem Inovasi Nasional
serta mempertimbangkan perkembangkan terkini kebijakan pemerintah dalam
membangun ekonomi nasional, maka arahan strategi utama penguatan Sistem
Inovasi Nasional adalah sebagai berikut:
1. Penguatan pilar-pilar kebijakan tematik sistem dengan fokus utama pada
penguatan kerangka dasar penguatan Sistem Inovasi Nasional.

2. Penguatan sistem inovasi pada tataran sektoral, dengan fokus pada


penguatan klaster industri nasional seperti yang tertuang dalam MP3EI,
meliputi 2 (dua) hal yakni :

a. Pengembangan bisnis proses penguatan sistem inovasi pada upaya


mendukung pengembangan rantai nilai komoditas utama wilayah
koridor ekonomi yang telah ditetapkan dalam MP3EI;

b. Pengembangan bisnis proses penguatan sistem inovasi pada upaya


mendukung pengembangan konektivitas nasional sesuai MP3EI.

3. Penguatan sistem inovasi daerah dengan fokus pada daerah-daerah yang


menjadi bagian dari pengembangan koridor ekonomi nasional.

4. Penguatan jaringan inovasi dengan fokus pada keterkaitan antar aktor-aktor


pada sub sistem sumber daya inovasi dengan aktor-aktor pada sub sistem
industri serta keterkaitan dengan sub sistem pendukung.

5. Penguatan teknoprener dengan fokus pada pengembangan iklim dan


kerangka dasar yang kondusif bagi pengembangan usaha baru inovatif.

90
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

PENGEMBANGAN TEKNOPRENER

PENGEMBANGAN
KLASTER
INDUSTRI

PENGEMBANGAN JARINGAN INOVASI

Gambar 4.4. Kerangka Strategi Penguatan Sistem Inovasi Nasional.

4.6.1. Pengembangan Pilar-Pilar Kebijakan Tematik Sistem Inovasi

Strategi pengembangan pilar-pilar kebijakan tematik sistem, pada prinsipnya


merupakan penjabaran lebih rinci dari 6(enam) misi penguatan Sistem
Inovasi Nasional pada kerangka kebijakan inovasi nasional yang meliputi:
a. Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi;

b. Memperkuat kelembagaan dan daya dukung Iptek/litbangyasa


serta mengembangkan kemampuan/absorpsi UKM;

c. Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan


difusi inovasi, praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbangyasa;

d. Mendorong budaya inovasi;

e. Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan


sistem inovasi dan klaster industri daerah dan nasional;

f. Penyelarasan dengan perkembangan global.

Dalam jangka pendek dan menengah strategi ini pada intinya berkaitan
dengan tujuan menciptakan iklim yang kondusif, khususnya bagi bisnis,
dan perkembangan sistem inovasi pada umumnya. Beberapa aspek
dalam strategi ini berkaitan dengan konteks ekonomi makro, kebijakan
fiskal, dan beberapa hal lain yang menjadi ranah pemerintah pusat.
Walaupun begitu pada konteks tertentu, pemerintah daerah memiliki peran
sangat penting misalnya berkaitan dengan perijinan bisnis dan investasi,
penyediaan infrastruktur dasar, dukungan aksesibilitas, kualitas hidup, dan
lainnya. Tindakan yang perlu dilakukan dalam strategi ini antara lain:

91
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

a. Perbaikan (reformasi) kebijakan inovasi. Prakarsa yang perlu


diprioritaskan terutama adalah:

i. Penghapusan regulasi yang menghambat. Upaya peninjauan


(review) tentang regulasi merupakan langkah awal sangat
penting dalam memastikan tidak adanya hambatan regulasi
yang bersifat kontra produktif bagi perkembangan inovasi,
dan untuk menentukan urgensi memelihara, menghapus
dan/atau memperbaiki regulasi yang ada.

ii. Pengembangan lingkungan legal dan regulasi yang kondusif.

iii. Pengembangan penadbiran kebijakan inovasi, termasuk


kelembagaan bagi koherensi kebijakan inovasi. Mekanisme
penadbiran yang perlu dikembangkan terutama:

Kelembagaan. Penataan pengambilan keputusan


tertinggi dan peran badan penasihat (advisory body),
serta pelaksana dan aktor lainnya dalam Sistem
Inovasi Nasional. Suatu kelembagaan kolaboratif
bagi pengembangan Sistem Inovasi Nasional, perlu
dibentuk untuk mempercepat proses penguatan
Sistem Inovasi Nasional.

Dokumen strategis penguatan Sistem Inovasi Nasional,


penting agar semua pihak yang berkepentingan
dapat memahami arah, prioritas, serta kerangka
kebijakan pemerintah di dalam pengembangan
sistem inovasi. Dokumen strategis ini juga berfungsi
sebagai acuan/pedoman bagi para pemangku
kepentingan dalam melaksanakan perannya dalam
pengembangan/penguatan Sistem Inovasi Nasional.
Dengan demikian pengembangan/penguatan sistem
inovasi menjadi agenda bersama para pihak.

Program payung (umbrella program) yang menjadi


alat pengarah fokus, koordinasi dan kolaborasi antar
berbagai pihak. Mekanisme keterpaduan anggaran
ini menyangkut koordinasi perencanaan program
yang didukung oleh beragam sumber pendanaan
(dan mungkin juga pelaku/aktor). Pola investasi dari
APBD (provinsi, kabupaten/kota), APBN (misalnya
melalui program oleh lembaga nasional), mekanisme
DAU dan DAK, dan lainnya (misalnya swasta, lembaga
internasional atau lembaga non pemerintah).

Mekanisme koordinasi terbuka. Upaya ini ditujukan


untuk meminimalisasi hambatan koordinasi yang
menjadi agenda penting dalam perbaikan kebijakan.

Simplifikasi administratif. Upaya ini ditujukan untuk


meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem
administratif, baik berkaitan dengan tugas-tugas
pemerintahan maupun pelayanan oleh lembaga
pemerintah.

92
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Reformasi kebijakan yang mempengaruhi inovasi di


sektor bisnis dan pemerintah, serta meningkatkan
kolaborasi sinergis antara (investasi) pemerintah dan
swasta dalam aktivitas inovasi merupakan bagian
mendasar yang sangat urgen untuk dilakukan

b. Pengembangan infrastruktur dasar bagi sistem inovasi. Beberapa


tindakan, yang tentunya perlu disesuaikan prioritasnya, termasuk
sesuai kemampuan) antara lain adalah pengembangan/penguatan
lembaga khusus terspesialisasi (misalnya laboratorium tertentu) yang
penting bagi pengembangan potensi ekonomi nasional, infrastruktur
informasi dan komunikasi yang penting bagi akses dan diseminasi
data/informasi, pengetahuan dan pertukaran/komunikasi dengan
dunia luar, serta perkembangan inovasi dan difusi.

c. Pembiayaan/pendanaan inovasi. Sebagaimana telah dibahas,


bahwa salah satu titik lemah dalam sistem inovasi secara umum di
Indonesia adalah rendahnya investasi inovasi. Penetapan target/
sasaran investasi litbang 3% (terhadap PDB) seperti dilakukan
oleh Uni Eropa, atau 2% seperti disarankan UNESCO atau besaran
tertentu yang ditetapkan oleh masing-masing negara, mungkin
masih merupakan ukuran kuantitatif yang terlalu ambisius bagi
Indonesia, atau daerah-daerah umumnya di Indonesia.

Namun, investasi inovasi yang memadai sangatlah penting bagi


pemajuan sistem inovasi. Penetapan sasaran proporsi dana
litbangyasa terhadap PDB atau PDRB sebesar 1 2% atau lebih,
atau sasaran proporsi dana aktivitas inovasi terhadap PDB atau
PDRB (termasuk Iptek) sebesar 2 3% atau lebih dalam kurun waktu
5 10 tahun mendatang nampaknya merupakan salah satu upaya
perbaikan investasi inovasi yang perlu dipertimbangkan. Jika tidak,
potensi semakin melebarnya ketertinggalan dari negara/daerah
lain di masa datang akan sangat besar. Tentu ini tidak serta-merta
harus diartikan bahwa seluruhnya perlu dilakukan oleh pemerintah
(termasuk pemerintah daerah), walaupun peran pemerintah dan
pemerintah daerah terutama di masa-masa awal pengembangan,
sangatlah menentukan.

Upaya peningkatan inovasi justru perlu semakin didorong pula melalui


investasi inovasi di kalangan pelaku bisnis. Untuk itu, pemerintah,
pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan perlu terus
menggali dan mengembangkan alternatif terbaik bagi tujuan ini.
Ketersediaan pembiayaan/pendanaan berisiko, merupakan di
antara yang selalu dinilai sebagai faktor penentu perkembangan
inovasi dan difusi di berbagai negara. Secara umum upaya
kebijakan untuk ini dilakukan melalui peran pemerintah (secara
langsung, misalnya melalui program/kegiatan Iptek atau litbang)
dan pengembangan/penguatan lembaga pembiayaan berisiko,
selain tentunya perbaikan sistem pembiayaan yang telah dikenal
luas (perbankan).

Walaupun ini umumnya juga merupakan agenda nasional, namun


peran proaktif daerah dalam mengatasi tantangan ini akan sangat
menentukan seberapa cepat daerah yang bersangkutan kelak
mampu memanfaatkan kemajuan inovasi/pengetahuan/teknologi.

93
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

d. Peningkatan perlindungan dan pemanfaatan HKI. Keragaman sosial


budaya, potensi alam dan karakteristik daerah lainnya merupakan
modal penting bukan saja dalam memajukan perekonomian nasional,
tetapi juga membangun citra bangsa dan memposisikan negara di
arena nasional maupun internasional. Peningkatan perlindungan dan
pemanfaatan HKI sangat penting dalam meningkatkan keperdulian
para pihak tentang pentingnya HKI, memberikan perlindungan
hukum dan meningkatkan kemanfaatan potensi (aset-aset) terbaik
setempat serta membangun keungulan nasional (peningkatan daya
saing nasional).

e. Perpajakan. Tujuan yang relevan bagi daerah dalam hal ini antara
lain adalah mengembangkan sistem pajak/retribusi secara kreatif
untuk mendorong investasi inovasi.

f. Persaingan bisnis yang sehat dan adil. Dalam konteks ini, peran
pemerintah bertujuan memastikan persaingan bisnis yang sehat
dan adil secara konsisten. Termasuk dalam hal ini misalnya sistem
pengadaan pemerintah, perkuatan kelembagaan pelaku bisnis
mikro, kecil, dan menengah, memfasilitasi tindakan-tindakan kolektif
(misalnya litbang kolektif), dan sejenisnya.

4.6.2. Penguatan Klaster Industri Nasional dalam Kerangka Sistem


Inovasi untuk Mendukung MP3EI
MP3EI merupakan rencana besar berjangka waktu panjang bagi
pembangunan bangsa Indonesia. Oleh karenanya, implementasi yang
bertahap namun berkesinambungan adalah kunci keberhasilan MP3EI.
Implementasi MP3EI ini direncanakan untuk dilaksanakan di dalam tiga fase
hingga tahun 2025, yaitu sebagai berikut :

Sumber: MP3EI, 2011


Gambar 4.5. Tahapan Pelaksanaan MP3EI

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 MP3EI berfungsi


sebagai:
1. Acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non
kementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka
pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi
Indonesia di bidang tugas masing-masing, yang dituangkan dalam
dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga

94
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

pemerintah nonkementerian
2. Acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan
pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan
kabupaten/kota terkait.

Dengan demikian strategi menempatkan bisnis proses penguatan sistem


inovasi dalam upaya mendukung MP3EI merupakan suatu keharusan dan
tantangan bagi gerakan penguatan sistem inovasi secara nasional.
Strategi ini pada prinsipnya mencoba mengintegrasikan penguatan
kapasitas inovatif nasional sebagai salah satu strategi utama MP3EI dengan
2 (dua) strategi utama lainnya yakni penngembangan potensi ekonomi
di koridor ekonomi nasional dan pengembangan konektivitas nasional.
Melalui strategi ini, maka pengembangan kapasitas inovatif nasional bukan
merupakan aktivitas yang berdiri sendiri tetapi merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari ke 3 (tiga) strategi utama MP3EI.
Lingkup strategi penerapan bisnis proses Sistem Inovasi Nasional dalam
kerangka MP3EI meliputi 2(dua) hal yakni penguatan rantai nilai potensi
ekonomi koridor dan penguatan konektivitas nasional.

Gambar 4.6. Penguatan Sistem Inovasi Nasional Dalam Konteks MP3EI

4.6.3. Penguatan Sistem Inovasi Nasional pada Klaster Industri


Komoditas Unggulan MP3EI

Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia menetapkan


sejumlah program utama dan kegiatan ekonomi utama yang menjadi
fokus pengembangan strategi dan kebijakan. Prioritas ini merupakan hasil
dari sejumlah kesepakatan yang dibangun bersama-sama dengan seluruh
pemangku kepentingan di dalam serial diskusi dan dialog yang sifatnya
interaktif dan partisipatif
Berdasarkan kesepakatan tersebut, fokus dari pengembangan MP3EI

95
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

ini diletakkan pada 8 program utama, yaitu pertanian, pertambangan,


energi, industri, kelautan, pariwisata, dan telematika, serta pengembangan
kawasan strategis. Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22
kegiatan ekonomi utama seperti terlihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7. Fokus Kegiatan Utama Dalam MP3EI

Hasil review terhadap dokumen MP3EI, dapat diidentifikasikan kebutuhan


dukungan Iptek dan Kemampuan SDM untuk tiap kegiatan utama dapat
dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Kegiatan Utama MP3EI dan Kebutuhan SDM serta Iptek

NO KEGIATAN/KOMODITAS KEMAMPUAN SDM DAN Iptek


UTAMA YANG DIBUTUHKAN
1. Makanan dan Minuman Penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas untuk
mendukung industri makanan dan minuman

Meningkatkan pendidikan dan pelatihan tenaga ahli lokal


yang mendukung industri makanan-minuman

96
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

NO KEGIATAN/KOMODITAS KEMAMPUAN SDM DAN Iptek


UTAMA YANG DIBUTUHKAN
2. Tekstil Penyediaan dan peningkatan jalur pendidikan vokasi (ke-
juruan) yang tepat, khususnya di bidang desain produk-
produk tekstil;
Penyediaan dukungan untuk upgrade mesin/alat yang su-
dah tua dan peningkatan teknologi pertekstilan;
Peningkatan inovasi teknologi untuk produk tekstil sehing-
ga dapat meningkatkan penjualan produk tekstil sampai
pada konsumen akhir, baik dalam bentuk pakaian jadi
(garmen), maupun produk-produk tekstil lainnya.
3. Peralatan Transportasi Mendorong transfer pengetahuan dan teknologi, dima-
na saat ini, kemampuan manufaktur Indonesia terbatas
pada aktivitas dengan nilai tambah rendah (hal ini pent-
ing untuk menaikkan posisi manufaktur Indonesia dalam
rantai nilai yang tidak lagi hanya memproduksi kompo-
nen plastik bodi yang sederhana tetapi juga memproduk-
si komponen elektris dan transmisi yang kompleks);

Meningkatkan kemampuan SDM agar dapat menye-


diakan cukup tenaga ahli/terampil sehingga mampu
mengerjakan pekerjaan dengan nilai tambah lebih
tinggi, terutama untuk menarik investasi OEM di Indonesia,
khususnya di Jawa.

4. Perkapalan Peningkatan kemampuan SDM perkapalan dalam mem-


buat desain kapal melalui pembangunan sekolah khusus
di bidang perkapalan untuk meningkatkan kemampuan
produksi industri shaft, propellers, steering gear, dan deck
machinery di dalam negeri;

Pengembangan pendidikan untuk menunjang peningka-


tan kemampuan industri bahan baku komponen kapal;

Peningkatan fasilitas yang dimiliki oleh laboratorium uji


perkapalan agar sesuai dengan standar International
Maritime Organization (IMO);

Pengadaan pelatihan secara periodik yang ditujukan ke-


pada tenaga kerja di industri perkapalan.

5. Telematika Membangun data center dan data recovery center ber-


basis potensi dan SDM dalam negeri;

Mendorong capacity building sektor Telematika di setiap


komponen masyarakat, baik pada masyarakat umum,
instansi pemerintahan dan pembuat keputusan (decision
maker);

Membangun industri aplikasi dan konten digital dalam


negeri;

Memperluas scope kemampuan laboratorium uji sehing-


ga dapat menguji sesuai spesifikasi teknis negara lain;

Membangun dan mengembangkan Smart and Techno


Park
6. Alutsista Pembangunan pusat riset dalam rangka meningkatkan
kemampuan teknologi dan produksi alutsista dan peny-
iapan SDM.

97
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

NO KEGIATAN/KOMODITAS KEMAMPUAN SDM DAN Iptek


UTAMA YANG DIBUTUHKAN
7. Industri Dirgantara Pengembangan riset pemasaran dan rancang bangun
yang layak jual;

Penigkatan SDM Industri Kedirgantaraan;


8. Perikanan Pendirian pusat pelatihan nelayan dan pengadaan pro-
gram sertifikasi;

Pengembangan bibit unggul dan teknologi penangka-


pan ikan;

Pemberian pendampingan pada UKM perikanan untuk


meningkatkan pengetahuan pengolahan yang memiliki
nilai tambah tinggi serta pemberian skema kredit mikro
PNPM Mandiri melalui koperasi nelayan;

Penjalinan kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan


Universitas setempat untuk pengembangan teknologi
pengolahan hasil perikanan dan kelautan yang bernilai
jual lebih tinggi (kualitas lebih baik);

Penjalinan kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan


Universitas setempat untuk pengembangan teknologi bu-
didaya garam (agar tidak tergantung pada cuaca);

Pendirian pusat pelatihan budidaya garam dengan skala


layanan kabupaten untuk diseminasi teknik dan kemung-
kinan integrasi penggunaan lahan tambak garam den-
gan budidaya perikanan.
9. Peternakan Menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun dengan
teknologi pakan murah untuk pemenuhan kebutuhan
daging lokal dari produksi dalam negeri;

Mengadakan pelatihan dan pendampingan kelom-


pok peternak dalam rangka penerapan program Good
Breeding Practice;

Mengembangkan teknologi untuk perbaikan mutu baka-


lan melalui metode inseminasi buatan, embrio transfer
atau rekayasa genetika dalam waktu panjang.
10. Kelapa Sawit Peningkatan riset untuk memproduksi bibit sawit kualitas
unggul dalam rangka peningkatan produktivitas kelapa
sawit;

Penyediaan bantuan keuangan, pendidikan dan pelati-


han, terutama untuk pengusaha kecil;

Pembentukan pusat penelitian dan pengendalian sistem


pengelolaan sawit nasional.
11. Karet Membentuk badan karet yang dapat berguna sebagai
pusat riset dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
kualitas produk bahan olah karet sehingga terjadi efisiensi
pengolahan karet selanjutnya dari para pedagang dan
perantara;

Peningkatan SDM melalui pendidikan terkait penelitian


pengembangan karet.

98
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

NO KEGIATAN/KOMODITAS KEMAMPUAN SDM DAN Iptek


UTAMA YANG DIBUTUHKAN
12. Batubara Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pen-
didikan dan pelatihan. Kurangnya tenaga kerja terlatih
merupakan salah satu hambatan dalam pertambangan
batubara. Pendidikan dan pelatihan perlu ditingkatkan.
Untuk mencapai produksi batubara sebesar 10 juta ton/
tahun, diperlukan sekitar 2.500 pekerja dan 10-15 persen
diantaranya merupakan tenaga manajerial;

Peningkatan tata kelola usaha agar investasi di pertam-


bangan batubara menjadi lebih menarik;
13. Besi Baja Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan untuk
mendapatkan tenaga kerja terampil di bidang industri
besi baja.

Pengembangan SDM melalui sekolah maupun perguruan


tinggi untuk menghasilkan tenaga ahli untuk memenuhi
kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan industri besi baja

Mendorong penggunaaan teknologi tinggi yang mam-


pu mendorong peningkatan produktivitas dan pencip-
taan produk yang berkualitas baik, dibutuhkan oleh para
pelaku usaha dalam industri besi dan baja;

Mendorong penggunaan teknologi eksplorasi non-


destruktif yang tepat, akurat, serta efisien untuk dapat
mengidentifikasi potensi bijih besi dalam suatu wilayah;

Pengembangan teknologi yang dapat mengolah bijih


besi kadar rendah dan atau lateritik untuk dapat meng-
hasilkan bahan baku dengan kualifikasi yang disyarat-
kan oleh industri baja dapat dilakukan dengan bantuan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
14. Minyak dan Gas Pemberian dukungan teknis melalui peningkatan teknolo-
gi dan kualitas sumber daya manusia agar dapat menu-
runkan biaya ekplorasi terutama pada wilayah-wilayah
dengan kondisi medan sulit, seperti eksplorasi di laut
dalam

Pemberian investasi tambahan untuk pengembangan


pemanfaatan teknologi untuk peningkatan kapasitas gas
metana batu bara (MBB).

Upaya mendorong percepatan penerapan Enhanced


Oil Recovery (EOR), sebagai satu upaya dalam mening-
katkan upstream activity (eksplorasi & produksi), dimana
penggunaan teknologi EOR ini akan mengoptimalkan
kapasitas konsesi dari sumur-sumur minyak tua (brown
fields);

Pengembangan teknologi yang mendukung transpor-


tasi, refining, dan marketing untuk peningkatan kapasitas
downstream (hilir).

99
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

NO KEGIATAN/KOMODITAS KEMAMPUAN SDM DAN Iptek


UTAMA YANG DIBUTUHKAN
15. Bauksit Penguatan kapasitas SDM dan Iptek yang antara lain
dapat dilakukan dengan mendirikan pusat desain dan
rekayasa teknologi aluminium;

Pengembangan pendidikan dan transfer teknologi pada


institusi pendidikan tinggi untuk meningkatkan keahlian
teknis dalam bidang industri ini
16. Pertanian Tanaman Peningkatan produktivitas melalui penggunaan teknologi
Pangan tepat guna (sistem irigasi dan traktor), penggunaan pu-
puk berimbang yang berbasis prinsip ketepatan, dan bibit
yang berkualitas/bersertifikat, serta peningkatan pengeta-
huan petani;

Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)


dan pengendalian residu pestisida;

Meningkatkan tingkat pendidikan mengenai pertanian


bagi para petani.

Pembangunan balai penelitian & pengembangan


teknologi pertanian, peternakan, perikanan di Merauke,
Pengadaan peralatan alat dan mesin pertanian (traktor,
planter, reaper, power threser, mini combine, pompa air);

Pendirian Sekolah Kejuruan Pertanian dan Balai Latihan


Tenaga Kerja Pertanian di tiap KSPP;

Penyiapan teknologi budidaya pertanian dan perkebu-


nan berbasis Iptek (pra dan pasca panen) di Merauke
17. Kakao Peningkatan pendidikan petani melalui fasilitasi pendidi-
kan, pelatihan, pendampingan, penyuluhan dan disemi-
nasi teknik budidaya dan pengolahan kakao bagi petani
kakao, serta penguatan kelembagaan petani kakao se-
cara konsisten dan berkelanjutan;

Pelatihan GMP, HACCP dan ISO guna meningkatkan


pemahaman, pengetahuan tentang kendali mutu
produk kakao;

Penyediaan dana riset melalui mekanisme program riset


insentif bagi industri pengolahan produk kakao yang me-
madai serta peningkatan litbang dalam pengembangan
industri kakao.
18. Tembaga Pembentukan Pusat disain & Rekayasa Teknologi
Tembaga di Timika;

Penyiapan SDM di bidang industri tembaga melalui


Pendidikan, Pelatihan dan Sertifikasi Keahlian dipusatkan
di Timika;

Pemberian fasilitasi bantuan peralatan teknologi


tembaga.
Sumber : Disarikan dari Dokumen MP3EI, 2011.

Berdasarkan identifikasi kebutuhan tersebut, maka terlihat bahwa


Kkemampuan SDM dan Iptek dibutuhkan hampir disemua kegiatan utama
MP3EI. Namun secara substansif terlihat bahwa kebutuhan yang disampaikan

100
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

umumnya bersifat normatif dan parsial. Kondisi ini dikhawatirkan tidak akan
mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap peran Iptek
dalam pembangunan ekonomi maupun tidak terpenuhinya kebutuhan
SDM dan Iptek untuk masing-masing kegiatan utama MP3EI. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka penguatan sistem inovasi perlu dikedepankan
dalam upaya memperkuat peran dan kontribusi Iptek dalam percepatan
dan perluasan ekonomi nasional.

Mengingat kegiatan utama MP3EI sebagian besar merupakan


pengembangan komoditas unggulan pada tataran industrial, maka
penerapan bisnis proses sistem inovasi yang dapat ditonjolkan pada level
ini adalah penguatan koherensi dan keterpaduan Iptek melalui pemajuan
klaster industri komoditas unggulan sesuai MP3EI.

Agenda penguatan Sistem Inovasi Nasional pada kalster industri


kegiatan utama pada prinsipnya merupakan penjabaran dari konsep
pengembangan kapasitas inovatif yang dikembangkan oleh Porter dan
Stern dalam kerangka daya saing (the four diamonds framework) . Dalam
model tersebut terdapat empat faktor penentu atau dikenal dengan
nama diamond model yang mengarah kepada daya saing industri, yaitu:
(1) faktor input (factor/input condition), (2) kondisi permintaan (demand
condition), (3) industri pendukung dan terkait (related and supporting
industries), serta (4) strategi perusahaan dan pesaing (context for firm and
strategy).

Gambar 4.8. Konsep Four Diamond Porter

Selanjutnya konsep tersebut diperkaya dengan konsep-konsp penguatan


Sistem Inovasi Nasional sehingga menghasilkan kerangka kebijakan inovasi
yang dapat digunakanuntuk mendukung peningkatan daya saing nasional
sekalugus penguatan kalster industri itu sendiri. Untuk itu dalam rangka
implementasi strategi ini maka beberapa tindakan yang perlu diprioritaskan
antara lain :
a. Penguatan rantai nilai komoditas unggulan melalui pengembangan
klaster industri meliputi beberapa aktivitas utama antara:
i. Pemetaan dan Inventarisasi Program Riset terkait

101
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

pengembangan rantai nilai kegiatan utama MP3EI;


ii. Pemetaan kapasitas lembaga terkait pengembangan rantai
nilai kegiatan utama MP3EI;
iii. Prakarsa pengembangan klaster industri kegiatan utama
MP3EI.
b. Implementasi kerangka kerja sistem inovasi dalam penguatan klaster
industri komoditas utama yang meliputi :
i. Penguatan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan
klaster industri komoditas utama meliputi beberapa komponen
:
Ketersediaan permodalan/kapital berisiko (risk capital);
Infrastruktur informasi berkualitas tinggi;
Kebijakan pajak atas litbang (R&D tax policy);
Kebijakan dan pembiayaan pendidikan;
Kebijakan perlindungan kekayaan intelektual;
Penegakan hukum atas anti-monopoli (persaingan tak
sehat);
Program bantuan dan subsidi;
Kebijakan perdagangan.

ii. Penguatan kapasitas inovatif sumberdaya inovasi yang


sesuai kebutuhan pengembangan klaster industri komoditas
utama meliputi beberapa komponen :
Penguatan Kelembagaan Lembaga Litbang (pemerintah
maupun industri) terkait klaster industri komoditas utama;
Peningkatan SDM litbang terkait penguatan klaster industri
komoditas utama;
Peningkatan Infrastruktur lembaga litbang terkait
pengembangan klaster industri komoditas utama;
Penguatan sumber-sumber pembiayaan riset litbang
terkait klater industri komoditas utama;
Peningkatan kapasitas absorpsi industri terhadap
pemanfaatan pengetahuan dan cara-cara baru;
Modernisasi UMKM terkait klaster industri komoditas utama
.
iii. Penguatan keterkaitan antara lembaga litbang dan
pendidikan dengan industri terkait dalam klaster industri
tersebut :
Peningkatan kapasitas lembaga intemediasi terkait klaster
industri;
Penguatan program kemitraan industri-lembaga litbang;
Penguatan jaringan inovasi dalam klaster industri yang
bersangkutan.

iv. Penguatan budaya inovasi aktor-aktor yang terlibat dalam


klaster industri tersebut, meliputi :
Pengembangan inkubator tekno bisnis terkait
pengembangan klaster industri;

102
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Pengembangan program teknopreuneur bagi penguatan


klaster industri.

v. Penguatan keterpaduan tindakan dan kebijakan


dengan fokus pada pengembangan klaster industri yang
bersangkutan, meliputi :
Penguatan kolaborasi pusat-daerah dalam penguatan
rantai nilai komoditas utama klaster industri;
Pengembangan infrastruktur khusus sesuai kebutuhan
spesifik klaster industri;
Penguatan keterpaduan kebijakan dalam menumbuhkan
pasar klaster industri komoditas utama.

vi. Penguatan kemampuan klaster industri dalam mengantisispasi


perkembangan global, meliputi :
Fasilitasi kerjasama dan fora internasional terkait
pengembangan klaster industri;
Pemanfaatan standar-standar internasional dalam
mendukung produk klaster industri;
Pengembangan intrumen intelejen pasar internasional.

4.6.4. Penguatan Sistem Inovasi Nasional Dalam Mendukung


Penguatan Konektivitas Nasional
Dalam MP3EI penguatan Konektivitas Nasional merupakan upaya
pengintegrasian 4 (empat) elemen kebijakan nasional yang terdiri dari
Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem Transportasi Nasional (Sistranas),
Pengembangan wilayah (RPJMN/RTRWN), Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK/ICT). Upaya ini perlu dilakukan agar dapat diwujudkan konektivitas
nasional yang efektif, efisien, dan terpadu.
Dalam pelaksanaannya, prinsip utama yang dikembangkan adalah : (1)
meningkatkan kelancaran arus barang, jasa dan informasi, (2) menurunkan
biaya logistik, (3) mengurangi ekonomi biaya tinggi, (4) mewujudkan akses
yang merata di seluruh wilayah, dan (5) mewujudkan sinergi antar pusat-
pusat pertumbuhan ekonomi.
Fokus Penguatan Konektivitas Nasional untuk mendukung percepatan dan
perluasan pembangunan ekonomi indonesia adalah sebagai berikut:

103
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Sumber : Dokumen MP3EI, 2011.


Berdasarkan fokus prioritas penguatan konektivitas nasional tersebut,
maka muatan pengembangan teknologi sangat tinggi, baik pada sektor
transportasi, maupun ICT. Bercermin pada pengembangan teknologi
terkait koneltivitaspada masa lalu terbukti bahwa proses pengembangan
yang bersifat sektoral dan parsial tidak berhasil membangun sistem
konektivitas yang optimal bagi pengembangan ekonomi nasional. Untuk itu
terobosan berupa penerepan bisnis proses Sistem Inovasi Nasional dalam
pengembangan dan peningkatan konektivitas nasional menjadi suatu

104
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

terobosan yang dapat dijadikan wahana pengembangan konektivitas


nasional yang handal.
Strategi penguatan Sistem Inovasi Nasional dalam upaya mendukung
penguatan konektivitas nasional, secara prinsip sama dengan startegi untuk
mendukung penguatan klaster industri. Perbedaan terletak pada fokus, tema
yang menjadi prioritas, dalam hal ini fokus prioritas penguatan Sistem Inovasi
Nasional adalah pengembangan teknologi transportasi dan ICT serta kohesi
sosial. Dengan demikian tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk
mendukung strategi ini adalah:
a. Pemetaan kapasitas lembaga Iptek dalam pengembangan teknologi
transportasi dan ICTmeliputi beberapa aktivitas utama antara:
i. Pemetaan dan Inventarisasi Program Riset terkait
pengembangan teknologi transportasi, ICT dan Kohesi sosial
sesuai fokus prioritas MP3EI;
ii. Pemetaan kapasitas lembaga terkait pengembangan
teknologi terkait konektivitas nasional dalam MP3EI;
iii. Prakarsa pengembangan kolaborasi riset dan teknologi terkait
penguatan konektivitas sesuai MP3EI.
b. Implementasi kerangka kerja sistem inovasi dalam penguatan
konektivitas nasional yang meliputi:
i. Penguatan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan
teknologi terkait penguatan konektivitas nasional meliputi
beberapa komponen :
Ketersediaan permodalan/kapital berisiko (risk capital).
Infrastruktur dasar pendukung riset bidang transportasi
dan ICT.
Kebijakan pajak atas litbang (R&D tax policy);
Kebijakan dan pembiayaan pendidikan.
Kebijakan perlindungan kekayaan intelektual;
Penegakan hukum atas anti-monopoli (persaingan tak
sehat);
Program bantuan dan subsidi;
Kebijakan perdagangan.
ii. Penguatan kapasitas inovatif sumberdaya inovasi yang
sesuai kebutuhan pengembangan teknologi untuk penguatan
konektivitas nasional utama meliputi beberapa kompone:
Penguatan Kelembagaan Lembaga Litbang(pemerintah
maupun industri) terkait pengembangan teknologi untuk
konektivitas nasional;
Peningkatan SDM litbang terkait pengembangan
teknologi untuk konektivitas nasional;
Peningkatan Infrastruktur lembaga litbang terkait
pengembangan teknologi untuk konektivitas nasional;
Penguatan sumber-sumber pembiayaan riset litbang
terkait pengembangan teknologi untuk konektivitas
nasional;
Peningkatan kapasitas absorpsi industri terkait
pengembangan konektivitas nasional terhadap
pemanfaatan pengetahuan dan cara-cara baru.
iii. Penguatan keterkaitan antara lembaga litbang dan
pendidikan dengan industri terkait pengembangan teknologi
untuk konektivitas nasional tersebut :
Peningkatan kapasitas lembaga intemediasi;
Penguatan program kemitraan industri-lembaga litbang;

105
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Penguatan jaringan inovasi dalam klaster industri terkait.


iv. Penguatan budaya inovasi aktor-aktor yang terlibat dalam
pengembangan teknologi untuk konektivitas nasional tersebut
:
Pengembangan inkubator tekno bisnis terkait
pengembangan industri transportasi dan ICT;
Pengembangan program teknopreuneur.
v. Penguatan keterpaduan tindakan dan kebijakan dengan
fokus pada pengembangan teknologi untuk mendukung
klaster industri terkait konektivitas nasional meliputi :
Penguatan kolaborasi pusat-daerah pengembangan
teknologi transportasi dan ICT;
Pengembangan infrastruktur khusus sesuai kebutuhan
spesifik penguatan konektivitas nasional;
Penguatan keterpaduan kebijakan dalam menumbuhkan
pasar industri tarnsportasi dan ICT.
vi. Penguatan kemampuan nasional dalam mengantisispasi
perkembangan global, meliputi:
Fasilitasi kerjasama dan fora internasional terkait;
Pemanfaatan standar-standar internasional;
Pengembangan intrumen intelejen pasar dan teknologi
pada tataran internasional.

4.6.5. Penguatan Sistem Inovasi Daerah Pada Koridor Ekonomi Nasional


Dewasa ini semakin disadari bahwa pembangunan nasional tidak dapat
terlepas dari pembangunan daerah. Ketimpangan perkembangan wilayah
secara nasional merupakan pelajaran penting dimana pembangunan
nasional yang terlalu terpusat dengan mengandalkan indikator makro
nasional mengakibatkan pola pembangunan yang tidak merata.
Gambar 4.9. Koridor Ekonomi Nasional

106
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Oleh karena itu, RPJMN 2010-2014 telah mengakomodasikan pendekatan


pembangunan nasional berdimensi kewilayahan yang dituangkan dalam
buku 3 RPJMN 2010-2014. Pembangunan berdimensi kewilayahan pada
dasarnya mencoba untuk mengakomodasikan dinamika dan kapasitas
daerah dalam perencanaan pembangunan nasional. Sehingga diharapkan
indiktor pembangunan nasional lebih mencerminkan kontribusi daerah
secara lebih jelas.

Sejalan dengan pendekatan tersebut, MP3EI juga mengembangkan


strateginya melalui pendekatan koridor ekonomi yang pada prinsipnya
merupakan keterpaduan pendekatan sektoral dan regional (kewilayahan).
Berdasarkan pendekatan ini diharapkan terbangunnya pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi nasional baru secara lebih merata. Dalam hal ini
dikembangkan 6 (enam) Koridor ekonomi dengan program utama dan
kegiatan utama sesuai potensi unggulan masing-masing koridor.

Demikian pula halnya dengan penguatan Sistem Inovasi Nasional,


perkembangan dewasa ini semakin memperkuat pentingnya pergeseran
fokus dari tingkat nasional pada tingkat daerah. Beberapa pertimbangan
yang mendasari pergeseran tersebut antara lain:

Kesadaran bahwa kedekatan spasial (spatial proximity) memudahkan


banyak pihak untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan yang tacit
dan kapasitas untuk pembelajaran secara lebih terlokalisasi.

Inovasi (selain berupa hal yang lebih bersifat teknokratik, juga


organisasional dan institusional) sering terjadi dalam konteks institusional,
politis, dan sosial tertentu yang mendukung, yang biasanya bersifat erat
dengan lingkungan lokalitas tertentu.

Proses pembelajaran yang terlokalisasi (localized learning process)


sangat erat terkait dengan (ditentukan/dipengaruhi oleh) sehimpunan
kelembagaan daerah/setempat (termasuk misalnya keberadaan
organisasi yang memperkuat jaringan, dan berkembangnya kualitas
interaksi dan kolaborasi serta kebijakan daerah yang mendukung).

Pembelajaran yang terlokalisasi terfasilitasi oleh sehimpunan


kelembagaan daerah yang serupa. Ini misalnya karena lebih kuatnya
dukungan kelembagaan (dalam arti luas) dalam mengembangkan
agenda bersama (common agenda) dan kolaborasi yang meningkatkan
kapasitas untuk bertindak (collective/joint action). Ini tentu sangat
penting dalam mendorong sinergi positif dan eksternalitas ekonomi.

Inovasi merupakan proses sosial, yang sangat dipengaruhi oleh interaksi


antarpihak. Hubungan, jaringan dan kedekatan sosial umumnya lebih
kuat pada tataran setempat (yang lebih terlokalisasi). Situasi demikian
tentu sangat penting bagi perkembangan atau penguatan modal
sosial (social capital), termasuk dalam bentuk hubungan dan rasa
saling percaya, komunikasi dan interaksi yang produktif, budaya berpikir
terbuka, dan sebagainya.

Perusahaan yang berklaster di suatu daerah memiliki kesamaan


budaya daerah yang memudahkan proses pembelajaran. Warisan
budaya (cultural heritage) yang positif dan kecenderungan sifat
path dependence tentang pengetahuan/teknologi dan inovasi turut
mempengaruhi proses interaksi yang lebih intensif di tingkat lokal.

Dalam konteks daya saing, keunggulan global semakin ditentukan/


dipengaruhi oleh keunggulan lokal. Seperti diungkapkan oleh Porter,

107
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

bahwa: keunggulan daya saing yang bertahan lama dalam suatu


ekonomi global akan semakin terletak pada hal-hal yang bersifat lokal,
yaitu pengetahuan (knowledge), hubungan, dan motivasi, yang tidak
dapat (sulit) disaingi oleh para pesaing jauh (distant rivals).

Dengan demikian, penguatan Sistem Inovasi Daerah (SID) merupakan


komponen penting dalam penguatan Sistem Inovasi Nasional yang mewadahi
proses integrasi antara komponen penguatan sistem inovasi pada tataran
makro dan industrial dalam kerangka lokalitas. Tahapan generik dari strategi
ini dapat dilihat pada gambar 4.10.

Gambar 4.10 Kerangka Umum Pengembangan SID

Berdasarkan uraian tersebut diatas,strategi penguatan Sistem Inovasi


Daerah secara umum memiliki kesamaan dengan startegi penguatan
sistem inovasi pada tataran nasional dengan penguatan pada tema
klaster spesifik daerah sebagai fokus pengembangannya. Dengan kata lain
strategi penguatan sisteme inovasi daerah memiliki 2 (dua) substansi pokok
yakni pengembangan kapsitas inovatif daerah (penguatan pilar-pilar sistem
inovasi daerah) dan penguatan klaster spefisik daerah. Kedua substansi
pokok tersebut mencerminkan integrasi tataran makro dengan tataran
industrial (mikro) sehingga strategi pnguatan sistem inovasi daerah dapat
dikatakan merupakan strateti tingkat meso.

Dalam kaitannya dengan pengembangan koridor ekonomi MP3EI,


maka penguatan sistem inovasi daerah dapat menjadi wahana yang
memsinergikan fokus pengembangan koriodor ekonomi yang ditetapkan
pada tataran nasional (22 kegiatan utama) dengan fokus /tema prioritas
daerah dalam suatu kerangka kerja yang sistematis. Keberhasilan penguatan
sistem inovasi daerah akan turut menentukan keberhasilan pelaksanaan
program MP3EI secara nasional.

108
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Gambar 4.11. Sinergi Fokus Prioritas Nasional-daerah Dalam Kerangka SID

Penjabaran dari pengguatan sistem inovasi daerah antara lain meliputi


beberapa tindakan antara lain :
a. Penataan Pilar-Pilar Sistem Inovasi Daerah dengan fokus
pada penciptaan iklim yang kondusif, khususnya bagi bisnis, dan
perkembangan sistem inovasi di daerah. Komponen dari startegi ini
sama dengan komponen pada strategi penguatan pilar-pilar Sistem
Inovasi Nasional dengan penekaaan pada reformasi kebijakan sesuai
kewenangan pemerintah daerah, antara lain :

1. Perbaikan (reformasi) kebijakan inovasi. Prakarsa yang perlu


diprioritaskan terutama adalah:

a). Penghapusan regulasi daerah yang menghambat. Upaya


peninjauan (review) tentang regulasi merupakan langkah
awal sangat penting dalam memastikan tidak adanya
hambatan regulasi yang bersifat kontra produktif bagi
perkembangan inovasi, dan untuk menentukan urgensi
memelihara, menghapus dan/atau memperbaiki regulasi
yang ada.

b). Pengembangan lingkungan legal dan regulasi yang


kondusif.

109
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

c). Pengembangan penadbiran kebijakan inovasi, termasuk


kelembagaan bagi koherensi kebijakan inovasi. Mekanisme
penadbiran yang perlu dikembangkan terutama:

Kelembagaan. Penataan pengambilan keputusan


tertinggi dan peran badan penasihat (advisory
body), serta pelaksana dan aktor lainnya dalam
sistem inovasi nasional. Suatu kelembagaan
kolaboratif bagi pengembangan sistem inovasi
nasional, perlu dibentuk untuk mempercepat
proses penguatan sistem inovasi nasional;

Dokumen strategis penguatan sistem inovasi


nasional, penting agar semua pihak yang
berkepentingan dapat memahami arah, prioritas,
serta kerangka kebijakan pemerintah di dalam
pengembangan sistem inovasi. Dokumen strategis
ini juga berfungsi sebagai acuan/pedoman
bagi para pemangku kepentingan dalam
melaksanakan perannya dalam pengembangan/
penguatan sistem inovasi nasional. Dengan
demikian pengembangan/penguatan sistem
inovasi menjadi agenda bersama para pihak.;

Program payung (umbrella program) yang


menjadi alat pengarah fokus, koordinasi dan
kolaborasi antar berbagai pihak. Mekanisme
keterpaduan anggaran. Ini menyangkut koordinasi
perencanaan program yang didukung oleh
beragam sumber pendanaan (dan mungkin juga
pelaku/aktor). Pola investasi dari APBD (provinsi,
kabupaten/kota), APBN (misalnya melalui program
oleh lembaga nasional), mekanisme DAU dan
DAK, dan lainnya (misalnya swasta, lembaga
internasional atau lembaga non pemerintah);

Mekanisme koordinasi terbuka. Upaya ini ditujukan


untuk meminimalisasi hambatan koordinasi yang
menjadi agenda penting dalam perbaikan
kebijakan;

Simplifikasi administratif. Upaya ini ditujukan untuk


meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem
administratif, baik berkaitan dengan tugas-tugas
pemerintahan maupun pelayanan oleh lembaga
pemerintah;

Reformasi kebijakan yang mempengaruhi


inovasi di sektor bisnis dan pemerintah, serta
meningkatkan kolaborasi sinergis antara (investasi)
pemerintah dan swasta dalam aktivitas inovasi
merupakan bagian mendasar yang sangat urgen
untuk dilakukan.

110
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

2. Pengembangan infrastruktur dasar bagi sistem inovasi di daerah.


Beberapa tindakan, yang tentunya perlu disesuaikan prioritasnya,
termasuk sesuai kemampuan) antara lain adalah pengembangan/
penguatan lembaga khusus terspesialisasi (misalnya laboratorium
tertentu) yang penting bagi pengembangan potensi ekonomi
daerah, infrastruktur informasi dan komunikasi yang penting
bagi akses dan diseminasi data/ informasi, pengetahuan dan
pertukaran/komunikasi dengan dunia luar, serta perkembangan
inovasi dan difusi;

3. Pembiayaan/pendanaan inovasi di daerah. Peran pemerintah


daerah terutama di masa-masa awal pengembangan, sangatlah
menentukan disamping upaya mendapatkan pembiayaan
melalui investasi inovasi di kalangan pelaku bisnis. Untuk itu,
pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan perlu
terus menggali dan mengembangkan alternatif terbaik bagi
tujuan ini . Ketersediaan pembiayaan/pendanaan berisiko,
merupakan di antara yang selalu dinilai sebagai faktor penentu
perkembangan inovasi dan difusi di berbagai negara. Secara
umum upaya kebijakan untuk ini dilakukan melalui peran
pemerintah daerah (secara langsung, misalnya melalui program/
kegiatan Iptek atau litbang) dan pengembangan/penguatan
lembaga pembiayaan berisiko, selain tentunya perbaikan sistem
pembiayaan yang telah dikenal luas (perbankan). Walaupun
ini umumnya juga merupakan agenda nasional, namun peran
proaktif daerah dalam mengatasi tantangan ini akan sangat
menentukan seberapa cepat daerah yang bersangkutan
kelak mampu memanfaatkan kemajuan inovasi/pengetahuan/
teknologi;

4. Peningkatan perlindungan dan pemanfaatan HKI. Keragaman


sosial budaya, potensi alam dan karakteristik daerah lainnya
merupakan modal penting bagi daerah bukan saja dalam
memajukan perekonomian daerah, tetapi juga membangun
citra daerah (regional image) dan memposisikan daerah di
arena nasional maupun internasional. Peningkatan perlindungan
dan pemanfaatan HKI sangat penting dalam meningkatkan
keperdulian para pihak di daerah tentang pentingnya
HKI, memberikan perlindungan hukum dan meningkatkan
kemanfaatan potensi (aset-aset) terbaik setempat serta
membangun keungulan daerah (peningkatan daya saing
daerah);

5. Perpajakan. Tujuan yang relevan bagi daerah dalam hal ini antara
lain adalah mengembangkan sistem pajak/retribusi daerah
secara kreatif untuk mendorong investasi inovasi di daerah;

6. Persaingan bisnis yang sehat dan adil. Dalam konteks ini, peran
daerah bertujuan memastikan persaingan bisnis yang sehat dan
adil secara konsisten di daerah. Termasuk dalam hal ini misalnya
sistem pengadaan pemerintah, perkuatan kelembagaan pelaku
bisnis mikro, kecil, dan menengah, memfasilitasi tindakan-tindakan
kolektif (misalnya litbang kolektif), dan sejenisnya;

b. Pengembangan Fokus Prioritas Atau Klaster Spesifik yang


merupakan proses yang komprehensif melibatkan analisis yang
mendalam hingga proses pelembagaannya melalui peraturan

111
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

perundangan yang berlaku (misal perda);

c. Implementasi Kerangka Kerja Sistem Inovasi dalam penguatan


klaster industri spesifik daerah sesuai fokus prioritas yang telah
ditetapkan. Langkah-langkah implementasinya sama dengan
langkah penguatan klaster industri kegiatan utama MP3EI yang telah
dibahas sebelumnya, dimana inti dari langkah-langkah tersebut
merupakan penjabaran dari 6 (enam) misi dan kerangka kebijakan
penguatan Sistem Inovasi Nasional.

4.6.6. Penguatan Jaringan Inovasi


Inovasi tidak dapat berjalan secara parsial, dia harus merupakan kolaborasi
antar aktor yang saling berinteraksi dalam suatu sistem atau sering disebut
sebagai sistem inovasi yaitu suatu kesatuan dari sehimpunan aktor,
kelembagaan, hubungan interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi
arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk
teknologi dan praktek baik/terbaik) serta proses pembelajaran (Taufik, 2005).
Inti dari sistem inovasi adalah jaringan atau Network.
Jaringan merupakan interaksi antar individu atau lembaga/ institusi/
organisasi. Jaringan dapat terbentuk karena adanya simpul-simpul yang
bergabung merasa memiliki (ownership), berinteraksi dan bertukar informasi/
pengetahuan sehingga kemampuannya (Skill) meningkat dan setiap
simpul menjadi berdaya mampu/berkemampuan (empowered) dan pada
gilirannya dia mendapat manfaat (incentives) baik material maupun non-
material (Unido, 1999).
Jaringan inovasi adalah Interaksi antar aktor/pelaku/komponen dalam
proses pengembangan inovasi melalui berbagai media atau infrastruktur
tertentu. Dalam kerangka Sistem Inovasi Nasional menurut Mowery dan
Oxley (1997) jaringan inovasi merupakan interaksi antara perguruan tinggi,
industri, dan pemerintah (Interaksi Tripel Helix). Atau interaksi aktor-aktor yang
tergabung dalam Sistem Politik, Sistem Lembaga Litbang dan Perguruan
Tinggi, serta Sistem Industri, yang didukung oleh insfrastruktur. Interaksi antar
aktor dapat bermacam-macam, baik itu bersifat teknik, komersial, sosial,
maupun finansial.

112
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Dengan demikian, jaringan inovasi tidak hanya menghubungan aktor-


aktor inovasi, tetapi akan menguatkan kohesi sosial, menghilangkan silo
effect untuk itu perlu dukungan infrastruktur teknologi, dukungan muatan
pengetahuan dan sharing informasi berkualitas yang terkelola baik di seluruh
tingkatan; mikro, meso dan makro.

Dalam konteks penguatan sistem inovasi nasional sesuai kerangka umum


yang telah dijelaskan sebelumnya, maka jaringan inovasi memilki fokus pada
penguatan keterkaitan antar aktor dalam tiap sub sistem yang menjadi
bagian dari sistem inovasi tersebut. Dalam tataran operasional Sistem Inovasi
Nasional bergerak secara interaktif dan saling sinergi antar para aktor,
sehingga mampu menghasilkan produk-produk teknologi yang inovatif dan
memiliki daya saing (kompetitif) di pasar dunia (Freeman, 1987).
Secara garis besar terdapat 3 (tiga) komponen pokok jaringan inovasi
meliputi 1) Aktor/Lembaga/Pelaku, 2) Keterkaitan, 3) Infratstruktur. Komponen
keterkaitan dalam jaringan inovasi merupakan komponen pokok yang
merepresentasikan kekuatan jaringan sekaligus kekuatan sistem inovasi itu
sendiri. Interaksi utama yang menjadi fokus dalam jaringan inovasi adalah
aliran pengetahuan. Terdapat lima aliran pengetahuan diantara aktor
dalam sistem inovasi nasional (OECD, 1999), yaitu:
a. Interaksi antar perusahaan, mencakup joint research dan kerjasama
teknikal lainnya;
b. Interaksi antar perusahaan, universitas, dan lembaga riset publik,
mencakup joint research, co-patenting, co-publications, dan
hubungan yang lebih informal;
c. Interaksi dengan institusi pendukung inovasi lainnya, mencakup
perbankan, pelatihan teknik, fasilitas litbang dan jasa pemasaran;
d. Difusi pengetahuan dan teknologi ke perusahaan, mencakup adopsi
industri untuk difusi dan teknologi baru melalui permesinan dan
peralatan dan;
e. Mobilitas personil, memperhatikan bergeraknya personil teknis di

113
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

dalam dan diantara sektor publik dan swasta.


Dengan demikian, penguatan jaringan inovasi menjadi salah satu aktivitas
penting dalam penguatan sistem inovasi pada berbagai level, baik pada
tingkat nasional, sektoral (klaster industri), maupun daerah.
Langkah-langkah untuk memperkuat jaringan inovasi nasional antara lain
meliputi :
a. Penguatan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan interaksi
antara aktor dalam sistem inovasi meliputi beberapa komponen
utama seperti :
Pengembangan regulasi yang mendukung kemudahan
kerjasama antara lembaga riset dengan industri;
Infrastruktur dasar untuk mendukung interksi antar aktor berupa
teknologi ICT;
Kebijakan perlindungan kekayaan intelektual;
Kebijakan pengembangan program payung kolaborasi antar
lembaga litbang-industri;
Pembiayaan/insentif kegiatan kolaborasi riset-industri.
b. Penguatan kapasitas inovatif sumberdaya inovasi yang sesuai
kebutuhan meliputi beberapa komponen :
Penguatan manajemen pengetahuan pada Lembaga Litbang
(pemerintah maupun industri);
Peningkatan SDM litbang dalam pengelolaan IT;
Peningkatan Infrastruktur manajemen pengetahuan lembaga
litbang;
Peningkatan kapasitas absorpsi industri terkait pengembangan
konektivitas nasional terhadap pemanfaatan pengetahuan dan
cara-cara baru.
c. Penguatan keterkaitan antara lembaga litbang dan pendidikan
dengan industri meliputi:
Peningkatan kapasitas lembaga intemediasi;
Pengembangan infrastruktur khusus pengutajan jaringan inovasi
seperti : kawasan-kawasan teknopark, teknopolitan.
d. Penguatan budaya inovasi aktor-aktor pengembangan inovasi :
Pengembangan inkubator tekno bisnis terkait pengembangan
industri transportasi dan ICT;
Pengembangan program teknopreuneur.
e. Penguatan keterpaduan tindakan dan kebijakan dalam
pengembangan jaringan inovasi :
Penguatan kolaborasi pusat-daerah pengembangan teknologi
ICT;
Pengembangan infrastruktur khusus sesuai kebutuhan spesifik
penguatan konektivitas nasional.
f. Penguatan kemampuan nasional dalam mengantisispasi
perkembangan global, meliputi :

114
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

Fasilitasi kerjasama dan fora internasional terkait;


Pemanfaatan standar-standar internasional;
Pengembangan intrumen intelejen pasar dan teknologi pada
tataran internasional.

4.6.7. Penguatan Teknoprener


Berdasarkan berbagai telaahan konsepsi maupun dukungan empiris dan
perkembangannya dari waktu ke waktu, tak dapat dipungkiri bahwa inovasi
pada dasarnya merupakan hasil dari kewirausahaan, kreativitas intelektual,
dan upaya kolektif. Salah indikator keberhasilan pengembangan inovasi di
suatu negara adalah kewirausahan (KAM, 2003).
Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 4 Tahun 1995: Kewirausahaan
adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam
menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya
mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk
baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan
yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Sehingga entrepreneurship atau kewirausahaan adalah upaya-upaya yang
berkaitan dengan penciptaan kegiatan atau usaha atau aktivitas bisnis
atas dasar kemauan sendiri dan atau mendirikan usaha atau bisnis dengan
kemauan dan atau kemampuan sendiri. Entrepreneur adalah orang-orang
yang memiliki sifat-sifat kewirausahaan dan memiliki keberanian dalam
mengambil risiko terutama dalam menangani usahanya dengan berpijak
pada kemampuan dan atau kemauan sendiri.

Gambar 4.12. Kedudukan Kewirausahaan Dalam Pengembangan Inovasi

Technopreneurship atau kewirausahaan teknologi merupakan proses dan


pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya,
dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat bisa
menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan
ekonomi(Amir Smabodo, 2006). Technopreneur dapat dikatakan sebagai
Entrepreneur plus, karena bukan hanya terbatas pada kemampuan
berdagang namun Technopreneur juga berinovasi dan mengembangkan

115
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

teknologi untuk menjawab kebutuhan yang ada di dalam masyarakat.


Terbatasnya wirausaha yang berkarakter technopreneurship karena
lemahnya penguasaan inovasi teknologi, karena masih ketergantungan
impor teknologi dari luar negeri masih cukup tinggi.
Jika wirausaha-wirausaha baru mampu diciptakan dan semakin banyak
jumlahnya di Indonesia, maka pada akhirnya akan tumbuh menjadi industri
baru yang akan mampu mendorong maju beberapa aspek sebagai berikut
:
1. Mendorong pertumbuhan UKM yang tangguh;
2. Menciptakan lapangan kerja baru;
3. Membantu alih teknologi;
4. Sinergi antara akademisi dan praktisi;
5. Mempercepat perkembangan kewirausahaan;
6. Pertumbuhan budaya kewirausahaan;
7. Pertambahan penyerapan tenaga kerja;
8. Peningkatan pendapatan;
9. Perluasan landasan pajak dan devisa negara;
10. Membantu mendorong perkembangan ekonomi;
11. Meningkatkan kemandirian bangsa.

Dengan demikian Technopreneurship harus dikembangkan sebagai


alternative pendidikan formal. Technopreneur tidak sekedar menjual barang
atau jasa di pasar tetapi menggunakan teknologi sebagai unsur utama
pengembangan produk dan usahanya sebagai produk inovatif yang
mampu menjadi substitusi maupun komplemen dalam kemajuan teknologi.
Kemampuan inovasi dan kreativitas mendominasi dalam menghasilkan
produk unggulan yang bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan.
Strategi penguatan teknoprener dalam kerangka sistem inovasi salah
satunya dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional
melalui penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha baru
yang inovatif. Untuk itu, mengacu pada misi dan kerangka umum Sistem
Inovasi Nasional beberapa langka-langkah yang perlu dilakukan untuk
memperkuat teknopreneur di Indonesia antara lain meliputi :
a. Penguatan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan teknoprener
dalam sistem inovasi meliputi beberapa komponen utama seperti :
Pengembangan regulasi yang mendukung pengembangan
kewirausahaan;
Infrastruktur dasar untuk mendukung pengembangan teknoprener;
Kebijakan perlindungan kekayaan intelektual;
Pembiayaan/insentif kegiatan kolaborasi riset-UMKM;
Pembiayaan bagi pengusaha pemula berbasis teknologi.
b. Penguatan kapasitas inovatif sumberdaya inovasi yang sesuai
kebutuhan meliputi beberapa komponen :
Peningkatan Kemampuan kewirausahaan SDM litbang;
Peningkatan Infrastruktur untuk mendukung kewirausahan lembaga
litbang;
Modernisasi UMKM dan Pengembanga Pengusaha Baru Berbasis
Teknologi.

116
BAB IV.
TUJUAN, ARAH KEBIJAKAN, VISI MISI DAN STRATEGI
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2010-2025

c. Penguatan keterkaitan antara lembaga litbang dan pendidikan dengan


UMKM dan Industri dalam pengembangan Teknoprener meliputi:
Pengembangan kerjasama pengembangan teknoprener antara
lembaga litbang, pendidikan dan swasta;
Peningkatan kapasitas lembaga intemediasi seperti PIUMKM dan
Inkubator teknologi;
Pengembangan infrsatruktur khusus : misal : teknopark.
d. Penguatan budaya inovasi meliputi :
Pengembangan inkubator tekno bisnis;
Pengembangan program pendidikan teknopreuneur dalam pendidikan
formal;
Peningkatan apresiasi inovasi.
e. Penguatan keterpaduan tindakan dan kebijakan dalam pengembangan
teknoprener :
Penguatan kolaborasi pusat-daerah pengembangan teknopreneur;
Pengembangan kolaborasi daerah-daerah dalam pengemabangan
teknoprener misal : Kreanova di Jawa Tengah.
f. Penguatan kemampuan teknoprener dalam mengantisispasi
perkembangan global, meliputi :
Fasilitasi kerjasama dan fora internasional terkait;
Pemanfaatan standar-standar internasional;
Pengembangan intrumen intelejen pasar dan teknologi pada tataran
internasional.

4.6.8. Kerangka Kebijakan Penguatan Sistem Inovasi Nasional


Seperti telah dikemukakan sebelumnya, kunci keberhasilan implementasi
penguatan sistem inovasi di suatu negara adalah koherensi kebijakan inovasi
dalam dimensi antarsektor dan lintas sektor; intertemporal (antarwaktu); dan
nasional-daerah (interteritorial), daerah-daerah, dan internasional. Dalam
perspektif hubungan nasional-daerah, koherensi kebijakan inovasi dalam
penguatan SIN di Indonesia perlu dibangun melalui kerangka kebijakan
inovasi (innovation policy framework) yang sejalan, dengan sasaran dan
milestones terukur, serta komitmen sumberdaya yang memadai baik pada
tataran pembangunan nasional maupun daerah sebagai platform bersama
(Buku 2 RPJM Bab 4).
Salah satu platform kerangka kebijakan penguatan sisitem inovasi nasional
yang pernah dibahas secara formal adalah 6 (enam) kerangka kebijakan
penguatantan Sistem Inovasi Nasional. Kerangka kebijakan tersebut dibahas
dan dijadikan platform penguatan Sistem Inovasi Nasional pada Rakornas
RISTEK pada tahun 2008. Ke 6 (enam) kerangka kebijakan pengembangan
Sistem Inovasi Nasional tersebut adalah :
a. Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi, meliputi :
Regulasi yang menghambat.
Kelemahan lingkungan legal.
Kelemahan infra- dan supra-struktur pendukung perkembangan inovasi.
Administrasi yang birokratif.
Keterbatasan pembiayaan/pendanaan inovasi.
Isu perpajakan yang tidak kompetitif bagi aktivitas inovasi.
Kelemahan kepedulian dan implementasi perlindungan HKI.
b. Memperkuat kelembagaan dan daya dukung Iptek/litbang serta
mengembangkan kemampuan /absorpsi UKM;

117
c. Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi
inovasi, praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang;
d. Mendorong budaya inovasi;
e. Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan
sistem inovasi dan klaster industri daerah dan nasional;
f. Penyelarasan dengan perkembangan global

118
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014
5.1. INDIKATOR SASARAN PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

Dalam rangka menyusun langkah-langkah yang lebih terukur, maka indikator


sasaran penguatan sistem inovasi nasional perlu dirumuskan. Mengacu pada
kondisi saat, kondisi yang diingin serta visi misi penguatan sistem inovasi 2025, maka
beberapa indikator sasaran penguatan sistem inovasi nasional dapat dirumuskan
sebagai berikut :
1. Meningkatnya kontribusi peranan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (Total
Factor Productivity) terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 3,0%

2. Meningkatnya daya dukung Iptek yang ditandai dengan meningkatnya


rasio anggaran Iptek terhadap PDB hingga mencapai 3% pada 2025.

3. Meningkatnya interaksi lembaga litbang dengan industri yang ditandai


dengan meningkatnya paten dalam negeri yang digunakan oleh industri
nasional minimal 10 % per tahun hingga 2025

4. Meningkatkan jumlah kewirausahan sebesar 4% dari penduduk Indonesia;

5. Meningkatnya kerjasama pemajuan sistem inovasi pada tingkat daerah


(provinsi dan kabupaten)

6. Meningkatnya kerjasama internasional dalam penguatan sistem inovasi


nasional

Upaya untuk mencapai visi penguatan sistem inovasi nasional yang telah
dituangkan melalui misi dan strategi yang dikembangkan pada bab sebelumnya,
membutuhkan penjabaran yang lebih operasional. Untuk itu disusun fokus dan
program prioritas penguatan sistem inovasi nasional dalam rangka memberi arah
dan pedoman secara sistematis.
Fokus dan program prioritas penguatan sistem inovasi yang akan dibahas pada
bab-bab selanjutnya, disusun berdasarkan 5 (lima) strategi pokok penguatan sistem
inovasi nasional. Pada tiap strategi tersebut dibahas mengenai fokus prioritas,
program prioritas, kegiatan prioritas yang dilengkapi pentahapan pelaksanaannya
berdasarkan waktu.
Dalam kaitannya dengan MP3EI, maka dalam strategi yang dikembangkan,
program utama yang tertuang dalam MP3EI menjadi fokus prioritas dari penguatan
sistem inovasi nasional.

5.2 PRAKARSA STRATEGIS 1:


PENGEMBANGAN PILAR-PILAR KEBIJAKAN TEMATIK

Strategi penguatan pilar-pilar tematik sistem inovasi nasional lebih ditujukan untuk
memperkuat komponen-komponen sistem inovasi nasional yang menjadi ranah
kewenangan intitusi di tingkat pusat. Beberapa komponen tersebut antara lain
terkait kerangka kebijakan legal seperti undang-undang penguatan sistem inovasi

119
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

nasional, kebijakan perpajajakan, kebijakan investasi dan kebijakan terkait lainnya.


Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai konsep pengembangan sistem inovasi
nasional, maka pada tataran makro, beberapa komponen yang perlu mendapatkan
prioritas penangangan antara lain penataan kelembagaan, penyusunan dokumen
strategis, pengembangan program payung dan penguatan infrastruktur dasar dan
khusus.

5.2.1 Fokus Prioritas

Sistem inovasi nasional merupakan jaringan keterkaitan antar sub sitem


yang bersifat kompleks dan multidimensional. Agar sistem tersebut dapat
berjalan dan mampu mencapai visi dan tujuan yang telah ditetapkan,
maka dibutuhkan prasayarat/kondisi dasar yang harus dipenuhi. Beberapa
prasyarat dasar yang perlu dipenuhi dan menjadi fokus prioritas penguatan
sistem inovasi nasional pada tataran ini antara lain :

a. Tata Kelola Penguatan Sistem Inovasi Nasional

Prasyarat dasar yang perlu mendapatkan prioritas perhatian adalah


membanguna tatatekelola (penadbiran) sistem inovasi nasional. Penadbiran
(governance) sistem inovasi esensinya berkaitan dengan beragam aspek
(proses, organisasi/lembaga dan pengorganisasian, aktivitas, fungsi, termasuk
proses dan muatan kebijakan yang mempengaruhi dan hal lainnya) yang
membawa kepada perbaikan/pemajuan sistem inovasi. Ini yang biasanya
sangat spesifik konteks, sehingga suatu tatanan penadbiran (misalnya
kelembagaan) yang baik di suatu negara tidak selalu akan sesuai untuk
negara lain yang berbeda.

a.1. Penataan Kelembagaan


Kelembagaan sistem inovasi nasional dibutuhkan terutama untuk mengatur
jalanya interaksi antar aktor-aktor yang telibat dalam pengembangan
inovasi nasional. Peran pemerintah dalam hal ini menjadi sangat penting
terutama untuk mengatasi masalah fragmentasi yang terjadi antar institusi
yang memliki kewenangan kemwenangan sektoral.

Persoalan fragmentasi dalam lembaga pemerintah merupakan isu


klasik yang sebenarnya juga bukan hanya dihadapi oleh Indonesia. Pola
penadbiran inovasi di tingkat nasional sendiri sejauh ini lebih condong pada
penadbiran sesuai dengan sektor kementerian/departemen masing-masing,
walaupun kewenangannya (dan artinya juga koordinasinya) berada pada
dan merupakan tanggung jawab KRT (menurut Keputusan Presiden No. 47
tahun 2003). Tantangan yang dihadapi antara lain adalah bagaimana
mengembangkan pola yang sesuai bagi keterpaduan pemajuan sistem
inovasi dan ranah kompetensi masing-masing aktor (pembuat kebijakan
maupun pelaksana aktivitas inovasi), mengatasi hambatan-hambatan untuk
tindakan bersama dan keserentakan, dan fenomena persoalan multilevel,
yang berkaitan dengan aspek politis dan operasional. Bagaimana membentuk
kesinkronan antara Kebijakan Pembangunan Industri Nasional (yang
dikembangkan oleh Departemen Perindustrian) dengan Kebijakan Strategis
Pembangunan Nasional Iptek (yang menjadi ranah KRT) merupakan salah
satu contoh isu pengembangan keterpaduan dalam penadbiran inovasi.

Pemerintah pada dasarnya berperan dalam mengatasi tantangan kekinian


berkaitan dengan struktur administratif dan instrumen-instrumen kebijakan

120
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

yang disusun sebagai respons terhadap persoalan masa lampau. Dalam


pengembangan sistem inovasi pola responsif demikian dinilai tidak cukup.
Pemerintah juga perlu semakin memperhatikan dinamika perubahan/
perkembangan dan berorientasi pada masa depan. Upaya-upaya antisipatif
dipandang semakin penting dalam menumbuh-kembangkan sistem inovasi
yang semakin mampu beradaptasi dengan perkembangan.
Peran pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya secara konvensional
biasanya mengintervensi bidang pengetahuan/teknologi untuk mengatasi
kegagalan pasar (market failures).Namun dalam pengembangan sistem
inovasi, paradigma demikian dinilai tidak memadai.
Dengan sifat kompleksitas dan dinamika sistem inovasi, pemerintah juga
perlu mengatasi kegagalan sistemik (systemic failures) yang menghalangi
berfungsinya sistem inovasi dan yang menghambat aliran pengetahuan
dan teknologi, yang dapat berakibat antara lain pada penurunan efisiensi
upaya litbang, efektivitas komersialisasi/pemanfaatan atau difusi hasil litbang
atau praktik-praktik baik. Kegagalan sistemik demikian dapat muncul dari
ketidaksepadanan antara berbagai komponen sistem inovasi, misalnya
berupa insentif yang bertentangan bagi lembaga pasar dan non-pasar, atau
karena kekakuan kelembagaan (akibat terlampau sempitnya spesialisasi),
informasi asimetrik dan kesenjangan komunikasi, serta kelemahan jaringan
atau mobilitas personil

Gambar 5.1 : Fokus Priorias : Tata Kelola Sistem Inovasi Nasional

Penguatan SIN menuntut kekuatan koordinasi yang mengikat, dukungan


kebijakan sesuai kewenangan kemetrian dan lembaga, serta fokus pada
peningkatan kinerja ekonomi nasional. Mengacu pada pengalaman
beberapa negara dalam melaksanakan SIN, maka struktur kelembagaan
generik yang bisa dijadikan acuan pengembangan kelembagaan SIN
dapat dilihat pada Gambar 5.2. Dalam skema tersebut, terdapat empat
tingkat (level) koordinasi kebijakan, yaitu:

121
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

1. Tingkat 1 merupakan tingkat tertinggi. Tingkatan ini berhubungan


dengan penentuan arah dan prioritas bagi keseluruhan sistem
inovasi nasional. Hal ini dapat dicapai melalui saran/advis kepada
pemerintah atau dengan cara-cara yang lebih mengikat seperti
keputusan-keputusan dari suatu sub-komisi kabinet. Koordinasi di
tingkat ini biasanya berbentuk pemberian saran (advisory) dan
penentuan kebijakan.

2. Tingkat 2 merupakan koordinasi antardepartemen/kementerian,


yang jika tidak diabaikan maka tanggung jawab sektoralnya
akan mendorong setiap departemen/kementerian hanya
mengupayakan kebijakan independen sektoralnya masing-
masing. Dalam praktiknya tingkat koordinasi ini mungkin
melibatkan aspek-aspek administratif, isu kebijakan ataupun
keduanya. Kelompok lintas departemen/kementerian terkadang
juga berfungsi sebagai mekanisme koordinasi Tingkat 1.

3. Tingkat 3 adalah tingkatan yang lebih operasional dalam


upaya membuat tindakan badan-badan pembiayaan (funding
agencies) ke dalam suatu kesatuan yang koheren. Tingkat ini juga
dapat melibatkan koordinasi administratif maupun koordinasi
yang lebih substantif dari kegiatan-kegiatan pembiayaan,
seperti misalnya program bersama.

4. Tingkat 4 menyangkut koordinasi di antara pihak-pihak yang


melaksanakan riset dan inovasi yang sebenarnya. Koordinasi
pada tingkatan ini cenderung dicapai melalui pengorganisasian
masing-masing ketimbang menggunakan mekanisme-
mekanisme formal.

Gambar 5.2 Struktur Generik Kelembagaan Sistem Inovasi Nasional

Dalam upaya memperkuat kelembagaan sistem inovasi


nasional, pemerintah telah membentuk Komite Inovasi Nasional
(KIN) pada bulan Juni yang lalu melalui Perpres No. 32 Tahun
2010. Diadalam Perpres tersebut ditegaskan bahwa KIN bertugas
untuk :

122
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

a. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi


nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional;

b. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas


program dan rencana aksi, termasuk alokasi pembiayaan
dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang
menghasilkan produk-produk inovatif

c. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap


pelaksanaan kebijakan dan program penguatan sistem
inovasi nasional.

Berdasarkan tugasnya, maka KIN lebih banyak berperan


sebagai institusi yang memberikan pertimbangan dan masukan
kebijakan terhadap presiden terkait penguatan sistem inovasi
nasional.
Dengan demikian, mengacu pada kebutuhan kelembagaan
sistem inovasi nasional yang bersifat multidimensional,
dan membutuhkan kewenangan yang kuat dalam
mengkoordiniasikan kementrian dan lembaga, maka penataan
kelambagaan penguatan sistem inovasi nasional perlu diperkuat
dengan mekanisme koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi antara
para pihak yang berkepentingan dalam menjalankan sistim
inovasi baik di tingkat nasional maupun daerah. Pentingnya
rumusan ini untuk menghindari inefisiensi dan ketidakutuhan
(integrity) dalam menjalankan program-program membangun
sistim inovasi di satu pihak, dan dalam meningkatkan nilai
ekonomi inovasi teknologi nasional di lain pihak.

Gambar 5.3 Konsep Struktur Kelembagaan Sistem Inovasi Nasional di Indonesia

a. Dokumen Strategis
Berkaitan dengan fokus prioritas pertama dalam panatakelolan
sistem inovasi nasional di Indonesia, maka dokumen strategis sangat
penting agar semua pihak yang berkepentingan dapat memahami

123
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

arah, prioritas, serta kerangka kebijakan pemerintah di dalam


pengembangan sistem inovasi. Dokumen strategis ini juga berfungsi
sebagai acuan/pedoman bagi para pemangku kepentingan dalam
melaksanakan perannya dalam pengembangan/penguatan sistem
inovasi nasional. Dengan demikian pengembangan/penguatan
sistem inovasi menjadi agenda bersama para pihak.

Hingga dokumen ini disusun, belum ada dokumen strategis nasional


yang secara khusus dijadikan acuan nasional penguatan sistem
inovasi. Dokumen yang ada saat ini lebih bersifat sektoral terutama
berkaitan dengan sektor/bidang Iptek sebagai salah satu komponen
dalam sistem inovasi. Dokumen dokumen tersebut antara lain :

Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan


Dan Teknologi Tahun 2010-2014 yang dirumuskan oleh
Kemenristek melalui Keputusan Menteri Riset dan Teknologi no
193/M/Kp/IV/2010. Dokumen ini berisi arah, prioritas utama,
dan kerangka kebijakan pembangunan nasional di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks penguatan
sistem inovasi nasional, Bab IV dari dokumen ini menjelaskan
arah kebijakan dan startegi pengembangan Iptek dalam
mendukung penguatan sistem inovasi yang meliputi 5 arahan
kebijakan dan 7 bidang prioritas.

Buku 2 RPJMN 2010-2014 bab 4 terkait Bidang Ilmu Pengetahuan


dan Teknologi (Perpres no 5 tahun 2010). Dalam dokumen
ini, penguatan sistem inovasi nasional ditempatkan sebagai
salah satu dari 2 (dua) program utama bidang Iptek yakni
program penguatan sistem inovasi nasional. Program tersebut
berfokus pada 3(tiga) hal yakni : Penataan Kelembagaan
Iptek, penguatan sumber daya Iptek dan penataan Jaringan
Iptek.
Dengan berlandaskan pada keberadaan dokumen yang sudah ada
saat ini, maka upaya menenerjemahkan dokumen strategis tersebut
dalam kerangka penguatan sistem inovasi nasional secara utuh
dapat dilakukan dengan menyusun dokumen strategis penguatan
sistem inovasi yang lebih komprehensif namun bersifat operasional.
Dalam dokumen strategis yang disusun, kedudukan dokumen-
dokumen yang sudah ada harus jelas sehingga tidak terjadi
pengulangan ataupun duplikasi. Dokumen tersebut diharapkan
mampu menunjukkan bagaimana sistem inovasi bekerja sebagai
satu bisnis sistem yang tidak bersifat parsial.

Dalam dokumen tersebut diharapkan dapat dirumuskan antara lain :


Visi dan Misi Penguatan Sistem Inovasi Nasional, berfungsi
untuk menegaskan visi sebagai gambaran ideal penguatan
sistem niovasi yang hendak diwujudkan dan misi utama yang
dinilai harus dikembangkan berkaitan dengan pewujudan visi
tersebut.

Tujuan dan Sasaran strategis, menetapkan tujuan dan sasaran


strategis, pokok-pokok strategi (grand strategy), portfolio/
tema utama kebijakan strategis

Kebjikan dan Prioritas utama, memuat penjabaran garis besar


dari portfolio/tema utama kebijakan strategis, tujuan dan cara
kebijakan, serta penentuan prioritas utama. Pengembangan

124
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

kebijakan dan program utama selanjutnya diperdalam dala


strategi 2(du) penguatan sistem inovasi nasional.

Rencana Tindak (Program), Memuat penjabaran garis besar


dari rencana tindak dan pola penadbiran terkait dengan
implementasi dari rumusan strategi inovasi daerah beserta
kerangka dan instrumen kebijakannya, serta ukuranukuran
(indikator) keberhasilan

b. Penguatan Infrastruktur khusus

Prasyarat dasar lain yang penting dalam penguatan sistem


inovasi nasional adalah penguatan infrastruktur inovasi,
baik yang bersifat umum maupun khusus. Dalam tataran
makro, terdapat beberapa ranah kebijakan tematik terkait
penguatan infrastruktur inovasi yang menjadi kewenangan
instansi di tingkat pusat antara lain :
Peningkatan perlindungan dan pemanfaatan HKI.

Perpajakan. Mengembangkan sistem pajak secara kreatif


untuk mendorong investasi inovasi .

Pengembangan infrastruktur dasar bagi sistem inovasi, antara


lain adalah pengembangan/penguatan lembaga khusus
terspesialisasi (misalnya lab tertentu) yang penting bagi
pengembangan potensi nasional, infrastruktur informasi dan
komunikasi (termasuk misalnya internet) yang penting bagi
akses dan diseminasi data/informasi, pengetahuan dan
pertukaran/komunikasi komunitas Iptek dengan dunia luar,
serta perkembangan inovasi dan difusi.

Pembiayaan/pendanaan inovasi. Salah satu titik lemah dalam


sistem inovasi secara umum di Indonesia adalah rendahnya
investasi inovasi. Suatu agenda kebijakan yang sebenarnya
bersifat lintas isu dan dalam praktiknya merupakan hal
yang sangat penting dan selalu turut menentukan di
negara manapun. Agenda tersebut adalah menyangkut
pembiayaan inovasi.

Persaingan bisnis yang sehat dan adil. Dalam konteks ini,


peran pemerintah bertujuan memastikan persaingan
bisnis yang sehat dan adil secara konsisten. Termasuk dalam
hal ini misalnya sistem pengadaan pemerintah, perkuatan
kelembagaan pelaku bisnis mikro, kecil, dan menengah,
memfasilitasi tindakan-tindakan kolektif (misalnya litbang
kolektif), dan sejenisnya.

Fokus prioritas pada prakarsa penguatan pilar-pilar tematik ini dapat dilihat
pada gambar 5.4 -5.5.

125
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Gambar 5.4 Fokus Prioritas 1 : Penatakelolaan Sistem Inovasi Nasional

Gambar 5.5 Fokus Prioritas 2 : Penguatan Infrastruktur Khusus

Dalam upaya memberikan arahan pelaksanaan strategi penguatan pilar-pi-


lar sistem inovasi pada tataran makro-nasional, maka perlu dirumuskan pro-
gram-program prioritas sesuai dengan fokus prioritas dari strategi ini. Pada
prinsipnya program prioritas pada strategi penguatan pilar-pilar tematik ini
ditujukan untuk mendukung pelaksanaan 6 (enam) misi penguatan sistem
inovasi nasional yang sekaligus menjadi agenda/kerangka kebijakan pengua-
tan sistem inovasi nasional.

5.2.2. Program Prioritas Penguatan Pilar-Pilar Kebijakan Tematik

Dalam upaya memberikan arahan pelaksanaan strategi penguatan pilar-


pilar sistem inovasi pada tataran makro-nasional, maka perlu dirumuskan
program-program prioritas sesuai dengan fokus prioritas dari strategi ini. Pada

126
prinsipnya program prioritas pada strategi penguatan pilar-pilar tematik ini
ditujukan untuk mendukung pelaksanaan 6 (enam) misi penguatan sistem
inovasi nasional yang sekaligus menjadi agenda/kerangka kebijakan
penguatan sistem inovasi nasional.
Perumusan program prioritas tidak dapat dilepaskan dari mekanisme
program pembangunan nasional yang sudah berjalan saat ini. Oleh karena
itu dalam perumusan program prioritas, identifikasi terhadap program
terkait yang telah tertuang dalam RPJMN 2010-2014, terutama untuk Bidang
Ilmu Pengetahuan dam Teknologi, khususnya Prioritas Bidang Sistem Inovasi
Nasional, program menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Beberapa
rumuasan program yang telah dihasilkan oleh KIN, Kemenristek dan lembaga
terkait juga menjadi dasar yang dipertimbangkan dalam perumusan
program prioritas dari strategi ini.

Gambar 5.6 Dasar Perumusan Program Prioritas

Program prioritas prakarsa strategis penguatan pilar pilar kebijakan tematik


dapat dilihat pada Tabel L.1 di lampiran. Berdasarkan rumusan program
prioritas tersebut, dapat diidentifikasi secara dini bahwa dari keseluruhan
program/kegiatan yang diharapkan dapat mendukung misi penguatan pilar-
pilar kebijakan tematik, maka baru sekitar 47% kegiatan yang berkesesuaian
dengan programprogram Iptek dalam RPJMN 2010-2014, khususnya
untuk prioritas bidang Peningkatan Kemampuan Iptek untuk Sistem Inovasi
Nasional. Dengan demikian, langkah-langkah perbaikan perlu dilakukan
guna mendapatkan hasil yang lebih optimal.

5.3 . PRAKARSA STRATEGIS 2:


PENGEMBANGAN PENGUATAN KLASTER INDUSTRI NASIONAL

Strategi ini merupakan penajaman dari strategi 1 terutama pada upaya


membangun tata kelola penguatan sistem inovasi pada tataran program prioritas/
sektor nasional. Salah satu inisiatif strategis nasional yang dapat dijadikan
wahana keterpaduan kebijakan dan program penguatan sistem inovasi saat ini,
dan telah menjadi kebijakan nasional yakni MP3EI. Strategi ini pada prinsipnya
mencoba mengintegrasikan penguatan kapasitas inovatif nasional sebagai salah
satu strategi utama MP3EI dengan 2 strategi utama lainnya yakni pengembangan
potensi ekonomi di koridor ekonomi nasional dan pengembangan konektivitas
nasional. Melalui strategi ini, maka pengembangan kapasitas inovatif nasional

127
bukan merupakan aktivitas yang berdiri sendiri tetapi merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari strategi utama MP3EI.

5.3.1. Fokus Prioritas

Sejalan dengan rencana pengembangan kegiatan utama MP3EI, maka


fokus pembangunan ekonomi nasioanal diarahkan pada penguatan rantai
komoditas utama. Dalam hal ini penguatan sistem inovasi nasional difokuskan
pada upaya membangun sinergi kebijakan dan program-program terkait
penguatan rantai nilai komoditas utama tersebut. Beberapa fokus prioitas
pada strategi ini antara lain meliputi :

a. Tata Kelola Sistem Inovasi Pada Klaster Industri Nasional

Tantangan utama yang dihadapi oleh industri nasional saat ini adalah
kecenderungan penurunan daya saing industri di pasar internasional.
Penyebabnya antara lain adalah meningkatnya biaya energi, ekonomi
biaya tinggi, penyelundupan serta belum memadainya layanan birokrasi.
Tantangan berikutnya adalah kelemahan struktural sektor industri itu
sendiri, seperti masih lemahnya keterkaitan antar industri, baik antara
industri hulu dan hilir maupun antara industri besar dengan industri
kecil menengah, belum terbangunnya struktur klaster (industrial cluster)
yang saling mendukung, adanya keterbatasan berproduksi barang
setengah jadi dan komponen di dalam negeri, keterbatasan industri
berteknologi tinggi, kesenjangan kemampuan ekonomi antar daerah,
serta ketergantungan ekspor pada beberapa komoditi tertentu. Untuk
itu diperlukan perbaikan lingkungan klaster sehingga dapat memadukan
tantangan di atas sehingga dayasaing industri di Indonesia meningkat.
Klaster di Indonesia umumnya belum berkembang dan dalam kondisi
dormant (90%), namun masih potensial untuk dikembangkan. Beberapa
literatur mengatakan bahwa klaster di Indonesia lebih banyak berupa
sentra-sentra pengembangan komoditas tertentu. Masih dibutuhkan
upaya keras untuk membangun klaster industri nasional sebagai pilar
penguatan sistem industri nasional.
Kementerian Perindustrian telah mengeluarkan kebijakan tentang Peta
Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri dimulai dari
Nomor: 103 sampai dengan 137/M-IND/PER/10/2009 dengan rincian
klaster menurut komoditas. Dalam panduan tersebut, secara garis besar
langkah-langkah pengembangan klaster di Indonesia telah dijelaskan.
Namun demikian bagaimana operasionalisasinya masih membutuhkan
penjabaran lebih lanjut, terutama berkaitan dengan upaya-upaya untuk
mengintegrasikan langkah-langkah yang menjadi tugas dan fungsi institusi
terkait. Melalui penguatan sistem inovasi, maka diharapkan langkah-
langkah penguatan klaster industri nasional selain dapat lebih optimal
sesuai dengan tujuan dan target yang ingin dicapai juga mencerminkan
peningkatan kapasitas inovatif nasional.

128
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Gambar 5.7 Fokus Prioritas :Tatakelola SIN pada Klaster Industri

Dalam kerangka penguatan sistem inovasi nasional, pengembangan


klaster industri merupakan bagian dari sub sistem industri yang merupakan
komponen inti sistem inovasi nasional (Gambar 5.5). Pengembangan
klaster industri dalam kerangka penguatan sistem inovasi lebih merupakan
upaya memperkuat hubungan antara sistem industri dengan sistem
litbang/Iptek dalam rangka meningkatkan kapasitas inovatif kedua belah
pihak. Penguatan hubungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran-
peran subsistem lainnya seperti pasar, infrastruktur khusus, sistem politik,
lembaga intermediasi serta kerangka umum atau iklim pengembangan
yang kondusif.

Seperti halnya pada strategi 1, tatakelola penguatan sistem inovasi pada


pengembangan klaster industri menjadi sangat penting. Khusus untuk
pengembangan klaster industri sebagai prakarsa strategis penguatan
sistem inovasi nasional, maka fokus dan area prioritas penatakelolaan
sistem sudah lebih mengarah pada industri tertentu yang diprioritaskan
secara nasional. Sehingga instansi dan pihak yang terkait lebih jelas
dan spesifik. Aspek penting dalam tata kelola penguatan sistem inovasi
nasional untuk klaster industri sama dengan aspek tatakelola pada
strategi 1 dengan penekanan khusus pada penguatan kelembagaan
dan revitalisasi kebijakan.

b. Penetapan Klaster Industri Prioritas

Aspek penting dalam penguatan dalam klaster industri dalam kerangka


sistem inovasi adalah penetapan klaster industri yang diprioritaskan
implementasinya dalam kerangka waktu jangka menengah. Hal ini sangat
penting untk memberikan landasan bagi pengembangan klaster industri
secara nasional pada jangka panjang.

129
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Dengan berkembangnya lingkungan strategis pembangunan


nasional, maka perlu adanya penajaman-penajaman dalam prioritas
pengembangan klaster industri nasional yang telah disusun sebelumnya
oleh Kementerian Perindustrian. Salah satu perubahan lingkungan strategis
dalam konteks pembangunan nasional yang saat ini telah menjadi
agenda pemerintah hingga tahun 2025 adalah MP3EI. Dalam MP3EI
tersebut salah satu strateginya adalah penguatan rantai nilai komoditas
unggulan pada 6(enam) koridor ekonomi nasional. Terdapat sebanyak
18 komoditas utama yang diprioritaskan pengembangan rantai nilainnya
dan menjadi amanat bagi intansi terkait yang koordinasinnya dikawal
oleh menteri perekonomian.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran MP3EI tersebut, maka penguatan
sistem inovasi nasional diharapkan menjadi salah satu wahana utamanya,
termasuk dalam pemajuan klaster industri nasional. Tentunya tidak semua
komoditas dapat dikembangkan klaster industrinya dalam waktu yang
bersamaan melalui kerangka kerja sistem inovasi. Persoalannya adalah
pada komoditas yang mana penguatan sistem inovasi nasional dapat
diterapkan untuk mendapatkan hasil pengembangan klaster terbaik
dalam jangka menengah. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak
sederhana dan membutuhkan beberapa pertimbangan penting dari
berbagai instansi terkait.

Sebagai gagasan awal, maka dalam dokumen ini, dirumuskan penentuan


program prioritas penguatan klaster industri dalam kerangka penguatan
sistem inovasi berdasarkan beberapa pertimbangan seperti yang terlihat
pada gambar 5.6.

Gambar 5.6 Pertimbangan Dalam Menentukan Kalster Industri Prioritas dalam Kerangka Sistem Inovasi

130
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Dalam gambar 5.6 terlihat 3(tiga) pertimbangan utama yang digunakan


dalam penentuan klaster industri yang perlu diprioritaskan implementasinya
dalam jangka menengah yakni :
Dokumen MP3EI, dokumen ini menjadi salah satu pertimbangan utama
karena telah menjadi kebijakan pemerintah melalui perpres no 32
tahun 2011. Dalam dokumen ini prioritas-pengembangan ekonomi
telah ditetapkan dan diharapkan dapat menjadi acuan bagi instansi
pusat maupun daerah. Terdapat 22 kegiatan utama yang dipriotaskan
pengembangannya pada 6(enam) wilayah koridor ekonomi. Khusus
untuk kegiatan utama berbasis komoditas unggulan pengembangan
dilakukan melalui pendekatan rantai nilai dan klaster industri.

Kebijakan Industri Nasional, kebijakan ini telah ditetapkan sebagai


kebijakan nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008
tentang Kebijakan Industri Nasional. Selanjutnya melalui beberapa
peraturan menteri perindustri diterbitkan sebanyak 35 roadmap
pengembangan klaster industri nasional. Dokumen diharapkan dapat
menjadi acuan bagi para pihak terkait dalam mengembangkan klaster
industri nasional hingga tahun 2025.

Kapasitas litbang pemerintah, kapasitas litbang pemerintah menjadi


sangat penting dalam penguatan klaster indutri nasional melalui
kerangka kerja sistem inovasi. Upaya untuk mengenali kapasitas litbang
didekati dari arahan dan fokus prioritas pembangunan bidang Iptek
yang telah ditetapkan dalam dokumen kebijakan seperti RPJMN 2010-
2014, Jakstranas Iptek 2010-2014 hingga rekomendasi dan konsep-
konsep pemikiran yang telah dihasilkan oleh Komite Inovasi Nasional
ataupun Dewan Riset Nasional.

Persandingan ketiga pertimbangan tersebut secara garis besar dapat


dilihat pada tabel 5.2 berikut:

Tabel 5.2 Pemetaan Kapasitas Litbangyasa dan Program Utama MP3EI

No Kapasitas Litbang Kebijakan MP3EI Klaster Prioritas


Industri
1. RPJMN Bidang Iptek

a. Biologi molekuler, Industri Manu- Tanaman Pangan Kelapa Sawit


bioteknologi, dan faktur Peternakan Karet
kedokteran Perikanan Kakao
Kelapa Sawit Tekstile
Industri agro Kakao
Karet
Tekstile

b. Litbang IPA Industri Tanaman Pangan Kelapa Sawit


Manufaktur Peternakan
Industri agro Perikanan Perikanan
Kelapa Sawit
Kakao
Karet

131
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

No Kapasitas Litbang Kebijakan MP3EI Klaster Prioritas


Industri
c. Energi, Energi Industri Manu- Minyak dan Gas Batubara
Baru dan Terba- faktur Batubara
rukan

d. Material Industri Industri Manu- Karet Kelapa Sawit


dan Material faktur Kelapa Sawit Karet
Maju Industri agro Telematika Telematika
Industri Elektro Peralatan Trans- Peralatan Transtor-
nika dan Tele- portasi tasi
matika
e. Industri, rancang- Industri Telematika Telematika
bangun, dan Manufaktur Peralatan Trans- Peralatan Transpor-
rekayasa Industri agro portasi tasi
Industri Alutsita Alutsita
Elektronika dan
Telematika
Industri alat
angkut
f. Informatika dan Industri Elektron- Telematika Telematika
komunikasi ika dan Telema-
tika

g. Ilmu kebumian Industri agro Tanaman Pangan Kelapa Sawit


dan perubahan Peternakan Karet
iklim Perikanan Kakao
Kelapa Sawit Perikanan
Kakao
Karet
h. Ilmu pengeta- - - -
huan sosial dan
kemasyarakatan
i. Litbang ketena- - Tanaman Pangan Tanaman Pangan
ganukliran dan
pengawasan
j. Litbang pen- Peralatan Trans- Peralatan Transpor-
erbangan dan portasi tasi
antariksa Alutsita Alutsita

Sumber : 1.RPJMN 2010-2014, 2. MP3EI, 3.KIN 4. Hasil Analisis, 2011.

Langkah selanjutnya yang diperlukan adalah bagaimana memulai aksi


pengembangan klaster industri untuk tiap komoditas tersebut dalam
kerangka sistem inovasi. Salah satu mekanisme yang dapat digunakan
adalah menyusun rencana aksi penguatan klaster industri dalam suatu
kerangka kebijakan yang terstruktur dan terpadu.

5.3.2 Program Prioritas

Untuk setiap klaster industri prioritas, maka dibutuhkan program penguatan


sistem inovasi. Namun secara garis besar, program prioritas yang bersifat generik
dapat disusun untuk memberikan arahan pelaksanaan penguatan klaster

132
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

industri dalam kerangka sistem inovasi seperti pada tabel L - 2 dilampirkan

5.4. PRAKARSA STRATEGIS 3:


PENGUATAN SISTEM INOVASI DAERAH
Strategi penguatan sistem inovasi daerah merupakan strategi tingkat meso dalam
upaya penguatan sistem inovasi nasional. Dikatakan demikian karena strategi ini
memiliki 2(dua) substansi pokok yakni pengembangan kapasitas inovatif daerah
(penguatan pilar-pilar sistem inovasi daerah) dan penguatan klaster spesifik daerah
yang merupakan pencerminan integrasi tataran makro dengan tataran industrial
(mikro).
Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SID) merupakan komponen penting dalam
penguatan Sistem Inovasi Nasional yang mewadahi proses integrasi antara
komponen penguatan sistem inovasi pada tataran makro dan industrial dalam
kerangka lokalitas.Dengan demikian strategi penguatan sistem inovasi daerah tidak
dapat dilepaskan dari strategi 1 dan strategi 2. Benang merah dari ketiga strategi
tersebut antara lain terletak pada program prioritas penguatan sistem inovasi
nasional seperti inisiatif startegis MP3EI.

5.4.1. Fokus Prioritas Penguatan Sistem Inovasi Daerah

Secara konseptual, penguatan sistem inovasi daerah memiliki 2(dua)


fokus prioritas, yakni penatakelolaan pilar-pilar sistem inovasi daerah serta
penguatan koherensi kebijakan pada pengembangan klaster industri
spesifik.

a. Penatakelolaan sistem inovasi daerah


Aspek penting dalam penetaankeloalan sistem inovasi daerah
pada prinsipnya sama dengan aspek tatakelola pilar-pilar tematik.
Perbedaannya terletak pada area kebijakan yang menjadi kewenangan
pemerintah daerah seperti kebijakan tata ruang wilayah, kebijakan
pengembangan infrsatruktur lokal, kebijakan pengembangan sistem
perizinan dan kebijakan lain yang secara hukum merupakan tanggung
jawab daerah.

133
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Gambar 5.9 Penatakeloaan Sistem Inovasi daerah

Bebearpa komponen penting dari tata kelola sistem inovasi daerah


antara lain sebagai berikut :
a.1 Kelembagaan Sistem Inovasi Daerah
Penguatan sistem inovasi daerah tidak akan tercapai bila tidak
mendapat dukungan dari seluruh stakeholder yang ada di daerah.
Untuk itu maka kelembagaan sistem inovasi daerah membutuhkan
kepemimpinan daerah yang memiliki otoritas formal untuk
menggerakan sumber daya yang dimiliki daerah. Dengan demikian,
maka peranan kepemimpinan menjadi sangat signifikan dalam
penatakelolaan sistem inovasi daerah.

Pemerintah daerah pada dasarnya diharpkan dapat berperan


dalam mengatasi tantangan kekinian berkaitan dengan struktur
administratif dan instrumen-instrumen kebijakan daerah yang disusun
sebagai respons terhadap persoalan masa lampau. Pemerintah
daerah juga perlu semakin memperhatikan dinamika perubahan/
perkembangan dan berorientasi pada masa depan. Oleh karane
itu dibutuhkan upaya-upaya antisipatif yang terstruktur dalam
menumbuhkembangkan sistem inovasi yang semakin mampu
beradaptasi dengan perkembangan.
Kejelasan dan ketegasan kepemimpinan di daerah yang visioner
sebagai keputusan politik ini penting terutama menyangkut
pemahaman dan komitmen/kesungguhan serta konsistensi bahwa
kesejahteraan rakyat yang semakin tinggi dan adil hanya dapat
diwujudkan melalui agenda peningkatan daya saing, terutama
dengan penguatan sistem inovasi. Kepemimpinan juga akan sangat

134
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

berkaitan dengan penetapan, pemaknaan dan implikasi visi yang


jelas berkaitan dengan pengembangan/penguatan sistem inovasi
daerah

Lembaga dan kelembagaan kolaborasi bagi pengembangan


penguatan sistem inovasi daerah merupakan hal penting untuk
dikembangkan/diperkuat di daerah. Lembaga/organisasi untuk
pengembangan inovasi/daya saing daerah umumnya belum
terbentuk, walaupun unsur-unsurnya sudah ada. Lembaga dan
kelembagaan ini sebaiknya merepresentasikan pemangku
kepentingan seluas mungkin, namun sekaligus juga perlu seramping
mungkin, serta memang merupakan suatu pola kolaborasi multipihak
untuk pengembangan sistem inovasi (peningkatan daya saing
daerah). Duplikasi lembaga yang tak perlu sebaiknya dihindari/
diminimalisasi.
Mengacu pada pengembangan kelembagaan pada tataran
makro-pusat, maka pengembangan kelembagaan sistem inovadi
daerah juga dapat menerapkan konsep dan pola yang sama.
Konsep usulan pengembangan kelembagaan sistem inovasi daerah
dapat dilihat pada Gambar 5.10.

Peningkatan daya saing umumnya dan pengembangan/penguatan


sistem inovasi daerah perlu menjadi agenda strategis daerah
dan menjadi suatu kesatuan agenda, tetapi bukanlah sekedar
agenda satu instansi semata. Agenda tersebut harus dilakukan
pada keseluruhan kelembagaan di daerah (bukan kerangka satu
lembaga saja), dan potensi kolaborasi sinergis dengan pihak lain
(misalnya lembaga nasional, perguruan tinggi, daerah lain, pihak
internasional) sesuai potensi terbaik daerah. Untuk maksud tersebut,
cakupan bidang kebijakan juga sebaiknya berfokus pada pemajuan
pengetahuan/teknologi, inovasi dan daya saing daerah bukan
sekedar bidang Iptek. Sementara itu, cakupan bidang isu sebaiknya
berfokus pada tantangan di depan untuk pemajuan daerah, bukan
sekedar persoalan yang dihadapi di masa lalu.

135
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Gambar 5.10 Konsep Kelembagaan Sistem Inovasi Daerah

a.2 Dokumen Strategis Penguatan Sistem Inovasi Daerah

Berkaitan dengan fokus prioritas pertama dalam panatakelolan


sistem inovasi daerah, maka dokumen strategis penguatan
sistem inovasi daerah sangat penting agar semua pihak yang
berkepentingan dapat memahami arah, prioritas, serta kerangka
kebijakan pemerintah daerah di dalam pengembangan sistem
inovasi. Dokumen strategis ini juga berfungsi sebagai acuan/pedoman
bagi para pemangku kepentingan dalam melaksanakan perannya
dalam pengembangan/ penguatan sistem inovasi daerah. Dengan
demikian pengembangan/penguatan sistem inovasi menjadi
agenda bersama para pihak.
Hal yang paling penting dari suatu dokemen strategis penguatan
sistem inovasi daerah adalah aspek legalitasnya. Tanpa dukungan
aspek legal, maka dokumen tersebut tidak dapat difungsikan secara
optimal sebagai acuan penguatan sistem inovasi daerah. Untuk itu
proses penyusunan dokumen strategis daerah seharusnya menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyusunan dokumen
kebijakan pembangunan daerah lainnnya seperti RPJPD, RPJMD,
dan RTRW.

136
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Gambar 5.11 Konsep Kedudukan dan alterntif Dokumen Strategis Penguatan sistem Inovasi Daerah

Dokumen strategi inovasi daerah harus menjadi dokumen hidup (living


document) yang senantiasa ditinjau dan diperbaiki. Pembangunan itu
sendiri merupakan proses dinamis. Karena itu, paradigma strategi dan
kebijakan pengembangan sistem inovasi sebaiknya lebih berfokus pada
upaya mengembangkan sistem inovasi yang semakin mampu beradaptasi
dengan perkembangan dan mengantisipasi kemungkinan perubahan.

b. Penguatan Koherensi Kebijakan dalam Pengembangan Klaster Industri


untuk Peningkatan daya saing daerah

Fokus prioritas penguatan sistem inovasi daerah adalah membangun


koherensi kebijakan dalam pengembangan klaster industri di daerah.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, strategi penguatan sistem
inovasi daerah tidak dapat dilepaskan dari strategi lainnya, dan area
keterkaitan ke tiga startegi tersebut secara oprasional tercermin dalam
pengembangan klaster industri di daerah. Untuk itu maka dalam tahap
awal pengembangan klaster industri didaerah perlu dipertimbangkan
sebagai berikut :

Potensi unggulan daerah, penggalian, pengembangan dan


pemanfaatan potensi terbaik daerah menjadi sangat penting,
mengingat setiap daerah (terutama pemerintah) selalu dihadapkan
kepada keterbatasan sumber daya untuk mendorong pemajuan
potensi setempatnya. Penetapan prioritas dalam strategi inovasi
daerah, di antaranya berkaitan dengan penetapan bidang/sektor
prioritas. Daerah perlu mengembangkan upaya-upaya dalam rangka
menggali, mengembangkan dan memanfaatkan potensi terbaik bagi
sistem inovasi daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan
peluang yang paling sesuai bagi daerah. Pengembangan sistem inovasi
daerah membutuhkan kerja lebih keras dan cerdas semua pihak, bukan
sekedar perhatian pada sumber daya yang nyata saat ini atau

137
hanya teknologi tinggi atau sekedar puas dengan memanfaatkan
melimpah dan murahnya sumber daya alam atau tenaga kerja
berketerampilan rendah. Strategi inovasi daerah diperlukan untuk
membangun/memperkuat perbaikan signifikan bagi masyarakat di
daerah dan citra daerah.

Prioritas Klaster Industri Nasional, dengan adanya kebijakan percepatan


dan perluasan ekonomi indonesia, maka terdapat beberapa koridor
pembangunan ekonomi nasional yang ditetapkan beserta potensi
komoditas ungggulannya. Strategi 2 dalam dokemen ini menetapkan
sedikitnya ada 9 (sembilan) komoditas utama yang dapat dijadikan
prioritas jangka menengah pengembangan klaster industri nasional
dalam kerangka sistem inovasi. Untuk memaksimalkan dampak positif
secara nasional maupun daerah, maka diperlukan sinergitas tindakan
pada tingkat pusat maupuan daerah. Dalam kaitannya dengan
penguatan sisitem inovasi daerah maka prioritas kkalster industri
nasional dapat menjadi tema kolaboratif yang menjadi prakarsa
strategis penguatan sistem inovasi daerah.

Mekanisme Kolabarasi, mekanisme kolaborasi menjadi penting untuk


mensinergikan langkah, tindakan dan kebijakan para pemangku
kepentingan terkait penguatan sistem inovasi daerah pada klaster
industri tersebut (tema kolaboratif). Melalui dokumen ini, mekanisme
kolaboratif tersebut dituangkan dalam kerangka kebijakan penguatan
sistem inovasi daerah.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka tahap awal penguatan klaster


spesifik dalam kerangka sistem inovasi daerah adalah menentukan klaster
industri prioritas yang akan menjadi tema kolaboratif. Garis besar proses
penentuan tema kolaboratif tersebut dapat dilihat pada gambar 5.10.

Gambar 5.12 Konsep Penentuan tema Kolaboratif SID

Dengan menitikberatkan program penguatan sistem inovasi daerah


pada tema kolaborasi pusat-daerah sesuai klaster industri nasional yang

138
diprioritaskan pengembangannya melalui sistem inovasi, maka daerah-
daerah prioritas pengembangan prakarsa strategis diarahkan pada pusat-
pusat pertumbuhan Koridor ekonomi nasional yang telah ditetapkan dalam
MP3EI, beserta kegiatan utamanya.

5.4.2. Program Prioritas Penguatan Sistem Inovasi Daerah

Dengan mengacu pada fokus prioritas seperti diuraikan di atas, dikembangkan


program prioritas untuk menjalankan misi penguatan sistem inovasi. Secara
garis besar lingkup program prioritas dapat dilihat pada tabel L.3.

5.5 PRAKARSA STRATEGIS 4:


PENGEMBANGAN JARINGAN INOVASI

Prakarsa strategi penguatan jaringan inovasi daerah merupakan strategi perekat


bagi penguatan sistem inovasi pada tataran makro-nasional, sektoral maupun
daerah. Strategi 4 ini merupakan ruh/inti terbentuknya sistem inovasi nasional yang
berkelanjutan. Aktivitas utama dalam penguatan jaringan inovasi dapat dilihat
pada Gambar 5.13.

Gambar 5.13 Lingkup utama penguatan jaringan inovasi

5.5.1 Fokus Prioritas Pengembangan Jaringan Inovasi

Beberapa fokus prioritas dalam penguatan jaringan inovasi antara lain :

a. Penatakelolaan Jaringan

139
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

Seperti telah dijelaskan sebelumnya jaringan inovasi adalah Interaksi


antar aktor/pelaku/komponen dalam proses pengembangan inovasi
melalui berbagai media atau infrastruktur tertentu. Dalam kerangka Sistem
Inovasi Nasional jaringan inovasi merupakan interaksi antara perguruan
tinggi, industri, dan pemerintah (Interaksi Tripel Helix), atau interaksi aktor-
aktor yang tergabung dalam Sistem Politik, Sistem Lembaga Litbang dan
Perguruan Tinggi, serta Sistem Industri, yang didukung oleh insfrastruktur.
Mengingat jaringan inovasi berkaitan erat dengan berbagai aktor,
maka penatakelolaan jaringan menjadi sangat penting. Aspek penting
dalam penatakelolaan jaringan inovasi adalah kelembagaan, standar
dan pedoman, serta mekanisme pengelolaan interaksi antar aktor.

b. Penguatan Manjemen Pengetahuan Pada Jaringan Inovasi

Manajemen Pengetahuan dalam Jaringan Inovasi adalah upaya


terstruktur dalam mengelola pengetahuan dari berbagai sumber
untuk meningkatkan kapasitas inovatif aktor-aktor yang terlibat dalam
jaringan inovasi. Hakikat dari Manajemen Pengetahuan atau Knowledge
Management adalah pendekatan terencana dan sistematis yang
menjamin penggunaan penuh pengetahuan organisasi, ditambah
keahlian, kompetensi, pemikiran, inovasi, dan ide individual potensial
untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien dan efektif.
Inti dari knowledge management ada tiga, yaitu sumber daya manusia,
teknologi, budaya pembelajaran/ berbagi pengetahuan.

.
Gambar 5.13 Manajemen Pengetahuan dalam jaringan Inovasi

Dalam jangka menengah, pengembangan jaringan inovasi nasional difokuskan


pada penguatan jaringan pada klaster industri nasional. Dengan demikian prakarsa

140
BAB V.
FOKUS DAN PROGRAM PRIORITAS
PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL 2011-2014

strategis penguatan jaringan inovasi melalui kegiatan manajeman pengetahuan


akan berfokus pada upaya meningkatkan aliran pengetahuan pada industri/pelaku
klaster industri spesifik daerah.

Gambar 5.14 Manajemen Pengetahuan dalam Penguatan Klaster Industri

c. Penguatan infrastruktur jaringan inovasi

Penguatan infrastruktur jaringan inovasi dimaksudkan untuk mendukung


peningkatan kemampuan teknologi informasi yang mendukung interaksi
dan aliran pengetahuan antar aktor dalam kerangka jaringan inovasi.
Memasuki millenium baru ini dunia bisnis dituntut untuk selalu adaptif dan
reaktif sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi arus globalisasi yang
sangat deras dan tak terbendung. Dunia bisnis saat ini mutlak untuk memiliki
kapabilitas terhadap penguasaan teknologi, terutama teknologi informasi
(TI), misalnya teknologi jaringan informasi (networking) yang baik, handal
dan update yang menyajikan seluruh aspek kegiatan bisnis berupa data
dan informasi bisnis yang sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan
dan implementasi strategi bisnis.
Status dan kemampuan teknologi secara sederhan didefinisikan sebagai
tingkat pemanfaat teknologi dalam mendukung kebutuhan tertentu atau
spesifik. Salah satu aplikasi teknologi jaringan yang saat ini berkembang
adalah e-development. Lingkup penguatan infrastruktur jaringan inovasi
dalam jangka menengah ini antara lain membangun e-development secara
utuh pada wilayah-wilayah pengembangan klaster-klaster industri nasional.

141
Gambar 5.15 Kerangka Umum Penguatan Jaringan Inovasi
Salah satu infrsatruktur khusus jaringan inovasi adalah pengembangan
Taman Iptek (Science and Technology Park) sebagi entitas yang diharapkan
dapat berkembangan sebagi center of excellent (pusat- pusat unggulan
Iptek). S & T Park juga ditujukan untuk melahirkan IKM/UKM berbasis inovasi
dalam berbagai bidang strategis yang mampu mengoptimalkan interaksi
dan pemanfaatan sumber daya universitas, lembaga litbang, dan dunia
usaha sehingga dapat menghasilkan produk inovatif.

Sejalan dengan MP3EI, pengembangan Technopark/STP sebagai prakarsa


strategis penguatan sistem inovasi nasional telah diamanatkan dalam rangka
mendukung pembangunan koridor ekonomi nasional. Pengembangan
center of excellent pada 6 (enam) koridor ekonomi sebagai salah satu
komponen Technopark/STP dan revitalisasi puspitek serpong menjadi salah
satu intrumen kebijakan yang akan dijalankan. Dengan demikian, diharapkan
akan muncul simpul-simpul pusat inovasi pada skala wilayah/daerah yang
dibangun dalam kerangka penguatan sistem inovasi daerah (SIDa).
Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah belum terbangunnya tata
kelola (governance) terkait pengembangan teknopolitan di Indonesia.
Prakarsa-prakarsa pengembangan teknopark seperti Solo Technopark,
Sragen Tehnopark, Bandung Technopark, ATP, Jababeka technoprak dan
klaten technopark, masih bersifat parsial dan berjalan sendiri-sendiri, sehingga
dampak yang dirasakan masih sangat terbatas. Untuk itu dibutuhkan suatu
upaya membangun tatakelola technopolitan secara terintegrasi, sehingga
mampu berperan sebagai salah satu komponen pokok penguatan sistem
inovasi pada berbagai dimensi dan tingkatan pembangunan.

5.5.2 Program Prioritas Pengembanagn Jaringan Inovasi

Seperti strategi penguatan sistem inovasi nasional lainnya, maka program


prioritas penguatan jaringan inovasi juga menggunakan misi dan kerangka
kebijakan penguatan sistem inovasi sebagai araea prorgram prioritasnya.
Khusus untuk penguatan jaringan inovasi, maka program prioritas yang
dikembangkan lebih ditajamkan pada upaya memperkuat misi ke 2:
Membangun kapasitas inovatif lembanga litbang dan industri, misi ke 3
membangun keterkaitan Iptek dengan industri dan misi ke 5 membangun
kohenrensi kebijakan dan keterpaduan program.Secara garis besar lingkup
program prioritas dapat dilihat pada tabel L.3 pada Lampiran.

142
5.6. PRAKARSA STRATEGIS 5:
PENGEMBANGAN TEKNOPRENER

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Technopreneurship atau kewirausahaan


teknologi merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan
teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan
inovasi yang tepat bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk
pengembangan ekonomi(Amir Smabodo, 2006). Technopreneur dapat dikatakan
sebagai Entrepreneur plus, karena bukan hanya terbatas pada kemampuan
berdagang namun Technopreneur juga berinovasi dan mengembangkan
teknologi untuk menjawab kebutuhan yang ada di dalam masyarakat. Terbatasnya
wirausaha yang berkarakter technopreneurship karena lemahnya penguasaan
inovasi teknologi, karena masih ketergantungan impor teknologi dari luar negeri
masih cukup tinggi.
Strategi penguatan teknoprener merupakan penajaman khusus dari strategi
penguatan sistem inovasi yang mengarah pada sumber daya inovasi yang utama
yakni sumber daya manusia dan budaya inovasinya. Dalam hal ini terdapat
beberapa fokus prioritas antara lain reformasi kebijakan, penguatan infarstruktur
dan penguatan budaya inovasi.

5.6.1. Fokus Prioritas Pengembanagn Jaringan Inovasi


Beberapa fokus prioritas dari startegi penguatan teknoprener antara lain:
a. Penguatan Iklim/Kerangka umum yang kondusif

Hingga saat ini kebijakan khusus yang mampu meningkatkan budaya


inovasi pada masyarakat, masih sangat terbatas. Beberapa komponen
iklim penguatan budaya inovasi seperti kurikulum khusus pendidikan
teknoprener, pembiayaan khusus bagi pengusaha pemula inovatif dan
infrastruktur khusus lainnya masih sangat sulit didapatkan. Oleh karena itu
dibutuhkan strategi khusus untuk percepatan pengembangan iklim dan
kerangka umum yang kondusif bagi penguatan budaya inovatif guna
meningkatkan teknoprener di Indonesia.
b. Penguatan Infrastruktur Khusus Teknoprener

Upaya menghasilkan pengusahan baru yang inovatif minimal melibatkan


3 (aktivitas) utama, dimulai dari penangangan input, penanganan proses
pembentukan (inkubator), dan penanganan pasca proses pembentukan.
Ketiga aktivitas tersebut membutuhkan infrastruktur dengan kapasitas
yang memadai. Pada penanganan input, peranan sarana pendidikan
menjadi sangat penting, sementara pada tahapan proses pembentukan,
peranan lembaga intermediasi seperti PIUMKM (Pusat Inovasi UMKM) dan
inkubator teknobisnis sangat dibutuhkan, dan pada fase ketiga berupa
penanganan pasca proses pembentukan, maka skema pembiayaan
beresiko menjadi sangat penting.

143
Gambar 5.16 Lingkup Aktivitas Pengembangan Teknoprener

c. Penguatan Budaya Inovasi

Penguatan Budaya Inovasi untuk menumbuhkan kreativitas dan semangat


kewirausahaan melalui pendidikan kewirausahaan sedini mungkin dan
peningkatan kompetensi para pengajar, perlu diprioritas krena menjadi faktor
penentu utama keberhasilan pengembangan teknoperener. Hingga saat ini
masih sangat terbatas dan bersifat lokal-parsial keberadaan perguruan tinggi
yang mengembangkan kurikulum khusus bagi pengembangan teknoprener.
Untuk itu percepatan reformasi kebijakan pendidikan yang lebih mendukung
teknoprener perlu diperioirtaskan dalam jangka pendek.

5.6.2. Program Prioritas Penguatan Teknoperener

Program prioritas penguatan teknoprener juga memiliki arae pada misi dan
kerangka kebijakan penguatan sistem inovasi. Penajaman khusus dilakukan
pada misi ke 2: Membangun kapasitas inovatif lembaga litbang dan industri/
UMKM serta misi ke 4: membangun budaya inovasi.

144
BAB VI.
PENUTUP
Perlu ditekankan kembali bahwa strategi penguatan sistem inovasi nasional dapat
dirumuskan, diperbaiki dan terlebih penting lagi diimplementasikan secara kongkrit hanya
jika didukung oleh kelembagaan yang tepat. Kejelasan dan ketegasan kebijakan yang
visioner sebagai keputusan politik penting terutama menyangkut pemahaman dan
komitmen/kesungguhan serta konsistensi bahwa kesejahteraan rakyat yang semakin tinggi
dan adil hanya dapat diwujudkan melalui agenda peningkatan daya saing, terutama
dengan penguatan sistem inovasi. Kelembagaan juga akan sangat berkaitan dengan
penetapan, pemaknaan dan implikasi visi yang jelas berkaitan dengan penguatan sistem
inovasi nasional.

Peningkatan daya saing umumnya dan penguatan sistem inovasi nasional perlu menjadi
agenda strategis dan menjadi suatu kesatuan agenda, tetapi bukanlah sekedar agenda
satu instansi semata. Agenda tersebut harus dilakukan pada keseluruhan kelembagaan ,
dan potensi kolaborasi sinergis dengan pihak lain (misalnya lembaga nasional, daerah, per-
guruan tinggi, daerah lain, pihak internasional) sesuai potensi terbaik daerah. Untuk maksud
tersebut, cakupan bidang kebijakan sebaiknya berfokus pada pemajuan pengetahuan/
teknologi, inovasi dan daya saing bukan sekedar bidang Iptek.

Sementara itu, cakupan penguatan sistem inovasi nasional sebaiknya berfokus pada tan-
tangan di depan untuk pemajuan bangsa, bukan sekedar persoalan yang dihadapi di
masa lalu. Dengan situasi/kondisi daerah umumnya di Indonesia yang masih berada pada
tahapan yang sangat awal dalam perkembangan sistem inovasi, maka sebaiknya prioritas
diletakkan pada upaya menbangun landasan yang kuat bagi penguatan sistem inovasi
nasional. Buku putih ini diharapkan mampu memberikan arah kebijakan dan prakarsa strat-
egis yang jelas bagi semua pihak yang ingin memajukan sistem inovasi di Indonesia.
.

145
146