Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

CLOSED FRAKTUR INTERTRHOCANTER


FEMUR DEXTRA

Disusun oleh:
NEIL AMSTRONG KERI AYOMI, S.Ked
007 084 0043

Pembimbing:
dr. Only One Taylor, Sp.OT

SMF BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH
RUMAH SAKIT UMUM JAYAPURA
2013
0|Page
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Fraktur
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Kebanyakan fraktur terjadi karena
kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan untuk membengkok, memutar dan
tarikan.
Fraktur dapat terjadi pada semua umur dan jenis kelamin. Fraktur adalah masalah
yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat, pada arus mudik dan arus
balik hari raya idulfitri tahun ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang sangat banyak
yang sebagian korbannya mengalami fraktur. Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga
yang banyak menyebabkan fraktur. Sering kali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat
mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia contohnya ada seorang yang
mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya informasi untuk menanganinya Ia pergi ke dukun
pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir.

B. Klasifikasi Fraktur
Klasifikasi Etiologis : Fraktur Traumatik (trauma yang terjadi mendadak)
: Fraktur Patologis (kelemahan tulang akibat kelainan patologis dalam
tulang)
: Fraktur Stress (trauma yang terjadi terus menerus pada suatu tempat)

Klasifikasi Klinis :
- Fraktur Tertutup
Fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar
- Fraktur Terbuka
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan
jaringan lunak
- Fraktur dengan Komplikasi
Fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union,
nonunion dan infeksi tulang.

Non union, dibagi menjadi:


Hypervascular (Hypertrofi)
Callus dibentuk berlebihan, pasokan darah meningkat sampai ke ujung tulang
Atrofi

1|Page
Ujung fragment menjadi atropi
Pasokan darah sedikit sampai ke ujung fragment.
secara khas dilihat pada fraktur tibia.
Oligotrophic (Hypotrophic):
Callus tidak terbentuk
Secara khas terjadi setelah jarak fraktur yg besar.

Klasifikasi Radiologis :
- Berdasarkan Lokalisasi
1. Diafisis
2. Metafisis
3. Intra-Artikuler
4. Fraktur dengan dislokasi
- Berdasarkan Posisi Fraktur : 1/3 Proksimal
: 1/3 Medial
: 1/3 Distal
- Berdasarkan Konfigurasi
1. Fraktur Transversal
2. Fraktur Oblique
3. Fraktur Spiral
4. Fraktur Pecah (Brust)

2|Page
- Berdasarkan jumlah garis patah :
1. Fraktur Komunitif yaitu fraktur dimana terdapat garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan
2. Fraktur Segmental yaitu fraktur dimana garis patah lebih dari satu namun tidak
saling berhubungan
3. Fraktur Multiple yaitu fraktur dimana terdapat garis patah lebih dari satu
namun tidak pada tulang yang sama
- Berdasarkan hubungan antara fragmen dengan fragmen yang lain :
1. Undisplaced (tidak bergeser)
2. Displaced (bergeser) dengan enam (6) cara yaitu Berkesampingan, Angulasi,
Rotasi, Over-riding dan Impaksi

C. Etiologi Fraktur
Penyebab terjadinya fraktur dapat disebabkan oleh adanya kekersan yang terjadi secara
langsung, tidak langsung ataupun akibat tarikan otot
- Kekerasan Langsung, dapat menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Biasanya bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau
miring
- Kekerasan Tidak Langsung, dapat menyebabkan patah tulang pada tempat yang
jauh dari tempat terjadinya kekerasan.
- Kekerasan Akibat Tarikan Otot, biasanya jarang terjadi. Kekuatannya dapat
berupa pemuntiran, penekukan, penekanan atau kombinasi dari ketiganya

D. Diagnosis Fraktur
Anamnesis
Pasien dengan trauma ringan maupun berat diikuti dengan ketidakmampuan
untuk menggunakan anggota gerak. Pasien biasanya datang karena adanya rasa nyeri,
pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, dan kelainan gerak. Pada
pemeriksaan awal perlu diperhatikan tanda-tanda syok, anemia atau adanya perdarahan.
Perhatikan ada tidaknya kerusakan pada organ-organ lain2

Inspeksi (LOOK)

3|Page
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Keadaan umum pasien secara keseluruhan
- Ekspresi wajah karena nyeri
- Lidah kering atau basah
- Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
- Ada tidaknya luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur
tertutup atau terbuka
- Perhatikan adanya deformitas (angulasi, rotasi, shortening)
- Perhatikan seluruh bagian tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain
- Perhatikan keadaan vaskularisasi

Palpasi (FEEL)
Dilakukan secara hati-hati karena penderita mengeluh sangat nyeri.
Yang perlu diperhatikan adalah :
- Nyeri Tekan
- Krepitasi
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal (palpasi arteri radialis, arteri dorsalis
pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena),
temperature kulit dan warna kulit pada bagian distal daerah trauma.

Pergerakan (MOVE)
Pergerakan dengan mengajak pasien untuk menggerakkan secara aktif dan pasif
sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan
fraktur setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan harus
dilakukan dengan hati-hati. ROM (Range of joint Movement) merupakan istilah untuk
menyatakan batas/ besarnya gerakan sendi dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya
kelainan atau menyatakan besarnya gerakan sendi yang abnormal. ROM pergerakan aktif dan
ROM pergerakan pasif.

E. Anatomi Tulang
Tulang berasal dari embryonic hyaline cartilage yang mengalami osteogenesis
menjadi tulang yang dilakukan oleh osteoblast. Proses mengerasnya tulang adalah akibat
penimbunan garam kalsium. Tulang adalah jaringan terstruktur dan memiliki fungsi utama
yaitu :
- Membentuk rangka tubuh
- Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
- Untuk melindungi dan mempertahankan organ dalam tubuh
- Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam

4|Page
- Sebagai jaringan hemopoetik umtuk memproduksi sel-sel darah merah, sel darah
putih dan trombosit.

Sel-sel tulang terdiri atas Osteoblast, Osteosit dan Osteoclast. Osteoblast berperan
penting dalam osteogenesis atau osifikasi dengan memproduksi substansi organic intraseluler
atau matriks tulang yang tersusun atas 35% Substansi Organic, 45% Substansi Inorganic dan
20% Air. Substansi organic terdiri atas sel tulang serta substansi organic intraseluler atau
matriks kolagen (90%) sedangkan substansi inorganic terdiri atas kalsium, fosfor,
magnesium, sodium, hidroksil dan karbonat. Terdapat enzim tulang yaitu Alkali Fosfatase
yang diproduksi oleh osteoblast yang berperan dalam produksi organic matriks sebelum
terjadinya kalsifikasi2. Sedangkan Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam
pemeliharaan fungsi tulang dab terletak dalam Osteon (unit matriks tulang). Osteoklast
adalah sel multinuclear (berinti banyak) yang berfungsi untuk penghancuran, resorbsi dan
remodeling tulang
Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut Korteks
dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan pada bagian luar dilapisi
oleh periosteum.
Tulang secara garis besar terbagi atas tiga bentuk yaitu :
1. Tulang Panjang
Contohnya femur, tibia, fibula, humerus dan ulna.
2. Tulang Pendek
Contohnya tulang vertebra dan tulang karpal
3. Tulang Pipih
Contohnya tulang iga, tulang scapula dan tulang pelvis
Struktur Skeleton terdiri dari dua bagian yaitu Pars Ossea (bagian tulang keras)
dan Pars Cartilaginosa (bagian tulang rawan). Pars Ossea berdasarkan bentuk dan ukurannya
dikalasifikasikan atas Os longum, Os Breve dan Os plannum
Os Longum (Tulang panjang) yang mempunyai tiga bagian yaitu Diaphysis
(batang), Epiphysis (ujung), dan Metaphysis (ujung diphysis yang mengandung zona
pertumbuhan) Tulang panjang mempunyai struktur yaitu :
- Periosteum, merupakan jaringan pengikat yang melapisi tulang dari luar
- Endosteum, merupakan jaringan pengikat yang melapisi tulang dari dalam
- Substansia Compacta (padat)
- Substansia spongiosa (berongga)

5|Page
- Cavitas Medularis, merupakan rongga dalam tulang yang berisi sum-sum tulang

6|Page
F. Anatomi Regio Femur

7|Page
G. Fraktur Collum Femur.
Klasifikasi Fraktur Collum Femur Berdasarkan Lokasi Anatomis
Berdasarkan lokasi anatomis dari garis fracturenya, fracture collum femur diklasifikasikan
menjadi dua bagian besar, yaitu fracture intracapsular dan fracture extracapsular.
Gambar berikut menunjukkan gambaran klasifikasi fracture femur bagian proksimal tersebut.

Fracture collum femur meliputi fracture intra capsular yang terdiri dari fracture subcapital,
transcervical, dan basilar (basiservikal), sedangkan fracture extra capsular terdiri dari fracture
intertrochanteric dan subtrochanteric.

Fraktur Intertrochanter
Pada fracture ini, garis fracture melintang dari trochanter mayor ke trochanter minor. Tidak
seperti fractureintracapsular, salah satu tipe fractureextracapsular ini dapat menyatu dengan
lebih baik. Resiko untuk terjadinya komplikasi non-union dan nekrosis avaskular sangat kecil
jika dibandingkan dengan resiko pada fractureintracapsular.
Fracture dapat terjadi akibat trauma langsung pada trochanter mayor atau akibat
trauma tidak langsung yang menyebabkan twisting pada daerah tersebut.
Berdasarkan klasifikasi Kyle (1994), fracture intertrochanteric dapat dibagi menjadi 4 tipe
menurut kestabilan fragmen-fragmen tulangnya. Fracture dikatakan tidak stabil jika:

8|Page
1. Hubungan antarfragmen tulang kurang baik.
2. Terjadi force yang berlangsung terus menerus yang menyebabkan displaced tulang
menjadi semakin parah.
3. Fracture disertai atau disebabkan oleh adanya osteoporosis.

H. Penyembuhan Fraktur

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KORTIKAL


Terdapat lima tahapan penyembuhan fraktur sebagai berikut:
1. Pembentukan Hematom
- Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah
yang mengalami robekan pada daerah fraktur
- Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot)
- Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam
- Terdapat osteosit yang mati sehingga menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler
tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur
2. Proliferasi Sel
9|Page
- Sel-sel berpoliferasi dari lapisan dalam periosteum sekitar lokasi fraktur sebagai
reaksi penyembuhan
- Sel-sel osteogenik berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus
- Sel-sel ini aktif tumbuh kearah fragmen tulang
3. Pembentukan Kalus (fase union secara klinis)
- Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus)
- Kallus memberikan rigiditas pada fraktur
- Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu
- Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi
4. Konsolidasi (fase union secara radiologis)
- Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu
- Secara bertahap menjadi tulang mature
- Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan
5. Remodeling
- Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur
- Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast
- Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada tanda
penebalan tulang.

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KANSELOSA


Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa dapat terjadi secara cepat karena
beberapa factor yaitu adanya vaskularisasi yang cukup, terdapat permukaan yang lebih luas,
dan hematoma yang berperan dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan terjadi pada
daerah dimana terjadi kontak langsung antara kedua permukaan fraktur. Proses osteogenik
penyembuhan sel dari bagian endosteal yang menutupi trabekula berproliferasi untuk
membentuk woven bone primer di dalam daerah fraktur yang disertai hematoma.

10 | P a g e
BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas
Nama : Ny. R.M
Umur : 39 tahun
Alamat : Skow Mabo
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMA
Tg. MRS : 07 Juli 2013
Tgl. Pemeriksaan : 10 Juli 2013

B. Anamnesa
1. Keluhan Utama :
Kaki kanan nyeri saat digerakan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien post KLL 1 hari SMRS. Pasien tiba di IGD RS Jayapura
tanggal 07 Agustus 2012. Pasien datang dengan keluhan kaki kanan nyeri saat
digerakan akibat terjatuh dari motor saat menabrak tiang listrik di depannya
sehingga pasien jatuh ke jalan dan kaki kanannya terbentur keras pada jalan dalam
kondisi mengantuk dan tanpa pengaruh alkohol. Pasien terjatuh lalu tertidur
namun tidak mengalami pingsan, kejang atau mual muntah. Pasien lalu dibawa ke
Puskesmas Koya Barat sebelum dirujuk ke RSU Jayapura.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tahun 2007 pernah mengalami sakit patah tulang tangan kiri
akibat terjatuh saat memukul bola voli dan menggunakan tangan kiri untuk
menahan badan namun tangan terputar ke belakang. Pasien tidak segera ke
Puskesmas atau RS terdekat untuk mendapat tindakan medis namun pergi ke
dukun untuk mengurut tangan.
4. Riwayat Trauma dan Operasi
Pasien pernah mengalami trauma patah tulang tangan tetapi tidak pernah operasi

C. Pemeriksaan Fisik (Tanggal 10 Juli 2013)


1. KeadaanUmum : Tampak Kesakitan
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Tanda Vital :
Tekanan darah = 120/70 mmHg, Nadi = 80x/m, Respirasi = 20x/m, Suhu =
37,5 0C
4. Kepala :
Mata : - Conjungtiva anemis (-/-)
- Sklera ikhterik (-/-)
- Visus (Normal)
11 | P a g e
- Sekret (-)
Hidung : - Deformitas (-)
- Sekret (-), Darah (-)
- Pembauan (tidak dilakukan pemeriksaan)
Telinga : - Deformitas (-)
- Sekret (-), Darah (-)
- Pendengaran (Normal)
Mulut : Oral Thrush (-)
5. Leher :
Pembesaran KGB leher (-)
6. Thorax :
Paru
I : simetris, retraksi (-), tipe pernapasan abdominal
P : Nyeri tekan (-), vocal fremitus kanan kiri (Normal)
P : Sonor
A : SN vesikuler, Rho (-/-), Wheezing (-/-)
Jantung
I : Ictus cordis tidak terlihat
P : Thrill (-)
P : Pekak
A : BJ I/II regular murni, Gallop (-)
7. Abdomen :
I : Datar
P : Nyeri tekan (-), Hepatomegali tidak teraba, splenomegali tidak teraba
P : Timpani, Nyeri ketuk (-)
A : Bising usus (+) normal
8. Ekstremitas : Akral Hangat, Edema (+) pada Regio femur dextra.
9. Genitalia : (tidak dievaluasi)

STATUS LOKALIS
Regio Femur Dextra: Perdarahan (-), Edema(+), jejas (-) terpasang skin traksi, Nyeri tekan
(+),Vascularisasi a.dorsalis pedis (+), Pergerakkan (+) terbatas karena nyeri. Shortening (+)
Panjang kaki kiri 91cm, kanan 86 cm; LLD selisih 6 cm.

PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI


1. Inspeksi (LOOK) : Edema (+) pada paha kanan, Perdarahan (-), jejas (-),
keloid (+), terpasang skin traksi.
2. Palpasi (FEEL) : Nyeri tekan (+),vascularisasi a.dorsalis pedis (+), regular,
kuat angkat, frekuensi 80 x/m, sensibilitas daerah sekitar trauma baik,
3. Pergerakkan (MOVE)
Gerak aktif : Pergerakkan terbatas, nyeri saat digerakan.
12 | P a g e
Gerak pasif : Nyeri saat digerakkan.
ROM : 300, Pergerakkan terbatas karena nyeri

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Lengkap
Tanggal 08/07/2013
PEMERIKSAAN HASIL
WBC 11.520/mm3
HGB 2.8 g/dl
HCT 11,0 %
MCV 52.6 fL
MCH 13.4 pg
MCHC 25.5 g/dl
PLT 61.000/mm3

Laju Endap Darah I 24 mm/jam


Laju Endap Darah II 60 mm/jam
BT 230
CT 90

Post Transfusi PRC 1 bag

PEMERIKSAAN HASIL
WBC 11.600/mm3
HGB 3.5 g/dl
PLT 280.000/mm3

13 | P a g e
Pemeriksaan Radiologis
Tanggal 9 Juli 2013

14 | P a g e
E. RESUME

Seorang perempuan, umur 39 tahun datang dengan keluhan kaki kanan tidak
dapat digerakan akibat terjatuh dari motor saat menabrak tiang listrik di depannya
sehingga pasien jatuh ke jalan dan kaki kanannya terbentur keras pada jalan. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan edema, nyeri tekan dan pergerakkan terbatas pada kaki
kanan. Hasil pemeriksaan laboratorium, Hb: 2,8 g/dl, leukosit: 11.520/mm 3,
trombosit: 61.000/mm3, CT: 900, BT: 230. Hasil pemeriksaan radiologis :
Aligment dari proksimal ke arah distal pada sisi trochanter tampak terputus
membentuk angulasi.

F. Diagnosis Klinis
Closed fraktur intertrochanter femur dextra

G. PLANNING
Diagnosis
Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis :
- Pemeriksaan darah lengkap
- Foto Rontgen Regio Pelvic, Regio Femur (proyeksi Anteroposterior)

Terapi
- IVFD RL/8 jam
- Sefaporason sulbactam 2x1 gr (IV)
- Trhometamin ketorolac 3x30mg (IV)
- skin traksi.
- Pro debridement + ORIF

Monitoring
Tanda-tanda vital, Keadaan Umum

H. Prognosis
Ad Vitam : Ad Bonam
Ad Fungsionam : Dubia ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad Bonam
PEMBAHASAN

Pada pasien ini ditegakkan diagnosis Closed fraktur intertrochanter femur dextra
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (radiologi).

15 | P a g e
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama pasien yaitu kaki kanan tidak dapat
digerakan akibat terjatuh dari motor saat menabrak tiang listrik di depannya sehingga pasien
jatuh ke jalan dan kaki kanannya terbentur keras pada jalan dalam keadaan mengantuk dan
tidak dalam pengaruh alkohol. Dari anamnesis dapat dicurigai bahwa telah terjadi trauma
yang menyebabkan kerusakan jaringan tubuh, dan hilangnya kontinuitas tulang, dimana
sesuai dengan definisi fraktur dan terjadi fraktur yaitu fraktur yang tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar akibat trauma.
Pada kasus trauma, prinsip pemeriksaan dan penanganan secara umum yaitu
melakukan survey awal dan survey lanjutan, menentukan prioritas penanggulangan,
melakukan resusitasi dan pengobatan definitif dalam 1-2 jam pertama setelah trauma,
mengidentifikasi cedera vertebraservikal dan lainnya serta mengetahui adanya fraktur dan
melakukan imobilisasi sementara. Pemeriksaan pada pasien ini dilakukan tiga hari setelah
masuk RS. Survey awal (primary survey) di dapatkan Airway : Obstruksi (-), Darah (-),
Deviasi trachea (-), pasien dapat berbicara. Airway bebas. Breathing : Gerakan dada simetris ,
ikut gerak napas, tipe pernapasan abdominal torakal, perkusi sonor, RR = 20x/menit.
Circulation : Kulit Anemis (-), akral hangat, sianosis perifer (-), TD = 120/70 mmHg, Nadi =
80x/menit, CRT < 2. Disability : GCS 15 (E4V5M6). Exposure : Suhu axilla 37,5 C, terdapat
pembengkakan di kaki kanan.
Setelah pemeriksaan dan penanganan awal selesai, maka penanganan selanjutnya
dilakukan (secondary survey), evaluasi lengkap dan pemeriksaan lanjutan (ventilasi dan
hemodinamika penderita stabil). Pada pasien ini didapatkan dalam pemeriksaan secara
keseluruhan adanya edema di Regio Femur Dextra. Pada palpasi didapatkan adanya nyeri
tekan, range of movement didapatkan pergerakan aktif pasif terbatas karena nyeri. Sehingga
sesuai dengan pemeriksaan fisik lengkap pada secondary survey diatas, fraktur yang terjadi
yaitu fraktur tertutup. Dikatakan fraktur tutup apabila terdapat fraktur yang tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar.
Pada pasien ini, pemeriksaan radiologis yang digunakan yaitu rontgen foto pelvic
proyeksi anteroposterior dan rontgen foto femur dextra proyeksi anteroposterior. Pada
pemeriksaan penunjang radiologis ini bertujuan untuk menentukan keadaan, lokasi serta
ekstensi fraktur.
Dari pemeriksaan foto rontgen pelvic, didapatkan :

16 | P a g e
1) Foto rontgen femur atas nama Ny. Rachel Mallo, 39 tahun, foto dibuat pada tanggal
08 Juli 2013 dengan proyeksi anteroposterior. Aligment dari proksimal ke arah
distal pada sisi trochanter tampak terputus membentuk angulasi.
2) Foto Rontgen Pelvic atas nama Ny. Rachel Mallo, umur 39 tahun, foto dibuat pada
tanggal 08 Juli 2013 dengan proyeksi anteroposterior. Aligment dari femur
sproksimal ke arah distal pada sisi trochanter tampak terputus membentuk angulasi.
Tulang-tulang lainnya tidak tampak adanya kelainan.
Diagnosis fraktur dengan tanda-tanda klasik dapat ditegakkan secara klinis, namun
pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk konfirmasi dalam melengkapi deskripsi
fraktur, rencana terapi dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Sedangkan untuk fraktur-fraktur
yang tidak memberikan gejala klasik dalam menentukan diagnosis harus dibantu pemeriksaan
radiologis sebagai gold standard.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah sesuai dengan diagnosis klinis yaitu closed
fracture intertrochanter dextra adalah pemberian cairan IVFD RL/8 jam, Pemberian
Antibiotik spectrum luas, Pemberian Analgetik golongan NSAID 30 mg Intravena, dan
monitoring tanda-tanda vital serta keadaan umum tiap hari.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa mengikuti prinsip pengobatan fraktur secara
umum, yaitu : penatalaksanaan awal yang dilakukan sebelum pengobatan definitif, maka
diperlukan : pertolongan pertama, yaitu membersihkan jalan napas, menutup luka dengan
perban yang bersih, dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak yang terkena dengan
memasang skin traksi berfungsi untuk immobilisasi.

17 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

1. Evans Paul J., McGrory PA-C Brian J,MD. Fractures of the Proximal Femur. Clinical

Review Article. http://turner-white.com/pdf/hp_apr02_femur.pdf. Didownload pada

tgl.12 Juli 2013


2. Fraktur Tulang. http://www.id.wikipedia.org/wiki/fraktur_tulang

3. Kuliah Anatomi Umum. Tim Anatomi FK Universitas Negeri

Yogyakarta.http//:www.staff.uny.ac.id/sites/.../ANATOMI%20UMUM

%20(INTRODUCTION).pdf

4. Rizzo, Donald C. Ph.D.,2001. Delmars Fundamentals of Anatomy and Physiology.

United Stated of America

5. Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong, Wim (Editor). 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi

2. Jakarta: EGC.

6. Supardi Sabroto. Ortopedi. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta. Penerbit : Bagian

Ilmu Bedah Universitas Indonesia.

7. Rasjad Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. 2007, Jakarta. Penerbit : Yarsif

Watampone

18 | P a g e