Anda di halaman 1dari 8

Didusun Oleh:

ANGGA AKBAR A.
XII IPS 4
24

SMA NEGERI 1 MOJOSARI


TAHUN AJARAN 2007/2008
Jl. Pemuda No. 55 Tlpn. (0321) 591457
Mojosari-Mojokerto
REINGKARNASI

Rara namanya dia anak yang cantik, anggun, pintar, kaya-raya, baik hati, dan ceria.
Dia anak yang sempurna sangat sempurna, tapi hanya satu kekurangannya yaitu tidak
mempunyai tubuh yang sehat. Sekarang dia duduk di kelas enam di bangku sekolah
dasar dan kini sedang menghadapi ujian akhir.

Lalu setelah lulus, dia mendapat nilai tertinggi sekabupaten. Dia masuk sekolah yang
bernama SMP 2, sekolah terfavorit di wilayah ini. Suatu hari ayahnya memberi
sebuah kamar tidur yang diberi nama oleh Rara ialah Father.
Kenapa diberi nama seperti itu?, tanya ibu
Karena ayah jarang pulang ke rumah, lagi pula ini adalah hadiah yang sangat
berharga bagiku. Karena di dalamnya terdapat mainan, buku-buku, dan juga alat-alat
musik yang Rara sukai ma, jawab Rara dengan girang.

Di sekolah Rara dikenal anak yang ramah dan pintar, tapi baru seminggu Rara
bersekolah di sana. Ibunya meninggal karena mengalami kecelakaan lalu-lintas di
Surabaya. Setelah pemakaman ibunya yang tercinta, Rara tidak mau pergi sekolah
selama sepuluh hari. Selama sepuluh hari itu Rara terus menangis di kamar Father-
nya. Lama-kelamaan ayahnya bosan mendengar suara tangisan pilu anaknya yang
kehilangan ibu kandung tercintanya itu. Sebenarnya ayah juga merasa sedih tapi apa
mau dikata yang sudah pergi biarlah pergi karena tak dapat kembali lagi. Dalam
pergulatan pikiran tersebut munculah ide dalam benak ayah Bagaimana kalu ayah
menikah lagi!.

Rara menyetujuinya, kemudian ayah menikah dengan tante Martha cinta pandangan
pertama ayah. Dua hari kemudian Rara kembali bersekolah, walaupun kadang-kadang
Rara teringat ibunya yang sudah meninggal. Dia berusaha untuk tidak menangis
karena dalam benaknya selalu terngiang Ibumu meninggal karena dia ingin
memberimu seorang adik, jadi ibu tirinya sekarang sedang mengandung. Namun
lima bulan kemudian, ternyata anak yang dikandung tante Martha mengalami
keguguran. Setelah itu tante tak bisa mempunyai anak lagi. Karena itulah, tante
Martha sangat sayang kepada Rara dan menganggap Rara sebagai anaknya sendiri.
Tiga minggu kemudian ayah Rara berdinas ke Bandung. Tiba-tiba dua hari setelah itu,
ayahnya terserang penyakit jantung dan tak dapat ditolong lagi kemudian meninggal.
Terus dan terus menangis, Rara mengurung diri di kamar pemberian ayahnya. Serasa
bila memasuki kamar Father-nya seperti sedang dipeluk ayahnya. Pelukan itu
sangatlah hangat, pelukan itu melambangkan betapa ayahnya sangatlah
menyayanginya.

Sebulan kemudian, Rara masuk sekolah lalu teman-temannya dengan raut wajah
khawatir menanyakan keadaannya. Setelah itu meminta maaf ketika mengetahui
bahwa ayah Rara telah meninggal. Setelah beberapa hari bersekolah, perubahan sikap
Rara muncul kepermukaan. Biasanya dia ceria namun kali ini dia menjadi pendiam
dan tadinya sangatlah ramah menjadi pemarah. Karena dia tahu diam-diam beberapa
temannya telah memanfaatkannya. Lalu terjadilah isu atau omongan-omongan yang
tak enak didengar telinga khususnya bagi Rara. Misalnya seperti Rara judes,
Bawel, Jahat, mau menangnya sendiri, dan lain-lain.

Lama-lama Rara jadi tak tahan mendengarnya, juga sikap teman-teman yang mulai
menjauhinya. Tiba-tiba dalam suatu pertengkaran Ehk, Rara pingsan. Tubuhnya
membentur lantai kelas, kemudian dia dilarikan ke rumah sakit. Tante Martha sedari
tadi bolak-balik di ruang tunggu rumah sakit. Dia tak sabar menunggu berita dari
dokter tentang keadaan anak tirinya itu. Rara, dia terserang penyakit jantung
mendadak. Sejak kejadian itu, sikap Rara mulai berubah. Caranya memandang orang,
senyum yang tak nampak di bibirnya yang merah merekah.

Empat minggu kemudian penyakit jantungnya kembali menyerang dan bertambah


parah. Namun ada satu hal yang aneh yaitu kelainan pada bagian hatinya. Dokter
sendiripun tidak tahu penyakit tersebut dan penyebab penyakit tersebut. Sakit itu
bertambah parah, dokter menganjurkan Sebaiknya Rara pindah sekolah, mungkin
lingkungan sekolahnya yang sekarang tidak cocok untuknya, ibu Rara mengangguk
lalu segera melaksanakan anjuran dokter.

Setelah sampai di rumah, ibu menasehati Rara agar mau pindah sekolah. Kemudian
Rara menyutujui, dengan berkata Memang lingkungan sekolah Rara yang sekarang
tidak cocok dengan kondisi hati Rara. Apalagi dengan suasana wajah teman-teman
ketika menatap Rara.
Akhirnya Rara pindah sekolah, dia pindah di sekolah sebelah sekolahnya yang dulu.
Dia mendapatkan teman sebangku yang bernama Era. Era adalah anak yang baik,
ramah, dan juga sabar. Dia orang pertama yang begitu tahu perasaan Rara, walaupun
Rara tak pernah menceritakannya kepada Era. Di sekolah ini rata-rata murid-muridnya
bersikap cuek, tidak ambil peduli atas kedatangan Rara. Tapi Rara mempunyai teman
yang sangat membencinya yaitu Laila. Dia anak yang berprestasi bagus dalam
pelajaran, namun ketika Rara datang dia mulai merasa tersaingi.

Suatu hari Rara memerlukan ketenangan untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan


soal Era, aku mau tanya. Di mana tempat yang tersembunyi dan tak ada orang sama
sekali?, tanya Rara ketika itu. Wajah Era agak berubah Di sana, di sebelah
laboratorium IPA. Di sana ada pohon yang menutupi benda yang cukup mengerikan di
dalam tanah, jawab Era dengan wajah agak pucat. Rara cuek dengan perkataan
temannya yang aneh itu, bergegas dia menuju tempat tersebut. Tiba-tiba,
Tunggu, jangan kesitu!
Kenapa?
Di situ berbahaya, yang kumaksudkan sesuatu yang ada di dalam tanah,
perkataannya terhenti. Kepalanya menunduk, kemudian menatap lekat Rara Sesuatu
itu adalah mayat. Mayat seorang lelaki, dia adalah murid sekolah ini. Dia mati karena
digigit ular kobra. Saat ditemukan mayatnya tinggal tulang-belulang tapi ketika
diangkat. Tiba-tiba saja, tulangnya masuk kedalam tanah. Kejadian itu sangat aneh,
aku juga pertama-tama tak percaya. Namun setelah melihat sendiri, arwah lelaki
tersebut yang melayang. Dia selalu berkata Aku akan membunuhmu, dengan kepala
merunduk, ucap Era dengan nada sangat meyakinkan
Terima kasih atas pemberitahuanmu, tapi aku tak percaya dengan hal seperti itu.
Kalau memang ada, aku tak takut, ucap Rara tenang.

Akhirnya Rara nekat juga pergi ke lab IPA, dengan buku fisikanya dia duduk di
samping pintu bagian depan lab IPA. Lalu dia mulai belajar dengan serius seperti
biasanya. Perlahan-lahan timbul warna cokelat melayang-layang di udara.
Membentuk seorang lelaki yang berwajah pucat menatap Rara. Rara diam saja seolah-
olah dia tak melihatnya. Bayangan cokelat itu kini sedang duduk di samping Rara
sambil terus memperhatikan sosok gadis itu. Keadaan sekitar sepi, bagai sekolah
sudah tak ada kegiatan lagi. Di samping kanan adalah dedaunan yang menutupi gerak-
gerik Rara. Arwah itu mulai berbicara Kau tak takut padaku?, namun Rara tidak
angkat bicara Aku bertanya padamu, kali ini suaranya lebih keras Mengapa aku
harus takut padamu, sedangkan aku tidak tahu sifatmu!, seru Rara Oh, begitu,
arwah itu diam sejenak Bagaimana kalau kita berteman, supaya kau mengetahui
sifatku yang sebenarnya?. Suara itu sangat dingin, membuat bulu guduk berdiri
tegak. Rara merasakannya jelas, tapi kecuali dengan kata teman itu. Terdengar hangat
dan ramah, tiba-tiba saja jantung Rara berdegup. Dia terperanjat kaget melihat
tampang bayangan cokelat itu. Wajahnya tampak kusut, saat itu mata bayangan
tersebut sedang menatap tanah kosong Baiklah, aku akan jadi temanmu, kata-kata
itu keluar begitu saja dari mulut Rara. Setelah menjawab, ada perasaan aneh yang
menyelimuti hati Rara. Perasaan yang tak diketahuinya, tapi rasanya sangatlah
menyenangkan. Namun Aah, ringis Rara sambil memegang dadanya Lepaskan
tanganmu, aku akan menyembuhkanmu
Kau sebenarnya siapa?
Namaku Randi, aku adalah orang yang sudah meninggal. Jadi orang yang sudah
mengalami mati itu bisa berbuat apa saja sekehendak hati

Randi membuka baju Rara dan menyilak kaos dalamnya yang terlihat sekarang hanya
pakaian dalam Rara. Randi menyentuh Rara dibagian dadanya, perlahan-lahan Randi
menghisap darah Rara melalui jari-jarinya yang dingin. Randi menyentuhnya sampai
rasa sakit gadis itu hilang.

Dari hari ke hari, mereka semakin dekat dan akrab.Setiap penyakit Rara kambuh,
Randi selalu melakukan hal sama. Semakin sering dia melakukan itu semakin
pucatlah wajah Rara. Akhir-akhir ini Rara cepat sekali capek, namun Rara sama sekali
tak menyadarinya. Suatu ketika Rara pulang dengan berjalan kaki seperti biasanya.
Tak sengaja Rara menabrak seorang lelaki yang sudah setengah baya Maaf kek, saya
tak sengaja, ucap Rara dengan membungkukkan badannya Aku tidak apa-apa, hei
kenapa wajahmu nak. Mengapa pucat sekali?
Ah masa, aku tak merasakannya. Memangnya bapak siapa?, tanya Rara penasaran.
Aku adalah paranormal. Ehmbisa kulihat telapak tangan kirimu, pinta kakek
dengan mengulurkan tangan kanannya. Dengan ragu-ragu Rara mengulurkan tangan
kirinya Wah nak, kau hebat sekali!, seru kakek kagum Apanya kek?
Kau pasti kenal dengan Randi. Sebaiknya kau menjauhi arwah warna cokelat itu.
Sebab dia ingin bermaksud jahat padamu, Randi sedang memanfaatkanmu nak. Dia
menyedot darah segarmu. Randi sengaja menawarkan pertemanan kepadamu agar
dapat mencelakaimu, setelah bebicara kakek pergi begitu saja.

Sepanjang jalan Rara hanya memikirkan kejadian yang barusan saja dialaminya. Ada
yang memusnahkan sesuatu yang berada di hatinya. Memusnahkan rasa saat pertama
kali bertemu dengan Randi, memusnahkan semua perasaan yang dia alami ketika
melalui hari bersama Randi.

Setelah sampai rumah ibu menyuruh Rara untuk meminum obat Ma, apalagi sih
ngapain aku meminum obat. Lagian penyakit jantungku sedang tidak kumat, tolak
Rara Wajahmu pucat sayang, lagian juga penyakitmu belum sembuh benar. Ayo
diminum, ibu menjulurkan tangannya yang sudah memegang obat dan air minum
Tidak!,tukas Rara.

Semalaman Rara terus memikirkan kejadian tadi, yang ada di benaknya sekarang
terngiang-ngiang di pikiran Teman-temanmu di SMP dulu semuanya membencimu,
lalu Laila juga sangat membencimu. Dan teman satu-satunya ingin membunuhmu!

Esoknya Rara mencari Randi, dia sudah memasrahkan dirinya untuk dibunuh Randi.
Ternyata Rara lebih memilih mati dari pada hidup di dunia ini. Mereka bertemu di
tempat di mana mereka biasa bertemu Randi, aku sudah mengetahui maksudmu
untuk menjadi temanku, ucap Rara sambil menatap wajah bayangan cokelat Bagus,
aku tidak menyangka kalau kau sampai menyerahkan dirimu. Sekarang kau sudah
tahu dengan sifatku yang sebenarnyakan?
Aku masih belum mengetahui sifatmu yang sebenarnya, tapi Aku ingin kau
melanjutkan penghisapan darahku, aku mohon. Randi segera melakukannya,
kemudian dia membuka baju Rara. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, saat
Randi ingin menyentuh dada gadis itu. Waktu terhenti dan
Siapa yang melakukan ini?, tanya Randi sambil berteriak
Aku kobra
Kaukan sudah lama menghilang!, teriak Randi semakin kesal
Yah dan sekarang aku seperti kamu. Randi, sebenarnya kau sukakan pada cewek
ini?
Apa maksudmu, aku suka dengan gadis ini. Itu tidak mungkin!
Jangan lakukan itu Randi. Karena bila kau membunuhnya, kau tak akan bisa
berenkarnasi. Walaupun dia mati, kau tak akan bisa bertemu dengan dirinya lagi
Aku tidak peduli!
Bohong, sebenarnya kau sangat memudulikannya. Karena kau menyukainya!
Tidak, aku sama sekali tidak menyukai gadis berpenyakitan ini
Kalau itu perasaanmu yang sebenarnya. Lakukan, hisap darahnya sebanyak yang kau
inginkan dan bersiap-siaplah untuk jadi arwah gentayangan untuk selama-lamanya!.
Randi berfikir sejenak, lalu timbul perasaan yang aneh yang sulit dijelaskan. Tiba-tiba
saja perasaan enggan untuk membunuh Rara timbul, memenuhi seluruh tubuhnya.
Perlahan-lahan bayangan cokelat itu menjauhi Rara dan mulai menghilang.

Waktu berjalan kembali, Rara ditemukan pingsan tanpa baju terbuka sedikitpun.
Bajunya Rapih seperti sediakala. Rara kemudian langsung di larikan ke rumah sakit.
Ketika sadar, dia menceritakan perihal dirinya kecuali arwah itu. Karena dia hanya
ingin menyimpannya sendiri, hanya dia seorang tidak boleh ada orang lain.

Setelah Rara sembuh, dia langsung mencari Randi namun dia sama sekali tak
menemukan sosok bayangan cokelatnya itu. Beberapa hari Randi tidak diketemukan
Rara. Rara mulai gelisah dan berfikiran yang bukan-bukan. Suatu hari Randi di mana
kamu, apakah kau sudah tak mau bertemu denganku. Aku tak akan memintamu untuk
menghisap darahku lagi, aku janji, dengan nada penuh rasa cemas. Rara bersender di
tembok samping pintu, tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang pundaknya
Eh
Hai, hantunya sudah tak muncul lagi ya?
Ya, jawab Rara lemas kemudian dia menatap wajah orang tersebut Randi!,
teriak Rara gembira. Setelah mata itu melihat kebawah, Rara merasa heran. Kaki
milik Randi menyentuh tanah Kau masih mengenaliku Rara. Aku telah berenkarnasi,
aku sekarang sama persis sepertimu, dia memang Randi. Hantu yang berwarna
cokelat yang selalu menemani Rara ketika pelajaran kosong, ketika istirahat, ketika
ingin pulang sekolah, ketika Rara masih di sekolah. Rara merasa senang apa yang
telah dikatakan Randi. Apalagi dia sudah tak merasakan bulu guduknya berdiri setiap
Randi membuat kata. Randi memperkenalkan kawan yang berdiri di belakangnya Ini
adalah kobra sahabatku. Dia yang telah membantuku berenkarnasi seperti ini agar
dapat bertemu denganmu terus. Dia juga sama sepertiku, berenkarnasi, ucap Randi
sambil membuat singgungan senyuman di bibir Rara. Namun senyum di bibir Randi
tidak berlangsung lama. Rara pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan sebuah
senyuman yang manis. Yang telah hilang sejak kedua orang tuanya meninggal. Rara
meninggal di pelukan Randi, teman terbaiknya. Sambil mengeluarkan air mata, Randi
membawa Rara ke pantai, sayup-sayup terdengar sebuah lirik

Anginbawalah dirinya kesana


Anginbahagia hatinya kini
karena telah mendapat teman di sisinya
Oh anginpantai