Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi menghilangkan nyeri dan
rumatan pasien sebelum, selama, dan sesudah pembedahan. Definisi anestesiologi berkembang terus
sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran. 1 Istilah anestesi dimunculkan pertama kali oleh dokter
Oliver Wendell Holmes (1809-1894) berkebangsaan Amerika, diturunkan dari dua kata Yunani : An
berarti tidak, dan Aesthesis berarti rasa atau sensasi nyeri. Secara harfiah anestesi berarti ketiadaan
rasa atau sensasi nyeri. Dalam arti yang lebih luas, anestesi berarti suatu keadaan hilangnya rasa
terhadap suatu rangsangan. Pemberian anestesi dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan rasa
nyeri baik disertai atau tanpa disertai hilangnya kesadaran. Seringkali anestesi dibutuhkan pada
tindakan yang berkaitan dengan pembedahan.1,2
Secara garis besar anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum dan anestesi
regional. Anestesi regional terbagi atas anestesi spinal (anestesi blok subaraknoid), anestesi epidural
dan blok perifer. Anestesi spinal dan anestesi epidural telah digunakan secara luas di bidang ortopedi,
obstetri dan ginekologi, operasi anggota tubuh bagian bawah dan operasi abdomen bagian bawah.
Anestesi spinal (intratekal, intradural, subdural, subarakhnoid) ialah anestesi regional dengan tindakan
penyuntikan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarakhnoid. Larutan anestesi lokal yang disuntikan
pada ruang subarachnoid akan memblok konduksi impuls syaraf. Terdapat tiga bagian syarat yaitu
motor, sensori dan autonom.1,2,3
Anestesi umum adalah keadaan tidak sadar tanpa nyeri yang reversible akibat pemberian
obat-obatan, serta menghilangkan rasa sakit seluruh tubuh secara sentral . Anastesi memungkinkan
pasien untuk mentolelir tindakan pembedahan yang dapat menimbulkan rasa sakit tak tertahankan
yang berpotensi meyebabkan perubahan fisiologis tubuh yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan
yang tidak meyenangkan. 1,2,3
Pada tindakan pembedahan yang memerlukan waktu dan tindakan yang luas digunakan
anastesi umum, pada pembedahan ortopedi, seperti ORIF (Open Reduction Internal Fixation) yang
merupakan sebuah prosedur bedah medis,yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk
mengatur tulang, seperti yang diperlukan untuk beberapa patah tulang.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Fraktur.
2.1.1. Definisi Fraktur
Menurut Usyinara Pradana. A dalam buku Kapita Selekta Kedokteran 2009, Fraktur atau
patah tulang didefinisikan sebagai gangguan kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan (sendi) dan
lempeng epifisis yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. 9 Sedangkan menurut Supardi Sabroto
(2009) dalam buku Ajar Ilmu Bedah Ortopedi serta Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong buku Ajar
Ilmu Bedah Edisi 2 (2005) mendefinisikan fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan
sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Kebanyakan fraktur terjadi
karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan untuk membengkok, memutar dan
tarikan. 9,12,13
Fraktur dapat terjadi pada semua umur dan jenis kelamin. Fraktur adalah masalah yang
akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat, pada arus mudik dan arus balik hari raya
idulfitri tahun ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang sangat banyak yang sebagian korbannya
mengalami fraktur. Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur.
Sering kali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang
tersedia contohnya ada seorang yang mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya informasi untuk
menanganinya Ia pergi ke dukun pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir.
2.1.2. Klasifikasi Fraktur
a). Klasifikasi Berdasarkan Etiologis
Fraktur Traumatik (trauma yang terjadi mendadak)
Fraktur Patologis (kelemahan tulang akibat kelainan patologis dalam tulang)
Fraktur Stress (trauma yang terjadi terus menerus pada suatu tempat)
Penyebab terjadinya fraktur dapat disebabkan oleh adanya kekersan yang terjadi secara langsung,
tidak langsung ataupun akibat tarikan otot
- Kekerasan Langsung, dapat menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan.
Biasanya bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring
- Kekerasan Tidak Langsung, dapat menyebabkan patah tulang pada tempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan.
- Kekerasan Akibat Tarikan Otot, biasanya jarang terjadi. Kekuatannya dapat berupa
pemuntiran, penekukan, penekanan atau kombinasi dari ketiganya

b). Klasifikasi Klinis


- Fraktur Tertutup : Fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar
- Fraktur Terbuka : Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui luka pada kulit dan jaringan lunak
2
- Fraktur dengan Komplikasi : Fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya malunion,
delayed union, nonunion dan infeksi tulang.
Non union, dibagi menjadi:
Hypervascular (Hypertrofi)
Callus dibentuk berlebihan, pasokan darah meningkat sampai ke ujung tulang
Atrofi
Ujung fragment menjadi atropi
Pasokan darah sedikit sampai ke ujung fragment.
secara khas dilihat pada fraktur tibia.
Oligotrophic (Hypotrophic):
Callus tidak terbentuk
Secara khas terjadi setelah jarak fraktur yg besar.

c). Klasifikasi Radiologis :


- Berdasarkan Lokalisasi
1. Diafisis
2. Metafisis
3. Intra-Artikuler
4. Fraktur dengan dislokasi
- Berdasarkan Posisi Fraktur
1/3 Proksimal
1/3 Medial
1/3 Distal
- Berdasarkan Konfigurasi
1. Fraktur Transversal
2. Fraktur Oblique
3. Fraktur Spiral
4. Fraktur Pecah (Brust)

- Berdasarkan jumlah garis patah :


3
1. Fraktur Komunitif yaitu fraktur dimana terdapat garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan
2. Fraktur Segmental yaitu fraktur dimana garis patah lebih dari satu namun tidak saling
berhubungan
3. Fraktur Multiple yaitu fraktur dimana terdapat garis patah lebih dari satu namun tidak
pada tulang yang sama
- Berdasarkan hubungan antara fragmen dengan fragmen yang lain :
1. Undisplaced (tidak bergeser)
2. Displaced (bergeser) dengan enam (6) cara yaitu Berkesampingan, Angulasi, Rotasi,
Over-riding dan Impaksi

Berdasarkan fragmen tulang yang terpisah, fraktur dapat digolongkan menjadi


fraktur komplet dan inkomplet. Pada fraktur komplet, tulang terpisah menjadi dua
fragmen atau lebih. Berdasarkan garis frakturnya, fraktur komplet dapat digolongkan
sebagai berikut :
Fraktur transversal.
Fraktur oblik atau spiral.
Fraktur segmental.
Fraktur impaksi, dan
Fraktur komunitif.
Fraktur dikatakan inkomplet apabila tulang tidak terpisah seluruhnya dan periosteum
tetap intak. Fraktur inkomplet dapat digolongkan menjadi:
Fraktur bucle atau torus.
Fraktur greenstick (pada anak-anak), serta
Fraktur kompresi.

2.1.3. Perubahan Struktural Akibat Fraktur


Fraktur menyebabkan perubahan pada arsitektur tulang, terutama pada fraktur komplet.
Perubahan yang terjadi disebut displacement. Displacement harus dideskripsikan secara
lengkap dengan menyebutkan unsur-unsur berikut:
Translasi : pergeseran ke samping, depan, atau belakang.
Angulasi : perubahan sudut antara fragmen dengan bagian proksimalnya.
Rotasi : perputaran tulang, sepintas tulang tetap lurus namun pada bagian distal
tampak deformitas rotasional.
Panjang : fragmen tulang dapat menjauh atau memendek karena spasme otot.

2.1.4. Deskripsi Fraktur


Deskripsi fraktur yang baik harus menyebutkan lokasi, eksten, konfigurasi, hubungan
antarfragmen, hubungan antara fraktur dengan dunia luar, dan ada tidaknya komplikasi sesuai
dengan urutan sebagai berikut :
Lokasi : diafisis, metafisis, epifisis, intraartikular, fraktur-dislokasi (selain fraktur juga
terdapat dislokasi pada sendi yang bersangkutan).
Nama tulang beserta posisi (kiri atau kanan) jika terjadi pada tulang ekstremitas.
Ekstensi : komplet atau inkomplet, sesuai klasifikasi.
Konfiguraasi : transversal, oblik, spiral, komunitif.

4
Hubungan fragmen fraktur yang satu dengan lainnya : sesuai nomenklatur displacement
di atas.
Komplikasi : baik lokal ataupun sistemik, diakibatkan oleh cedera itu sendiri, atau
iatrogenik.

2.1.5. Diagnosis Fraktur


a) Anamnesis
Pasien dengan trauma ringan maupun berat diikuti dengan ketidakmampuan untuk
menggunakan anggota gerak. Pasien biasanya datang karena adanya rasa nyeri,
pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, dan kelainan gerak. Pada
pemeriksaan awal perlu diperhatikan tanda-tanda syok, anemia atau adanya perdarahan.
Perhatikan ada tidaknya kerusakan pada organ-organ lain. 12,13
Mekanisme terjadinya cedera harus selalu ditanyakan kepada pasien secara rinci.
Gejala yang dirasakan, seperti nyeri dan bengkak harus diperhatikan. Perlu diingat bahwa
daerah yang mengalami trauma tidak selalu merupakan daerah fraktur. Selain itu, jangan
hanya terpaku pada satu cedera utama. Perlu diperhatikan apakah ada trauma atau keluhan
di daerah lainnya.

b) Pemeriksaan Fisik
Inspeksi (LOOK)
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Keadaan umum pasien secara keseluruhan
- Ekspresi wajah karena nyeri
- Lidah kering atau basah
- Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
- Ada tidaknya luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur
tertutup atau terbuka
- Perhatikan adanya deformitas (angulasi, rotasi, shortening)
- Perhatikan seluruh bagian tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain
- Perhatikan keadaan vaskularisasi

Palpasi (FEEL)
Dilakukan secara hati-hati karena penderita mengeluh sangat nyeri.
Yang perlu diperhatikan adalah :
- Nyeri Tekan
- Krepitasi
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal (palpasi arteri radialis, arteri dorsalis
pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena),
temperature kulit dan warna kulit pada bagian distal daerah trauma.

Pergerakan (MOVE)

5
Pergerakan dengan mengajak pasien untuk menggerakkan secara aktif dan pasif
sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan
fraktur setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan harus
dilakukan dengan hati-hati. ROM (Range of joint Movement) merupakan istilah untuk
menyatakan batas/ besarnya gerakan sendi dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya
kelainan atau menyatakan besarnya gerakan sendi yang abnormal. ROM pergerakan
aktif dan ROM pergerakan pasif.

c) Pemeriksaan Penunjang
Pada fraktur, pemeriksaan penunjang dasar berupa Roentgen sangatlah penting. Foto yang
baik harus mengikuti aturan dua
Dua sisi
Dua sendi,
Dua ekstremitas (terutama untuk pasien anak),
Dua jejas (di bagian proksimal jejas), serta
Dua waktu (foto serial).

2.1.6. Tata Laksana


2.1.6.1. Fraktur Tertutup
Tujuan dari penatalaksanaan fraktur adalah untuk menyatukan fragmen tulang yang terpisah.
Secara umum, prinsip dari tata laksana fraktur adalah reduksi, fiksasi, dan rehabilitasi.
Reduksi tidak perlu dilakukan apabila :
Fraktur tidak disertai atau hanya terjadi sedikit displacement,
Pergeseran yang terjadi tidak bermakna (misalnya pada klavikula), atau
Reduksi tidak dapat dilakukan (misalnya pada fraktur kompresi vertebra).
Reduksi tertutup harus dilakukan dengan anestesi dan relaksasi otot. Maneuver reduksi
tertutup dilakukan secara spesifik untuk masing-masing lokasi, namun pada prinsipnya
reduksi tertutup dilakukan dengan tiga langkah berikut:
Menarik bagian distal searah dengan sumbu tulang.
Reposisi fragmen ke tempat semula, dengan gaya berlawanan dari gaya penyebab trauma
Menyusun agar fragmen terletak secara tepat di masing-masing bidang.
Reduksi terbuka pada fraktur tertutup diindikasikan pada kondisi-kondisi berikut :
Ketika reduksi tertutup gagal.
Terdapat fragmen articular yang besar, atau
Untuk traksi pada fraktur dengan fragmen yang terpisah.

2.1.6.2. Fraktur Terbuka


Tata laksana fraktur terbuka bergantung pada derajat fraktur. Klasifikasi derajat fraktur
terbuka yang banyak digunakan adalah klasifikasi Gustilo.
Tipe I : luka kecil, bersih, pin point atau kurang dari 1 cm. cedera jaringan lunak minimal
tanpa remuk. Fraktur yang terjadi bukan fraktur komunitif.
Tipe II : luka dengan panjang >1cm, tanpa hilangnya kulit penutup luka. Cedera jaringan
lunak tidak banyak. Remuk dan komunion yang terjadi sedang.
Tipe III : laserasi luas, kerusakan kulit dan jaringa nlunak yang hebat, hingga kerusakan
vaskuler.
6
o IIIA : laserasi luas namun tulang yang fraktur masih dapat ditutup oleh jaringan lunak.
o IIIB : periosteal stripping ekstensif dan fraktur tidak dapat ditutup tanpa flap.
o IIIC : terdapat cedera arteri yang memerlukan penanganan khusus (repair), dengan
atau tanpa cedera jaringan lunak.

Berdasarkan tanda manajemen fraktur terbuka pada ektremitas bawah oleh British
Orthopaedic Association dan British Association of Plastic, Reconstrutive anda Aesthetic
Sugeons 2009, fraktur terbuka semua derajat harus mendapatkan antibiotik dalam 3 jam
setelah trauma. Antibiotic yang menjadi pilihan adalah ko-amoksiklav atau sefuroksim.
Apbila pasien alergi golongan penisilin, dapat diberikan klindamisin. Pada saat debridemen,
antibiotic gentamisin ditambahkan pada regimen tersebut.

2.2. Jenis-Jenis Fraktur


2.2.1. Fraktur Galeazzi
2.2.1.1. Pengertian Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo Galeazzi (1935), yaitu fraktur distal
radius disertai dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar distal. Terjadinya fraktur ini biasanya
akibat trauma langsung sisi lateral ketika jatuh. 9,10,11
Gambaran klinisnya bergantung pada derajat dislokassi fragmen fraktur. Bila ringan,
nyeri dan tegang hanya dirasakan pada daerah fraktur, bila berat, biasanya terjadi pemendekan
lengan bawah.9,10,11
2.2.1.2. Etiologi fraktur Galeazzi
Etiologi dari fraktur Galeazzi diduga akibat jatuh yang menyebabkan beban aksial
ditumpukan pada lengan bawah yang hiperpronasi.9,10
2.2.1.3. Gambaran Klinis
Terdapat gejala fraktur dan dislokasi pada daerah distal lengan bawah. Adanya tonjolan tulang
atau nyeri pada ujung ulnar adalah manifestassi yang paling sering ditemukan. Nyeri dan
edema pada jaringan lunak bisa didapatkan pada daerah fraktur radius 1/3 distal dan pada
pergelangan tangan. Cedera ini harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan radiologi.

2.2.1.4. Pemeriksaan Radiologis


Dengan pemeriksaan rontgen diagnosis dapat ditegakkan. Foto radiologi lengan bawah posisi
anteroposterior (AP) dan lateral diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Foto radiologi
ekstremitas kontralateral bisa diambil untuk perbandingan.
2.2.1.5. Penatalaksanaan fraktur Galleazi
Fraktur bersifat tidak stabil dan terdapat dislokasi sebaiknya dilakukan operasi
dengan fiksasi interna. Pada fraktur Galeazzi harus dilakukan reposisi secara akurat dan
mobilisasi segera karena bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan
cepat maka dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila reposisi

7
spontan tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-Wire. Operasi terbuka dengan
fiksasi rigid mempergunakan plate dan screw. 9,10,11
Open reduction internal fixation merupakan terapi pilihan, karena closed treatment
dikaitkan dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Fiksasi plate dan screw adalah terapi
pilihan.9,10,11

2.2.2. Neglected Fracture


2.2.2.1. Pengertian Neglected Fracture
Neglected Fracture adalah suatu fraktur dengan dislokasi yang ditangani dengan tidak
semestinya sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi
yang lebih buruk bahkan kecacatan. 9,10,11
2.2.2.2. Klasifikasi
1) Neglected fraktur berdasarkan waktu
Derajat 1: fraktur yang telah terjadi antara 3 hari 3 minggu
Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu 3 bulan
Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan 1 tahun
Derajat 4 : fraktur yang telah terjadi lebih dari 1 tahun
2) Berdasarkan pada beratnya kasus akibat dari penanganan patah tulang sebelumnya, di
klasifikasikan menjadi.
Neglected derajat satu
Bila pasien datang saat awal kejadian maupun sekarang, penengananya tidak
memerlukan tindakan operasi dan hailnya sama baik
Neglected derajat dua
Keadaan dimana apabila pasien datang saat awal kejadian, penangannya tidak
memerlukan tindakan operasi, sedangkan saat ini kasusnya menjadi lebih sulit dan
memerlukan tindakan opeasi. Setelah pengobatan, hasilnya baik

Neglected derajat tiga


Keteterlambatan menyebabkan kecatatan yang menetap bahkan setelah dilakukan
opersai.. jadi pasien datang saat awal maupun sekarang tetap memerlukan tidakan
opersi dan hasilnya kurang baik.
Neglected derajat empat
Keterlambatan disini sudah mengancam nyawa atau bahkan menyebabkkan kematian
pasien. Pada kasus ini penangannya memerlukan tindakan amputasi.

2.3. Jenis Pembedahan


Prinsip penatalaksanaan fraktur adalah recognition, reduction, retentention dengan
imobilisasi dan rehabilitation yaitu mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.
Penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi
ORIF (Open Reduction Internal Fixation). 9,10,11
2.3.1.Tujuan pengobatan fraktur
2.3.1.1. Reposisi
Dengan tujuan mengembalikan fragmen ke posisi anatomi. Teknik reposisi terdiri dari reposisi
tertutup dan reposisi terbuka. Reposisi tertutup dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
traksi kulit dan skletal. Cara lain yaitu dengan reposisi terbuka yang dilakukan pada pasien
8
yang telah mengalami gagal reposisi tertutup, fragmen bergeser, mobilisasi dini, fraktur
multipel dan fraktur patologis. 9,10,11
2.3.1.2. Imobilisasi / Fiksasi
Dengan tujuan memepertahankan posisi fragmen post reposisi samapai union. Indikasi
dilakukannya fiksasi yaitu pada pemendekan, fraktur unstabel serta kerusakan hebat pada
kulit dan jaringan sekitar. 9,10,11
2.3.2. Penatalaksanaan fraktur melalui tindakan operatif
Fraktur bersifat tidak stabil dan terdapat dislokasi sebaiknya dilakukan operasi dengan
fiksasi interna. Pada fraktur Galeazzi harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi
segera karena bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka
dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan tidak
terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-Wire. Operasi terbuka dengan fiksasi rigid
mempergunakan plate dan screw. 9,10,11
2.3.2.1. Internal ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
a. Definisi
ORIF (Open Reduction Internal Fixation) adalah sebuah prosedur bedah medis,
yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang
diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup dan
piring untuk mengaktifkkan atau memfasilitasi penyembuhan.
ORIF adalah suatu tindakan untuk melihat fraktur langsung dengan teknik
pembedahan yang mencakup didalamnya, menggunakan K-wire, Plating, screw, K-nail.
Keuntungan cara ini adalah reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar. Bila
dipasang dengan semestinya, fiksasi internal menahan fraktur dengan aman sehingga
gerakan dapat segera dilakukan. Semakin segera gerakan dapat dilakukan, semakinbrendah
pula risiko terjadinya kekakuan dan edema. Dalam hal kecepataan, pasien dapat
meninggalkan rumah sakit segera setelah luka sembuh, dikarenakan fraktur yang terjadi
dipertahankan dengan jembatan logam.
b. Indikasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Fraktur yang tidak dapat sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi (fraktur talus
dan fraktur collum femur)
Fraktur yang tidak bisa reposisi tertutup (fraktur avulse dan fraktur dislokasi)
Fraktur yang direposisi tapi sulit dipertahankan (fraktur Galleazi, fraktur antebrachii).
Fraktur yang dengan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi.
UNION
Rehabilitasi
c. Kontrandikasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Tulang osteoporotik terlalu rapuh menerima implan
Jaringan lunak diatasnya berkulaitas buruk
Terdapat infeksi
Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi.
d. Keuntungan ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar
Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur

9
Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf disekitarnya.
Stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai
Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi.
Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta kekuatan otot
selama perawatan fraktur.
e. Kerugian ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Setiap anstesi dan operasi mempunyai risiko komplikasi bahkan kematian akibat dari
tindakan tersebut.
Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan
gips atau traksi.
Penggunaan stabilissi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri.
Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang
sebelumnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami
kerusakan selama tindakan operasi.
ORIF (Open Reduction Internal Fixation) atau reduksi terbuka dengan fiksasi internal akan
mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku, skerup
atau pen ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur
secara bersamaan.

2.4. Anestesi Umum Pada Operasi Neglegted Galleazi Fracture


2.4.1. Definisi Anastesi Umum
Anastesi umum adalah suatu keadaan meniadakan nyeri secara sentral yang dihasilkan
ketika pasien di berikan obatobatan untuk amnesia, analgesia, elumpuhan otot, dan sedasi. Pada
pasien yang diberikan anastesi dapat dianggap berada dalam keadaan ketikdaksadaran yang
terkontrol dan reversibel. Anastesi memungkinkan pasien untuk mentolelir tindakan
pembedahan yang dapat menimbulkan rasa sakit tak tertahankan yang berpotensi meyebabkan
perubahan fisiologis yubuh yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak
meyenangkan. Komponen anatesi yang ideal terdiri dari : 1. Hipnotik, 2. Analgesik, 3.
Relaksasi otot.
Anastesi umum menggunakan cara melalui intravena dan secara inhalasi untuk
memungkinkan akses bedah yang memadai ke tempat dimana kan dilakukan operasi. Satu hal
yang perlu dicatat adalah bahwa anastesi umum mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik,
tergantung pada presentasi klinis pasien. Suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara
yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat anestesia. 5,6,7,

2.4.2. Metode Anastesi Umum


2.4.2.1. Parenteral
Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun intramuskular
bisaanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk induksi anestesia. 5,6,7,8
2.4.2.2. Perektal
Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia maupun tindakan
singkat. 5,6,7
10
2.4.2.3. Perinhalasi
Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap (volatile agent) dan
diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika tersebut tergantunug dari tekanan parsialnya;
zat anestetika disebut kuat apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah mampu
memberikan anestesia yang adekuat. 5,6,7,8

2.4.3. Obat Anestesia


Obat-obat anestetika adalah obat-obat yang mempunyai khasiat: sedasi atau hypnosis,
analgesia, dan/atau relaksasi. Obat-obat anestetika dapat digolongkan menjadi: 5,6,7,8
- Golongan obat premedikasi
- Golongan obat anestesia intravena
- Golongan obat anestesia inhalasi
- Golongan obat analgesia lokal
- Golongan obat pelumpuh otot

2.4.3.1. Golongan obat premedikasi


Premedikasi adalah tindakan awal anestesia dengan memberikan obat-obat
pendahuluan yang terdiri dari obat-obat golongan antikolinergik, sedatif, dan analgetik.
Tujuan dari premedikasi adalah mennimbulkan rasa nyaman bagi pasien, mengurangi sekresi
kelenjar dan menekan refleks vagus, mempermudahkan/memperlancar induksi, mengurangi
dosis obat anestesia, mengurangi rasa sakit dan kegelisahan pasca bedah. 5,6,7,8
Obat-obat yang sering digunakan adalah obat antikolinergik (sulfas atropin, skopolamin),
obat sedatif (derivat fenothiazin, derivat benzodiazepin, derivat butirofenon, derivat
barbiturat, antihistamin), obat analgetik narkotik. 5,6,7,8
2.4.3.2. Golongan obat anestesia intravena
Obat anestesia intravena adalah obat anestesia yang diberikan melalui jalur intravena,
baik obat yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot. Setelah masuk
kedalam pembuluh darah vena, obat-obat ini akan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh
melalui sirkulasi umum, selanjutnya akan menuju ke target organ masing-masing dan
akhirnya diekskresikan, sesuai dengan farmakokinetiknya masing-masing. Berdasarkan
batasan tersebut di atas, maka semua obat-obat yang diberikan selama induksi dan
pemeliharaan yang mempunyai khasiat hipnotik, analgesia dan pelumpuh otot, termasuk di
dalamnya. 5,6,7,8

Obat-obat anestesia intravena yang sampai saat ini ada adalah : 5,6,7,8
- Thiopentone
- Diazepam
- Dehidrobenzperidol
- Fentanil
- Ketamin klorida
- Midazolam
11
- Propofol
Obat-obat tersebut di atas dapat digunakan untuk premedikasi, induksi anestesia,
pemeliharaan, obat tambahan pada tindakan analgesia regional, anestesia tunggal. 5,6,7,8
2.4.3.3. Golongan obat anestesia inhalasi
Obat-obat anestesia inhalasi adalah obat-obat anestesia yang berupa gas atau cairan
mudah menguap, yang diberikan melalui pernafasan pasien. Campuran gas atau uap obat
anestesia dan oksigen masuk mengikuti aliran udara inspirasi, mengisi seluruh rongga paru,
selanjutnya mengalami difusi dari alveoli ke kapiler pare sesuai dengan sifat masing-masing
gas. Konsentrasi minimal fraksi gas atau uap obat anestesia di dalam alveoli yang sudah
menimbulkan efek analgesia pada pasien, dipakai sebagai satuan potensi dari obat anestesia
inhalasi disebut dengan MAC (Minimal Alveolar Consentration). 5,6,7,8
Berdasarkan kemasannya, obat anestesia umum inhalasi ada 2 macam yaitu: obat
anestesia umum inhalasi yang berupa cairan yang mudah menguap, yaitu: derivat halogen
hidrokarbon (halotan, trikholroetilin, khloroform), derivat eter (dietil eter, metoksifluran,
enfluran, isofluran). Dan obat anestesia umum yang berupa gas, yaitu: nitrous oksida dan
siklopropan.

2.4.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Anestesi Umum5,6,7,8


2.4.4.1. Faktor Respirasi
Hal-hal yang mempengaruhi tekanan parsial zat anestetika dalam alveolus adalah:
Konsentrasi zat anestetika yang diinhalasi; semakin tinggi konsentrasi, semakin cepat
kenaikan tekanan parsial. Ventilasi alveolus; semakin tinggi ventilasi, semakin cepat kenaikan
tekanan parsial.
2.4.4.2. Faktor Sirkulasi
Saat induksi, konsentrasi zat anestetika dalam darah arterial lebih besar daripada darah vena.
Faktor yang mempengaruhinya adalah:
Perubahan tekanan parsial zat anestetika yang jenuh dalam alveolus dan darah vena. Dalam
sirkulasi, sebagian zat anestetika diserap jaringan dan sebagian kembali melalui vena.
Koefisien partisi darah/gas yaitu rasio konsentrasi zat anestetika dalam darah terhadap
konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan seimbang.Aliran darah, yaitu aliran
darah paru dan curah jantung.
2.4.4.3. Faktor Jaringan
Perbedaan tekanan parsial obat anestetika antara darah arteri dan jaringan. Koefisien partisi
jaringan/darah.
Aliran darah dalam masing-masing 4 kelompok jaringan (jaringan kaya pembuluh
darah/JKPD, kelompok intermediate, lemak, dan jaringan sedikit pembuluh darah/JSPD)
2.4.4.4. Faktor Zat Anestetika

12
Potensi dari berbagai macam obat anestetika ditentukan oleh MAC (Minimal Alveolus
Concentration), yaitu konsentrasi terendah zat anestetika dalam udara alveolus yang mampu
mencegah terjadinya tanggapan (respon) terhadap rangsang rasa sakit. Semakin rendah nilai
MAC, semakin poten zat anestetika tersebut.
2.4.4.5. Faktor Lain
Ventilasi, semakin besar ventilasi, semakin cepat pendalaman anestesi. Curah jantung,
semakin tinggi curah jantung, semakin lambat induksi dan pendalaman anestesia.Suhu,
semakin turun suhu, semakin larut zat anestesia sehingga pendalaman anestesia semakin
cepat.

2.4.5. Keuntungan Anestesi Umum5,6,7,8


- Mengurangi kesadaran pasien intraoperatif
- Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama
- Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi
- Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi local
- Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga
- Dapat diberikan dengan cepat.
- Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang.

2.4.6. Kekurangan Anestesi Umum5,6,7,8


- Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien.
- Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah, sakit tenggorokan,
sakit kepala, menggigil, dan memerlukan masa untuk fungsi mental yang normal.
- Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua) agen anestesi
umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan, hiperkarbia, asidosis
metabolik, dan hiperkalemia.

2.4.7. Indikasi Anestesi Umum5,6,7,8


- Infant dan anak usia muda
- Dewasa yang memilih anestesi umum
- Pembedahan luas
- Penderita sakit mental
- Pembedahan lama
- Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
- Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi local
- Penderita dengan pengobatan antikoagulan

2.5. Prosedur Anestesi Umum


2.5.1. Persiapan Pra Anestesi Umum
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan baik elektif maupun darurat
harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesi dan pembedahan sangat
dipengaruhi oleh persiapan pra anestesi. Kunjungan pra anestesi pada bedah elektif umumnya

13
dilakukan 1-2 hari sebelumnya, sedangkan pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih
singkat. 5,6,7,8
Tujuan kunjungan pra anestesi: 5,6,7,8
- Mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal dengan melakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lain.
- Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai keadaan fisik dan
kehendak pasien. Dengan demikian, komplikasi yang mungkin terjadi dapat ditekan
seminimal mungkin.
- Menentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik, dalam hal ini dipakai
klasifikasi ASA (American Society of Anesthesiology) sebagai gambaran prognosis pasien
secara umum.
a. Persiapan Pasien5,6,7,8
- Anamnesis
Anamnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri (autoanamnesis) atau melalui keluarga
pasien (alloanamnesis). Dengan cara ini kita dapat mengadakan pendekatan psikologis serta
berkenalan dengan pasien.
Yang harus diperhatikan pada anamnesis:
Identifikasi pasien, missal: nama, umur, alamat, pekerjaan, dll.
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin dapat menjadi penyulit
dalam anestesi, antara lain: penyakit alergi, diabetes mellitus, penyakit paru-paru kronik
(asma bronchial, pneumonia, bronchitis), penyakit jantung dan hipertensi (infark
miokard, angina pectoris, dekompensasi kordis), penyakit hati, dan penyakit ginjal.
Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin menimbulkan
interaksi dengan obat-obat anestetik. Misalnya kortikosteroid, obat antihipertensi, obat-
obat antidiabetik, antibiotika golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti
digitalis, diuretika, obat anti alergi, tranquilizer, monoamino oxidase inhibitor,
bronkodilator.
Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami diwaktu yang lalu, berapa kali, dan
selang waktunya. Apakah pasien mengalami komplikasi saat itu seperti kesulitan pulih
sadar, perawatan intensif pasca bedah.
Kebisaaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya anestesi
seperti: merokok dan alkohol.

- Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut,
lidah relative besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan
laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang keadaan umum tentu tidak boleh dilewatkan
seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua sistem organ tubuh pasien.

- Pemeriksaan Laboratorium
14
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit yang
sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin
walaupun pada pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil (Hb,
lekosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien di atas 50
tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto toraks. Praktek-praktek semacam ini harus
dikaji ulang mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat minimal uji-uji semacam
ini. Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium,
selanjutnya dibuat rencana mengenai obat dan teknik anestesi yang akan digunakan. Misalnya
pada diabetes mellitus, induksi tidak menggunakan ketamin yang dapat menimbulkan
hiperglikemia.
Pada penyakit paru kronik, mungkin operasi lebih baik dilakukan dengan teknik analgesia
regional daripada anestesi umum mengingat kemungkinan komplikasi paru pasca bedah.
Dengan perencanaan anestesi yang tepat, kemungkinan terjadinya komplikasi sewaktu
pembedahan dan pasca bedah dapat dihindari.

- Kebugaran Untuk Anestesi


Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar pasien dalam
keadaan bugar, sebaliknya pada operasi cito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.

- Masukan Oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi lambung dan kotoran
yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani
anestesia. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi
elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode tertentu
sebelum induksi anestesia. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam
dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi
anestesia. Minuman bening, air putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum
obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.

- Klasifikasi Status Fisik


Berdasarkan status fisik pasien pra anestesi, ASA (The American Society of Anesthesiologists)
membuat klasifikasi yang membagi pasien kedalam 5 kelompok atau kategori sebagai berikut:

ASA I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.


ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas
rutin terbatas.
ASA IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan
aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman
kehidupannya setiap saat.
ASA V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa

15
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat (cito) dengan mencantumkan tanda
darurat (E=emergency), misalnya ASA I E atau III E.

- Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia diantaranya :
Meredakan kecemasan dan ketakutan
Memperlancar induksi anestesia
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Meminimalkan jumlah obat anestetik
Mengurangi mual muntah pasca bedah
Menciptakan amnesia
Mengurangi isi cairan lambung
Mengurangi refleks yang membahayakan
Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seorang dihadapkan pada situasi yang tidak pasti.
Membina hubungan baik dengan pasien dapat membangun kepercayaan dan menenteramkan
pasien. Obat pereda kecemasan bisa digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam
sebelum induksi anestesia. Jika disertai nyeri karena penyakitnya, dapat diberikan opioid
misalnya petidin 50 mg intramuskular. 5,6,7,8
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. Untuk
meminimalkan kejadian diatas dapat diberikan antagonis reseptor H2 histamin misalnya oral
simetidin 600 mg atau oral ranitidin 150 mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi. 5,6,7,8

b. Persiapan Peralatan Anestesi5,6,7,8


- Mesin Anestesi
Fungsi mesin anestesi (mesin gas) ialah menyalurkan gas atau campuran gas anestetik
yang aman ke rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian dihisap oleh pasien dan
membuang sisa campuran gas dari pasien. Rangkaian mesin anestesi sangat banyak
ragamnya, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang diatur oleh computer. Mesin
yang aman dan ideal ialah mesin yang memenuhi persyaratan berikut:
Dapat menyalurkan gas anestetik dengan dosis tepat
Ruang rugi (dead space) minimal
Mengeluarkan CO2 dengan efisien
Bertekanan rendah
Kelembaban terjaga dengan baik
Penggunaannya sangat mudah dan aman
Komponen dasar mesin anestetik terdiri dari: 5,6,7,8
- Sumber O2, N2O, dan udara tekan.
Dapat tersedia secara individual menjadi satu kesatuan mesin anestetik atau dari sentral
melalui pipa-pipa. Rumah sakit besar bisaanya menyediakan O2, N2O, dan udara tekan

16
secara sentral untuk disalurkan ke kamar bedah sentral, kamar bedah rawat jalan, ruang
obstetrik, dll.

- Alat pantau tekanan gas (pressure gauge)


Berfungsi untuk mengetahui tekanan gas pasok. Kalau tekanan gas O2 berkurang, maka
akan ada bunyi tanda bahaya (alarm)
- Katup penurun tekanan gas (pressure reducing valve)
Berfungsi untuk menurunkan tekanan gas pasok yang masih tinggi, sesuai karakteristik
mesin anestesi.
- Meter aliran gas (flowmeter)
Untuk mengatur aliran gas setiap menitnya.
- Satu atau lebih penguap cairan anestetik (vaporizers)
Dapat tersedia satu, dua, tiga, sampai empat.
- Lubang keluar campuran gas (common gas outlet)
- Kendali O2 darurat (oxygen flush control)
Berfungsi untuk keadaan darurat yang dapat mengalirkan O2 murni sampai 35-37
liter/menit tanpa melalui meter aliran gas.
Tabung gas beserta alat tambahannya dan penguap diberi warna khusus untuk
menghindari kecelakaan yang mungkin timbul. Kode warna internasional yang telah
disepakati ialah:

Oksigen N2O Udara CO2 Halotan Enfluran Isofluran Desfluran Sevofluran


Putih Biru Putih- Abu-abu Merah Jingga Ungu Biru Kuning
hitam
kuning

- Sirkuit anestesi
Sirkuit anestesi atau sistem penghantar gas atau sistem anestesi ialah alat yang bukan saja
menghantarkan gas atau uap anestetik dan oksigen dari mesin ke jalan napas atas pasien,
tetapi juga harus sanggup membuang CO2 dengan mendorongnya dengan aliran gas
segar atau dengan menghisapnya dengan kapur soda.
Sirkuit anestesi umumnya terdiri dari:
- Sungkup muka, sungkup laring, atau pipa trakea
- Katup ekspirasi dengan per atau pegas (expiratory loaded spring valve, pop-off valve,
APL, adjustable pressure limiting valve)
- Pipa ombak, pipa cadang (corrugated tube, reservoir tube)
Bahan karet hitam (karbon) atau plastic transparent anti static, anti tertekuk.
- Kantong cadang (reservoir bag)
- Tempat masuk campuran gas anestetik dan O2 (fresh gas inlet).
Untuk mencegah terjadinya barotraumas akibat naiknya tekanan gas yang mendadak
tinggi, katup membatasi tekanan sampai 50 cm H2O.
- Sungkup Muka

17
Pemakaian sungkup muka berguna untuk menyalurkan oksigen atau gas anestesi ke
pasien. Terdapat beberapa jenis sungkup. Dengan sungkup trasparan berguna untuk
obervasi kelembapan udara yang diekshalasi dan mengetahui jika pasien muntah.
Sungkup karet hitam dapat digunakan untuk mengadaptasi struktur muka yang tidak
biasa.
Ventilasi efektif memerlukan baik sungkup yang kedap udara dan jalan nafas yang baik.
Teknik sungkup muka yang salah dapat berakibat deflasi yang berkelanjutan pada
reservoir bag saat katup tekanan ditutup, bisaanya mengindikasikan adanya kebocoran di
sekitar sungkup. Sebaliknya pembentukan tekanan pernapasan yang tinggi dengan
gerakan dada minimal dan suara pernafasan menandakan obstruksi jalan nafas. 5,6,7,8
Sungkup dipegang melawan muka dengan tekanan ke bawah pada badan sungkup
dilakukan dengan jempol kiri dan jari telunjuk. Jari tengah dan manis memegang
mandibula untuk membantu ekstensi sendi atlantooksipital. Jari kelingking diletakkan di
bawah sudut rahang dan digunakan untuk menahan dagu ke depan, maneuver paling
penting untuk ventilasi pasien. 5,6,7,8
- Endotracheal tube (ETT)
ETT dapat digunakan untuk memberikan gas anestesi secara langsung ke trakea dan
memberikan ventilasi dan oksigenasi terkontrol. Bentuk dan kekerasan ETT dapat diubah
dengan stilet. Resistensi terhadap aliran udara tergantung pada diameter tabung, tetapi
juga dipengaruhi oleh panjang tabung dan kurvatura. Ukuran ETT yang digunakan pada
wanita dewasa diameter internal 7-7.5 mm dengan panjang 24 cm. pada pria dewasa
diameter internal 7.5-9 mm dengan panjang 24 cm. 5,6,7,8
- Sungkup laring (Laringeal mask airway = LMA)
LMA digunakan untuk menggantikan sungkup muka atau ETT saat pemberian anestesi,
untuk membantu ventilasi dan jalur untuk ETT pada pasien dengan jalan nafas sulit dan
membantu ventilasi saat bronkoskopi. Pemakaian LMA memerlukan anestesi lebih kuat
dibandingkan dengan insersi jalan nafas oral. Kontraindikasi LMA pada pasien dengan
patologi faring seperti abses, obstruksi faring, perut penuh seperti hamil atau komplians
paru rensah seperti penyaki jalan nafas restriktif.

2.6. Teknik Anestesia5,6,7,8


2.6.1.Teknik anestesia nafas spontan dengan sungkup muka
Indikasi:
Untuk tindakan yang singkat (30-60 menit) tanpa membuka rongga perut
Keadaan umum pasien cukup baik (ASA 1 atau 2)
Lambung harus kosong

18
Obat yang biasa dipersiapkan lebih dahulu. Tiopental 2.5% (dosis 4-6mg/kgBB). Selalu
diperhatikan agar tidak menyuntik diluar vena. Kalau ada segera hentikan penyuntikan dan
mencari vena lain. Tingkat kedalaman anestesia dinilai dari refleks bulu mata. Tiopental
disuntik sampai refleks ini hilang. Cadangan tiopental harus selalu disediakan untuk
ditambahkan kalau ternyata dosis awal tidak mencukupi.

2.6.2.Teknik anestesi spontan dengan pipa endotrakea


Pipa endotrakea dapat dimasukan melalui oro atau nasotrakea. Rata-rata yang digunakan no.
7.5 untuk pipa orotrakea dan no.7 untuk pipa nasotrakea. Untuk anak ukuran ini rata-rata
sebesar jari kelingking.
Indikasi:
Operasi lama, kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada anestesia dengan sungkup
muka. Persiapan obat: selain tiopental harus disediakan obat pelemas otot jangka pendek:
suksinil-kolin 2% dan pelemas otot jangka panjang: pavulon 4mg/ampul atau alkuronium
(alloferin) 10 mg/ampul.

2.6.3.Teknik anestesi dengan pipa endotrakea dan nafas kendali


Nafas dikendalikan secara manual atau dengan respirator. Bila menggunakan respirator setiap
inspirasi (volume tidal) diusahakan 10ml/kgBB dengan frekuensi 10/14 per menit. Apabila
nafas dikendalikan secara manual harus diperhatikan pergerakan dada kanan kiri yang simetris.

2.6.4.Ekstubasi
Mengangkat keluar pipa endotrakea harus mulus dan tidak disertai batuk dan kejang otot yang
dapat menyebabkan gangguan nafas, hipoksia sianosis. Ekstubasi dapat dilakukan dengan
menunggu pasien sampai sadar betul atau menunggu sewaktu pasien masih dalam keadaan
anestesi yang agak dalam. Dengan cara terakhir dihindarkan reaksi spasme kejang otot perut,
dada dan jalan nafas.

2.7. Anastesi Pada Pembedahan Brakial


Operasi brakial mungkin bisa secara terbuka atau dengan arthroscopic. Prosedur ini jarang
dilakukan secara posisi duduk (beach chair) atau kurang umum, posisi lateral dekubitus. Posisi
kursi pantai mungkin berhubungan dengan penurunan perfusi serebral yang diukur dengan
oxymetri; kasus kebutaan, stroke, dan bahkan kematian otak telah dijelaskan, menekankan
kebutuhan secara akurat mengukur tekanan darah pada tingkat orak. Saat meenggunakan
pemantauan tekanan darah non invasive, manset harus diterapkan pada lengan atas karena

19
pembacaan tekanan darah sistolik dari betis dapat 40mmHg lebih tinggi dari pembacaan
brakialis pada pasien yang sama. Jika dibedah diminta hipotensi dikendalikan, dianjurkan
pasang infus untuk monitoring tekanan darah yang invasive, dan transduser harus diposisikan
setinggi jantung atau lebih baik, batang otak (meatus externa dari telinga).
Blok Plexus brakialis yang tidak sama menggunakan ultrasound atau rangsangan listrik sangat
ideal untuk prosedur brakial. Pendekatan supraclavicular juga dapat digunakan. Bahkan ketika
anestesi umum digunakan, sebuah blok interscalene dapat suplemen anestesi dan
memberikan analgesia pasca operasi yang efektif. Intensitas relaksasi otot biasanya diperlukan
untuk operasi brakial yang besar selamat anestesi umum, terutama bila tidak dikombinasikan
dengan blok plexus brakialis.
Pra operatif dimasukan dari tempat infus perineural dengan infus berikutnya dari larutan
anestesi lokal memungkinkan analgesia pasca operasi selama 48-72 jam dengan sebagian
besar penampungan tetap suntik dipoma mengikuti arthroscopic atau operasi brakial secara
terbuka. Dengan kata lain, ahli bedah dapat memasukan infus akromial untuk memberikan
anestesi lokal secara terus menerus dari analgesia post operatif. Penempatan langsung infus
intraartikular ke dalam glenohumeral sendi dengan infus bupivacain telah dikaitkan dengan
post arthroscopic glenohumeral chondrolysis dalam studi retrospektif manusia dan hewan dan
saat ini tidak direkomendasikan. Anestesi multimodal, termasuk NSAIDs sistemik (jika tidak
ada kontraindikasi) dan infus anestesi lokal pada periode perioperatif, dapat membantu
mengurangi kebutuhan opioid post operatif.

2.8. Anastesi Umum Pada Pembedahan Ortopedi Khususnya ORIF


Anastesi merupakan tindakan menghilangkan rasa nyeriatau sakit secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali, dan komponen trias ideal anastesi, hipnotik,
analgesi, dan relaksasi otot. Pada pembedahan ortopedi, ORIF (Open Reduction Internal
Fixation) yang mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang diperlukan
untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal dengan sekrup dan piring untuk mengaktifkkan
atau memfasilitasi penyembuhan. 5,6,7,8
Penggunaan anastesi umum pada ORIF (Open Reduction Internal Fixation) merupakan
pilhan untuk anastesi yang adekuat pada tindakan pembedahan yang memerlukan tindakan
yang lama, mengurangi kesadaran pasien intraoperatif, dapat disesuaikan dengan mudah untuk
prosedur durasi tak terduga, memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan
sirkulasi, seperti pada ORIF yang dilakukan pemasangan K-Wire pada Neglegted Galleazi
Fracture.5,6,7,8
Indikasi penggunaan anastesi umum pada ORIF (Open Reduction Internal Fixation),
apabila pasien tidak menolak penggunaan anastesi umum, pembedahan pada ekstremitas atas.

20
Fraktur yang direposisi tapi sulit dipertahankan (fraktur Galleazi, fraktur antebrachii). Fraktur
yang dengan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi. mobilisasi dini tanpa
fiksasi luar, kelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur, kesempatan untuk memeriksa pembuluh
darah dan saraf disekitarnya, stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai, perawatan di
RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi, potensi untuk mempertahankan fungsi
sendi yang mendekati normal serta kekuatan otot selama perawatan fraktur. 5,6,7,8
Kekurangan anestesi umum, memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi
pasien, terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah, sakit
tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan memerlukan masa untuk fungsi mental yang normal,
terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua) agen anestesi umum
menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan, hiperkarbia, asidosis metabolik,
dan hiperkalemia. Setiap anstesi dan operasi mempunyai risiko komplikasi bahkan kematian
akibat dari tindakan tersebut.
Pada tindakan ORIF (Open Reduction Internal Fixation) pada Neglegted Galleazi
Fracture terdapat resiko yang dapat terjadi diantaranya, penanganan operatif memperbesar
kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan gips atau traksi, penggunaan stabilissi logam
interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri, pembedahan itu sendiri merupakan trauma
pada jaringan lunak, dan struktur yang sebelumnya tidak mengalami cedera mungkin akan
terpotong atau mengalami kerisakan selama tindakan operasi.

21
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. Y. W
Umur : 34 tahun
/Alamat : Polimak I
BB : 65 Kg
TB : 165 cm
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Mahasiswa
Ruangan : Ortopedi
Tanggal masuk rumah sakit : 23 Mei 2016
Tanggal operasi : 25 Mei 2016

3.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Lengan bawah tangan sebelah kiri terasa nyeri dan bengkak.

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien merupakan kiriman dari poli ortopedi RSU Dok II dengan neglected Galeazzi
fracture sinistra. Pasien memiliki riwayat jatuh 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dengan
posisi tangan kiri menyangga tubuh pasien saat terjatuh. Setelah terjatuh pasien tidak langsung
memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Pasien akhirnya memeriksakan diri ke poli ortopedi
karena tangan kiri yang digunakan untuk menyangga tubuh pasien saat jatuh masih tetap terasa
nyeri dan membengkak.

Riwayat Penyakit Sebelumnya :


Hipertensi (-), Asma (-), DM (-), penyakit jantung (-), riwayat alergi obat (-).

Riwayat Penyakit Keluarga:


Dalam keluarga tidak ada yang menderita keluhan seperti pasien.
Riwayat Obat Yang Diminum:
Riwayat mengkonsumsi obat-obatan disangkal oleh pasien.

Riwayat Alergi:
Riwayat alergi makanan dan obat-obatan disangkal oleh pasien.

22
Riwayat Anestesi dan Pembedahan Sebelumnya:
Pasien belum pernah menjalani operasi dan belum pernah menggunakan obat-obatan anestesi
sebelumnya.

3.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 65 kg

Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 82 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu badan : 36.50C
Kepala : Mata : Conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-
Hidung : Deformitas (-)
Telinga : Deformitas (-)
Mulut : Deformitas (-), mallampati I
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thoraks : Paru : Suara napas vesikuler, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada,
Jantung : Bunyi jantung I-II reguler, gallop tidak ada, murmur tidak ada
Abdomen : Cembung, supel, bising usus (+), hepar dan lien tidak teraba membesar
Ekstremitas : Akral hangat, edema ada dilengan kiri bagian bawah

Status Lokalis
Regio Antebrachii Sinistra
Inspeksi : Tampak terbungkus verban, rembesan (-), udem (+), deformitas (+)
Feel : Nyeri (+)
Move : Gerak aktif terbatas

3.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium

Darah Lengkap 19 Mei 2016


Hemoglobin 15,7 g/dl
Leukosit 5.220/mm3
Trombosit 241.000/mm3
CT 830
BT 230

23
Foto Rontgen AP/Lateral

3.5 Status Anestesi


3.5.1 Persiapan Anestesi
Informed consent, Surat Ijin Operasi, Persiapan darah (1 kantong), pasang IV line dan
pastikan IV line mengalir dengan lancar, ganti baju, transportasi, pasang monitor, dan
dilaporkan ke supervisor.

3.5.2 Laporan Anestesi

PS. ASA : I
Hari/Tanggal : 25/05/2016
Ahli Anestesiologi : dr. A. Sp.An
Ahli Bedah : dr. F
Diagnosa Pra Bedah : Neglected Galeazzi Fracture Sinistra
Diagnosa Pasca Bedah : Neglected Galeazzi Fracture Sinistra

Keadaan Pra Bedah


KU : Tampak baik
Makan terakhir : 10 jam yang lalu
TB : 165 cm
BB : 65 Kg
TTV : TD :120/70 mmHg, N: 82 x/m, SB: 36,5oC
SpO2 : 100 %
B1 Airway bebas, thorax simetris, ikut gerak napas, RR: 20 x/m,
: perkusi: sonor, suara napas vesikuler +/+, ronkhi-/-, wheezing
-/-, malampati score : I

24
B2 Perfusi: hangat, kering, merah. Capilarry Refill Time < 2
:
detik, BJ: I-II murni regular, konjungtiva anemis -/-
B3 Kesadaran Compos Mentis, GCS: 15 (E4V5M6), riwayat
:
kejang (-), riwayat pingsan (-)
B4 Terpasang DC, produksi urin pre op 200 cc, warna kuning
:
jernih.
B5 Perut tampak datar, nyeri tekan (-), BU (+) normal, hepar dan
:
lien tidak teraba membesar
B6 Akral hangat (+), edema (+) diregio antebrachii sinistra,
:
fraktur galeazzi sinistra (+)

Medikasi Pra Bedah : 3. Sedacum 3 ml


4. Fentanil 100 ml
Jenis Pembedahan : Pemasangan internal fiksasi

Lama Operasi : 2 jam 20 menit (09.30-11.50 WIT)

Jenis Anestesi : General Anestesi

Anestesi Dengan : Isoflurance 2%


Teknik Anestesi : Pasien ditidurkan preoksigenasi 5 menit induksi
intubasi apnea pasang ETT no. 7.5 cuff (+) dada
terangkat kiri dan kanan
Pernafasan : Controlled Respiration

Posisi : Tidur terlentang

Infus : Tangan Kanan, IV line abocath 18 G, cairan RL

Penyulit pembedahan : -
Tanda vital pada akhir : TD: 130/80 mmHg, N:80 x/m, SB: 36,7, RR: 18 x/m, SpO2:
pembedahan 99%
Medikasi : Durante operasi:
- Fentanil 50 mg
- Recofol 70 mg
- Dexamethason 10 ml
- Ondansentron 4 ml
- Ranitidin 50 mg
- Recofol 30 mg

3.6 Observasi Durante Operasi


3.6.1. Observasi Tekanan Darah dan Nadi

25
Gambar. Diagram Observasi Tekanan Darah dan Nadi

3.6.2. Balance Cairan


Waktu Input Output
Pre operasi RL : 1000 cc IWL : 650 cc
Urin : 100 cc
Durante operasi RL : 500 cc Urin : 200 cc
Gelofussion : 500 cc Perdarahan : 200 cc

Total 2000 cc 1150 cc

3.7 Terapi Cairan Perioperatif


Pasien laki - laki 23 tahun dengan BB 65 kg dan TB 165 cm
3.7.1. Pre Operatif
1. Kebutuhan:
Maintenance dan replacement (puasa 10 jam):
Cairan:
40-50 cc/kgBB/hari 2600 32500 cc/hari
108 -135 cc/jam
1080 1350 cc/10 jam
Dapat diberikan RL 1000-1500 cc.
2. Aktual cairan yang diberikan : RL 1000 cc

3.7.2. Durante Operatif


1. Kebutuhan
Urin 200 cc, perdarahan 200 cc, IWL 650 cc

26
- Dehidrasi ringan : 3-5% x BB = 195 325 cc
- Pemeliharaan (operasi sedang) = 6 cc/kgBB/jam = 390 cc/jam
- EBV = 70 x kgBB (65 kg) 4550 cc
- EBL = 10% x EBV = 455 cc
- Replacement : EBV = 2-4 x EBL = 910 1820 cc
2. Aktual Cairan yang diberikan: RL 500 cc + Gelofussion 500 cc = 1000 cc
Sudah mengganti jumlah yang hilang selama operasi

3.7.3. Post Operative


1. Kebutuhan:
Maintenance:
- Cairan : 40 -50 cc/kgBB/hari = 2600 -3250 cc/hari
- Natrium : 2-4 mEq/kgBB/hari = 130 - 260 mEg/hari
- Kalium : 1-3 mEq/kgBB/hari = 65 - 195 mEq/hari
- Kalori : 25 mg/kgBB/hari = 1625 kkal/hari
2. Actual cairan yang diberikan: RL 1500 cc/hari

3.8 Follow Up Post Operatif


Tanggal Pemeriksaan Planning
26/05/2016 S: Nyeri pada luka bekas operasi - IVFD RL/8 jam
O: - Inj. Metronidazole 3x500 mg
B1 : airway bebas, nafas spontan, RR - Inj. Ceftiakson 2 x 1 gr
20x/menit, suara napas vesikuler, ronki -/-, - Inj. Ketorolac 3x1 amp
wheezing -/-
B2: perfusi hangat(+), kering(+), pucat(-),
CRT<2, TD 120/80 mmHg, Nadi
80x/menit, kuat angkat, regular, conjuntiva
anemis (-).
B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, pupil
bulat isokor ODS 3 mm
B4; Tidak Terpasang DC, produksi urine
(+) warna kuning jernih. Urine tidak
ditampung, frekuensi BAK normal.
B5: Abdomen datar, BU (+), supel, NT (-)
B6 : edema (-), fraktur (+) 1/3 distal tibia et
fibula sinistra, tterbalut verban, rembesan
(-), nyeri (+), gerak aktif terbatas
27
A: Post pemasangan ORIF pada neglected
fracture galeazzi sinistra
27/05/2016 S: Nyeri pada luka bekas operasi - IVFD RL/8 jam
O: - Inj. Metronidazole 3x500 mg
B1 : airway bebas, nafas spontan, RR - Inj. Ceftiakson 2 x 1 gr
20x/menit, suara napas vesikuler, ronki -/-, - Inj. Ketorolac 3x1 amp
wheezing -/-
B2: perfusi hangat, kering, pucat, CRT<2, Pasien Boleh Pulang
TD 120/80 mmHg, Nadi 88x/menit, kuat
angkat, regular, conjuntiva anemis (-).
B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, pupil
bulat isokor ODS 3 mm
B4; Tidak Terpasang DC, produksi urine
(+) warna kuning jernih. Urine tidak
ditampung, frekuensi BAK normal.
B5: Abdomen datar, BU (+), supel, NT (-)
B6 : edema (-), fraktur (+) 1/3 distal tibia et
fibula sinistra, tterbalut verban, rembesan
(-), nyeri (+), gerak aktif terbatas

A: Post pemasangan ORIF pada neglected


fracture galeazzi sinistra

28
BAB IV
PEMBAHASAN

Seorang pasien, laki-laki usia 34 tahun pada kasus diatas akan dilakukan tindakan
pemasangan internal fiksasi dengan General Anestesi. Berdasarkan pemeriksaan preoperative, pasien
tergolong pada PS ASA I sesuai dengan klasifikasi penilaian status fisik menurut The American
Society of Anesthesiologist. Pasien dengan PS ASA I adalah pasien yang tidak memiliki gangguan
organic, biokimia, dan psikiatrik. Ini disimpulkan karena dari pemeriksaan preoperative diketahui
bahwa pasien dalam keadaan stabil dan tidak didapatkan adanya gangguan sistemik yang dapat
mengganggu proses operasi dan anestesi.
Pada pasien ini kemudian dilakukan tindakan pemasangan K_WIRE dibawah anestesi umum
dengan mengunakan inhalasi isofluran 2%. Anestesi umum/general anestesi dipilih dengan
pertimbangan kemungkinan tindakan pembedahan yang akan berlangsung lama dan pembedahan pada
pasien ini tidak dapat menggunakan anestesi local karena tidak praktis dan ditakutkan hasil anestesi
yang diharapkan tidak akan memuaskan. Selain itu General Anastesi pada pembedahan memiliki
beberapa keuntungan yaitu pasien menjadi tidak sadar sehingga mencegah kesakitan selama prosedur
medis berlangsung, efek amnesia meniadakan memori buruk pasien yang didapat akibat ansietas dan
berbagai kejadian intraoperative yang mungkin memberikan trauma psikologis, serta memungkinkan
dilakukannya prosedur yang memakan waktu yang lama.
Untuk tatalaksana anestesi pada kasus ini, digunakan anestesi umum dengan inhalasi dan
intravena. Untuk anestesi inhalasi digunakan Isofluran 2%. Isofluran merupakan salah satu halogenasi
eter yang sering digunakan. Obat ini bekerja menekan pernapasan dan kurang mempunyai pengaruh
menekan jantung, dan tidak mencetuskan disritmia. Obat ini juga hanya dimetabolisme sebanyak
0,2%, sehingga tidak menimbulkan toksisitas yang bermakna pada hepar atau ginjal. Setelah induksi,
obat anestesi intravena juga diberikan untuk rumatan anestesi diantaranya fentanil dan propofol
(recofol). Rumatan anestesi ini mengacu pada trias anestesi yaitu tidur ringan (hypnosis), analgesia
cukup, dan diusahakan selama pembedahan pasien tidak mengalami nyeri dan diharapkan relaksasi
otot lurik yang cukup. Fentanil sebagai opioid diberikan dengan harapan akan menyebabkan pasien
tidur dengan analgesia yang cukup dan pemberian Propofol pada pasien ini diberikan untuk
memberikan efek sedative dengan cepat.
Selain penentuan pemilihan anestesi pada pasien ini, juga dipertimbangkan mengenai terapi
cairan selama masa perioperative. Terapi cairan sendiri adalah tindakan untuk memelihara, mengganti
cairan tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus krsitaloid atau koloid secara intravena.
Dengan mempertimbangkan hal diatas dan berdasarkan perhitungan kebutuhan cairan
preoperative untuk maintenance dan sekaligus untuk mengganti deficit selama puasa 10 jam
dibutuhkan 1080 1350 cc/10 jam, maka dapat dilakukan terapi cairan untuk resusitassi dengan
cairan Ringer Laktat 1000 1500 cc sebelum pembedahan sehingga pemberian cairan pre operatif
berupa cairan RL 1000 cc cepat dan tepat.

29
Operasi pemasangan K_WIRE pada pasien dijalani selama 2 jam 20 menit dengan total
perdarahan 200 cc. perkiraan volume darah pada pasien (Estimaed Blood Volume/EBV) adalah 70 cc x
65 kg yaitu 4550 cc, sehinngga jumlah kehilangan darah (Estimated Blood Loss/EBL) sekitar 10%
dari EBV = 10% x 4550 cc yaitu 455 cc. Jika dijumlahkan dengan jumlah urin yang keluar selama
operasi sebesar 200 cc dan IWL pasien 650 cc, maka pemberian actual cairan yang diberikan pada
pasien selama durante operasi berupa cairan kristaloid RL 500 cc dan Gelofussion 500 cc dapat
dikatakan sudah cukup untuk menggantikan kehilangan cairan pada pasien selama proses operasi.
Setelah operasi, pasien diobservasi diruang pemulihan dan dipindahkan ke ruang perawatan
ortopedi. Aktualnya pasien sudah diperbolehkan makan sedikit-sedikit 6 jam post operasi, sehingga
kebutuhan cairan dan kalori dapat terpenuhi bukan hanya dari cairan infus tetapi juga melalui
konsumsi per oral. Kebutuhan cairan pasien ini adalah 2600-3250 cc/hari dengan kebutuhan Natrium
130 - 260 mEg/hari, Kalium 65 - 195 mEq/hari, dan Kalori 1625 kkal/hari. Yang perlu diperhatikan
adalah bahwa stress pembedahan menyebabkan pelepasan Aldosteron dan ADH sehingga terjadi
kecenderungan tubuh untuk menahan air dan Natrium. Penggunaan cairan intravena diharapkan dapat
menunjang pemenuhan kebutuhan cairan dan kalori disamping melalui intake oral. Actual cairan yang
diberikan pada pasien berupa Ringer Laktat 1500 cc/hari. Ringer Laktat yang diberikan pada pasien
ini mengandung 130 mEq Natrium sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan Natrium, karena
tidak terdapatnya cadangan Natrium dalam tubuh. Walaupun pemberian cairan intravena ini diberikan
untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pasien, namun tetap saja harus didukung dengan
intake oral yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori perhari.

30
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serat pemeriksaan penunjang didapatkan diagnosis
neglected fracture Galeazzi sinistra yang direncanakan dilakukan tindakan pemasangan
K_WIRE dengan general anestesi.
Pemilihan anestesi ini sudah sesuai indikasi, yaitu untuk pembedahan yang diperkirakan
kemungkinan akan memakan waktu yang lama.
Pasien diklasifikasikan ke dalam PS ASA I karena pada pasien ini berdasarkan pemeriksaan
preoperative dalam keadaan stabil dan tidak ditemukan gangguan organic, fisiologis,
biokimia, dan psikiatrik.
Resusitasi dan terapi cairan perioperative kurang lebih telah memenuhi kebutuhan cairan
perioperative pada pasien ini, terbukti dengan stabilnya hemodinamik durante dan post
operative.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Schiwatch, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran; 2000.
2. Reksoprodjo S. Buku Kumpulan Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Binarupa Aksara; 2010.
3. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran; 2004.
4. Anonim. BAB I PENDAHULUAN. [serial online] 2010. [Diunduh 09 Oktober 2014]. Tersedia
dari: URL: http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/147/jtptunimus-gdl-lutfilkhak-7335-1-babi.pdf
5. Anestesi [Internet]. 2015. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Anestesi
6. dr. Mangku Gede, Sp.An.KIC., dr. Senapathi T.G.A. Sp.An., Buku Ajar Ilmu Anestesi dan
Reanimasi. Jakarta. PT Indeks. 2010.
7. Latief Said, Suryadi Kartini, Dachlan Ruswan. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua.
Jakarta. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2010.
8. Muhiman Muhardi, Thaib Roesli, Sunatrio, Dachlan Ruswan. Anestesiologi. Jakarta. Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2004
9. Pradana A, Usyinara. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Aesculapius; 2009
10. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif Watampone; 2007.
11. Solomon L, Apley AG. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Edisi Ke-7. Jakarta: Widya
Medika; 1995.
12. Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong, Wim (Editor). 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta:
EGC.
13. Supardi Sabroto. Ortopedi. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, 2009. Jakarta. Penerbit: Bagian Ilmu
Bedah Universitas Indonesia.

32