Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...

(Rollys Suriani) 32-40

TANTANGAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI


DI ERA OTONOMI DAERAH

Oleh: Rollys Suriani


Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
e-mail: rollys.suriani@yahoo.co.id

Abstrak: Pengelolaan konservasi akan berhasil apabila para pemimpin, intansi yang
terkait berkoabilasi dalam mengambil kebijakan yang berpentingan untuk memajukan
daerah-daerah konservasi yang mana memerlukan dana pengelolaan yang cukup besar,
salah satu factor harus merubah pola dari paradigm lama ke paradigm baru secara
menyeluruh bagi kepentingan daerah konservasi kedepannya baik untuk kepentingan
pembangunan maupun kepentingan masyarakat di sekitar daerah konservasi tersebut,
dengan era otonomi daerah juga harus bisa berjalan dengan visi dan misi untuk
pentingan seluruh lapisan masyarakat pada umumnya,bukan mengejar pendapatan
daerah.

Kata Kunci: Pengelolaan, konservasi

Indonesia merupakan salah satu zaman Belanda. Sehingga, dinilai tidak


Negara yang tergolong sebagai Mega- perlu melakukan konsultasi mendetil, toh
Diversity, yaitu memiliki keragaman kawasan-kawasan konservasi jaman
hayati yang sangat tinggi. Namun belanda tersebut jusrtu batasa-batasnya
demikian .di Indonesia juga proses sangat dihormati oleh masyarakat
kepunuhan kekayaan itu terjadi , paling sekitar.Konsultasi terbatas pada gubernur,
tidak selama 30tahun(1970-an sampai tidak sampai ke public. Seluruh kawsan
tahun 2000) Proses tersebut justru ketika konservasi ditetapkan melalui surat
reformasi malahan semakin memburuk. keputusan Menteri Kehutanan, kecuali
Menurut perkiraan World Bank (2001), untuk Taman Hutan raya, yang ditetapkan
hutan hujan tropis daratan rendah di dengan keputusan Presiden. Luas kawasan-
Sumantra akan habis pada tahun 2004, kawasan konservasi itu juga bervariasi,
menyusul Kalimantan pada tahun 2010, mulai dari beberapa hektar, umumnya
apabila tidak ada upaya-upaya bersama cagar-cagar alam ditetapkan sejak jaman
untuk mencegahnya. belanda, seperti cagar alam(natuur
Kawasan-kawasn konservasi di resservaat) Depok yang ditetapkan
Indonesia sampai 1999 seluas 24,3juta padatahun 1714, sampai taman nasional
hektar, dimana 14,7juta hektar adalah Kerinci Seblat atau Lorentz yang juta
taman nasinonal. Proses penunjukan atau hektar. Kita mengakui bahwa
penetapannya sebagian besar melalui top- perkembangan kesadaran konservasi dunia
downap-proach. Sebagian juga melalui turut mempengaruhi kebijakan-kebijakan
proses perubahan fungsi dari kawasan- konservasi alam di Indonesia. Sejak
kawasan konservasi yang ditetapkan sejak dicetuskannya Konferensi manusia dan

ISSN : 2085-4757 32
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

Lingkungan di Stockholm 1972 sampai Taman nasional Ujung kulon


konferensi Bumi di Rio de Janeinro 1992, dipertahankan sebagai habitat terakhir
teah memberikan kontribusi pada badak jawa (rhinoceros sondaicus), salah
perkembangan kelembagaan, aspek legal, satu jenis badak jawa jenis satwa yang
dan kesadaran konservasi baik di terancam punah. Demikian jug ataman
perintahan, maupun di lembaga-lembaga nasional komodo untuk menyelamatkan
swadaya masyarakat, Di pihak pemerintah kadal raksasa dari jaman purba yang hanya
ditandai dengan berdirinya kementerian hidup di taman nasional ini. Kawasan
lingkungan hidup, Depertemen kehutanan, taman nasionmal lain ditaaetapkan karena
dan sebagainya, sedangkan di pihak LSM, keunikan gejala alammnya, seperti taman
ditandai dengan laahirnya LSM-LSM serta nasional Bromo tengger semeru dengan
terbentuknya forum-forum seperti Wahana kaldera dan lautan pasirnya, taman
lingkungan hidup. nasional kelimutu dengan danau tiga
warnanya, taman nasional Lorentz dengan
Penetapan Kawasan Konservasi salju abdi di kawasan tropis dan
Kawasan konservasi ditetapkan sebagainya.
dengan criteria tertentu, antara lain tentang
luas, tingkat keunikannya, tingakat Manajemen Saat ini.
endemisitas, keterwakilan ekosistem, dan Pengelolaan kawasan-kawasan kon-
sebagainya. Sebagaimana kita ketahui, servasi itu saat ini memang dipegang oleh
menurut LIPI, Indonesia memiliki 47 tipe pemerintah .Dalam hal ini, Ditjen
ekosistem yang kaya akan keragaman Perlindungan Hutan dan konsevasi Alam,
hayati(flora, fauna), dimana sebagian besar bersama UPT di daerah-daerah. Setelah
kita belum mengetahui manfaatnya, kecuai sekian lama perintah mengemban tugas
nilai kayunya saja. Setiap kawasan Undang-Undang No.5 tahun 1990, kita
konservasi, apakah itu cagar alam, suaka bisa melihat bahawa ke depan, tantangan
margasatwa. Taman hutan raya, taman pengelolaan kawasa-kawasan konservasi
wista alam, taman nasional, ditatapkan beserta isinya, termasuk perlindungan
berdasarkan alasan-alasan yang sangat terhadap satwa liarnya bukan pekerjaan
spesifik dan perlu mendapatkan justifikasi yang mudah . Berbagai pola pengelolaan
ilmiah. Di mana lalu, memang justifikasi telah diujicoa. Pola koordinasi telah
biologi, ekoslogi, yang diutamakan dilakukan, misalnya di masa lalu ada rapat
.Sedangkan nilai-nilai culture, budaya dan Regional Pembangunan Taman Nasional di
social lainnya hamper diabaikan. Hal ini Sumantra, Kalimantan, dan sebagainya.
lah yang dikemudian hari menimbulkan Namun nampaknya, sangat sulit
berbagai permasalahan khususnya dalam mendapatkan kesepakatan-kesepakatan
pengelolaan kawasan-kawasan tersebut. anatar sector pembangunan. Rencana jalan
Misalnya kawasan taman nasional Gunung di Sumantra mengancam beberapa taman
Gede Pangrango, sebagai satu taman nasional, seperti taman nasional kerinci
nasional pertama di Indonesia, ditetapkan seblat. Demikain juga dengan penebangan
untuk melindungi keragaman hayati hutan haram (illegal logging), perburuan dan
hujan tropis pengunungna di Jawa. Buku perdagangan satwa liar sanagat merisaukan
Flora of Java bisa terbit karena hasil pemerhati lingkungan dan menjadi ajang
eksplorasi flora di taman nasional ini. kecaman dari organisasi internasional.

ISSN : 2085-4757 33
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

Pola manajemen yang masih tropis dataran rendah di pulau jawa habis
mempertahankan pola perencanaan yang dalam jangka 100 tahun (1800-1990),
tertutup,rendahnya konsultasi perencanaan namun hutan hujan tropis dataran rendah
dengan stakeholder, pola kerja yang sangat Sumantra lenyap hanya dalam hitungan
soliter, rendahnya kolaborasi dengan 30tahun. Dengan demikian pembalakan
berbagai pihak, bahkan anatar pengelolaan hutan telah merubah pola penutupan lahan
taman nasional maupun KSDA, tiga kali lebih cepat daripada proses di
merupakan titik-titik lemah yang sangat Jawa. Saat ini di Sumatera kita hanya bisa
rentan apabila tidak segera dilakukan melihat hutan-hutan alam itu di sepanjang
perubahan-perubahan yang sangat bukit barisan, di mana kawasan-kawasan
mendasar. Keadaan ini masih ditambah taman nasional berada dan dikelola. Proses
dengan belum adanya reward and kepunahan ekosistem dan spesies saat ini
punishment bagi pengelola yang berhasil terus terjadi di hamper seluruh Sumatera,
maupun yang gagal, pola karier yang dan pulau lain. Papua menjadi incaran
belum jelas, membengkaknya jumlah investor kehutan karena di sanalahemas
pegawai, rendahnya kemampuan hijau masih bertumpuk. Saat ini
leadership pengelola, rendahnya koperasi-koperasi yang di back up cukong
profesionalisme, pengetahuan dan skill, mulai membabat hutan-hutan alam di
juga fakjtor lain yang mejadi pemyebab Papua. Masyarakat adat cukup dibayar Rp.
rendahnya kualitas manajemen kawasn dan 20.000,-per m3. Siapa yang harus
isinya. Pola-pola pengelolaan yang hanya pertanggung jawab terhadap masalah ini?.
berbasis pada kawasan konservasi harus
segera ditinggalkan. Mengapa?.Pertama, Pola Pengelolaan Ke Depan.
kawasn konservasi sebagai suatu system Di era otonomi daerah, dan ditambah
yang dinamis tidak dapat dipisahkan dari dengan euphoria reformasi,maka
pengaruh atau saling menpengaruhi dengan pengelolaan kawasan-kawasan konservasi
kawasan-kawasan di sekitarnya. Kedua, itu harus berubah dan lenih membuka diri,
oleh karena itu maka eksistensi kawasan termasuk merubah visi dan misi
konservasi sangat ditentukan oleh pengelolaannya yang bukan sekedar
keberhasilan kita dalam membangun melindungi atau menjaga, tetapi juga
interaksi-positif antar kawasan konservasi memanfaatnya secara bertanggungjawab.
dengan kawasan-kawasan konservasi di Beberapa pihak telah memulai dengan
sekitarnya, termasuk di dalamnya adalah inisiatif manajemen kolaborasi. Pola
dinamika social, ekonomi, poltik, yang inipun masih dalam bentuk uji coba di
berpangaruh pada perubahan pola-pola tata beberapa taman nasional misalnya di
guna lahan, dan penutupam lahan. Sumatra taman nasional komodo, tanam nasional
adalah kasus yang sangat nyta akan bunaken, taman nasional kutai, tamana
muncul fenomena island ecosystem nasional ujungkulan, dan sebagainya.Pola-
yaitu kawasan-kawasan konservasi yang pola masih terus dicari dan diupayakan,
telah berubah total, seperti perkebunan agar kawasan-kawasan tersebut juga
sawit skala besar, hutan tanaman industry memberikan manfaatnya nyata bagi
miskin jenis, pertambangan, jaringan jalan, pembangunan. Otonomi daerah sering
perambahan, kebakaran hutan, padang direduksi menjadi sekedar bagaimana
alang-alang dan sebagainya. Hutan hujan memperoleh pendapatan asli daerah(PAD).

ISSN : 2085-4757 34
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

Dengan justifikasi ini, maka mereka menegakkan kembali supremasi hokum.


mensahkan eksploitasi kayu di Khususnya terhadap penebangan haram,
kawasankawasan konservasi. dan masih akan dilanjutkan ke isu- isu
yang lainnya. Pertanyaan terakhir tinggal
Pola Ekologi Lanskap bagaimana tim ini dapat merubah kultur
Pengelolaan kawasan-kawasan organisasi lapangan yang terbiasa berkeja
konservasi perlu keluar dari paradigma seadanya. Walaupun banyak contoh
lama yang didasarkan pada taman-taman nasional yang telah dikelola
kawasankawasan dan isinya. Tanpa dengan cukup berhasil, ambil contoh di
mempertimbangkan perubahan social ujungkulon, lore lindu. Gn.Gede
ekonomi, dan geo-politik kawasan- Pangrengo, kelinci seblat, bromo tengger
kawasan di sekitarnya. Pola-pola baru yang Semeru, dan masih banyak di tempat lain.
diajukan adalah pola lanskap, dimana pola Dalam rangka pemberdayaan
manajemen dengan lanskap lebih menekan ekonomi masyarakat, setiap badan usaha
kepada pola manajemen dalam organisasi, milik negara, badan usaha milik daerah,
pola manajemen, pola pendanaan, dan dan badan usaha milik swasta Indonesia
sebagainya. Pola-pola pengelolaan di yang memperoleh izin usaha pemanfaatan
sumantra dapat merujuk usulan ini sebagai jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan
bahan pertimbangan.Pengelolaan dituntut hasil hutan dan non bukan kayu,
untuk lebih terbuka dan bersifat inklusif diwajibkan bekerjasama dengan koperasi
bukannya malah menjadi eklusif dan masyarakat masyarakat setempat. Untuk
soliter. Perubahan kultur manajemen ini menjamin asas keadilan, pemerataan, dan
bukanlah hal yang mudah, namun lestari, maka izin usaha pemanfaatan hutan
demikian, harapan disandarkan kepada dibatasi dengan mempertimbangkan aspek
para petinggi Ditjen PHKA yang saat ini kelestarian hutan dan aspek kepastian
telah banyak melakukan reformasi internal, usaha. Pembatasan dari hal diatas akan
termasuk mulai membangun jaringan kerja diatur lebih lanjut dala peraturan
dengan berbagai LSM, nasional maupun pemerintah. Para pemegang izin yang
internasinonal, lebih proaktif berdialog memperoleh izin dari pemerintah seperti
dengan berbagai elemen perintah daerah, yang disebut dalam Pasal 27 dan Pasal 29
menghindarkan laporan ABS, dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999
sebagainya. Soliditas ini bukan hanya di berkewajiban untuk menjaga, memelihara,
tingkat Ditjen PHKA, bahkan seluruh dan melestarikan hutan tempat usahanya.
jajaran Dephut saat ini sedang melakukan Pemanfaatan hasil hutan meliputi kegiatan
reformasi internal secara total namun penanaman, pemeliharaan, pemanenan,
bertahap. Bahkan seorang pentolan Leuser pengolahan, dan pemasaran hasil
Managements Unit (Mike O Griffitth) hutan.Pemanenan dan pengolahan hasil
mengatakan terus terang bahwa saat inilah hutan tidak boleh melebihi daya dukung
kita memiliki apa yang dia sebut sebagai hutan secara lestari. Pengaturan dan
the dream team sebuah tim Dephut yang pengembangan pengolahan hasil hutan
sangat kompak dan solid yang menuat diatur oleh Menteri. Untuk pengelolaan
pada pekerja konservasi di lapangan kawasan hutan untuk tujuan khusus dapat
semakin bersemangat. Salah satu yang diberikan kepada masyarakat hukum adat
telah dilakukan oleh Dephut ini adalah (sepanjang ada masyarakat paguyupan/

ISSN : 2085-4757 35
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

masyarakat adatnya dan diakui oleh memperbaiki atau memulihkan kembali


masyarakat itu sendiri), lembaga lahan atau kawasan hutan dan vegetasi
pendidikan, lembaga penelitian serta hutan yang rusak agar dapat berfungsi
lembaga social dan keagamanan. Setiap secara optimal sesuai dengan peruntukan-
pemegang izin usaha pemanfaatan hutan nya. Kegiatan reklamasi meliputi
sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 dan invenntarisasi lokasi, penetapan lokasi,
Pasal 29 Undang-Undang Nomor 41 perencanaan, dan pelaksanaan reklamasi.
Tahun 1999 dikenakan iuran izin usaha, Penggunaan kawasan hutan yang
provisi kecuali untuk pemegang izin mengakibatkan kerusakan hutan, wajib
pemungutan hasil hutan hanya dikenakan dilakukan reklamasi dan atau rehabilitasi
provisi dan reboisasi, dan dana jaminan sesuai dengan pola yang ditetapkan oleh
kinerja. Bagi pemegang izin usaha pemerintah. Reklamasi pada kawasan
pemanfaatan hutan wajib menyediakan hutan bekas areal pertambangan, wajib
dana investasi untuk biayai pelestarian dilaksanakan oleh pemegang izin
hutan. pertambangan sesuai dengan tahapan
Rehabilitasi hutan dan lahan kegiatan pertambangan. Pihak-pihak yang
dimaksudkan untuk memulihkan, menggunakan kawasan hutan untuk
mempertahankan, dan meningkatkan kepentingan diluar kegiatan kehutanan
fungsi hutan dan lahan sehingga daya yang mengakibatkan perubahan permuka-
dukung, produktivitas, dan peranannya an dan penutupan tanah, wajib membayar
dalam mendukung sistem penyangga dana jaminan dan rehabiltasi. Peran serta
kehidupan tetap terjaga.Rehabilitasi hutan masyarakat dalam pengelolaan kawasan
lahan diselenggarakan melalui kegiatan hutan juga sangat berperan penting, dengan
reboisasi, penghijauan, pemeliharaan diikut sertakan masyarakat sebagai alat
pengayakan tanaman atau penerapan control bisa berjalan lebih efektif
teknik konservasi tanah secara vegetatif dilapangan, apalagi jika masih ada
dan sipil teknis, pada lahan kritis dan tidak masyarakat adatnya sangat berperan .
produktif. Kegiatan rehabilitasi dilakukan Masyarakat kita khususnya masyarakat
di semua hutan dan kawasan hutan kecuali Indonesia sangat mengharagai adat dalam
cagar alam dan zona inti taman nasional. kehidupan sehari-hari , seperti diberapa
Rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan daerah di Indonesia ( pantangan-pantangan
pelaksanaannya melalui pendektan atau larangan-larangan adat sangat
partisipatif dalam rangka mengembangkan dihargai). Pengelolaan kolaboratif
potensi dan memberdayakan masyarakat. (collaborative management) sangat
Setiap orang memiliki, mengelola, membantu agar terciptanya lingkungan
dan atau memanfaatkan hutan yang kritis yang lestari, dimana pengelola melibatkan
atau tidak produktif, wajib melaksanakan semua pihak baik pemerintah pemangku
rehabilitasi hutan untuk tujuan perlin- kepentingan (Stakeholders), masyarakat
dungan dan konservasi. Dalam dan lembaga swadaya masyarakat lokal
pelaksanaan rehabilitasi, setiap orang dapat maupun nasional maupun internasional
meminta pemdampingan, pelayanan dan sebagai penggerak dan pihak lain yang
dukungan kepada Lembaga Swadaya terkait. Tujuan pengelolaan ditetapkan
Masyarakat, pihak lain atau Pemerintah. bersama-sama sesuai dengan fungsi
Reklamasi hutan, meliputi usaha untuk kawasan suaka atau status jenis dari

ISSN : 2085-4757 36
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

kawasan hutan tersebut. Keuntungan yang pembinaan hutan merupakan kesatuan


diperoleh akibat adanya pengelolaan yang utuh antara aspek yuridis, aspek
bersama, dibagi secara adil atas keputusan teknis, manajemen, dan aspek administrasi.
bersama. Otoritas atas kawasan atau jenis Dalam pengelolaan kawasan hutan secara
yang dikelola juga ditetapkan bersama- lestari lingkungan, peraturan sudah ada
sama, sehingga masing-masing pihak dengan jelas pengaturannya seperti untuk
mempunyai otoritas dan kewajiban, serta menjamin akan status kawasan hutan
pembagian keuntungan yang proporsional (tanah), adanya aturan pertanahan yang
sesuai dengan perannya masing-masing dapat dilihat pada UndangUndang Nomor
dalam pengelolaan. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok
Agraria(UUPA) beserta aturan pelak-
Aspek Yuridis Tata Hutan Negara sanaannya maka, ketentuan agrarian harus
dalam Pelestarian Lingkungan. dijadikan pedoman dasar untuk menjamin
Pembangunan manusia sebagai adanya kepastian hukum. Jaminan untuk
sumber daya menempatkan manusia memperoleh kepastian hak atas hutan,
sebagai pelaku pembangunan yang sebagaimana diketahui bahwa hubungan
memiliki etos kerja produktif, antara manusia dengan tanah merupakan
keterampilan, kreativitas, disiplin, profe- hubungan erat dan sacral, tak dapat
sionalisme, serta memiliki kemampuan dipisahkan. Akan sama erat hubungan
memanfaatkan, mengembangkan dan antara hutan dan tanah yang kuat dan
menguasai Iptek maupun kemampuan saling melekat, merupakan kesatuan
manajemen. Untuk mewujudkan sumber ekosistem alam yang abadi. Karena itu,
daya manusia tersebut, maka pengem- alas an primer pada kekuatan bukti kuat
bangannya harus mecakup dua aspek atas penguasaan tanah, sangat penting
secara simultan yaitu kualitas dan motivisi. untuk dipenuhi dalam rangka penguasaan
Penyempurnaan kelembagaan, peraturan hutan secara legal.
perundang-undangan dan sistem informasi Di dalam Pasal 47 Undang-
manajemen kehutanan. Landasan hukum Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang
tata hutan negara didasarkan berlakunya Kehutanan ditentukan bahwa perlu perlin-
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 dungan kawasan hutan secara yuridis agar
tentang Kehutanan. Aspek hukum ini tidak terjadi kerusakan-kerusakan, yang
bertujuan untuk mencapai manfaat yang merupakan usaha untuk;(1) mencegah dan
sebesar-besarnya secara serbaguna dan membatasi kerusakan hutan, kawasan
lestari, baik langsung maupun tidak hutan, dan hasil hutan yang disebabkan
langsung dalam usaha membangun mas- perbuatan manusia, ternak, kebakaran,
yarakat Indonesia yang adil dan makmur daya-daya alam, hama, serta penyakit,
berdasarkan Pancasila. dan(2) mempertahankan dan menjaga hak-
Dalam pengelolaan hutan perlu hak negara, masayarakat, dan perseorangan
suatu pembinaan yang mana, pembinaan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan,
berperan penting dalam mencapai lestari investasi serta perangkat yang berhu-
lingkungan. Di pembinaan yang mana bungan dengan pengelolaan hutan secara
mecakup berbagai aspek yang erat terkait lestari. Ada dua macam usaha untuk
dan saling tergantung sebagi mata rantai mempertahankan, menjaga, dan melin-
pembinaan hutan. Karena itu, aspek dungi hak negara atas hutan, yaitu;

ISSN : 2085-4757 37
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

(1) Usaha perlindungan hutan atau disebut pemyebaran penduduk diluar pulau Jawa.
usaha pengamanan teknis hutan, dan ; Dalam pengelolaan kawasan hutan
(2) Usaha pengamanan hutan, atau disebut diperlukan suatu strategi pembangunan
usaha pengamanan polisionil hutan. yang tepat agar tidak merusak kawasan
Pasal 51 Undang Undang Nomor hutan dan berubah ekosistem yang sudah
41 tahun 1999 tentang Kehutanan, ada sejak didulunya. Ada berapa faktor
ditentukan 4(empat) macam perlindungan yang perlu diperhatikan oleh lembaga atau
kawasan hutan agar lestari sesuai dengan instansi terkait dalam pengelolaan kawasan
tujuan dari Undang Undang Kehutanan, hutan salah satunya yaitu :
yaitu perlindungan atas ; 1. Pembenahan dan pengaturan
1. Hutan. kembali masalah property right atas
2. Kawasan hutan, hutan.
3. Hasil hutan, dan Batas wilayah hutan (hutan
4. Investasi. konsesi, hutan adat, hutan konservasi,
Pada prinsipnya yang dan alokasi lainnya).Harus ditata
bertanggungjawab dalam perlindungan (kembali) dengan rapi, jelas, dan dapat
kawasan hutan, adalah Instansi Kehutanan diverifikasi.Kejelasan status dan batas
di Daerah Tingkat. Keberhasilan pem- hutan adalah hal terpenting yang harus
bangunan di bidang kehutanan tidak saja dijadikan prioritas utama dalam
ditentukan oleh aparatur yang cakap dan membenahi sektor kehutanan.
terampil, peraturan yang baik sesuai kekaburanproperty right atas
dengan kebutuhan dilapangan, tetapi juga hutan(dapat) menyebabkan hutan
didukung dengan peran serta masyarakat. menjadi open access property yang
Di dalam Pasal 69 Undang-Undang Nomor rawan konflik, perambahan, dan
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan penjarahan. Perlu ditertibkan kembali
ditentukan bahwa masyarakat ber- segala peraturan yang mengatur
kewajiban untuk ikut serta memelihara dan masalah kehutanan dalam hal
menjaga kawasan hutan dari gangguan dan pengaturan pengelolaan secara
perusakan, agar terciptanya lingkungan menyeluruh(holistic), tanpa melihat
yang lestari baik untuk sekarang maupun untuk kepentingan salah satu
yang akan datang bagi generasi yang akan badan/instansi yang terkait dengan
datang. kepentingan terhadap kawasan hutan
seperti yang terjadi di dalam
Kelembagaan Dalam Pengaturan Tata pengelolaan kawasan hutan negara di
Hutan Negara.. lereng selatan merapi, di mana
Pembukaan hutan beraawal dari peraturan-peraturan yang ada untuk
dataran rendah, di mana kondisi topografi kepentingan badan-badan atau instansi-
dan kesuburan tanahnya paling instansi tertentu yang mana berjalan
menguntungkan bagi pemukiman manusia sendiri-sindiri. Berdasarkan hasil
dan kegiatan manusia dan kegiatan lapangan yang dilakukan, bahwa
pertanian . Pembukaan hutan dan kegiatan peraturan-peraturan yang ada berjalan
perkebunan yang banyak terjadi sendiri-sendiri. Salah satu contoh yang
disebabkan oleh program-program trans- terjadi peraturan yaitu Undang
migrasi, di satu pihak untuk pemerataan Undang Nomor 41 Tahun 1999

ISSN : 2085-4757 38
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

tentang Kehutanan, dan Undang- menarik antara kepentingan


Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang pengawetan dan dan pemanfaatan
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati sumber daya alam, yang tidak
dan Ekosistem. Sebagaimana diketahui seimbang. Pemanfaatan sumber daya
bahwa Undang-Undang Nomor 41 alam yang sangat berlebihan yang
Tahun 1999 tentang Kehutanan tidak mana terjadi kerusakan hutan semakin
bisa menjamin akan kelestarian meningkat tinggi, tanpa diiring
lingkungan khususnya kawasan hutan pelestarian akan lingkungan.
itu sendiri, semakin meningkatnya 3. Kelembagaan .
kerusakan hutan dan dalam Undang- Kelembagaan menjadi faktor
Undang Nomor 41 Tahun 1999 penentuan bagi keberhasilan kegiatan
tentang Kehutanan lebih menekankan dalam pengelolaan kawasan hutan
kepada aspek eksploitatif demi untuk mencapai lestari sesuai dengan
mengejar nilai ekonomi hutan, dan tujuan dari Undang-Undang Nomor 41
materi dari Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan .
Tahun 1999 ini, sama sekali tidak Kelembagaan ini menyangkut antara
mengatur aspek konservasi. Sedangkan lain; lembaga(institusi), kewenangan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 serta peratauran perundangan . Dalam
tentang Konservasi Sumber Daya Alam bidang ilmu politik kelembagaan
Hayati dan Ekosistem lebih banyak ditekankan pada aturan main
menekankan pada pengawetan dan kegiatan kolektif(collective action)
(preservation) melindungi segala yang untuk kepentingan bersama atau umum
ada didalam ekosistem atau (public). Kelembagaan disini lebih
mempertahankan keadaan dari ditekankan kepada norma-norma yang
lingkungan yang sesuai dengan yang merupakan sarana untuk menjamin
aslinya tanpa mengubah keberadaan agar terciptanya stabilitas dalam arti
lingkungan. kehadiran institusi menimbulkan
2. Perlu segera dilakukan penertiban kemantapan dan keteraturan dalam
terhadap berbagai peraturan usaha manusia untuk memperoleh
kehutanan yang tumpah tindih. keadilan. Di dalam hukum tata negara
Peraturan-peraturan tentang arti dari kelembagaan bisa dilihat tiga
kehutanan perlu dikaji ulang agar tidak fungsi yaitu:
terjadi tumpah tindih dalam - Pengaturan ( regulation)
pelaksanaannya dilapangan, sebelum - Pelayanan public (public service)
pelaksanaannya dilaksanakan seperti - Pemberdayaan (empowerment.
apa yang terjadi dalam Undang- Dalam hal pelayanan, lembaga
Undang Nomor 41 Tahun 1999 pemerintah harus mampu menjamin
tentang Kehutanan dan Undang- ketertiban, kepastian hukum, untuk
Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang menciptakan terwujudnya kelestarian
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati sumber daya alam hayati serta
dan Ekosistem, yang mana bisa keseimbangan ekosistemnya sehingga
dikatakan berjalan sendiri-sindiri, dapat lebih mendukung upaya
sesuai dengan tujuan dari Peraturan peningkatan kesejahteraan masyarakat
tersebut. Pada prinsipnya terjadi tarik dan mutu kehidupan manusia melalui

ISSN : 2085-4757 39
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Tantangan Pengelolaan...(Rollys Suriani) 32-40

serangkaian regulasi atau peraturan


5. Satpam 1.055
yang dikeluarkan. Dalam hal
pelayanan, pemerintah harus Sumber data Strategik Kehutanan , 2003.
mengembangkan peran serta rakyat,
menumbuhkan dan meningkatkan
kesadaran akan pentingnya lingkungan DAFTAR RUJUKAN
yang lestari.
Coleman, Daniel A., Eco Politic, Builing A
Sumber Daya Manusia. Green Society, Rutgers University
Sumber daya manusia memegang Press, New Jersy, 1997.
peran penting dalam pengelolaan sumber
daya yang ada disegala sektor , walaupun Djajadiningrat, Surna T. Pengantar
peraturan- peraturan dibuat dengan baik Ekonomi Lingkungan, LP3ES,
tanpa memperhatikan sumber daya Jakarta, 1997
manusia sebagai pelaksana sama saja sia-
sia. Memperhatikan hasil dilapangan Keating Michael :Bumi Lestari Menuju
khususnya di lereng selatan gunung merapi Abad 21, Agenda 21 dan Hasil
, sumber daya manusia sebagai tenaga KTT Bumi (terjemahan),
kerja dalam pengawas dilapangan sangat Komphalindo, Jakarta, 1994
kurang sekali. Dengan luas hutan yang
sangat luas tidak seimbang dengan tenaga Siver, Simon Cheryland De Fries Ruth,
kerja yang mengawasi hutan yang ada saat Satu Bumi Masa Depan, Perubahan
ini di lereng selatan saat ini, seperti bisa Lingkungan Global Kita, (terjema-
dilihat dari hasil laporan Departeman han), PT.Rumaja Rosdakarya,
Kehutanan bahwa sumber daya manusia Bandung, 1992.
yang tidak mendukung,dapat dilihat pada
table berikut ini :

Tabel 1.1.Tenaga Pengaman Kawasan


Hutan Secara nasional.

Jumlah
No. Tenaga pengaman
(orang)

1. POLHUT 8.108

Tenaga
2. pengamanan Hutan 1.512
lainnya
Penyidik Pegawai
3. 1.265
negeri sipil(PPNS)
Perwira Pembina
4. 180
POLHUT(PABIN)

ISSN : 2085-4757 40