Anda di halaman 1dari 19

TUTORIAL

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat kepanitraan klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Bethesda pada Program Pendidikan Dokter tahap Profesi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Disusun oleh:
Alfeus Grady Christnawan
42160027

Pembimbing:
dr.Arin Dwi Iswarini, Sp.THT-KL, M.Kes

KEPANITRAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT BETHESDA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2017
I. IDENTITAS
Nama : Ny. WN
Usia : 51 tahun
Alamat : Babadan RT 04/17, Banguntapan, Bantul
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Periksa : 8 Mei 2017

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri wajah sebelah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan nyeri pada bagian wajah sebelah kiri sejak 2 minggu terakhir,
nyeri dirasakan khususnya pada bagian hidung, pipi, dan bawah mata. Selain nyeri pada
bagian wajah tersebut, pasien juga mengeluhkan bersin bersin yang dirasakan 3 hari
berturut turut sebelum nyeri pada wajah dirasakan.

Riwayat Penyakit Dahulu


o Asma :+
o Maag :+
o Hipertensi :-
o Jantung :-
o Stroke :-
o DM :-
o Riwayat trauma kepala :-
o Keluhan serupa :-
o Riwayat alergi : + (Tetracyclin)
Lifestyle
o Pola makan teratur 3x sehari
o Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol

1
III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : CM

Status Gizi : Cukup

Tanda Vital

Tekanan Darah : 110/50 mmHg

Nadi : 78x/menit

Respirasi : 18x/menit

Suhu : 360C

STATUS GENERALIS

A. Kepala
o Ukuran Kepala : Normocephali
o Mata : Konjungtiva Anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), injeksi
konjungtiva (-/-), reflek pupil isokor, reflek cahaya (+/+), gerakan bola mata baik
ke segala arah.
B. Leher
o Pembesaran limfonodi (-), nyeri tekan (-)
C. Thorax
o Inspeksi : Bentuk dinding dada normal, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
o Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC 5, linea midcavicula sinistra, fremitus dada
kanan-kiri sama.
o Perkusi : sonor (+/+), kontur jantung dalam batas normal, kardiomegali (-),
o Auskultasi: suara napas vesikuler (+/+), rhonki -/-, wheezing -/-, suara jantung S1-
2 reguler, bising (-)
D. Abdomen
o Inspeksi : Distensi (-) supel
o Auskultasi : bising usus (+)
o Perkusi : Timpani di seluruh regio
o Palpasi : Hepar tidak teraba. Lien tidak teraba, Nyeri tekan (-)

2
E. Ekstremitas
o Atas : akral teraba hangat, perabaan nadi teraba kuat, capillary refill <2 detik
o Bawah : akral teraba hangat, perabaan nadi teraba kuat, capillary refill <2 detik

STATUS LOKALIS
Keterangan Dextra Sinistra
TELINGA
Auricula Deformitas (-), benjolan/massa (-), Deformitas (-), benjolan/massa (-),
lesi kulit (-), discharge yang keluar (- lesi kulit (-),discharge yang keluar (-
), nyeri tekan tragus (-), fistula pre ), nyeri tekan tragus (-), fistula pre
aurikula (-), nyeri tekan auricular (-) aurikula (-),nyeri tekan auricular (-)

Meatus Akustikus Edema (-), furunkel (-), serumen (+), Edema (-), furunkel (-), serumen (-),
Externus corpus alineum (-) corpus alineum (-)
Membran Membran timpani utuh, retraksi (-), Membran timpani utuh, retraksi (-
Timpani hiperemis (-) ),hiperemis (-)
Mastoid Edema (-), nyeri ketok (-) Edema (-), nyeri ketok (-)

HIDUNG
Dorsum Nasi Deformitas (-), krepitasi (-), bekas jejas (-)
Cavum Nasi Discharge (+) Discharge (+)

Rhinoskopi Anterior
Vestibulum Nasi Discharge (+), edema (-), hiperemis (-)
Septum Nasi Deviasi septum (-), perforasi (-)
Edema (-), hiperemis (-), Edema (-), hiperemis (-), discharge (+)
Meatus Nasi Inferior discharge (+)
Edema (-), hiperemis (+), Edema (-), hiperemis (+), hipertrofi (+)
Konka Inferior
hipertrofi (-)
Hiperemis (-), discharge (+), Hiperemis (-), discharge (+), polip (-)
Meatus Nasi Media polip (-) dan telihat pucat , dan terlihat pucat, edema (-)
edema (-)

3
Edema (-), hiperemis (+), Edema (-), hiperemis (+), hipertrofi (+)
Konka Media
hipertrofi (+)
Rhinoskopi Posterior : Tidak dilakukan pemeriksaan
SINUS PARANASAL
Inspeksi Eritem (-), edema (-) Eritem (-), edema (+)
Perkusi Nyeri ketok (-) Nyeri ketok (+)
Transluminasi (-) (+)

CAVUM ORIS-TONSIL-FARING
Bibir Bibir sianosis dan kering (-), stomatitis (-)
Mukosa Oral Stomatitis (-), warna merah muda
Gusi dan Gigi Warna merah muda, karies dentis (-), ulkus (-)
Lingua Simetris, atrofi papil (-), lidah kotor (-), ulserasi(-)
Atap mulut Ulkus (-)
Dasar Mulut Ulkus (-)
Uvula Tidak ada deviasi pada uvula, hiperemis (-)
Tonsila Palatina Tonsil hiperemis (-), detritus (-) Tonsil hiperemis (-), detritus (-)

Faring Hiperemis (-), discharge (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tes Penala
Pemeriksaan AD AS
Rinne (+) (+)
Weber Tidak terdapat lateralisasi
Scwabach Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

Kesan : Normal

4
MSCT

Ro:

Recessus faringeus tampak terbuka, simetris kanan kiri, tidak tampak tegas
adanya soft tissue massa pada dinding cavum Nasofarings maupun atap na
sofarings.
Atap nasofarings dan ossea basis cranii tampak intact, tidak tampak adanya
destruksi infiltrasi malignancy. Lnn Faringeal tidak tampak prominen,
Septum nasalis ditengah , tidak lurus dengan penebalan krista septi.
Penebalan dan iregularitas mukosa cavum nasi dengan conchae nasi tampak
prominen,
Opacitas dengan fluid level pada sinus maxillaris dan ethmoidalis sinistra.
SPN yang lain tampak bersih, tidak tampak adanhya fluid collection

KESAN:
MSCT SPN : Rhino-sinusitis maxillo-ethmoidalis sinistra.

5
V. DIAGNOSIS BANDING
Sinusitis
Rhinitis Alergica

VI. DIAGNOSIS
Rhinosinusitis os maxilla et ethmoidalis sinistra

VII. TERAPI
OPERATIF
1. Caldwell Luc
FARMAKOLOGI
1. Clyndamicin 3x1 Tab 300 mg
2. Ambroksol 2x1 Tab 30mg
3. Pseudoefedrin HCL 4x1 Tab 60mg
4. Kalmetason 3x2 Tab 0,5mg
5. Natrium Diklofenak 2x1 Tab 50mg
6. Ranitidin 2x1 Tab 150mg
7. Saline Nasal Spray

NON FARMAKOLOGI
1. Edukasi pasien untuk mengkonsumsi obat-obat yang diberikan dengan teratur.
2. Edukasi pasien untuk dapat sering menggunakan masker saat hendak
beraktifitas.
3. Edukasi pasien untuk banyak beristirahat, untuk meningkatkan daya tahan
tubuh.

VIII. PLANNING
1. Pemeriksaan sinoskopi
2. Off Tampon setelah 32-76 jam

6
DASAR TEORI

1. Anatomi Sinus Paranasal

Sinus paranasal terdiri dari empat pasang, yaitu sinus frontal, sinus etmoid, sinus
maksila, dan sinus sfenoid. Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang
bulan IV dan tetap berkembang selama masa anak-anak. Pembentukannya dimulai sejak di
dalam kandungan, akan tetapi hanya ditemukan dua sinus ketika baru lahir yaitu sinus maksila
dan etmoid. Sehingga tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak belum terdapat sinus
frontalis karena belum terbentuk. Sinus frontal mulai berkembang dari sinus etmoid anterior
pada usia sekitar 8 tahun dan menjadi penting secara klinis menjelang usia 13 tahun, terus
berkembang hingga usia 25 tahun. Pada sekitar 20% populasi, sinus frontal tidak ditemukan
atau rudimenter, dan tidak memiliki makna klinis. Sinus sfenoidalis mulai mengalami
pneumatisasi sekitar usia 8 hingga 10 tahun dan terus berkembang hingga akhir usia belasan
atau dua puluhan.

Dinding lateral nasal mulai sebagai struktur rata yang belum berdiferensiasi.
Pertumbuhan pertama yaitu pembentukan maxilloturbinal yang kemudian akan menjadi konka
inferior. Selanjutnya, pembentukan ethmoturbinal, yang akan menjadi konka media, superior
dan supreme dengan cara terbagi menjadi ethmoturbinal pertama dan kedua. Pertumbuhan ini
diikuti pertumbuhan sel-sel ager nasi, prosesus uncinatus, dan infundibulum etmoid. Sinus-
sinus kemudian mulai berkembang.

Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum nasi.
Sinussinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah, dan diberi nama sesuai
dengan tulang tersebut, yaitu sinus maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus frontalis, dan sinus
etmoidalis. Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan yang mengalami modifikasi,
yang mampu mengkasilkan mukus, dan bersilia. Sekret yang dihasilkan disalurkan ke dalam
kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara.

Sinus maksilaris terletak di dalam tulang maksilaris, dengan dinding inferior orbita
sebagai batas superior, dinding lateral nasal sebagai batas medial, prosesus alveolaris maksila
sebagai batas inferior, dan fossa canine sebagai batas anterior. Sinus maksilaris erbentuk pada
usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I. Bentuknya pyramid; dasar
piramid berada pada dinding lateral hidung, sedangkan apeksnya berada pada pars zygomaticus
maxillae. Sinus maksilaris merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada

7
orang dewasa. Sinus maksilaris berhubungan dengan cavum orbita (dibatasi oleh dinding tipis
yang berisi n. infra orbitalis sehingga jika dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata), gigi
(dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Molar) dan ductus nasolakrimalis (terdapat
di dinding cavum nasi).

Sinus ethmoidalis terbentuk pada usia fetus bulan IV. Saat lahir, sinus ethmoidalis
berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), sedangkan saat dewasa terdiri dari 7-15 cellulae yang
berdinding tipis. Bentuknya berupa rongga tulang yang menyerupai sarang tawon, yang terletak
antara hidung dan mata Sinus ethmoidalis berhubungan dengan fossa cranii anterior (dibatasi
oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa, sehingga jika terjadi infeksi pada daerah sinus mudah
menjalar ke daerah kranial), orbita (dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea, sehingga jika
melakukan operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah
orbita sehingga terjadi Brill Hematoma), nervus optikus dan nervus, arteri dan vena ethmoidalis
anterior dan posterior.

Sinus frontalis dapat terbentuk atau tidak. Sinus frontalis terletak di os frontalis yang
tidak simetri antara kanan dan kiri. Volume pada orang dewasa 7cc. Sinus frontalis bermuara
ke infundibulum (meatus nasi media).Sinus frontalis berhubungan dengan fossa cranii anterior
(dibatasi oleh tulang compacta), orbita (dibatasi oleh tulang compacta) dan dibatasi oleh
periosteum, kulit dan tulang diploic.

Sinus sfenoidalis rerbentuk pada fetus usia bulan III Sinus sfenoidalis terletak pada
corpus, alas dan processus os sfenoidalis. Volume pada orang dewasa 7 cc. Sinus sfenoidalis
berhubungan dengan sinus cavernosus pada dasar cavum cranii. glandula pituitari, chiasma
n.opticum, ranctus olfactorius dan arteri basillaris brain stem (batang otak).

2. Pemeriksaan Sinus Paranasal

Untuk mengetahui adaya kelainan pada sinus paranasal dilakukan inspeksi dari luar,
palpasi, rhinoskopi anterior, rhinoskopi posterior, transluminasi, pemeriksaan radiologik dan
sinoskopi.

Inspeksi

Yang diperhatikan ialah adanya pembengkakan pada muka. Pembengkakan di pipi


sampai kelopak mata bagian bawah yang berwarna kemerahan mungkin menunjukkan sinusitis
maksila akut. Pembengkakan di kelopak mata bagian atas mungkin menunjukkan sinusitis
frontal akut.

8
Palpasi

Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk di gigi menunjukkan adanya sinusitis maksila.
Pada sinusitis frontal terdapat nyeri tekan di dasar sinus frontal, yaitu pada bagian medial atap
orbita. Sinusitis etmoid menyebabkan rasa nyeri tekan di daerah kantus medius.

Transiluminasi

Gambar 2. Pemeriksaan Transiluminasi

Transiluminasi mempunyai manfaat yang terbatas, hanya dapat dipakai untuk


memeriksa sinus maksila dan sinus frontal, bila pemeriksaan radiologik tidak tersedia.
Gambaran yang terang berarti sinus berkembang dengan baik dan normal, sedangkan gambaran
yang gelap mungkin berarti sinusitis atau hanya menunjukkan sinus yang tidak berkembang.

Pemeriksaan Radiologik

Metode mutakhir yang lebih akurat untuk melihat kelainan sinus paranasal adalah
pemeriksaan CT Scan. Potongan CT Scan yang rutin dipakai adalah koronal dan aksial.
Indikasi utama CT Scan hidung dan sinus paranasal adalah sinusitis kronik, trauma (fraktur
frontobasal), dan tumor.

Sinoskopi

Pemeriksaan kedalam sinus maksila menggunakan endoskop. Endoskop dimasukkan


melalui lubang yang dibuat di meatus inferior atau di fosa kanina.

Dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan didalam sinus, apakah ada sekret, polip,
jaringan granulasi, massa tumor atau kista, bagaimana keadaan mukosa dan apakah ostiumnya
terbuka.

9
Sinusitis

Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai atau
dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya ialah selesma
(common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi
bakteri.

Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar didalam KOM (Kompleks Ostio-Meatal). Mukus juga mengandung substansi
antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman
yang masuk bersama udara pernafasan.

Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema,
mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan
terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-
bacterial dan biasanya sembuh dalam beberap hari tanpa pengobatan.

Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik
untuk tumbuhnya multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai
rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik.

Jika terapi tidak berhasil, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob
berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar
sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid, atau
pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.

Gejala Sinusitis

Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri atau rasa tekanan
pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat
disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.

Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas
sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain (referred pain). Nyeri di
pipi menandakan sinusitis maksila, nyeri di antara atau di belakang kedua bola mata
menandakan sinus etmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada

10
sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di verteks, oksipital, belakang bola nata dan daera mastoid.
Pada sinusitis maksila kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga.

Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia, anosmia, halitosis, post nasal drip yang
menyebabkan batuk dan sesak nafas pada anak.

Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit di diagnosa. Kadang-kadang hanya
1 atau 2 dari gejala dibawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik,
gangguan tenggorkan, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba Eustachius,
gangguan ke paru seperti bronkitis, bronkiektasis, dan yang penting adalah serangan asma yang
meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapat menyebabkan
gastroenteritis.

Penatalaksanaan

Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:


1. Mempercepat penyembuhan
2. Mencegah komplikasi
3. Mencegah perubahan menjadi kronik.

Sinusitis akut dapat diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan pembedahan (operasi).
Penatalakanaan yang dapat diberikan pada pasien sinusitis akut, yaitu:
Pada sinusitis akut, diberikan amoksisilin (40 mg/kgbb/hari) yang merupakan first line drug,
namun jika tidak ada perbaikan dalan 48-72 jam, dapat diberikan amoksisilin/klavulanat.
Sebaiknya antibiotik diberikan selama 10-14 hari.

Pada kasus sinusitis kronis, antibiotik diberikan selama 4-6 minggu sebelum diputuskan untuk
pembedahan. Dosis amoksisilin dapat ditingkatkan sampai 90 mg/kgbb/hari. Pada pasien
dengan gejala berat atau dicurigai adanya komplikasi diberikan antibiotik secara intravena.
Sefotaksim atau seftriakson dengan klindamisin dapat diberikan pada Streptococcus
pneumoniae yang resisten.

11
Terapi tambahan: Terapi tambahan meliputi pemberian antihistamin, dekongestan, dan steroid.

Antihistamin: antihistamin merupakan kontra indikasi pada sinusitis, kecuali jelas adanya
etiologi alergi. Pemberian antihistamin dapat mengentalkan sekret sehingga menimbulkan
penumpukan sekret di sinus,dan memperberat sinusitis.

Dekongestan: dekongestan topikal seperti oksimetazolin, penileprin akan menguntungkan jika


diberikan pada awal tata laksana sinusitis. Aktifitasnya akan mengurangi edem atau inflamasi
yang mengakibatkan obstruksi ostium, meningkatkan drainase sekret dan memperbaiki
ventilasi sinus. Pemberian dekongestan dibatasi sampai 3-5 hari untuk mencegah
ketergantungan dan rebound nasal decongestan. Pemberian dekongestan sistemik, seperti
penilpropanolamin, pseudoefedrin dapat menormalkan ventilasi sinus dan mengembalikan
fungsi pembersih mukosilia. Dekongestan sistemik dapat diberikan sampai 10-14 hari.

Steroid : steroid topikal dianjurkan pada sinusitis kronis. Steroid akan mengurangi edem dan
inflamasi hidung sehingga dapat memperbaiki drainase sinus. Untuk steroid oral, dianjurkan
pemberiannya dalam jangka pendek mengingat efek samping yang mungkin timbul.

Diatermi: Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu penyembuhan sinusitis
dengan memperbaiki vaskularisasi sinus.

Pembedahan: Untuk pasien yang tidak responsif dengan terapi medikamentosa yang
maksimal, tindakan bedah perlu dilakukan. Indikasi bedah apabila ditemukan perluasan infeksi
intrakranial seperti meningitis, nekrosis dinding sinus disertai pembentukan fistel,
pembentukan mukokel, selulitis orbita dengan abses dan keluarnya sekret terus menerus yang
tidak membaik dengan terapi konservatif. Beberapa tindakan pembedahan pada sinusitis antara
lain adenoidektomi, irigasi dan drainase, septoplasti, andral lavage, caldwell luc dan functional
endoscopic sinus surgery (FESS).Terdapat tiga pilihan operasi yang dapat dilakukan pada
sinusitis maksilaris, yaitu unisinektomi endoskopik dengan atau tanpa antrostomi maksilaris,

12
prosedur Caldwell-Luc, dan antrostomi inferior. Saat ini, antrostomi unilateral dan
unisinektomi endoskopik adalah pengobatan standar sinusitis maksilaris kronis refrakter.
Prosedur Caldwell-Luc dan antrostomi inferior antrostomy jarang dilakukan.

Komplikasi Sinusitis

1. Kelainan Orbita
Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling
sering adalah sinusitis etmoid, kemudian frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi
melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema
palpebral, selulitis orbita, abses subperiosteal, dll.
2. Kelainan Intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, dan abses otak.
3. Osteomielitis dan Abses Subperiosteal
Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak.
Pada osteomyelitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.
4. Kelainan Paru
Seperti bronchitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai
dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan
kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan.

Prosedur operasi CWL

Indikasi operasi CWL adalah: sinusitis maksilaris dengan kerusakan mukosa


irreversible yang gagal diterapi dengan terapi konservatif, untuk revisi operasi sinus yang
gagal, pada keragu-raguan sinusitis berulang, untuk evakuasi polip antrokoanal, sinusitis
maksilaris dari infeksi gigi, rhinitis alergi dengan polip bilateral kronik yang disertai opersi
intranasal, fistula antro-alveolar, biopsy sinus maksilaris dan pengangkatan kista antrum.
Miller et al cit Dixon melakukan banyak operasi CWL pada kasus yang irreversible yang tidak
berespon terhadap irigasi dan antrostomi.

Operasi CWL adalah operasi pada sinus maksilaris melalui mulut dengan insisi mukosa
bukal pada regio kaninus maksila, mengeluarkan mukosa yang sakit dan membuat lubang
antrostomi di meatus nasi inferior. Pada operasi CWL pasien dilakukan anestesi umum dan
anestesi topical pada meatus inferior, meatus media dan infiltrasi pada daerah insisi. Infiltrasi
dilakukan dengan xylocain 2 % dengan adrenalin 1 : 100.000 untuk membantu hemostasis dan

13
suplemen anestesi. Insisi dilakukan pada 3 mm diatas sulkus ginggivo bucal, panjang irisan
antara gigi kaninus sampai tepi molar pertama.

Pada operasi ini perlu tidaknya evakuasi lesi patologis atau membrana mukosa
tergantung dari filosofi operator, yaitu radikal atau konservatif. Beberapa penulis berpendapat
operasi CWL untuk mengeluarkan mukosa sinus yang irreversibel, tetapi ada yang tidak
memperdulikan status mukosa dan mukosa harus diangkat secara radikal, meskipun
pengalaman menunjukkan bahwa drainage yang adekuat akan menyembuhkan penyakit tanpa
perlu pengangkatan mukosa antrum. Pada anak penggunaan metode CWL dihindari, bila
digunakan CWL tidak mengangkat lapisan mukosa sinus seluruhnya karena secara fisiologis
lapisan ini penting untuk membersihkan bakteri dan membersihkan sekresi sinus, selain itu
pada anak mukosa jarang yang berubah irreversibel. Setelah jaringan yang sakit diangkat dibuat
lubang antrostomi pada meatus inferior, dilakukan pemasangan tampon di sinus maksilaris
dengan ujung tampon keluar melalui lubang antrostomi di meatus inferior. Juga dilakukan
tampon pada lubang hidung sisi yang dilakukan operasi. Luka insisi pada mukosa bukal dijahit
dan pada hidung dipasang kasa yang menutup lubang hidung.

Operasi CWL sebaiknya dihindari pada anak kecil dan jarang diindikasikan pada anak
karena risiko terjadinya gangguan pertumbuhan gigi, yaitu paling sering pada premolar 2. Bila
dilakukan operasi CWL pada anak lubang CWL setinggi mungkin dan harus
mempertimbangkan bahwa akar gigi kurang lebih dua kali tinggi dari mahkota gigi.

Perawatan pasca operasi CWL

Pada seluruh pasien yang dilakukan operasi harus dilakukan pengawasan atau monitor
tanda vital. Pada 24 jam pertama setelah operasi dilakukan observasi adanya perdarahan,
gangguan pernafasan dan oedem. Pasien disuruh menambah jumlah minum agar menjaga
sekresi tetap basah.

Meskipun operasi sinus relatif minor pasien mengeluh tidak enak pada luka insisi, jika
pasien dilakukan pemasangan tampon ini akan menambah berat keluhan tersebut. Sehingga
memerlukan intervensi perawatan rasional meliputi:

Menilai keluhan nyeri menggunakan skor 0-10. Memberikan analgetik jika


diperlukan, tetapi biasanya analgetik selalu diberikan. Penurunan nyeri
menimbulkan perasaan yang baik dan membantu proses penyembuhan.

14
Mengkompres es pada hidung. Kompres dingin selain mengurangi pembengkakan
dan menghentikan perdarahan dapat menimbulkan analgesia lokal.
Posisi tidur dengan kepala lebih tinggi sampai posisi Flower atau Flower tinggi pada
24 sampai 48 jam pasca operasi. Posisi kepala seperti ini menurunkan
pembengkakan dan mengurangi rasa nyeri. Selain itu posisi kepala ini
menimbulkan gerakan kepala yang optimal.
Kassa penutup pada hidung dapat menyerap cairan yang keluar dari hidung atau sinus
sehingga cairan tidak perlu dihisap. Kassa tersebut dapat diganti tergantung keadaan atau
kebijaksanaan yang merawat pasien. Dapat dilakukan pemasangan dressing dengan penekanan
dari luar diatas maksila yang dipasang selama 24-36 jam untuk menurunkan kejadian bengkak
pada pipi. Perdarahan dari hidung diharapkan berkurang atau minimal pada 24-48 jam pasca
operasi.

Perasaan berbau, nafsu makan menurun dapat terjadi karena adanya tampon pada
hidung. Pasien juga merasakan nafasnya tersumbat pada saat makan. Selain itu pasien dapat
mengalami gangguan mengunyah pada sisi yang dioperasi juga pasien tidak boleh mengunyah
sampai luka insisi sembuh. Makanan cair diberikan pada 24 jam pertama kemudian diikuti diet
lunak.

Intervensi perawatan rasional meliputi:

Memberikan diet cair yang diteruskan diet lunak. Diet tambahan yang tinggi
kalori dapat diberikan. Perpindahan ke diet lunak dilakukan sesuai kemampuan
menelan dengan tanpa disertai adanya rasa nafas tersumbat saat menelan.
Makanan tinggi kalori dan nilai gizi akan bermanfaat untuk proses metabolik
dan proses penyembuhan.
Dilakukan monitoring intake dan output seperti berat badan harian. Informasi
ini juga penting untuk balance cairan. Monitor berat badan ini juga sebagai
indikator adekuat tidaknya intake makanan.
Pada saat menelan pasien disuruh mengangkat kepala. Posisi ini memudahkan
proses menelan dan mengurangi risiko terjadinya aspirasi.
Follow up pasien dilakukan terhadap:

Gangguan pembersihan jalan nafas karena operasi, karena radang dan karena
tampon hidung.
Risiko infeksi yang berhubungan dengan operasi

15
Gangguan tidur yang disebabkan karena nyeri dan gangguan pernafasan,
sehingga posisi tidur dengan kepala lebih tinggi dari badan untuk
meminimalkan keluahn.
Tampon hidung biasanya diangkat pada pagi hari setelah operasi sedangkan tampon
sinus dipertahankan pada 36-72 jam. Pada saat sebelum pengangkatan tampon pemberian
analgetik dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri.

Selama 2 minggu setelah pengangkatan tampon pasien harus menghindari manuver


valsava (tidak boleh meniup udara lewat hidung, batuk, atau membuang ingus keras). Untuk
mengatasi masalah ini pasien disuruh menghisap ke arah tenggorok dan meludahkan tanpa
meniup. Pasien diajarkan cara bersin hanya lewat mulut. Pasien juga diperintahkan untuk
meminimalkan kegiatan fisik dan kerja berat, mengangkat berat, tegang selama kurang lebih 2
minggu.

Pasien dianjurkan untuk menjaga luka insisi bersih dengan menggunakan lidahnya.
Benamg jahitan dapat diangkat setelah hari ke tujuh atau kesepuluh. Pasien yang memakai gigi
palsu saat operasi dilepas dan dapat dipasang kembali setelah operasi selesai. Larutan NaCl
spray dapat diberikan mulai 3 sampai 5 hari pasca operasi untuk membasahi mukosa hidung.
Untuk memperlancar regenerasi mukosa setiap pasien dilakukan bilas antrum dengan larutan
NaCl setiap hari dan untuk membersihkan pus, darah, dan krusta pada awal pasca operasi
selama periode 1 minggu.

Pada pasien pasca operasi sinusitis maksilaris kronis karena pseudomonas aeruginosa
untuk memperlancar regenerasi dilakukan irigasi pada sinus setiap hari dengan NaCl fisiologis
bahkan dianjurkan 2 kali sehari untuk membersihkan pus, darah, dan krusta selama seminggu
setelah operasi, dilanjutkan irigasi setiap minggu sekali selama 4 6 minggu. Penghentian
irigasi berpedoman pada 2 hasil irigasi sebelumnya yang menunjukkan hasil jernih tidak
didapatkan pus dan debris.

Pada sinusitis maksilaris kronis karena pseudomonas aeruginosa, untuk menurunkan


jumlah bakteri yang berada di sinus dan hidung diberikan tetes hidung gentamisisn sulfat pada
sisi hidung yang terkena infeksi 3 kali sehari. Ini dimulai setelah tampon dicabut dan
diteruskan dirumah. Pemberian tetes ini dihentikan bersamaan dengan dihentikannya irigasi
antrum. Pemberian aminoglikosida sistemik diindikasikan pada pasien ini.

Pada setelah operasi pasien dapat mengeluh merasakan anestesia atau mati rasa pada
bibir atas dan gigi, keluhan ini dapat dirasakan sampai beberapa bulan setelah operasi. Keadaan

16
ini disebabkan karena beberapa saraf sensoris terpotong saat operasi. Gangguan sensitivitas
saraf yang terjadi pada periode waktu 12-15 bulan, meliputi: anestesi pada bibir, gigi atau gusi
atas, hipo/parestesia pada wajah, nyeri pada muka bagian tengah, pipi terasa tertekan/ tidak
nyaman, tidak nyaman di pipi tergantung perubahan musim, devitalisasi gigi. Trigeminal
neuralgia atau tic doulourex gangguan saraf yang berupa rasa sakit pada wajah yang bersifat
tajam, paroksismal dan berulang. Operasi CWL mempunyai lapangan operasi yang lebih kuas,
tetapi potensi kerusakan gigi dan mortalitasnya besar. Pada anak kegagalan perkembangan gigi
dapat bermanifestasi kematian gigi permanen. Komplikasi CWL yang jarang terjadi meliputi
fistula oroantral, empiema, osteomielitis dan perluasan infeksi dapat menyebabkan celulitis
orbita.

17
DAFTAR PUSTAKA

Black JM, Matassarin-Jacobs E. 1997. Nursing management for continuity of care. 4 ed.
Philadelpia: WB Saunders Company. 1077-1079.
Iskandar, N., Soepardi, E., & Bashiruddin, J., et al (ed). 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke- 7. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
Jakarta: EGC.
Kuhuwael FG, Gosad ID, Setiaji R.1995. Uji klinik tenoxicam terhadap oedema pipi pasca
operasi CWL pada beberapa rumah sakit di Ujung Pandang. Dalam : Loson K.
Kumpulan naskah Kongres Nasional XI Perhati Yogyakarta, 5: 279-292.
LeMine P, Burke KM. 1996. Medical surgical nursing. Critical thinking in client care. 2 nd ed.
California: The Benjamin/Cummings Publishing Company. 1337-1340.
Montgomery W, Singer M, Hamaker R. 1993. Terapi bedah pada infeksi sinus. Dalam:
Terjemahan penyakit telinga hidung tenggorok dan kepala leher. Ballenger JJ Disease
of the nose, throat, ear head and neck 13th ed. 254-274.
Nagel Patrick dan Gurkov Robert. 2012. Dasar-dasar Ilmu THT. Edisi ke-2.

18