Anda di halaman 1dari 17

HUKUM BERNOULLI

Persamaan dasar dalam hidrodinamika telah dapat dirintis dan dirumuskan oleh

Bernoulli secara baik, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan gejala fisis yang

berhubungan dengan dengan aliran air. Persamaan dasar tersebut disebut sebagai

persamaan Bernoulli atau teorema Bernoulli, yakni suatu persamaan yang menjelaskan

berbagai hal yang berkaitan dengan kecepatan, tinggi permukaan zat cair dan

tekanannya.Persamaan yang telah dihasilkan oleh Bernoulli tersebut juga dapat disebut

sebagai Hukum Bernoulli, yakni suatu hukum yang dapat digunakan untuk menjelaskan

gejala yang berhubungan dengan gerakan zat alir melalui suatu penampang pipa. Hukum

tersebut diturunkan dari Hukum Newton dengan berpangkal tolak pada teorema kerja-

tenaga aliran zat cair dengan beberapa persyaratan antara lain aliran yang terjadi

merupakan aliran steady(mantap, tunak), tak berolak (laminier, garis alir streamline), tidak

kental dan tidak termampatkan. Persamaan dinyatakan dalam Hukum Bernoulli tersebut

melibatkan hubungan berbagai besaran fisis dalam fluida, yakni kecepatan aliran yang

memiliki satu garis arus, tinggi permukaan air yang mengalir, dan tekanannya. Bentuk

hubungan yang dapat dijelaskan melalui besaran tersebut adalah besaran usaha tenaga

pada zat cair.

Selanjutnya apabila pengkajian hukum ini berpangkal tolak pada hukum

kekekalan massa seperti yang telah disajikan pada bab terdahulu, dengan menggunakan

persyaratan seperti yang telah disajikan di bagian depan maka dalam aliran ini hukum

kekekalan massa tersebut lebih mengacu pada hukum kekekalan flux massa. Oleh sebab itu

dalam tabung aliran semua partikel zat cair yang lewat melalui pipa/tabung yang memiliki
luas penampang tertentu diandaikan memiliki kecepatan pengaliran di satu titik

adalah sama pada garis aliran yang sama. Namun demikian pada titik-titik lainnya dapat

memiliki kecepatan yang berbeda.

Selanjutnya untuk menurunkan persamaan yang menyatakan Hukum Bernoulli

tersebut dapat dikemukakan dengan gambar sebagai berikut.

Gambar 13. Gerak sebagian fluida dalam penurunan persamaan Bernoulli

Keterangan gambar:

1. h1 dan h2 masing-masing adalah tinggi titik tertentu zat cair dalam tabung/pipa bagian

kiri dan bagian kanan.

2. v1 dan v2 adalah kecepatan aliran pada titik tertentu sari suatu zat cair kiri dan kanan.

3. A1 dan A2 adalah luas penampang pipa bagian dalam yang dialiri zat cair sebelah kiri

dan sebelah kanan.

4. P1 dan P2 adalah tekanan pada zat cair tersebuut dari berturut-turut dari bagian kiri dan

bagian kanan.

Gambar di bagian depan merupakan aliran zat cair melalui pipa yang berbeda luas

penampangnya dengan tekanan yang berbeda dan terletak pada ketinggian yang berbeda

hingga kecepatan pengalirannya juga berbeda. Dalam aliran tersebut diandaikan zat cair
tidak termampatkan, alirannya mantap sehingga garis alir merupakan garis yang streamline,

demikian pula banyaknya volume yang dapat mengalir tiap satuan waktu dari pipa sebelah

kiri dan kanan adalah sama.

Dari gambar, dapat dikemukakan bahwa zat cair pada semua titik akan mendapatkan

tekanan. Hal ini berarti pada kedua permukaan yang kita tinjau (lihat gambar yang

diarsir) akan bekerja gaya yang arahnya ke dalam. Jika bagian ini bergerak dari posisi

pertama menuju bagian kedua, gayayang bekerja pada permukaan pertama akan

melakukan usaha terhadap unsur yang ditinjau tadi sedangkan bagan tersebut akan

melakukan usaha terhadap gaya yang bekerja pada permukaan sebelah kanan. Selisih

antara kedua besaran usaha tersebut sama dengan perubahan energi gerak ditambah

energi potensial dari bagian tersebut. Selisih kedua besaran energi tersebut disebut sebagai

energi netto. Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

p1 1 11 p2 2 12 = ( mv21 mv22) + (mgh2 mgh1)

A1=v

p1 v1 p2 v2 = m (v21 v22) + mg (h2 h1)

Pada hal v = m/, maka persamaan dapat diubah menjadi:

p1 (m/) p2 (m/) = m (v21 v22) + mg (h2 h1)

atau dapat diubah menjadi:

p1 (m/) + m v21 + mgh1 = p2 (m/) + m v22 + mgh2

Persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi:


p1 + v21 + gh1 = p2 + v22 + gh2

atau ditulis secara umum menjadi:

p + v2 + gh = konstan

Persamaan di atas merupakan persamaan yang menyatakan Hukum Bernoulli yang

menyatakan hubungan antara kecepatan aliran dengan tinggi permukaan air dan

tekanannya.

Dalam kehidupan sehari-hari Hukum Bernoulli memiliki penerapan yang beragam

yang ada hubungannya dengan aliran fluida, baik aliran zat cair maupun gas. Penerapan

tersebut sebagian besar dimanfaatkan dalam bidang teknik dan ilmu pengetahuan yang

berkaitan dengan aliran fluida.Misalnya dalam teknologi pesawat terbang Hukum Bernoulli

tersebut dimanfaatkan untuk merancang desain sayap pesawat terbang. Dalam bidang

yang lain misalnya desain bentuk mobil yang hemat bahan baker, kapal laut dan sebagian

alat ukur yang dapat digunakan dalam suatu peralatan pengendali kecepatan dan

sebagainya.

Dengan mengusahakan bentuk sayap pesawat terbang seperti yang tergambar di

bawah ini, maka bagian depan dari sayap tersebut memiliki permukaan yang tidak kaku

sehingga dapat memberikan kemudahan dalam aliran udara. Lihat gambar!


Gambar 14. Penampang sayap pesawat terbang.

Bentuk sayap yang demikian sengaja dirancang agar aliran yang mengenai bagian

depan dari sayap akan membentuk aliran laminier. Dari gambar di samping ini dapat

dijelaskan bahwa apabila pesawat terbang digerakkan dengan ke depan kecepatan udara di

bagian atas pesawat dan kecepatan udara yang lewat bagian bawah pesawat

terbang akan menjadi tidak sama. Kecepatan aliran udara pada bagian atas akan cenderung

lebih besar daripada kecepatan aliran udara bagian bawah pesawat terbang. Hal ini

mengakibatkan munculnya gaya pengangkatan yang bekerja pada pesawat terbang

sehingga pesawat terbang dapat naik ke udara.

Persamaan hidrostatika merupakan kejadian khusus dari penerapan Hukum Bernoulli

bila fluida dalam keadaan diam, yakni bahwa fluida tersebut. Fluida dalam keadaan statis

maka kecepatan alirannya di mana-mana akan sama dengan nol. Selanjutnya perubahan

tekanan akibat letaknya titik dalam fluida yang tidak termampatkan dapat diterangkan

dengan gambar sebagai berikut:


Gambar 15. Manometer.

Dari gambar dalam keadaan statis: v1 = v2 = 0

p1= po dan h1 = h2 dan h2 = 0

Berdasarkan Hukum Bernoulli p + v2 = gh = konstan, dapat dituliskan menjadi

po + 0 + gh = p2 + 0 + 0

p2 = po + gh

Pipa venturi merupakan sebuah pipa yang memiliki penampang bagian tengahnya

lebih sempit dan diletakkan mendatar dengan dilengkapi dengan pipa pengendali untuk

mengetahui permukaan air yang ada sehingga besarnya tekanan dapat

diperhitungkan. Dalam pipa venturi ini luas penampang pipa bagian tepi memiliki

penampang yang lebih luas daripada bagian tengahnya atau diameter pipa bagian tepi lebih

besar daripada bagian tengahnya. Zat cair dialirkan melalui pipa yang penampangnya lebih

besar lalu akan mengalir melalui pipa yang memiliki penampang yang lebih sempit, dengan

demikian maka akan terjadi perubahan kecepatan. Apabila kecepatan aliran yang melalui

penampang lebih besar adalah v1 dan kecepatan aliran yang melalui pipa sempit adalah v2,

maka kecepatan yang lewat pipa sempit akan memiliki laju yang lebih besar (v1 < v2).

Dengan cara demikian tekanan yang ada pada bagian pipa lebih sempit akan menjadi lebih
kecil daripada tekanan pada bagian pipa yang berpenampang lebih besar. Lihat gambar di

bawah ini.

Gambar 16. Venturimeter

Dalam aliran seperti yang digambarkan di atas akan berlaku Hukum Bernoulli sebagai

berikut:

p1 + gh1 + v21 = p2 + gh2 + v22

pipa dalam keadaan mendatar h1 = h2

gh1 + gh2

sehingga: p1 + v21 = p2 + v22

di sini v1 > v2 maka p2 < p1

akibatnya p1 p2 = (v22 - v21)

padahal : p1 = pB + gha

p2 = pB = ghb

selanjutnya didapat:

p1 p2 = g (ha - hb)
Apabila ha - hb = h yakni selisih tinggi antara permukaan zat cair bagian kiri dan kanan,

maka akan didapat:

p1 p2 = gh

Dengan mengetahui selisih tinggi permukaan zat cair pada pipa pengendalli akan dapat

diketahui perubahan tekanannya yang selanjutnya perubahan kecepatan dapat juga

diketahui. Oleh sebab itu pipa venturi ini akan sangat berguna untuk pengaturan aliran

bensin dalam sistem pengapian pada kendaraan bermotor.

Tabung Pitot atau sering disebut pipa Pitot ini merupakan suatu peralatan yang dapat

dikembangkan sebagai pengukur kecepatan gerak pesawat terbang. Melalui tabung ini

umumnya dapat diketahui adalah kecepatan gerak pesawat terbang terhadap udara. Hal ini

berarti apa yang terukur bukanlah kecepatan gerak terhadap kedudukan bumi. Oleh sebab

itu untuk dapat mengukur kecepatan gerak pesawat terbang terhadap bumi, maka

kecepatan udara harus dapat diketahui. Prinsip kerjanya tabung Pitot ini perhatikan gambar

di bawah ini:

Gambar 17. Tabung/pipa Pitot

Adapun cara kerjanya dapat dikemukakan sebagai berikut: apabila alat ini digerakkan

dengan cepat sekali (diletakkan dalam badan pesawat terbang) ke arah kiri sehingga udara
akan bergerak dalam arah yang sebaliknya yakni menuju arah kanan. Mula-mula

udara akan masuk melalui lubang pertama, selanjutnya mengisi ruang tersebut sampai

penuh. Setelah udara dapat mengisi ruang tersebut melalui lubang pertama dengan penuh

maka udara tersebut akan dalam keadaan diam. Udara yang lewat lubang kedua akan selalu

mengalir dan kecepatan udara yang mengalir melalui lubang pertama jauh lebih kecil

daripada kecepatan pengaliran udaran yang melalui lubang kedua. Oleh sebab itu dapat

dianggap v1 = 0 dan perbedaan tekanan diketahui dari perbedaan tinggi permukaan air

raksa dalam pipa U. Untuk memudahkan perhitungan dalam keadaan mendatar maka tidak

terdapat selisih tinggi hingga akan berlaku h1 = h2 dan Hukum Bernoulli dapat ditulis

menjadi:

p1 + v21 = p2 + v22

v1 = 0, maka

p 1 = p2 + v 2 2 untuk v2 = v

maka p1 - p2 = v2
2 (p1 - p2)
atau v =

Selisih tekanan dapat diketahui dengan mengukur perbedaan tinggi air raksa dalam pipa U

tersebut maka kecepatan gerak pesawat terbang terhadap udara dapat diketahui dan

dihitung dengan persamaan tersbeut.

Untuk menurunkan tekanan dalam suatu ruangan tertentu dapat dipergunakan

pompa penghisap udara yang bekerja berdasarkan Hukum Bernoulli. Prinsip kerjanya dapat

dilukiskan dalam gambar sebagai berikut:


Gambar 18. Prinsip kerja pipa penghisap udara.

Andaikan udara dalam ruangan R akan dikurangi atau dihisap melalui pompa

penghisap yang bekerja berdasarkan Hukum Bernoulli maka dapat dilakukan dengan

mengalirkan udara melalui pipa sempit A udara disemprotkan dengan kecepatan sangat

besar (v) selanjutnya akibat aliran udara yang keluar dari pipa A tersebut maka tekanan

udara yang berada pada tabung B akan menjadi semakin kecil. Hal ini mengakibatkan

terjadinya perbedaan tekanan. Udara tersebut pada akhirnya akan keluar melalui lubang C

secara terus-menerus. Selanjutnya dengan menyemprotkan yang berulang dan diperbesar

kecepatan alirannya maka udara pada tabung R akan dapat berkurang terus-menerus sesuai

dengan yang dikehendaki. Prinsip inilah yang merupakan prinsip kerja dari pompa

penghisap.

Untuk dapat memahami kegiatan belajar 3 ini, jawablah pertanyaan berikut ini

dengan sebaik-baiknya.

1. Dua buah bola pingpong yang digantungkan dengan seutas benang dan diletakkan

berdekatan satu sama lain, selanjutnya hembuskan udara yang berada di antara dua

bola pingpong tersebut. Apa yang terjadi? Jelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi!

2. Dengan penalaran yang sama seperti soal nomor 1, tetapi gejalanya terjadi pada zat

cair, yakni bahwa kapal yang sedang berlayar akan dapat berbenturan apabila kecepatan
aliran air di antara kedua kapal tersebut sangat besar. Mengapa terjadi gejala yang

demikian ini?

3. Rancanglah suatu percobaan untuk memperagakan terjadinya gejala yang menunjukkan

Hukum Bernoulli. Jelaskan cara kerja yang dapat dilakukan!

4. Buktikan bahwa pada aliran dari lubang melalui sebuah lubang yang digambarkan di

bawah ini besarnya debit air dapat dinyatakan dengan persamaan.

Gambar 19.

5. Jelaskan prinsip kerja penyemprot hama tanaman yang digambarkan seperti gambar

berikut ini dengan Hukum Bernoulli!

Gambar 20.

Kunci Jawaban latihan 3

1. Lihat gambar di bawah ini.


Gambar 21.

Dengan ditiupnya udara di antara dua bola pingpong tersebut kedua bola

pingpong akan bergerak saling mendekati dan pada akhirnya keduanya dapat

berbenturan satu sama lain. Terjadinya benturan antara kedua bola ini disebabkan oleh

hembusan terhadap udara di antara kedua bola tersebut.

Dengan hembusan yang diberikan maka akan terdapat aliran udara di antara dua bola

tersebut, akibatnya tekanan untuk daerah tersebut menjadi berkurang dan menjadi lebih

kecil daripada tekanan di sekelilingnya sehingga bola pingpong terdorong untuk

bergerak pada daerah yang memiliki tekanan yang lebih rendah. Selanjutnya kedua bola

tersebut bergerak dalam arah yang berlawanan dan akhirnya dapat berbenturan

satu sama lain.

2. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 22.

Gambar berikut merupakan dua kapal yang sedang bergerak. Terjadinya benturan

antara kedua kapal tersbeut akibat aliran air yang berada di antara keuda kapal tersebut

memiliki kecepatan aliran yang jauh lebih besar daripada aliran air di

sekitarnya. Akibatnya tekanan air di antara dua kapal tersebut mengalami penurunan
yang cukup besar yang mengakibatkan kapal bergeser dalam arah ayang berlawanan

yang akibatnya dapat berbenturannya dua kapal tersebut.

3. Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 23.

Keterangan gambar:

1) Pipa dengan diameter bagian tengah lebih sempit daripada bagian tepinya

2) Pipa pengontrol permukaan air berwarna/tinta

3) Tabung gelas yang berisi air berwarna/tinta

Dari gambar yang telah disajikan di bagian depan apabila pipa kaca yang memiliki

penampang berbeda dan pipa pengendali tersbeut dicelupkan dalam air berwarna maka

setting percobaan dapat disajikan dalam gambar tersebut.

Adapun langkah percobaan yang dapat dilakukan adalah:

a. Pipa pengendali dicelupkan dalam air berwarna dan tabung belum dihembuskan

udara, maka permukaan air berwarna di bagian dalam dan bagian luar akan sama

tinggi karena tekanan di sekelilingnya akan sama.

b. Selanjutnya pipa bagian kanan dihembus kuat-kuat, sehingga pada pipa akan terjadi

aliran udara. Akibatnya berdasarkan Hukum Bernoulli tekanan pada bagian dalam

tabung akan berkurang sehingga ada sebagian air berwarna dapat naik dalam pipa
pengendali tersebut, yang menyebabkan perbedaan tekanan di dalam pipa dan di

luar pipa. Dengan mengukur perbedaan tinggi air berwarna dan

mengetahui massa jenis air berwarna maka perbedaam tekanan dapat diketahui.

4. Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 24.

Gambar berikut memperlihatkan suatu bejana yang pada bagian bawah diberikan lubang

yang sempit untuk pengeluaran air (peluahan air). Jarak lubang tersebut pada awal

percobaan adalah h cm dari permukaan air yang diisikan ke dalam bejana

tersebut. Apabila tekanan mula-mula dari udara di sekeliling pipa adalah PB dan lubang

peluahan air disebut lubang R, serta tinggi permukaan air mula-mula adalah p, maka

setelah lubang sempit tersebut dibiarkan terbuka maka air yang meluah melalui lubang

R tersebut akan memancar keluar. Oleh karena lubang R tersebut relatif kecil bila

dibandingkan dengan diameter bejana, maka gerak permukaan air dalam bejana (P)

tersebut amat lambat, berarti vp sangat kecil atau dapat disamakan dengan nol.

Selanjutnya berdasarkan Hukum Bernoulli, akan dapat dituliskan sebagai berikut:

p1 + gh1 + v21 = p2 + gh2 + v22

Apabila lubang R sebagai lubang referensi maka dapat dikemukakan bahwa

v1 = 0, h2 = 0 dan p1 = p2 dan v2 = v

maka Hukum Bernoulli dapat dituliskan menjadi


pB + gh + pB + v2

atau

v2 = gh

V = 2 gh

Apabila luas penampang lubang diberikan notasi A maka besarnya debit

(Q) = A 2 gh

5. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 25.

Keterangan gambar:

1) Lubang kecil berada di ujung penyemprot

2) Penghisap yang dapat bergerak bebas tanpa gesekan

3) Tabung penyemprot yang diisi dengan cairan obat hama

Prinsip bekerjanya alat tersebut dapat didasarkan pada Hukum Bernoulli yang dapat

dinyatakan sebagai berikut:

p + gh + v2 = konstan

Penghisap ditekan dalam keadaan mendatar berartiakan berlaku

gh1 = gh2, sehingga persamaan tersebut dapat dituliskan menjadi

p1 + v21 = p2 + v22

p1 - p2 = (v22 - v21)
Jika p1 < p2 maka v1 > v2, jadi pada tempat yang tekanannya kecil maka kecepatan

pengalirannya akan besar.

Rangkuman

Hukum Bernoulli merupakan salah satu dasar yang perlu dipahami dalam

menjelaskan aliran fluida terutama fluida tanpa kekentalan. Hal ini memberikan gambaran

bahwa Hukum Bernoulli dapat menerangkan gejala lairan fluida yang laminier atau bahkan

fluida ideal. Banyak penerapan yang berkaitan dengan Hukum Bernoulli tersebut terutama

berkaitan dengan desain peralatan yang hemat energi seperti diungkapkan di bagian depan.

Bagaimana Pesawat mengukur


Kecepatan nya?
Posted on July 16, 2009 by alonberhia
JIKA kendaraan yang bergerak di darat mengukur
kecepatan dengan menggunakan speedometer,
lalu bagaimanakah dengan pesawat terbang?
Seperti kamu ketahui, speedometer bergerak
berdasarkan perputaran roda yang menyentuh
daratan. Nah bagaimana dengan pesawat yang
melayang di udara?
Dalam dunia penerbangan ada dua
kecepatan yang diukur, yaitu kecepatan
darat (ground speed) dan kecepatan angin
(air speed). Kecepatan darat diukur dengan
menghitung jarak dua buah titik (berangkat
dan tujuan) dan kemudian dibagi dengan waktu tempuhnya.
Alat ukur itu mendapat masukan dari PITOT,
yaitu semacam lubang kecil berbentuk pipa
yang terhubung langsung dengan udara
bebas, yang diletakkan biasanya di muka
pesawat. Selanjutnya dari pitot tersebut
dapat diukur tiga parameter, yaitu kecepatan udara (airspeed),
altimeter, dan Variometer (alat ukur kecepatan vertikal)
Pitot sendiri adalah alat yang memang
digunakan untuk mengetahui perbedaan
tekanan yang disebabkan oleh aliran fluida
(cairan, maupun udara)
Nah jadi kalo sepeda kamu menggunakan
putaran roda untuk menggerakkan alat
speedomernya, maka pesawat terbang menggunakan pitot untuk
mengukur sekaligus tiga parameter.
Nah, ada yang tahu bagaimana kapal laut mengukur
kecepatannya? ***