Anda di halaman 1dari 5

Eksplorasi Pertambangan

EKSPLORASI TAMBANG TIMAH MENGGUNAKAN METODE


RESISTIVITAS 2D DAN POLARISASI TERIMBAS

Muhammad Reza Shalahuddin Noor


Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

ABSTRAK

Salah satu metode eksplorasi geofisika yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan
timah adalah metode geolistrik. Metode geolistrik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode induksi polarsisasi atau polarisasi terinduksi dan metode resistivitas. Prinsip kerja dari
metode induksi polarisasi ini adalah mendeteksi terjadinya polarisasi listrik pada permukaan
mineral-mineral logam di bawah permukaan bumi dan dari hasil pengukuran lapangan
didapatkan data berupa resistivitas semu dan chargebilitas. Data penelitian merupakan data
primer dengan 5 lintasan yang panjangnya 500 meter dengan menggunakan konfigurasi dipole
dipole. Hasil pengukuran dan pengolahan data dinterpretasi dengan menganalisis penampang
2D hasil pemodelan nilai resistivitas dan chargebilitas dengan dukungan data bor. Hasil
interpretasi menyatakan bahwa ada indikasi timah primer yang ditandai dengan nilai resistivitas
0-10000 ohm.m. Adanya zona lemah di setiap lintasan yang di indikasikan sebagai patahan,
rekahan ataupun kekar yang dianggap sebagai jalur timah primer. Untuk memperkuat dugaan
nilai resistivitas digabungkan dengan nilai chargebilitas yang memiliki rentang nilai 3-25
Msec, pada rentang nilai tersebut terdapat batuan ataupun mineral-mineral pembawah timah
primer. Sehingga dapat disimpulkan pada daerah penelitian masih terdapat potensi timah
primer.

Kata Kunci : chargebilitas, dipole dipole, induksi polarisasi, timah primer

PENDAHULUAN dikarenakan kondisi geologi pulau Belitung


Mineral pembawa timah di Indonesia berbeda dengan pulau Bangka maupun
sudah diketahui oleh masyarakat luas sejak kepulauan Riau yang merupakan lumbung
lama dan keberadaannya hanya terdapat di endapan mineral timah.
pulau-pulau timah yang dikenal sebagai (The Metode geolistrik adalah suatu metoda
Tin Belt), jalur the tin belt membentang mulai eksplorasi geofisika untuk menyelidiki
dari Myanmar, Thailand, Kamboja, keadaan bawah permukaan dengan
Semenanjung Malaysia dan pulau pulau di menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan.
Indonesia yaitu pulau-pulau di Provinsi Salah satu metode yang digunakan untuk
mendeteksi keberadaan timah di bawah
Kepulauan Riau dan Provinsi Kepulauan
permukaan adalah metode geolistrik. Metode
Bangka Belitung.
geolistrik sendiri didefinisikan sebagai suatu
Pada saat ini kegiatan penambangan metode geofisika yang mempelajari sifat
dilakukan oleh PT. Timah, Tbk di wilayah aliran listrik di dalam bumi. Metode geolistrik
Pulau Belitung, Bangka, dan Kepulauan Riau yang baik digunakan untuk eksplorasi mineral
serta beberapa kawasan yang ada, hal ini
Eksplorasi Pertambangan

logam adalah metode induksi polarisasi


dan resistivitas.

GENESA ENDAPAN TIMAH mengisi rongga dan celah batuan yang ada di
A. Endapan Timah Primer atasnya. Dengan demikian endapan timah
Endapan timah primer merupakan endapan primer terjebak di bagian atas tubuh batuan
bijih timah yang masih berada pada batuan granit, di celah-celah retakan dan rongga
pembawa timah atau batuan tempat bijih batuan yang berada di atasnya. Sebagian besar
timah terbentuk. Batuan pembawa timah yang endapan timah primer di Bangka dan Belitung
ada di Indonesia adalah batuan granit yang sebagian besarnya saat ini diketemukan pada
berumur Trias, dengan penyebaran batuan yang sudah lapuk, sehingga mudah
membentang dari China, Thailand, Malaysia, dikakukan kegiatan pemanbangan
Kepulau Bangka Belitung hingga bagian barat (penggalian).
Kalimantan.
Endapan timah primer terbentuk sebagai B. Endapan Timah Plaser
bagian dari proses magmatisme pembentukan Endapan timah plaser adalah jenis endapan
batuan beku granit yang merupakan batuan timah yang sudah bergeser dari batuan
bersifat asam. Pada saat-saat akhir sumbernya dan terendapakan di tempat yang
pembentukan batuan, yaitu pada suhu sekitar baru akibat proses perlapukan, transportasai
800o sampai dengan 400 oC, kondisi magma dan pengendapan kembali. Endapan timah
banyak mengandung gas sebagai larutan sisa, plaser sering disebut juga sebagai endapan
yang diantarannya adalah senyawa SnF4. timah alluvial, karena sebagian besarnya
Senyawa tersebut kemudian bereaksi dengan berupa endapan sedimen yang terbentuk di
air (H2O) membentuk mineral SnO2 daratan (alluvial). Meskipun saat ini
(Casiterite) dan HF. keberadaannya banyak di laut, namun pada
saat terendapkan kondisinya masih berupa
daratan.
Faktor-faktor yang mengontrol
terbentuknya endapan timah plaser adalah:
keberadaan bantuan sumber pembawa timah
(granit tipe S), terjadinya proses perlapukan,
erosi, transportasi dan sedimentasi, serta
adanya cekungan atau lembah yang menjadi
tempat terendapkannya material hasil
Gambar 1. Mineral Casiterite perlapukan. Tipologi endapan timah plaser
Mineral casiterite inilah sebagai mineral terdiri dari endapan elluvial, coluvial,
pembawa endapan timah di Indonesia. endapan kipas, endapan sungai, endapan rawa
Sebagai larutan sisa yang banyak dan endapan pantai. Sebagian besar endapan
mengandung gas maka mudah bergerak timah yang ditemukan di kepulauan timah
Indonesia adalah endapan sungai (alluvial).
Eksplorasi Pertambangan

METODE PENELITIAN PRINSIP PENGUKURAN


Metode IP menggunakan konfigurasi
dipol-dipol ketika melakukan pengukuran di
lapangan, yaitu kedua elektroda arus bergerak
menjauhi kedua elektroda tegangan seperti
pada gambar di bawah ini.

Gambar 4. Susunan elektroda konfigurasi dipol-dipol


(Telford, 1990)

Dimana,
AB = elektroda arus
MN = elektroda potensial
BM = na

Gambar 2. Diagram alir penelitian


Dan untuk menghitung faktor geometrinya
Data yang digunakan pada penelitian ini menurut persamaan berikut,
merupakan data primer daerah bukit puyuh,
kecamatan tempilang Bangka Barat. Data K = ( + )( + )
yang digunakan sebanyak 5 lintasan dengan
panjang lintasan 500 meter yaitu mulai dari
Dengan K merupakan faktor geometri.
titik LA hingga titik LE dan spasi tiap
elektroda yang digunakan adalah 10 meter Kemudian dengan mensubtitusi nilai K
serta jarak antar lintasan 50 meter. dengan persamaan di atas, dapat dihitung nilai
resistivity pada setiap kedalaman sesuai
dengan persamaan,


= ( + )( + )

Pengukuran IP domain waktu digunakan


untuk mengukur beda potensial setelah arus
dihentikan. Salah satu parameter pengukuran
adalah chargeabilitas M, yang didefinisikan
sebagai suatu luasan A dibawah kurva
penurunan sepanjang interval waktu tertentu
(t1-t2) yang dinormalisasikan oleh beda
Gambar 3. Peta lintasan pengukuran potensial V.
Eksplorasi Pertambangan

Chargeabilitas diukur dari interval waktu Tabel 1. Nilai chargeabilitas dari mineral yang
mengandung timah
tertentu ketika arus dihentikan (Kearey,
2002).


= = ()

HASIL DAN PEMBAHASAN


Data IP yang telah diolah menghasilkan
nilai resistivitas dan chargebilitas kemudian
di inversi di Res2dinv selanjutnya di buat
penampang 2D.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini maka dapat
disimpulkan beberapa hal diantaranya,
1. Dari penampang 2-D data reistivitas dan
chargebilitas dapat diindikasikan bahwa
pada setiap lintasan memiliki daerah
Gambar 5.(a). Penampang nilai resistivitas. (b).
prospek timah primer yang mengalami
Penampang nilai chargebilitas lintasan LB proses pelapukan dalam hal ini batu granit.
2. Data resistivitas dan chargebilitas terlihat
Hasil overlay resistivitas dan chargebilitas bahwa daerah penyebaran timah primer
dapat dilihat pada gambar (5) dimana terdapat berada pada semua lintasan yang
zona resistivitas yang lemah di titik 100-150, merupakan kontak berupa batu lempung
250 dan 440. Dengan nilai resitivitas adalah dan batu pasir dengan mineral pembawa
0-20000 ohm.m. zona lemah yang ditandai timah (Casiterite).
dengan kotak putih berupa patahan batu
lempung dan batu pasir. Saran
1. Perlu adanya studi lebih lanjut untuk
mengetahui kemenerusan anomali yang
sudah didapatkan, seperti melakukan studi
CSMAT dan Geomagnet yang memilki
penetrasi yang lebih dalam dibandingkan
metode yang di pakai dalam penelitian ini.
Gambar 6. Overlay nilai resistivitas dan chargeabilitas pada 2. Perlu adanya tambahan data bor untuk
lintasan LA
memastikan kemenerusan anomali yang
Hal ini diperkuat dengan nilai chargebilitas sudah didapatkan dan memastikan
pada kelompok 4 dan 5 (20 - >25 msec). pada singkapan timah yang dipermukaan
nilai chargebilitas kelompok 4 yaitu 20-25 apakah menerus ke bawah permukaan
msec diindikasi sebagai lempung seperti yang digambarkan pada penelitian
mengandung unsur kasiterit. Untuk kelompok ini.
5 diatas 25 msec yaitu granit tipe s yang
memiliki kandungan kasiterit sebagai unsur
pembawah timah.
Eksplorasi Pertambangan

DAFTAR PUSTAKA
Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., 1990, Apllied Geophysics, second edition,
Cambridge University Press, USA.
Purwanto, H.S., 2010, Penyebaran Cebakan Timah Sekunder di Daerah Kecamatan Airgegas
Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jurnal Ilmiah MTG,
Vol. 3, No. 2.
Sukandarrumidi, 2007, Geologi Mineral Logam. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta