Anda di halaman 1dari 14

Standar Kurikulum Taman Pendidikan al-Qur'an

A. Tinjauan Standar Nasional Pendidikan

1. Pengertian Standar Nasional Pendidikan


Dalam dunia pendidikan di Indonesia, sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang
Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mukia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokrasi serta bertanggungjawab dan Undang-Undang No.19 tentang Standar Nasional
Pendidikan yang mengatur standar pendidikan di Indonesia.
Sedangkan arti dari standar itu sendiri adalah pernyatan-pernyataan yang luas tentang praktek
dan merefleksikan tingkat kualitas yang diinginkan, dan berdasarkan kamus besar bahasa
Indonesia arti dari stadarisasi adalah penyesuaian bentuk (ukuran, kualitas, dsb) dengan pedoman
(standar) yang ditetapkan; pembakuan, perlu adanya standarisasi.
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh
wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di dalamnya meliputi:
a. Standar isi.
b. Standar proses.
c. Standar kompetensi lulusan.
d. Standar pendidikan dan tenaga kependidikan.
e. Standar sarana dan prasarana.
f. Standar pengelolaan.
g. Standar pembiayaan.
h. Standar penilaian.
Sebagimana tercantum dalam Bab X, pasal 36 ayat 3 bahwasanya kurikulum disusun sesuai
dengan jenjang pendidikan dalam kerangaka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
memperhatikan:
a. Peningkatan iman dan takwa.
b. Peningkatan akhlak mualia.
c. Peningkatan potensi, keceradsan, dan minat peserta didik.
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan .
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
f. Tuntutan dunia kerja.
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
h. Agama.
i. Dinamika perkembangan global, dan
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

2. Standar Kurikulum Taman Pendidikan al-Qur'an


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 3 berbunyi:
"Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang
menigkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa". Atas dasar amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan pembaruan sistem pendidikan
nasional adalah " pelakasanaan pendidikan agama dan akhlak mulia".
Dalam hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007
tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Pasal 24 ayat 1 menyatakan bahwa:
"tujuan pendidikan al-Qur'an adalah meningkatakan kemampuan peserta didik membaca,
menulis, memahami, dan mengamalkan kandungan al-Qur'an". Pendidikan al-Qur'an terdiri dari:
a. Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (TKQ).
b. Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ).
c. Ta'limul Qur'an lil Aulad (TQA).
d. Dan bentuk lain yang sejenis.
Sedangkan kurikulum pendidikan al-Qur'an adalah membaca, menulis, dan menghafal ayat-ayat
al-Qur'an, tajwid serta menghafal do'a-do'a utama yang tertulis dalam pasal 24 ayat 5.

B. Tinjauan Taman Pendidikan Al-Qur'an

1. Pengertian Taman Pendidikan Al-Qur'an


Sejak agama Islam masuk ke Indonesia sampai saat ini upaya penyebaran dan penanaman nilai-
nilai Islam kepada masyarakat terus dilakukan dan bahkan makin ditingkatkan, baik oleh
pemerintah (Departemen Agama) maupun lembaga-lembaga keagamaan mulai dari tingkat
pedesaan/ kelurahan sampai di kota-kota besar.
Bentuk kegiatan penyebarluasan dan penanaman nilai-nilai Islam itu sangat bervariasi sesuai
dengan situasi dan kondisi lingkungan/ daerah setempat antara lain melalui sarana:
a. Pondok Pesantren.
b. Guru Ngaji (di rumah, langgar, masjid).
c. Madrasah Diniyah (lembaga non formal).
d. Taman Kanak-kanak Al-Qur'an dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TKA/ TPQ).
Pendidikan Agama merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki arti penting
dalam mensukseskan program pembangunan nasional, oleh sebab itu seluruh aktifitas
pemerintah dan masyarakat yang mengarah pada penanaman nilai-nilai rohani/ keagamaan perlu
mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak.
Dalam UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 4 ditegaskan
bahwa salasatu ciri manusia Indonesia yangmenjadi tujuan Pendidikan Nasional ialah manusia
yang beriman dan bertaqwa. Untuk menjadikan manusia Indonesia beriman dan bertaqwa itulah,
diperlukan pendidikan keimanan dan ketaqwaan, yang kita kenal dengan pendidikan agama.
Pengertian Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (TKQ) adalah lembaga pendidikan dan pengajaran al-
Qur'an bagi anak usia 4 sampai 6 tahun. Sedangkan Taman Pendidikan al-Qur'an (TPQ) adalah
lembaga pendidikan dan pengajaran al-Qur'an bagi anak usia 7 sampai 12 tahun. Pengertian
pokok antara TKQ dengan TPQ adalah pada usia anak didiknya, sedangkan mengenai dasar,
sistem, metode dan materi yang diajarkan secara garis besar sama. Jadi Taman Kanak-kanak Al-
Qur'an dan Taman Pendidikan Al-Qur'an adalah pengajian anak-anak dalam bentuk baru dengan
metode praktis dibidang pengajaran membaca al-Qur'an yang dikelola secara profesional.
2. Kurikulum Taman Pendidikan Al-Qur'an
a. Pengertian Kurikulum
Perkataan kurikulum (curriculum) adalah kata benda yang berasal dari kata "curriculum" (bahasa
latin), artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Kata kerjanya adalah "currere"
(latin) = "courier" (Prancis) = "to run" (Inggris) = berlari. Perkataan tersebut, yang semula
terbatas dalam dunia olahraga, lalu beralih ke dunia pendidikan, yaitu dengan pengertian
tradisonal sebagai berikut:
1. Rencana pelajaran (curriculum is a plan for learning).
2. Sejumlah courses atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau
ijazah.
3. Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah.
4. Sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah.
Sedangkan dalam pengertian modern, kurikulum diartikan sebagai program pendidikan, yaitu
program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan tertentu. Dalam kaitan ini, pemerintah (Depdikbud) membakukan pengertian
kurikulum dengan pengertian yang operasional, dan tidak terlalu luas seperti dalam pengertian
modern. Dalam hal ini, pengertian kurikulum yang berlaku dirumuskan sebagai "Garis-garis
Besar Program Pengajaran" (GBPP) yang di dalamnya terdiri dari: Komponen Tujuan, Bahan
Pengajaran, Program Pengajaran (alokasi waktu), Metode, Sarana dan Sumber, dan Komponen
Evaluasi, ditambah dengan panduan operasional lainnya.

b. Asas Penyusunan Kurikulum


Taman Kanak-kanak Al-Qur'an dan Taman Pendidikan Al-Qur'an adalah lembaga luar sekolah
(nonformal) jenis keagamaan. Oleh karena itu muatan pengajarannya lebih menekankan aspek
keagamaan Islam dengan mengacu pada sumber utamanya, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah. Hal
itu pun dibatasi dan disesuaikan dengan tarap perkembangan anak, yaitu kelompok usia 4-12
tahun (usia TK/ SD/ MI). Dengan demikian, porsi pengajarannya tebatas pada pemberian bekal
dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan keagamaan, misalnya pengajaran baca tulis al-Qur'an,
pengajaran sholat, hafalan surat dan ayat al-Qur'an serta do'a harian, penanaman aqidah dan
akhlaq, dan lainnya.
1. Asas Agamis
a. Islam adalah agama dan tatanan hidup yang bersifat universal, berlaku dan patut
diberlakukan sepanjang hayat, termasuk dalam kehidupan anak-anak. Oleh karenanya, nilai-nilai
dan norma-norma agama ini (Islam) wajib diwariskan oleh umatnya dari zaman ke zaman,
termasuk pewarisan kepada generasi pelanjut.
b. Al-Qur'an sebagai rujukan utama tiap pribadi muslim wajib dibaca, dofahami, dihayati,
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran membaca dan mempedomaninya adalah
merupakan konsistensi keberimanannya. Di lain pihak, Allah memberikan jaminan bahwa al-
Qur'an pada dasarnya mudah untuk dibaca, dihafal dan dijadikan pengajaran.
c. Pendidikan anak, termasuk dalam hal pengajaran baca dan tulis al-Qur'an dan sholat bagian
dari kewajiban orang tua yang harus dibudidayakan sejak dini dilingkungan keluarganya.
Nabi bersabda:"Didiklah anak-anakmu atas tiga dasar pendidikan (yaitu) mencintai Nabimu,
mencintai keluarganya (ahlul bait) dan membaca al-Qur'an".
d. Agama pun mengajarkan bahwa tingginya kualitas dan derajat manusia terletak pada iman
dan ilmu yang dimilikinya, sebagaimana yang difirmankan dalam al-Qur'an:

Terjemahnya:"jkjlklk"
2. Asas Filosfis
a. Pancasila adalah falsafah hidup bangsa yang mengandung nilai-nilai yang tidak bertentangan
(dan tidak untuk dipertentangkan) dengan Islam yang bersifat universal. Dengan demikian.
Menjadi muslim yang taat, dalam ikatan kebangsaan Indonesia, adalah sekaligus sebagai
pancasilais yang baik.
b. Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dan utama dalam rangkuman pancasila
adalah landasan kehidupan berbangsa yang menghedaki agar tiap warganya beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Da pentingnnya pemilikan dan peningkatan iman dan
taqwa tersebut tersurat dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
c. Iman dan Taqwa terhadap Allah Swt mempunyai konsekuensi kewajiban untuk berpegang
teguh kepada al-Qur'an, itulah kitab Allah yang tidak mengandung keraguan di dalamnya,
menjadi petunjuk/ pedoman bagi orang-orang yang bertaqwa. Dengan kerangka pemikiran
filosofis ini maka pengajaran dan pemasyarakatan al-Qur'an yang diprogramkan dalam
kurikulum TKA/ TPQ menjadi cukup beralasan.
3. Asas Sosio-Kultural
a. Mayoritas bangsa Indonesia adalah beragama Islam. Kondisi sosio kultural ini menjadi asas
tersendiri dalam penyusunan kurikulum TKA/ TPQ. Seiring dengan itu, tradisi mengaji al-Qur'an
mempunyai akar budaya yang kuat. Tradisi khataman al-Qur'an untuk kalagan anak-anak
misalnya,dengan ragam acara dan upacara yang menyatu dala budaya kedaerahan sejak zaman
penjajahan hingga pasca kemerdekaan cukup melembaga. Adalah cukup beralasan apabila
kemudian pemerintah sendiri memandang penting adanya upaya peningkatan kemampuan baca
tulis al-Qur'an bagi umat Islam, dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan al-
Qur'an dalam kehidupan sehari-hari (SKB 2 Menteri/ Medagri dan Menagri No. 128 dan 44 A
tanggal 13 Mei 1982).
4. Asas Psikologis
a. Tarap perkembangan
b. kjlkl
c. klkk
3. Tujuan Pendidikan dan Pengajaran TPQ
Taman Kanak-kanak al-Qur'an dan Taman Pendidikan al-Qur'an bertujuan menyiapkan anak
didiknya agar menjadi generasi muslim Qur'ani, yaitu generasi yang mencintai al-Qur'an sebagai
bacaan dan sekaligus pandangan hidupnya sehari-hari.
Untuk mencapai tujuan ini, Taman Kanak-kanak al-Qur'an dan Taman Pendidikan al-Qur'an
perlu menentukan target operasionalnya yang meliputi target jangka pendek dan jangka panjang,
yaitu sebagai berikut:
A. Target Jangka Pendek (1-2 Tahun)
1. Anak dapat membaca al-Qur'an dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid.
2. Anak dapat melakukan sholat dengan baik.
3. Anak hafal beberapa surat pendek, ayat pilihan dan do'a sehari-hari.
4. Anak dapat menulis huruf al-Qur'an (huruf Arab).
B. Target Jangka Panjang (3-4 Tahun)
1. Anak dapat menghatamkan al-Qur'an 30 juz.
2. Anak mampu mempraktekkan lagu-lagu dasar qiro'ah.
3. Anak mampu menjadikan dirinya sebagai teladan bagi teman segenerasi (berakhlak mulia) .

4. Program Pengajaran TPQ


Program pengajaran disusun dengan merujuk pada sistem semester dan pengelompokan santri
yang terdiri dari kelompok Taman Kanak-kanak al-Qur'an (kelompok umur TK) dan kelompok
Taman Pendidikan al-Qur'an (kelompok umur SD/ MI). Tiap kelompok santri terdiri dari dua
paket program, yaitu Paket A dan Paket B dengan rentang waktu 1 tahun (12 bulan) atau dua
semester (2x6 bulan). Teknik penyususnannya dibuat dalam bentuk matrik dengan struktur
sebagai berikut:
Urutan ke bawah (vertikal) adalah berupa topik materi pengajaran terdiri dari materi pokok,
materi penunjang dan muatan lokal. Urutan ke samping (horizontal) adalah berupa tahapan target
pencapaian tiap topik pengajaran dari bulan ke bulan, mulai bulan Juli (KBM bulan ke 1) dan
bulan-bulan berikutnya dalam penanggalan kalender dua semester. Dan struktur program
pengajaran di atas merupakan bahan rujukan bagi pengelola unit (kepala TK/ TPQ) serta guru,
yaitu:
1. Sebagai bahan rujukanuntuk menyusun dan menetapkan jadwal pengajaran (jadwal KBM
intra kurikuler, ektra kurikuler, evaluasi dan lain-lain).
2. Sebagai bahan rujukan untuk menyusun persiapan tertulis dalam bentuk program kegiatan
mingguan dan kegiatan harian.
Tabel. 2 Contoh Jadwal Program Pengajaran Taman Kanak-kanak Al-Qur'an Paket A (12 Bulan)

No Paket Pengajaran Semester I Semester II Ket


I Materi Pokok 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
1. Bacaan Iqro
1) Iqro' Jilid I x x +
2) Iqro' Jilid II x x +
3) Iqro' Jilid III x x +
4) Iqro' Jilid IV x x +
5) Iqro' Jilid V x x +
6) Iqro' Jilid VI x x

2. Hafalan Bacaan Sholat


1) Do'a Sebelum Wudhu x + + + + +
2) Do'a sesudah Wudhu x + + + + +
3) Do'a Iftitah x + + + + +
4) Bacaan al-Fatihah x + + + + +
5) Bacaan Ruku' x + + + + +
6) Bacaan I'tidal x + + + + +
7) Bacaan Sujud x + + + + +
8)Bacaan Duduk diantara dua Sujud x + + + +
9) Bacaan Tasyahud x + + + +
10Bacaan Sesudah Sholat x + + + + +

3. Hafalan Surat Pendek


1) Surat al-Ikhlas x + + + + +
2) Surat al-Kautsar x + + + + +
3) Surat al-'Ashar x + + + + +
4) Surat al-Nashar x + + + + +
5) Surat al-Lahab x + + + + +
6) Surat al-Falaq x + + + +
7) Surat an-Naas x + + + +
8) Surat al-Kafirun x + + + +
9) Surat al-Ma'un x + + + +

4. Latihan Praktek Sholat


1) Latihan Wudhu x x x x x x x x x
2) Latihan Sholat x x x x x x x x x
3) Latihan Adzan x x x x x x

II Materi Penunjang
1. Do'a & Adab Harian
1) Memperoleh Rahmat x + + +
2) Mulai Belajar x + + + +
3) Kelancaran Bicara x + + + +
4) Akhir Pertemuan x + + + +
5) Sebelum Makan x + + + +
6) Sesudah Makan x + + +
7) Berpakaian x + + +
8) Bercermin x + + +
9) Masuk WC x + + +
10) Keluar WC x + + +
11) Sebelum Tidur x + +
12) Sesudah Tidur x +

2. Tahsinul Kitabah
1) Mencontoh cara penulisan huruf berkarakter tegak, datar, miring, dan lengkun kanan
x +
2) Mencontoh cara penulisan huruf tunggal awal, tengah dan akhir berkarakter tegak, datar,
miring, dan lengkun kanan x +
3) Mencontoh cara penulisan huruf tunggal bergerigi dan lengkung kiri x +

4) Mencontoh cara penulisan huruf tunggal awal, tengah dan akhir bergerigi lengkung kiri
x +
5) Mencontoh cara penulisan angka Arab x +
6) Mencontoh cara penulisan huruf sambung berhuruf dua, tiga. empat x
+
7) Mencontoh cara penulisan huruf sambung berhuruf lima, enam, tujuh
x +
8) Seni mewarnai kaligrafi dan aneka gamar x x x x

III Muatan Lokal*)


(pilihan bebas/tidak mengikat)
1) Bahasa Arab Populer
2) Bahasa Inggris Populer
3) Kreativitas seni
4) Olah raga
5) Seni bela diri

Keterangan:
x : Alokasi waktu pembelajaran
+ : Alokasi waktu pengulangan/ pemantapan
*): Alokasi waktu pembelajaran Muatan Lokal disesuaikam dengan paket yang dipilih serta
situasi dan kondisi unit yang bersangkutan.

5. Metode Pengajaran TPQ


Metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai tujuan, yaitu untuk mennyampaikan
sebuah materi kepada anak didik. Ada beberapa cara yang dilakukan dalam menyampaikan baca
tulis al-Quran, pada dasarnya semua metode yang digunakan adalah agar anak bias menyenangi
materi yang diberikan dan agar anak suka belajar.
Di bawah ini akan dikemukan beberapa metode didalam pengebangan pengajaran al-Quran,
karena sebenarnya banyak sekali metode yang telah berkembang di Indonesia, diantaranya
adalah:
1. Metode al-Barqy
Metode ini disusun oleh Muhadjir Sulthon yang dikembangkan pertama kali di Surabaya.
Pengajaran metode ini dikenal dengan pendekatan global atau Gestald psikologi yang bersifat
analistik sintetik (SAS).
Yang dimaksud SAS ialah penggunaan struktur kata atau kalimat yang tidak mengikutkan bunyi
mati/ sukun, dan menggunakan kata lembaga (struktur). Pada metode ini setelah santri mengenal
dan dianggap bias pada pengenalan cara menulis, cara menulis ini diawali dengan meniru tulisan
yang masih berupa titik-titik untuk ditebali dengan pensil, setelah dianggap baik dan bisa, baru
melanjutkan untuk mengganti di kertas lain.
Metode ini tidak banyak memakan waktu bagi anak karena hanya diperlukan waktu 1 x 8 jam per
minggu, sedangkan bagi remaja serta orang dewasa yang baik hanya diperlukan 1x6 jam per
minggu.
2. Metode Iqra Klasikal
Di Indonesia, gerakan pemberantasan buta huruf al-Quran yang menggunakan metode iqra
telah semarak dalam bentuk Taman Kanak-kanak al-Quran dan Taman Pendidikan al-Quran.
Di sekolah dasar di Indonesia juga dikembangkan metode yang sesuai yang dapat mengantarkan
murid mampu dalam membaca al-Quran dalam waktu yang relative singkat sesuai dengan
keterbatasan jam pelajaran yang tersedia.
Metode ini disusun oleh salah satu team tadarrus AMM yaitu KH. Asad Humam. Metode ini
disusun sebagai kelanjutan dari metode sebelumnya, metode pertama kali dikembangkan
didaerah Yogyakarta kemudian disebarkan ke daerah lain. Metode ini merupakan ringkasan dari
metode iqra yang awalnya sampai 6 jilid kemudian diringkas menjadi satu buku yang tebal
mencapai 61 halaman. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik cepat bisa membaca al-Quran.
Selain itu untuk menjawab tuntutan bagi anak atau orang dewasa yang akan beljar al-Quran
tetapi mempunyai waktu yang terbatas.
Pada metode ini pengenalan huruf hijaiyah awal hingga akhir dengan menggunakan harakat dan
untuk bacaan tajwid, tidak langsung dikenalkan macam-macam bacaan tetapi diberikan tuntunan
membacanya, setelah menguasai semuanya akan diberikan materi tajwid.
3. Metode al-Baghdadi
Metode ini sering juga disebut dengan metode kuno atau juz amma. Cara penyampaiannya
dengan membaca dan menghafal huruf-huruf hijaiyah, baru menginjak pada tanda-tanda fathah,
kasrah, dhommah. Pada metode ini anak bisa mengetahui langsung nama-nama huruf hijaiyah
tanpa harakat dan hafal secara berurutan.
4. Metode Qiraati
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh KH. Dachlan Salim Zarkasy dari Semarang. Di
dalam metode ini santri diajarkan huruf-huruf hijaiyah yang sudah berharakat secara langsung
tanpa mengeja.
Cara yang digunakan dalam materi ini hamper sama dengan metode iqra tetapi disertai dengan
ketukan yaitu untuk bacaan pendek satu ketukan, sedangkan untuk bacaan mad dan idghom dua
ketukan, dan mad wajib lima ketukan.
Beberapa metode ini telah berkembang di masyarakat Indonesia sampai sekarang. Metode ini
yang dijadikan rujukan untuk belajar membaca al-Quran di seluruh Indonesia, agar anak
secepatnya mampu dan menguasai dan membaca al-Quran serta mampu menulis huruf-huruf al-
Quran dengan baik.

C. Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan

Menawarkan pendidikan yang bermutu tinggi adalah tujuan setiap lembaga pendidikan, begitu
juga keinginan dari kepala sekolah sebagai orang yang sangat bertanggungjawab dilingkungan
pendidikan, dalam hal ini ada beberapa upaya yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan
maupun seorang kepala sekolah sebagai orang yang bertanggungjawab di lembaga yang
dipimpinnya, yaitu :
1. Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Oleh Lembaga Pendidikan
Tuntutan akan lulusan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin
ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan
yaitu adanya deregulasi yang membuka peluang lembaga pendidikan (termasuk lembaga
pendidikan asing) membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan di pasar kerja
akan semakin berat. Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan
yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan untuk
mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk
akademik lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan. Mutu adalah
suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap
definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan
sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan
konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam
pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan proses belajar yang menyenangkan dan memberikan
kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa
tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut.
Untuk bisa menghasilkan mutu pendidikan yang baik terdapat empat usaha mendasar yang harus
dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan, yaitu sebagai:
a. Menciptakan situasi menang-menang (win-win solution) dan bukan situasi kalah-
menang diantara pihak yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan (stakeholders). Dalam
hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling
menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga
pendidikan tersebut.
b. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat
dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pendidikan harus tumbuh motivasi
bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai
dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
c. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan
manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek,
tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
d. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai mutu yang
ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai
hasil mutu. Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai
hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu sesuai yang diharapkan.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah
merupakan usaha jasa yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya, yaitu mereka yang
belajar dalam lembaga pendidikan tersebut. Para pelanggan layanan pendidikan terdiri dari
berbagai unsur paling tidak empat kelompok. Mereka itu adalah pertama yang belajar, bisa
merupakan mahasiswa/ pelajar/ murid/ peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer
(primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan
pendidikan dari lembaga tersebut. Kedua, para klien terkait dengan orang yang mengirimnya ke
lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini
kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customers). Pelanggan lainnya yang
ketiga bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna
output pendidikan (tertiary external customers).
Selain itu, yang keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu
yang berasal dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru/ dosen/ tutor dan tenaga
administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal
customers).Walaupun para guru/ dosen/ tutor dan tenaga administrasi, serta pimpinan lembaga
pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan
jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk
maju, karena semakin maju dan berkualitas dari suatu lembaga pendidikan mereka akan
diuntungkan, baik kebanggaan maupun finansial. Seperti disebut diatas bahwa program
peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan/harapan pelanggan, maka layanan
pendidikan suatu lembaga haruslah memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan
dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan
bagi program peningkatan mutu layanan pendidikan. Potensi perkembangan, dan keaktifan murid
tentu saja merupakan yang paling utama dalam peningkatan mutu pendidikan. Perkembangan
fisik yang baik, baik jasmani maupun otak, menentukan kemajuannya. Demikian pula dengan
lainnya, misalnya bakat, perkembangan mental, emosional, pibadi, sosial, sikap mental, nilai-
nilai, minat, pengertian, umur, dan kesehatan; kesemuanya akan mempengaruhi hasil belajar dan
mutu seseorang. Untuk itu, maka perhatian terhadap paserta didik menjadi sangat penting.

2. Upaya Kepala TPQ sebagai Administrator Pendidikan


Kepala TPQ merupakan personel sekolah yang bertanggunjawab terhadap seluruh kegiatan-
kegiatan di TPQ. Ia mempunyai wewenang dan tanggungjawab penuh untuk menyelenggarakan
seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan TPQ yang dipimpinnya. Kepala TPQ tidak hanya
bertanggungjawab atas kelancaran jalannya TPQ secara teknis akademis saja, akan tetapi segala
kegiatan, keadaan lingkungan TPQ dengan kondisi dan situasinya serta hubungan dengan
masayarakat sekitarnya merupakan tanggungjawabnya pula. Inisiatif dan kreatif yang mengarah
kepada perkembangan dan kemajuan TPQ adalah tugas dan tanggungjawab kepala TPQ. Namun
demikian, dalam usaha memajukan TPQ dan menanggulangi kesulitan yang dialami TPQ baik
yang berupa atau bersifat material seperti perbaikan gedung, penambahan ruang, penambahan
perlengkapan, dan sebagainya maupun yang bersangkutan dengan pendidikan anak-anak, kepala
TPQ tidak dapat bekerja sendiri. Kepala TPQ harus bekerja sama dengan para guru yang
dipimpinnya, dengan orang tua murid serta pihak pemerintah setempat. Kegiatan-kegiatan yang
menjadi tanggungjawabnya adalah sebagai berikut yang juga merupakan upaya dari kepala TPQ
itu sendiri dalam meningkatkan mutu pendidikan dilingkungannya secara maksimal:
1. Kegiatan mengatur proses belajar mengajar.
2. Kegiatan mengatur kesiswaan.
3. Kegiatan mengatur personalia.
4. Kegiatan mengatur perelatan pengajaran.
5. Kegiatan mengatur dan memelihara gedung dan perlengkapan TPQ.
6. Kegiatan mengatur keuangan.
7. Kegiatan mengatur hubungan TPQ dengan masyarakat.
Fungsi pimpinan TPQ dalam kegiatan yang dipimpinnya berjalan melalui tahap-tahap kegiatan
sebagai berikut:
1. Perencanaan.
2. Pengorganisasian.
3. Pengarahan.
4. Pengkoordinasikan.
5. Pengawasan.
Tugas lain dari seorang kepala TPQ adalah sebagai supervisor dalam masalah pembinaan
kurikulum TPQ. Dalam pembinaan kurikulum tugas kepala TPQ yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Kepala TPQ hendaknya dapat membimbing para guru untuk dapat meneliti dan memilih
bahan-bahan mana yang baik yang sesuai dengan perkembangan anak dan tuntutan kehidupan
dalam masyarakat.
b. Membimbing dan mengawasi guru-guru agar mereka pandau memilih metode-metode
mengajar yang baik, dan melaksanakan metode itu sesuai dengan bahan pelajaran dan
kemampuan anak.
c. Menyelenggarakan rapat-rapat dewan guru secara insidentil maupun priodik, yang khusus
untuk membicarakan kurikulum, metode mengajar, dan sebagainya.
d. Mengadakan kunjungan kelas yang teratur: mengunjungi guru sedang mengajar untuk
meneliti bagaimana metode mengajarnya, kemudian mengadakan diskusi dengan guru yang
bersangkutan.
e. Mengadakan saling kunjungan kelas antara guru.
f. Setiap permualaan tahun ajaran guru diwajibkan menyusun suatu silabus mata pelajaran yang
akan diajarkan, dengan pedoman pada rencana pelajaran/ kurikulum yang berlaku di TPQ itu.
g. Setiap akhir tahun ajaran masing-masing guru mengadakan penilaian cara dan hasil kerjanya
dengan meneliti kembali hal-hal yang pernah diajarkan, selanjutnya mengadakan perbaikan-
perbaikan dalam tahunajaran berikutnya.
h. Setiap akhir tahun ajaran mengadaka penelitian bersama guru-guru mengenai situasi dan
kondisi TPQ pada umumnya dan usaha memperbaikinya.
Dalam memimpin TPQ, demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan kepala TPQ
pun harus memiliki karateristik sebagai berikut:
a. Mempunyai jiwa kepemimpinan dan mampu memimpin TPQ.
b. Memiliki kemampuan memecahkan masalah.
c. Mempunyai ketrampilan social.
d. Profesional dan kompeten dalam bidang tugasnya.
Dalam menjalankan tugasnya, kepala TPQ mempunyai peran ganda sebagai administrator,
sebagai pemimpin, sebagai supevisor pendidikan. Untuk mendayagunakan sumber daya TPQ,
maka dibutuhkan ketrampilan manajerial. Terdapat tiga bidang ketrampilan manajerial yang
perlu dikuasai oleh kepala TPQ yaitu, ketrampilan konseptual (conceptual skill), ketrampilan
hubungan manusia (human skill), ketrampilan teknik (technical skill). Ketiga ketrampilan
manajerial tersebut diperlukan untuk melaksanakan tugas manajerial secara efektif, meskipun
penerapan masing-masing ketrampilan tersebut tergantung pada tingkatan manajer dalam
organisasi.
3. Upaya Pengembangan Kurikulum TPQ
a. Konsep Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum merupakan bagian yang penting dari program pendidikan. Sasaran
yang ingin dicapai bukanlah semata-mata memproduksi bahan pelajaran melainkan lebih untuk
meningkatkan kualitas pendidikan.
Konsep pengembangan kurikulum dapat diartikan dari dua jenis proses, yakni pengembangan
dalam arti perekayasaan (engineering) dan pengembangan dalam arti konstruksi. Proses
pengembangan dalam arti pertama, terdiri dari empat tahap ialah menentukan fondasi yakni
dasar-dasar yang diperlukan untuk mengemabangkan kurikulum; konstruksi ialah
mengembalikan model kurikulum yang diharapkan berdasarkan fondasi tersebut; implementasi
ialah pelaksanaan kurikulum; dan evaluasi ialah menilai kurikulum secara komprehensif dan
sistemik.
Proses pengembangan kurikulum dalam arti yang kedua, yakni proses pengembangan secara
mikro, yang pada garis besarnya melalui proses 4 kegiatan, yakni merancang tujuan,
merumuskan materi, menetapkan metode, dan merancang evaluasi
Pengembangan kurikulum berlandaskan manajemen, berarti melaksanakan kegiatan
pengembangan kurikulum berdasarkan pola pikir manajemen, atau berdasarkan proses
manajemen dengan fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari: Pertama, Perencanaan
kurikulum, yang dirancang berdasarkan analisis kebutuhan, menggunakan model tertentu dan
mengacu pada suatu desain kurikulum yang efektif. Kedua, Pengorganisasian kurikulum yang
ditata baik secara struktural maupun secara fungsional. Ketiga, Implementasi yakni pelaksanaan
kurikulum di lapangan. Keempat, Ketenagaan dalam pengembangan kurikulum. Kelima, Kontrol
kurikulum yang mencakup evaluasi kurikulum. Keenam, Mekanisme pengembangan kurikulum
secara menyeluruh.
b. Asas-asas Pengembangan Kurikulum TPQ
1) Asas Orientasi dan Konsistensi pada tujuan
Tujuan adalah komponen pertama dalam kurikulum. Keharusan orientasi pada tujuan serta
konsistensi dalam mencapainya adalah ibarat orang yang mau melakukan peralanan, yaitu
pentingnya menetapkan tujuan terlebih dahulu. Perjalana tapatjuan atau tanpa tujuan yang jelas
adalah perjalanan sia-sia atau perjalanan tak menentu. Tujuan yang digariskan dalam kurikulum
TK/ TPQ secara sturuktural bertitik tolak dari tujuan yag sifatnya global (garis besar) yaitu
tuuan pendidikan nasional, lalu diciutkan ke tingkat tujuan kelembagaan/ institusional, tujuan
pembelajaran umum (TPU). Selanjutnya guru harus mengembangkannyake tingkat tujuan yang
lebih spesifik yaitu tujuan pembelajaran khusus (TBK).
2) Asas Kesinambungan
Program pengajaran dalam TK/ TPQ disusun dalam bentuk paket. Paket pengajaran tersebut
secara umum dikelompokkan ke dalam dua paket, yaitu paket A dan paket B. Dan tiap paket
terdiri dari tiga kelompok materi, yaitu materi pokok, materi penunjang dan muatan lokal. Hal ini
menjadi acuan dasar dalam mengembangkan asas kesinambungan. Kesinambungan adalah suatu
proses berkelanjutan dan satu tahap pencapaian pengalaman belajar ke tahap berikutnya, baik
klasikal maupun secara individual yang dipandu oleh guru secara insentif.
3) Asas Keterpaduan
Asas keterpaduan ini menyangkut dua hal. Pertama keterpaduan dalam peyelenggaraan
pendidikan dan pengajara anak, yaitu keterpaduan antar kegiatan di sekolah, di rumah, di
lingkungan masyarakat. Kedua, keterpaduan dalam upaya mencapai tiga aspek pendidikan dalam
individu anak, yaitu keterpaduan antara aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap (afektif), dan
aspek ketrampilan (psikomotor). Untuk mewujudkan keterpaduan diantara tiga ligkungan
pendidikan (di sekolah, rumah, masyarakat) harus dikondisikan dengan cara menjalin hubungan
kerjasama yang baik diantara figur-figur yang berperan di dalamnya, yaitu kepala TK/TPQ, guru,
pihak orang tua dan masyarakat agar dapat memberikan pengawasan dan bimbingan khusus di
rumahnya masing-masing, terutama menyangkut aspek sikap dan pengembangan prilaku anak,
termasuk segi pembiasaan sholat, mengaji al-Qur'an, dan pembiasaan do'a sehari-hari.
4) Asas Keluwesan
Keluwesan adalah termasuk prinsip yag logis dalam mengembangkan kurikulum karena
kurikulum adalah merupakan program pengajaran dalam bentuk garis-garis besar. Asas
keluwesan ini memungkikan adanya penguanan , penambahan atau penyesuaian tertentu dari apa
yang tersurat dalam kurikulum mengingat kondisi objektif di lingkungan TK/TPQ yang
bersangkutan. Yang penting asas keluwesan tersebut tidaklah menyimpang dari tujuan dan pola-
pola umum yang telah digariskan. Untuk itu guru harus memahami keseluruhan kurikulum yang
berlaku dan menyesuaikannya dengan tingkat perkembangan yang ia hadapi di lingkungan unit
kerjanya.
5) Asas Efisiensi dan Efektivitas
Efisiensi adalah pendayagunaan segala sarana yang tersedia, termasuk penggunaan tenaga,
waktu, dan dana secara hemat dan tepat guna. Dengan begitu seluruh program kegiatan belajar
diharapkan dapat berjalan dengan tertib dan berhasil guna (efektif) dengan bukti keberhasilan
yang bermutu. Efisiensi berkaitan dengan proses belajar mengajar sedangkan efektivitas
berkaitan dengan hasil belajar (out put) yang mau dicapai.

c. Mekanisme Pengembangan Kurikulum


Tahap 1: Studi kelayakan dan kebutuhan
Pengembangan kurikulum melekukan kegiatan analisis kebutuhan program dan merumuskan
dasar-dasar pertimbangan bagi pengembangan kurikulum tersebut. Untuk itu si pengembang
perlu melakukan studi dokumentasi dan/ atau studi lapangan.
Tahap 2: Penyusunan konsep awal perencanaan kurikulum
Konsep awal ini dirumuskan berdasarkan rumusan kemampuan, selanjutnya merumuskan tujuan,
isi, strategi pembelajaran sesuai dengan pola kurikulum sistemik.
Tahap 3: Pengembangan rencana untuk melaksanakan kurikulum
Penyusunan rencana ini mencakup penyusunan silabus, pengembangan bahan pelajaran dan
sumber-sumber material lainnya.
Tahap 4: Pelaksanaan uji coba kurikulum di lapangan
Pengujian kurikulum di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keandalannya,
kemungkinan pelaksanaan dan keberhasilannya, hambatan dan masalah-masalah yang timbul dan
faktor-faktor pendukung yang tersedia, dan lain-lain yang berkaitan dengan pelaksanaan
kurikulum.
Tahap 5: Pelaksanaan kurikulum
Ada 2 kegiatan yang perlu dilakukan, ialah:
1. Kegiatan desiminasi, yakni pelaksanaan kurikulum dalam lingkup sample yang lebih luas.
2. Pelaksanaan kurikulum secara menyeluruh yang mencakup semua satuan pendidikan pada
jenjang yang sama.
Tahap 6: Pelakasanaan penilaian dan pemantauan kurikulum
Selama pelaksanaan kurikulum perlu dilakukan penilaian dan pemantauan yang berkenaan
dengan desain kurikulum dan hasil pelaksanaan kurikulum serta dampaknya.
Tahap 7: Pelaksanaan perbaikan dan penyesuaian
Berdasarkan penilaian dan pemantauan kurikulum diperoleh data dan informasi yang akurat,
yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan pada kurikulum
tersebut bila diperlukan, atau melakukan penyesuaian kurikulum dengan keadaan. Perbaikan
dilakukan terhadap beberapa aspek dalam kurikulum tersebut