Anda di halaman 1dari 12

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D.

Bangas) 10-21

KEBIJAKAN PUBLIK (PUBLIC POLICY)


DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA

Oleh: Karlinae D Bangas


Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
e-mail: karlinadb51@gmail.com

Abstrak: Studi kebijakan publik berusaha untuk meninjau berbagi teori dan proses yang
terjadi dalam kebijakan publik. Dapat dikatakan bahwa hukum kebijakan publik tidak
lepas dari proses pembentukan kebijakan itu sendiri. Dengan demikian, salah satu tujuan
studi kebijakan publik adalah untuk menganalisis bagaimana tahapan demi tahapan
proses pembentukan kebijakan publik tersebut sehingga terwujudlah suatu kebijakan
publik tertentu.Tahapan demi tahapan tersebut terangkum sebagai suatu proses siklus
pembuatan kebijakan publik. Setiap tahapan dalam proses pembentukan kebijakan publik
mengandung berbagai langkah dan metode yang lebih rinci lagi. Tahapan yang terdapat
dalam pembuatan suatu kebijakan publik memiliki berbagai manfaat serta konsekuensi
dari adanya proses tersebut, khususnya bagi para aktor pembuat kebijakan
publik.Tulisan ini mencoba menguraikan berbagi tahapan yang terjadi dalam proses
siklus perumusan kebijakan publik terhadap lingkungan yang harusnya didasari oleh
tujuan dan dasar hukum yang baik;. Tujuannya adalah untuk memahami berbagai
tahapan pembuatan kebijakan publik sehingga mempermudah untuk menganalisis
masalah-masalah yang kompleks sehingga dapat dirumuskan ke dalam suatu kebijakan
publik yang baik terhadap hukum lingkungan.

Kata Kunci: Kebijakan Publik, Lingkungan Hidup

LATAR BELAKANG MASALAH tidak terbatas). Rumusan tersebut di atas


dapat disimpulkan bahwa:
Konstitusi kita, UUD 1945 secara
nyata menyatakan Indonesia sebagai a. Negara Indonesia berdasar atas hukum,
negara hukum yaitu pada pasal 1 ayat (3) bukan berdasarkan kekuasaan semata;
UUD 1945 berbunyi : Negara Indonesia b. Pemerintah negara berdasar atas suatu
negara hukum. Selain itu, dalam konstitusi dengan kekuasaan
Penjelasan Umum UUD 1945 tentang pemerintah terbatas, tidak absolut.
Sistem Pemerintahan Negara, dijelaskan
bahwa:Indonesia adalah negara yang Hukum seharusnya mempunyai
berdasar atas hukum (Rechtstaat) tidak kedudukan dan arti penting dalam
berdasar atas kekuasaan belaka pemecahan masalah lingkungan dan
(Machtstaat); Sistem konstitusional pun berfungsi sebagai dasar yuridis bagi
menyatakan bahwa Pemerintah berdasar pelaksanaan Kebijakan Negara /
atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak Pemerintah dalam mengelola lingkungan
bersifat absolutisme (kekeuasaan yang hidup. Jika Kebijakan lingkungan

ISSN : 2085-4757 10
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

kemudian dirumuskan dalam rangkaian seperti ketidaklengkapan penggunaan


norma yang tertuang dalam peraturan fungsi manajemen lingkungan, belum
Perundang-undangan lingkungan, maka terurai dengan utuh penormaan prinsip-
dalam arti sempit dapat disebut sebagai prinsip pembangunan keberlanjutan,
kebijakan hukum lingkungan atau sering pengaturan kelembagaan yang sangat
pula disebut politik perundang-undangan parsial, pasal perizinan yang sumir, norma
di bidang lingkungan hidup. Timbul pengawasan yang tidak jelas, belum
pertanyaan apakah yang dimaksud dengan lengkapnya pengaturan tentang hak-hak
Kebijakan dalam bidang Hukum prosedural masyarakat, belum
Lingkungan itu? Yang dimaksud dengan didayagunakan pengaturan berkenaan
kebijakan hukum lingkungan dalam arti dengan persyaratan penaatan, instrumen
sempit adalah penentuan konsep, proses, ekonomi, rumusan sanksi administrasi dan
strategi, dan siasat yang terumuskan secara pidana yang tidak implementatif. Dengan
sistematis berkenaan dengan rencana, demikian, tidak sedikit terjadi disharmoni
program, proyek, dan kegiatan pemerintah antara peraturan perundang-undangan
dan masyarakat sebagai sarana pencapaian lingkungan hidup dengan perundang-
tujuan pengelolaan lingkungan hidup undangan sektor, yakni berupa konflik,
melalui pendayagunaan peraturan kontradiksi, tumpang tindih, gap, dan
perundang-undangan beserta kelembagaan- inkonsistensi. Adapun titik lemah dari
nya. Pertanyaan lanjutannnya adalah keberadaan UU Nomor 23 Tahun 1997
kebijakan hukum yang bagaimanakah yang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
secara sistemik dan efektif berpotensi (UUPLH) sebelum diganti dengan
mewujudkan tujuan kebijakan lingkungan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009
Mengapa dalam faktanya malah justru adalah tidak cukup mampu menempatkan
peraturan perundang-undangan tidak dirinya sebagai UU yang menjadi landasan
sedikit memberikan kontribusi yang cukup untuk menilai dan menyesuaikan (atau
siginifikan dalam hal terjadinya masalah dengan perkataan lain sebagai undang-
lingkungan? undang yang berfungsi payung) terhadap
UU Sektor. Bahkan UU sektor ini
Pemikiran yang didukung oleh hasil dalam tataran pelaksanaanya justru lebih
penelitian dan pengkajian mengungkapkan dominan dan malah terkesan
bahwa salah satu faktor yang mengenyampingkan keberlakuan UUPLH.
mempengaruhi buruknya pengaturan Isu lainnya yang berkaitan dengan
pengelolaan lingkugan hidup di Indonesia pengelolaan dan pengaturan lingkungan
adalah karena kebijakan peraturan hidup di Indonesia adalah bahwa berkaitan
perundang-undangan yang sengaja dengan perkembangan pemikiran dan
didesain (atau mungkin juga karena konsep pengelolaan lingkungan yang
kelalaian) untuk tidak cukup efektif terjadi di dunia internasional, maka
mencegah dan menyelesaikan masalah komitmen global Indonesia perlu pula
lingkungan. Kelemahan ini dapat dilihat menjadi perhatian dalam mengisi substansi
dari beberapa peraturan perundang- perundang-undangan lingkungan hidup,
undangan lingkungan hidup yang misalnya perlu dimuatnya prinsip-prinsip
cenderung bersifat pragmatis, reaktif, Pengelolaan Lingkungan yang Baik (Good
sektoral, parsial dan berjangka pendek, Environmental Governance) dan

ISSN : 2085-4757 11
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

Penglolaan Pembanguan Berkelanjutan Masyarakat akan lebih terbuka dan


yang Baik (Good Sustainable Devlopment demokratis (democratic society and
Governance) secara utuh dan rinci, seperti government)
adanya: Kekuatan-kekuatan civil society
sebagai kelompok penekan (pressure
a. Intergenerational equity; group) semakin kuat dan efektif;
b. Intragenerational equity; Gerakan konsumen hijau semakin
c. The precautionary principle; meluas seiring dengan berkembangnya
d. The internalization of externality; pendidikan lingkungan, meningkatnya
e. Pollution Prevention; kesadaran LH terhadap kondisi SDA
f. Polluter Pays Principle; dan LH yang semakin memburuk;
g. Strict Liability and Absolute Liability; Rule of Law semakin terbangun.
h. Shifting of burden of proof;
i. Transboundary Principle; Tentunya kondisi tersebut diatas amat
j. Extraterritoriality Principle. memprihatinkan, karena sesungguhnya
pedayagunaan Peraturan perundang-
Asas-asas kebijakan lingkungan undangan, sebagai sarana yuridis normatif
(principles of environmental policy) yaitu dalam mewadahi dan memberi landasan
antara lain: Kebijakan lingkungan, seharusnya justru
memberikan keuntungan, yaitu antara lain
a. abatement at the source; memiliki daya paksa secara lebih rasional
b. best practicable means/best technical dan proporsional, dapat mengintegrasikan
means; berbagai kebijakan yang terserak dalam
c. stand still principle; berbagai dokumen, dapat memberikan
d. principle of regional differentiation. panduan bertindak dalam pola yang ajeg,
memudahkan dalam meminta
Prinsip-prinsip pembangunan ber- pertanggungjawaban siapapun yang
kelanjutan tersebut merupakan suatu berbuat melawan kehendak hukum, dan
paket dari pengelolaan lingkungan yang lebih memberikan kekuatan terhadap
baik, yang harus termuat dalam kebijakan legitimasi sosial. Memang disadari betapa
lingkungan yang diwujudkan dalam banyak masalah yang dihadapi dalam
perangkat peraturan perundang-undangan pengaturan Kebijakan hukum di bidang
lingkungan hidup. Harmonisasi dari lingkungan hidup, hal ini tidak saja
prinsip sustainable development dan good merupakan tantangan bagi mereka yang
environment governance adalah Good langsung berkecimpung di bidang Hukum
Sustainable Development Governance Lingkungan, tetapi merupakan panggilan
yang berimplikasi pula pada: tugas dan tanggung jawab bersama para
ahli hukum untuk berperan serta melalui
Dorongan ke arah Corporate Social kemampuan ilmunya dalam upaya
Responsibility dan Accountability membangun Hukum Lingkungan Nasional
lebih menguat (termasuk tuntutan Indonesia yang lebih baik di masa datang.
masyarakat internasional);

ISSN : 2085-4757 12
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

PERMASALAHAN dan daya dukung lingkungan. Istilah


ekologi pertama kali digunakan oleh
Dari berbagai uraian tersebut diatas Haeckel di tahun 1860-an. Menurut
maka ada beberapa permasalahan yang Soemarwoto bahwa istilah ekologi berasal
dapat menjadi rumusan masalah yang dari bahasa Yunani, yaitu eikos yang
diangkat dalam penulisan ini yaitu: berarti rumah dan logos berarti ilmu.1 Oleh
karena itu, secara harfiah ekologi berarti
1. Bagaimana Tahapan dalam Perumusan tentang mahluk hidup dalam rumahnya
Kebijakan dalam Hukum Lingkungan atau dapat diartikan juga sebagai ilmu
di Indonesia? tentang rumah tangga mahluk hidup.
2. Bagaimana Pengelolaan dan Selanjutnya menurut Soerjani menyatakan
Pengaturan Lingkungan Hidup yang bahwa:
baik di Indonesia?
Ekologi adalah ilmu dasar untuk
METODE PENELITIAN mempertanyakan, menyelidiki, dan
memahami bagaimana alam bekerja,
Dalam melakukan suatu penelitian bagaimana keberadaan mahluk hidup
hukum tidak dapat terlepas dengan dalam sistem kehidupan, apa yang mereka
penggunaan metode penelitian. Karena perlukan dari habitatnya untuk dapat
setiap penelitian apa saja pastilah melangsungkan kehidupannya, bagaimana
menggunakan metode untuk menganalisa dengan melakukan semuanya itu dengan
permasalahan yang diangkat.. Kemudian komponen lain dan spesies lain, bagaimana
diadakan pemeriksaan mendalam terhadap individu dalam spesies itu beradaptasi,
fakta hukum tersebut untuk kemudian bagaimana mahluk hidup itu menghadapi
mengusahakan suatu pemecahan atas keterbatasan dan harus toleran terhadap
permasalahan yang timbul di dalam gejala berbagai perubahan, bagaimana individu-
yang bersangkutan. Penelitian yang individu dalam spesies itu mengalami
digunakan dalam tulisan ini adalah pertumbuhan sebagai bagian dari suatu
penelitian dengan metode yuridis Normatif populasi atau komunitas. Semuanya ini
(Legal Research) yaitu dengan cara berlangsung dalam suatu proses yang
meneliti bahan pustaka atau data sekunder. mengikuti tatanan, prinsip dan ketentuan
Dalam penulisan ini digunakan Pendekatan alam yang rumit, tetapi cukup teratur, yang
Konseptual (conseptual approach) . Bahan dengan ekologi kita memahaminya.2
hukum yang digunakan dalam penulisan Hukum lingkungan dalam bidang
ini adalah bahan hukum primer, sekunder, ilmu hukum, merupakan salah satu bidang
dan bahan hukum tersier. Bahan-bahan ilmu hukum yang paling strategis karena
hukum itu kemudian disusun secara hukum lingkungan mempunyai banyak
sistematis dikaji secara mendalam untuk segi yaitu segi hukum administrasi, segi
selanjutnya ditarik kesimpulan.
1
Soemarwoto, O..Ekologi Lingkungan dan
PEMBAHASAN Pembangunan Jakarta: Djambatan.1994.hlm 22
2
Soerjani.Lingkungan:Sumber Daya Alam dan
Pengertian lingkungan hidup tidak Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta:
dapat dipisahkan dari ekologi, ekosistem Universitas Indonesia Press.1987.hlm 24

ISSN : 2085-4757 13
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

hukum pidana dan segi hukum perdata. dijadikan prioritas untuk dibahas.
Dalam pengertian sederhana, hukum Masalah-masalah yang terkait dengan
lingkungan diartikan sebagai hukum yang kebijakan akan dikumpulkan sebanyak
mengatur tatanan lingkungan (lingkungan mungkin untuk diseleksi. Dalam proses
hidup), dimana lingkungan mencakup inilah memiliki ruang untuk memaknai
semua benda dan kondisi, termasuk apa yang disebut sebagai masalah
didalamnya manusia dan tingkah publik dan prioritas dalam agenda
perbuatannya yang terdapat dalam ruang publik dipertarungkan. Jika sebuah isu
dimana manusia berada dan memengaruhi berhasil mendapatkan status sebagai
kelangsungan hidup serta kesejahteraan masalah publik, dan mendapatkan
manusia serta jasad-jasad hidup lainnya. 3 prioritas dalam agenda publik, maka
Dalam pengertian secara modern, hukum isu tersebut berhak mendapatkan
lingkungan lebih berorientasi pada pada alokasi sumber daya publik yang lebih
lingkungan atau Environment-Oriented daripada isu lain. Dalam agenda setting
Law, sedang hukum lingkungan yang juga sangat penting untuk menentukan
secara klasik lebih menekankan pada suatu isu publik yang akan diangkat
orientasi penggunaan lingkungan atau Use- dalam suatu agenda pemerintah. Issue
Oriented Law.4 kebijakan (policy issues) sering disebut
juga sebagai masalah kebijakan (policy
Tahapan-Tahapan dalam Perumusan problem). Policy issues biasanya
dan Pembentukan Kebijakan Publik di muncul karena telah terjadi silang
Indonesia pendapat di antara para aktor mengenai
arah tindakan yang telah atau akan
Tahap-tahap dalam perumusan dan ditempuh, atau pertentangan
pembentukan Kebijakan Publik menurut pandangan mengenai karakter
William Dunn adalah sebagai berikut:5 permasalahan tersebut. Menurut
William Dunn (1990), isu kebijakan
1. Penyusunan Agenda (Agenda Setting) merupakan produk atau fungsi dari
Penyusunan agenda (Agenda adanya perdebatan baik tentang
Setting) adalah sebuah fase dan proses rumusan, rincian, penjelasan maupun
yang sangat strategis dalam realitas penilaian atas suatu masalah tertentu.
kebijakan publik. Sebelum kebijakan Namun tidak semua isu bisa masuk
ditetapkan dan dilaksanakan, pembuat menjadi suatu agenda kebijakan. Ada
kebijakan perlu menyusun agenda beberapa Kriteria isu yang bisa
dengan memasukkan dan memilih dijadikan agenda kebijakan publik
masalah-masalah mana saja yang akan diantaranya: telah mencapai titik kritis
tertentu yang apabila diabaikan
3
Siti Sundari Rangkuti,Prof.Hukum dan menjadi ancaman yang serius, telah
Lingkungan Nasional ,Airlangga University Press, mencapai tingkat partikularitas tertentu
Surabaya,2005.hlm 64
4 yang berdampak dramatis, menyangkut
Riana, T. Hukum Lingkungan dalam Bidang
Ilmu Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia emosi tertentu dari sudut kepentingan
Press.2009 hlm.26. orang banyak, mendapat dukungan
5
William Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan media massa, menjangkau dampak
Publik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, yang amat luas, mempermasalahkan
1998, Hlm:12

ISSN : 2085-4757 14
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

kekuasaan dan keabsahan dalam tindakan pemerintah yang membantu


masyarakat serta menyangkut suatu anggota mentolerir pemerintahan
persoalan yang fasionable (sulit disonansi. Legitimasi dapat dikelola
dijelaskan, tetapi mudah dirasakan melalui manipulasi simbol-simbol
kehadirannya. tertentu. Di mana melalui proses ini
Penyusunan agenda kebijakan orang belajar untuk mendukung
seharusnya dilakukan berdasarkan pemerintah.
tingkat urgensi dan esensi kebijakan, 4. Implementasi Kebijakan (Policy
juga keterlibatan stakeholder. Sebuah Implementation)
kebijakan tidak boleh mengaburkan Pada tahap inilah alternatif
tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan pemecahan yang telah disepakati
stakeholder. tersebut kemudian dilaksanakan. Pada
tahap ini, suatu kebijakan seringkali
2. Formulasi Kebijakan (Policy menemukan berbagai kendala.
Formulating) Rumusan-rumusan yang telah
Masalah yang sudah masuk dalam ditetapkan secara terencana dapat saja
agenda kebijakan kemudian dibahas berbeda di lapangan. Hal ini
oleh para pembuat kebijakan. Masalah- disebabkan berbagai faktor yang sering
masalah tadi didefinisikan untuk mempengaruhi pelaksanaan kebijakan.
kemudian dicari pemecahan masalah Kebijakan yang telah melewati tahap-
yang terbaik. Pemecahan masalah tahap pemilihan masalah tidak serta
tersebut berasal dari berbagai alternatif merta berhasil dalam implementasi.
atau pilihan kebijakan yang ada. Sama Dalam rangka mengupayakan
halnya dengan perjuangan suatu keberhasilan dalam implementasi
masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, maka kendala-kendala yang
kebijakan, dalam tahap perumusan dapat menjadi penghambat harus dapat
kebijakan masing-masing alternatif diatasi sedini mungkin.
bersaing untuk dapat dipilih sebagai
kebijakan yang diambil untuk 5. Penilaian/ Evaluasi Kebijakan (Policy
memecahkan masalah. Evaluation)
Secara umum evaluasi kebijakan
3. Adopsi/Legitimasi Kebijakan (Policy dapat dikatakan sebagai kegiatan yang
Adoption) menyangkut estimasi atau penilaian
Tujuan legitimasi adalah untuk kebijakan yang mencakup substansi,
memberikan otorisasi pada proses implementasi dan dampak. Dalam hal
dasar pemerintahan. Jika tindakan ini , evaluasi dipandang sebagai suatu
legitimasi dalam suatu masyarakat kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi
diatur oleh kedaulatan rakyat, warga kebijakan tidak hanya dilakukan pada
negara akan mengikuti arahan tahap akhir saja, melainkan dilakukan
pemerintah. Namun warga negara harus dalam seluruh proses kebijakan.
percaya bahwa tindakan pemerintah Dengan demikian, evaluasi kebijakan
yang sah. Dukungan untuk rezim bisa meliputi tahap perumusan masalh-
cenderung berdifusi - cadangan dari masalah kebijakan, program-program
sikap baik dan niat baik terhadap yang diusulkan untuk menyelesaikan

ISSN : 2085-4757 15
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

masalah kebijakan, implementasi,


maupun tahap dampak kebijakan. b. Bersifat komensalis
Kebijakan dalam membentuk
Pengelolaan dan Pengaturan peraturan perundang-undangan tidak
Lingkungan Hidup di Indonesia. selalu ditujukan untuk mengatur
bagaimana agar perlindungan kualitas
Jika dijabarkan konsep pengelolaan fungsi daya dukung dan daya tampung
dan pengaturan lingkungan hidup di lingkungan tetap tinggi atau setidaknya
Indonesia yaitu: tidak menurun secara signifikan.
Peraturan yang dibentuk hanya bersifat
a. Bersifat insidental: formalitas, sehingga hanya merupakan
Penyebab kelahiran suatu pengaturan lingkungan yang
peraturan perundangan undangan memberikan petunjuk umum secara
lingkungan tidak jarang ditandai oleh garsi besar dan bahkan terkadang
sifat reaktif terhadap suatu parsial. Adapun pengaturan tentang
kejadian/kasus yang bersifat incidental. pengelolaan lingkungan yang
Sifat reaktif dari aturan yang sekedar sebenarnya diserahkan kepada masing-
upaya merespon peristiwa lingkungan masing perundang-undangan sector-
inilah acap kali memang hanya umur sektor kegiatan, seperti kehutanan,
pendek saja dengan penyelesaian yang pertambangan, industri, pekerjaan
juga bersifat ad hoc. Oleh karena umum, perumahan. Cara ini tentunya
terbitnya perundang-undangan ini melihat pengelolaan lingkungan dari
didasarkan pada situasi dan kondisi kacamata kepentingan sektor yang
konkret, maka ciri kebijakan hukum bersangkutan, pada umumnya terutama
lingkungan ini bersifat insidental. dalam rangka pembangunan ekonomi
Produk peraturan yang tadinya belum yang menjadi panglimanya. Dengan
direncanakan dalam jangka panjang, demikian peraturan perundang-
akhirnya perangkat hukum itu undangan lingkungan hanya
dikeluarkan karena terdesak oleh merupakan minority regulation yang
keadaan yang segera mungkin harus mendukung perundang-undangan
diatasi dengan perangkat peraturan. sektor, misalnya pada awal tahun-tahun
Misalnya, lahirnya peraturan awal Orde Baru yang demikian tersbut
dilatarbelakangi oleh adanya suatu amat kentara dalam UU Kehutanan,
wabah penyakit, masalah kesehatan UU Pertambangan, UU PMA dsb. Jadi
lingkungan ataupun karena timbulnya kebijakan perundang-undangan ini
pencemaran dimana-mana oleh bersifat komensalis
industri. Sifat perundang-undangan
seperti ini sudah tentu tidak akan luwes c. Bersifat Parsial
dalam jangka waktu lama (tidak Ciri-ciri dari suatu kebijakan
mampu mencakup kebutuhan- perundang-undangan di bidang
kebutuhan perkembangan zaman), lingkungan hidup yang bersifat parsial
karena wawasan yang ditata hanya antara lain:
mampu menjangkau kepentingan-
kepentingan saat itu.

ISSN : 2085-4757 16
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

1. Masalah lingkungan dilihat hanya masing-masing departemen atau sektor,


sebatas pengaturan isu yang berdiri hal itu juga disebabkan karena setiap
sendiri-sendiri, seolah tidak ada departemen diberi wewenang teknis
kaitan dengan isu lainnya, misalnya untuk menetapkan peraturan-peraturan
isu kerusakan hutan dipersepsi dalam kaitan tugasnya masing-masing.
sebagai masalah kerusakan Singkat kata kebijakan sektoral atau
pohon/kayu, padahal hal tersebut departemental ini adalah bercirikan:
juga terkait dengan masalah tata
air, banjir, longsor, kerusakan situs 1. Masalah lingkungan hanya dilihat
budaya dsb; dari sudut pandang sektor;
2. Cara pengaturannya pun tidak 2. Pengaturan pengelolaan lingkungan
sistematis dan terpadu, lebih diatur oleh masing-masing sektor;
terkesan menonjolkan sektornya 3. Apabila tidak ada koordinasi maka
masing-masing, sehinga terjadi sering timbul konflik kewenangan,
egosektor; overlapping, dan tarik menarik
3. Tidak terjadi interaksi, kepentingan di antara sektor;
interdependensi, interkoneksi dan 4. Berpotensi untuk terjadi
interrelasi antara satu isu disharmoni dan inkonsistensi dalam
lingkungan dengan isu yang lain, pengambilan kebijakan di bidang
misalnya Peraturan Menteri X, lingkungan.
melarang tetapi Peraturan Menteri
Y membolehkan.; e. Praktek Jalan Pintas
4. Sulit untuk melihat masalah Terdapat suatu kecenderungan
lingkungan sebagai sebagai suatu dalam praktek, di mana beberapa
yang komprehensif, integrated, dan bentuk regulasi yang kendati pun
holistic, mislanya lahirnya Perpu secara substansial seharusnya
1/2004 jo UU No. 19/2005 yang membutuhkan tingkatan regulasi yang
membolehkan penambangan lebih tinggi, katakanlah dengan bentuk
terbuka di kawasan hutan lindung, UU, tetapi dengan beberapa hal,
yang notabene oleh UU No. kebutuhan tersebut hanya dibuat dalam
41/1999 tentang Kehutanan adalah bentuk di bawah tingkatan UU,
dilarang. misalnya, berupa Peraturan Pemerintah
(PP), Keputusan Presiden (Keppres),
d. Bersifat Sektoral Peraturan Menteri, dan lain-lain yang
Pada dasarnya kebijakan tidak perlu melibatkan parlemen
perundang-undangan lingkungan yang (DPR).
bersifat sektoral atau departemental ini Kebijakan jalan pintas ini secara
hampir serupa dengan yang bersifat ringkas bercirikan:
parsial sebagaimana terurai di atas. Ciri 1. Pengaturan lingkungan seringkali
inilah yang paling banyak menandai diterabas oleh produk yang mudah
peraturan perundang-undangan diterbitkan;
lingkungan kita. Selain dapat 2. Penyelesaian lingkungan selalu
dimaklumi bahwa pelaksanaan praktis didasarkan pada kesepakatan (joint
dari suatu kegiatan bermuara pada

ISSN : 2085-4757 17
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

policy) para pengambil kebijakan a. defined a policy problem in a way


misalnya melalui SKB; that was particularly helpful to
3. Pengaturan lingkungan lebih pada policy makers;
teknis operasional; b. described the full range of possible
4. Pengaturan lingkungan lebih policy respons;
diutamakan pada faktor efektivitas c. overcome resistance to change on
dan efisiensi; the part of the relevant regulatory
5. Produk hukum tidak didasarkan agency;
pada pengkajian yang d. provided important opportunities
komprehensif dan mendalam. for all stakeholders to participate;
e. worked to enhance the legitimacy
Cara negatif yang berwujud jalan pintas ini of the particular actions or changes
ditempuh karena adanya faktor-faktor suggested; and
berikut: f. helped ensure that adequate
resources would be avaible for
Adanya kebutuhan akan perangkat policy implementation.
hukum yang mendesak;
Menghindari waktu yang berlarut-larut Sifat dari regulasi-regulasi hukum
menunggu peraturan yang lebih tinggi, yang semata-mata hanya untuk satuan-
sehingga ditempuh jalan pintas dengan satuan lingkungan/ekosistem, termasuk
menggodok Permen atau Keppres. sistem-sistem kebijakan yang berhubungan
Cara ini lebih praktis dibandingkan dengan itu, disebut dengan Environmental
dengan sebuah UU (dibuat oleh Policy. Faktor yang ditekankan di sini
Presiden dengan persetujuan DPR), adalah diregulasikannya berbagai produk
yang sudah tentu memakan proses perundang-undangan yang khusus
yang lama dan membutuhkan banyak ditujukan untuk menata sistem lingkungan.
biaya;
Motivasi sosial politis; b. Regulasi Bersifat Integral Policy
Anggaran biaya yang tidak mencukupi Pengaturan pengelolaan
untuk memproduk UU; lingkungan hidup tidak semata-mata
Faktor kekurangtanggapan para aparat ditujukan untuk kepentingan
yang berkompeten. lingkungan saja, melainkan dikaitkan
dengan kepentingan sektoral seperti
Corak Kebijakan Peraturan pariwisata, perindustrian, transmigrasi,
Perundang-undangan Lingkungan perdagangan, pekerjaan umum,
Hidup perumahan, transportasi, dan lain-lain.
Dalam kebijakan penataan
a. Regulasi Bersifat Environmental regulasi ini, sektor non-lingkungan
Policy hidup menjadi porsi utama dari tujuan
Menurut Lawrence E. Susskind pembuatan peraturan perundang-
(et.al) 4 paling tidak ada 6 aspek undangan, tetapi tetap diperhatikan dan
karakteristik keberhasilan dalam dirumuskan beberapa pasal ketentuan
merumuskan kebijakan lingkungan, atas konservasi lingkungan sememadai
yakni: mungkin.

ISSN : 2085-4757 18
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

Meskipun demikian, pengeinteg- 4. Pemerintah hanya berfungsi


rasian kepentingan lingkungan (prinsip sebagai regulator, fasilitator, dan
pembangunan berkelanjutan dan penegakan hukum.
perlindungan) kepada kebijakan
lingkungan harus tetap dipersyaratkan Dilihat dari 3 corak kebijakan seperti
adanya koherensi diantar keduanya. tergambar dalam skema di atas, nampaklah
bahwa pada prinsipnya semua departemen
c. Regulasi Bersifat Supporting atau sektor terlibat dan mempunyai
Policy/Beyond Policy sangkut paut dalam hal penataan legislasi
Persoalan kebijakan lingkungan hukum lingkungan. Dengan kata lain,
nampaknya tidak hanya cukup semua produk kebijakan atas bidang-
diselesaikan dari aspek hukum semata, bidang pemerintahan atau non pemerintah
melainkan juga melingkupi nilai etik dikelompokkan melalui ketiga corak
dan bahkan hubungan transenden legislasi di atas dan satu dengan yang lain
antara mansuia dengan alamnya. hendaknya harus saling menunjang (sesuai
Regulasi hukum di semua sektor, asas KISS).
sepanjang masih mampu dilibatkan
untuk mendorong ditingkatkannya Kebijakan Hukum Lingkungan yang
partisipasi pembinaan lingkungan, Bersifat Komprehensif, Kohesif, dan
disebut dengan supporting policy atau Konsisten
beyond policy.
Sifat ketiga ini lebih diharapkan Akhirnya bagaimana suatu peraturan
untuk mendorong faktor pembinaan Perundang-undangan lingkungan hidup itu
lingkungan. Misalnya, mencintai seharusnya dibangun. Secara teoritis
lingkungan dan alam dapat diajarkan substansi dan rancang bangun perundang-
baik melalui intrakurikuler atau undangan di bidang lingkungan hidup ini
ekstrakurikuler di berbagai sekolah, memiliki ciri: Komprehensif: artinya
ditambahkan dan diaktifkannya LSM, substansi perundang-undangan ini memuat
digiatkannya swadaya masyarakat setiap aspek dari pengelolaan lingkungan
berupa partisipasi-partisipasi sosial, antara lain meliputi: inventarisasi,
spontanitas masyarakat, kelompok- perencanaan, perlindungan, pencegahan,
kelompok agama, pramuka, pemuda, pemanfaatan, penanggulangan, pemulihan,
dan lain-lain motivasi yang digerakkan pelestarian, konservasi, kelembagaan,
oleh keputusan-keputusan departemen- partisipasi masyarakat, desentralisasi,
tal. pengawasan, pengendalian, perizinan,
1. Pengaturan lingkungan dilakukan sumber daya manusia, standar, baku mutu,
mulai dari membangun budaya instrumen ekonomi, meninternalisasi
hukum masyarakat; komitmen global. Kohesif artinya:
2. Pengaturan lingkungan lebih senantiasa dikembangkan keterpaduan,
diarahkan pada penaatan sukarela; keterkaitan, keterlekatan, keterhubungan,
3. Pengaturan lingkungan lebih dan ketergantungan antara perundang-
menyertakan pada penguatan civil undangan lingkungan dengan sektor.
society dan pelaku ekonomi; Contoh di Belanda yang mereka sebut
sebagai National Environmental Policy

ISSN : 2085-4757 19
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

Plan (NEPP). Konsisten: bahwa setiap prioritas adalah bagaimana memanfaatkan


produk perundang-undangan di bidang sumber daya alam semaksimal mungkin
lingkungan hidup senantiasa (eksploitatif) dan mengundang investasi
mengedepankan selain good process, sebanyak mungkin. Oleh karena itu corak
artinya dibentuk dengan melibatkan kebijakan hukum lingkungannya
pemangku kepentingan (stakeholders) cenderung bersifat insidental, parsial,
seluas mungkin secara genuine; juga good sektoral, dan jalan pintas. Diharapkan ke
norms artinya tepat jenis perundang- depan akan dibangun corak kebijakan
undangannya, dibuat oleh lembaga yang hukum lingkungan yanglebih berisfat
tepat, mampu menjabarkan dengan jelas komprehensif, kohesif dan konsisten.
(clearly) prisnip-prinsip good Dikaitkan dengan tahapan maupun teori
environmental governance dan good Kebijakan publik hal-hal tersebut
sustainable development governance ke seharusnya permasalahan yang terjadi
dalam norma yang enforceable, sehingga dapat berkurang dan di atasi apabila
UUPLH dapat dijadikan atau berfungsi kebijakan publik yang di buat oleh
payung bagi kegiatan sektor. pemerintah benar-benar sesuai tujuan dan
manfaatnya tidak hanya sebagai produk
KESIMPULAN yang bermuatan kepentingan tertentu saja.

Jika kita memiliki kemauan yang DAFTAR RUJUKAN


sungguh-sungguh untuk membenahi
lingkungan, maka situasi legislasi hukum Alan Gilvin, 1997. Dictionary
seperti model-model yang sudah Environment and Sustainable
dijabarkan diatas saatnya ditinjau ulang. Development, John Wiley & Sons,
Pola perangkat hukum lingkungan yang (Terjemahan).
dominan bercirikan insidental, komensalis,
partial, sektoral atau jalan pintas seperti Dieter Helm, 2000 Environmental Policy,
dibahas sebelumnya, memberi kesan Objectives, Instruments, and
terhadap suatu keadaan yang belum Implementation, Oxford University
memiliki kemauan dan pendirian terhadap Press,.(Terjemahan)
masalah-masalah yang dihadapi.
Saatnyalah kini membangun Kebijakan Hikmat Ramdhan, Yusran, Dudung
Hukum lingkungan yang komprehensif, darusman, 2003. Pengelolaan
kohesif, dan konsisten. Untuk memahami Sumber Daya Alam dan Otonomi
sejauh mana komitmen suatu negara dalam daerah, Perspektif Kebijakan dan
mengatur pengelolaan lingkungan hidup Valuasi Ekonomi,Alqaprint
dapat dilihat dari kebijakan hukum Jatinangor,
lingkungan yang dihasilkan. Berbagai sifat
dan corak kebijakan hukum lingkungan Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari,
yang pernah dan sedang belaku di 2004 Dasar-dasar Politik Hukum,
Indonesia menggambarkan bahwa adanya Rajawali Press, Cet 1.
potret suram yang mengarah ke cerah. Hal
ini dapat dimengerti karena pada awal
negara kita membangun yang menjadi

ISSN : 2085-4757 20
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Kebijakan Publik dalam...(Karlina D. Bangas) 10-21

Lawrrnce E. Susskind, Ravi K. Jain,


Andrew O. Martyniuk, 2001. Better
Environmental Policy Studies,
Island Press,.(Terjemahan).

Riana, T. 2009. Hukum Lingkungan dalam


Bidang Ilmu Hukum.

Siti Sundari Rangkuti, 2000. Hukum


Lingkungan dan Kebijaksanaan
Lingkungan nasional, Air Langga
University Press, cet kedua.

Suharto,Edi (2010b), Analisis Kebijakan


Publik, Bandung: Alfabeta
(Cetakan keempat).

Santosa, M. A. 2001. Good Governance


dan Hukum Lingkungan. ICEL.
Jakarta: YLBHI.

Soemarwoto, O. 1994. Ekologi


Lingkungan dan Pembangunan
Jakarta: Djambatan.

Soerjani. 1987. Lingkungan: Sumber Daya


Alam dan Kependudukan dalam
Pembangunan. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.

Siti Sundari. 2005. Rangkuti, Prof.Hukum


dan Lingkungan Nasional,
Airlangga University
Press,Surabaya.

William Dunn,.1998. Pengantar Analisis


Kebijakan Publik, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta,.

http:///www.google.com.Kebijakan.hukum
.lingkungan.html
diakses Pada Tanggal 14 Juli 2016.

ISSN : 2085-4757 21