Anda di halaman 1dari 34

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EPIDEMIOLOGI

PENYAKIT DIARE PADA ANAK BALITA

AKADEMIK KEPERAWATAN ANTARIKSA JAKARTA

GAMBARAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DIARE PADA ANAK BALITA

DI PUSKESMAS PONDOK GEDE

TAHUN 2012

OLEH :

RIAN AFRIZAL

NIP :

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

AKADEMIK KEPERAWATAN ANTARIKSA JAKARTA

TAHUN 2012
PERYATAAN PERSETUJUAN

Proposal Penelitian ini telah disetujui dan diperiksa oleh Dosen Pembimbing Bapak Muhammad

Hadi, SKM, MKep, dengan judul proposal gambaran epidemiologi Penyakit diare pada anak

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Keperawatan Universitas

Muhammadiyah Jakarta.

Jakarta, Februari 2012

Pembimbing

(Muhammad Hadi, SKM, MKep)


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan karunia-Nya

penulis dapat menyelesaikan laporan proposal penelitian.

Laporan proposal penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan

untuk tugas akhir semester pada Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Jakarta.

Dalam penulisan proposal penelitian ini penulis memperoleh banyak bimbingan, saran,

dan bantuan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan itu penulis ingin menyampaikan terima

kasih dan penghargaan yang setinggi - tingginya kepada Muhammad Hadi, SKM, MKep atas

segala jerih payah beliau membimbing penulis selama penulisan hingga selesainya proposal

penelitian ini.

Jakarta, Februari 2012

Penulis
DAFTARISI

PERNYATAAN PERSETUJUAN ....................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................ .......... ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................ ............................. 1

B. Perumusan Masalah................................................................ 2

C. Tujuan Penelitian.................................................................... 3

1. Tujuan Umum..................................................................... ................................ 4

2. Tujuan Khusus .................................................................... ................................ 4

D. Ruang Lingkup ................................................................... ............................... 4

E. Manfaat Penelitian .............................................................. ............................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Diare ................................................................... ............................ 6

B. Penyebab Kejadian Diare ..................................................... ............................ 6

C. Penyebab Lain ...................................................................... ........................... 9

D. Cara Penularan ...................................................................... ........................... 10

E. Ukuran Frekuensi Penyakit .................................................. .......................... 10

F. Epidemiologi Diare ............................................................ 15

G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare ......... 16


BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konseptual............................................................... 23

B. Definisi Operasional........................................................... ..... 24

BAB IV METODOLOGI PEELITIAN

A. Jenis Penelitian................................................................... . 26

B. Populasi dan Sampel.......................................................... . 26

C. Lokasi............................................................................... ... 27

D. lnstrumen Penelitian......................................................... ... ...27

E. Pengumpulan Data............................................................... .......................... 27

F. Analisa Data....................................................................... . 27

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 29

LAMPIRAN ................................................................................................... 30
BABI
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit diare masih merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan

masyarakat Indonesia, baik ditinjau dari segi angka kesakitan maupun angka kematiannya.

Penyakit ini dapat menyerang semua golongan umur dengan angka kesakitan berkisar 280 per

1000 penduduk dan untuk balita menderita satu sampai satu setengah kali episode diare setiap

tahunnya atau 53% dari semua kesakitan diare.(Dep.Kes.RI,1998).

Angka kematian diare pada semua umur selama dasawarsa terakhir dapat diturunkan dari

110,1 per 100.000 penduduk (1985) rnenjadi 56 per 100.000 penduduk

( 1995). Sedangkan kematian karena diare pada kelompok balita diturunkan dari 5,7 per seribu

balita menjadi 2,5 per seribu balita pada episode yang sama. (Dep. Kes.RI,1998)

Bedasarkan UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang ditetapkan bahwa

pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan

hidup sehat bagi seiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan

dengan pendekatan pemeliharaan kesehatan yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan.
Diare dapat timbul dalam bentuk KLB dengan jumlah penderita dan kematian yang besar.

Fasilitas kasus (CFR) terjadi penurunan yang cukup bermakna dari 35 % (awal Repelita I)

menjadi dibawah 3 % pada akhir Repelita VI. Penurunan CFR yang nyata dikarenakan makin

meningkatnya manajemen penanggulangan KLB. (Dep.Kes. RI, 1998).

Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 proporsi penyakit

infeksi dan parasit sebagai penyebab kematian adalah 22,7%. Kematian bayi dibawah umur 1

tahun 33,5% disebabkan oleh gangguan prenatal dan 32,1% oleh penyakit sistem pernapasan.

Diare sebagai bagian dari kelompok penyakit infeksi dan parasit, proporsinya sebesar 9,6 %

sebagai penyebab kematian pada bayi dibawah 1 tahun.

Pada kematian anak balita golongan umur 1-4 tahun, proporsi penyebab kematian paling

tinggi adalah penyakit sistem pernapasan yaitu sebesar 38,8%, kemudian penyakit diare serta

infeksi/parasit lain masing-masing sebesar 14,3%.

Kematian anak pada kelompok umur 1-4 tahun terutama disebabkan oleh penyakit infeksi

dan parasit dengan proporsi sebesar 44,7%, pernapasan 13%. Sedangkan pada kelompok umur

15-34 tahun, penyakit infeksi dan parasit menduduki peringkat pertama sebagai penyebab

kematian yaitu sebesar 36,5%, berturut-turut infeksi dan parasit lain 16,8%, kemudian TBC

13,9%.

Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare disebabkan oleh beberapa faktor

yaitu antara lain kesehatan lingkungan yang belum memadai, keadaan gizi, kependudukan,

pendidikan, faktor musim dan geografi daerah, keadaan sosial pencegahan pemberantasan

penyakit diare tidak akan berhasil baik tanpa adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat

untuk ikut berpartisipasi didalamnya serta kesiapan petugas kesehatan dilapangan. yang ditandai

oleh penduduknya hidup dalam lingkungan perilaku


B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dibuat suatu

Rumusan masalah sebagai berikut : bagaimana gambaran epidemiologi dan faktor-faktor yang

berhubungan dengan terjadinya penyakit diare pada anak balita.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan mengetahui gambaran epidemiologi penyakit diare di Puskesmas Pondok Gede

tahun 2012.

2. Tujuan Khusus

1) Diketahui hubungan antara karakteristik balita (umur, jenis kelamin, status gizi) terhadap

penyakit diare di Puskesmas Pondok Gede tahun 2012.

2) Diketahui hubungan antara faktor pendukung (petugas kesehatan, penatalaksanaan) terhadap

penyakit diare di Puskesmas Pondok Gede tahun 2012.

3) Diketahui hubungan antara faktor lingkungan (sumber air minum, jamban keluarga) terhadap

penyakit diare di Puskesmas Pondok Gede tahun 2012.


D. Ruang Lingkup

Mengingat luasnya masalah dan terbatasnya waktu serta kemampuan yang ada pada

penulis, maka penulis membatasi masalah yaitu bagaimanakah gambaran epidemiologi penyakit

diare pada anak balita dengan mewawancarai orang tua sebagai koresponden di Puskesmas

Pondok Gede tahun 2012.

E. Manfaat Penelitian

1. Untuk Menambah ilmu pengetahuan tentang program penyakit menular khususnya penyakit

diare.

2. Sebagai bahan masukan untuk perencanaan dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit

diare dimasa yang akan datang di Puskesmas Pondok Gede tahun 2012.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Diare

Penyakit diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan

konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi gerak lebih dari

biasanya, lazimnya tiga kali atau lebih dalam sehari (Depkes RI, 1993).

B. Penyebab Kejadian Diare

Penyebab penyakit diare bisa bermacam-macam yaitu antara lain infeksi, intoxikasi,

malabsorbsi, alergi dan keracunan.

1. Penyebab Diare Infeksius

Bakteri, virus dan parasit adalah merupakan penyebab utama diare infeksius. Penyebab

diare karena infeksi dapat disebabkan oleh organisme yang berbeda-beda serta gejalanya sulit

dibedakan antara satu dengan yang lainnya.

a. Bakteri

Ada beberapa jenis bakteri yang merupakan penyebab paling penting penyakit diare

terutama yang menyerang bayi.

b. Vibrio cholera

Vibrio cholera mempunyai 2 biotope yaitu tipe El Tor dan Mask selain itu ada 2 serotipe

yaitu Ogawa dan Inaba. Pada tauhn 1961 biotipe El Tor pernah menyebabkan pandemi ketujuh.
c. Shigella:

Genus Shigella dibagi menjadi 4 kelompok serologik yaitu :

Shigella flexneri, adalah kelompok yang paling sering terdapat di Negara berkembang.

Shigella sonei adalah kelompok yang terdapat di negara maju.

Shigella dysentriae tipe 1 adalah penyebab epidemi dengan angka kematian tinggi.

Shigella biydii, kelompok ini jarang ditemui

Pada umumnya Shigella hanya ditemukan pada manusia dan beberapa jenis binatang

primata. Penyebarannya melalui kontak langsung antara orang yang satu dengan orang yang

lainnya. Dengan dosis infeksius yang rendah (10 s.d 100 organisma) sudah dapat menyebabkan

sakit. Penularan penyakit terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Depkes

RI, 1990).

d. Salmonella

Terdapat lebih dari 2.000 serotipe Salmonella, dimana sekitar 6 s.d 10 diantaranya

menyebabkan gastroenteritis pada manusia. Dalam hal ini binatang seperti misalnya unggas

adalah reservoir utama. Oleh karena itu penularan penyakit oleh Salmonella dapat terjadi apabila

mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan unggas, daging, telur dan susu. Gastroenteritis

yang diakibatkan Salmonella yang menyerang anak kecil relatif jarang terjadi di negara

berkembang dibanding dengan daerah industri. Hal ini dimungkinkan karena di negara

berkembang pada umumnya anak kecil jarang diberi makanan dalam kaleng yang merupakan

media bagi salmonella. Gastroenteritis yang diakibatkan Salmonella biasanya berbentuk diare

cair akut dengan diikuti rasa mual, nyeri perut dan demam (Depkes RI, (990).
e. Escherichia coli (E. Coli)

Sampai saat ini sudah ditemukan lima kelampok Ecoli yaitu enterotoxigenic (ETEC),

enterohaemorrhagic (EPEC), enteroadherent (EAEC), enteroinvasive (EIEC), dan

enterohaemorrhagic (EHEC).

f. Infeksi Virus

Virus menyebabkan 50 % semua diare pada anak yang datang berobat kesarana

kesehatan. Rotavirus dapat menyerang sel-sel usus, mengubah fungsi dan regenerasinya.

Keadaan ini menyebabkan diare dan gejala umum misalnya malaise dan demam. Penyembuhan

terjadi bila permukaan mukosa telah regenerasi (Depkes RI, 1990).

g. Infeksi Parasit

Menurut Sunoto (1990) ada beberapa golongan protozoa yang dapat menyebabkan diare yaitu :

1. Entamoeba histolytica

Insiden penyakit ini bertambah sesuai dengan pertambahan usia. Infeksi ini sering salah

diagnosiskan sebab menentukan ptotozoa ini tidak mudah dan parasit ini sering dikira leukosit

polimorfonuklear. Penyebaran terjadi melalui makanan dan minuman. Kista E.histolytica sangat

kebal terhadap desinfektan kimia, termasuk klorinasai. (Depkes RI, 1990).

2. Cyptosporidium

Cyptosporidium adalah parasit bentuk kokus yang ada pada awalnya dikenal sebagai

penyebab diare pada binatang. Mula-mula ditemukan sebagai penyebab diare cair pada yang

menurun kekebalan tubuhnya, khususnya penderita AIDS. Di negara berkembang parasit ini

menyebabkan 4-11 % kasus diare pada anak Cryptosporidiasis ditularkan melalui jalur fekal-

oral. (Depkes RI, 1990).


3. Giardia lamblia

Giardia lamblia tersebar luas di seluruh dunia, dengan angka prevalensi infeksi sampai

100 % pada beberapa penduduk. Anak berumur 1-5 tahun paling sering dijangkiti. Infeksi

Giardia lamblia biasanya melalui makanan, minuman atau manular dari orang ke orang.

Penularan dari orang ke orang terjadi terutama pada anak yang tinggal di keluarga yang terlalu

padat atau tempat penitipan anak (Sunoto, 1990).

C. Penyebab Lain

Selain beberapa penyebab di atas, diare juga bisa disebabkan oleh faktor faktor lain

misalnya obat, keadaan karena pembedahan, penyakit lain dan infeksi sistematik serta intoleransi

makanan.

lntoleransi makanan karena kekurangan laktase atau alergi terhadap makanan dapat

menyebabkan diare. Tuberkulosis saluran pencernaan. penyakit granulomatosiskronik usus

misalnya penyakit crohn dan beberapa jenis tumor dapat juga menimbulkan diare. (Depkes RI,

1990).

D. Cara Penularan

Agen infeksius yang menyebabkan penyakit diare biasanya ditularkan melalui jalur fecal-

oral, terutama karena (Depkes RI, 1990):

1. Menelan makanan yang terkontaminasi (terutama makanan sapihan) atau air.

2. Kontak dengan tangan yang terkontaminasi.

3. Beberapa faktor dikaitkan dengan bertambahnya penularan kuman enteropatogen perut

termasuk (Depkes RI, 1990) :


4. Tidak memadainya penyediaan air bersih (jumlah tidak cukup).

5. Air tercemar oleh tinja.

6. Kekurangan sarana kebersihan (pembuangan tinja yang tidak higienis).

7. Kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek.

8. Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya.

9. Tindakan penyapihan yang jelek (penghentian ASI yang terlaiu dini, susu botol,

pemberian ASI yang diselang-seling dengan susu botol pada 4-6 bulan pertama).

E. Ukuran Frekwensi Penyakit.

Ditinjau dari sudut epidemiologi, upaya mengukur frekwensi masalah kesehatan ini

termasuk dalam epidemiologi deskrihtif karena hanya sersifat menggambarkan tentang jumlah

masalah kesehatan yang ditemukan saja (Azrul Azwar, 1999).

Beberapa ukuran frekwensi penyakit menurut Azrul Azwar adalah sebagai berikut :

1. Rate

"Rate" ialah perbandingan suatu peristiwa dibagi dengan jumlah penduduk memungkin

terkena peristiwa yang dimaksud (population at risk) dalam waktu yang sama yang dinyatakan

dalam persen atau permil.

Rate biasanya digunakan untuk menggambarkan morbiditas penduduk menderita suatu

penyakit naik atau turun disuatu daerah pada waktu tertentu. Beberapa ukuran rate yang biasanya

digunakan adalah sebagai berikut (Azrul Azwar, 1999).


a. Insiden Rate

Insiden rate adalah jumlah penderita baru suatu, penyakit yang ditemukan pada suatu

jangka waktu tertentu (umunnya satu tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang

mungkin terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan

dalam persen atau permil.

contoh : pada suatu daerah dengan jumlah penduduk pada tanggal 30 Juli 1999 sebanyak seratus

ribu orang yang semuanya rentang terhadap penyakit, ditemukan laporan penderita baru sebagai

berikut : Bulan Januari 50 orang, Maret 100 orang, Juni 150 orang, September 10 orang dan

bulan Desember 90 orang.

b. Prevalen

Prevalen ialah gambaran tentang frekwensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada

suatu jangka tertentu ,disekelompok masyarakat tertentu. Dengan perkataan lain pada

perhitungan nilai prvalen dipergunakan jumlah seluruh penduduk. Ditinjau dari sudut ini, jelas

bahwa angka prevalen sebenamya bukan suatu rate yang murni, karena mereka yang tidak

mungkin terkena penyakit,

c. Atteck Rate

Atteck Rate atau angka serangan sebetulnya adalah suatu angka insiden tetapi ada angka

serangan resiko seseorang untuk mendapatkan penyakit langsung dalam waktu singkat, ini

mungkin karena faktor penyebab penyakit tersebut hanya bereaksi dalam tempo yang singkat

misalnya keracunan makanan atau wabah (Azrnl Azwar 1999).


d. Angka fatalitas (Case Fatality Rate)

Angka fatalitas adalah suatu perbandingan yang dinyatakan dengan Angka fatalitas biasa

digunakan untuk melihat keganasan suatu penyakit dan dapat pula melihat keberhasilan

pelayanan kesehatan pada suatu daerah atau

fasilitas kesehatan pada waktu tertentu.

e. Ratio

Misalnya sex ratio, yaitu perbandingan antara jumlah penduduk perempuan. Ratio

biasanya digunakan untuk melihat kecenderungan ratio jumlah laki-laki terhadap jumlah

perempuan pada tahun tertentu, apakah lebih sedikit atau lebih banyak (Azrul Azwar, 1999).

f. Porsi

Misalnya, "proporsi penyakit diare di Rumah sakit A tahuan 1999 adalah 10 berarti

jumlah kejadian penyakit diare di Rumah sakit A tahun 1999 adalah dari seluruh kasus penyakit

yang ada di wilayah Rumah sakit A. Proporsi biasanya digunakan untuk mengukur angka suatu

penyakit terhadap penyakit lainnya. Semakin tinggi angka proporsi ini berarti semakin banyak

kejadian penyakit tersebut dibandingkan dengan penyakit lainnya dalam suatu wilayah dan

waktu tertentu (Azrul Azwar 1999).

F. Epidemiologi Diare

Epidemiologi diare dapat diartikan sehagai suatu study menganai kejadian diare,

penyebarannya dan faktor-faktor yang menentukan terjadinya diare pada kelompok penduduk.
1. Penyebaran Diare Menurut Orang

Penyakit diare lebih banyak menyerang golongan umur anak balita pada daerah endemis,

sedangkan pada waktu terjadinya kejadian luar biasa (KLB) dapat menyerang semua golongan

semua umur. Kejadian diare di Indonesia diperkirakan 40-50 per 100 penduduk per tahun,

dimana 70 % - 80 % dari padanya terjadi pada golongan umur balita. Insiden tertinggi terdapat

pada usia dibawah 2 tahun (Sunoto, 1979 ; dalam Asnil dkk, 1982).

2. Penyebaran Diare Menurut Ternpat

Penyebaran diare di suatu ternpat dengan tempat lainnya berbeda. Perbedaan tersebut

disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian diare itu diataranya keadaan

geografis, kebiasaan penduduk, kepadatan penduduk dan pelayanan kesehatan. (Depkes'RI,

1990).

Secara teoritis diketahui bahwa penularan diare dipengaruhi oleh sanitasi dan hygiene

perorangan, namun adanya perbedaan insiden di suatu tempat juga dipengaruhi oleh spesifikasi

tempat tersebut. Misalnya tempat pemukiman kumuh dengan jumlah penduduk yang padat akan

lebih mudah terjadi penularan secara cepat bila dibandingkan dengan pemukiman lain yang tidak

padat.

3. Penyebaran Diare Menurut Waktu

Penyebaran diare dapat berada dalam frekwensi dan waktu tertentu. Variasi kajadian

diare rnenurnt waktu berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya. WHO pemah mengadakan

penelitian dimana diketahui bahwa insiden diare dipengaruhi oleh iklim (WHO, 1985).
Sedangkan menurut Winardi Bambang (1982) diperkirakan sekitar 10 % dari kunjungan

ke Rumah Sakit, Balai Pengobatan, Puskesmas, berdasarkan laporan dari seluruh Indonesia

adalah penderita penyaklit diare serta terlihat pula adanya variasi musim hujan (September -

Januari).

G. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Diare

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare antara lain faktor gizi. kepadatan

penduduk, sosial ekonomi, perilaku, dan kesehatan lingkungan (Sutoto.1992 ).

1. Faktor Gizi

Beratnya dan lamanya diare sangat dipengaruhi oleh status gizi penderita. Pada penelitian

yang cermat insiden diare pada anak bergizi kurang ternyata saran dengan anak yang gizinya

baik. Namun anak yang gizinya menderita diare lebih berat dan keluaran tinja lebih banyak

sehingga dehidrasi lebih berat. Juga diare pada anak bergizi kurang berlangsung lebih lama,

sebagian karena penyembuhan dan perbaikan kerusakan usus akibat infeksi lebih lambat terjadi

pada anak yang gizinya kurang (Depkes RI. 1990).

Jadi proses diare dan gizi kurang merupakan lingkaran setan. Diare mendorong anak ke

arah gizi kurang, dan gizi kurang mendorong anak ke arah diare yang lebih berat. Bila lingkaran

ini tidak diputus pada waktunya mungkin dapat amat berat atau karena infeksi lain menimbulkan

kematian, karena diare yang misalnya penemonia. (Depkes RI, 1990).


2. Faktor Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk yang padat dapat memudahkan terjadinya penularan diare. Kelompok

usia di bawah lima tahun merupakan kelompok umur yang paling banyak menderita diare.

Penelitian tentang hubungan pengetahuan, sikap dengan kejadian diare pada anak balita yang

tinggal bersama ibu dan jumlah anggota keluarga banyak mempunyai hubungan yang bermakna.

(Tandiyo, 1984).

Selain itu rumah tinggal dengan kepadatan 10 meter persegi atau lebih untuk tiap orang,

didapati kejadian diare anak balita 10,3 % di kota dan 9,7 % di desa. Sedangkan kepadatan

kurang dari 10 meter persegi tiap orang 11,8 % dan 13,5 %.

Rumah tinggal merupakan kebutuhan pokok disamping sandang dan pangan. Demi

kenyamanan tinggal di rumah maha seharusnya rumah memenuhi kebutuhan kondisi tempat

tinggal yang sehat. Rumah yang sehat dengan memenuhi tata ruang yang memenuhi syarat dapat

menghindari terjadinya dan menularnya penyakit. Kepadatan hunian adalah satu unsure

kenyamanan tinggal di rumah, perlu dipikirkan dan diupayakan 10 meter persegi atau lebih tiap

orang, mengingat kepadatan hunian termasuk factor yang mempunyai pengaruh dominan

terhadap kejadian diare anak balita. Dalam analisis ini hampir 60,% anak balita tinggal di rumah

dengan kepadatan kurang dari 10 meter persegi tiap orang. Anilisis faktor ini menunjukkan anak-

anak balita yang tinggal di rumah dengan kepadatan kurang dari 10 meter persegi tiap orang

mempunyai resiko menderita diare 1,37 kali dibanding anak balita yang tinggal di rumah dengan

kepadatan 10 meter persegi atau lebih tiap orang. Risiko ini mengingat menjadi 1,85 setelah

kepadatan hunian berinteraksi dengan faktor sosial demografi dan lingkungan yang lain (Joko

Iriantc dkk ; Analisis Lanjut SDKI, 1994).


3. Faktor Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi masyarakat yang rendah dapat mempengaruhi tingkat partisipasi aktif

dalam melaksanakan upaya pelayanan kesehatan masyarakat, misalnya meningkatkan fasilitas

kesehatan, meningkatkan status gizi masyarakat. Hal ini merupakan faktor yang berhubungan

dengan kejadian diare di masyarakat. Selain itu masyarakat yang berpenghasilan rendah pada

umumnya mempunyai keadaan sanitasi dan hygiene perorangan yang buruk (Tandiyo, 1984).

4. Faktor Prilaku Masyarakat

Kebiasaan yang berhubungan dengan keberhasilan. adalah bagian terpenting dalam

penularan kuman diare, mengubah kebiasaan tertentu seperti mencuci tangan dapat memutuskan

penularan. Mencuci tangan dengan sabun terutama sesudah buang air besar dan sebelum

menyiapkan makanan atau makan, telah dibuktikan mempunyai dampak dalam kejadian diare

dan harus menjadi sasaran utama dalam pendidikan kebersihan, Sebagai contoh rotavirus dapat

terdeteksi dalam air mencuci tangan dari 79 % perawat pasien yang datang dan dirawat di sebuah

rumah sakit di Banglades karena diare (Akral, 1990).

Menurut Sunoto (1990) penurunan 14-48 % kejadian diare dapat diharapkan sebagai hasil

pendidikan tentang kebersihan dan perbaikan kebiasaan.

Kebiasaan adat istiadat dapat mempeugaruhi kesenatan individu. Oleh sebab itu faktor

kebiasaan merupakan faktor yang penting dalam penyebaran terjadinya penyakit diare antara lain

penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak saniter. Tindakan penyapihan yang jelek

(penghentian ASI yang terlalu dini, susu botol 4-6 bulan pertama) serta kebersihan perorangan

(Depkes Rl; Ajar Diare, 1990).


5. Faktor Kesehatan Lingkungan

Kesehatan lingkungan rnerupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi kejadian

diare di masyarakat. Keadaan kesehatan lingkungan yang berkaitan erat dengan diare adalah

pengadaan air bersih dan jamban keluarga.

Menurut Warsito Sidik (1986) tidak rnereukupinya kebutuhan air bersih akan

menyebabkan masyarakat menggunakan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan untuk

kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Hal ini dapat memudahkan masuknya kuman penyakit dan

terkontaminasinya rnakanan yang akan dikonsumsi masyarakat. penggunaan jamban yang tidak

saniter akan semudahkan cara penularan penyakit diare. Berdasarkan penelitian Sidik Wasito di

Sumedang menunjukkan bahwa pada kelompak keluarga yang membuang kotoran secara saniter

mempunyai angka terkena penyakit diare lebih rendah dibandingkan dengan keluarga yang

membuang kotoran yang tidak saniter.

Angka kejadian penyakit diare ternyata dipengaruhi pula oleh kwalitas persediaan air

bersih (minum) Sutrisno Eram (1977) meingatakan bahwa kejadian tersangka kolera ternyata

lebih tinggi di wilayah air dangkal (Kabupaten Sleman, Bantul dan Kodya Yogyakarta).

Sedangkan Sumantri dkb: (1979) mendapatkan dari 68 keluarga di pinggiran kota Semarang,

sebanyak 17,65 % mempergunakan air minum "baik" dan 82,35 % air minum kotor (rakteri E.

Col' positif) dengan kejadian yang berbeda bermakna (ignatius SP; 1980).

Selain itu penggunaan jamban yang benar dapat mengurangi risiko diare lebih baik dari

pada perbaikan sumber air, walaupun dampak yang paling tinggi dapat diharapkan dari gabungan

kebersihan dan perbaikan sumber air. Hasil penelitian dampak proyek sumber air dan kebersihan

28 negara menunjukkan penurunan angka kesakitan diare 22-27 % dan penurunan angka

kematian diare 21-30 % (Sunoto, 1990).


6. Faktor Musim

Penyakit diare adakalanya dipengaruhi oleh musim. Pada daerah yang bermusim tropis,

diare oleh bakteri cenderung terjadi lebih sering pada musim panas. Sedangkan diare oleh virus

terutama oleh rotavirus cenderung terjadi Sepanjang tahun dengan peningkatan kekerapan

sepanjang bulan musim kemarau. Sedangkan diare oleh bakteri cenderung memuncak pada

musim hujan (Depkes KL.Ajar Diare, 1990).


BAB III
KERANGKA KONSFPTUAL DEFINISI OPRASIONAL

A. Kerangka Konseptual

Sesuai dengan masalah yang dibahas maka penulis mencoba menuangkan kerangka

konsep atau kerangka berpikir, dengan menggunakan hubungan yang paling dasar yaitu

hubungan antar dua Variabel yaitu variabel pengaruh (indevenden variabel ) atau variabel bebas

dengan variabel terpengaruh (deveneden variabel ) atau variabel terikat ( Masri Singarimbun dan

Sofyan Effendi, 1987 ). Untuk kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

B. Definisi Operasional

1. Definisi Diare

Kejadian diare adalah buang air besar, lembek cair bahkan dapat berupa air saja yang

frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari)

2. Umur

Umur adalah kelompok umur penderita diare yang dibagi menjadi :

< 1 tahun

1 - 4 tahun

> 5 tahun
Definisi Operasional

No Nama Variabel Definisi Operasional Ketegori Skala


A. Variabel Dependen
1 Kejadian diare Buang air besar pada balita lebih 1=bukan diare Ordinal
pada balita dari 3 kali sehari dengan 2=diare
konsistensi encer/lebek bahkan
daoat beruoa air saia
B. Variabel Independen
1. Umur ibu Usia responden pada saat 1= >20 Tahun Ordinal
pengumpulan data dihitoog 2=21 30 Tahun
berdasarkan tahoo kelahiran 3= 31 tahun keatas
2. Jenis kelamin Status gender penderita yang 1= laki-laki Norminal
dapat diketahui dari penampilan 2= perempuan
fisik yang bersangkutan
3. Tingkat Sekolah formal yang telah 1= rendah Ordinal
pendidikan ditamatkan responden pada saat 2= sedang
penelitian 3= tinggi
4. Pekerjaan ibu Mata pencaharian utama 1= bekerja Ordinal
resoonden oada saat oenelitian 2= tak bekerja
5. Pengetahuna ibu Pemahaman responden berkaitan 1 = rendah Ordinal
ASPEK TATALAKSANA
6. Penanganan diare Perilaku yang dilakukan oleh 1 = tidak dilaksanakan Ordinal
oleh etugas petugas dalam menangani 2 = dilaksanakan
kesehatan diaredipelayanan kesehatan
7. Pemberian obat Perilaku responden dalam 1 = tidak diberikan Ordinal
dirumah oleh pemberian obat dirumah setelah 2 =diberikan
responden dari pelayanan kesehatan
ASPEK PERILAKU
8. ASI/Susu Perilaku ibu dalam pemberian 1 = tidak Ordinal
formula/minum ASI atau susu botol saat anak 2 = ya
banyak diare
9. Pemberian Pemberian makanan saat anak 1 = kurang Ordinal
makanan diare oleh ibu apakah ditingkatkan 2 = tidak
atau dipuasakan
10. Higiene Perilaku ibu terhadap kebersihan 1 = buruk Ordinal
perorangan sehari-hari dirumah terutama 2 = baik
perawatan anak
11. Pembuangan tinja Perilaku ibu dalam membuang 1 = buruk Ordinal
balita tinja anaknya ke WC 2 = baik
ASPEK PENCEGAHAN
12. Pemberian Memasukkan vaksin campak 1 = tidak Ordinal
imunisasi campak untuk menambah daya tahan 2 = ya
tubuh anak
13. Sumber air Sumber air minum dijadikan 1 = buruk Ordinal
minum fasilitas keluarga/masyarakat 2 = baik
untuk minum
14. Sumber air untuk Sumber air yang dijadikan 1 = buruk Ordinal
MCK fasilitas keluarga sehari-hari 2 = baik
15. Higiene sanitasi Keadaan kebersihan lingkungan 1 = buruk Ordinal
yang mempengaruhi kejadian 2 = baik
diare
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat diskriptif analistik dengan menggunakan pendekatan desain cross

sectional untuk mengetahi masalah kesehatan khususnya penyakit diare yang menimpa pada

masyarakat yang bertujuan untuk. Mengetahui gambaran tentang pola dan kecenderungan diare

pada anak balita di Pulau laut RSAL Dr. Mintohardjo Jakarta pusat Tahun 2004 dan

memperkirakan adannya hubungan antara variabel dependen dan variabel independen

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi datam penetitian ini adalah 1066 penderita diare yang berada dalam di Pulau laut RSAL

Dr. Mintohardjo Jakarta pusat selama tahun 2004.

2. Sampel

Sampel datam penelitian ini adalah 10% dari 1066 populasi kasus diare yang tercatat dalam

laporan di Pulau laut RSAL Dr. Mintohardjo Jakarta pusat Tahun 2004 yaitu 107 anak balita

C. Lokasi

Pulau laut RSAL Dr. Mintohardjo Jakarta pusat alasan pemilihan lokasi ini
karena mudah dijangkau serta memiliki Jumlah Populasi yang memadai

D. Instrumen Penelitian

lnstrumen yang dipakai adalah data sekunder berupa arsip laporan bulanan program P2

diare. Dan data penunjang seperti W2 (Laporan Mingguan Wabah), laporan bulanan sistem

survailans terpadu, serta kasus diare yang dilaporkan oleh bidan desa dan kader diare petugas

puskesmas pembantu.

E. Pengumpulan data

Pengumpulan data yang dipakai adalah primer (observasi langsung kelapangan dengan

melihat dan membagi kuesioner) dan data sekunder yang tercatat di Pulau laut RSAL Dr.

Mintohardjo Jakarta pusat serta kasus yang dilaporkan oleh Bidan Desa, petugas puskesmas

pembantu, serta kader diare dari tahun 2004 yang ada di puskesmas Ciracas Jakarta Timur

F. Analisa Data

Data dikumpulkan dan dianalisa serta secara manual dengan membuat tabal, distribusi

dan grafik dari tabel dan grafik itu dilakukan analisa dan interprestasi :

a. Analisa univariat

Untuk mengetahui gambaran penyakit diare dan distribusi berdasarkan karakteristik penderita

penyakit diare.

b. Analisa Bivariat

Untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel dependen dan variabel independen dengan

menggunakan rumus Chi Square


Rumus =

= Statistik Chi Square

= Jumlah

D = Nilai yang diamati

E = Nilai yang diharapkan


LEMBAR PERTANYAAN

IDENTITAS RESPONDEN

Nama Balita : ..Umur..TB.Cm BBKg

Nama Responden. : Umur .tahun.

Alamat : ...

Petunjuk Pengisian :

1. Jawablah pertanyaan yang ada pada kuesioner denganjawaban yangjujur

2. lsilah kotak kosong yang disediakan disamping pertanyaan dengan' memberi tanda ceklis (v)

dcngan mcnggunakan Bolpoint tinta warn a hitam

3. Sebagai contoh : apabila ibu mengetahui ten tang penyakit diare isilah kolom sebelah kanan

dengan memberi tanda ceklis (v) yang anda anggap benar ? Contoh :

Apakah ibu.mengetahui tentang penyakit diare ?

1) Tidak [v]

2) Ya [ ]

1. Pendidikan :
1. Tidak tamat SD [ ]

2. SD [ ]

3. SLTP [ ]

4. SLTA [ ]

5. Perguruan Tinggi [ ]

2. Pekerjaan :

1. PNS [ ]

2. Karyawan Swasta [ ]

3. Pedagang [ ]

4. Petani [ ]

5. Buruh [ ]

6. Tidak Bekerja ibu rumah tangga [ ]

3. Jenis Kelamin :

1) Laki-laki [ ]

2) Perempuan [ ]

4. Status gizi :

1) Baik [ ]

2) Sedang [ ]

3) Buruk [ ]

5. Apakah anda mendengar atau mendapat penyuluhan dari petugas kesehatan tentang
pcnyakit diare ?

1. Pernah [ ]

2. Tidak Pemah [ ]

6. Menurut anda apa yang dimaksud dengan diare ?

1. Buang air besr lebih dari 4 kali sehari [ ]

2. Tinja encer dan sering [ ]

3. Tidak tahu [ ]

7. Menurut ibu, bila anak menderita diare, bagaimana bentuk kotorannya :

1. Tidak tahu [ ]

2. Padat [ ]

3. Bercampur darah [ ]

4. Cair/encer [ ]

8. Bila seorang anak menderita diare/mencret, berapa kali sehari ia buang air besar?

1) 1 kali [ ]

2) 2 kali [ ]

3) 3 kali [ ]

4) > 3 kali [ ]

9. Menurul ibu, apa yang menyebabkan anak sakit diare ?

1) Tidak tahu [ ]

2) Masuk angin [ ]

3) Cacingan [ ]

4) Makanan tidak bersih [ ]

10. Menurut ibu, apakah anak yang diare dapat menularkan penyakitnya pada orang lain?
1) Tidak tahu [ ]

2) Dari tangan langsung kemulut [ ]

3) Dari kuman penyebab penyakit [ ]

masuk melalui minumanlmakanan

11. Bagaimana cara mencegah diare ?

1) Tidak tahu [ ]

2) Anak jangan diberi ASI [ ]

3) Menjaga kebersihan tangan, [ ]

makanan dan minuman

12. Bila bayi ibu menderita diare, apakah ASlnya masih boleh diteruskan ?

1) Tidak [ ]

2) Ya [ ]

13. Mcnurul ibu bagaimana cara mcncuci peralalan makanan yang benar?

1) Tidak tahu [ ]

2) Dengan air dicelupkan ke ember [ ]

3) Dengan air bersih dari sabun [ ]

14. Menurut anda, apa tindakan yang dilakukan petugas kesehatan di Puskesmas I Klinik

terhadap diare ?

1. Diberi oralit [ ]

2. Diberi obat tambahan [ ]


3. Di infuse [ ]

4. Pertolongan lambat [ ]

5. Dipersulit / tidak ditangani [ ]

15. Setelah diberi obat dari Puskesmas, apakah obat tersebut diberikan sesuai instruksi

dokter ?

1. Ya, diberikan [ ]

2. Kadang-kadangjika ingat [ ]

3. Disimpan untuk persediaan [ ]

16. Menurut anda, berapa meter jarak yang benar antara We ke sumur ?

1. 1 m 3 m [ ]

2. 4 m 6 m [ ]

3. 7 m 10 m [ ]

17. Menurut anda, sumber air minum yang baik berasal dari mana?

1. Air pam [ ]

2. Sumur gali [ ]

3. Sumur pompa tangan [ ]

4. Air sungai [ ]

18. Jika anda tidak setuju, apa yang anda lakukan dalam pemberian makanan terhada

penyakit diare ?

1. Setuju [ ]

2. Tidak setuju [ ]

19. Jika anda tidak setuju, apa yang anda lakukan dalam pemberian makanan terhadap
penderita penyakit diare?

1. Ditingkatkan [ ]

2. Biasa saja [ ]

3. Dikurangi [ ]

20. Menurut kebiasaan anda, kemana buang tinja/buang air besar ?

1. WC [ ]

2. Empang [ ]

3. Pembuangan air cucian [ ]

4. Kebun / sawah [ ]

5. Sungai /se\okan [ ]

***** Terima Kasih Atas Kerjasama Ibu Dalam Mengisi Kuesioner Ini

Dengan Lengkap dan Jujur *****