Anda di halaman 1dari 3

Presentasi diri atau sering juga disebut manajemen impresi (impression management)

merupakan sebuah tindakan menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu untuk
mencapai sebuah citra diri yang diharapkan. Presentasi diri yang dilakukan ini bisa
dilakukan oleh individu atau bisa juga dilakukan oleh kelompok individu/tim/organisasi

B. Strategi dalam Presentasi Diri

Terdapat beragam bentuk strategi dalam presentasi diri yang biasa dilakukan
orang. Beberapa diantaranya adalah

1. Menyenangkan penonton (audience pleasing).


Ini adalah perilaku yang dirancang untuk membuat penonton merasa senang.
Misalnya membuat lawakan atau guyonan. Untuk membuat kesan bahwa diri kita
adalah orang yang menyenangkan.

2. Konstruksi diri (self construction).


Ini adalah presentasi diri yang dimaksudkan untuk membenarkan pandangan kita
terhadap diri kita sendiri. Misalnya kita berpandangan bahwa diri kita baik hati.
Lalu kita akan berbuat kebaikan, misalnya membantu anak terlantar, agar
mendapat kesan bahwa kita memang baik hati.

3. Ingratiasi (ingratiation).
Ini adalah usaha yang disengaja untuk menciptakan kesan baik. Banyak orang
berupaya melakukan ini. Dorongan berbuat baik karena ingin memperoleh pujian.
Misalnya menyumbang jumlah besar pada orang susah, membantu kaum miskin,
sampai memberikan uang pada pengemis hanya untuk dianggap dermawan.

4. Promosi diri.
Ketika tujuan seseorang adalah supaya dilihat nampak kompeten atau ahli pada
tugas tertentu, strategi promosi diri biasanya digunakan. Orang yang menggunakan
strategi ini akan menggambarkan kekuatan-kekuatan dan berusaha untuk memberi
kesan dengan prestasi mereka. Melebih-lebihkan tentang kemampuan diri dapat
beresiko mereka dianggap sombong, dan tidak dapat dipercaya. Menyadari masalah
ini, cara yang digunakan adalah tidak langsung sehingga memungkinkan orang lain
sampai pada kesimpulan bahwa dia kompeten. Jadi strategi ini adalah tindakan
yang dirancang untuk membuat seseorang tampak lebih kompeten. Biasanya para
pencari kerja berusaha melakukan promosi diri pada saat wawancara kerja. Mereka
berupaya menunjukkan diri mampu dan layak diterima kerja.

5. Intimidasi (Intimidation).
Ini adalah strategi presentasi diri dimana orang mengkomunikasikan suatu
kemampuan dan kecenderungan untuk menyebabkan orang lain menghasilkan
sesuatu yang negatif. Misalnya pamer kekayaan untuk membuat seseorang merasa
rendah diri.

6. Eksemplifikasi (exemplification).
Orang yang menggunakan strategi ini berusaha memproyeksikan penghargaannya
pada kejujuran dan moralitas. Biasanya mereka mempresentasikan dirinya sebagai
orang yang jujur, disiplin dan baik hati atau dermawan, Kadang-kadang
penampilan yang ditunjukkan ini memang keadaan yang sebenarnya, namun yang
sering pengguna strategi ini berusaha memanipulasi dan tidak tulus hati dalam
melakukannya. untuk melakukan strategi-strategi yang tersebut di atas. Biasanya
yang dilakukan adalah melakukan kritik pada diri sendiri.

Gaya Presentasi diri Self-Monitoring (Pemantauan Diri)

Setiap orang akan berbeda dalam cara mempresentasikan diri mereka. Beberapa
orang lebih menyadari tentang kesan publik mereka, beberapa orang mungkin lebih
menggunakan persentasi diri yang straregik, sementara yang lain lebih menyukai
pembenaran diri (verifikasi diri).

Menurut Mark Snyder (1987), perbedaan ini berkaitan dengan suatu ciri sifat
kepribadian yang disebut dengan self-monitoring yaitu kecenderungan mengatur
perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutaan situasi sosial. Dengan
demikian, self-monitoring adalah kecenderungan untuk merubah perilaku dalam
merespon terhadap presentasi diri yang dipusatkan pada situasi (Brehm & Kassin,
1993).

Atau menurut Worchel, dkk. (2000), self-monitoring adalah menyesuaikan perilaku


terhadap norma-norma situasional dan harapan-harapan dari orang lain. Sementara
Brigham (1991) menyatakan self-monitoring merupakan proses dimana individu
mengadakan pemantauan (memonitor) terhadap pengelolaan kesan yang telah
dilakukannya.

Individu yang memiliki se!f-monitoring yang tinggi, menitikberatkan pada apa yang
layak secara sosial dan menaruh perhatian pada bagaimana orang berperilaku
dalam setting sosial. Mereka menggunakan informasi ini sebagai pedoman tingkah
laku mereka. Perilaku mereka lebih ditentukan oleh kecocokan dengan situasi
daripada sikap dan perasaan mereka yang sebenarnya. Mereka cakap dalam
merasakan keinginan dan harapan orang lain, terampil atau ahli dalam
mempresentasikan beberapa perilaku dalam situasi-situasi berbeda dan dapat
merubah cara-cara presentasi diri atau memodifikasi perilaku-perilaku untuk
menyesuaikan dengan harapan orang lain. High self-monitors digambarkan sebagai
orang yang memiliki pragmauic self. Mereka dapat disebut juga sebagai
pengelola kesan yang lihai (skilled impression managers).

Sebaliknya individu yang termasuk rendah dalam pemantauan diri, cenderung lebih
menaruh perhatian pada perasaan mereka sendiri dan kurang menaruh perhatian
pada isyarat-isyarat situasi yang dapat menunjukkan apakah perilaku mereka sudah
layak. Dalam suatu alat tes yang dinamakan self-monitoring Scale yang disusun
oleh Mark Snyder dapat diketahui bahwa ternyata orang mempunyai variasi secara
luas dalam kesiapan dan kemampuan untuk memantau diri mereka sendiri.