Anda di halaman 1dari 13

CASE REPORT SESSION

PTOSIS KONGENITAL

Disusun Oleh:

Nurbeyti Nasution 1310312125

Wiwing Mayriska Putri 1210311010

Wirza Rahmania Putri 1310312038

Preseptor :

dr. Hendriati, Sp.M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin, puji dan syukur penulis panjatkan kepada


Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya serta kesempatan yang diberikan
kepada penulis hingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang
berjudul Ptosis Kongenital. Salawat dan salam penulis kirimkan kepada
Rasullullah Muhammad SAW, semoga safaatnya selalu tercurah saat akhir nanti.
Terima kasih penulis ucapkan kepada dr. Hendriati, Sp.M (K) selaku
preseptor yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan
makalah ini. Penyusunan makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu syarat
dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Penyakit Mata RSUP
Dr. M. Djamil Padang Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada tahun 2017.
Penulis menydari bahwasanya makalah ini jauh dari sempurna, sehingga
saran dan masukan dari pembaca akan sangat penulis harapkan dalam rangka
perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat
menjadi pengalaman dan bekal untuk kemudian hari.

Padang, 15 Juni 2017

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelopak mata atau palpebra merupakan lapisan kulit penutup mata yang
berguna melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan keringnya bola
mata karena membantu membasahi kornea dengan air mata pada saat berkedip.
Dalam keadaan terbuka, kelopak mata memberi jalan masuk sinar ke dalam bola
mata yang dibutuhkan untuk penglihatan. Membuka dan menutupnya kelopak
mata dilaksanakan oleh otot-otot tertentu dengan persarafannya masing-masing.
Ptosis (Blepharoptosis) merupakan keadaan jatuhnya kelopak mata
(Drooping eye lid), dimana kelopak mata atas tidak dapat diangkat atau terbuka
sehingga celah kelopak mata menjadi lebih kecil dibandingkan dengan keadaan
normal.1 Posisi normal palpebra superior adalah ditengah-tengah antara limbus
superior dan tepian atas pupil. Ini dapat bervariasi 2 mm jika kedua palpebra
simetris.2
Ptosis dapat terjadi akibat tidak baiknya fungsi m. levator palpebra,
lumpuhnya N. III atau akibat jaringan penyokong bola mata yang tidak sempurna,
sehingga bola mata tertarik ke belakang atau enoftalmus. Ptosis juga dapat terjadi
pada miastenia gravis pada satu mata atau kedua mata.3
Ptosis kongenital biasanya tampak segera setelah lahir maupun pada tahun
pertama kelahiran.4 Ptosis yang didapat (acquired) dapat terjadi pada setiap
kelompok usia, tetapi biasanya ditemukan pada usia dewasa tua. 5 Ptosis kongenital
sering terjadi karena gangguan perkembangan otot levator karena distrofi
perkembangan otot levator dengan karakteristik adanya fibrosis dan defisiensi
otot lurik5.
Berdasarkan onsetnya ptosis dibagi menjadi ptosis kongenital dan ptosis
didapat (acquired). Berdasarkan etiologinya ptosis dapat dibagi menjadi miogenik,
aponeurotik, neurogenik, mekanikal dan traumatik.3 Sedangkan menurut
derajatnya ptosis dibagi menjadi ptosis ringan jika batas kelopak mata atas
menutupi kornea < 2 mm, ptosis sedang jika batas kelopak mata atas menutupi
kornea 3 mm dan ptosis berat jika batas kelopak mata atas menutupi kornea > 4
mm.7

3
Ptosis merupakan salah satu penyebab dari kehilangan penglihatan. Tata
laksana ptosis tergantung dari etiologi dan derajat ptosis sehingga perlu diketahui
lebih jelas etiologi dan derajat ptosis pada pasien tersebut. Pada ptosis kongenital
(myogenic etiology) dapat dilakukan pembedahan (memperpendek) otot levator
yang lemah serta aponeurosisnya atau menggantungkan palpebra pada otot frontal
(frontal sling). Jenis operasi untuk ptosis kongenital adalah reseksi levator
eksternal. Pada ptosis yang didapat (aponeurotic etiology), misalnya pada
miastenia gravis dilakukan koreksi penyebab. Jika koreksi penyebab tidak
mungkin, maka kelopak mata diperpendek menurut arah vertikalnya (jika fungsi
levator baik) atau diikatkan ke frontal (jika fungsi levator buruk). Prosedur
Fasenella-Servat lebih sering digunakan untk kasus ptosis yang didapat.8,9
Berdasarkan derajatnya, ptosis ringan umumnya dibiarkan saja dan tetap
diobservasi karena tidak didapati kelainan kosmetik dan tidak terdapat kelainan
visual seperti ambliopia, strabismus dan defek lapang pandang,. Bila akan
dilakukan operasi, prosedur Fasenella-Servat diindikasikan untuk ptosis ringan.
Pada kasus ptosis moderat diindikasikan pembedahan dengan teknik reseksi
levator eksternal. Sedangkan pada ptosis berat, frontalis sling merupakan
pendekatan yang paling baik.8,9
1.2 Batasan Masalah
Permasalahan dalam referat ini dibatasi pada diagnosis dan
penatalaksanaan ptosis kongenital.

1.3 Tujuan Penulisan


Penulisan referat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang
ptosis kongenital.

1.4 Metode Penulisan


Referat ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk pada
berbagai literatur dan dilengkapi ilustrasi kasus.

BAB II

ILUSTRASI KASUS

4
Identitas Pasien

- Nama : Tn. AP
- Jenis Kelamin : Laki-Laki
- Usia : 13 tahun
- Pekerjaan : Pelajar
- Agama : Islam
- Alamat : Kerinci

Anamnesa

Seorang anak laki - laki berumur 13 tahun dirawat di bangsal mata RSUP
Dr.M.Djamil Padang pada tanggal 12 Juni 2017.

Keluhan Utama :
Kelopak mata kanan terasa turun sejak kecil.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Kelopak mata kanan terasa turun sejak kecil. Kelopak mata kanan bagian
atas terasa semakin lama semakin turun.
Penglihatan kabur (+)
Nyeri (-)
Bengkak (-)
Mata merah (-)
Mata berair (-)

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak ada riwayat penyakit mata sebelumnya.

Riwayat operasi mata sebelumnya (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti pasien.

Status Oftalmikus :

5
STATUS OD OS

OFTALMIKUS

6
Visus tanpa koreksi 20/100 20/20
Refleks fundus (+) (+)
Silia / supersilia Trikiasis (-) Trikiasis (-)

Madarosis (-) Madarosis (-)

Poliosis (-) Poliosis (-)


Palpebra superior MRD 1 : -3 mm FPH :29 mm MRD 1 : 4 mm FPH : 29mm

MRD 2 : 5 mm FPV : 2 mm MRD 2 : 5 mm FPV : 9 mm

Eyelid crease (-) Eyelid crease (+)

Edema (-) Edema (-)

Hematom (-) Hematom (-)

Levator action : 2 mm Levator action : 9 mm


Palpebra inferior Edema (-) Edema (-)

Hematom (-) Hematom (-)


Margo Palpebra Entropion (-) Entropion (-)

Ektropion (-) Ektropion (-)

Sikatrik (-) Sikatrik (-)

Hordeolum (-) Hordeolum (-)


Aparat lakrimalis Lakrimasi normal Lakrimasi normal
Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-), Papil (-), folikel (-), Hiperemis (-), Papil (-), folikel

sikatrik (-) (-), sikatrik (-)


Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Konjungtiva Bulbii Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-)

Injeksi konjunktiva (-) Injeksi konjunktiva (-)


Sklera Putih Putih
Kornea Bening Bening

Kamera Okuli Anterior Cukup dalam Cukup dalam


Iris Coklat, rugae (+) Coklat, rugae (+)
Pupil Bulat, refleks cahaya (+/+), Bulat, refleks cahaya (+/+),

diameter = 2 mm diameter = 2 mm
Lensa Bening Bening
Korpus vitreum Bening Bening

7
Fundus :
- Media Bening Bening
- Papil optikus Bulat,batas tegas, c/d=0.3-0.4 Bulat,batas tegas, c/d=0.3-0.4

- Retina Perdarahan (-), eksudat (-) Perdarahan (-), eksudat (-)


- aa/vv retina a:v = 2:3 a:v = 2:3
- Makula Refleks fovea (+) Refleks fovea (+)

Tekanan bulbus okuli Normal palpasi Normal palpasi


Posisi bulbus okuli Ortho Ortho
Gerakan bulbus okuli Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah
Pemeriksaan Lainnya :

Gambar :

Diagnosis Kerja :
Ptosis Kongenital OD

8
Diagnosis Banding :
Sindrom Horner
Sindrom Marcus Gunn
Oftalmoplegi progressif eksternal Kronik
Miastenia gravis
Bells Palsy
Blefarophimosis

Penatalaksanaan : Repair ptosis kongenital OD dengan frontal sling fascia

lata.

BAB III
DISKUSI

Telah dilaporkan pasien laki-laki berumur 13 tahun yang dirawat dibangsal


mata RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 13 Juni 2017 dengan diagnosis
ptosis kongenital OD. Dasar diagnosis pasien ini berdasarkan kepada anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan khusus mata. Anamnesis pasien mengeluhkan
kelopak mata kanan lebih turun dibandingkan kelopak mata kiri sejak lahir, tanpa
ada keluhan lain yang menyertai.
Ptosis kongenital merupakan penyebab ptosis yang paling sering pada
anak. Ptosis kongenital dapat terjadi karena distrofi perkembangan otot levator
palpebra, sebagian besar idiopatik namun bisa juga diturunkan secara autosomal
dominan yang menunjukkan adanya defek gen. beberapa gen yang berperan yaitu
PTOS1, PTOS2, dan ZFH-4. Ptosis kongenital juga dapat terjadi karena suatu
disgenesis miogenik lokal. Bila dibanding dengan otot normal, terdapat serat dan
jaringan adiposa dalam otot, sehingga akan mengurangi kemampuan otot levator
untuk berkontraksi dan relaksasi dikenal sebagai miogenic ptosis congenital.
Ptosis kongenital dapat berhubungan dengan sindroma kongenital lain seperti
sindroma blefarofimosis, sindroma Marcus Gunn Jaw Winking, atau sindroma
Horner kongenital. Pada pasien ini, tidak diketahui dengan jelas adanya riwayat

9
ptosis pada keluarga, dan tidak ada keluhan lain yang menyertai, maka
kemungkinan keluhan pasien ini diakibatkan oleh distrofi perkembangan otot
levator palpebra, hal ini bersifat herediter.8
Kelopak mata yang turun, pada penderita Ptosis Kongenital, akan
menutupi sebagian pupil sehingga penderita mengkompensasi keadaan tersebut
dengan cara menaikkan alis matanya atau meng-hiperekstensikan kepalanya. Bila
ptosis menutupi pupil secara keseluruhan maka keadaan ini akan mengakibatkan
ambliopia.2 Pada pasien ini, gejala telah muncul sejak lahir, dan setelah dilakukan
pemeriksaan pada mata didapatkan bahwa palpebra superior dekstra terlihat turun
sehingga nilai MRD1 menjadi -3. Eyelid crease juga tidak terbentuk pada
palpebra superior dekstra karena kelainannya sudah dimulai sejak lahir. Supersilia
kanan terlihat sedikit lebih tinggi dibandingkan sebelah kiri, hal ini dikarenakan
M. Ocipitofrontalis yang berada di bawahnya lebih aktif bekerja dibanding yang
kiri untuk berusaha membantu membuka kelopak mata kanan. Pemeriksaan
levator function juga dilakukan pada pasien ini untuk melihat aktivitas M. Levator
palpebra.

Gambar 1. Pemeriksaan Levator Function


Pasien ini mengalami gangguan refraksi, visus OD pasien hanya mencapai
20/100 berarti pasien sudah menderita amblyopia. Pasien ini akan direncanakan
tindakan operasi repair Ptosis OD dengan menyisipkan fasialata di palpebra
kanan. Fasialata diambil sebesar 30 mm x 10 mm dari paha kanan, kemudian
dijahitkan membujur di palpebra kanan pada tarsus dan M. frontalis. Setelah
dioperasi kelopak mata kanan diharapkan dapat membuka menjadi setinggi

10
kelopak mata kiri, namun akan ada lagophtalmus sekitar 2 mm pada pasien selama
1-2 minggu setelah operasi.
Setelah operasi pasien dirawat di bangsal selama 1 hari. Hasil pemeriksaan
terlihat hecting, dan tidak terdapat darah dan pus pada hecting tersebut.
Diharapkan akan terbentuk eyelid crease pada bagian hecting tersebut. Terdapat
edema pada palpebra dan sedikit hematom di bagian medialnya, hal ini normal
pada jaringan selama beberapa hari setelah dioperasi. Nilai MRD1 adalah -1
karena masih terdapat edema pada palpebra tersebut.

Gambar 2. Pengambilan fascialata

Gambar 3. Pencangkokan ascialata, dijahitkan ke tarsus dan M. frontalis

11
Gambar 4. Penjahitan

Gambar 5. Eye Dressing

Gambar 6. Sebelum operasi dan setelah operasi

DAFTAR PUSTAKA

12
1. Ilyas, Sidharta. Ptosis. Dalam: Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. Jakarta:
FKUI, 2012.
2. Vaughan, Daniel. Blepharoptosis. Dalam: Oftalmologi Umum. Edisi 14.
Jakarta: Widya Medika, 2000; hal. 86-7.

3. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology : A Systemic Approach. 6 th ed. China:


Elsevier : (e-book), 2007.

4. Suh, Donny Wun. Ptosis, Congenital. Editor(s) : Michael J Bartiss, Donald S


Fong, Mark T Duffy, Lance L Brown, Hampton Roy. Department of
Ophthalmology, University of Nebraska Medical Center. Avaiable at
http://www.emedicine.com/ ph/topic345. 10 Mei 2010.
5. Fry CL, Green MK, PiestKL. Dropping of Upper Eyelid (blepharoptosis).
New Delhi : Jaypee Brothers Medical Publishers 2014.
6. American Academy of Ophthalmology: Orbit, Eyelids, and Lacrimal System
in Basic and Clinical Science Course, Section 7, 2001-2002.page 189-204.
7. Bermant, Michael. Measuring Eyelid Function and Ptosis (drooping upper
eyelid). American Board of Plastic Surgery. Available at
http://www.plasticsurgery4u.com/procedure_folder/eyelid_recon_folder/eyeli
d_function.html. 10 Mei 2010.
8. Ptosis. TSBVI Education. Available at http://www.tsbvi.edu/Education/
anomalies/ ptosis.htm

13