Anda di halaman 1dari 22

Case Report Session

Pneumonia

Oleh:

Lukman Nurhakim 1110313090

Fatma Jauhar 1210313025

Preseptor:

dr. Metrizal, Sp.A(K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

RS ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2016
BAB I
Tinjauan Pustaka

1.1 Definisi

Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru. sebagian besar oleh
mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi,
dll).

1.2 Etiologi

Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan
kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis dan strategi
pengoatan. Spektrum mikroorganisme penyabab pada neonatus dan bayi kecil berbeda dengan
anak yang lebih besar. Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus
gurp B dan bakteri Gram negatif seperti E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi
yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus
pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B, dan Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak
yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma
pneumoniae. Dinegara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh virus, disamping
bakteri, atau campuran bakteri virus. (tabel 1)

Terdapat berbagai faktor resiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas pneumonia
pada anak balita di negara berkembang. Faktor resiko tersebut adalah: pneumonia yang terjadi
pada masa bayi, berat badan lahir rendah, tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat ASI yang
adekuat, malnutrisi, defisiensi vitamin A, tingginya prevalens kolonisasi bakteri patogen di
nasofaring, dan tingginya pajanan terhadap polusi udara (polusi industri atau asap rokok).1
Tabel 1. Etiologi pneumonia menurut umur

Usia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang


Lahir 20 hari Bakteri Bakteri
E. colli Bakteri an aerob
Streptococcus grup B Haemophillus influenza
Listeria monocytogenes Streptococcus pneumonia
Ureaplasma urealyctims
Virus
3 minggu -3 bulan Bakteri Bakteri
Chalmydia trachomatis Bordetella pertussis
Streptococcus pneumonia Haemophilus influenza tipe B
Virus Moraxella cathralis
Virus adeno Staphylococcus aureus
Virus influenza Ureaplasma urealyctims
Respiratory syncytial virus Virus
Virus parainfluenza 1,2,3 Virus sitomegalo
4 bulan 5 tahun Bakteri Bakteri
Chalmydia trachomatis Haemophilus influenza tipe B
Streptococcus pneumonia Moraxella cathralis
Mycoplasma pneumoniae Staphylococcus aureus
Virus Neisseria meningitidis
Virus adeno Virus
Virus influenza Virus varisela-Zoster
Respiratory syncytial virus
Virus rinovirus parainfluenza
5 tahun- remaja Bakteri Bakteri
Chalmydia trachomatis Haemophilus influenza tipe B
Streptococcus pneumonia Legionella
Mycoplasma pneumoniae Staphylococcus aureus
Virus
Virus adeno
Virus influenza
Respiratory syncytial virus
Virus rinovirus parainfluenza
Virus Epstein-Barr
Virus Varisela Zoster

1.3 Epidemiologi

Diperkirakan hampir seperlima kematian anak diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak
balita meningal setiap tahun akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia
Tenggara. Menurut survei kesehatan nasional 2001, 27% kematian bayi, 22,8% kematian balita
di Indonesia disebabkan oleh penyakit respiratori, terutama pneumonia.1

1.4 Patofisiologi

Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran


respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi dan
penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi,
yaitu terjadi serbukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema dan ditemukannya kuman di
alveoli. Stadium ini disebut stadium hapatisasi merah. Selanjutnya, deposisi fibrin semakin
bertambah, terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat.
Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Selanjutnya jumlah makrofag meningkat di
alveoli, sel akan mengalami degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris menghilang. Stadium
ini disebut stadium resolusi. Sistem bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap
normal.

Antibiotik yang diberikan sedini mungkin dapat memotong perjalanan penyakit, sehingga
stadium khas yang telah diuraikan sebelumnya tidak terjadi. Beberapa bakteri tertentu sering
menimbulkan gambaran patologis tertentu bila dibandingkan dengan bakteri lain. Infeksi
streptococcus pneumoniae biasanya bermanifestasi sebagai bercak-bercak konsolidasi merata di
seluruh lapang paru (bronkopneumonia), dan pada anak besar atau remaja dapat berupa
konsolidasi pada saru lobus (pneumonia lobaris). Pneumatokel atau abses-abses kecil sering
disebabkan oleh Staphylococcus aureus pada neonatus atau bayi kecil, karena Staphylococcus
aureus menghasilakan berbagai toksin dan enzim seperti hemolisis, lekosidin, stafilokinase, dan
koagulase. Toksin dan enzim ini menyebabkan nekrosis, pendarahan, dan kavitas. Koagulase
berinteraksi dengan faktor plasma dan menghasilkan bahan aktif yang mengkonversi fibrinogen
menjadi fibrin, sehingga terjadi eksudat fibrinopurulen. Terdapat korelasi antara produksi
koagulase dan virulensi kuman. Staphylococcus yang tidak menghasilkan koagulase jarang
menimbulkan penyakit yang serius. Pneumatokel dapat menetap hingga berbulan-bulan, tetapi
biasanya tidak memerlukan terapi lebih lanjut.1
1.5 Manifestasi klinis

Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan hingga
sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yan gberat, mengancam
kehidupan, dan mungkinkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan perawatan di RS

Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas
anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yag luas, gejala klinis yang kadang-kadang
tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi non
infeksi yang relatif lebih sering dan faktor patogenesis. Disamping itu, kelompok usia pada anak
merupakan faktor penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda, sehingga
perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia.

Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat ringannya infeksi, tetapi
secara umum adalah sebagai berikut:

Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan napsu makan,
keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare; kadang-kadang ditemukan gejala
infeksi ekstrapulmuner
Gejala gangguan respiratori untuk batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas cuping
hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

Pada pemeriksaan dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi, suara napas melemah,
dan ronki. Akan tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala dan tanda pneumonia lebih beragam
dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan
kelainan.1

biasanya mengalami demam tinggi, batuk, gelisah, rewel, dan sesak nafas. Pada bayi,
gejalanya tidak khas, seringkali tanpa demam dan batuk. Anak besar kadang mengeluh sakit
kepala, nyeri abdomen disertai muntah.2

Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok umur tertentu. Pada
neonatus sering dijumpai takipneu, retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis. Pada bayi-bayi
yang lebih tua jarang ditemukan grunting. Gejala yang sering terlihat adalah takipneu, retraksi,
sianosis, batuk, panas, dan iritabel.
Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah demam, batuk (non
produktif/produktif), takipneu, dan dispneu yang ditandai dengan retraksi dinding dada. Pada
kelompok anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai panas, batuk (non produktif/produktif), nyeri
dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi. Pada semua kelompok umur, akan dijumpai adanya
nafas cuping hidung.

Pada auskultasi, dapat terdengar suara pernapasan menurun. Fine creackles (ronki basah
halus) yang khas pada anak besar, bisa tidak ditemukan pada bayi. Gejala lain pada anak besar
adalah dull (redup) pada perkusi, vokal fremitus menurun, suara nafas menurun, dan terdengar
fine creakles (ronkhi basah halus) di daerah yang terkena. Iritasi pleura akan mengakibatkan
nyeri dada; bila berat gerakan dada menurun waktu inspirasi, anak berbaring ke arah yang sakit
dengan kaki fleksi. Rasa nyeri dapat menjalar ke leher, bahu dan perut.2

1.6 Diagnosis kerja

Pneumonia pada anaka umunya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan
keterlibatan sistem respiratori, serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya
pneumonia adalah demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori berikut: takipnea, batuk,
nafas cuping hidung, retraksi, ronki dan suara nafas melemah. Tandan bahaya pada anak:1,3

1. usia 2 bulan 5 tahun adalah tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, dan
gizi buruk
2. tanda bahaya pada anak berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran
menurun, stridor, mengi dan demam/badan terasa dingin.

Berikut adalah kalsifikasi pneumonia berdasarkan pedoman diagnosis dari WHO

Usia 2 bulan 5 tahun

Pneumonia ringan
- bila tidak ada sesak nafas
- ada nafas cepat dengan laju nafas:
>50x/menit untuk anak usia 2 bulan-1 tahun
>40x/menit untuk anak >1-5 tahun
- Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral
Pneumonia berat:
- sesak nafas
- retraksi dinding dada
- harus dirawat dan diberikan antibiotik
Pneumonia sangat berat : tidak dapat minum/makan, kejang, letargis, malnutrisi
Bukan pneumonia
- Bila tidak ada nafas cepat dan sesak nafas
- Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan simtomatis
seperti penurun panas

Usia < 2 bulan

Pneumonia
- Bila ada nafas cepat (>60x/menit) atau sesak nafas
- Harus dirawat dan diberikan antibiotik
Bukan pneumonia
- Tidak ada nafas cepat atau sesak nafas
- Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis.2,3

1.7 Pemeriksaan penunjang

1. Darah perifer lengkap

Pada pneumonia virus dan juga pada pneumonia mikoplasma umumnya ditemukan leukosit
dalam batas normal ataus sedikit meningkat. Akan tetapi, pada pneumonia bakteri didapatkan
leukositosis yang berkisar antara 15.000-40.000/mm3 dengan predominan PMN. Leukopenia (
>5.000/mm3) menunjukan prognosis yang buruk. Leukositosis hebat hampir selalu menunjukkan
adanya infeksi bakteri, sering ditemukan pada keadaan bakteriemi, dan risiko terjadinya
komplikasi lebih tinggi. Pada infeksi Chalmydia pneumoniae kadang-kadang ditemukan
eosinofiilia. Efusi pleura merupakan cairan eksudat dengan sel PMN berkisar antara 300-
100.000/mm3, protein >2,5 g/dl, dan glukosa relatif lebih rendah daripada glukosa darah.
Kadang-kadang terdapat anemia ringan dan laju endap darah (LED) yang meningkat. Secara
umum, hasil pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat membedakan antara infeksi
virus dan infeksi bakteri secara pasti.
2. Pemeriksaan mikrobiologis

Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin dilakukan kecuali
pada pneumonia berat yang dirawat di Rs. Untuk pemeriksaan mikrobiologis spesimen dapat
berasal dari usap tenggorok, sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura, atau
aspirasi paru. diagnosis dikatakan definitif bila kuman ditemukan dari darah, cairan pleura, atau
aspirasi paru. kecuali pada masa neonatus, kejadian bakteremia sangat rendah sehingga kultur
darah jarang yang positif. Spesimen yang memenuhi syarat adalah sputum yang mengandung
lebih dari 25 lekosit dan kurang dari 40 sel epitel/ lapangan pada pemeriksaan mikroskopis
dengan pemebesaran kecil.

3. Rontgen thoraks

Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia di Instalasi


gawat darurat hanyalah pemeriksaan rontgen toraks posisi AP. Posisi lateral tidak meningkatkan
sensitivitas dan spesifisitas penegakan diagnosis pneumonia pada anak. Foto AP lateral hanya
dilakuakan pada pasien dengan tanda dan gejala klinik distress pernapasan.

Gambaran foto rontgen toraks pneumonia pada anak meliputi infiltrat ringan pada satu paru
hingga konsolidasi luas pada kedua paru. pada suatu penelitian ditemukan bahwa lesi pneumonia
pada anak terbanyak berada di paru kanan, terutama lobus atas. Bila ditemukan di paru kiri, dan
terbanyak di lobus bawah, maka hal itu merupakan prediktor perjalanan penyakit yang lebih
berat dengan resiko terjadinya pleuritis lebih meningkat.

Gambaran foto rontgen toraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan etiologi


pneumonia. Penebalan peribronkial, infiltrat intersisial merata dan hiperinflasi cenderung terlihat
pada pneumonia virus. Infiltrat alveolar berupa konsolidari segmen atau lobar, bronkopneumonia
dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri. Pada pneumonia stafilokokus
sering ditemukan abses-abses kecil dan pneumatokel dengan berbagai ukuran. Jika terdapat
gambaran retikonodular fokal pada satu lobus, hal ini cenderung disebabkan oleh infeksi
mikoplasma. Demikian pula bila terlihat gambaran perkabutan atau ground glass consolidation,
serta transient pseudoconsolidation karena infiltrat intersisial yang konfluens, patut
dipertimbangkan adanya infeksi mikoplasma.1
1.8 Tatalaksana

Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap.indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak mu
makan/minum, atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi dan terutama mempertimbangkan
usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap.
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotik yang
sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan intravena, terapi
oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa, elektrolit dan gula darah. Untuk
nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik. Suplementasi vitamin A tidak terbukti
efektif. Penyakit penyerta harus ditanggulangi dengan adekuat, kompilasi yang mungkin terjadi
harus dipantau dan diatasi.

Penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan. Terapi
antibiotik harus segera diberikan pada anak dengan pneumonia yang diduga disebabkan oleh
bakteri. Identifikasi dini mikroorganisme penyebab tidak dapat dilakukan karena tidak
tersedianya uji mikroniologis cepat. Oleh karena itu, antibiotik dipilih berdasarkan pengalaman
empiris. Umumnya pemilihan antibiotik empiris didarkan pada kemungkinan etiologi penyebab
dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien serta faktor epidemiologis (tabel 2).1

Pneumonia rawat jalan

Pada pneumonia rawat jalan dapat diberikan antibiotika lini pertama secara oral, misalnya
amoksisilin atau kotrimoksazol. Pada pneumonia ringan berobat jalan, dapat diberikan
antibiotik tunggal oral dengan efektifitas yang mencapai 90%. Penelitian multisenter di
Pakistan menemukan bahwa pada pneumonia rawat jalan, pemberian amoksisilin dan
kotrimoksazol dua kali sehari mempunyai efektifitas yang sama. Dosis amoksisilin yang
diberikan 25mg/kgBB, sedangkan kotrimoksazol adalah 4mg/kgBB TMP-20mg/kgBB
sulfametoksazol). Makrolid, baik eritromisin maupun makrolid baru dapat digunakan sebagai
terapi alternatif beta laktam untuk pengobatan inisial pneumonia, dengan pertimbangan
adanya aktivitas ganda terhadap S.pneumoniae dan bakteri atipik.
Pneumonia rawat inap

Pilihan antibiotik lini pertama dapat menggunakan antibiotik golongan beta-laktam atau
kloramfenikol. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta laktam dan kolramfenikol
dapat diberikan antibiotik lain seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin, sesuai dengan
petunjuk etiologi yang ditemukan. Terapi antibiotik diteruskan selama 7-10 hari pada pasien
dengan pneumonia tanpa komplikasi, meskipun tidak ada studi kontrol mengenai lama terapi
antibiotik yang optimal.

Pada neonatus dan bayi kecil, terapi awal antibiotik intravena harus dimulai sesegera
mungkin. Oleh karena pada neonatus dan bayi kecil sering terjadi sepsis dan meningitis,
antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik spektrum luas seperti kombinasi beta
laktam/klavulonat dengan aminoglikosid, atau sefalosporin generasi ketiga. Bila keadaan
sudah stabil, antibiotik dapat diganti dengan antibiotik oral selama 10 hari.

Pada balita dan anak lebih besar, antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik
beta-laktam/klavulanat; pada kasus yang lebih berat diberika beta laktam/klavulanat
dikombinasikan dengna makrolid baru intravena, atau sefalosporin generasi ketiga. Bila
pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah stabil, antibiotik diganti dengan antibiotik oral
dan berobat jalan.1

Pada pneumonia rawat inap, berbagai RS di Indonesia memberikan antibiotik beta


laktam, ampisilin, atau amoksisilin, dikombinasikan dengan kloramfenikol.
1.9 Komplikasi

Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta,


pneumotoraks, atau infeksi ekstrapulmuner seperti meningitis purulenta. Empiema torasis
merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri

Ilten F dkk. Melaporkan mengenai komplikasi miokarditis yang cukup tinggi pada seri
pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal,
maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik noninvasif seperti EKG,
ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim.1

1.10 Prognosis

Pada umumnya anak akan sembuh dari pneumonia dengan cepat dan sembuh sempurna,
walaupun kelainan radiologi dapat bertahan selama 6-8 minggu sebelum kembali ke kondisi
normal. Pada beberapa anak, pneumonia dapat berlangsung lebih lama dari 1 bulan atau dapat
berulang. Pada kasus seperti ini keumgnkinan adanya penyakit lain yang mendasari harus
dinvestigasi lebih lanjut, seperti dengan uji tuberkulin, pemeriksaan hidroklorida keringat untuk
penyakit kistik fibrosis, pemeriksaan imunoglobulin serum dan determinasi sub kelas IgG,
bronkoskopi untuk identifikasi kelaianan anatomis atau mencari benda asing, dan pemeriksaan
barium meal untuk refluks gastroeusofageal.5

1.11 Pencegahan

Vaksin influenza yang diberikan tiap tahun dianjurkan untuk seluruh anak berusia 6
bulan- 18 tahun. Bayi 6 bulan sampai dengan anak usia 5 tahun memiliki risiko tinggi terjadinya
komplikasi dari influenza yang dilemahkan dapat diberikan pada pasien 2-49 tahun. Beberapa
vaksin trivalen telah memiliki lisensi untuk digunakan sejak berusia 6 bulan. vaksinasi universal
sejak masa kanak-kanak dengan vaksinasi H. Influenza tipe B terkonjungasi dan S.pneumonia
telah menurunkan insidens terjadinya pneumonia secara bermakna. Keparahan suatu infeksi RSV
dapat dikurangi dengan menggunakan palivisumab pada pasien yang beresiko tinggi.5
Upaya mengurangi durasi ventilasi mekanik dan pemberian antibiotik dengan bijaksana dapat
menurunkan pneumonia akibat ventilator. Tempat tidur pada bagian kepala harus dinaikan
setinggi 30-45 derajad pada pasien terintubasi untuk meminimalisasi risiko aspirasi dan semua
instrumen penghisap lendir dan cairan saline harus steril. Cuci tangan baik sebelum dan setelah
kontak dengan setiap pasien dan menggunakan sarung tangan steril ketika menggunakan
prosedur invasif sangat penting untuk mencegah terjadinya penularan infeksi nosokomial. Staf
rumah sakit yang mengalami penyakit respiratori atau menjadi pembawa penyakit tertentu
seperti MRSA (methicillin-resisten S.aureus) harus mematuhi kebijakan pengendalian infeksi
untuk mencegah transmisi penyakit kepada pasien. Sterilisasi peralatan sumber aerosol (misalnya
alat pendingin udara) dapat mencegah terjadinya pneumonia Legionella.5

Untuk mencegah pneumonia perlu partisipasi aktif dari masyarakat atau keluarga terutama
ibu rumah tangga, karena pneumonia sangat dipengaruhi oleh kebersihan di dalam dan di luar
rumah. Pencegahan pneumonia bertujuan untuk menghindari terjadinya penyakit pneumonia
pada balita. Berikut adalah upaya untuk mencegah terjadinya penyakit pneumonia :

1. Perawatan selama masa kehamilan

Untuk mencegah risiko bayi dengan berta badan lahir rendah, perlu gizi ibu selama
kehamilan dengan mengkonsumsi zat-zat bergizi yang cukup bagi kesehatan ibu dan
pertumbuhan janin dalam kandungan serta pencegahan terhadap hal-hal yang memungkinkan
terkenanya infeksi selama kehamilan.

2. Perbaikan gizi balita

Untuk mencegah risiko pneumonia pada balita yang disebabkan karena malnutrisi, sebaiknya
dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi neonatal sampai umur 2 tahun. Karena ASI
terjamin kebersihannya, tidak terkontaminasi serta mengandung faktor-faktor antibodi
sehingga dapat memberikan perlindungan dan ketahanan terhadap infeksi virus dan bakteri.
Oleh karena itu, balita yang mendapat ASI secara ekslusif lebih tahan infeksi dibanding
balita yang tidak mendapatkannya.

3. Memberikan imunisasi lengkap pada anak


Untuk mencegah pneumonia dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi yang memadai,
yaitu imunisasi anak campak pada anak umur 9 bulan, imunisasi DPT (Difteri, Pertusis,
Tetanus) sebanyak 3 kali yaitu pada umur 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan.

4. Memeriksakan anak sedini mungkin apabila terserang batuk.


Balita yang menderita batuk harus segera diberi pengobatan yang sesuai untuk mencegah
terjadinya penyakit batuk pilek biasa menjadi batuk yang disertai dengan napas cepat/sesak
napas.
5. Mengurangi polusi didalam dan diluar rumah
Untuk mencegah pneumonia disarankan agar kadar debu dan asap diturunkan dengan cara
mengganti bahan bakar kayu dan tidak membawa balita ke dapur serta membuat lubang
ventilasi yang cukup. Selain itu asap rokok, lingkungan tidak bersih, cuaca panas, cuaca
dingin, perubahan cuaca dan dan masuk angin sebagai faktor yang memberi kecenderungan
untuk terkena penyakit pneumonia.
6. Menjauhkan balita dari penderita batuk.
Balita sangat rentan terserang penyakit terutama penyakit pada saluran pernapasan, karena itu
jauhkanlah balita dari orang yang terserang penyakit batuk. Udara napas seperti batuk dan
bersin-bersin dapat menularkan pneumonia pada orang lain. Karena bentuk penyakit ini
menyebar dengan droplet, infeksi akan menyebar dengan mudah. Perbaikan rumah akan
menyebabkan berkurangnya penyakit saluran napas yang berat. Semua anak yang sehat
sesekali akan menderita salesma (radang selaput lendir pada hidung), tetapi sebagian besar
mereka menjadi pneumonia karena malnutrisi.1,3,5
BAB II

LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN

Nama : A. MF

Jenis Kelamin : laki- laki

Umur : 7 bulan

Alamat : Bukit Tinggi

Tgl Masuk : 24 Oktober 2016

MR : 456369

Keluhan Utama

Sesak napas sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang

Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tinggi, tidak menggigil, tidak

disertai keringat dan tidak disertai kejang.

Batuk sejak 2 hari yang lalu berdahak, dan dahak tidak bisa keluar.

Pilek ada sejang 2 hari yang lalu.

Sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Sesak tidak menciut, tidak dipengaruhi cuaca,

makanan dan aktivitas.

Mual dan muntah tidak ada

Perdarahan dari gusi, hidung, mulut ada

Keluar cairan dari telinga tidak ada

Buang air kecil jumlah dan warna biasa


Buang air besar warna dan konsistensi biasa.

Riwayat kontak dengan keluarga yaitu ayah yang menderita demam dan batuk ada.

Anak masih bisa menyusu, selama sakit frekuensi menyusu berkurang.

Riwayat penyakit dahulu.

Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya

Riwayat penyakit keluarga

Ayah pasien demam dan batuk tidak berdahak.

Riwayat mkanan dan minuman

- ASI : 0- 2 tahun
- Bubur Susu : 7 bulan
- Nasi Tim :-
Riwayat Sosial, Ekonomi, Kelahiran, Imunisasi dan Pertumbuhan Perkembangan

Pasien adalah anak ketiga dari 3 bersaudara, lahir spontan ditolong bidan ,BBL 3200 gr,

PBL 47 cm, langsung menangis.

Riwayat Imunisasi dasar lengkap, ulangan tidak ada.

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan normal, anak sekarang bisa tengkurap dan

duduk sendiri

Higiene dan sanitasi lingkungan kurang baik.

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Sadar
Frekuensi jantung : 136x /menit

Frekuensi nafas : 72 x/ menit

Suhu : 38,8 oC

Panjang badan : 71 cm

Berat badan : 8,3 kg

Status gizi - BB/U : 8,3/8,4 x 100 %= 98,8%

- TB/U : 71/69 x 100% =102,8 %

- BB/TB : 8,3 /9.2x 100 % = 90.2%

Kesan : gizi baik

Sianosis : tidak ada

Ikterik : tidak ada

Edema : tidak ada

Kulit : Teraba hangat, turgor baik

Kepala : Bulat, simetris,

Rambut : Hitam, tidak mudah rontok.

Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik,

Telinga : Tidak ditemukan kelainan

Hidung : nafas cuping hidung ada

Gigi dan mulut : Mukosa bibir dan mulut basah.

Tenggorokan : Tonsil T1-T1, Faring tidak hiperemis.

KGB : Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening.

Leher : tidak ada kelainan


Dada

Paru

- inspeksi : normochest, retraksi epigastrium ada, retraksi intercostal ada

- palpasi : fremitus kiri =kanan

- perkusi : sonor

- auskultasi : bronkovesikuler, rhonki ada basah halus nyaring di kedua lapangan

paru, wheezing tidak ada.

Jantung

- inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

- palpasi : iktus kordis teraba di LMCS RIC V

- perkusi : tidak dilakukan

- auskultasi : irama teratur, bising tidak ada

Abdomen

- inspeksi : distensi tidak ada

- palpasi : supel, hepar teraba - dan lien tidak teraba

- perkusi : Timpani

- auskultasi : bising usus (+) normal

Punggung : tidak ditemukan kelainan

Alat kelamin : Status pubertas A1G1P1.

Anus : colok dubur tidak dilakukan

Ekstremitas :

- akral hangat, refilling kapiler baik, reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

Pemeriksaan penunjang
Hasil laboratorium darah:

Hb : 9,3 gr/dl

Leukosit : 8950 /mm3

Hit. Jenis : 0/0/7/42/48/3

Diagnosis kerja

- Pneumonia berat

Penatalaksanaan

- O2 nasal 2L

- Ka EN 1 B 30 cc/ jam

- Paracetamol 3x100 mg

- Gentamisin 2x22,5 mg

- Ampicillin 4x 250 mg

- Salbutamol 3x0,75mg + Gliseril Guayakolat 3x1/8 tab + ambroxol 3x5mg

Edukasi :

- Menjauhkan anak dari penderita batuk

- Pemberian asi sampai usia 2 tahun

- Lanjutkan imunisasi lengkap

- Mengurangi polusi dan jauhkan anak dari asap rokok

Rencana Pemeriksaan

Ro. Thorax
FOLLOW UP

Tanggal Perjalanan Penyakit Instruksi Dokter


25/10/16 S/ - ASI OD
- Demam ada, - IVFD Ka EN 1 B
- Sesak napas ada 30 cc / jam
- Batuk berdahak ada - Inj gentamisin 2x
- Mium asi ada
22,5 mg IV
- Muntah tidak ada
- BAK dan BAB biasa - Ampisilin 4x250
mg IV
O/ Kes Nd Nf T - Paracetamol
Sadar 94x 60x/ menit 37,7 3x100mg
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak - Salbutamol 3x 0,75
ikterik mg
Hidung : nafas cuping hidung ada - Ambroxol 3x5mg
Thoraks: pulmo: retraksi epigastrium ada, tab
bronkovesikuler, rhonki ada, wheezing tidak ada - Gliseril Guayacolat
Jantung : irama teratur, bising tidak ada 3x 1/8 tab
Abdomen : hepar teraba - dan lien tidak teraba -
Ekstremitas : akral hangat, crt <2 detik
A/ pneumonia berat

26/10/16 S/ - ASI OD
- Demam tidak ada - IVFD Ka EN 1 B
- Sesak tidak ada 30 cc / jam
- Minum asi ada - Inj gentamisin 2x
- Batuk berdahak ada 22,5 mg IV
- Bak dan BAB biasa
- Ampisilin 4x250
O/ Kes Nd Nf T mg IV
Sadar 106 48x/ menit 36,5 - Salbutamol 3x 0,75
mg
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak - Ambroxol 3x5 mg
ikterik tab
Hidung: nafas cuping hidung tidak ada - Gliseril Guayacolat
Thoraks: pulmo : retraksi tidak ada 3x1/8 tab
bronkovesikuler, rhonki tidak ada, wheezing tidak
ada
Jantung : irama teratur, bising tidak ada
Abdomen : hepar teraba - dan lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat,
A/ pneumonia berat dalam perbaikan
BAB III

DISKUSI

Telah dilaporkan seorang pasien anak laki-laki umur 7 bulan dirawat di bangsal anak RS
Ahmad Mochtar dengan diagnosis kerja pneumonia berat. Diagnosis kerja ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium rutin.

Data yang diperoleh dari anamnesa yaitu sesak napas sejak 2 hari sebelum masuk rumah

sakit. Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tinggi, tidak menggigil, tidak

disertai keringat dan tidak disertai kejang. Batuk sejak 2 hari yang lalu berdahak, dan dahak tidak

bisa keluar. Pilek ada sejang 2 hari yang lalu. Sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Sesak tidak

menciut, tidak dipengaruhi cuaca, makanan dan aktivitas. Riwayat kontak dengan keluarga yaitu

ayah yang menderita demam dan batuk ada.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan bahwa terdapat , nadi 136x/menit, napas 72x/menit,
suhu 38,5 C, BB = 8 ,3kg, TB = 71 cm. Pulmo : retraksi epigastrium dan interkostal
ada,.bronkovesikuler, ronkhi basah halus di kedua lapangan paru. wheezing tidak ada. Dari
pemeriksaan laboratorium darah juga didapatkan Hb 9,3 gr/dl, Leukosit 8950/mm3, hitung jenis
0/07/42/48/3. Sesuai dengan literatur, gejala yang ditemukan tersebut merupakan gejala dari
pneumonia berat.

Pasien dindikasikan rawat karena memenuhi kriteria pneumonia berat. Pengobatan yang

dilakukan adalah O2 nasal 2L, Ka EN 1 B 30 cc/ jam, paracetamol 3x100 mg, gentamisin

2x22,5 mg, ampicillin 4x 250 mg, salbutamol 3x0,75mg, gliseril Guayakolat3x1/8 tab,

ambroxol 3x5mg.
Daftar Pustaka

1. Rahajoe N, Supriyanto B, setyanto D. Respirologi anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2013
2. Santoso M, Kurniadhi D, Tandean M, Oktavia E, Ciulianto R. Panduan kepanitraan
klinik pendidikan dokter. Jakarta: FK Ukrida; 2009
3. Yayasan penyantun anak asma Indonesia. Manajemen kasus respirologi anak dalam
praktek sehari-hari. Jakarta: YAPNAS SUDDHAPRANA; 2007
4. Meadow R, Newell S. Lecture notes pediatrika. Edisi ke-7. Jakarta: Erlangga; 2005
5. Marcdante KJ, Kliegman RM, Jenson HB, Behrman RE. Nelson ilmu kesehatan anak
esensial. Edisi ke-6. Singapura: Elsevier; 2014