Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL TAK STIMULASI PERSEPSI UMUM

SESI 1: MENONTON VIDEO


RUMAH SAKIT Dr.H.MARZOEKI MAHDI BOGOR
RUANGAN SHINTA

DI SUSUN OLEH:
JOICE CRISTINE KAKIHARY (00000001437)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
TANGERANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Proposal TAK stimulasi persepsi umum sesi 1: menonton video di runag shinta Rumah
Sakit Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor, diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktek dari mata
kuliah keperawatan jiwa pada tanggal 20 Februari 2017.

Laporan ini telah disahkan dan disetujui oleh:

Pembimbing Ruangan

(_____________________________________)
A. Pendahuluan
Terapi aktivitas kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok
pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan
oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah
terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien
dengan gangguan interpersonal (Yosep, 2007).
Salah satu gangguan hubungan sosial pada pasien gangguan jiwa adalah gangguan
sensori persepsi: Halusinasi dan merupakan salah satu masalah keperawatan yang dapat
ditemukan pada pasien gangguan jiwa. Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di
mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara,
penglihatan, pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang
sebetulnya tidak ada. Dampak dari halusinasi yang diderita klien diantaranya dapat
menyebabkan klien tidak mempunyai teman dan asyik dengan fikirannya sendiri. Salah satu
penanganannya yaitu dengan melakukan Terapi Aktivitas Kelompok yang bertujuan untuk
mengidentifikasi halusinasi dan mengontrol halusinasi yang dialaminya.

B. Latar Belakang
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi
gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan
adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan,
prevalensi gangguan jiwa berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau
sekitar 400.000 orang. Berdasarkan jumlah tersebut, ternyata 14,3% di antaranya atau sekira
57.000 orang pernah atau sedang dipasung. Angka pemasungan di pedesaan adalah sebesar
18,2%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu sebesar
10,7%.
Setiap tahun, 159,624 pasien menjenguk RSJ Dr. H. Marzoeki Mahdi. Dari beberapa
kasus gangguan jiwa yang berada di rumah sakit ini, khususnya diruang shinta sebagian besar
pasien menderita gangguan persepi (halusinasi) dan isolasi diri. Oleh karena itu, terapi
aktivitas kelompok dengan stimulasi persepsi umum diharapkan dapat meningkatkan klien
dalam hal sosialisasi dan berdiskusi berdasarkan stimulus yang ada. Klien yang mengikuti
terapi ini adalah klien yang sudah mulai mampu mengontrol diri, serta sudah dapat
bekerjasama dengan sesamanya.
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. TOPIK BAHASAN
TAK stimulasi persepsi umum sesi 1: menonton video

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh
paparan stimulus kepadanya.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan
tepat seperti:
1) Klien mampu memyebutkan apa yang dilihat
2) Klien dapat memberikan pendapat terhadap video yang ditonton
3) Klien dapat memberikan tanggapan terhadap pendapat klien lain
b. Klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang dialami

C. LANDASAN TEORI
1. Terapi Aktivitas Kelompok
Terapi aktivitas kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan
sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin
atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih.
Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk
memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal (Yosep, 2007). Terapi
aktivitas kelompok (TAK) dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi
kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas orientasi
realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi (Keliat, 2005). Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai
stimulus terkait dengan pengalaman dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam
kelompok (Keliat, 2005). Fokus terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah
membantu pasien yang mengalami kemunduran orientasi dengan karakteristik: pasien
dengan gangguan persepsi; halusinasi, menarik diri dengan realitas, kurang inisiatif atau
ide, kooperatif, sehat fisik, dan dapat berkomunikasi verbal (Yosep, 2007).
Tujuan TAK Stimulasi Persepsi Adapun tujuan dari TAK stimulasi persepsi
adalah pasien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan
oleh paparan stimulus kepadanya. Sementara, tujuan khususnya: pasien dapat
mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat dan menyelesaikan
masalah yang timbul dari stimulus yang dialami.
2. Gangguan Persepsi
Menurut Hanurawan (2010) persepsi merupakan suatu proses pemahaman oleh
seseorang terhadap orang lain atau proses pemahaman seseorang terhadap suatu realitas
sosial. Persepsi adalah kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami
tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan
penciuman.
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai
dengan perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya
tidak ada ( Keliat & Akemat, 2010 ). Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia
dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar).
Klien memberikan persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau
rangsangan yang nyata. (Farida, 2010).
Penyebab halusinasi belum diketahui secara pasti namun ada beberapa teori yang
menyatakan : halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti
skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan
dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi juga dapat juga terjadi
dengan epilepsi, kondisi fisik sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat
dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti
kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat obatan halusinogenik dapat
membuat terjadinya pemberian obat diatas.
Halusinasi juga dapat terjadi pada saat keadaan individunormal yaitu pada
individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya
pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan, penyebab halusinasi
pendengaran secara fisik tidak diketahui namun banyak faktor faktor yang
mempengaruhinya seperti faktor biologis, psikologis, sosial dan budaya, faktor
pencetusnya halusiansi adalah stress lingkungan, biologis, pemicu masalah sumber
sumber koping dan mekanisme koping.

D. KLIEN
1. Karakteristik/Kriteria
a. Klien dengan gangguan persepsi yang telah mengikuti TAK
b. Klien dengan isolasi sosial yang telah mengikuti TAK
2. Peserta TAK
a. Tn. F
b. Tn. R
c. Tn. D
d. Tn. K
e. Tn. A
f. Tn. D
g. Tn. I
h. Tn. H
i. Tn. H
j. Tn. M
E. PENGORGANISASIAN
1. Waktu
a. Hari/Tanggal : Senin, 20 Februari 2017
b. Tempat Pertemuan : Ruang Shinta
c. Waktu : 15.30-16.00 WIB
d. Lamanya : 30 menit
e. Jumlah anggota : 10 orang
f. Jenis TAK : Stimulasi persepsi umum sesi 1: menonton video
2. Tim Terapis
a. Leader : Joice Cristine. K
b. Co-leader : Zentya Caroline. T
c. Fasilitator : Responiel, Mirna TIza, Asriyani, Yunita, Hariana, Desi
Ratnasari.
d. Observer : Erna Dame

3. Deskripsi Tugas
a. Leader
Merupakan seseorang pemimpin tim atau yang mampu memberikan bimbingan
kepada kelompok. Meliputi tugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola
komunikasi yang terjadi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk
menyadari dinamisnya kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok
menetapakan tujuan dan membuat peraturan serta mengarahkan dan memimpin
jalannya terapi aktivitas kelompok.
b. Co-Leader
Merupakan seorang yang ditunjuk dari leader untuk menjadi asisten-asisten leader
dimana tugas co-leader bisa menunjukkan anggotanya menjadi leader.
c. Fasilitator
Sebagai fasilitator, perawat ikut serta dalam kegiatan sebagai anggota kelompok
dengan tujuan memberi stimulus pada anggota kelompok lain agar dapat mengikuti
jalannya kegiatan
d. Observer
Tugas seorang observer meliputi: mencatat serta mengamati respon klien. Mengamati
jalannya poses terapi aktivitas kelompok dan menanngani peserta/anggota kelompok
yang drop out.
4. Metode
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
5. Media
a. Laptop (berisi video yang akan ditonton)
b. Buku catatan dan pulpen
c. Jadwal kegiatan klien
6. Setting tempat
Lihat lampiran 1 setting tempat

F. PROSES PELAKSANAAN
1. Persiapan
a. Memilih dan membuat kontrak dengan klien sesuai dengan kriteria klien
2. Orientasi
a. Salam teraupetik
1) Salam dari terapis
2) Perkenalkan nama dan panggilan terapis
3) Menanyakan nama dan panggilan semua klien
b. Evaluasi/Validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan masalah yang dirasakan
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menonton video dan bercakap-cakap (diskusi)
tentang video yang ditonton
2) Menjelaskan aturan main berikut:
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis
b) Lama kegiatan 30 menit
c) Klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap Kerja
a. Tentukan video yang menarik dan mudah dimengerti oleh klien
b. Beri kesempatan bagi klien untuk menonton video selama 10 menit dan setelah itu
dimatikan

Catatan:
Jika waktu 10 menit dalam video yang ditonton belum mencukupi (belum tuntas),
terapis dapat memperpanjang durasi tontonan dengan memperhitungkan toleransi dan
kemampuan konsentrasi klien.
c. Tanyakan pendapat seorang klien mengenai video yang telah ditonton
d. Tanyakan pendapat klien lain terhadap pendapat klien sebelumnya
e. Berikan pujian/penghargaan atas kemampuan klien memberi pendapat
f. Ulangi c,d, dan e sampai semua klien mendapat kesempatan.
g. Beri kesimpulan tentang video yang ditonton

Terapis menyimpulkan dengan menekankan pada aspek atau nilai positif dari tontonan
untuk daoat diadopsi atau dicontoh oleh klien. Bila ada aspek negative dari tontonan, terapis
harus menjelaskan sehingga aspek tersebut dapat dihindari oleh klien.

4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien untuk melatih kemampuan mempersepsikan video atau
tayangan TV tertentu dan mendiskusikannya pada orang lain
2) Membuat jadwal menonton TV
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang
2) Menyepakati waktu dan tempat
5. Evaluasi dan Dokumentasi
a. Evaluasi
Evalusai dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
stimulasi persepsi umum, sesi 1 kemampuan yang diharapkan adalah memberi
pendapat tentang video yang ditonton, memberi tanggapan terhadap pendapat klien
lain, dan mengikuti kegiatan sampai selesai. Formulir evaluasi dapat dilihat pada
lampiran 2 format evaluasi
b. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien ketika TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh catatan: klien mengikuti TAK stimulasi persepsi
(nonton video), klien mampu dan benar memberikan pendapat tentang video yang
ditonton, tetapi belum mau memberi tanggapan pada pendapat klien lain. Anjurkan
menonton TV bersama klien lain dan bercakap-cakap tentang acara TV (buat jadwal).
DAFTAR PUSTAKA

Balitbang Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang
Kemenkes RI

Farida Kusumawati. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarata : Salemba Medika.

Hanurawan, Fattah. (2010). Psikologi Sosial. Malang: Universitas Negeri Malang & PT Remaja
Rosdakarya.

Keliat, B.A, dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN (Basic Course).
Jakarta: EGC

Keliat, B.A, dkk. (2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta: EGC

Keliat, B.A. (2010). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC.

Yosep & Iyus. (2007). Keperawatan jiwa (Cetakan 1). Bandung: PT Refika Aditama
LAMPIRAN 1
SETTING TEMPAT

KETERANGAN:
1. Warna Merah : Leader
2. Warna Ungu : Co-Leader
3. Warna Kuning : Observer
4. Warna Hijau : Fasilitator
5. Warna Hitam : Meja
LAMPIRAN 2
FORMAT EVALUASI

Nama Klien
No Aspek Yang Dinilai

Memberi pendapat terhadap


1
video yang ditonton

Memberi tanggapan terhadap


2
pendapat klien lain

Mengikuti kegiatan sampai


3
selesai

Jumlah

Petunjuk:

1. Di bawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yang ikut TAK
2. Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda ceklist (v) jika ditemukan pada klien atau garis datar (-) jika
ditemukan.