Anda di halaman 1dari 13

Proses Pembentukan Logam

Disusun Oleh:

Nama : Adong Panjaitan


Nim : 1505012058
Kelas : ME-4E

Teknik Mesin

Politeknik Negeri Medan


2017
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkatNya sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Teknik Pembentukan
Dasar

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Medan, Juni 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . .....................................................................................................


DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................
A. Latar Belakang ....................................................................................................
B. Tujuan .................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................
A. PROSES DRAWING
B. PROSES PIERCING
C. PROSES ROLLING
D. PROSES SPINNING
E. PROSES SWAGING
F. PROSES POWDER WELDING

BAB II PENUTUP
A.
BAB I
Pendahuluan

A. Latar belakang
Dengan semakin kembangnya teknologi di jaman sekarang, saya membuat makalah
ini untuk mengetahui lebih luas tentang proses-proses pembentukan logam diantaranya
adalah proses Drawing,Piercing,Rolling,Spinning,Swaging dan Powder Welding . Karena
proses tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia industri.
Di dalam industri manufaktur logam, suatu proses pembentukan logam baik primer
maupun sekunder seperti pengerolan (rolling), spinning, penarikan(drawing) adalah pekerjaan
yang harus dilakukan dengan menentukan atau memilih kapasitas mesin serta perkakas dan
peralatan yang akan digunakan untuk proses tersebut.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut
a. Mengetahui proses-proses pembentukan logam
b. Mengetahui cara pembentukan logam
BAB II
Pembahasan
A.PROSES DRAWING
Drawing merupakan proses pengubahan bentuk dingin dari lembaran logam untuk
menghasilkan benda yang mempunyai kedalaman tekan seperti pada pembuatan mangkuk
(kup). Proses ini dilakukan dengan meletakan lembaran (blank) diantara dua penjepit yang
salah satunya juga sekaligus berfungsi sebagai cetakan. Lembaran kemudian ditekan pada
bagian yang tak berjepit sehingga bahan lembaran akan mengalir masuk ke dalam cetakan
dan menghasilkan benda jadi sama dengan bentuk cetakannya. Pada proses ini terjadi aliran
material disebabkan tekanan blank holder yang digunakan tidak terlalu besar. Selama proses,
ketebalan benda lebih kurang sama dengan ketebalan lembaran awal dan luas permukaan
lembaran sebelum dibentuk sama dengan luas permukaan benda setelah dibentuk.
Pada proses ini perlu diperhitungkan besarnya tekanan penjepit disekeliling blank untuk
menghindari pengkerutan bagian tepi ataupun perobekan mangkuk. Bentuk pengujian deep
drawing yang biasanya dilakukan yaitu pengujian swift, dimana blank lingkaran dibentuk
menjadi mangkuk beralas datar seperti tampak pada gambar berikut ini:

Gambar 1.proses drawing

Pada proses deep drawing, blank mengalami tiga jenis deformasi yang berbeda. Deformasi
dan keadaan tegangan yang terjadi pada daerah-daerah yang berbeda selama proses deep
drawing diperlihatkan pada gambar berikut ini:

Gambar 2.Bagian blank yang mengalami deformasi

Pada daerah tenagh blank (bagian yang kontak langsung dengan alat tekan) terjadi regangan
tarik biaksial sehingga pada daerah ini terjadi penipisan. Blank yang berada di laur daerah
penekanan (diantara penjepit) pada saat akan masuk kedalam cetakan akan mengalami
penarikan ke arah radialnya. Keliling lingkaran akan terus menerus menyusut dari keliling
awal D menjadi d. Penyusutan terjadi pada daerah ini karena adanya regangan tarik pada
arah radial akibat gaya tekan dari alat tekan (punch) serta regangan tekan pada arah tegak
lurus radial (arah keliling)
Pada saat masuk ke cetakan, mula-mula terjadi pembengkokan atau bending, kemudian
dilanjutkan dengan pelurusan (straightening) akibat melewati kelengkungan cetakan
membentuk dinding kup akibat gaya tekan dari punch yang memasuki lubang cetakan. Gaya
tekan dari punch mengakibatkan dinding kup mengalami penarikan pada arah sejajar dengan
arah gerakan punch
Beban tekan dari dasar kup diteruskan ke bagian dinding. Umumnya daerah yang sering
mengalami robek dalam deep drawing terletak pada bagian dinding sedikit di atas jari-jari
kelengkungan dasar kup. Pada daerah ini terjadi peregangan bidang (plane strain) yang
mengakibatkan penipisan bahan. Robek akan terjadi apabila tegangan tarik yang terjadi pada
daerah ini melebihi kekuatan tarik bahan
Gaya tekan yang dibutuhkan untuk membentuk blank menjadi kup merupakan jumlah
gaya idela untuk pengubahan bentuk, gaya gesek dan gaya penyusutan ketebalan pada bagian
dinding. Gaya penekanan ideal untuk menekan blank masuk ke dalam cetakan terus
bertambah dengan makin dalamnya penekanan akibat terjadinya pengerasan regang. Gaya
penekanan yang terjadi pada daerah penjepit terus bertambah sampai keadaan maksimum dan
kemudian berkurang dengan makin berkurangnya daerah blank yang terjepit
B.PROSES PIERCING
Piercing merupakan proses pengerjaan panas untuk membuat pipa tanpa sambungan
(seamless pipe) dengan bahan baku berupa billet (batang bulat dan padat) Dengan demikian
hasil dari proses ini tidak terdapat suatu garis penghubung hasil sambungan.
Batang logam padat yang telah dipanasi dengan salah satu ujungnya berlubang ditengah-
tengahnya sebagai penunjuk bagi mandrel, dimasukkan ke dalam roll yang sumbunya
membentuk 6 % terhadap sumbu benda kerja. Roll berputar searah, dan bentuk roll lebih
kecil dibandingkan dengan diameter bahan.
Pada saat batang dimasukkan, batang akan terbawa oleh putaran dari roll dan karena
adanya sudut kemiringan batang seakan-akan ditarik oleh kedua roll.

Produk Piercin

C.PROSES ROLLING
Rolling atau pengerolan logam adalah sebuah proses untuk mengurangi ketebalan atau
luas penampang dari suatu logam atau benda kerja, dengan melewatkan benda kerja pada
sepasang roll yang berputar dengan arah yang berlawanan.
Celah atau gap diantara dua roll yang berputar lebih kecil dari ketebalan logam yang
akan masuk. Benda kerja terjepit diantara dua roll, sehingga muncul gaya gesek yang
diperlukan untuk menggigit dan menarik benda kerja agar dapat melewati roll. Benda kerja
yang melewati roll berputar akan mengalami tegangan tekan dan tegangan geser permukaan.
Deformasi dari proses ini akan menyebabkan benda kerja bertambah panjang, sedangkan luas
penampang atau ketebalannya akan berkurang.

Gambar 5.proses Rolling


Jenis Jenis Proses Pengerolan
a) Proses Pengerolan Panas (Hot Rolling)
Hot rolling merupakan operasi pengerolan yang dilakukan pada temperature lebih tinggi
dari temperature rekristalisasi. Biasanya bahan kerja yang digunakan dalam proses pengerolan
panas berupa potongan besar logam dalam bentuk slab atau bloom untuk tahap berikutnya,
sehingga pada akhirnya diperoleh bentuk batang, plat, atau lembaran.
Pada proses pengerolan panas ini, deformasi tidak menyebabkan terjadinya penguatan
logam. Tegangan alir bahan akan semakin kecil dengan semakin tingginya temperature operasi.
Energi deformasi yang dibutuhkan menjadi lebih kecil pada temperature yang lebih tinggi.
Dengan demikian, maka deformasi dapat dilakukan pada benda kerja yang berukuran relative
besar dengan total deformasi besar.

Gambar 6.proses pengerolan panas

Keuntungan dari pengerolan panas adalah :


Bebas dari tegangan sisa
Sifat-sifatnya lebih homogen
Sedangkan beberapa kekurangan dari pengerolan panas ini yaitu :
Dimensi kurang akurat
Terjadi oksidasi pada permukaan rolan

b) Proses Pengerolan Dingin (Cold Rolling)


Cold rolling merupakan proses pengerolan yang dilakukan pada temperature dibawah
temperature rekristalisasi benda kerjanya. Pengerolan dingin ini biasanya dilakukan setelah
proses pengerolan panas . Proses pengerolan dingin ini menghasilkan kualitas permukaan yang
lebih baik, dan kesalahan dimensional yang lebih kecil daripada hasil proses pengerolan panas.
Bahan baku untuk proses pengerolan dingin ini biasanya adalah hasil dari proses pengerolan
panas.
Proses pengerolan dingin ini akan menyebabkan terjadinya mekanisme penguatan pada
benda kerja yang diikuti dengan turunnya keuletan. Benda kerja menjadi lebih kuat, lebih keras,
dan lebih rapuh. Pada proses pengerolan dingin ini, tegangan alir benda kerja menjadi semakin
meningkat.
Pada saat benda kerja mengalami pengerolan dingin, terjadi perubahan yang mencolok
pada struktur butir dan pergeseran atom-atom. Untuk pengerolan dingin diperlukan tekanan
yang lebih besar daripada pengerolan panas, karena material akan mengalami deformasi plastis
bila tegangan melebihi batas elastis. Karena tidak mungkin terjadi rekristalisasi selama
pengerolan dingin, tidak terjadi pemulihan dari butir yang mengalami perpecahan.
Keuntungan dari proses pengerolan dingin antara lain :
Produknya lebih tipis daripada produk pengerolan panas
Benda kerjanya menjadi lebih kuat dan lebih keras
Sedangkan beberapa kekurangan dari pengerolan dingin antara lain :
Membutuhkan proses pengerjaan panas setelah pengerolan, untuk menyeimbangkan
lagi sifat mekanik produk

D.PROSES SPINNING
Spinning atau biasa disebut dengan metal spinning, spin forming, atau metal turning
adalah salah satu cara pembentukan/pengolahan logam (metal forming) dengan memutar
logam (biasanya berbentuk seperti kepingan disc atau tabung) dengan kecepatan tinggi dan
membentuknya menggunakan alat khusus. Proses spinning bertujuan untuk membuat produk
yang simetris aksial, seperti peralatan memasak.

Metal spinning tidak bekerja dengan cara memotong atau menghilangkan material
sebagaimana dilakukan pada proses pengerjaan kayu atau logam. Spinning bekerja dengan
cara membentuk lembaran logam menjadi bentuk yang diinginkan dengan pemutaran
lembaran logam secara sangat cepat. Spinning dapat dilakukan menggunaan mesin bubut
manual ataupun menggunakan mesin bubut otomatis CNC. Spinning banyak digunakan oleh
pengrajin dalam hal pembuatan alat-alat industri. Semua bahan logam yang bersifat ulet
(ductile) dapat dilakukan proses ini, seperti stainless steel, alumunium, dan logam lainnya.

Proses Kerja Spinning


Proses spinning terbilang cukup sederhana. Blok cetakan produk dipasang pada bagian drive
mesin bubut. Kemudian, lempeng logam yang menjadi bahan dasar produk dijepitkan
terhadap blok tersebut oleh bantalan bertekanan (pressure pad). Blok dan lempeng logam
berputar bersamaan saat mesin dinyalakan. Saat mesin berputar, diberikan gaya khusus
kepada lempengan dengan menggunakan berbagai tuas khusus sedimikan hingga lempeng
logam tersebut berdeformasi mengikuti bentuk blok. Tahap selanjutnya adalah merapikan
tepi serta ujung produk yang sering kali masih tajam dan kurang rapi. Tahap ini dilakukan
dengan mengikis sedikit-demi-sedikit bagian ujung dan tepi benda kerja hingga didapatkan
ujung dan tepi yang halus.

Untuk produk sederhana, hanya dibutuhkan satu blok cetakan. Namun, jika produk yang
ingin dihasilkan memiliki bentuk yang kompleks dan rumit, penggunaan blok cetakan lebih
dari satu dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Karena diameter produk selalu lebih kecil
daripada diameter awal, produk setelah proses kerja haruslah lebih tebal, memanjang secara
radial, atau melengkung melingkar daripada sebelum dilakukan proses kerja.

Selain spinning, terdapat pula istilah Hot Spinning. Hot spinning hampir sama dengan
spinning biasa, hanya saja terdapat penambahan perlakuan terhadap lempengan logam, yakni
memanaskan lempengan logam sehingga molekul-molekul logam mengalami perenggangan.
Dengan pemanasan, gaya yang diperlukan untuk mendeformasi logam menjadi lebih kecil.
Penerapan
Spinning sangat tepat diterapkan untuk memproduksi alat-alat sederhana dan berskala besar
karena waktu dan biaya yang diperlukan dalam proses spinning cukup kecil. Sebagai contoh
adalah produk kaleng minuman.

Logam yang Digunakan


Hampir semua logam dapat dilakukan proses spinning, namun hanya sedikit bahan yang
bekerja secara baik. Alumunium adalah salah satunya. Alumunium memiliki sifat elastis dan
mudah dibentuk sehingga memudahkan proses spinning dengan hasil yang baik
(kemungkinan cacat kecil). Selain itu, stainless steel juga memiliki elastisitas yang baik,
bahkan lebih baik daripada alumunium (50%-68% elongasi). Dari rentang Austenitic dari
stainless steel, 201 dan 301 memiliki kemampuan elongasi terbaik. Demikian pula, semakin
rendah kadar karbon dalam baja ringan semakin mudah terbentuk. Tembaga memiliki
kemampuan elongasi yang baik (dapat diubah bentuknya) namun perlu membutuhkan
perlakuan khusus saat pengerjaan guna menghindari terjadinya patah dan retak. Kuningan
juga memiliki karakteristik hampir sama dengan tembaga, hanya saja memiliki kekerasan
lebih tinggi sehingga membutuhkan gaya yang lebih besar. Beberapa logam lainnya yang
dapat dilakukan proses spinning adalah titaium, magnesium (pada 600 F), perak, emas, dan
lain lain, namun logam logam tersebut membutuhkan perlakuan yang khusus untuk
menghindari gagal produksi.

Proses pembentukan dengan spinning ini dilakukan penekanan secara bertahan di seluruh permukan pelat
yang akan dispin atau diputar. Proses penekanan dengan putar ini tidak boleh dilakukan sekaligus dengan
penekanan yang keras. Hasil penekan keras akan memberikan dampak kerusakan pada permukaan pelat.
Kemungkinan lain juga dapat menyebabkan pelat menjadi robek atau pecah. Tool yang digunakan pada
proses spinning ini mempunyai bentuk-bentuk seperti pada gambar disamping yakni: Bulat, pipih, bulat me-
lengkung, pipih tajam, bulat kecil lurus. Tang-kai holdernya terbuat dari bahan kayu dengan panjang sekitar
200 mm.

Gambar diatas menjelaskan tempat dudukan tool pembentuk dari proses spinning. Tool ditahan pada pin
yang terletak pada tool rest machine. Mesin spinning yang digunakan adalah mesin bubut dengan meja yang
lebih pendek. Pelat atau material diletakkan diantara mal pembentuk dan dijepit oleh kepala lepas. Tool
ditekan dengan menggunakan tangan pada saat dilakukannya proses pemutaran tool ditekankan ke
pelat. Karena proses spinning ini dilakukan pada saat berputar makan bentuk-bentuk yang dihasilkan
mempunyai bentuk yang simetris.

Proses spinning diperlihatkan pada gambar dibawah, Langkah-langkah proses ini ditunjukan
melalui beberapa pandangan. Pada pandangan atas terlihat posisi tool menekan pelat yang sedang berputar.
Pelat dijepit diantara mal pembentuk dan diapit oleh balok yang berhubungan dengan kepala lepas. Proses
pembentukan deng-an spin ini dimulai dari pusat sumbu pelat dan ditekan sambil pelat ditarik keluar. Proses
ini dilakukan secara bertaha. Pengulangan ini dimaksukan agar pembentukan merata pada seluruh
permukaan pelat
Pembentukan terjadi akibat adanya penekanan yang dilakukan padapelat dengan tool. Tenaga
yang digunakan untuk menekan tool ini merupakan tenaga tangan manusia. Karena pekerjaan ini dilakukan
secara manual maka skill atau latihan untuk melakukan proses ini sangat diperlukan.

E.PROSES SWAGING
Swaging adalah proses pengurangan diameter benda kerja yang
berbentuk bulat baik solid meupun berongga dengan cara penempaan berulang
kali.

Gambar proses swaging


Disini die berfungsi sebagai hammer.Proses swaging juga dapat membentuk bentuk kerucut
dan mengurangi diameter dalam maupun diameter luar penampang

F.PROSES POWDER WELDING


Submerged arc welding (SAW) adalah proses pengelasan yang menggunakan elektroda
terkonsumsi secara kontinu dan menggunakan pelindung las yang disediakan oleh butir-butir flux.

Gambar mesin las SAW


Proses otomatis terjadi pada pemakanan elektroda yang disuplai oleh lilitan elektroda. Pada
proses ini flux dijatuhkan ke area pengelasan menggunakan bantuan hopper dengan memanfaatkan
gaya gravitasi. Selanjutnya flux tersebut tertimbun secara menyeluruh sehingga mencegah
percikan las, spatter, dan radiasi yang berbahaya. Flux di dekat busur kemudian cair dan tercampur
dengan cairan logam untuk menghilangkan kotoran serta memadat pada bagian atas sambungan
las. Flux yang memadat di atas las tersebut membentuk slag yang mirip menyerupai kaca. Slag dan
sisa flux yang tidak tercampur melindungi logam las dari atmosfer dengan sangat baik. Selain
itu slag dan flux tersebut juga mengisolasi panas dari area las. Panas yang terisolasi menyebabkan
pendinginan relatif lambat sehingga diperoleh kualitas sambungan las yang baik
(tough dan ductile). Sisa-sisa flux yang tidak tercampur tadi selanjutnya disedot kembali ke
penampungan flux dan dapat dimanfaatkan kembali.

Aplikasi Submerged Arc Welding (Kelebihan SAW)


Submerged arc welding secara meluas digunakan pada fabrikasi baja bentuk-bentuk struktur
(seperti I-beam yang dilas); menyambung pipa, tangki, dan bejana berdiameter besar (baik
sambungan longitudinal maupun circumferential); dan mengelas komponen mesin-mesin besar.
Ketebalan plat yang dapat dilas sebesar lebih dari 25 mm. Material yang dapat dilas menggunakan
SAW antara lain: baja karbon rendah, baja paduan rendah, dan stainless steel.

Kekurangan Submerged Arc Welding


Submerged arc welding tidak dapat digunakan untuk mengelas baja karbon tinggi, tool steel, dan
sebagian besar logam non ferro.
Karena SAW memanfaatkan gravitasi untuk menyediakan butir flux, maka benda kerja yang dilas
selalu diorientasikan secara horizontal. Metode penyediaan butir flux dengan memanfaatkan gaya
gravitasi juga menuntut proses SAW menggunakan plat yang sering diletakkan pada bagian bawah
sambungan selama proses pengelasan.

Gambar 1. Submerged Arc Welding (SAW).