Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Perbandingan Hukum...

(Ana Suheri) 56-61

PERBANDINGAN HUKUM PENGADAAN


TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM
DI INDONESIA DAN MALAYSIA

Oleh: Ana Suheri


Dosen Fakultas Hukum Universitas PGRI Palangka Raya
e-mail: heripalangka88@yahoo.com

Abstrak: Salah satu persoalan yang selalu dihadapi berkaitan pelaksanaan pengadaan
tanah untuk kepentingan umum adalah menentukan titik keseimbangan antara
kepentingan umum dan kepentingan pribadi didalam pembangunan. Pembahasan
mengenai prinsip-prinsip kepentingan umum dalam pengadaan tanah untuk
pembangunan menjadi penting dengan adanya persepsi yang sama antara pemerintah
dan masyarakat yang tanahnya diambil, diharapkan akan meniadakan atau paling tidak
mengurangkan frekuensi konflik dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum ini.

Kata Kunci: Landasan Hukum Pengaturan Masalah Tanah Di Indonesia

penduduk. Tanah merupakan faktor utama


LATAR BELAKANG pendukung kehidupan dan kesejahteraan
Salah satu masalah yang termasuk masyarakat, sehingga konsep hak
rawan di Indonesia maupun Malaysia kepemilikan menentukan susunan
adalah masalah tanah. Tanah merupakan kehidupan dalam suatu Negara.
masalah yang hingga kini belum Pertambahan jumlah penduduk yang
mendapatkan pengaturan yang tuntas semakin tinggi, sedangkan keadaan tanah
dalam hukum di Indonesia. Hal ini terbukti tetap, mengakibatkan minat penduduk
dari banyaknya keluhan masyarakat yang terhadap tanah menjadi tinggi. Dengan
tanah miliknya diambil oleh pemerintah. demikian, manusia semakin menggiatkan
Hal itu dilakukan karena pemerintah usahanya mendapatkan tanah untuk
mempunyai kepentingan tertentu seperti mencapai tujuan masing-masing dalam
untuk pelebaran jalan, pembangunan memanfaatkan tanah. Jika usaha itu tidak
tempat ibadah, proyek pembangunan ruas diawasi dengan cara-cara tertentu,
jembatan penyeberangan dan sekolah yang perebutan dan pengambilan tanah menjadi
dinyatakan sebagai proyek pembangunan begitu jelas dan mungkin akan menjadi
bagi kepentingan umum. Dari kasus yang pertumpahan darah, monopoli, penelantar-
banyak terjadi, jelas sekali bahwa tanah an (dalam arti kata tanah tidak
memegang peranan sentral dalam dimaksimumkan penggunaan atau
kehidupan dan perekonomian Indonesia manfaatnya), ketidak adilan dalam
dan Malaysia yang bercorak agraris. menggunakan atau memanfaatkan tanah.
Penghargaan masyarakat terhadap tanah Peningkatan penggunaan tanah
semakin meningkat seirama dengan mengakibatkan terjadinya bermacam-
semakin meningkatnya pula jumlah macam corak dan bentuk hubungan antara

ISSN : 2085-4757 56
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Perbandingan Hukum...(Ana Suheri) 56-61

manusia dan tanah, yang sekaligus harus tetap menghormati hak-hak


menyebabkan terjadinya perkembangan warganegaranya kalau tidak mau dikatakan
dalam bidang hukum maupun tidak. melanggar hak azasi manusia. Apabila hal
Perkembangan tersebut turut mempe- itu tidak dihiraukan akan menimbulkan
ngaruhi pandangan masyarakat terhadap masalah-masalh seperti yang selalu
tanah, baik dari segi pemilikan, diberitakan oleh media massa, dimana
penguasaan maupun penggunaannya. Hal pihak penguasa/kerajaan dengan
ini terlihat apabila dilakukan pengamatan keterpaksaannya melakukan tindakan yang
terhadap perubahan masyarakat agraris dinilai bertentangan dengan hak azasi
menjadi masyarakat industri. Didalam manusia, sedangkan rakyat mau tidak mau
masyarakat yang mulai meninggalkan melakukan apa saja untuk menempatkan
ketergantungan pada sektor agraris apa yang diyakininya sebagai hak yang
(menuju masyarakat industri), hubungan harus dipertahankannya. Bertumpu pada
manusia dengan tanah mengacu kepada latar belakang masalah tersebut, maka
hubungan yang bersifat individualis dan dapat dirumuskan isu hukum yang timbul
berorientasi ekonomis. Perubahan bentuk dari masalah ini adalah : Bagaimanakah
hubungan tersebut semakin jelas dengan konsep pengaturan pengadaan tanah untuk
pengembangan hukum tanah, terutama kepentingan umum di kedua Negara?
hukum tertulis yang lebih cenderung
menyetujui pemilikan individu. Tanah PEMBAHASAN
yang diperlukan itu, dapat berupa tanah
yang dikuasai langsung oleh Negara. Jika Kosep Pengaturan Pengadaan Atas
tanah yang diperlukan untuk pembangunan Tanah di Indonesia
itu berupa tanah Negara (Indonesia) atau Asal usul kekuasaan Negara selalu
tanah kerajaan negeri (Malaysia) bukan dihubungkan dengan teori kedaulatan
tanah hak milik, maka pengambilannya karena dikaitkan dengan soal siapa yang
tidaklah sukar, yaitu dengan cara Negara berdaulat atau memegang kekuasaan dalam
atau Kerajaan Negeri dapat mengambil sebuah Negara. Menurut Van Vollenhoven
tanah itu untuk selanjutnya digunakan sebagaimana ditulis oleh Notonegoro
untuk pembangunan. Lain halnya kalau Negara ialah sebagai organisasi tertinggi
tanah tersebut adalah tanah hak milik, akan dari bangsa yang diberi kekuasaan untuk
menjadi rumit dalam pelaksanaan mengatur segala-galanya dan Negara
pengambilannya. Pengadaan tanah bagi berdasarkan kedudukannya memiliki
pembangunan untuk kepentingan umum kewenangan untuk membuat peraturan
merupakan tuntutan yang tidak dapat hukum. Dalam kepustakaan lain, J.J.
dielakan oleh pemerintah manapun. Rousseau menyebutkan bahwa kekuasaan
Semakin maju masyarakat, semakin Negara sebagai suatu badan atau organisasi
banyak diperlukan tanah-tanah untuk rakyat bersumberkan dari hasil perjanjian
kepentingan umum. Sebagai konsekuensi masyarakat yang intinya merupakan suatu
dari hidup bernegara dan bermasyarakat, bentuk kesatuan yang membela dan
jika hak milik individu (pribadi) melindungi kekuasaan bersama, kekuasaan
berhadapan dengan kepentingan umum pribadi dan milik setiap individu. Dalam
maka kepentingan umumlah yang harus perjanjian masyarakat itu, pada hakekatnya
didahulukan. Namun demikian Negara yang dilepaskan oleh setiap individu dan

ISSN : 2085-4757 57
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Perbandingan Hukum...(Ana Suheri) 56-61

diserahkan kepada komunitasnya hanya digunakan tanah lain. Dalam pencabutan


sebahagian kekuasaan bukan kedaulatan- hak tuan punya tanah tidak melakukan
nya. Landasan hukum dalam pengaturan sembarang kesalahan atau melalaikan
masalah tanah di Indonesia, terdapat dalam suatu kewajiban sehubungan dengan
pasal 33 ayat (3) Undang-undang dasar penguasaan tanah yang dipunyainya. Oleh
1945 yang berbunyi Bumi, air dan karena itu pengambilan tanah itu wajib
kekayaan alam yang terkandung disertai dengan pemberian ganti kerugian
didalamnya dikuasai oleh Negara dan yang layak. Jadi di Indonesia pengambilan
dipergunakan untuk sebesar-besar tanah untuk pelaksanaan pembangunan
kemakmuran rakyat. Untuk melaksanakan demi kepentingan umum di atas tanah hak,
ketentuan pasal tersebut, pada tanggal 24 dapat dilakukan melalui dua cara yaitu:
september 1960 diundangkan Undang- pencabutan hak-hak atas tanah yang diatur
undang No. 5 tahun 1960 tentang dalam Undang-undang No. 20 tahun1961
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, seperti yang ditegaskan diatas, dan
yang selanjutnya lebih dikenal dengan pengadaan tanah bagi pelaksanaan
istilah Undang-Undang Pokok Agraria pembangunan untuk kepentingan umum
(UUPA). Dalam penjelasan umumnya yang diatur dalam Peraturan Presiden
dinyatakan dengan tegas, Bahwa tanah- Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan
tanah di daerah-daerah dan pulau-pulau Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan
tidak semata-mata menjadi hak rakyat Untuk Kepentingan Umum. Peraturan
secara individual dari rakyat yang tinggal Presiden ini kemudian dipinda dengan
didaerah itu. Dengan pengertian yang Peraturan Presiden Nomor 65 tahun 2006
demikian, maka hubungan bangsa tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden
Indonesia dengan bumi, air, ruang angkasa Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan
Indonesia merupakan semacam hak ulayat. Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan
Demikian pula, dasar dari pengambilan Untuk Kepentingan Umum. Pengertian
tanah untuk kepentingan umum di kepentingan umum sejauh ini belum dapat
Republik Indonesia diatur juga dalam memberikan suatu definisi yang baku,
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) hanya sekedar hakikat dari kepentingan
pasal 18 menyebutkan Untuk umum dapat dikatakan untuk keperluan
Kepentingan umum, termasuk kepentingan dan kepentingan khalayak atau tujuan
bangsa dan Negara serta kepentingan sosial yang luas. Walau bagaimanapun,
bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah rumusan yang demikian masih terlalu
dapat dicabut, dengan memberi ganti umum dan tidak ada batasannya. Menurut
kerugian yang layak dan menurut cara John Salindeho, kepentingan umum adalah
yang diatur dengan undang-undang. sebagai kepentingan bangsa dan Negara
Peraturan yang mengatur pengambilan serta kepentingan bersama dari rakyat,
tanah itu ialah Undang-Undang Nomor 20 dengan memperhatikan aspek-aspek sosial,
tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak politik, psikologis, dan Hankamnas atas
Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada di dasar asas-asas Pembangunan Nasional
Atasnya. Pencabutan hak dilakukan jika dengan mengindahkan Ketahanan Nasional
diperlukan tanah untuk kepentingan umum serta Wawasan Nusantara. Pengertian
apabila musyawarah yang telah diusahakan kepentingan umum yang didefinisikan
tidak membawa hasil, pada hal tidak bisa secara tidak memadai itu pada gilirannya

ISSN : 2085-4757 58
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Perbandingan Hukum...(Ana Suheri) 56-61

menyebabkan penjabaran daftar kegiatan peruntukan tertentu yang membolehkan


kepentingan umum menjadi tidak jelas. Pemerintah Federal memiliki tanah untuk
Dalam pasal 5 Perpres No. 65 tahun 2006 tujuan umum misalnya di bawah
menyatakan Pembangunan Untuk Perkara/Pasal 83 hingga 86 Perlembagaan
Kepentingan Umum Yang dilaksanakan Persekutuan. Oleh karena kerajaan
Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang persekutuan tidak mempunyai wewenang
selanjutnya dijabarkan ke dalam 21 jenis atas tanah di negeri-negeri, maka
kegiatan. Dari 21 daftar kepentingan seandainya Kerajaan Persekutuan
umum, sebahagian kegiatan menimbulkan memerlukan tanah kerajaan untuk tujuan
suatu tanda tanya besar, apakah layak Persekutuan/Federal, Pemerintah Federal
disebut sebagai kepentingan umum. malalui Pesuruhjaya (Komisi) Tanah
Rumah sakit umum dan pusat kesehatan Persekutuan, harus memohon kepada
masyarakat banyak didirikan hanya untuk Kerajaan Negeri untuk pemberian milik
konsumsi kalangan tertentu yang sangat dengan syarat Kerajaan Persekutuan harus
terbatas. Secara eksplisit tentu saja tidak membayar premium dan pajak tanah
dinyatakan, akan tetapi biaya yang sangat sebagaimana yang disepakati. Adalah
mahal adalah indikasi yang sangat jelas menjadi kewajiban Kerajaan Negeri untuk
pembuktiannya. member milik tanah berkenaan. Demikian
juga jika Kerajaan Persekutuan
Konsep Pengaturan Pengadaan Atas memerlukan tanah milik apakah ia
Tanah di Malaysia membeli langsung dari pemilik tanah atau
Di Malaysia pengaturan mengenai memohon bantuan Kerajaan Negeri untuk
tanah di bawah kewenangan Kerajaan mengambil tanah di bawah Akta
Negeri, sebagaimana diperuntukan di Pengambilan Tanah (Perkara/pasal 3,
bawah Senarai/daftar II,Jadual/Lampiran 1. 1960). Dasar dari pengambilan tanah di
Kesembilan, Perlembagaan Persekutuan, Malaysia juga diatur didalam pasal 13
atau yang disebut dengan Konstitusi Perlembagaan Persekutuan seperti yang
Malaysia. Pihak Berkuasa Negeri (PBN) berikut :
berkuasa atas, dan memiliki sepenuhnya, 1. Tiada seorang pun dapat dicabut
semua tanah kerajaan di dalam Negeri hartanya kecuali berdasarkan undang-
masing-masing termasuk semua galian dan undang;
mineral di dalam atau di atas tanah
bersangkutan. Pihak berkuasa Negeri juga 2. Tiada satu undang-undang pun yang
berkuasa untuk melepaskan tanah-tanah bisa membuat aturan untuk mengambil
kerajaan seperti yang diatur dalam Kanun atau menggunakan harta-harta dengan
Tanah Negara, Enakmen Pertambangan paksa dengan tiada ganti kerugian
Negeri-Negeri dan Enakmen Hutan yang mencukupi.
Negeri, termasuk semua hak pengembalian Persoalan pokok yang dibahas dalam
dan hak-hak yang diberikan di bawah pasal 13 itu ialah tentang hak terhadap
undang-undang tersebut. Oleh karena itu harta. Tidak ada takrif/penjelasan
Pemerintah Federal tidak mempunyai mengenai harta yang diberikan oleh
kewenangan apapun mengenai tanah di Perlembagaan Persekutuan atau Akta
Negara bagian Malaysia. Meskipun Penafsiran 1967. Meskipun demikian,
demikian, dari segi pemilikan tanah, ada harta cuma dikategorikan kepada dua jenis

ISSN : 2085-4757 59
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Perbandingan Hukum...(Ana Suheri) 56-61

yaitu harta alih (benda bergerak) dan besar peluang Pihak Berkuasa Negeri
harta tak alih (benda tak bergerak). Di (PBN) atau pegawainya bertindak dengan
Malaysia, tujuan pengadaan tanah diatur menyalahgunakan kuasa yang diberikan
dalam pasal 3 Akta Pengambilan Tanah oleh APT 1960. Kemungkinan
(APT) 1960, yang menyatakan; penyalahgunaan kuasa sedang berjalan
sekarang ini dengan berselindung dibalik
PBN dapat mengambil tanah
peruntukan undang-undang. Jika tidak,
manapun yang diperlukan
tidak akan timbul masalah-masalah
(a). Untuk sebarang maksud awam berkaitan dengan pengadaan tanah di
(b). Oleh sebarang orang atau perbadanan kalangan masyarakat Malaysia.
bagi sebarang maksud yang pada
pendapat PBN adalah bermanfaat KESIMPULAN
untuk pembangunan ekonomi
Malaysia atau mana-mana Di Indonesia pengertian kepentingan
bahagiannya atau kepada awam amnya umum ini telah beberapa kali mengalami
atau mana-mana golongan awam. perubahan konsep. Pada awalnya
(c). Untuk maksud perlombongan atau kepentingan umum ini termasuk juga
untuk maksud-maksud tempat proyek-proyek yang dibina oleh swasta.
kediaman, pertanian, perdagangan Pada masa itu pihak swasta melakukan
atau perindustrian. kesepakatan dengan pemerintah untuk
mendapatkan tanah rakyat dengan harga
Di dalam buku manual Pengambilan murah atas alasan pembangunan proyek
Tanah, secara mudah menyebut bahwa yang mereka lakukan adalah untuk
Maksud Awam ialah setiap maksud yang kepentingan umum. Oleh kerap
bertujuan untuk kepentingan yang mendapatkan protes dari masyarakat, maka
membawa manfaat umum atau sebagian pemerintah melakukan beberapa
umum tetapi bukan untuk keuntungan perobahan terhadap peraturan-peraturan
individu. Dengan demikian, pengambilan tersebut sehingga konsep yang terakhir itu,
tanah untuk sekolah, rumah sakit, yaitu Peraturan Presiden No. 65 tahun
pengadilan, dan jalan adalah dianggap 2006 yang kemudian dalam pasal 5
sebagai maksud atau keperluan umum. dijabarkan kembali kedalam 21 jenis
Dengan diamademan seksyen 3 (b) APT kegiatan yang pelaksanaannya
1960 pada 12 September 1991, telah dilimpahkan oleh pemerintah dan
terjadi perubahan kosep pengadaan tanah. pemerintah daerah, seperti contohnya di
Jika dahulunya tanah diambil untuk tujuan Provinsi Kalimantan Tengah melalui
umum bagi kepentingan orang ramai, Peraturan Gubernur No. 5 tahun 2014
tetapi sekarang tanah boleh diambil untuk tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
member kepada orang perseorang atau Persiapan Pengadaan Tanah Bagi
pihak swasta untuk menjalankan kegiatan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
ekonomi demi tujuan pribadi seseorang Di Malaysia, konsep kepentingan
atau untuk tujuan perusahaan atau kegiatan umum ini juga mengalami perubahan,
komersial lainnya. Dengan adanya dengan pemindaan seksyen 3 (b) Akta
amandemen Akta Pengambilan Tanah Pengambilan Tanah (APT) tahun 1960
(APT) 1960 (di seksyen 3 b ) kemungkinan yang di Amandemen pada 12 September

ISSN : 2085-4757 60
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Perbandingan Hukum...(Ana Suheri) 56-61

1991, juga terjadi perubahan konsep Persekutuan dari Segi Dasar dan
pengadaan tanah. Jika dahulunya tanah Perundangan, dalam Ahmad
diambil untuk tujuan awam yang Ibrahim, et.al, Perkembangan
membawa faedah bagi orang ramai, tetapi Undang-Undang Perlembagaan
sekarang ini tanah boleh diambil untuk Persekutuan, Dewan Bahasa dan
memberi kepada orang perseorangan atau Pustaka, Kuala Lumpur, 1999.
badan korporat untuk menjalankan
kegiatan ekonomi untuk tujuan peribadi Oka Mahendra, A.A., Menguak Masalah
seseorang atau untuk tujuan badan atau Hukum, Demokrasi Dan
syarikat. Dengan secara langsung, tanah Pertanahan, Sinar Harapan,
milik seseorang boleh diambil untuk Cetakan Pertama, Jakarta, 1996.
diberikan kepada orang lain, badan atau
syarikat yang kaya dengan alasan untuk Siwar, Chamhuri, Penyusunan Semula
pembangunan. Masyarakat Melalui Reformasi
Tanah, dalam Isu Ekonomi, Sosial
DAFTAR RUJUKAN Dan Politik Malaysia : Kumpulan
Esai Dewan Masyarakat 1975-
Abdurrahman, Masalah Pencabutan Hak- 1979, Dewan Bahasa Dan Pustaka
Hak Atas Tanah, Pembebasan Kementerian Kerajaan Malaysia,
Tanah Dan Pengadaan Tanah Bagi Kuala Lumpur, 1983.
Pelaksanaan Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum Di Indonesia, Soejono dan Abdurrahman, Prosedur
(Edisi Revisi), PT. Citra Aditya Pendaftaran Tanah Tentang Hak
Bakti, Bandung, 1996. Milik, Sewa Guna dan Hak Guna
Bangunan, Rineka Cipta, Jakarta,
Azis Hussin, Abdul, Undang-Undang 1998.
Perolehan Dan Pengambilan Tanah,
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Daftar Peraturan
Lumpur, 1996. Undang-Undang Dasar 1945
Harsono, Boedi, Hukum Agraria Indonesia Perlembagaan Persekutuan (Konstitusi
: Sejarah Pembentukan Undang- Malaysia)
Undang Pokok Agraria, Isi dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang
Pelaksanaannya, Jilid 1, Edisi Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
Revisi, Ctk. Ketujuh, Djambatan,
Jakarta, 1997. Undang-Undang No. 20 Tahun 1961
tentang Pengambilan Atas Tanah dan
Hussain, Helmi, Akta Pengambilan Tanah Benda.
1960 : Suatu Huraian dan Kritikan, Perpres. No. 36 Tahun 2005 tentang
Penerbit University Kebangsaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan
Malaysia, Bangi, 1999. Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

Mohd. Zain bin Haji Nik Yusof, Pemilikan


Tanah di Bawah Perlembagaan

ISSN : 2085-4757 61