Anda di halaman 1dari 6

Pada pasien berinisial F, perempuan berusia 58 tahun dengan berat badan 45 kg

dan tinggi badan 150 cm. Pasien berinisial F ini mengalami diabetes mellitus tipe II.
Menurut teori, diabetes melitus tipe II sering terjadi pada perempuan hal ini dapat dilihat
dari angka prevalensi perempuan adalah 6,4% dibandingkan laki-laki 4,9%
(RISKESDAS, 2007). Usia 40 tahun keatas juga merupakan faktor resiko pada diabetes
mellitus tipe II karena mulai terjadinya peningkatan intoleransi glukosa, adanya proses
penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel beta pankreas dalam memproduksi
insulin (Sujaya, 2009). Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa individu yang
berusia lebih tua, terjadi penurunan aktivitas mitokondria di sel-sel otot sebesar 35%.
Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar lemak di otot sebesar 30% dan memicu
terjadinya resistensi insulin (Sujaya, 2009). Keluhan utama yang dirasakan pasien pada
tahun 2004, yaitu pasien mengeluhkan sering merasa lapar dan sering ngemil, ia juga
merasa sering haus dan ingin minum terus-menerus dan sering BAK terutama malam
hari dengan frekuensi 3-4 kali. Keluhan berupa cepat lelah juga ia rasakan ketika sedang
beristirahat, keluhan penurunan berat badan juga dapat di jumpai hal ini terlihat pada
pasien dengan berat badan awal 63 kg dan sekarang menjadi 45 kg sejak ia di diagnosis
mengalami DM tipe II. Menurut teori, keluhan tersebut merupakan trias klasik pada
penderita diabetes mellitus tipe II, hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat
masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga.
Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel
lemak dan otot. Akibatnya penderita kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga
menjadi kurus. Selain itu juga ketika glukosa darah tidak dapat masuk ke sel akan
menyebabkan hiperglikemia dan timbulkan keluhan poliuria, polidipsia, dan polifagia
(Budhiarta, 2009).
Adapun keluhan lain yang dirasakan pasien sejak tahun 2004 adalah gatal-gatal di
seluruh tubuh ketika kadar gula darah meningkat dan juga pasien mengaku merasa cepat
lelah saat beraktivitas. Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan
atau daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara (Budhiarta, 2009).
Pada tahun 2004 pasien mengaku didiagnosis kencing manis di rumah sakit A.
Pasien mengaku bahwa dokter spesialis penyakit dalam yang mendiagnosisnya. Sebelum
didiagnosis, pasien melakukan beberapa pemeriksaan, salah satunya gula darah sewaktu
dengan hasil 490 mg/dL. Dokter mendiagnosis bahwa pasien menderita DM tipe II.
diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara. Salah satunya, adanya gejala klasik
DM dan kadar glukosa plasma sewaktu 200 mg/dl (11.1 mmol/L) glukosa plasma
sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu
makan terakhir (ADA, 2014)
Pada tahun 2004 pasien mengaku didiagnosis kencing manis di rumah sakit A.
Pasien mengaku bahwa dokter spesialis penyakit dalam yang mendiagnosisnya. Sebelum
didiagnosis, pasien melakukan beberapa pemeriksaan, salah satunya gula darah sewaktu
dengan hasil 490 mg/dL. Dokter mendiagnosis bahwa pasien menderita DM tipe II. Pada
awalnya, pasien diberi suntik insulin untuk terapi diabetesnya. Pasien mengaku bahwa ia
diberi terapi insulin selama 3 tahun. Injeksi insulin dilakukan secara intramuskular di
bagian lengan, paha, dan perut secara bergantian. Pasien mengaku bahwa suntik insulin
dilakukan setiap sebelum makan. Kebutuhan insulin pada pasien DM umumnya berkisar
antara 5-150 U sehari tergantung dari keadaan pasien. Dosis awal pasien muda 0,7-1,5
U/kgBB. Untuk terapi awal, regular insulin dan insulin kerja sedang merupakan pilihan
dan diberikan 2 kali sehari. Untuk pasien DM dewasa yang kurus 8-10U insulin kerja
sedang diberikan 20-30 menit sebelum makan pagi dan 4-5U sebelum makan malam.
Dosis ditingkatkan secara bertahap sesuai hasil pemerikaan gula darah dan urin
(Departemen FK UI 2012). Setelahnya, pasien meminta dokter untuk mengganti terapi
insulin dengan obat karena pasien tidak nyaman setiap setelah disuntik insulin selalu
merasakan baal dan pegal pada daerah yang disuntik tersebut. Lalu dokter mengizinkan
dan mengganti terapi insulin menjadi terapi obat golongan Biguanid yang dikonsumsi
secara teratur 3 kali sehari. Metformin adalah obat antidiabetik oral yang termasuk
golongan Biguanid. Metformin memiliki efek utama, yaitu untuk mengurangi produksi
glukosa hepatik. Selain itu, metformin meningkatkan penggunaan glukosa insulin yang
dimediasi pada jaringan perifer (seperti otot dan hati), terutama setelah makan, dan
memiliki efek antilipolitik yang menurunkan konsentrasi asam lemak bebas serum,
sehingga mengurangi ketersediaan substrat untuk glukoneogenesis. Metformin juga
meningkatkan penggunaan glukosa usus melalui metabolisme tanpa penggunaan oksigen.
Laktat yang dihasilkan oleh proses ini sebagian besar dimetabolisme di hati sebagai
substrat untuk glukoneogenesis. Efek yang terakhir bisa melindungi terhadap
hipoglikemia. Mekanisme molekuler dari metformin tidak sepenuhnya diketahui.
Aktivasi enzim AMP yang diaktivasi oleh protein kinase (AMPK) tampaknya menjadi
mekanisme yang menurunkan serum lipid dan konsentrasi glukosa darah. Hal tersebut
kemudian menekan lipogenesis dan menurunkan lemak seluler sintesis asam di hati dan
otot, yang pada gilirannya meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi kadar
glukosa darah Metformin memiliki waktu paruh 1,5-3 jam. Tidak terikat ke protein
plasma, tidak dimetabolisasi, dan disekresikan oleh ginjal sebagai senyawa aktif. Dosis
metformin adalah dari 500 mg hingga maksimal 2,55 g per hari, dengan anjuran
pemakaian dosis terendah yang masih efektif. Bergantung pada apakah kelainan
primernya adalah hiperglikemia puasa atau hiperglikemia pasca-makan, terapi metformin
dapat dimulai sebagai dosis sekali sehari saat tidur atau sebelum makan. Jadwal lazim
untuk hiperglikemia puasa adalah dimulai dengan satu tablet 500 mg sebelum tidur
malam selama seminggu atau lebih (Katzung, 2013). Pada tahun 2012, pasien pindah ke
Rumah Sakit B dan mendapatkan terapi obat golongan Biguanid yang dikonsumsi secara
teratur 3 kali sehari. Pada tahun 2015, pasien pindah ke Rumah Sakit C karena pemberian
obat di Rumah sakit B sebanyak satu bulan sekali, sedangkan di Rumah Sakit C diberikan
1 minggu sekali. Terapi obat yang diberikan, yaitu obat diabetes golongan Sulfoniluria,
obat antihipertensi, dan obat kolesterol. Gliburid/ Glibenclamide adalah obat antidiabetik.
Gliburid merupakan golongan obat Sulfonilurea generasi kedua. Gliburid adalah
hipoglikemik oral derivat sulfonil urea yang bekerja aktif menurunkan kadar gula darah.
Gliburid bekerja dengan merangsang sekresi insulin dari pankreas. Oleh karena itu
glibenklamida hanya bermanfaat pada penderita diabetes dewasa yang pankreasnya
masih mampu memproduksi insulin. Pada penggunaan per oral gliburid diabsorpsi
sebagian secara cepat dan tersebar ke seluruh cairan ekstrasel, sebagian besar terikat
dengan protein plasma Dosis awal lazim pada obat Gliburid adalah 2,5 mg/hari atau
kurang dan dosis pemeliharaan rerata 5-10 mg/hari yang diberikan secara dosis tunggal
pagi hari. Gliburid memiliki sedikit efek samping selain potensinya menyebabkan
hipoglikemia. Gliburid di kontraindikasikan jika terdapat gangguan hati dan pada pasien
dengan insufiensi ginjal (Katzung, 2013). Telmisartan adalah obat antihipertensi.
Telmisartan merupakan obat golongan Antagonis Reseptor Angiotensin II (Angiotensin
Receptor Blocker, ARB). Angiotensin Receptor Blocker (ARB) merupakan kelompok
obat yang memodulasi sistem RAS dengan cara menginhibisi ikatan angiotensin II
dengan reseptornya, yaitu pada reseptor AT1 secara spesifik. Akibat penghambatan ini,
maka angiotensin II tidak dapat bekerja pada reseptor AT1, yang secara langsung
memberikan efek vasodilatasi, penurunan vasopressin, dan penurunan aldosteron, selain
itu, penghambatan tersebut juga berefek pada penurunan retensi air dan Na dan
penurunan aktivitas seluler yang merugikan (misalnya hipertrofi). Telmisartan
dikonsumsi dengan dosis 20-80mg dengan frekuensi 1 kali sehari. Sediaan yang ada,
yaitu tablet 20, 40, dan 80mg (Setiabudi, 2013). Tetapi, sejak Maret 2017, pasien tidak
lagi mengonsumsi obat kolesterol. Pasien mengaku DM terkontrol dengan sebulan sekali
kontrol kerumah sakit setiap bulan pada tanggal 20.

Pasien memiliki riwayat darah tinggi sejak tahun 10 tahun yang lalu. Pada tahun
2015, pasien didiagnosis menderita Hypertension Heart Disease (HHD).
(PEMBAHASAN)
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat keluarga yang memiliki penyakit diabetes
mellitus tipe 2 namun untuk riwayat hipertensi ayah pasien mengalami hipertensi.
(PEMBAHASAN)
Pasien mulai mengalami komplikasi pada tahun 2012, yaitu adanya luka yang
sulit disembuhkan yang sekarang telah mengalami abses. Pasien sebelumnya mengalami
luka tertusuk tulang ikan pada jari telunjuk kaki kanan, luka tersebut tidak kunjung
sembuh hingga 3 hari kemudian mengalami gangren dan pasien langsung kerumah sakit
dan dokter mengamputasi jari kaki tersebut. Pada tahun 2013, pasien mengaku mata
kirinya terasa kabur. Pasien mengaku mengalami kesemutan pada kedua tangan dan kaki
nya sejak bulan April 2017 dan merasakan adanya rasa baal pada tangan kanan dan jari
telunjuk tangan kanan pasien tidak dapat diluruskan. Pasien mengaku terkadang lemas,
keringat dingin dan gemetar saat gula darah turun dan pasien mengatasinya dengan
minum air gula. Menurut teori, polineupati simetris, yang bermanifestasi sebagai
penurunan sensasi tekanan kulit dan getaran serta ketiadaan refleks lutut, adalah
penyebab utama ulkus kaki pada diabetes yang terjadi 75-90%. Ulkus kaki diabetik
sering menyebabkan amputasi akibat iskemia akibat makrovascular (terdapat 30-40%
pengidap ulkus kaki) dan penyakit mikrovascular, infeksi akibat perubahan fungsi
neutrofil dan insufisiensi vaskular, serta gangguan penyembuhan luka akibat faktor-faktor
yang belom di ketahui (Ganong, 2015).
Pada neuropati sensorik diabetes, yang terutama terkena adalah serat saraf kecil,
dan neuropati ini umumnya nyeri. Gejala meliputi rasa baal, parestesia, hiperalgesia
berat, dan nyeri yang biasanya dirasakan seperti terbakar (Price, 2012:1080). Dalam
konferensi neuropati perifer pada bulan febuari 1988 di San Antonio disebutkan bahwa
neuropati diabetik adalah yang istilah deskriptif yang menunjukkan adanya gangguan,
baik klinis maupun subklinis yang terjadi pada diabetes melitus tanpa penyebab neuropati
perifer yang lain. Gangguan neuropati dapat mengenai saraf sistem motorik, sensorik dan
otonom dengan manifestasi yang bervariasi seperti kesemutan, kebas, tebal, mati rasa,
rasa terbakar seperti rasa ditusuk, dirobek, dan ditikam, dll (Subekti, 2014:2397).
Pasien memiliki kebiasaan sering minum minuman yang manis, sering ngemil,
dan pola makannya sehari-hari, yaitu 3 kali sehari. Pasien juga tidak pernah berolahraga.
kebiasaan ini dilakukan sebelum didiagnosis sakit DM tipe II. kebiasaan tersebut
merupakan faktor resiko untuk terjadinya DM tipe II, kurangnya aktivitas fisik serta
tingginya konsumsi karbohidrat, protein dan lemak merupakan faktor risiko dari obesitas
menyebabkan asam lemak atau free fatty acid (PFA) dalam sel. Peningkatan FFA ini
akan menurunkan translokasi transporter glukosa ke membran plasma dan menyebabkan
terjadinya resistensi insulin pada jaringan otot dan adipose (Sujaya, 2009). Prevalensi
DM sejalan dengan tingkat obesitas, semakin berat tingkat obesitas, semakin tinggi pula
prevalensi DM. Setiap peningkatan 1 kg berat badan dapat menigkatkan risiko terjadinya
DM sebesar 4,5% (Sujaya, 2009).
Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan jumlah energi yang dikonsumsi melebihin
jumlah energi yang dikeluarkan, sehingga menimbulkan keseimbangan energi positif
uang disimpan pada jaringan adipose. Hal ini menyebabkan terjadinya resistensi insulin
yang berkembang menjadi DM tipe-2 (Sujaya, 2009).
Upaya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh pasien adalah pemeriksaan
laboratorium setiap 2 bulan sekali, pasien mendapatkan panduan diet pada penderita
diabetes yaitu dengan mengatur asupan kalori sebesar 1700 kalori dengan Frekuensi
makan pasien ketika gula darah tinggi, ia makan 1 kali sehari namun bila gula darah
normal ia makan 2 kali sehar. Terkait aktivitas fisik, dokter tidak menyarankan aktivitas
yang harus dilakukan oleh pasien secara spesifik.