Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...

(Kristian) 49-55

PARTISIPASI PUBLIK DALAM PROSES PEMBENTUKAN


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Oleh: Kristian
Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
e-mail: uluhbakena@gmail.com

Abstrak: Pembentukan peraturan perundang-undangan pada tingkat pusat hingga


tingkat daerah setelah bergulirnya reformasi memberikan ruang baru bagi public untuk
berpartisipasi memberikan kontribusi pemikiran terhadap berbagai fenomena yang
berkembang di masyarakat. Posisi masyarakat bukan sebagai pembuat aturan secara
langsung karena kewenangan membentuk peraturan perundang-undangan adalah tugas
dari legislatif. Fungsi masyarakat terbatas sebagai pemberi masukan yang positif dalam
penyusunan naskah akademik. Setiap kajian naskah akademik idealny amelibatkan
pemikiran masyarakat sebagai penerima langsung dari setiap aturan yang dibuat dan
nantinya akan berlaku. Setiap peraturan yang melibatkan partisipasi masyarakat/
partisipasi public dalam kajian akademisnya pasti akan menghasilkan produk hukum
berupa peraturan perundang-undangan yang efektif dan efisien.

Kata Kunci: Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Partisipasi Publik

LATAR BELAKANG
perundang-undangan melibatkan legislatif
Perubahan politik yang ditandai dan eksekutif. Kajian teoritis sebuah
bergulirnya reformasi pada tahun 1998 naskah akademik sebagai cikal bakal
menjadi titikawaltata pemerintahan di sebuah peraturan antara lain memuat
Indonesia yangdimulai perubahan rezim beberapa konsideran filosofis dan
kekuasaan dari era yang disebut orde baru sosiologis. Pada konsideran sosiologis,
ke era yang dikenal denga orde reformasi. naskah akademik dibuat berdasarkan
Perubahan yang paling besar tampak pada perkembangan masyarakat beserta nilai-
sistem pemerintahan dari yang sentralistik nilai yang terkandung didalamnya.
menuju pemerintahan yang desentralistik. Peraturan yang dibuat antara legislatif dan
Sebelum reformasi pemerintah memiliki eksekutif secara kuantitas sudah cukup
kekuasaan yang sangat besar, kontrol dari banyak, namun secara kualitas dan yang
legislatif dengan konsep checks and bertujuan kepada keadilan, kesejahteraaan
balancesserta pengawasan dari rakyat tidak dan kemakmuran bagi rakyat sebagian
berjalan semestinya. Desentralisasi telah masih belum tercapai secara optimal.
membawa perubahan dalam penyeleng- Sebagai contoh peraturan yang dibuat
garaan pemerintahan di Indonesia berdasarkan beban masing-masing komisi-
khususnya dalam pembentukan peraturan komisi di legislatif untuk menghasilkan
perundang-undangan. Secara teoritis dan sejumlah peraturan pertahunnya tetapi
hukum posistif pembentukan peraturan tidak melihat dari sisi kualitas dan faktor

ISSN : 2085-4757 49
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...(Kristian) 49-55

efektif dan efisiennya sebuah peraturan. merupakan upaya untuk menanggulangi


Salah satu penyebab rendahnya kualitas masalah yang terjadi di masyarakat, karena
peraturan yang dibuatkarena menempatkan sepatutnya peraturan perundang-undangan
masyarakat/publik sebagai objek bukan itu berorientasi pada kepentingan publik.
sebagai subjekbagi sebuah peraturan dan Berdasarkan pada uraian tersebut, isu
proses pembentukan peraturan perundang- hukum yang timbul dari masalah ini adalah
undangan. Karena itu dalam konsep bagaimakah pembentukan peraturan
desentralisasi dan otonomi daerah perundang-undangan mampu mengako-
pembentukan peraturan perundang- modir partisipasi publik?
undangan lebih mendekatkan pelayanan
dengan kebutuhan warga negara sebagai KERANGKA TEORI
pemilik kedaulatan yang direpresentasikan
oleh struktur birokrasi negara. Dalam konsep ilmu hukum, terdapat
Implikasinya adalah pemerintah harus 2 (dua) istilah yang diterjemahkan ke
membuka ruang partisipasi publik dalam dalam bahasa Indonesia menjadi negara
proses pembentukan peraturan perundang- hukum, yaitu Rechtstaat dan the Rule of
undangan yang berdampak luas, terutama law. Rechstaat bersumber dari tradisi
dalam hubungan pemerintah dengan hukum negara-negara Eropa Kontinental
masyarakat dalam penentuan arah yang bersandar pada civil law dan legisme
pembangunan. Konsep partisipasi publik yang menganggap hukum adalah hukum
bukantopik yang baru untuk diper- yang tertulis. Kebenaran hukum dan
debatkan. Wacana mengenai pentingnya keadilan di dalam rechstaat terletak pada
partisipasi publik sejak era orde baru sudah ketentuan dan pembuktian tertulis. Pilihan
disuarakannamun lebih terdengar ketika pada hukum tertulis dan paham legisme di
kebijakan otonomi daerah direalisasikan rechstaat didasari oleh penekanan pada
dalam Undang-UndangUndang-Undang kepastian hukum. The Rule of law
Nomor 23 Tahun 2014 Tentang berkembang pada tradisi negara-negara
Pemerintahan Daerah. Harapan akan Anglo Saxon yang mengembangkan
meningkatnya partisipasi publik dalam common law (hukum yang tidak tertulis).
pembentukan peraturan perundang- Kebenaran dan keadilan hukum pada the
undangan makin besar. Melalui partisipasi rule of law bukan semata-mata terletak
publik ini jarak antara pemerintah dengan pada hukum tertulis, tetapi hakim dituntut
masyarakat/publik semakin dekat. untuk membuat hukum-hukum sendiri
Akhirnya penulis menilai partisipasi melalui yurisprudensi tanpa harus terikat
publiksangat penting dalam proses ketat pada hukum tertulis. Hakim diberi
pembentukan peraturan perundang- kebebasan untuk menggali nilai-nilai
undangan, masyarakat yang merasakan keadilan dan membuat putusan sesuai
segala dampak baik positif maupunnegatif dengan rasa keadilan yang digali dari
dariperaturanyang dibuat. Konsep tersebut tengah-tengah masyarakat. Perbedaan
merupakan konsideran sosiologis yang konsepsi tersebut sebenarnya lebih terletak
penting dalam pembentukan peraturan pada operasionalisasi atas substansi yang
perundang-undangan, disamping perlunya sama yaitu perlindungan atas hak asasi
dasar filosofis dan yuridis. Asumsi yang manusia, sebab secara substansi kedua
dibangunbahwa partisipasi publik konsepsi negara hukum tersebut sama-

ISSN : 2085-4757 50
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...(Kristian) 49-55

sama bertujuan memberikan perlindungan acts, yakni produk peraturan yang


atas hak asasi manusia. Sesuai dengan dihasilkan oleh legislatif bersama dengan
pemikiran Moh Mahfud MD, negara lembaga eksukutif yang dipilih oleh rakyat.
hukum Indonesia yang berdasarkan Kedua adalah executive acts, yaitu
pancasila dan UUD 1945 mengambil peraturan yang hanya disusun dan
konsep prismatik atau integratif dari dua ditetapkan oleh pihak eksekutif. Produk
konsepsi tersebut.Artinya konsepsi ini hukum yang disebut sebagai produk
memadukan prinsip kepastian hukum legislatif selalu melibatkan peran dua
dalam rechstaat dan prinsip keadilan lembaga secara bersama yaitu legislatif
dalamthe rule of law. Indonesia tidak dan eksekutif. Produk legislatif inilah yang
memilih salah satunya tetapi memasukkan kemudian disebut sebagai undang-undang.
unsur-unsur yang baik dari keduanya. Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan
Terdapat 3 (tiga) asumsi yang Daerah Kabupaten/Kota dari sudut
dibangun dalam melihat hubungan politik pembentukannya, dapat diidentikkan
dan hukum: dengan undang-undang di tingkat pusat.
1. Hukum determinan atas politik (das Perbedaannya adalah peraturan daerah
sollen); merupakan undang-undang yang bersifat
2. Politik determinan atas hukum(das lokal (local legislation).Pengertian ini juga
sein); dapat diderifasi pada Peraturan Desa yang
3. Hukum dan politik interdependent (das merupakan produk hukum hasil eksekutif
sollen-sein). desa yang disebut dengan Kepala Desa
Fakta bahwa hukum tidak otonom bersama dengan wakil rakyat di level desa
dan bergantung pada politik dan produk atau Badan Perwakilan Desa (BPD).
hukum sangat dipengaruhi oleh Produk hukum legislatif yang dikenal
karekteristik politik tertentu, maka yang dalam sistem hukum Indonesia dewasa ini
kemudian dijadikan dasar dalam penulisan adalah:
adalah politik determinan atas hukum. a. Undang-Undang;
Artinya bahwa hukum adalah produk b. Peraturan Daerah Provinsi;
politik. Meskipun dari sudut das sollen c. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota; dan
terdapat pandangan bahwa politik harus d. Peraturan Desa atau yang disebut
tunduk pada ketentuan hukum, namun dengan istilah lainnya.
dalam faktanya hukumlah yang ditentukan Kategori produk hukum eksekutif adalah:
oleh konfigurasi politik yang ada a. Peraturan Pemerintah;
dibelakangnya. b. Peraturan Presiden (Perpres); dan
c. Peraturan Menteri.
PEMBAHASAN Peraturan Daerah itu sendiri meliputi:
Proses pembentukan peraturan a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh
perundang-undangan pada dasarnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
dimulai dari perencanaan, persiapan, Provinsi bersama dengan Gubernur;
teknik penyusunan, perumusan, pembahas- b. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
an, pengesahan, dan penyebarluasan. dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Dilihat dari lembaga pembentuknya Daerah Kabupaten/Kota bersama
produk peraturan dibedakan manjadi 2 Bupati/Walikota;
(dua) ketegori. Pertama adalah legislative

ISSN : 2085-4757 51
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...(Kristian) 49-55

c. Peraturan Desa/peraturan yang a. kejelasan tujuan;


setingkat, dibuat oleh Badan b. kelembagaan atau pejabat pembentuk
Perwakilan Desa atau nama lainnya yang tepat;
bersama dengan kepala desa atau nama c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan
lainnya. materi muatan;
d. dapat dilaksanakan;
Pasca perubahan Undang-Undang e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
Dasar 1945, kebijakan pokok mengenai f. kejelasan rumusan; dan
pembentukanperaturan perundang-undang- g. keterbukaan.
an juga mengalami perubahan yang
mendasar. Pada tahun 2011 dibentuk satu Sedangkan kesepuluh asas yang
undang-undang baru yang mengatur bersifat materiil seperti ditentukan pada
mengenai seluk beluk pembentukan pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12
peraturan perundang-undangan Republik Tahun 2011adalah :
Indonesia. Undang-undang (UU) yang a. pengayoman;
dimaksud adalah Undang-Undang Nomor b. kemanusiaan;
12 Tahun 2011 tentang Pembentukan c. kebangsaan;
Peraturan Perundang-undangan. d. kekeluargaan;
Berlakunya UU ini sekaligus e. kenusantaraan;
mengganti peraturan perundangan yang f. bhinneka tunggal ika;
mengatur tentang pembentukan peraturan g. keadilan;
perundang-undangan yang ada sebelum- h. kesamaan kedudukan dalam hukum
nya. Sesuai dengan ketentuan pasal 5 UU dan pemerintahan;
Nomor 12 Tahun 2011, bahwa i. ketertiban dan kepastian hukum;
pembentukan peraturan perundang- dan/atau
undangan harus didasarkan pada asas j. keseimbangan, keserasian, dan
pembentukan peraturan perundang- keselarasan.
undangan yang baik. Asas-asas tersebut Pasal 5 dan pasal 6 ayat (1) Undang-
dapat dibedakan dalam dua kategori. Undang Nomor 12 Tahun 2011terkait
Pertama adalah asas yang ditentukan pada dengan asas formil dan materiil yang harus
pasal 5, yang disebut dengan kategori asas dipenuhi dalam pembentukan peraturan
formil, karena berkenaan dengan format, perundang-undangan memberikan satu
sifat, wadah, kelembagaan yang berperan, garis kawal (guideline) bagi aktor
teknis perumusan dan sebagainya. pembentuknya untuk dapat menghasilkan
Sedangkan yang kedua adalah asas yag produk hukum yang sesuai dengan arah
ditentukan pada pasal 6 ayat (1) yang dan tujuan pembangunan hukum dan
kemudian dikategorikan sebagai asas kepentingan publik. Asas-asas formil
materiil, yaitu asas yang harus terkandung dalam pasal 5 menunjukan bahwa dalam
dalam materi muatan setiap peraturan proses pembentukan peraturan
perundang-undangan. perundangan harus memastikan bahwa
Ketujuh asas formil yang produk hukum yang dihasilkan harus
ditentukan dalam pasal 5 Undang-Undang memiliki tujuan yang jelas dan dapat
Nomor 12 Tahun 2011 meliputi asas-asas: menjawab masalah yang ingin
diselesaikan, dihasilkan oleh lembaga

ISSN : 2085-4757 52
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...(Kristian) 49-55

yang berwenang, dapat dipastikan bahwa mangadopsi dan selaras dengan sistem
ada kesesuaian antara tujuan yang ingin hukum di Indonesia. Merespon realitas
dicapai dengan materi yang ditampilkan politik yang terjadi pada proses
didalamnya sehingga apa yang dijadikan pembentukan peraturan perundang-
dasar dan rujukan memang telah menjawab undangan dan memastikan bahwa
apa yang ingin diselesaikan, implementatif pembentukan peraturan perundang-
dan disusun secara terbuka. Semua asas ini undangan sesuai dengan arah
dapat dijawab jika dalam seluruh pembangunan hukum nasional, maka
rangkaian proses pembentukan produk disusunlah Undang-Undang Nomor 12
hukum: perancangan, perumusan, Tahun 2011Tentang Pembentukan
penyusunan dan pelaksanaan selalu Peraturan perundang-Undangan Republik
dilakukan dengan transparan dan adanya Indonesia. Undang-undang ini dibuat
partisipasi publik. Pasal 5 pada item dalam rangka memberikan garis kawal
keterbukaan adalah statement yang cukup (guideline) dan metode yang pasti, baku,
jelas yang berarti bahwa dalam proses dan standar yang mengikat bagi semua
pembentukan perundang-undangan harus lembaga yang berwenang membuat
dilakukan secara terbuka, transparan dan peraturan perundang-undangan. Sebagai
partisipatif. Hal ini dapat dipahami bahwa sebuah proses politik yang tidak lepas dari
keterbukaan mengharuskan adanya ruang berbagai kepentingan, maka partisipasi
partisipasi publik. Sebuah produk publik dalam seluruh rangkaian proses ini
perundangan tidak akan efektif apabila merupakan media yang dirasa paling
tidak dibuat dengan terlebih dahulu efektif dalam rangka meminimalisir
mengetahui kebutuhan dan kondisi masuknya kepentingan pihak tertentu dan
masyarakat. Tidak mungkin menghasilkan mengesampingkan kepentingan publik
substansi yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pembangunan hukum
dan kondisi masyarakat tanpa ada Indonesia yang lebih baik.
partisipasi publik dalam proses perumusan Apabila dianalisis lebih lanjut,
dan penyusunan produk hukum tersebut. terdapat 3 (tiga) manfaat partisipasi publik
Selain asas formal sebagaimana disebutkan dalam pembentukan peraturan perundang-
pada pasal 5, asas materiil dalam pasal 6 undangan , yaitu:
juga menuntut bahwa substansi produk 1. Terciptanya Partisipasi publik yang
perundangan hanya dapat dirumuskan lebih baik. Partisipasi publik akan
berdasarkan keterlibatan publik dalam memberikan landasan yang lebih baik
proses pembuatannya. Pasal 5 dan pasal6 dalam prosespembentukan peraturan
(1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun perundang-undangan dan memastikan
2011telah memberikan satu kesimpulan adanya implementasi yang lebih efektif
bahwa peraturan perundang-undangan di karena masyarakat mengetahui dan
Indonesia, baik pada level nasional, terlibat dalam memberikan sumbangsi
provinsi maupun kabupaten/kota bahkan pemikiran dalam kajian naskah
pada level desa harus menjunjung asas akademik.
kepastian dan keadilan bagi pihak yang 2. Meningkatnya kepercayaan publik
terkait dengan produk hukum tersebut. terhadap eksekutif dan legislatif.
Dengan demikian, Undang-Undang- Keterlibatan masyarakat dalam proses
Undang Nomor 12 Tahun 2011 telah pembentukan peraturan perundang-

ISSN : 2085-4757 53
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...(Kristian) 49-55

undangan memberikan kesempatan KESIMPULAN


kepada warga untuk mengetahui
rencana pemerintah, kesempatan untuk Pasal 5 dan pasal 6 ayat (1) Undang-
didengar pendapatnya dan memberikan Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang
input dalam proses pembentukan Pembentukan Perundang-Undangan,
peraturan perundang-undangan. Halitu muatan hukum yang terkandung
merupakan wujud dari pemerintahan didalamnya dibuat dalam rangka
yang baik dengan asas transparansi memastikan proses dan substansi produk
pemerintah sehingga legislatif dan perundang-undangan baik produk legislatif
eksekutif lebih mendapat kepercayaan maupun produk eksekutif. Hal ini selaras
dari publik. dengan asas negara hukum Indonesia,
3. Efisiensi sumber daya. Tingkat meminjam istilah Moh. Mahfud
penerimaan masyarakat lebih tinggi, MDtentang sistem negara hukum prismatik
maka sumber daya yang tadinya yang berarti dengan menekankan kepastian
digunakan untuk sosialisasi, dapat hukum dan menjamin keadilan bagi semua
dihemat dan digunakan untuk hal lain pihak. Pembentukan peraturan perundang-
yang lebih strategis, misalnya dalam undangan dengan mengakomodir
meningkatkan pelayanan publik. partisipasi publik sepatutnya diimplemen-
Upaya pelibatan masyarakat dalam tasikan pada saat kajian akademis melalui
pembentukan peraturan perundang- hearing sehingga segala fenomena yang
undangan memang dilakukan oleh berkembang, kebutuhan masyarakat dan
legislatif melalui dengar pendapat(public tujuan hukum dapat tercapai dengan
hearing). Peserta hearing biasanya dilihat terbentuknya peraturan yang efektif dan
dari faktor keahlian bukan mereka yang efisien.
mengalami langsung dampak dari
kebijakan yang sedang disusun tersebut. DAFTAR PUSTAKA
Selain itu, tindaklanjut dari hearing
tersebut juga masih dipertanyakan, karena Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum
tidak ada sistem yang menjamin Tatanegara Pasca Reformasi ,PT.
diterimanya aspirasi rakyat tersebut. Buana Ilmu Populer, Jakarta, 2007.
Pembentukan peraturan perundang-
undangan tidak dapat dilepaskan dari Mahfud MD, Moh.Membangun Politik
aspek politik hukum dan demokrasi. Untuk Hukum, Menegakkan Konstitusi,
mengeliminasi tindakan penguasa dalam Pustaka LP3ES, Jakarta, 2006.
menjalankan niatan politiknya agar tidak
terjebak pada kategori negara kekuasaan Mahfud MD, Moh.Politik Hukum di
(machtssaat), maka segala peraturan Indonesia, PT. RadjaGrafindo
perundang-undangan harus dikemas dalam Persada, Jakarta, 2011.
produk hukum sehingga dapat
dikategorikan sebagai negara hukum Utomo San DianPartisipasi Masyarakat
(reachtstaat). dalam Pembuatan Kebijakan,
dalam Lutfi Mustofa (penyelaras),
Otonomi Daerah: Evaluasi dan
Proyeksi, Yayasan Harkat Bangsa

ISSN : 2085-4757 54
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 2, September 2016 Partisipasi Publik dalam...(Kristian) 49-55

dan Partnsership for Governance


Reform in Indonesia, Jakarta, 2003.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011


Tentang Pembentukan Perturan
Perundang-Undangan Republik
Indonesia.

Undang-Undang Nomor 23Tahun 2014


Tentang Pemerintahan Daerah.

ISSN : 2085-4757 55