Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi menghilangkan


nyeri dan rumatan pasien sebelum, selama, dan sesudah pembedahan. Definisi anestesiologi
berkembang terus sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran. 1 Istilah anestesi
dimunculkan pertama kali oleh dokter Oliver Wendell Holmes (1809-1894) berkebangsaan
Amerika, diturunkan dari dua kata Yunani : An berarti tidak, dan Aesthesis berarti rasa atau
sensasi nyeri. Secara harfiah anestesi berarti ketiadaan rasa atau sensasi nyeri. Dalam arti
yang lebih luas, anestesi berarti suatu keadaan hilangnya rasa terhadap suatu rangsangan.
Pemberian anestesi dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri baik disertai
atau tanpa disertai hilangnya kesadaran. Seringkali anestesi dibutuhkan pada tindakan yang
berkaitan dengan pembedahan.

Secara garis besar anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum dan
anestesi regional. Anestesi umum adalah keadaan tidak sadar tanpa nyeri yang reversible
akibat pemberian obat-obatan, serta menghilangkan rasa sakit seluruh tubuh secara sentral .
Perbedaan dengan anestesi regional adalah anestesi pada sebagian tubuh, keadaan bebas nyeri
tanpa kehilangan kesadaran.

Anestesi regional terbagi atas anestesi spinal (anestesi blok subaraknoid), anestesi
epidural dan blok perifer. Anestesi spinal dan anestesi epidural telah digunakan secara luas di
bidang ortopedi, obstetri dan ginekologi, operasi anggota tubuh bagian bawah dan operasi
abdomen bagian bawah.

Anestesi spinal (intratekal, intradural, subdural, subarakhnoid) ialah anestesi


regional dengan tindakan penyuntikan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarakhnoid.
Larutan anestesi lokal yang disuntikan pada ruang subarachnoid akan memblok konduksi
impuls syaraf. Terdapat tiga bagian syarat yaitu motor, sensori dan autonom. Motor
menyampaikan pesan ke otot untuk berkontraksi dan ketika di blok, otot akan mengalami
paralisis. Syaraf sensori akan menghantarkan sensasi seperti rabaan dan nyeri ke sumsum
tulang dan ke otak, sedangkan syaraf atonom akan mengontrol tekanan darah, nadi, kontraksi
usus dan fungsi lainnya yang diluar kesadaran. Pada umumnya, serabut otonom dan nyeri
yang pertama kali diblok dan serabut motor yang terakhir.

1
Kelebihan pemakaian anestesi spinal, diantaranya biaya minimal, kepuasan pasien,
tidak ada efek pada pernafasan, jalan nafas pasien terjaga, dapat dilakukan pada pasien
diabetes mellitus, perdarahan minimal, aliran darah splancnic meningkat, terdapat tonus
visceral, jarang terjadi gangguan koagulasi. Sedangkan kekurangan pemakaian anestesi spinal
akan menimbulkan hipotensi, hanya dapat digunakan pada operasi dengan durasi tidak lebih
dari dua jam, bila tidak aseptik akan menimbulkan infeksi dalam ruang subarachnoid dan
meningitis, serta kemungkinan terjadi postural headache.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Anestesi


Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an - "tidak, tanpa"
dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan
pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.5
Reaminasi (re= kembali, animasi= gerak) maka ilmu anesetesi dan
reaminasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksanan untuk me
matikan rasa, baik rasa nyeri, takut dan rasa tidak nyaman yang lain sehingga
pasien nyaman dan ilmu yang mempelajari tatalksanan untuk
menjaga/mempertahankan hidup dan kehidupan pasien selama mengalami kematian
akibat obat anestesia.5

2.2. Jenis Anestesi


2.2.1. Anestesia Umum
Suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang diikuti oleh hilangnya
rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat anestesia.5,6,7,8
a. Anestesia umum intravena
Merupakan salah satu teknik anestesia umum yang dilakukan dengan jalan
menyuntikan obat anestesia parenteral langsung ke dalam pembuluh darah
vena.
b. Anestesia umum inhalasi
Merupakan salah satu teknik anestesia umum yang dilakukan dengan jalan
memberikan kombinasi obat anestesia inhalasi yang berupa gas dan atau
cairan yang mudah menguap melalui alat/mesin anestesia langsung ke
udara inspirasi. Teknik anestesia umum inhalasi antara lain inhalasi
sungkup muka, inhalasi sungkup laring, inhalasi pipa endotrakea (PET)
nafas spontan, inhalasi pipa endotrakea (PET) nafas kendali
c. Anestesia imbang
Merupakan teknik anestesia dengan mempergunakan kombinasi obat-
obatan baik obat anestesia intravena maupun obat anestesia inhalasi atau

3
kombinasi teknik anestesia umum dengan analgesia regional untuk
mencapai trias anestesia secara optimal dan berimbang.

2.2.2. Anestesia Lokal


Analgesia atau anestesia lokal adalah anestesia yang dilakukan dengan cara
menyuntikan obat anestesia lokal pada daerah atau sekitar lokasi pembedahan
yang menyababkan hambatan konduksi implus aferen yang bersifat temporer.
Jenis-jenis anestesia lokal antara lain analgesia topical, analgesia inflitrasi
lokal, blok lapangan.5,6,7,8

2.2.3. Anestesia Regional


Analgesia atau anastesia regional adalah tindakan analgesia yang dilakukan
dengan cara menyuntikan obat anestetika lokal pada lokasi serat saraf yang
menginervasi region tertentu, yang menyebabkan hambatan konduksi implus
aferen yang bersifat temporer. Jenis-jenis analgesia regional antara lain blok
saraf, blok fleksus brakhialis, blok spinal sub arachnoid, blok spinal epidural,
blok regional intravena.5,6,7,8

2.3. Obat Anestesia


Obat-obat anestetika adalah obat-obat yang mempunyai khasiat: sedasi atau hypnosis,
analgesia, dan/atau relaksasi. Obat-obat anestetika dapat digolongkan menjadi: 5,6,7,8
- Golongan obat premedikasi
- Golongan obat anestesia intravena
- Golongan obat anestesia inhalasi
- Golongan obat analgesia lokal
- Golongan obat pelumpuh otot

2.3.1. Golongan obat premedikasi


Premedikasi adalah tidakan awal anestesia dengan memberikan obat-obat
pendahuluan yang terdiri dari obat-obat golongan antikolinergik, sedatif, dan
analgetik. Tujuan dari premedikasi adalah mennimbulkan rasa nyaman bagi
pasien, mengurangi sekresi kelenjar dan menekan refleks vagus,
mempermudahkan/memperlancar induksi, mengurangi dosis obat anestesia,
mengurangi rasa sakit dan kegelisahan pasca bedah. 5,6,7,8
Obat-obat yang sering digunakan adalah obat antikolinergik (sulfas atropin,
skopolamin), obat sedatif (derivat fenothiazin, derivat benzodiazepin, derivat
butirofenon, derivat barbiturat, antihistamin), obat analgetik narkotik. 5,6,7,8

2.3.2. Golongan obat anestesia intravena


4
Obat anestesia intravena adalah obat anestesia yang diberikan melalui jalur
intravena, baik obat yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh
otot. Setelah masuk kedalam pembuluh darah vena, obat-obat ini akan
diedarkan ke seluruh jaringan tubuh melalui sirkulasi umum, selanjutnya akan
menuju ke target organ masing-masing dan akhirnya diekskresikan, sesuai
dengan farmakokinetiknya masing-masing. Berdasarkan batasan tersebut di
atas, maka semua obat-obat yang diberikan selama induksi dan pemeliharaan
yang mempunyai khasiat hipnotik, analgesia dan pelumpuh otot, termasuk di
dalamnya. 5,6,7,8
Obat-obat anestesia intravena yang sampai saat ini ada adalah : 5,6,7,8
- Thiopentone
- Diazepam
- Dehidrobenzperidol
- Fentanil
- Ketamin klorida
- Midazolam
- Propofol
Obat-obat tersebut di atas dapat digunakan untuk premedikasi, induksi
anestesia, pemeliharaan, obat tambahan pada tindakan analgesia regional,
anestesia tunggal. 5,6,7,8

2.3.3. Golongan obat anestesia inhalasi


Obat-obat anestesia inhalasi adalah obat-obat anestesia yang berupa gas atau
cairan mudah menguap, yang diberikan melalui pernafasan pasien. Campuran
gas atau uap obat anestesia dan oksigen masuk mengikuti aliran udara
inspirasi, mengisi seluruh rongga paru, selanjutnya mengalami difusi dari
alveoli ke kapiler pare sesuai dengan sifat masing-masing gas. Konsentrasi
minimal fraksi gas atau uap obat anestesia di dalam alveoli yang sudah
menimbulkan efek analgesia pada pasien, dipakai sebagai satuan potensi dari
obat anestesia inhalasi disebut dengan MAC (Minimal Alveolar
Consentration). 5,6,7,8
Berdasarkan kemasannya, obat anestesia umum inhalasi ada 2 macam yaitu:
obat anestesia umum inhalasi yang berupa cairan yang mudah menguap, yaitu:
derivat halogen hidrokarbon (halotan, trikholroetilin, khloroform), derivat eter
(dietil eter, metoksifluran, enfluran, isofluran). Dan obat anestesia umum yang
berupa gas, yaitu: nitrous oksida dan siklopropan.

5
2.4. Anestesi Umum
2.4.1. Definisi
Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri sentral disertai hilangnya
kesadaran yang bersifat reversibel. Dengan anestesi umum akan diperoleh trias
anestesia, yaitu: 5,6,7,8
- Hipnotik (tidur)
- Analgesia (bebas dari nyeri)
- Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot)
Hanya eter yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini
menggunakan obat-obat selain eter, maka anestesi diperoleh dengan
menggabungkan berbagai macam obat. 5,6,7,8

2.4.2. Metode Anestesi Umum


- Parenteral
Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun
intramuskular bisaanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk
induksi anestesia. 5,6,7,8
- Perektal
Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia
maupun tindakan singkat. 5,6,7,8
- Perinhalasi
Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap
(volatile agent) dan diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika
tersebut tergantunug dari tekanan parsialnya; zat anestetika disebut kuat
apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah mampu memberikan
anestesia yang adekuat. 5,6,7,8

2.4.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Anestesi Umum5,6,7,8


- Faktor Respirasi
Hal-hal yang mempengaruhi tekanan parsial zat anestetika dalam alveolus
adalah:
Konsentrasi zat anestetika yang diinhalasi; semakin tinggi konsentrasi,
semakin cepat kenaikan tekanan parsial. Ventilasi alveolus; semakin tinggi
ventilasi, semakin cepat kenaikan tekanan parsial.
- Faktor Sirkulasi

6
Saat induksi, konsentrasi zat anestetika dalam darah arterial lebih besar
daripada darah vena. Faktor yang mempengaruhinya adalah:
Perubahan tekanan parsial zat anestetika yang jenuh dalam alveolus dan
darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestetika diserap jaringan dan
sebagian kembali melalui vena.
Koefisien partisi darah/gas yaitu rasio konsentrasi zat anestetika dalam
darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan
seimbang.
Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung.
- Faktor Jaringan
Perbedaan tekanan parsial obat anestetika antara darah arteri dan jaringan.
Koefisien partisi jaringan/darah
Aliran darah dalam masing-masing 4 kelompok jaringan (jaringan kaya
pembuluh darah/JKPD, kelompok intermediate, lemak, dan jaringan
sedikit pembuluh darah/JSPD)
- Faktor Zat Anestetika
Potensi dari berbagai macam obat anestetika ditentukan oleh MAC
(Minimal Alveolus Concentration), yaitu konsentrasi terendah zat
anestetika dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya
tanggapan (respon) terhadap rangsang rasa sakit. Semakin rendah nilai
MAC, semakin poten zat anestetika tersebut.
- Faktor Lain
Ventilasi, semakin besar ventilasi, semakin cepat pendalaman anestesi.
Curah jantung, semakin tinggi curah jantung, semakin lambat induksi dan
pendalaman anestesia.
Suhu, semakin turun suhu, semakin larut zat anestesia sehingga
pendalaman anestesia semakin cepat.

2.4.4. Keuntungan Anestesi Umum5,6,7,8


- Mengurangi kesadaran pasien intraoperatif
- Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama
- Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan
sirkulasi
- Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi local
- Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga
7
- Dapat diberikan dengan cepat.
- Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang.

2.4.5. Kekurangan Anestesi Umum5,6,7,8


- Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien.
- Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah,
sakit tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan memerlukan masa untuk
fungsi mental yang normal.
- Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua)
agen anestesi umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi
mematikan, hiperkarbia, asidosis metabolik, dan hiperkalemia.

2.4.6. Indikasi Anestesi Umum5,6,7,8


- Infant dan anak usia muda
- Dewasa yang memilih anestesi umum
- Pembedahan luas
- Penderita sakit mental
- Pembedahan lama
- Pembedahan dimana anestesi local tidak praktis atau tidak memuaskan
- Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi local
- Penderita dengan pengobatan antikoagulan

2.5. Prosedur Anestesi Umum


2.5.1. Persiapan Pra Anestesi Umum
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan baik elektif
maupun darurat harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesi
dan pembedahan sangat dipengaruhi oleh persiapan pra anestesi. Kunjungan
pra anestesi pada bedah elektif umumnya dilakukan 1-2 hari sebelumnya,
sedangkan pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat. 5,6,7,8
Tujuan kunjungan pra anestesi: 5,6,7,8
- Mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal dengan melakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lain.
- Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai
keadaan fisik dan kehendak pasien. Dengan demikian, komplikasi yang
mungkin terjadi dapat ditekan seminimal mungkin.

8
- Menentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik, dalam
hal ini dipakai klasifikasi ASA (American Society of Anesthesiology)
sebagai gambaran prognosis pasien secara umum.

a. Persiapan Pasien5,6,7,8
- Anamnesis
Anamnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri (autoanamnesis) atau
melalui keluarga pasien (alloanamnesis). Dengan cara ini kita dapat
mengadakan pendekatan psikologis serta berkenalan dengan pasien.
Yang harus diperhatikan pada anamnesis:
- Identifikasi pasien, missal: nama, umur, alamat, pekerjaan, dll.
- Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin
dapat menjadi penyulit dalam anestesi, antara lain: penyakit alergi,
diabetes mellitus, penyakit paru-paru kronik (asma bronchial,
pneumonia, bronchitis), penyakit jantung dan hipertensi (infark
miokard, angina pectoris, dekompensasi kordis), penyakit hati, dan
penyakit ginjal.
- Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin
menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestetik. Misalnya
kortikosteroid, obat antihipertensi, obat-obat antidiabetik,
antibiotika golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti
digitalis, diuretika, obat anti alergi, tranquilizer, monoamino
oxidase inhibitor, bronkodilator.
- Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami diwaktu yang
lalu, berapa kali, dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami
komplikasi saat itu seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif
pasca bedah.
- Kebisaaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi
jalannya anestesi seperti: merokok dan alkohol.

- Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan keadaan gigi-geligi,
tindakan buka mulut, lidah relative besar sangat penting untuk
diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi.
Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang keadaan umum tentu

9
tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
semua sistem organ tubuh pasien.

- Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan
yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada
pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil
(Hb, lekosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis.
Pada usia pasien di atas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan
foto toraks. Praktek-praktek semacam ini harus dikaji ulang mengingat
biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat minimal uji-uji semacam
ini.
Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
laboratorium, selanjutnya dibuat rencana mengenai obat dan teknik
anestesi yang akan digunakan. Misalnya pada diabetes mellitus,
induksi tidak menggunakan ketamin yang dapat menimbulkan
hiperglikemia. Pada penyakit paru kronik, mungkin operasi lebih baik
dilakukan dengan teknik analgesia regional daripada anestesi umum
mengingat kemungkinan komplikasi paru pasca bedah. Dengan
perencanaan anestesi yang tepat, kemungkinan terjadinya komplikasi
sewaktu pembedahan dan pasca bedah dapat dihindari.

- Kebugaran Untuk Anestesi


Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk
menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi
cito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.

- Masukan Oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan
risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani anestesia. Untuk
meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk
operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral
(puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesia. Pada pasien
10
dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan pada bayi 3-4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi
anestesia. Minuman bening, air putih, the manis sampai 3 jam dan
untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1
jam sebelum induksi anestesia.

- Klasifikasi Status Fisik


Berdasarkan status fisik pasien pra anestesi, ASA (The American
Society of Anesthesiologists) membuat klasifikasi yang membagi
pasien kedalam 5 kelompok atau kategori sebagai berikut:
ASA I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga
aktivitas rutin terbatas.
ASA IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat
melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan
ancaman kehidupannya setiap saat.
ASA V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat (cito) dengan


mencantumkan tanda darurat (E=emergency), misalnya ASA I E atau
III E.

- Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari
anestesia diantaranya :
* Meredakan kecemasan dan ketakutan
* Memperlancar induksi anestesia
* Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
* Meminimalkan jumlah obat anestetik
* Mengurangi mual muntah pasca bedah
* Menciptakan amnesia
* Mengurangi isi cairan lambung
* Mengurangi refleks yang membahayakan

11
Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seorang dihadapkan pada situasi
yang tidak pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat
membangun kepercayaan dan menenteramkan pasien. Obat pereda
kecemasan bisa digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam
sebelum induksi anestesia. Jika disertai nyeri karena penyakitnya, dapat
diberikan opioid misalnya petidin 50 mg intramuskular. 5,6,7,8
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis
asam. Untuk meminimalkan kejadian diatas dapat diberikan antagonis
reseptor H2 histamin misalnya oral simetidin 600 mg atau oral ranitidin
150 mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi. 5,6,7,8

b. Persiapan Peralatan Anestesi5,6,7,8


- Mesin Anestesi
Fungsi mesin anestesi (mesin gas) ialah menyalurkan gas atau
campuran gas anestetik yang aman ke rangkaian sirkuit anestetik yang
kemudian dihisap oleh pasien dan membuang sisa campuran gas dari
pasien. Rangkaian mesin anestesi sangat banyak ragamnya, mulai dari
yang sangat sederhana sampai yang diatur oleh computer. Mesin yang
aman dan ideal ialah mesin yang memenuhi persyaratan berikut:
- Dapat menyalurkan gas anestetik dengan dosis tepat
- Ruang rugi (dead space) minimal
- Mengeluarkan CO2 dengan efisien
- Bertekanan rendah
- Kelembaban terjaga dengan baik
- Penggunaannya sangat mudah dan aman

Komponen dasar mesin anestetik terdiri dari: 5,6,7,8


- Sumber O2, N2O, dan udara tekan.
Dapat tersedia secara individual menjadi satu kesatuan mesin
anestetik atau dari sentral melalui pipa-pipa. Rumah sakit besar
bisaanya menyediakan O2, N2O, dan udara tekan secara sentral
untuk disalurkan ke kamar bedah sentral, kamar bedah rawat jalan,
ruang obstetric, dll.

- Alat pantau tekanan gas (pressure gauge)

12
Berfungsi untuk mengetahui tekanan gas pasok. Kalau tekanan gas
O2 berkurang, maka akan ada bunyi tanda bahaya (alarm)
- Katup penurun tekanan gas (pressure reducing valve)
Berfungsi untuk menurunkan tekanan gas pasok yang masih tinggi,
sesuai karakteristik mesin anestesi.
- Meter aliran gas (flowmeter)
Untuk mengatur aliran gas setiap menitnya.
- Satu atau lebih penguap cairan anestetik (vaporizers)
Dapat tersedia satu, dua, tiga, sampai empat.
- Lubang keluar campuran gas (common gas outlet)
- Kendali O2 darurat (oxygen flush control)
Berfungsi untuk keadaan darurat yang dapat mengalirkan O2 murni
sampai 35-37 liter/menit tanpa melalui meter aliran gas.

Tabung gas beserta alat tambahannya dan penguap diberi warna khusus
untuk menghindari kecelakaan yang mungkin timbul. Kode warna
internasional yang telah disepakati ialah:

Oksigen N2O Udara CO2 Halotan Enfluran Isofluran Desfluran Sevofluran


Putih Biru Putih- Abu-abu Merah Jingga Ungu Biru Kuning
hitam
kuning

- Sirkuit anestesi
Sirkuit anestesi atau sistem penghantar gas atau sistem anestesi ialah
alat yang bukan saja menghantarkan gas atau uap anestetik dan oksigen
dari mesin ke jalan napas atas pasien, tetapi juga harus sanggup
membuang CO2 dengan mendorongnya dengan aliran gas segar atau
dengan menghisapnya dengan kapur soda.
Sirkuit anestesi umumnya terdiri dari:
- Sungkup muka, sungkup laring, atau pipa trakea
- Katup ekspirasi dengan per atau pegas (expiratory loaded spring
valve, pop-off valve, APL, adjustable pressure limiting valve)
- Pipa ombak, pipa cadang (corrugated tube, reservoir tube)
Bahan karet hitam (karbon) atau plastic transparent anti static, anti
tertekuk
- Kantong cadang (reservoir bag)
- Tempat masuk campuran gas anestetik dan O2 (fresh gas inlet).

13
Untuk mencegah terjadinya barotraumas akibat naiknya tekanan
gas yang mendadak tinggi, katup membatasi tekanan sampai 50 cm
H2O.

- Sungkup Muka
Pemakaian sungkup muka berguna untuk menyalurkan oksigen atau
gas anestesi ke pasien. Terdapat beberapa jenis sungkup. Dengan
sungkup trasparan berguna untuk obervasi kelembapan udara yang
diekshalasi dan mengetahui jika pasien muntah. Sungkup karet hitam
dapat digunakan untuk mengadaptasi struktur muka yang tidak bisaa.
Ventilasi efektif memerlukan baik sungkup yang kedap udara dan jalan
nafas yang baik. Teknik sungkup muka yang salah dapat berakibat
deflasi yang berkelanjutan pada reservoir bag saat katup tekanan
ditutup, bisaanya mengindikasikan adanya kebocoran di sekitar
sungkup. Sebaliknya pembentukan tekanan pernapasan yang tinggi
dengan gerakan dada minimal dan suara pernafasan menandakan
obstruksi jalan nafas. 5,6,7,8
Sungkup dipegang melawan muka dengan tekanan ke bawah pada
badan sungkup dilakukan dengan jempol kiri dan jari telunjuk. Jari
tengah dan manis memegang mandibula untuk membantu ekstensi
sendi atlantooksipital. Jari kelingking diletakkan di bawah sudut
rahang dan digunakan untuk menahan dagu ke depan, maneuver paling
penting untuk ventilasi pasien. 5,6,7,8

- Endotracheal tube (ETT)


ETT dapat digunakan untuk memberikan gas anestesi secara langsung
ke trakea dan memberikan ventilasi dan oksigenasi terkontrol. Bentuk
dan kekerasan ETT dapat diubah dengan stilet. Resistensi terhadap
aliran udara tergantung pada diameter tabung, tetapi juga dipengaruhi
oleh panjang tabung dan kurvatura. Ukuran ETT yang digunakan pada
wanita dewasa diameter internal 7-7.5 mm dengan panjang 24 cm.
pada pria dewasa diameter internal 7.5-9 mm dengan panjang 24 cm.
5,6,7,8

14
- Sungkup laring (Laringeal mask airway = LMA)
LMA digunakan untuk menggantikan sungkup muka atau ETT saat
pemberian anestesi, untuk membantu ventilasi dan jalur untuk ETT
pada pasien dengan jalan nafas sulit dan membantu ventilasi saat
bronkoskopi. Pemakaian LMA memerlukan anestesi lebih kuat
dibandingkan dengan insersi jalan nafas oral. Kontraindikasi LMA
pada pasien dengan patologi faring seperti abses, obstruksi faring,
perut penuh seperti hamil atau komplians paru rensah seperti penyaki
jalan nafas restriktif.

2.5.2. Teknik Anestesia5,6,7,8


- Teknik anestesia nafas spontan dengan sungkup muka
Indikasi:
- Untuk tindakan yang singkat (30-60 menit) tanpa membuka rongga
perut
- Keadaan umum pasien cukup baik (ASA 1 atau 2)
- Lambung harus kosong
Obat yang biasa dipersiapkan lebih dahulu. Tiopental 2.5% (dosis 4-
6mg/kgBB). Selalu diperhatikan agar tidak menyuntik diluar vena. Kalau
ada segera hentikan penyuntikan dan mencari vena lain. Tingkat
kedalaman anestesia dinilai dari refleks bulu mata. Tiopental disuntik
sampai refleks ini hilang. Cadangan tiopental harus selalu disediakan
untuk ditambahkan kalau ternyata dosis awal tidak mencukupi.

- Teknik anestesi spontan dengan pipa endotrakea


Pipa endotrakea dapat dimasukan melalui oro atau nasotrakea. Rata-rata
yang digunakan no. 7.5 untuk pipa orotrakea dan no. 7 unutk pipa
nasotrakea. Untuk anak ukuran ini rata-rata sebesar jari kelingking.
Indikasi:
Operasi lama, kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada anestesia
dengan sungkup muka. Persiapan obat: selain tiopental harus disediakan
obat pelemas otot jangka pendek: suksinil-kolin 2% dan pelemas otot
jangka panjang: pavulon 4mg/ampul atau alkuronium (alloferin) 10
mg/ampul.

15
- Teknik anestesi dengan pipa endotrakea dan nafas kendali
Nafas dikendalikan secara manual atau dengan respirator. Bila
menggunakan respirator setiap inspirasi (volume tidal) diusahakan
10ml/kgBB dengan frekuensi 10/14 per menit. Apabila nafas dikendalikan
secara manual harus diperhatikan pergerakan dada kanan kiri yang
simetris.

- Ekstubasi
Mengangkat keluar pipa endotrakea harus mulus dan tidak disertai batuk
dan kejang otot yang dapat menyebabkan gangguan nafas, hipoksia
sianosis. Ekstubasi dapat dilakukan dengan menunggu pasien sampai sadar
betul atau menunggu sewaktu pasien masih dalam keadaan anestesi yang
agak dalam. Dengan cara terakhir dihindarkan reaksi spasme kejang otot
perut, dada dan jalan nafas.

2.6. Fraktur Galeazzi


2.6.1 Pengertian Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo Galeazzi
(1935), yaitu fraktur distal radius disertai dislokasi atau subluksasi sendi
radioulnar distal. Terjadinya fraktur ini biasanya akibat trauma langsung sisi
lateral ketika jatuh.9,10,11
Gambaran klinisnya bergantung pada derajat dislokassi fragmen
fraktur. Bila ringan, nyeri dan tegang hanya dirasakan pada daerah fraktur, bila
berat, biasanya terjadi pemendekan lengan bawah.9,10,11

2.6.2 Etiologi Fraktur Galeazzi


Etiologi dari fraktur Galeazzi diduga akibat jatuh yang menyebabkan
beban aksial ditumpukan pada lengan bawah yang hiperpronasi.9,10,11

2.6.3 Diagnosis Fraktur Galeazzi9,10,11


a. Gambaran Klinis
Terdapat gejala fraktur dan dislokasi pada daerah distal lengan bawah.
Adanya tonjolan tulang atau nyeri pada ujung ulnar adalah manifestassi
yang paling sering ditemukan. Nyeri dan edema pada jaringan lunak bisa

16
didapatkan pada daerah fraktur radius 1/3 distal dan pada pergelangan
tangan. Cedera ini harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan radiologi.
b. Pemeriksaan Radiologis
Dengan pemeriksaan rontgen diagnosis dapat ditegakkan. Foto radiologi
lengan bawah posisi anteroposterior (AP) dan lateral diperlukan untuk
menegakkan diagnosis. Foto radiologi ekstremitas kontralateral bisa
diambil untuk perbandingan.

2.6.4 Penatalaksanaan Fraktur Galeazzi


Fraktur bersifat tidak stabil dan terdapat dislokasi sebaiknya dilakukan
operasi dengan fiksasi interna. Pada fraktur Galeazzi harus dilakukan reposisi
secara akurat dan mobilisasi segera karena bagian distal mengalami dislokasi.
Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka dislokasi sendi ulna distal juga
tereposisi dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan tidak terjadi maka
reposisi dilakukan dengan fiksasi K-Wire. Operasi terbuka dengan fiksasi rigid
mempergunakan plate dan screw.9,10,11
Open reduction internal fixation merupakan terapi pilihan, karena
closed treatment dikaitkan dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Fiksasi plate
dan screw adalah terapi pilihan.9,10,11

2.7. Neglected Fracture


Neglected fraktur dengan atau tanpa dislokasi adalah fraktur dengan atau
tanpa dislokasi yang penanganannya lebih dari 72 jam, sering terjadi akibat
penanganan fraktur pada ekstremitas yang salah. Neglected fraktur berdasarkan waktu
dibagi menjadi beberapa derajat, yaitu:9,10,11
Derajat 1: fraktur yang telah terjadi antara 3 hari 3 minggu
Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu 3 bulan
Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan 1 tahun
Derajat 4 : fraktur yang telah terjadi lebih dari 1 tahun

17
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. Y. W
Umur : 34 tahun
/Alamat : Polimak I
BB : 65 Kg
TB : 165 cm
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Mahasiswa
Ruangan : Ortopedi
Tanggal masuk rumah sakit : 23 Mei 2016
Tanggal operasi : 25 Mei 2016

3.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Lengan bawah tangan sebelah kiri terasa nyeri dan bengkak.

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien merupakan kiriman dari poli ortopedi RSU Dok II dengan neglected
Galeazzi fracture sinistra. Pasien memiliki riwayat jatuh 1 bulan sebelum masuk rumah
sakit dengan posisi tangan kiri menyangga tubuh pasien saat terjatuh. Setelah terjatuh
pasien tidak langsung memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Pasien akhirnya
memeriksakan diri ke poli ortopedi karena tangan kiri yang digunakan untuk menyangga
tubuh pasien saat jatuh masih tetap terasa nyeri dan membengkak.

Riwayat Penyakit Sebelumnya :


Hipertensi (-), Asma (-), DM (-), penyakit jantung (-), riwayat alergi obat (-).

Riwayat Penyakit Keluarga:


Dalam keluarga tidak ada yang menderita keluhan seperti pasien.
Riwayat Obat Yang Diminum:
Riwayat mengkonsumsi obat-obatan disangkal oleh pasien.

18
Riwayat Alergi:
Riwayat alergi makanan dan obat-obatan disangkal oleh pasien.

Riwayat Anestesi dan Pembedahan Sebelumnya:


Pasien belum pernah menjalani operasi dan belum pernah menggunakan obat-obatan
anestesi sebelumnya.

3.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 65 kg

Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 82 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu badan : 36.50C
Kepala : Mata : Conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-
Hidung : Deformitas (-)
Telinga : Deformitas (-)
Mulut : Deformitas (-), mallampati I
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thoraks : Paru : Suara napas vesikuler, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada,
Jantung : Bunyi jantung I-II reguler, gallop tidak ada, murmur tidak ada
Abdomen : Cembung, supel, bising usus (+), hepar dan lien tidak teraba membesar
Ekstremitas : Akral hangat, edema ada dilengan kiri bagian bawah

Status Lokalis
Regio Antebrachii Sinistra
Inspeksi : Tampak terbungkus verban, rembesan (-), udem (+), deformitas (+)
Feel : Nyeri (+)
Move : Gerak aktif terbatas

3.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium

19
Darah Lengkap 19 Mei 2016
Hemoglobin 15,7 g/dl
Leukosit 5.220/mm3
Trombosit 241.000/mm3
CT 830
BT 230

3.5 Status Anestesi


3.5.1 Persiapan Anestesi
Informed consent, Surat Ijin Operasi, Persiapan darah (1 kantong), pasang IV line
dan pastikan IV line mengalir dengan lancar, ganti baju, transportasi, pasang
monitor, dan dilaporkan ke supervisor.

3.5.2 Laporan Anestesi

PS. ASA : I
Hari/Tanggal : 25/05/2016
Ahli Anestesiologi : dr. A. Sp.An
Ahli Bedah : dr. F
Diagnosa Pra Bedah : Neglected Galeazzi Fracture Sinistra
Diagnosa Pasca Bedah : Neglected Galeazzi Fracture Sinistra

Keadaan Pra Bedah


KU : Tampak baik
Makan terakhir : 10 jam yang lalu
TB : 165 cm
BB : 65 Kg
TTV : TD :120/70 mmHg, N: 82 x/m, SB: 36,5oC
SpO2 : 100 %
B1 Airway bebas, thorax simetris, ikut gerak napas, RR: 20
: x/m, perkusi: sonor, suara napas vesikuler +/+, ronkhi-/-,
wheezing -/-, malampati score : I
B2 Perfusi: hangat, kering, merah. Capilarry Refill Time < 2
:
detik, BJ: I-II murni regular, konjungtiva anemis -/-
B3 Kesadaran Compos Mentis, GCS: 15 (E4V5M6), riwayat
:
kejang (-), riwayat pingsan (-)
B4 Terpasang DC, produksi urin pre op 200 cc, warna
:
kuning jernih.
20
B5 Perut tampak datar, nyeri tekan (-), BU (+) normal,
:
hepar dan lien tidak teraba membesar
B6 Akral hangat (+), edema (+) diregio antebrachii sinistra,
:
fraktur galeazzi sinistra (+)

Medikasi Pra Bedah : - Sedacum 3 ml


- Fentanil 100 ml
Jenis Pembedahan : Pemasangan internal fiksasi
Lama Operasi : 2 jam 20 menit (09.30-11.50 WIT)
Jenis Anestesi : General Anestesi
Anestesi Dengan : Isoflurance 2%
Teknik Anestesi : Pasien ditidurkan preoksigenasi 5 menit induksi
intubasi apnea pasang ETT no. 7.5 cuff (+) dada
terangkat kiri dan kanan
Pernafasan : Controlled Respiration
Posisi : Tidur terlentang
Infus : Tangan Kanan, IV line abocath 18 G, cairan RL
Penyulit pembedahan : -
Tanda vital pada akhir : TD: 130/80 mmHg, N:80 x/m, SB: 36,7, RR: 18 x/m,
pembedahan SpO2: 99%
Medikasi : Durante operasi:
- Fentanil 50 mg
- Recofol 70 mg
- Dexamethason 10 ml
- Ondansentron 4 ml
- Ranitidin 50 mg
- Recofol 30 mg

3.6 Observasi Durante Operasi


Observasi Tekanan Darah dan Nadi

21
Gambar. Diagram Observasi Tekanan Darah dan Nadi

Balance Cairan
Waktu Input Output
Pre operasi RL : 1000 cc IWL : 650 cc
Urin : 100 cc
Durante operasi RL : 500 cc Urin : 200 cc
Gelofussion : 500 cc Perdarahan : 200 cc
Total 2000 cc 1150 cc

3.7 Terapi Cairan Perioperatif


Pasien laki - laki 23 tahun dengan BB 65 kg dan TB 165 cm
a. Pre Operative
1. Kebutuhan:
Maintenance dan replacement (puasa 10 jam):
Cairan:
40-50 cc/kgBB/hari 2600 32500 cc/hari
108 -135 cc/jam
1080 1350 cc/10 jam
Dapat diberikan RL 1000-1500 cc.
2. Aktual cairan yang diberikan : RL 1000 cc

b. Durante Operative
1. Kebutuhan

22
Urin 200 cc, perdarahan 200 cc, IWL 650 cc
- Dehidrasi ringan : 3-5% x BB = 195 325 cc
- Pemeliharaan (operasi sedang) = 6 cc/kgBB/jam = 390 cc/jam
- EBV = 70 x kgBB (65 kg) 4550 cc
- EBL = 10% x EBV = 455 cc
- Replacement : EBV = 2-4 x EBL = 910 1820 cc
2. Aktual Cairan yang diberikan: RL 500 cc + Gelofussion 500 cc = 1000 cc
Sudah mengganti jumlah yang hilang selama operasi

c. Post Operative
1. Kebutuhan:
Maintenance:
- Cairan : 40 -50 cc/kgBB/hari = 2600 -3250 cc/hari
- Natrium : 2-4 mEq/kgBB/hari = 130 - 260 mEg/hari
- Kalium : 1-3 mEq/kgBB/hari = 65 - 195 mEq/hari
- Kalori : 25 mg/kgBB/hari = 1625 kkal/hari
2. Actual cairan yang diberikan: RL 1500 cc/hari

3.8 Follow Up Post Operatif


Tanggal Pemeriksaan Planning
26/05/2016 S: Nyeri pada luka bekas operasi - IVFD RL/8 jam
O: - Inj. Metronidazole 3x500 mg
B1 : airway bebas, nafas spontan, RR - Inj. Ceftiakson 2 x 1 gr
20x/menit, suara napas vesikuler, ronki -/-, - Inj. Ketorolac 3x1 amp
wheezing -/-
B2: perfusi hangat(+), kering(+), pucat(-),
CRT<2, TD 120/80 mmHg, Nadi
80x/menit, kuat angkat, regular, conjuntiva
anemis (-).
B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, pupil
bulat isokor ODS 3 mm
B4; Tidak Terpasang DC, produksi urine
(+) warna kuning jernih. Urine tidak
ditampung, frekuensi BAK normal.

23
B5: Abdomen datar, BU (+), supel, NT (-)
B6 : edema (-), fraktur (+) 1/3 distal tibia et
fibula sinistra, tterbalut verban, rembesan
(-), nyeri (+), gerak aktif terbatas

A: Post pemasangan ORIF pada neglected


fracture galeazzi sinistra
27/05/2016 S: Nyeri pada luka bekas operasi - IVFD RL/8 jam
O: - Inj. Metronidazole 3x500 mg
B1 : airway bebas, nafas spontan, RR - Inj. Ceftiakson 2 x 1 gr
20x/menit, suara napas vesikuler, ronki -/-, - Inj. Ketorolac 3x1 amp
wheezing -/-
B2: perfusi hangat, kering, pucat, CRT<2, Pasien Boleh Pulang
TD 120/80 mmHg, Nadi 88x/menit, kuat
angkat, regular, conjuntiva anemis (-).
B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, pupil
bulat isokor ODS 3 mm
B4; Tidak Terpasang DC, produksi urine
(+) warna kuning jernih. Urine tidak
ditampung, frekuensi BAK normal.
B5: Abdomen datar, BU (+), supel, NT (-)
B6 : edema (-), fraktur (+) 1/3 distal tibia et
fibula sinistra, tterbalut verban, rembesan
(-), nyeri (+), gerak aktif terbatas

A: Post pemasangan ORIF pada neglected


fracture galeazzi sinistra

24
BAB IV
PEMBAHASAN

Seorang pasien, laki-laki usia 34 tahun pada kasus diatas akan dilakukan tindakan
pemasangan internal fiksasi dengan General Anestesi. Berdasarkan pemeriksaan preoperative,
pasien tergolong pada PS ASA I sesuai dengan klasifikasi penilaian status fisik menurut The
American Society of Anesthesiologist. Pasien dengan PS ASA I adalah pasien yang tidak
memiliki gangguan organic, biokimia, dan psikiatrik. Ini disimpulkan karena dari
pemeriksaan preoperative diketahui bahwa pasien dalam keadaan stabil dan tidak didapatkan
adanya gangguan sistemik yang dapat mengganggu proses operasi dan anestesi.
Pada pasien ini kemudian dilakukan tindakan pemasangan K_WIRE dibawah anestesi
umum dengan mengunakan inhalasi isofluran 2%. Anestesi umum/general anestesi dipilih
dengan pertimbangan kemungkinan tindakan pembedahan yang akan berlangsung lama dan
pembedahan pada pasien ini tidak dapat menggunakan anestesi local karena tidak praktis dan
ditakutkan hasil anestesi yang diharapkan tidak akan memuaskan. Selain itu General Anastesi
pada pembedahan memiliki beberapa keuntungan yaitu pasien menjadi tidak sadar sehingga
mencegah kesakitan selama prosedur medis berlangsung, efek amnesia meniadakan memori
buruk pasien yang didapat akibat ansietas dan berbagai kejadian intraoperative yang mungkin
memberikan trauma psikologis, serta memungkinkan dilakukannya prosedur yang memakan
waktu yang lama.
Untuk tatalaksana anestesi pada kasus ini, digunakan anestesi umum dengan inhalasi
dan intravena. Untuk anestesi inhalasi digunakan Isofluran 2%. Isofluran merupakan salah
satu halogenasi eter yang sering digunakan. Obat ini bekerja menekan pernapasan dan kurang
mempunyai pengaruh menekan jantung, dan tidak mencetuskan disritmia. Obat ini juga
hanya dimetabolisme sebanyak 0,2%, sehingga tidak menimbulkan toksisitas yang bermakna
pada hepar atau ginjal. Setelah induksi, obat anestesi intravena juga diberikan untuk rumatan
anestesi diantaranya fentanil dan propofol (recofol). Rumatan anestesi ini mengacu pada trias
anestesi yaitu tidur ringan (hypnosis), analgesia cukup, dan diusahakan selama pembedahan
pasien tidak mengalami nyeri dan diharapkan relaksasi otot lurik yang cukup. Fentanil
sebagai opioid diberikan dengan harapan akan menyebabkan pasien tidur dengan analgesia
yang cukup dan pemberian Propofol pada pasien ini diberikan untuk memberikan efek
sedative dengan cepat.
Selain penentuan pemilihan anestesi pada pasien ini, juga dipertimbangkan mengenai
terapi cairan selama masa perioperative. Terapi cairan sendiri adalah tindakan untuk

25
memelihara, mengganti cairan tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus
krsitaloid atau koloid secara intravena.
Dengan mempertimbangkan hal diatas dan berdasarkan perhitungan kebutuhan caoran
preoperative untuk maintenance dan sekaligus untuk mengganti deficit selama puasa 10 jam
dibutuhkan 1080 1350 cc/10 jam, maka dapat dilakukan terapi cairan untuk resusitassi
dengan cairan Ringer Laktat 1000 1500 cc sebelum pembedahan sehingga pemberian cairan
pre operatif berupa cairan RL 1000 cc cepat dan tepat.
Operasi pemasangan K_WIRE pada pasien dijalani selama 2 jam 20 menit dengan
total perdarahan 200 cc. perkiraan volume darah pada pasien (Estimaed Blood Volume/EBV)
adalah 70 cc x 65 kg yaitu 4550 cc, sehinngga jumlah kehilangan darah (Estimated Blood
Loss/EBL) sekitar 10% dari EBV = 10% x 4550 cc yaitu 455 cc. Jika dijumlahkan dengan
jumlah urin yang keluar selama operasi sebesar 200 cc dan IWL pasien 650 cc, maka
pemberian actual cairan yang diberikan pada pasien selama durante operasi berupa cairan
kristaloid RL 500 cc dan Gelofussion 500 cc dapat dikatakan sudah cukup untuk
menggantikan kehilangan cairan pada pasien selama proses operasi.
Setelah operasi, pasien diobservasi diruang pemulihan dan dipindahkan ke ruang
perawatan ortopedi. Aktualnya pasien sudah diperbolehkan makan sedikit-sedikit 6 jam post
operasi, sehingga kebutuhan cairan dan kalori dapat terpenuhi bukan hanya dari cairan infus
tetapi juga melalui konsumsi per oral. Kebutuhan cairan pasien ini adalah 2600-3250 cc/hari
dengan kebutuhan Natrium 130 - 260 mEg/hari, Kalium 65 - 195 mEq/hari, dan Kalori 1625
kkal/hari. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa stress pembedahan menyebabkan pelepasan
Aldosteron dan ADH sehingga terjadi kecenderungan tubuh untuk menahan air dan Natrium.
Penggunaan cairan intravena diharapkan dapat menunjang pemenuhan kebutuhan cairan dan
kalori disamping melalui intake oral. Actual cairan yang diberikan pada pasien berupa Ringer
Laktat 1500 cc/hari. Ringer Laktat yang diberikan pada pasien ini mengandung 130 mEq
Natrium sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan Natrium, karena tidak terdapatnya
cadangan Natrium dalam tubuh. Walaupun pemberian cairan intravena ini diberikan untuk
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pasien, namun tetap saja harus didukung dengan
intake oral yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori perhari.

26
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serat pemeriksaan penunjang didapatkan
diagnosis neglected fracture Galeazzi sinistra yang direncanakan dilakukan tindakan
pemasangan K_WIRE dengan general anestesi.
Pemilihan anestesi ini sudah sesuai indikasi, yaitu untuk pembedahan yang
diperkirakan kemungkinan akan memakan waktu yang lama.
Pasien diklasifikasikan ke dalam PS ASA I karena pada pasien ini berdasarkan
pemeriksaan preoperative dalam keadaan stabil dan tidak ditemukan gangguan
organic, fisiologis, biokimia, dan psikiatrik.
Resusitasi dan terapi cairan perioperative kurang lebih telah memenuhi kebutuhan
cairan perioperative pada pasien ini, terbukti dengan stabilnya hemodinamik durante
dan post operative.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Schiwatch, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Edisi ke-6. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran; 2000.
2. Reksoprodjo S. Buku Kumpulan Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Binarupa Aksara; 2010.
3. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran;
2004.
4. Anonim. BAB I PENDAHULUAN. [serial online] 2010. [Diunduh 09 Oktober 2014].
Tersedia dari: URL: http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/147/jtptunimus-gdl-lutfilkhak-
7335-1-babi.pdf
5. Anestesi [Internet]. 2015. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Anestesi
6. dr. Mangku Gede, Sp.An.KIC., dr. Senapathi T.G.A. Sp.An., Buku Ajar Ilmu Anestesi dan
Reanimasi. Jakarta. PT Indeks. 2010.
7. Latief Said, Suryadi Kartini, Dachlan Ruswan. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi
Kedua. Jakarta. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2010.
8. Muhiman Muhardi, Thaib Roesli, Sunatrio, Dachlan Ruswan. Anestesiologi. Jakarta.
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2004
9. Pradana A, Usyinara. Kapita Selekta kedokteran. Jakarta: Aesculapius; 2009
10. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif Watampone; 2007.
11. Solomon L, Apley AG. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Edisi Ke-7.
Jakarta: Widya Medika; 1995.

28