Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...

(Thea Farina) 22-31

HUKUM PERKAWINAN SEJENIS DITINJAU DARI ASPEK


HUKUM PERDATA

Oleh: Thea Farina


Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
e-mail: thea_farina@yahoo.co.id

Abstrak: Kesepakan untuk hidup bersama antara seorang laki-laki dengan seorang
perempuan berdasarkan syarat-syarat tertentu untuk itu disebut keluarga atau rumah tangga.
Walaupun keberadaan keluarga dalam hal itu didasarkan atas kesepakatan, akan tetapi isi
kesepakatan mereka tidak sama dengan isi kesepakatan pada umumnya, yaitu atas dasar asas
kebebasan bersepakat, melainkan ditetapkan oleh suatu aturan, yang disebut perkawinan.
Perkawinan sesama jenis di Indonesia, dari kacamatra agama dan adat, belum mendapat
perespektif layak untuk dilakukan, bahkan dapat disebut dari kacamata agama sebagai suatu
perbuatan dosa dan dari kacmata adat merupakan perbuatan dosa dan aib.Di luar Indonesia, di
negara-negara yang telah lama menjungjung tinggi HAM, persamaan jender, ada yang sudah
berani mengakui perkawinan sesama jenis. Sudah menjadi pendapat umum, bila dua orang
manusia yang berlainan jenis (seorang laki laki dan seorang perempuan) yang dilandasi rasa
kasih sayang, kepercayaan dan ingin untuk hidup bersama yang harmonis. Dalam hal ini tentu
tidaklah harus diartikan hanya untuk bersetubuhantara dua orang manusia tadi. Namun demikian
bersetubuh dalam hal itu merupakan factor pendorong yang penting untuk hidup bersama, baik
yang tujuannya untuk mendapatkan anak keturunan sendiri, maupun hanya untuk memenuhi
hawa nafsu belaka. Pengecualian dari tujuan ini, hidup bersama bagi dua insan yang berbeda
jenis bias terjadi tanpa bersetubuh. Dengan kata lain faktor bersetubuh tidaklah merupakan suatu
syarat mutlak untuk hidup bersama. Ini terbukti dari realitanya suatu perkawinan antara dua
orang yang sudah lanjut usia diperbolehkan untuk melangsungkan perkawinan. Begitu juga
tidaklah dibenarkan bila pasangan suami isteri tidak mungkin mempunyai anak keturunan
merupakan sebab resmi untuk bercerai. Bahkan belakangan ini, ketertarikan dua insan yang
sama untuk melakukan hubungan seks, juga bisa melangsungkan hidup bersama. Dari uraian
tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan, adanya permasalahan yang dalam perjalanan sejarah
seiring dengan berubahnya waktu dan tuntutan. Hidup bersama ini berakibat penting dalam
kehidupan bermasyarakat, karena kebersamaan mereka disebut keluarga dengan segala akibat
hukumnya. Berhubung dengan adanya akibat penting inilah diperlukan adanya suatu peraturan
berupa syarat-syarat untuk peresmiannya, pelaksanaan, kelanjutan dan terhentinya untuk hidup
bersama itu. Peraturan yang dimaksud inilah yang menimbulkan pengertian Perkawinan, yaitu
suatu hidup bersama dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat
dalam peraturan.

Kata Kunci: Perkawinan Sejenis, Hukum Perdata

LATAR BELAKANG MASALAH berlaku dimasing-masing lingkungan,


berbagai faktor yang mendorong seseorang
Dalam perjalanan sejarah melakukan perkawinan, antara lain;
pelaksanaan perkawinan sangat erat 1) adanya saling suka dan saling
hubungannya dengan adat istiadat yang menanggapi, 2) untuk melindungi

ISSN : 2085-4757 22
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

kehormatan seseorang, 3) waktu dan uang, hubungan hukum antara seorang pria
4) adanya keterlibatan emosional, dengan seorang wanita, untuk hidup
5) adanya rasa aman. bersama dengan kekal, yang diakui oleh
Negara.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Kedua difinisi perkawinan tersebut di
Undang-Undang Perkawinan yang akan atas, sama-sama menekankan adanya
disebutjuga UUP, menjelaskan bahwa hubungan antara ikatan seorang pria
:Perkawinan ialah ikatan lahir batin dengan seorang wanita.Hal ini berarti
antara seorang pria dengan seorang bahwa perkawinan itu adalah perikatan
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan (verbentennis). Perikatan disini tidaklah
membentuk keluarga (rumah tangga) yang sama dengan perikatan (janji) yang lahir
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan dari ketentuan Pasal 1338 KUHPerd, yaitu
Yang Maha Esa pada pokoknya penuh dengan kebebasan
untuk menentukan sendiri isi dari janji
Prinsip-prinsip yang dianut oleh tersebut dengan sesuka hatinya, asalkan
undang-undang perkawinan tersebut antara tidak bertentangan dengan undang-undang,
lain: kesusilaan dan ketertiban umum.
Sebaliknya perjanjian yang
1. Perkawinan bertujuan untuk dimaksudkan dalam perkawinan, sejak
membentuk keluarga atau rumah tangga semula ditentukan oleh hukum, isi dari
yang bahagia dan kekal; janji suami isteri itu.Kalau seorang pria
2. Perkawinan adalah sah bilamana dan seorang wanita berkata sepakat untuk
dilakukan menurut hukum agama dan melaksanakan perkawinan, ini berarti
kepercayaannya itu; mereka saling berjanji menaati peraturan-
3. Perkawinan harus dicatat menurut peraturan hukum yang berlaku mengenai
peraturan perundang-undangan; hak dan kewajiban suami isteri selama dan
4. Calon suami isteri harus sudah matang sesudah hidup bersama serta mengenai
jiwa raganya untuk melangsungkan kedudukannya dalam masyarakat terhadap
perkawinan; anak mereka. Begitu juga dalam hal
5. Batas usia kawin bagi pria 19 tahun dan menghentikan perkawinan, suami isteri
wanita 16 tahun; tidak leluasa penuh untuk menentukan
6. Perceraian dipersulit dan dilakukan sendiri syarat-syarat untuk bercerai
disidang pengadilan; melainkan terikat pada peraturan-peraturan
7. Hak dan kedudukan suami isteri adalah untuk itu. Sudah menjadi pendapat umum,
seimbang. bila dua orang manusia yang berlainan
Jika dibandingkan dengan Pasal 26 jenis (seorang laki-laki dan seorang
KUHPerdata (yang berlaku hingga tahun perempuan) yang dilandasi rasa kasih
1974), perkawinan, tidak dijelaskan sayang, kepercayaan dan ingin untuk hidup
dengan difinisi, hanya menyebut bahwa bersama yang harmonis. Dalam hal ini
undang-undang memandang soal tentu tidaklah harus diartikan hanya untuk
perkawinan hanya dalam hubungan- bersetubuh antara dua orang manusia tadi.
hubungannya perdata. Menurut Scholten Namun demikian bersetubuh dalam hal itu
(dalam Soetojo Prawirohamijoyo, merupakan faktor pendorong yang penting
1986:13), perkawinan dikatakan suatu untuk hidup bersama, baik yang tujuannya

ISSN : 2085-4757 23
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

untuk mendapatkan anak keturunan Berhubung dengan adanya akibat penting


sendiri, maupun hanya untuk memenuhi inilah diperlukan adanya suatu peraturan
hawa nafsu belaka. Pengecualian dari berupa syarat-syarat untuk peresmiannya,
tujuan ini, hidup bersama bagi dua insan pelaksanaan, kelanjutan dan terhentinya
yang berbeda jenis bisa terjadi tanpa untuk hidup bersama itu. Peraturan yang
bersetubuh. Dengan kata lain faktor dimaksud inilah yang menimbulkan
bersetubuh tidaklah merupakan suatu pengertian Perkawinan, yaitu suatu
syarat mutlak untuk hidup bersama. Ini hidup bersama dari seorang laki-laki dan
terbukti dari realitanya suatu perkawinan seorang perempuan yang memenuhi
antara dua orang yang sudah lanjut usia syarat-syarat dalam peraturan tersebut
diperbolehkan untuk melangsungkan (Wirjono Prodjodikoro, 1991: 7).
perkawinan. Begitu juga tidaklah Tujuan perkawinan berdasarkan UUP
dibenarkan bila pasangan suami isteri tidak secara eksplisit disebut dalam Pasal 1
mungkin mempunyai anak keturunan yaitumembentuk keluarga atau rumah
merupakan sebab resmi untuk bercerai. tangga yang bahagia dan kekal berdasrkan
Bahkan belakangan ini, ketertarikan dua Ketuhanan Yang Maha Esa. Dapat
insan yang sama untuk melakukan dinyatakan berdasrkan ajaran yang dianut
hubungan seks, juga bisa melangsungkan masyarakat Indonesia, yaitu ajaran agama
hidup bersama. Dari uraian tersebut diatas Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Hal ini
dapat ditarik kesimpulan, adanya dapat dipahami melalui penjelasan Pasal
permasalahan yang dalam perjalanan 1tersebut yang mengatakan bahwa
sejarah seiring dengan berubahnya waktu perkawinan mempunyai hubungan yang
dan tuntutan. Sebagaimana kita sadari erat sekali dengan agama/kerohanian,
bahwa kehidupan dalam suatu masyarakat sehingga perkawinan bukan saja
selalu berupa sebuah kelompok yang mempunyai unsure lahir/jasmani, tetapi
diartikan sebagai keadaan bersama yang unsur bathin/rohani juga mempunyai
relatif mantap dan ditandai oleh suatu peranan yang penting.
suasana masuk golongan bersama.Dengan Pembentukan keluarga yang bahagia
demikian setiap individu yang masuk itu erat hubungannya dengan keturunan,
sebagai anggota suatu kelompok sosial dimana pemeliharaan dan pendidikan anak
tidak mesti harus melepaskan sifat-sifat menjadi kewajiban orang tua dengan
sebagai seorang individu yang mempunyai demikian yang menjadi tujuan perkawinan
pribadi dan mempunyai perasaan,kemauan menurut UUP adalah untuk kebahagiaan
dan pikirannya sendiri, tetapi hanyalah suami isteri, untuk mendapatkan keturunan
bahwa pribadinya sebagai kesatuan yang dan menegakkan ajaran agama, dalam
bertindak dan berintegrasi berhadapan kesatuan kelurga yang bersifat parental
dengan suatu kesatuan berintegrasi dengan (ke-orangtuaan).
yang lainnya,yang membentuk, mengacu Memahami sahnya perkawinan
tingkah lakunya. (S.Takdir Alisjahbana, ukurannya adalah perkawinan itu
Antropologi Baru,1986,106) didasarkan atas norma atau kaidah tertentu.
Hidup bersama ini berakibat penting Bila kita mengatakan suatu perkawinan itu
dalam kehidupan bermasyarakat, karena sah atas dasar norma atau kaidah Negara,
kebersamaan mereka disebut keluarga ini berarti perkawinan itu telah
dengan segala akibat hukumnya. dilaksanakan menurut tertib kaidah hukum

ISSN : 2085-4757 24
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

Negara, yaitu Undang-Undang No. 1 kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang


Tahun 1974, tentang Perkawinan dan PP dilakukan dengan cara meneliti bahan
No.9 Tahun 1975. Begitu pula bila suatu pustaka atau data sekunder yang terdiri
perkawinan itu dikatakan sah atas dasar dari bahan hukum primer, bahan hukum
kaidah adat atau agama, maka perkawinan sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan-
tersebut haruslah dilaksanakan menurut bahan tersebut disusun secara sistematis,
kaidah hukum adat atau kaidah hukum dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan
agama. dalam hubungannya dengan masalah yang
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha diteliti. Hal ini sesuai dengan pandangan
Esa Bahwa perkawinan di Indonesia harus Soerjono Soekanto (2001:13), bahwa
berdasarkan atau berlandaskan agama.Di penelitian hukum yang dilakukan dengan
Indonesia tidak diperbolehkan perkawinan cara meneliti bahan pustaka atau data
yang dilangsungkan oleh seseorang yang sekunder belaka, dapat dinamakan
tidak beragama (atheis). Agama dan penelitian hukum normatif atau penelitian
kepercayaan yang dianut juga berperan hukum kepustakaan. Penelitian hukum
untuk menentukan sah atau tidaknya suatu normatif atau kepustakaan tersebut
perkawinan. Dalam undang-undang ini mencakup.
ditentukan prinsip-prinsip atau asas-asas
mengenai perkawinan dan segala yang PEMBAHASAN
berhubungan dengan perkawinan yang Disetiap kehidupan sosial pasti ada
telah disesuaikan dengan perkembangan nilai-nilai yang ikut mewarnai hidup dan
dan tuntutan zaman. kehidupannya. Dari sini mungkin timbul
Tujuan perkawinan adalah pertanyaan apa pengertian nilai menurut
membentuk keluarga yang bahagia dan S.Takdir Alisyahbana; nilai-nilai adalah
kekal. Untuk itu suami istri perlu saling tenaga pendorong dan penentu tujuan
membantu dan melengkapi agar masing- dalam tingkah laku sosial seperti juga
masing dapat mengembangkan dalam tingkah laku pribadi/individu.
kepribadiannya membantu dan mencapai (S.Takdir Alisyahbana, 1986,110). Nilai
kesejahteraan spiritual dan materiil. Untuk tersebut menjadi pendorong bagi
menjamin kepastian hukum, maka individu/pribadi yang hidup dalam
perkawinan berikut segala sesuatu yang kelompok sosial, sedang nilai-nilai sosial
berhubungan dengan perkawinan yang yang mempengaruhi kehidupan sosial.
terjadi sebelum undang-undang ini Sedang yang dimaksud dengan nilai-nilai
berlaku, yang dijalankan menurut hukum sosial menurut Muzafer Sherif nilai sosial
yang telah ada adalah sah. Demikian pula memberikan pada individu sekumpulan
apabila mengenai sesuatu hal undang- ketentuan-ketentuan yang mengandung
undang ini tidak mengatur, dengan perasaan. Ketentuan-ketentuan tersebut
sendirinya berlaku ketentuan yang ada. dimaksud sebagai sikap sosial.
Sikap-sikap sosial, apabila telah
METODE PENELITIAN terbentuk dalam individu, menjadi
pedoman dalam setiap keadaan,
Jenis penelitian yang digunakan menentukan sebagian yang terpenting dari
adalah penelitian hukum doktrinal/ pilihan atau kesukaan dan ketidaksukaan
normatif atau penelitian hukum individu. (Muzafer Sherif,The Psychology

ISSN : 2085-4757 25
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

of Social Norms, 1936,117). Sehingga maka pengadilan dalam daerah hukum


didalam masyarakat terdapat berbagai hal tempat tinggal orang yang akan
yang mempengaruhi hidup dan kehidupan melangsungkan perkawinan atas
dalam masyarakat yang bisa berkedudukan permintaan orang tersebut dapat
sebagai norma sosial. Nilai-nilai sosial memberikan izin setelah lebih dahulu
tersebut dalam perkembangannya mendengar orang-orang tersebut dalam
kemudian membentuk/menjelma menjadi ayat (2), (3) dan (4) pasal ini.
adat-istiadat.S. Takdir Alisyahbana adat- 6. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai
istiadat adalah sekumpulan aturan yang dengan ayat (5) pasal ini berlaku
mengatur tingkah-laku individu dalam sepanjang hukum masing-masing
masyarakat dari lahir sampai mati. agamanya dan kepercayaannya itu dari
Untuk dapat melangsungkan yang bersangkutan tidak menentukan
perkawinan secara sah, harus dipenuhi lain.
syarat-syarat perkawinan yang ditegaskan
dalam Pasal 6 Undang-Undang Selanjutnya dalam Pasal 7 UUP
Perkawinan, yaitu : ditegaskan hal-hal berikut :
1. Perkawinan harus didasarkan atas
persetujuan kedua calon mempelai. 1. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak
2. Untuk melangsungkan perkawinan pria sudah mencapai umur 19
seorang yang belum mendapat umur 21 (sembilan belas) tahun dan pihak
(dua puluh satu) tahun harus mendapat wanita sudah mencapai umur 16 (enam
izin kedua orang tua. belas) tahun. Ketentuan ini diadakan
3. Dalam hal salah seorang dari kedua untuk menjaga kesehatan suami istri
orang tua telah meninggal dunia atau dan keturunan dan karena itu
dalam keadaan tidak mampu dipandang perlu diterangkan batas
menyatakan kehendaknya, maka izin umur untuk perkawinan dalam UUP.
dimaksud dalam ayat (2) pasal ini 2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat
cukup diperoleh dari orang tua yang (1) pasal ini dapat meminta dispensasi
mampu menyatakan kehendaknya. kepada pengadilan atau pejabat lain
4. Dalam hal kedua orang tua telah yang ditunjuk oleh kedua orang tua
meninggal dunia atau dalam keadaan pihak pria maupun pihak wanita.
tidakmampu untuk menyatakan Dengan berlakunya undang-undang ini
kehendaknya, maka izin diperoleh dari maka ketentuan-ketentuan yang
wali, orang yang memelihara atau mengatur tentang pemberian dispensasi
keluarga yang mempunyai hubungan terhadap perkawinan yang dimaksud
darah dalam garisketurunan ke atas seperti diatur dalam KUHPerdata dan
selama mereka masih hidup dan dalam Ordonansi Perkawinan Indonesia
keadaan dapat menyatakan Kristen (S.1933 Nomor 74) dinyatakan
kehendaknya. tidak berlaku.
5. Dalam hal ada perbedaan pendapat 3. Ketentuan-ketentuan mengenai
antara orang-orang yang disebut keadaan salah seorang atau kedua
dalamayat (2), (3) dan (4) pasal ini atau orang tua tesebut dalam Pasal 6 ayat
salah seorang atau lebih di antara (3) dan (4) undang-undang ini, berlaku
mereka tidak menyatakan pendapatnya, juga dalam hal permintaan dispensasi

ISSN : 2085-4757 26
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

tersebut ayat (2) pasal ini tidak Dalam keadan yang disebutkan
mengurangi yang dimaksud dalam belakangan itu di Indonesia tempo dulu
Pasal 6 ayat (6). ada peraturan yang memberi jalan keluar
Tata cara pelaksanaan perkawinan untuk mengatasi kesulitan tersebut, yaitu
ditentukan dalam Pasal 10 dan 11 dillaksanakanmelalui peraturan perkawin-
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun an campuran (Regeling op de Gemengde
1975, yaitu sebagai berikut : Huwelijken yang lazimdisingkat GHR)
1. Perkawinan dilangsungkan setelah hari yang dimuat dalam S.1898 Nomor 158.
kesepuluh sejak pengumuman Pasal 1 dari peraturan tersebut menyatakan
kehendak oleh Pegawai Pencatat bahwa Perkawinan di Indonesia antara
seperti yang dimaksud dalam Pasal 5 dua orang yang masing-masing takluk
Peraturan Pemerintah ini. pada hukum yang berlainan satu sama
2. Tata cara perkawinan dilakukan lain, dinamakan perkawinan campuran.
menurut hukum masing-masing Ayat 2 dari pasal tersebut menjelaskan
agamanya dan kepercayaannya itu. bahwa Perbedaan agama, kebangsaan
3. Dengan mengindahkan tata cara atau asal usul tidak merupakan
perkawinan menurut masing-masing penghalang bagi suatu perkawinan.
hukum agamanya dan kepercayaannya Dalam melaksanakan kehidupan bagi
itu, perkawinan dilaksanakan di suami isteri yang kawin atas perbedaan
hadapan Pegawai Pencatat dan dihadiri agama atau kebangsaan tersebut ditetapkan
oleh dua orang saksi. sama hukumnya, sebagaimana dinyatakan
Disamping itu seusai dalam Pasal 2 GHR itu yaitu Dalam
dilangsungkannya perkawinan, kemudian suatu perkawinan campuran itu si isteri
dilaksanakan penandatanganan akta prihal hukum perdata dan hukum publik,
perkawinan sesuai peraturan sehingga selama perkawinan berlangsung, turut
urutannya sebagai berikut: pada hukum yang berlaku bagi suami.
1. Sesaat sesudah dilangsungkannya Sejak berlakunya Undang-Undang
perkawinan sesuai dengan ketentuan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
ketentuan Pasal 10 Peraturan solusiyang diberikan oleh peraturan
Pemerintah ini, kedua mempelai tersebut di atas telah dicabut dan
menandatangani akta perkawinan yang dinyatakan tidak berlaku lagi. Di dalam
telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat undang-undang yang disebutkan
berdasarkan ketentuan yang berlaku. belakangan ini solusi yang diberikan
2. Akta perkawinan yang telah hanyalah bagian kecil dari perbedaan calon
ditandatangani oleh kedua mempelai, suami isteri yaitu bila berbeda kebangsaan
selanjutnya ditandatangani pula oleh sajaatau kewarganegaraan saja.Hal ini
kedua saksi dan Pegawai Pencatat yang diatur dalam Pasal 57 UUP yang berbunyi
menghadiri perkawinan dan bagi yang Yang dimaksud dengan perkawinan
melangsungkan perkawinan menurut campuran dalam undang-undang ini ialah
agama Islam, ditandatangani pula oleh perkawinan antara dua orang yang di
wali nikah yang mewakilinya. Indonesia tunduk pada hukum yang
3. Dengan penandatanganan akta berlainan, karena perbedaan
perkawinan, maka perkawinan telah kewarganegaraan dan salah satu pihak
tercatat secara resmi. berkewarganegaraan asing dan salah satu

ISSN : 2085-4757 27
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

pihak berkewarganegaraan Indonesia. menurut Hukum Negara (Burgerlijk


Bagi orang-orang yang berlainan Wetboek dan Undang-undang Perkawinan)
kewarganegaraan yang melakukan dan menurut hukum adat. Faktor norma
perkawinan campuran, dapat memperoleh agama menimbulkan perkawinan menurut
kewarganegaraan dari suami atau isterinya agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha.
dan dapat pula kehilangan kewarga- Beberapa problem mulai muncul setelah
negaraannya, menurut cara-cara yang telah dideklarasikan di era Globalisasi,dimana
ditentukan dalam undang-undang kejadian di dunia luar segera diketahui
kewarganegaraan Republik Indonesia oleh masyarakat kita di Indonesia. Dan
(Pasal 58 UUP). Jadi, jalan keluar yang tidak sedikit juga membawa pengaruh dan
diberikan atas perbedaan agama bagi calon tekanan yang bersifat memaksa,
suami isteri itu berdasarkan Pasal 57 UUP sebagaimana terjadi di Surabaya telah
tidak ada, karena ketentuan pasal ini hanya tercetus sebuah rencana konggres Gay
mengatasi perbedaan kewarganegaraan yang isinya dapat ditebak adalah sebuah
saja. Hal ini dapat dimengerti karena tuntutan persamaan haknya. Perbedaan
keabsahan dari suatu perkawinan norma perkawinan itu dapat menimbulkan
(termasuk perkawinan campuran) akan perkawinan campuran Sisi lain, hubungan
ditentukan berdasakan Pasal 2 ayat 1UUP seksual dengan sesama jenis (sesama homo
tersebut yang menyatakan Perkawinan dan sesama lesbian) juga bisa membentuk
adalah sah, apabila dilakukan menurut keluarga dengan perkawinan. Dari
hukum masing-masing agamanya dan kacamata HAM kejadian yang demikian
kepercayaannya itu. Bahasan pemahaman ada yang menilai sebagai sesuatu yang
pasal itu telah penulis samapaikan di harus diberi tempat sama dengan manusia
muka. Namun demikian, kelihatannya lain. Tuntutan kesamaan itu hingga kini
ketentuan Pasal 56 (1) UUP dapat menimbulkan pro dan kontra.Dengan
mengatasi kesulitan warga negara memahami uraian perkawinan dalam
Indonesia yang melaksanakan perkawinan berbagai perspektif hukum perkawinan di
beda agama. Bunyi Pasaltersebut adalah Indonesia. Menurut hukum adat pada
Perkawinan yang dilangsungkan di luar umumnya di Indonesia, masalah
Indonesia antara dua orangwarga negara perkawinan itu bukan saja berarti perikatan
Indonesia atau seorang warga negara perdata (hak dan kewajiban suami isteri,
Indonesia dan warga negara Asing adalah hak dan kewajiban orang tua, kedudukan
sah bilamana dilakukan menurut hukum anak), tetapi juga merupakan perikatan
yang berlaku di negara dimana adat (hubungan adat istiadat, kekeluargaan,
perkawinan itu dilangsungkan dan bagi kekerabatan, ketetanggaan, upacara-
warga negara Indonesia tidak melanggar upacara adat). Dalam hal ini tepat Ter Haar
ketentuan undang-undang ini . mengatakan dalam bukunya (Hilman
Ketentuan perkawinan ditentukan Hadikusuma, 1990:9), bahwa perkawinan
oleh berbagai norma yang berlaku. Di itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga,
Indonesia ketentuan norma privat urusan masyarakat, urusan martabat dan
(termasuk perkawinan) bersifat pluralistik. urusan pribadi. Perkawinan dalam arti
Komponen pluralnya disebabkan oleh ikatan adat ialah perkawinan yang
berbagai faktor. Faktor norma Negara (kini mempunyai akibat hukum terhadap hukum
sudah tidak berlaku lagi) ada perkawinan adat yang berlaku dalam masyarakat yang

ISSN : 2085-4757 28
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

bersangkutan. Menurut masyarakat adat kedua bagi WNI tadi ada pada biaya untuk
Bali, ucapan perkawinan memiliki kata pergi kesana, apalagi bersama sanak
sinonim dengan mesakapan, yang keluarga, mengingat perkawinan adalah
berasal dari kata sakap yang juga urusan keluarga atau kerabat.
mengandung arti menyatu, dalam hal ini Perkawinan sesama jenis telah mulai
diartikan sebagai menyatunya lingga mengemuka, setelah kejadian itu terjadi di
dengan yoni, dengan sebutan luar negeri dan rentetannya kemudian
ardhanareswari sebagai kekuatan dengan akan dilakukannya rencana
peleburan dosa. Upacara perkawinan konggres kaum Gay di Surabaya yang
sering juga disebut upacara penganten dihadiri dari anggota organisasi Gay dari
yang mengandung arti siap sebagai negeri luar (Eropa). Pandangan negara
pengganti tanggungjawab orang tua (Putu yang telah maju mempraktekan HAM
Sudarsana, 2002: 3). hubungan seksual yang menyimpang
Ketentuan Pasal 56 (1) UUP dapat tidaklah dianggap perbuatan dosa dan
mengatasi kesulitan warga negara aib,.karena itu penyimpangan prilaku
Indonesia yang melaksanakan perkawinan. seksual telah mendapat pengakuan dan
Bunyi Pasal tersebut adalah Perkawinan pengaturannya, seperti yang dilakukan di
yang dilangsungkan di luar Indonesia negeri Belanda. Artinya keluarga dapat
antara dua orang warga negara Indonesia dibentuk melalui perkawinan oleh mereka
atau seorang warga negara Indonesia dan yang sesama jenis (laki-laki dengan laki-
warga negara Asing adalah sah bilamana laki, perempuan dengan perempuan).
dilakukan menurut hukum yang berlaku di Perkawinan sesama jenis di
negara dimana perkawinan itu Indonesia, dari kacamatra agama dan adat,
dilangsungkan dan bagi warga negara belum mendapat perespektif layak untuk
Indonesia tidak melanggar ketentuan dilakukan, bahkan dapat disebut dari
undang-undang ini . kacamatra agama sebagai suatu perbuatan
Dengan menekankan unsur syarat dosa dan dari kacamata adat merupakan
menurut hukum yang berlaku di negara perbuatan dosa dan aib. Di luar Indonesia,
dimana perkawinan itu dilangsungkan, di negara-negara yang telah lama
dapat diketahui bahwa ada dua menjungjung tinggi HAM, persamaan
kemungkinan, yaitu pertama: bila negara jender, ada yang sudah berani mengakui
tempat dilangsungkan perkawinan itu perkawinan sesama jenis. Untuk waktu
membenarkan perkawinan sejenis, itu yang akan datang di Indonesia melalui
berarti WNI tadi bisa melangsungkan ketentuan Pasal 27 (1), yis Pasal 28B (1),
perkawinan sejenis di sana, kedua: bila 28D (1) & 28I (5), harus sudah mulai
sebaliknya sama peraturannya dengan dipikirkan bagi warga negara yang secara
Indonesia, yakni melarang adanya kodrati ditakdirkan sebagai makhluk
perkawinan sejenis, maka WNI tadi tidak berprilaku seksual menyimpang (homo dan
bisa menyelenggarakan perkawinan di liesbian) dapat membentuk keluarga
negara itu. Umumnya negara yang melalui lembaga perkawinan sepanjang
membolehkan perkawinan sejenis itu hubungan mereka tidak berbahaya dalam
adalah negara yang telah maju dan kehidupan bermasyarakat.
berlokasi jauh. Karena itu bila juga Pandangan negara yang telah maju
dilakukan di negara tersebut, kesulitan mempraktekan HAM hubungan seksual

ISSN : 2085-4757 29
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

yang menyimpang tidaklah dianggap manusia sesuai dengan prinsip


perbuatan dosa dan aib, karena itu Negarahukum yang demokratis, maka
penyimpangan prilaku seksual telah pelaksanaan hak asasi manusia dijamin,
mendapat pengakuan dan pengaturannya, diatur, dan dituangkan dalam peraturan
seperti yang dilakukan di negeri Belanda. perundang-undangan.
Artinya keluarga dapat dibentuk melalui Ketentuan-ketentuan hak asasi
perkawinan oleh mereka yang sesame jenis manusia dalam UUDNRI Tahun 1945
(laki-laki dengan laki-laki, perempuan yang berkorelasi dengan pengaturan
dengan perempuan). Ketentuan UUDNRI hubungan seksual yang menyimpang untuk
Tahun 1945 Bab XA Pasal 28B (1) yang waktu-waktuyang akan datang haruslah
menyatakan Setiap orangberhak diupayakan menerima bagi kalangan
membentuk keluarga dan melanjutkan agama dan masyarakat adat, baru
keturunan melalui perkawinan yangsah. kemudian negara memberikan legalitasnya
Kaidah dasar negara yang memuat hak dan bentuk hukum.
asasi ini menjadikan kita harus berpikir,
berbuat dan berprilaku arif, bila KESIMPULAN DAN SARAN
diaplikasikan terhadap takdir Tuhan yang
berprilaku seksual menyimpang. Jika kita Mengingat keabsahan suatu
hubungkan dengan Pasal 27 (1) UUDNRI perkawinan berdasarkan UUP Pasal 2 ayat
Tahun 1945 yang menyatakan bahwa 1 haruslah dicatat (termasuk perkawinan
Setiap warga negara bersamaan campuran dan perkawinan yang dilakukan
kedudukannya dihadapan hukum dan diluar negeri), maka ayat 2 Pasal 56
pemerintahan dan wajib menjunjung menyatakan bahwa Dalam waktu 1 (satu)
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak tahun setelah suami isteriitu kembali di
ada kecualinya. Melalui kedua kaidah wilayah Indonesia, surat bukti perkawinan
dasar yang disebutkan itu, kita tentu tidak mereka harus didaftarkan diKantor
mungkin mengabaikan keinginan Pencatatan Perkawinan tempat tinggal
warganegara Indonesia yang ditakdirkan mereka. Mengenai pencatatan inipun,
Tuhan berprilaku menyimpang (para homo terdapat masalah bila kita telaah, yaitu
dan lisbian) menuntut agar keinginan yang dicatat tentunya perkawinan yang
berpasangan untuk membentuk keluarga sah. Menjadi keliru bila Pegawai Pencatat
melalui perkawinan yang sah. Perkawinan mencatat atau mendaftar
Apabila di dalam masyarakat, perkawinan yang tidaksah. Dengan uraian
hubungan seksual yang normal tidak boleh belakangan ini bila perkawinan yang
melakukan seksual bebas (hubungan sek diselenggarakan di luar Indonesia
tanpa kawin), sepatutnyalah para homo dan bertentangan dengan Pasal 2 ayat 1 UUP,
lisbian, jika diterima kodratnya berarti tidak sah (seperti diuraiakan di
seyogyanya juga demikian karenanya perlu atas), maka jika begitu keadaannnya
diatur hubungan pembentukan keluarganya pendaftarannya kelak di Indonesia
dengan peraturan perkawinan.Pernyataan harusnya ditolak, sehingga tidakdapat
seperti ini juga dapat dipayungi oleh memegang surat bukti kawinnya. Dari
ketentuan kaidah dasar negara yang diatur uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
dalam Pasal 28I (5) yang berbunyiUntuk tuntutan perkawinan sejenis tidak mungkin
menegakkan dan melindungi hak asasi terjadi diwilayah Republik Indonesia

ISSN : 2085-4757 30
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Hukum Perkawinan Sejenis...(Thea Farina) 22-31

tercinta, karena memang nilai-nilai sosial


yang hidup di masyarakat indonesia tidak
menghendakinya. Namun sangat disayang-
kan sistem hukum kita yang tidak jelas
mengapa warga negara indonesia dapat
melaksanakan perkawinan diwilayah
negara lain memakai hukum negara
tersebut, dan kemudian diakui juga
statusnya di negara kita kemudian kembali
ke negara asal yaitu indonesia. Bukannya
dalam memberlakukan Hukum Nasional
kita berdasar teori teritori yang artinya
memberlakukan hukum berdasar domisili
wilayah dan berdasar pada personality
artinya berlaku bagi warga Indonesia
dimanapun berada.

DAFTAR RUJUKAN

Alisyahbana,S.Takdir, 1986,Antropologi
Budaya. Balai Pustaka

Buku III KUHPerdata

Hadikusuma, Hilman, 1990. Hukum


Perkawinan Indonesia. Cet. 1,
Bandung: Manda Maju,

Prodjodikoro, Wirjono, 1991. Hukum


Perkawinan di Indonesia. Cet.
Kesembilan.Bandung: Sumur
Bandung,

Soerjono Soekanto. 2001, Pengantar


Penelitian Hukum. Jakarta:
Universitas Indonesia (UI Press)

Sudarsana, I.B.Putu, 2008. Ajaran Agama


Hindu, Makna Upacara
Perkawinan Hindu. Cet. Yayasan
Dharma Acarya,

ISSN : 2085-4757 31