Anda di halaman 1dari 6

Didusun Oleh:

AHMAD AGUS S.
XII IPS 4
17

SMA NEGERI 1 MOJOSARI


TAHUN AJARAN 2007/2008
Jl. Pemuda No. 55 Tlpn. (0321) 591457
Mojosari-Mojokerto
MASIH ADA HARI ESOK

Ayah tak pernah memperhatikan apapun yang Annisa lakukan. Dan itu
membuat Annisa merasa disisihkan. Kenapa Ayah tidak bisa menyayanginya?

Terlalu berat bagi Annisa menempuh perjalanan ini sendiri. Ketika dia harus
berdiri, dengan kekuatannya sendiri. Sementara, di sekelilingnya banyak bayang yang
hanya bisa menatap. Tanpa mau mengulurkan tangannya untuk menyambutnya. Di
saat itulah dia tersadar, hanya Allah Yang Mahabesar yang bisa menolong dirinya
tanpa mengharap ada uluran tangan yang belum tentu sampai menyambut tangan
lemah itu. Berat memang, tapi itulah jalan yang harus dia tempuh. Tapi dia selalu
percaya pada keyakinannya, Allah pasti akan selalu bersamanya. Allah tak akan
pernah meninggalkan umat-Nya selama kita juga selalu bersujud pada-Nya.
Menyerahkan diri kita sepenuhnya pada kekuasaan-Nya. Karena dia yakin Allah tidak
akan memberikan cobaan pada umat-Nya bila kita tidak mampu menghadapinya.
Matahari hanya tinggal sepenggal sinar saja, ketika Annisa melangkahkan kaki
memasuki rumah. Di sudut ruang tamu, Ayah membaca koran tanpa menoleh sedikit
sedikit kearahnya.

Sore, Ayah! sapa Annisa, yang kemudian segera berlalu. Begitu tidak
mendapatkan respon Ayah atas kehadirannya. Selalu begitu! Ayah tak pernah
memperhatikan apapun yang Annisa lakukan. Dan itu membuat Annisa merasa
disisihkan. Kenapa Ayah tidak bisa menyayanginya? Kenapa Ayah seakan tak pernah
memperhatikannya?

Dari mana kamu, Nisa? suara berat Ayah menghentikan langkah Annisa.
Dari rumah teman. Ada urusan, jawab Annisa singkat, tanpa menjelaskan apa
urusan itu. Ayah bertanya tanpa menatap gadis berjilbab itu. Kemudian, kembali pada
kesibukannya membaca. Ada pedih yang mengiris di permukaan hati Annisa.
Nisa! Annisa menatap kakaknya, yang tiba-tiba saja muncul dari tuang tengah.
Tatap matanya tajam penuh selidik. Tapi Nisa tahu, di balik tatapan tajam yang
sekaligus teduh itu, ada rasa sayang yang tulus.
Mas percaya kamu bisa menjaga dirimu sendiri, lanjutnya. Annisa hanya tersenyum
kecut, sudah berkali-kali ia mendengarkan kalimat seperti itu dari Mas Edo.
Sudah, Mas? tanya Annisa menggantung. Edo mengangguk dan menatap sosok
adiknya, sampai menghilang di balik pintu kamarnya. Sungguh kasihan Annisa! Dia
pasti merasa memanggul beban yang begitu berat di pundaknya.
Di kamarnya, Annisa menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Terasa penat sekali
tubuhnya hari ini. Perlahan, matanya menatap foto di atas meja belajarnya. Senyum
itu begitu ia rindukan, sosok yang begitu dekat dan nyata. Tapi seakan ia tidak bisa
menggapainya. Ayah, andai saja Ya! Andai saja ia bisa dekat dengan beliau,
mungkin ia bisa bahagia sekarang. Tanpa harus merasakan kekakuan yang
menyelimuti rumah ini.
Pagi, Ayah! sapa Annisa, begitu dia melihat Ayah sudah terlebih dulu berada di meja
makan. Sebuah pertanyaan ketus, terdengar begitu Annisa duduk di kursinya.
Dari mana kamu kemarin? Pulang sampai sore? pertanyaan itu terasa memerahkan
telinga bagi yang mendengarnya.
Apa pantas seorang gadis berjilbab keluyuran sampai sore? Apa gunanya jilbab yang
kamu pakai itu? Kalau kelakuanmu masih seperti itu? Annisa memandang kakaknya
tak berkedip. Tega sekali Mbak Ine mengatakan kalimat yang tidak sepantasnya
diucapkan seorang kakak pada adik kandungnya sendiri.
Maksud Mbak Ine, saya? Annisa menunjuk dadanya sendiri.
Kalau bukan kamu, siapa lagi? Annisa mengurungkan niatnya memegang sendok,
begitu Ine kakak perempuannya itu menampakkan muka masamnya. Mbak Ine juga
berjilbab. Apakah pantas mengucapkan kalimat kasar pada adiknya? Apa pantas
seorang muslim seperti Mbak Ine, bersuudzan padanya? Batin Annisa perih.

Kamu nggak punya telinga? sentak Ine saat menyadari Annisa tetap pada diamnya.
Ine! sentak Edo tak suka dengan omongan Ine. Annisa segera berdiri, tapi teguran
ayah membuatnya merasa enggan.
Habiskan sarapanmu dulu, baru boleh pergi! ucap Ayah dingin. Annisa memandang
Mas Edo, begitu Edo mengangguk mengiyakan, Annisa kembali duduk. Mereka
kembali makan tanpa percakapan. Beberapa menit kemudian, Annisa pamit pada Ayah
dan kakaknya.
Heh...! Langsung pulang. Jangan keluyuran, mau jadi cewek jalanan kamu? suara
ketus Ine kembali terdengar. Tapi Annisa sudah tidak mau peduli. Kalau ia terus
mendengarkan kalimat-kalimat pedas kakaknya, hanya akan menambah luka yang
hampir mengering di dalam hatinya. Luka yang lama tak kunjung sembuh, masih saja
bertambah dengan luka yang baru.
Ine! sentak Mas Edo lagi. Tanpa menggubrisnya, Annisa segera pergi. Mengingat
kekakuan keluarganya selama ini, Annisa hanya bisa menyesalkannya. Tapi rasanya,
sesal juga tak kan pernah berguna. Hampir 17 tahun usianya, tapi selama kurun waktu
yang terbilang lama itu, tak pernah ia merasakan hangatnya suasana kekeluargaan. Ia
punya Ayah, Mas Edo, dan Mbak Ine. Tapi hanya mas Edo yang mau mengerti
dirinya, mengerti akan kesepian hatinya, mengerti akan luka hatinya. Hanya Mas Edo
yang terus menguatkan dirinya, memberinya nasehat agar lebih mendekatkan diri
pada Allah. Karena kedekatan pada Allah akan menentramkan hati kita. Tak ada yang
tahu, kalau setiap malam Annisa selalu bersujud, memohon pada Allah agar beban ini
cepat berlalu dari kehidupannya. Memohon agar ketentraman keluarganya segera utuh
dan mendapatkan ridho-Nya. Dan Annisa berharap, saat bahagia itu segera tiba. Allah
pasti mendengar harapannya!
Nesi kamu melamun lagi?sebuah suara mengagetkan Annisa yang masih dalam
lautan pikirannya. Ia hanya tersenyum kecut, menyadari Novi sudah berada di
sampingnya.
Nesi! goda Novi lagi. Membuat Annisa melebarkan matanya.
Kapan, sih? Kamu mau panggil namaku dengan benar? Namaku Annisa, Annisa Nur
Jannah Bachtiar, bukannya Nesi. Memangnya kucing kamu? sewot Annisa, tapi
hanya berupa gurauan. Ia takkan pernah bisa marah pada sahabat dekatnya itu. Novi
hanya nyengir kuda.
Hei, ini kantin, Non! Tempatnya orang makan, bukannya melamun. Ngapain, sih?
Berantem lagi sama Mbak Ine? Annisa hanya menghela nafas pendek. Dia sendiri
tidak tahu, kenapa Mbak Ine selalu sewot padanya. Padahal, Annisa adalah adiknya
satu Ibu.
Mungkin kamu nyakitin hatinya, ya? Atau kamu selalu membantah kata-katanya?
Annisa menggeleng perlahan. Perasaan, dia nggak pernah menyakiti hati Mbak Ine.
Dia selalu diam, kalau Mbak Ine mulai sewot padanya.
Kalau Mas Edomu yang cakep itu?
Kalau dia baik. Walaupun lahir dari Ibu yang berbeda, Mas Edo nggak pernah
menyakiti hatiku. Dia baik dan sayang padaku, jelas Annisa. Untung aku bukan
kamu Nesi. Kalau aku yang berada di posisimu saat ini, mungkin aku nggak akan
tahan punya Ayah dan Kakak, yang sikapnya dingin sekali batin Novi dalam hati.
Kenapa kamu nggak lari saja dari rumah? usul Novi. Annisa tertawa spontan.
Gila kamu. Mau lari kemana? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, selain Ayah dan
kakak-kakakku.
Sorry Nes, aku nggak... Novi menggantungkan kalimat yang akan diucapkannya.
Aku tahu niat kamu baik Nov, tapi idemu itu gila, tahu? ujar Annisa dengan
tawanya.
Sudahlah, kamu nggak usah ikut mikirin masalahku ini. Bisa meledak otakmu!
celetuk Annisa yang terdengar miris. Kasihan sekali..

Sore itu, Annisa sengaja menghampiri Ayah yang sedang duduk santai di taman,
ditemani kicau burung peliharaan beliau. Jujur, belum pernah sekalipun Annisa
mencoba mendekati Ayah dan bicara dari hati ke hati. Sikap kaku Ayah, yang
membuatnya enggan melakukan semua itu.
Sore, Ayah! sapa Annisa lembut. Dia memberanikan dirinya duduk di kursi kosong
di samping Ayah.
Ayah. Nisa ingin tahu sesuatu tentang. Annisa merasakan kerongkongannya
terasa kelu. Kata-kata yang telah disiapkannya tadi seakan menguap entah terbang
kemana. Dan kalimat itu kini benar-benar menggantung.
Tentang Ibu, lanjutnya. Dan kata-kata itu, mampu membuat Ayah menoleh ke
arahnya.
Ayah, Nisa sudah 17 Tahun. Nisa ingin mengetahui cerita tentang Ibu, mengenal
beliau, walau dari cerita. Ayah mau kan bercerita? pinta Annisa mengharap. Ayah
memandang putrinya dengan tatapan tajam. Yang dirasakan Nisa lebih tajam dari pada
pedang. Setelah menunggu beberapa saat, tanpa ada jawaban. Annisa bermaksud
meninggalkan ayahnya.
Nisa! suara berat Ayah benar-benar menghentikan langkahnya. Annisa
membalikkan badannya dan kembali mendekat. Sepintas, dilihatnya ada mendung
bergayut di wajah sang Ayah yang selama ini dilihatnya begitu dingin.
Kamu masih menginginkan cerita tentang ibumu? tanya Ayah tanpa memandang
Nisa. Dengan cepat Annisa mengangguk, tapi cepat ia sadar kalau lelaki setengah
abad itu tidak sedang memandangnya. Annisa kembali duduk begitu dilihatnya Ayah
memulai ceritanya. Kata Ayah, Ibu wanita yang cantik, anggun. Ayah merasa sungguh
beruntung memilikinya. Ibu mau mencintai Edo seperti anaknya sendiri. Kasihnya
pada Edo dan Ine tiada beda, tiada istilah anak kandung ataupun anak tiri.
Sejenak Ayah menghentikan ceritanya. Dihelanya nafas panjang sebelum melanjutkan
ceritanya. Ayah dan Ibu bertemu, dua tahun setelah kematian ibunya Mas Edo. Annisa
menyentuh lengan ayahnya, begitu melihat ada kesedihan terpancar di mata yang
kelam itu. Betapa saat itu Annisa ingin memberikan kekuatan pada ayahnya. Dengan
terbata-bata, Ayah kembali bercerita. Betapa ibu sangat bahagia, ketika Nisa berada
dalam kandungannya. Walaupun sebenarnya rawan bagi Ibu untuk melahirkan.
Namun, Ibu tetap mempertahankan Nisa. Walaupun dokter menyarankan untuk
digugurkan, mengingat jantung ibu yang lemah. Annisa melihat mata Ayah mulai
membentuk butiran kristal yang mungkin dalam satu kedipan saja air di sudut mata itu
membasahi pipinya.
Hingga lahirlah kamu kamu dengan selamat, tapi ibumu harus membayarnya
dengan Ayah jangan teruskan! Nisa menitikkan air mata yang semula ingin
dibendungnya, ada rasa nyeri dalam hatinya.
Itu sebabnya Ayah dan mbak Ine benci pada Nisa? Karena Nisa yang menjadi
penyebab ucapan Annisa terhenti. Titik air terlihat menggenang di pelupuk mata
ayah.
Ayah tidak pernah membencimu. Tiap melihatmu, bayangan ibumu semakin nyata.
Ayah tidak akan sanggup. Perlahan Nisa menyusut air mata ayahnya dengan
jemarinya. Belum pernah dilihatnya Ayah serapuh ini.
Ayah, boleh Nisa melihat foto Ibu? Annisa meminta dengan hati-hati. Ia tidak ingin
membuka luka hati yang mendera ayahnya.
^^^
Annisa terpana ketika melihat kamar Ayah. Selama ini, ia tidak pernah berani
memasuki kamar ini. Kamar yang tertata rapi penuh dengan barang-barang antik.
Ayah berhenti pada sudut kamar, ada sekotak lemari tembok yang tertutup tirai biru
muda dengan pernik bunga matahari. Annisa berdiri di samping ayahnya, dengan
perasaan tak menentu. Perlahan, Ayah menarik tali tirai. Nisa terpana beberapa saat,
dilihatnya seraut wajah nampak di sebuah foto berukuran ekstra besar.
Kau memang mirip ibumu. Annisa menatap foto itu tanpa berkedip. Seumur
hidupnya, baru kali ini ia melihat wajah Ibu. Itupun hanya lewat foto, ada rasa bahagia
membuncah memenuhi dadanya. Saat ia tahu, kalau dirinya mewarisi kecantikan
alami Ibu. Ayah mengulurkan tangannya untuk menutup tirai itu tapi Annisa
mencegahnya.
Mengapa Ayah tidak mencoba untuk tetap mengenang Ibu? Ayah tidak harus
melupakan Ibu dengan menutup foto beliau seperti itu, kan? Biarkan Ibu abadi di hati
Ayah. Juga di rumah ini, pinta Annisa penuh harap.
Biar foto itu terpampang, hingga tiap saat, Ayah bisa memandangnya. Dan
merasakan Ibu masih ada di antara kita. Nisa yakin, luka dan kepedihan yang ada di
hati Ayah akan mengering dengan sendirinya,
Ayah menatap Nisa dengan sinar matanya yang teduh. Ada kesejukan terasa mengaliri
hatinya. Diraihnya kepala Annisa dalam dekapannya dengan segenap rasa sayang
yang selama ini terabaikan.
Ine mengawasi dari balik pintu yang terkuak. Dihapusnya air yang mengalir di
pipinya. Selama ini ia berbuat tidak adil pada adiknya. Dirinya selalu beranggapan
Annisa lah penyebab meninggalnya Ibu. Kini ia sadar anggapan itu salah. Semua yang
terjadi memang takdir Sang Pencipta. Ine berjanji pada dirinya sendiri, ia akan
membagi kasihnya pada Annisa, seperti Ibu dulu membagi kasihnya untuk dirinya dan
Mas Edo.