Anda di halaman 1dari 28

MINICEX

Disusun Oleh :
Angesti Widipinasti W
42150021

Dosen Pembimbing :
dr. Arin Dwi Iswarini, Sp. THT-KL, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN


RUMAH SAKIT BETHESDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2016
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25 Yogyakarta 55224

Kepaniteraan Klinik Ilmu Telinga Hidung dan Tenggorokan


Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta

Nama : Angesti Widipinasti W


NIM : 42150021
Dosen Pembimbing Klinik : dr. Arin Dwi Iswarini, Sp. THT-KL, M.Kes

I. IDENTITAS
Nama : An. KP
Tanggal lahir : 08/01/2010
Umur : 6 tahun 1 bulan 19 hari
Alamat : Pingit HT 1/88, Bumijo, Yogyakarta
Pendidikan : 1 SD
Jenis Kelamin : Perempuan

Tanggal masuk RS : 14 Desember 2016

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan ibu kandung pada
hari Rabu 14 Desember 2016, pukul 18.00 WIB
a. Keluhan Utama
Memeriksakan amandel karena sering kumat-kumatan

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang bersama orangtuanya untuk memeriksakan amandel karena sering
kumat kumatan. Setengah bulan yang lalu pasien datang ke puskesmas karena batuk
2
tidak berdahak, nyeri tenggorokan, nyeri telan dan demam hingga 390C. Setelah
pemeriksaan orangtua mendapatkan informasi amandel pasien membesar. Dokter
memberikan amoxicilin 250 mg dan paracetamol serta menyarankan untuk
berkonsultasi ke dr. THT karena amandel sering kambuh setelah batuk dan demam
sembuh. Setelah kurang lebih 5 hari mengkonsumsi obat, orangtua pasien
mengatakan pasien sudah tidak mengalami demam, batuk dan pilek namun masih
sedikit mengalami nyeri di tenggorokan. Pasien tidak mengalami penurunan nafsu
makan dan berat badan. Pasien tidak mengalami nyeri di telinga, hidung dan kepala,
mendengkur (-), bau mulut (-), kesulitan bernafas (-), suara serak (-), sukar membuka
mulut (-)
Orangtua pasien mengatakan bahwa amandel sering kumat lebih dari 6 kali dalam
setahun. Pasien diketahui mengalami amandel sejak usia 4 tahun.
Sebeumnyakekambuhan amandel memang sering kambuh, dalam stahun bisa 3-4
kali. Pasien merasakan panas, nyeri tenggorokan dan demam jika amandel kumat.
Terkadang bisa hilang sendiri tanpa pengobatan. Hal ini sering terjadi jika pasien
mengalami kelelahan karena selain anak yang aktif, kegiatan pasien cukup padat serta
sulit disuruh tidur siang.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Asma : (-)
Gastritis : (-)
Alergi : (-)
Batuk dan pilek berulang : (+) sering terjadi terutama jika anak kelelahan
Penyakit jantung : (-)
Penyakit ginjal : (-)
Riwayat trauma kepala : (-)
Riwayat keluhan serupa : (+)

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Ayah memilki
riwayat asma. Kakek memiliki riwayat kejang.
3
e. Riwayat Pengobatan
Riwayat Operasi : (-)
Riwayat Mondok : DBD, 10 bulan dan 3 bulan yang lalu
Riwayat Obat : - Amoxicilin 250 mg
- Paracetamol

f. Life style
Pola makan 3 kali sehari
Konsumsi buah dan sayur (+)
Konsumsi makanan MSG/penyedap rasa (+), gorengan (+),
makanan/minuman dingin (-)
Rutinitas olahraga sering
Pola tidur 6-8 jam perhari

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Status Gizi :
TB : 120 cm
BB : 29 kg
Status gizi : Cukup (Normal)
Vital Sign
Nadi : 96 x/menit
Respirasi : 26 x/menit
Suhu : 36,8o C

STATUS GENERALIS
A. Kepala
Ukuran Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
4
injeksi konjungtiva (-/-), pupil isokor, reflek
cahaya (+/+), gerakan bola mata baik ke segala
arah.
Hidung : Deformitas (-), discharge (-), nyeri tekan (-),
krepitasi (-)
Mulut : Sianosis (-), kering (-), faring hiperemis (-)
Telinga : Edem (-/-), discharge (-/-), nyeri tekan mastoid
(-/-), kelainan anatomi (-/-), fistula preaurikula
(-/-), nyeri tekan auricular (-/-)
B. Leher
Pembesaran kelenjar limfa submandibula (+)
Pembesaran tiroid (-)
C. Thoraks
- Inspeksi : Bentuk dinding dada normal, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
- Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC 5, linea midcavicula sinistra,
fremitus dada kanan-kiri sama.
- Perkusi : sonor (+/+), kontur jantung dalam batas normal, kesan
kardiomegali (-),
- Auskultasi: suara napas vesikuler (+/+), rhonki -/-, wheezing -/-, suara jantung
S1-2 reguler tunggal, bising (-)

D. Abdomen
- Inspeksi: distensi abdomen (-), supel
- Auskultasi: BU(+)N, bising usus (-)
- Perkusi: Timpani seluruh lapang abdomen. Nyeri ketuk (-)
- Palpasi: Hepar tidak teraba. Lien tidak teraba. Nyeri tekan regio hipokondrium
kanan dan epigastrium.
E. Ekstremitas
Atas : akral teraba hangat, perabaan nadi teraba kuat, capillary
refill <2 detik
Bawah : akral teraba hangat
5
STATUS LOKALIS
Dekstra Sinistra
TELINGA
Auricula Deformitas (-), benjolan/massa (-), Deformitas (-), benjolan/massa (-), lesi
lesi kulit (-), edema (-), discharge kulit (-), edema (-), discharge yang
yang keluar (-), nyeri tekan tragus (-), keluar (-), nyeri tekan tragus (-),
fistula pre aurikula (-), nyeri tekan fistula pre aurikula (-), nyeri tekan
auricular (-) auricular (-)
Meatus Akustikus Edema (-), furunkel (-), serumen (+), Edema (-), furunkel (-), serumen (+),
Externus corpus alineum (-) corpus alineum (-)
Membran Timpani Membran timpani utuh, hiperemis (-), Membran timpani utuh, hiperemis (-),
sekret (-) retraksi (-), bulging (-), sekret (-), retraksi (-), bulging (-),
conus of light (+, jam 5) conus of light (+, jam 7)
Mastoid Edema (-), nyeri ketok (-) Edema (-), nyeri ketok (-)

Dextra Sinistra
HIDUNG
Dorsum Nasi Deformitas (-), krepitasi (-), jejas (-), nyeri tekan (-)
Cavum Nasi Discharge (-) Discharge (-)
Rhinoskopi Anterior
Vestibulum Nasi Discharge (-), edema (-), hiperemis (-)
Septum Nasi Deviasi septum (-), perforasi (-)

Edema (-), hiperemis (-),


Edema (-), hiperemis (-), discharge (-)
Meatus Nasi Inferior discharge (-)

Edema (-), hiperemis (-), Edema (-), hiperemis (-), hipertrofi (-)
Konka Inferior
hipertrofi (-)
Hiperemis (-), discharge (-), polip Hiperemis (-), discharge (-), polip (-)
Meatus Nasi Media
(-) dan telihat pucat , edema (-) dan terlihat pucat, edema (-)

6
Edema (-), hiperemis (-),
Konka Media
hipertrofi (-) Edema (-), hiperemis (-), hipertrofi (-)
Rhinoskopi Posterior : Tidak dilakukan
Fossa Rossenmuller
Torus Tubarius
Muara Tuba
Eustachius
Adenoid
Konka Superior
Choana
SINUS PARANASAL
Inspeksi Eritem (-), edema (-) Eritem (-), edema (-)
Perkusi Nyeri ketok (-) Nyeri ketok (-)
Transluminasi Tidak dilakukan

CAVUM ORIS-TONSIL-FARING
Bibir Bibir sianosis dan kering (-), stomatitis (-)
Mukosa Oral Stomatitis (-), warna merah muda
Gusi dan Gigi Warna merah muda, karies dentis (-), ulkus (-)
Lingua Simetris, atrofi papil (-), lidah kotor (-), ulserasi (-)
Atap mulut Ulkus (-)
Dasar Mulut Ulkus (-)
Uvula Tidak ada deviasi pada uvula, hiperemis (-)
Tonsila Palatina T3, tonsil hiperemis (+), detritus T3, tonsil hiperemis (+), detritus
(-), permukaan tidak rata, kripta (-), permukaan tidak rata, kripta
melebar melebar
Peritonsil Abses (-) Abses (-)

Faring Hiperemis (-), discharge (-)

7
IV. DIAGNOSIS BANDING
Tonsilitis kronis hipertrofi
Tonsilofaringitis kronis

V. DIAGNOSIS KERJA
Tonsilitis kronis hipertrofi

VI. PENATALAKSANAAN
a. Farmakologi
Antibiotika : Cefixime 2x100 mg selama 7-10 hari
Antiinflamasi : Ibuprofen syrup 100mg/5ml (3x1)
Vitamin C 2x 500 mg

b. Non Farmakologi
Tirah baring

VII. EDUKASI
Hindari makanan pedas, berminyak, penyedap rasa dan dingin
Makan makanan bergizi untuk meningkatkan dayatahan tubuh
Menjaga kebersihan mulut
Pantau tidur anak, terutama jika mengorok (hati-hati dengan obstructive sleep apnea)

VIII. PLANNING
Pemeriksaan dareah rutin
Pemeriksaan laboratorium berupa kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apusan
tonsil untuk mengetahui kuman penyebab
Tonsilektomi

IX. PROGNOSIS

8
Ad Vitam : ad bonam
Ad Fungsionam : ad bonam
Ad Sanationam : ad bonam

9
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI TONSIL

Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang letaknya di bawah epitel
yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Berdasarkan lokasinya, tonsil dibagi menjadi
:
1. Tonsilla lingualis, terletak pada radix linguae. Tonsil lingual terletak di dasar lidah
dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di
sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang
terbentuk oleh papilla sirkumvalata.

2. Tonsilla palatina (tonsil), terletak pada isthmus faucium antara arcus


glossopalatinus dsan arcus glossopharingicus. ). Tonsil berbentuk oval dengan
panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke
dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah
yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral
orofaring, dibatasi oleh :

Lateral muskulus konstriktor faring superior


Anterior muskulus palatoglosus
Posterior muskulus palatofaringeus
Superior palatum mole
Inferior tonsil lingual

10
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau
kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang
kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik
difus.
3.Tonsilla pharingica (adenoid), terletak pada dinding dorsal dari nasofaring.
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau
kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang
kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik
difus.
4. Fosa Tonsil
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot
palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding
luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Berlawanan dengan dinding otot yang
tipis ini, pada bagian luar dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus
glosofaringeal.

Dari keempat macam tonsil tersebut, tonsilla lingualis, tonsilla palatina dan tonsilla pharingica
membentuk cincin yang dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Dalam pengertian sehari-hari
yang dimaksud dengan tonsil adalah tonsila palatina, sedang tonsila
faringeal lebih dikenal sebagai adenoid.

Gambar 1. Gambaran Tonsil dalam Cincin Waldeyer

11
PERDARAHAN
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna, yaitu :3,4
1. A. Maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A. Palatina
asenden.
2. A. Maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden.
3. A. Lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal.
4. A. Faringeal asenden.

Tonsil mendapat vaskularisasi dari cabang-cabang a. karotis eksterna yaitu: a. maksilaris


eksterna (a. fasialis) yang mempunyai cabang a. tonsilaris dan a. palatina asenden, a. maksilaris
interna dengan cabangnya yaitu a.palatina desenden, a. lingualis dengan cabangnya yaitu a.
lingualis dorsal dan a. faringeal asenden. a. tonsilaris berjalan ke atas di bagian luar m.
konstriktor superior dan memberikan cabang untuk tonsil dan palatum mole. Arteri palatina
asenden, mengirim cabang-cabangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil. Arteri
faringeal asenden juga memberikan cabangnya ke tonsil melalui bagian luar m. konstriktor
superior. Arteri lingualis dorsal naik ke pangkal lidah dan mengirim cabangnya ke tonsil, plika
anterior dan plika posterior. Arteri palatina desenden atau a. palatina posterior atau lesser palatina
artery member vaskularisasi tonsil dan palatum mole dari atas dan membentuk anastomosis
dengan a. palatina asenden. vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan
pleksus dari faring
ALIRAN GETAH BENING
Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda

12
(deep jugular node) bagian superior di bawah M. Sternokleidomastoideus, selanjutnya ke
kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah
bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.5

PERSARAFAN
Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui ganglion sfenopalatina dan
bagian bawah dari saraf glosofaringeus.5
FISIOLOGI DAN IMUNOLOGI TONSIL
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari
keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah
50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks
yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting
cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis
imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa
IgG.5
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu:
1. Menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif;
2. Sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen
spesifik.5
KLASIFIKASI TONSILITIS6
1. Tonsillitis akut
Dibagi lagi menjadi 2, yaitu :
a. Tonsilitis viral
Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab paling
tersering adalah virus Epstein Barr.
b. Tonsilitis Bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang
dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridian dan streptococcus
piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mulai mati.

13
2. Tonsilitis membranosa
a. Tonsilitis Difteri
Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk
Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring.
b. Tonsilitis Septik
Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga
menimbulkan epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara
pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
c. Angina Plout Vincent
Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan
pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. Gejala
berupademam sampai 39 C, nyeri kepala , badan lemah dan kadang gangguan
pecernaan.

d. Penyakit Kelainan Darah


- Leukemia akut
- Angina agranulositosis
- Infeksi mononucleosis

3. Tonsilitis kronik
` Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsangan yang menahun dari
rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca kelemahan fisik dan
pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman penyebabnya sama dengan tonsilitis akut
tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kumangolongan gram negatif.

II. TONSILITIS AKUT


A. DEFINISI
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer.
Penyebaran infeksi melalui udara (air bone droplets), tangan dan ciuman. Dapat terjadi pada
semua umur, terutama pada anak. Tonsilitis akut adalah peradangan pada tonsil yang masih
bersifat ringan.
14
B. ETIOLOGI
Penyebab tonsilitis bermacam macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini
yaitu :1,2
Streptokokus beta hemolitikus
Streptokokus viridans
Streptokokus piogenes
Virus influenza
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections )

C. PATOFISIOLOGI
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan
menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke
tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi
dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi
juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat
berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan,
nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.1

D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala tonsilitis akut adalah :
nyeri tenggorok
nyeri telan
sulit menelan
faring hiperemis
edema faring
pembesaran tonsil
tonsil hiperemia
mulut berbau
otalgia ( sakit di telinga )
malaise
15
demam
mual, anoreksia
kelenjar limfa leher membengkak

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut
adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :
Leukosit : terjadi peningkatan
Hemoglobin : terjadi penurunan
Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat

F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah :3
1. tonsilitis kronis
2. otitis media

G. PENATALAKSANAAN
- Tonsilitis viral: istirahat, minum cukup, analgetika dan antivirus diberikan bila gejala
berat.
- Tonsilitis bakterial: antibiotika spektrum luas penisilin, eritromisin; antipiretik dan obat
kumur yang mengandung desinfektan.

III. TONSILITIS KRONIS


A. DEFINISI
Tonsilitis kronis adalah peradangan kronis tonsila palatina lebih dari 3 bulan, setelah
serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Terjadinya perubahan
histologi pada tonsil, dan terdapatnya jaringan fibrotik yang menyelimuti mikroabses dan
dikelilingi oleh zona sel-sel radang.2
Mikroabses pada tonsilitis kronik menyebabkan tonsil dapat menjadi fokal infeksi bagi
organ-organ lain, seperti sendi, ginjal, jantung dan lain-lain.Fokal infeksi adalah sumber
bakteri / kuman di dalam tubuh dimana kuman atau produkproduknya dapat menyebar jauh ke
16
tempat lain dalam tubuh itu dan dapat menimbulkan penyakit. Kelainan ini hanya
menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak ada gejala sama sekali, tetapi akan
menyebabkan reaksi atau gangguan fungsi pada organ lain yang jauh dari sumber infeksi.7
Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang
tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai
dengan hiperemi rigan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus.6

B. ETIOLOGI
Tonsilitis kronik yang terjadi pada anak mungkin disebabkan oleh karena sering
menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau karena tonsilitis akut yang tidak
diobati dengan tepat atau dibiarkan saja. Tonsilitis kronik disebabkan oleh bakteri yang sama
yang terdapat pada tonsilitis akut, dan yang paling sering adalah bakteri gram positif. Dari
hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) : Streptokokus alfa merupakan penyebab tersering
dan diikuti Stafilokokus aureus, Streptokokus beta hemolitikus grup A, Stafilokokus
epidermis dan kuman gram negatif yaitu enterobakter, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella
dan E. coli yang didapat ketika dilakukan kultur apusan tenggorok.1

C. FAKTOR PREDISPOSISI
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu :1
Rangsangan kronis (rokok, makanan)
Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah)
Alergi (iritasi kronis dari allergen)
Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat

D. PATOFISIOLOGI
Fungsi tonsil adalah sebagai pertahanan terhadap masuknya kuman ke tubuh baik
melalui hidung atau mulut. Kuman yang masuk disitu akan dihancurkan oleh makrofag yang
merupakan sel-sel polimorfonuklear. Jika tonsil berulang kali terkena infeksi akibat dari

17
penjagaan higiene mulut yang tidak memadai serta adanya faktor-faktor lain, maka pada suatu
waktu tonsil tidak bisa membunuh kuman-kuman semuanya, akibat kuman yang bersarang di
tonsil dan akan menimbulkan peradangan tonsil yang kronik. Pada keadaan inilah fungsi
pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang infeksi atau fokal infeksi.4
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripta tonsil. Karena proses radang berulang,
maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan
jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripta
akan melebar. Secara klinis kripta ini akan tampak diisi oleh Detritus (akumulasi epitel yang
mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripta berupa eksudat berwarna
kekuning kuningan). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul
perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. Sewaktu-waktu kuman bisa menyebar ke
seluruh tubuh misalnya pada keadaan imun yang menurun. 1
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripti tonsil. Karena proses radang berulang maka
epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid
diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripti akan melebar, ruang antara
kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus (akumulasi epitel yang mati, sel leukosit yang mati
dan bakteri yang menutupi kripte berupa eksudat berwarna kekuning-kuningan). Proses ini meluas
hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada
anak-anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula.

18
E. MANIFESTASI KLINIS
Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang
berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi),
nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa
kering dan pernafasan berbau.1
Tonsila akan memperlihatkan berbagai derajat hipertrofi dan dapat bertemu di garis
tengah. Nafas penderita bersifat ofensif dan kalau terdapat hipertrofi yang hebat, mungkin
terdapat obstruksi yang cukup besar pada saluran pernafasan bagian atas yang dapat
menyebabkan hipertensi pulmonal.

F. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan pada tonsil akan didapati tonsil hipertrofi, tetapi kadang-kadang
atrofi, hiperemi dan odema yang tidak jelas. Didapatkan detritus atau detritus baru tampak
19
jika tonsil ditekan dengan spatula lidah. Kelenjar leher dapat membesar tetapi tidak terdapat
nyeri tekan. Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian
kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta
tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju atau dempul
amat banyak terlihat pada kripta. 1,2
Ukuran tonsil pada tonsilitis kronik dapat membesar (hipertrofi) atau atrofi.
Pembesaran tonsil dapat dinyatakan dalam ukuran T1 T4. Cody& Thane (1993) membagi
pembesarantonsil dalam ukuran berikut :
T1 = batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai jarak pilar anterior uvula
T2 = batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior-uvula sampai jarak pilar anterior-
uvula
T3 = batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior-uvula sampai jarak pilar anterior-
uvula
T4 = batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior-uvula atau lebih.

20
Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas yang dapat
menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi hiperkapnia dan dapat
menyebabkan kor polmunale. Gejala klinis sleep obstructive apnea lebih sering ditemui pada
anak anak

H. DIAGNOSIS BANDING
Terdapat beberapa diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah sebagai berikut :1,2,5
1. Penyakit-penyakit dengan pembentukan Pseudomembran atau adanya membran semu
yang menutupi tonsil (Tonsilitis Membranosa)
a. Tonsilitis Difteri
Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang yang
terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam
darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan
dasar imunitas. Gejalanya terbagi menjadi tiga golongan besar, umum, lokal dan gejala
akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu demam subfebris,
nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dan keluhan nyeri menelan.
Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang

21
makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya
sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat eksotoksin dapat menimbulkan
kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai
dekompensasi kordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan
otot pernafasan dan pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria.
b. Angina Plaut Vincent (Stomatitis Ulseromembranosa)
Gejala yang timbul adalah demam tinggi (39C), nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit
tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersalivasi. Pada pemeriksaan
tampak membran putih keabuan di tonsil, uvula, dinding faring, gusi dan prosesus
alveolaris. Mukosa mulut dan faring hiperemis. Mulut yang berbau (foetor ex ore) dan
kelenjar submandibula membesar.
c. Mononukleosis Infeksiosa
Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. Membran semu yang menutup
ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat pembesaran kelenjar limfe
leher, ketiak dan regio inguinal. Gambaran darah khas, yaitu terdapat leukosit
mononukleosis dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain adalah kesanggupan serum
pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (Reaksi Paul Bunnel).

2. Penyakit Kronik Faring Granulomatus


a. Faringitis Tuberkulosis
Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien adalah buruk karena
anoreksi dan odinofagi. Pasien juga mengeluh nyeri hebat di tenggorok, nyeri di telinga
(otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa leher.

b. Faringitis Luetika
Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder atau tersier. Pada
penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang sembuh disertai pembentukan
jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa mengakibatkan perforasi palatum mole dan pilar
tonsil.

c. Lepra (Lues)
22
Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring kemudian menyembuh
dan disertai dengan kehilangan jaringan yang luas dan timbulnya jaringan ikat.

d. Aktinomikosis Faring
Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa mengalami
ulseasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat mengakibatkan ulserasi faring yang
ireguler, superfisial, dengan dasar jaringan granulasi yang lunak. Penyakit-penyakit diatas
umumnya memiliki keluhan berhubungan dengan nyeri tenggorokan (odinofagi) dan
kesulitan menelan (disfagi). Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan
jaringan atau kultur, foto X-ray dan biopsi jaringan.

I. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Tonsilitis yang disebabkan oleh virus harus ditangani secara simptomatik. Obat
kumur, analgetik, dan antipiretik biasanya dapat membantu. Gejala-gejala yang timbul
biasanya akan hilang sendiri. Tonsilitis yang disebabkan oleh streptokokus perlu diobati
dengan penisilin V secara oral, cefalosporin, makrolid, klindamicin, atau injeksi secara
intramuskular penisilin benzatin G. Terapi yang menggunakan penisilin mungkin gagal (6-
1,2,3
23%), oleh karena itu penggunaan antibiotik tambahan mungkin akan berguna.
Pengobatan tonsilitis kronis dengan menggunakan antibiotik oral perlu diberikan selama
sekurangnya 10 hari. Penatalaksanaan tonsilitis kronis dapat diatasi dengan menjaga higiene
mulut yang baik, obat kumur, dan tonsilektomi jika terapi konservatif tidak memberikan hasil
Operatif
Tonsilektomi merupakan tindakan pembedahan yang paling sering dilakukan pasa
pasien dengan tonsilitis kronik, yaitu berupa tindakan pengangkatan jaringan tonsila palatina
dari fossa tonsilaris. Tetapi tonsilektomi dapat menimbulkan berbagai masalah dan berisiko
menimbulkan komplikasi seperti perdarahan, syok, nyeri pasca tonsilektomi, maupun infeksi.2
Indikasi Tonsilektomi
Menurut The American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery (AAO-
HNS) tahun 2011 indikasi tonsilektomi terbagi menjadi :
1. Indikasi absolute
23
Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas, odinofagia berat,
atau terdapat komplikasi kardiopulmonal.
Abses peritonsilar yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase,
kecuali jika dilakukan fase akut.
Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam.
Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi.
2. Indikasi relatif
Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan
pengobatan medik yang adekuat.
Halitosis akibat tonsillitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik.
Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik
dengan pemberian antibiotik kuman resisten terhadap -laktamase.

3. Kontraindikasi
Riwayat penyakit perdarahan
Risiko anestesi yang buruk atau riwayat penyakit yang tidak terkontrol
Anemia
Infeksi akut
Teknik Operasi Tonsilektomi
Teknik operasi yang optimal dengan morbiditas yang rendah sampai sekarang masih
menjadi kontroversi, masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.
Penyembuhan luka pada tonsilektomi terjadi per sekundam. Jenis pemilihan yaitu jenis
teknik operasi difokuskan pada morbiditas seperti nyeri, perdarahan pre operatif dan pasca
operatif serta durasi operasi. Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan
saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi.
1. Guillotine
Tonsilektomi guillotine dipakai untuk mengangkat tonsil secara cepat dan praktis.
Tonsil dijepit kemudian pisau guillotine digunakan untuk melepas tonsil beserta kapsul
tonsil dari fosa tonsil. Sering terdapat sisa dari tonsil karena tidak seluruhnya terangkat
atau timbul perdarahan yang hebat.
2. Teknik Diseksi
24
Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Metode
pengangkatan tonsil dengan menggunakan skapel dan dilakukan dalam anestesi.Tonsil
digenggam dengan menggunakan klem tonsil dan ditarik kearah medial, sehingga
menyebabkan tonsil menjadi tegang. Dengan menggunakan sickle knife dilakukan
pemotongan mukosa dari pilar tersebut.
3. Teknik elektrokauter
Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi untuk
mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik
untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum
elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4 Mhz. Penggunaan gelombang pada frekuensi
ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung.
4. Radio frekuensi
Pada teknik ini radiofrekuensi elektroda disisipkan langsung kejaringan. Densitas baru
disekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian jaringan
melalui pembentukan panas.Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak
mengecil dan total volume jaringan berkurang.
5. Skapel harmonik
Skapel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan
mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal.
6. Teknik Coblation
Coblation atau cold ablation merupakan suatu modalitas yang unik karena dapat
memanfaatkan plasma atau molekul sodium yang terionisasi untuk mengikis jaringan.
Mekanisme kerja dari coblation ini adalah menggunakan energi dari radiofrekuensi
bipolar untuk mengubah sodium sebagai media perantara yang akan membentuk
kelompok plasma dan terkumpul disekitar elektroda. Kelompok plasma tersebut akan
mengandung suatu partikel yang terionisasi dan kandungan plasma dengan partikel yang
terionisasi yang akan memecah ikatan molekul jaringan tonsil. Selain memecah ikatan
molekuler pada jaringan juga menyebabkan disintegrasi molekul pada suhu rendah yaitu
40-70%, sehingga dapat meminimalkan kerusakan jaringan sekitar.
7. Intracapsular partial tonsillectomy

25
Intracapsular tonsilektomi merupakan tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan
menggunakan mikrodebrider endoskopi. Mikrodebrider endoskopi bukan merupakan
peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat
menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa
melukai kapsulnya.
8. Laser (CO2-KTP)
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl Phosphat)
untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Teknik ini mengurangi volume
tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang menyebabkan infeksi kronik dan
rekuren.

J. KOMPLIKASI
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah
sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai
komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :1,2,7

Komplikasi ke sekitar tonsil (perkontinuitatum)


a. Peritonsilitis. Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus
dan abses.
b. Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari
penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan
penjalaran dari infeksi gigi.
c. Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau pembuluh
darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe
faringeal, os mastoid dan os petrosus.
d. Abses Retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia 3 bulan
sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.
26
e. Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini
menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa cekungan,
biasanya kecil dan multipel.
f. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)
Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil yang
membentuk bahan keras seperti kapur.

Komplikasi Organ jauh:


a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik
b. Glomerulonefritis
c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura
e. Artritis dan fibrositis

PROGNOSIS
Tonsilitis biasanya sembuh beberapa hari dengan beristrirahat dan pengobatan
suportif.menangani gejala gejala yang timbul dapat membuat penderita lebh nyaman.bila
antibiotik di berikan untuk mengatasi infeksi,antibiotik harus di konsumsi,bahkan walaupun
penderita telah mengalami perbaikandalam waktu singkat.gejala yang tetap ada dapat menjadi
indikasi bahwa penderita mengala infeksi saluran nafas lain,seperti infeksi telinga dan
sinuspada kasus yang serrius tonsilitis dapat menyebabkan demam rematik dan pnemonie.

KESIMPULAN
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil
pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar
posterior (otot palatofaringeus). Bagian tonsil antara lain: fosa tonsil, kapsul tonsil, plika
triangularis. Tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring organisme yang berbahaya. Bila tonsil
sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus tersebut maka akan timbul tonsilitis.
Tonsilitis adalah suatu proses inflamasi atau peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh
virus ataupun bakteri. Tonsilitis kronis adalah peradangan kronis tonsil lebih dari 3 bulan,
27
setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang. Pada umumnya penderita sering mengeluh
oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-
menerus pada tenggorokan (odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang
mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau. Pada
pemeriksaan fisik tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut,
permukaan tonsil tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus.
Terapi pada tonsilitis kronis, berupa terapi lokal, ditujukan pada higiene mulut dengan
menggunakan obat kumur. Dapat juga dilakukan tindakan operasi tonsilektomi sesuai dengan
indikasinya.30

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi.E.A,et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher. 6thed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. pg:212-25.
2. Adams.G.L, Boies.L.R, Higler. P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6thed. Penyakit-
penyakit Nasofaring dan Orofaring. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997. pg:
330-44.
3. Caparas.M.B, Lim.M.G. Basic Otolaryngology. Publication of comittee of the college
of Medicine: University of the Philippines. 1998. pg: 149-59.
4. Robertson, J.S. 2004. Journal of Tonsilitis. Available at: http://www.emedicine.com.
Accessed on: April 2012.
5. Ramsey, D.D. 2003.. Tonsilitis. Available at: http://www.illionisuniv.com. Accesed on:
April 2012
6. Lee, K.J. MD. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 2003. McGraw-Hill.
7. Jackson C. Disease of the nose, throat and ear. 2 nded. Philadelphia: WB Sunders Co. 1959.
pg: 239-59. 31

28