Anda di halaman 1dari 9

BAB I.

SPEKSTROSKOPI
A. Apa Itu Spektroskopi?
Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara gelombang
elektromagnetik dengan benda (Harmita, 2006). Metode spektroskopi berdasarkan
pada penyerapan selektif dari radiasi elektromagnetik molekul organik (Williams &
Fleming, 2002).
Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan atributnya
berdasarkan cahaya, suara atau partikel yang dipancarkan, diserap atau di pantulkan
oleh materi tersebut. Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari interaksi antara cahaya dan materi. Dalam catatan sejarah, spektroskopi
mengacu kepada cabang dimana cahaya tampak digunakan dalam teori-teori struktur
materi serta analisa kualitatif dan kuantitatif (Azis, 2010).
Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (Nuclear Magnetic Resonance) adalah
salah satu metode spektrometri yang penting untuk menguraikan atau menentukan
struktur dari senyawa yang tidak diketahui, termasuk stereokimia dari suatu senyawa.
Metode ini tidak hanya berguna dalam bidang senyawa organik, tetapi juga dapat
digunakan dalam bidang yang lain seperti: farmasi, analisis dan sintesis obat,
organometalik, ilmu polimer dan yang lainnya. Stuktur yang kompleks dan senyawa
baru sangat sulit ditentukan dengan menggunakan analisa spektrum UV, IR, dan MS,
sehingga untuk itu dibutuhkan metode NMR (Sastrohamidjojo, 1995).
Spektroskopi resonansi magnetik nuklir, yang paling umum dikenal sebagai
spektroskopi NMR, adalah nama yang diberikan kepada teknik yang mengeksploitasi
sifat magnetik inti tertentu. Ketika ditempatkan dalam medan magnet, NMR inti aktif
(seperti 1 H atau 13 C) menyerap frekuensi karakteristik dari isotop. Frekuensi
resonansi, penyerapan energi dan intensitas sinyal sebanding dengan kekuatan medan
magnet. Sebagai contoh, dalam 21 tesla medan magnet, proton beresonansi pada
frekuensi 900 MHz. Hal ini umum untuk mengacu ke 21 T magnet sebagai 900 MHz
magnet, meskipun inti berbeda beresonansi pada frekuensi yang berbeda di bidang ini
kekuatan. Dalam medan magnet bumi inti yang sama beresonansi pada frekuensi
audio. Efek ini digunakan di lapangan Bumi NMR spektrometer dan instrumen
lainnya. Karena instrumen ini portabel dan murah, mereka sering digunakan untuk
mengajar dan studi lapangan (Anonim, 2011).
B. Radiasi Elektromagnetik
Radiasi elektromagnetik adalah kombinasi medan listrik dan medan
magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawaenergi dari satu
tempat ke tempat yang lain. Cahaya tampak adalah salah satu bentuk radiasi
elektromagnetik. Penelitian teoritis tentang radiasi elektromagnetik
disebut elektrodinamik, sub-bidang elektromagnetisme.
Gelombang elektromagnetik ditemukan oleh Heinrich Hertz. Gelombang
elektromagnetik termasuk gelombang transversal. Setiap muatan listrik yang
memiliki percepatan memancarkan radiasi elektromagnetik. Ketika kawat (atau
panghantar seperti antena) menghantarkan arus bolak-balik, radiasi elektromagnetik
dirambatkan pada frekuensi yang sama dengan arus listrik. Bergantung pada situasi,
gelombang elektromagnetik dapat bersifat seperti gelombang atau seperti partikel.
Sebagai gelombang, dicirikan oleh kecepatan (kecepatan cahaya), panjang
gelombang, dan frekuensi. Kalau dipertimbangkan sebagai partikel, mereka diketahui
sebagai foton, dan masing-masing mempunyai energi berhubungan dengan frekuensi
gelombang ditunjukan oleh hubungan Planck
E = Hf
di mana E adalah energi foton, h ialah konstanta Planck 6.626 10 34 Js
dan f adalah frekuensi gelombang. Einstein kemudian memperbarui rumus ini
menjadi
Ephoton = hf.
Yang termasuk gelombang elektromagnetik

Gelombang Panjang gelombang

gelombang radio 1 mm-10.000 km

infra merah 0,001-1 mm

cahaya tampak 400-720 nm


ultra violet 10-400nm

sinar X 0,01-10 nm

sinar gamma 0,0001-0,1 nm


Sinar kosmis tidak termasuk gelombang elektromagnetik; panjang gelombang
lebih kecil dari 0,0001 nm.

Sinar dengan panjang


gelombang besar, yaitu gelombang
radio dan infra merah, mempunyai
frekuensi dan tingkat energi yang lebih
rendah. Sinar dengan panjang
gelombang kecil, ultraviolet, sinar
x atau sinar rontgen, dan sinar gamma,
mempunyai frekuensi dan tingkat energi
yang lebih tinggi.

C. Interaksi antara Materi dengan Radiasi


Jika partikel bermuatan listrik menembus ke dalam materi, maka atom materi
tersebut akan tereksitasi dan atau terionisasi. Karena pengaruh medan listrik inti atom
maka arah partikel bermuatan akan berbelok dengan tiba-tiba dan kecepatannya
berkurang, sehingga kemudian energinya habis. Arah gerak elektron, yaitu partikel
bermuatan, berbelok dengan tajam pada saat bertumbukan dengan atom, sebaliknya
energi partikel berat bermuatan listrik tidak begitu berkurang sewaktu bertumbukan
dengan atom dan tidak mengalami perubahan arah, sehingga dapat melaju dengan
lurus. Oleh karena itu untuk partikel berat bermuatan listrik, pengurangan laju radiasi
karena menembus materi tak perlu diperhitungkan. Peristiwa bergabungnya positron
dan elektron dan berubah menjadi 2 foton yang masing-masing berenergi 0,51 MeV
disebut anihilasi elektron. Semakin pendek panjang gelombang foton, kekuatan
menembusnya ke dalam materi semakin besar. Pada saat menembus materi,
radiasi g dapat kehilangan energi karena adanya efek fotolistrik dan efek Compton.
Pada saat berinteraksi dengan materi, foton yang energinya lebih besar daripada 1,02
MeV dapat membentuk satu pasang elektron yang terdiri dari positron dan negatron.
Dalam reaksi inti yaitu penyerapan neutron oleh inti, inti atom dapat memancarkan
bermacam-macam partikel misalnya proton, deuteron, partikel a, neutron dan
radiasi g.
BAB II. SFAT MAGNETIS NUCLEI
A. Struktur sebuah Atom
Struktur atom merupakan satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom
beserta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya.[1] Inti atom
mengandung campuran proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan
netral (terkecuali pada Hidrogen-1 yang tidak memiliki neutron). Elektron-elektron
pada sebuah atom terikat pada inti atom oleh gaya elektromagnetik. Demikian pula
sekumpulan atom dapat berikatan satu sama lainnya membentuk sebuah molekul.
Atom yang mengandung jumlah proton dan elektron yang sama bersifat netral,
sedangkan yang mengandung jumlah proton dan elektron yang berbeda bersifat
positif atau negatif dan merupakan ion. Atom dikelompokkan berdasarkanjumlah
proton dan neutron pada inti atom tersebut. Jumlah proton pada atom menentukan
unsur kimia atom tersebut, dan jumlah neutron menentukan isotop unsur tersebut.
Istilah atom berasal dari Bahasa Yunani, yang berarti tidak dapat dipotong
ataupun sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Konsep atom sebagai komponen
yang tak dapat dibagi-bagi lagi pertama kali diajukan oleh para
filsuf India dan Yunani. Pada abad ke-17 dan ke-18, para kimiawan meletakkan
dasar-dasar pemikiran ini dengan menunjukkan bahwa zat-zat tertentu tidak dapat
dibagi-bagi lebih jauh lagi menggunakan metode-metode kimia. Selama akhir abad
ke-19 dan awal abad ke-20, para fisikawan berhasil menemukan struktur dan
komponen-komponen subatom di dalam atom, membuktikan bahwa 'atom' tidaklah
tak dapat dibagi-bagi lagi.[1] Prinsip-prinsip mekanika kuantum yang digunakan para
fisikawan kemudian berhasil memodelkan atom. [1]
Relatif terhadap pengamatan sehari-hari, atom merupakan objek yang sangat
kecil dengan massa yang sama kecilnya pula. Atom hanya dapat dipantau
menggunakan peralatan khusus seperti mikroskop penerowongan payaran. Lebih dari
99,9% massa atom berpusat pada inti atom, dengan proton dan neutron yang
bermassa hampir sama. Setiap unsur paling tidak memiliki satu isotop dengan inti
yang tidak stabil yang dapat mengalami peluruhan radioaktif. Hal ini dapat
mengakibatkan transmutasi yang mengubah jumlah proton dan neutron pada inti.
Elektron yang terikat pada atom mengandung sejumlah aras energi, ataupun orbital,
yang stabil dan dapat mengalami transisi di antara aras tersebut dengan menyerap
ataupun memancarkan foton yang sesuai dengan perbedaan energi antara aras.
Elektron pada atom menentukan sifat-sifat kimiawi sebuah unsur dan memengaruhi
sifat-sifat magnetis atom tersebut.
B. Inti dalam Medan Magnet
Setiap partikel elementer mempunyai sifat mekanika kuantum intrinsik yang
dikenal dengan nama spin. Spin beranalogi dengan momentum sudut suatu objek
yang berputar padapusat massanya, walaupun secara kaku partikel tidaklah
berperilaku seperti ini. Spin diukur dalam satuan tetapan Planck tereduksi (), dengan
elektron, proton, dan neutron semuanya memiliki spin , atau "spin-". Dalam
atom, elektron yang bergerak di sekitar inti atom selain memiliki spin juga
memiliki momentum sudut orbital, manakala inti atom memiliki momentum sudut
pula oleh karena spin nuklirnya sendiri.
Medan magnet yang dihasilkan oleh suatu atom (disebut momen magnetik)
ditentukan oleh kombinasi berbagai macam momentum sudut ini. Namun, kontribusi
yang terbesar tetap berasal dari spin. Oleh karena elektron mematuhi asas
pengecualian Pauli, yakni tiada dua elektron yang dapat ditemukan pada keadaan
kuantum yang sama, pasangan elektron yang terikat satu sama lainnya memiliki spin
yang berlawanan, dengan satu berspin naik, dan yang satunya lagi berspin turun.
Kedua spin yang berlawanan ini akan saling menetralkan, sehingga momen dipol
magnetik totalnya menjadi nol pada beberapa atom berjumlah elektron genap.[70]
Pada atom berelektron ganjil seperti besi, adanya keberadaan elektron yang
tak berpasangan menyebabkan atom tersebut bersifat feromagnetik. Orbital-orbital
atom di sekeliling atom tersebut saling bertumpang tindih dan penurunan keadaan
energi dicapai ketika spin elektron yang tak berpasangan tersusun saling berjajar.
Proses ini disebut sebagaiinteraksi pertukaran. Ketika momen magnetik atom
feromagnetik tersusun berjajaran, bahan yang tersusun oleh atom ini dapat
menghasilkan medan makroskopis yang dapat dideteksi. Bahan-bahan yang
bersifat paramagnetik memiliki atom dengan momen magnetik yang tersusun acak,
sehingga tiada medan magnet yang dihasilkan. Namun, momen magnetik tiap-tiap
atom individu tersebut akan tersusun berjajar ketika diberikan medan magnet.
Inti atom juga dapat memiliki spin. Biasanya spin inti tersusun secara acak
oleh karena kesetimbangan termal. Namun, untuk unsur-unsur tertentu
(seperti xenon-129), adalah mungkin untuk memolarisasi keadaan spin nuklir secara
signifikan sehingga spin-spin tersebut tersusun berjajar dengan arah yang sama.
Kondisi ini disebut sebagai hiperpolarisasi. Fenomena ini memiliki aplikasi yang
penting dalam pencitraan resonansi magnetik.
Inti proton (atom hidrogen) dan karbon (karbon 13) mempunyai sifat-sifat
magnet. Bila suatu senyawa mengandung hidrogen atau karbon diletakkandalam
bidang magnet yang sangat kuat dan diradiasi dengan radiasielektromagnetik maka
inti atom hidrogen dan karbon dari senyawa tersebut akanmenyerap energi melalui
suatu proses absorpsi yang dikenal dengan resonansimagnetik. Absorpsi radiasi
terjadi bila kekuatan medan magnet sesuai denganfrekuensi radiasi
elektromagnetik.Proton tunggal 1H adalah isotop yang paling penting dalam
hydrogen. Isotop inimelimpah hampir 100% dan jaringan hewan mengandung 80%
air. 1H memproses momen magnetik yang besar dari nuclei yang penting secara
biologi.Ketika pada medan magnet konstan, frekuensi NMR dari nuclei hanya
bergantung pada momen magnetnya, frekuemsi 1H paling tinggi pada spekrometer ya
ngsama. Sebagai contoh, pada spekrometer 360 MHz untuk 1H, frekuensi untuk
31Padalah 145,76 MHz dan untuk 13C adalah sekitar 90 MHz.
C. Tingkat Energi Inti dan Waktu Relaksasi