Anda di halaman 1dari 7

Pengaruh Efek Samping Kemoterapi Terhadap Harga Diri Penderita Kanker Payudara

di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2012.

Janno Sinaga * Eva Kartika Hasibuan ** Novi Setia W***

Abstrak

Kemoterapi merupakan salah satu pengobatan pada pasien kanker. Efek samping kemoterapi dapat
menyebabkan rasa mual, muntah, rambut gugur, perubahan warna kulit, perubahan bentuk tubuh, dan
kelemahan. Keadaan ini dapat menimbulkan penilaian negatif terhadap diri sendiri dan menjadi tidak percaya
diri menurunkan harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh efek samping kemoterapi
terhadap harga diri penderita kanker payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2012, dengan pendekatan
cross sectional, dan sebanyak 47pasien kanker yang menjalani kemoterapi menjadi responden dengan tehknik
pengambilan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85,1% responden mengalami efek
samping kemoterapi berat dan 53,2% memiliki harga diri rendah. Hasil uji statistik dengan Chi Square
menunjukkan ada pengaruh yang signifikan efek samping kemoterapi terhadap harga diri penderita kanker di
RSUP H Adam Malik Tahun 2012. Saran penelitian ini agar keluarga terdekat dan perawat/ tenaga kesehatan
memberikan dukungan yang positif terhadap pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, dengan
melibatkan pasien dalam berbagai aktivitas sosial dan komunikasi efektif.

Kata kunci : Kanker Payudara, Efek Samping Kemoterapi, Harga Diri.

PENDAHULUAN toksik yang minimal sampai sedang (Sukardja,


2000). Pemberian kemoterapi dapat melalui rute
Kanker payudara merupakan kanker yang paling topikal, oral, intravena, intramuskular, subkutan,
sering terjadi dibeberapa negara dan penyebab arteri, intrakavitasi, dan intratekal. Rute pemberian
kematian terpenting bagi wanita. Kanker leher tergantung pada tipe obat, dosis yang dibutuhkan,
rahim menempati urutan pertama dan kanker jenis, lokasi, dan luasnya tumor yang diobati
payudara menempati urutan kedua. Dibawah usia (Smeltzer & Bare, 2008). obat kemoterapi
30 tahun, kanker payudara sangat jarang terjadi. mempunyai target dan efek merusak sel yang
Sedangkan Pada wanita usia 30 tahun keatas dan berbeda dan tergantung pada siklus selnya
sudah terlebih dahulu terjangkit kanker payudara (Sukardja, 2000). Obat kemoterapi aktif pada sel
memiliki resiko tinggi (Jong, 2004). Penyebab pasti yang sedang membelah dan bereproduksi, sehingga
kanker payudara hingga saat ini belum diketahui, sel tumor yang aktif merupakan target utama dari
namun banyak faktor yang diperkirakan kemoterapi. Namun, sel yang normal tidak tertutup
mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker kemungkinan akan terpengaruh kemoterapi. Karena
payudara antara lain wanita yang berusia 25 tahun sel normal juga aktif bereproduksi. Sehingga yang
keatas, wanita yang belum menikah usia 35 tahun, akan muncul adalah efek samping dari obat
siklus menstruasi tidak teratur, terpapar radiasi, kemoterapi (Diananda, 2009). Dari data Medical
riwayat keluarga dan masih banyak faktor-faktor Record Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
lain yang terkait dengan gaya hidup (Hawari, Malik Medan Tahun 2012, jumlah pasein yang
2004). menderita kanker payudara ada sebanyak 1.305
orang dan pasien kanker payudara yang menjalani
Pengobatan kanker yang dilakukan antara lain kemoterapi ada sebanyak 540 orang
kemoterapi, radiasi dan pembedahan. Menurut
Lubis & Hasnida (2009), salah satu pengobatan Pengobatan kemoterapi pada umumnya diberikan
kanker payudara adalah kemoterapi yang sesuai siklus jenis kanker. Meskipun ada
bermanfaat mencegah dan mengurangi perbedaan siklus antara jenis kanker yang satu
pertumbuhan sel kanker. Prinsip kemoterapi adalah dengan kanker lainnya, jarak antar siklus pada
pemberian sitostatika yang efektif dengan tingkat
umumnya 3 minggu. Satu pengobatan kemoterapi digunakan tutup kepala untuk menutupi
umumnya perlu waktu beberapa bulan, tetapi kerontokan rambut (Diananda, 2009).
lamanya tergantung banyaknya faktor dan akan 5. Gangguan pada kulit, mulut dan tenggorokan
berbeda-beda untuk setiap pasien (Utami, 2012). seperti kulit tampak kering, membiru atau
Menurut Dalimartha (2008), pengobatan dengan bahkan menghitam, kering, serta gatal,
sitostatika dapat menimbulkan demam bahkan sariawan dan kesulitan menelan dan ngilu
sampai menggigil. Efek sitostatika bereaksi pada tulang (Utami, 2012).
dimulai 6 jam setelah dilakukan pemberian obat 6. Gangguan sistem reproduksi, fungsi
sitostatika. Frekuensi dan beratya efek samping testicular dan ovarium dapat dipengaruhi
tergantung dari jenis obat, dosis, kombinasi obat oleh obat-obat kemoterapi. Ovulasi normal
(Alsagaf, 1995). dan menopause dini dapat terjadi. Pasien pria
dapat mengalami azoospermia temporer atau
Efek samping yang ditimbulkan dari kemoterapi : permanen (tidak adanya spermatozoa). Sel-
1. Gangguan pada sumsum tulang belakang sel reproduktif mungkin mengalami
yang menimbulkan penurunan sel darah kerusakan selama pengobatan dan
putih (leukopenia) yang menyebabkan mengakibatkan abnormalitas kromosom pada
turunnya daya tahan tubuh sehingga lebih keturunan.
rentan untuk terinfeksi seperti influenza, 7. Gangguan sistem neurologis, alkaloid
otitis media (infeksi telinga tengah), sinusitis, tumbuhan dapat menyebabkan kehilangan
dan faringitis (Baradero, 2008). Penurunan refleks tendon profunda, dan ileus paralitik
jumlah trombosit (trombositopenia) dapat terjadi. Sering merasa kesemutan pada
sehinggga mudah mengalami perdarahan dan ekstremitas dan kelemahan motorik
penurunan sel-sel darah merah (anemia). (Baradero, 2008).
2. Gangguan saluran cerna, seperti mual dan
muntah adalah efek samping kemoterapi Menurut Smeltzer (2001), bentuk tubuh,
yang lebih sering terjadi dan dapat menetap kerontokan rambut, perubahan kulit, perubahan
hingga 24 jam setelah pemberian obat pola komunikasi dan disfungsi seksual adalah
(Smeltzer & Bare, 2001). Bahkan beberapa akibat yang menyulitkan dari kanker dan
menyebabkan diare, gastritis, ulkus lambung, pengobatannya yang dapat mengancam harga diri
mual & muntah serata kehilangan nafsu pasien.
makan. Menurut Hudayani (2008),
mengkonsumsi makanan yang baik sebelum, Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi
selama dan setelah pemberian terapi dapat mengekspresikan ketidakberdayaan, merasa malu
membantu pasien merasa lebih baik dan dengan bentuk payudara, ketidakbahagiaan, merasa
bertahan lebih kuat. Sehingga meminimalisir tidak menarik lagi, perasaan kurang diterima oleh
terjadinya mual & muntah. orang lain, merasa terisolasi, takut, berduka,
3. Bersifat toksik pada beberapa organ seperti berlama-lama di tempat tidur, ketidakmampuan
jantung, hati, dan ginjal. Toksisitas dini fungsional, gagal memenuhi kebutuhan dan peran
terjadi beberapa jam hingga beberapa hari dalam keluarga, kurang tidur, sulit berkonsentrasi,
setelah diberikan terapi dan ini biasanya kecemasan dan depresi (Siburian, 2012).
berkaitan dengan pengaruh sitotoksik pada
sel-sel yang aktif membelah diri pada sum- Hartati (2008), mengungkapkan dalam
sum tulang, epitel saluran cerna, kulit dan penelitiannya yang berjudul konsep diri dan
rambut. kecemasan wanita penderita kanker payudara di
4. Rambut rontok hingga bahkan mengalami poli bedah Onkologi RSUP. H. Adam Malik Medan
alopesia (kebotakan). Meskipun kondisi ini bahwa konsep diri berubah hampir pada semua
tidak membahayakan jiwa tapi sangat penderita kanker payudara yang menjalani
mengganggu psikologi penderita kanker. kemoterapi. Perubahan tersebut bukan hanya
Produksi rambut pada folikel selama perubahan fisik saja tetapi juga beresiko mengalami
kemoterapi, menghasilkan batang rambut perubahan-perubahan terhadap harga diri.
yang tipis dan lemah, muncul dari Mayoritas penderita kanker payudara yang
permukaan kulit dan mudah patah. Biasanya memiliki konsep diri negatif adalah 87,9% dan
yang memiliki konsep diri positif hanya 12,1%.
Dari konsep diri negatif tersebut yang mengalami 3. Faktor psikologi individu, ada beberapa
harga diri rendah adalah 63,6%. Mereka merasa keadaan psikologis yang turut menentukan
kehilangan keyakinan dan semangat dalam pembentukan harga diri seseorang. Yaitu hal-
menjalani hidup, merasa tidak diterima dengan hal yang berkaitan dengan konsep kesuksesan
tulus dikeluarga dan lingkungan sekitar, dan kegagalan.
menghalangi dalam beraktivitas sehingga 4. Lingkungan sosial, terbentuknya harga diri
menggangu peranan mereka didalam keluarga. diperoleh dari interaksi individu dengan
lingkungannya, penerimaan, penghargaan serta
Menurut Lubis & Hasnida (2008), harga diri perlakuan orang lain terhadap individu yang
menunjukkan seluruh gambaran yang dapat diraih bersangkutan. Pengalaman bergaul dan
seseorang dengan memberikan nilai benar atau berinteraksi akan memberikan gambaran baik
salah, baik atau buruk. Harga diri merupakan hasil dari segi fisik maupun mental melalui sikap
penilaian individu terhadap dirinya sendiri. dan respon orang lain terhadap dirinya.
Menyatakan suatu sikap berupa penerimaan atau Pengalaman keberhasilan, persahabatan, dan
penolakan dan menunjukkan seberapa besar kematangan akan meningkatkan harga diri.
individu itu percaya bahwa dirinya mampu, berarti, Sebaliknya kehilangan kasih sayang, dijauhi
berhasil dan berharga sesuai keahliannya dan nilai oleh teman-teman dan penghinaan akan
pribadinya. Menurut Mubarak & Nurul (2007), menurunkan harga diri.
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai 5. Situasional, harga diri negatif akan terbentuk
personal yang diperoleh dengan menganalisis karena adanya trauma yang tiba-tiba, misalnya
seberapa baik prilaku seseorang, sesuai dengan harus operasi, kecelakaan, dicerai suami/istri,
ideal dirinya. Harga diri yang tinggi adalah putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan
perasaan yang berakar pada penerimaan diri sendiri malu karena sesuatu terjadi misalnya
tanpa syarat. Walaupun orang tersebut melakukan pemerkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-
kesalahan, kekalahan dan kegagalan, ia tetap tiba, dll (Dalami,dkk, 2009).
merasa sebagai seseorang yang penting dan 6. Penyakit kronis, harga diri sangat dipengaruhi
berharga. oleh lamanya suatu penyakit atau semakin
Harga diri dapat menjadi rendah ketika kronisnya suatu penyakit. Makin kronis suatu
seseorang kehilangan orang yang dianggap penyakit akan mengganggu kemampuan dalam
penting, kehilangan kasih sayang atau cinta kasih, aktivitas yang menunjang perasaan berharga,
kehilangan penghargaan dari orang lain, atau saat ia maka makin besar pengaruhnya pada harga diri
menjalani hubungan yang buruk dengan orang lain. (Siburian, 2012).
Harga diri dapat diperoleh melalui diri sendiri atau
dari orang lain. Aspek utama adalah perasaan
METODE PENELITIAN
dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain.
Manusia cendrung negatif, walaupun ia cinta dan
Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik
mengakui kemampuan orang lain namun jarang dengan pendekatan cross sectional karena
mengekspresikannya (Riyadi & purwanto, 2009).
bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek
Menurut Lubis & Hasnida (2008) Perkembangan samping kemoterapi terhadap harga diri pada
harga diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik penderita kanker payudara di Rumah Sakit Umum
yang berasal dari dalam diri maupun luar individu Pusat H. Adam Malik Medan Tahun 2012, dan
yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut yaitu: pengambilan data hanya dilakukan satu kali saja,
1. Lingkungan keluarga, peranan keluarga sangat waktu penelitian berlangsung. Penelitian ini
mempengaruhi harga diri. dilakukan di Ruang Instalasi Rindu A Rumah Sakit
2. Kondisi fisik, orang cacat cendrung Umum Pusat Haji Adam Malik Medan 2013 jalan
mempunyai harga diri yang rendah karena Bunga Lau No.17. penelitian ini berlangsung mulai
berkurangnya penghargaan sosial terhadap dari 14 Desember 2012 sampai dengan 4 Juni 2013.
dirinya. Seorang individu yang memiliki
ukuran bentuk dan kekuatan tubuh yang Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita
34
kurang dibandingkan dengan orang lain akan kanker payudara yang menjalani kemoterapi di
cendrung mempunyai harga diri yang rendah. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
Medan Tahun 2012 dengan jumlah 540 orang,
terhitung mulai Bulan Januari hingga Desember
2012, dengan rata-rata yang menjalani kemoterapi 2. 800.000 1.500.00 27 57.4
3. >2.000.0000 11 23.4
perbulan sebanyak 45 orang. Sampel yang diambil Total 47 100
dalam penelitian ini adalah penderita kanker
payudara yang menjalani kemoterapi Pengambilan
sampel dalam penelitian ini menggunakan Tabel 2.
accidental sampling yaitu dengan mengambil kasus Distribusi Frekuensi Efek Samping
atau responden yang kebetulan ada atau tersedia Kemoterapi Pada Pasien Kanker Payudara
Di RSUP. H. Adam Malik Medan
disuatu tempat sesuai dengan konteks penelitian
(n = 47 orang)
(Notoadmodjo, 2002). Sebanyak 47 orang
penderita kanker payudara yang menjalani No. Efek samping Frekuensi %
kemoterapi yang dirawat inap menjadi responden 1. Berat 40 85.1
2. Ringan 7 14.9
penelitian. Total 47 100

Instrumen pengumpul data dengan menggunakan


kuisioner yang berisikan pertanyaan tentang efek Tabel 3.
Distribusi Frekuensi Harga Diri Pasien
samping kemoterapi dan harga diri pasien kanker
Kanker Payudara Dengan Kemoterapi Di
yang sedang menjalani kemoterapi. Dan untuk RSUP. H. Ada Malik Medan (n = 47 orang)
mengetahui pengaruh dari kedua variabel
independent dan dependent yaitu pengaruh efek
samping kemoterapi terhadap harga diri pada No. Harga Diri Frekuensi %
1. Tinggi 22 46.8
penderita kanker payudara yang menjalani 2. Rendah 25 53.2
kemoterapi. Maka dilakukan uji statistik dengan Total 47 100
menggunakan uji chi square pada 0,05 dengan
confidence interval (CI) 95 % dengan bantuan Tabel 4.
Hasil Uji Statistik Pengaruh Efek Samping
program komputer.
Kemoterapi Terhadap Harga Diri Pasien
HASIL PENELITIAN Kanker Payudara di RSUP. H. Adam Malik
Medan (n = 47 orang)
Hasil penelitian yang dilakukan pada 47 responden
di dapat bahwa karakteristik responden dapat
dilihat pada tabel dibawah ini : Harga Diri Total
No. Efek
Sampi Tinggi Rendah N % Df Pv
Tabel 1. ng
n % n %
Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien 1. Berat 16 34.0 24 51.1 40 85.1 1 0,025
Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi 2. Ringan 6 12.8 1 2.1 7 14.9
Di RSUP. H. Adam Malik Medan (n = 47 orang)
Total 22 46.8 25 53.2 47 100
No. Umur Frekuensi %
1. 40 48 20 42.5
2. 49 56 17 36.2 PEMBAHASAN
3. 57 64 10 21.3
Total 47 100
No. Pendidikan Frekuensi % Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada
1. SD 3 6.4 47 orang penderita kanker payudara yang menjadi
2. SLTP 10 21.3 responden didapat hasil bahwa mayoritas
3. SLTA 27 57.4
4. Perguruan Tinggi 7 14.9 responden mengalami efek samping kemoterapi
Total 47 100 berat sebanyak 40 orang (85.1%). Hal ini diketahui
No. Pekerjaan Frekuensi %
berdasarkan jawaban responden yang menyatakan
1. IRT 18 38.3
2. Wiraswasta 17 36.2 bahwa 100% responden mengalami mual, 99%
3. Pegawai swasta 5 10.6 responden mengalami muntah, 99% responden
4. PNS 7 14.9
Total 47 100
merasa mudah capek, 96% responden mengalami
No. Status pernikahan Frekuensi % penurunan nafsu makan, 81% responden merasakan
1. Menikah 47 100 nyeri ulu hati, 85% responden mengalami kulit
Total 47 100 kering, 100% responden mengalami kerontokan
No. Penghasilan Frekuensi % rambut dan 96% responden mengalami nyeri pada
keluarga
1. <800.000 9 19.2 persendian.
(2009) berat ringannya efek samping yang
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Faisel ditimbulkan oleh kemoterapi itu tergantung pada
(2012) tentang gambaran efek samping kemoterapi banyak hal, antara lain kondisi tubuh dan psikis.
berbasis antrasiklin pada pasien kanker payudara di Menurut Mubarak (2008) semakin bertambahnya
RSUD Dokter Soedarso Pontianak terhadap 51 usia maka terjadi penuruan biologis maupun
pasien yang menjadi sampel penelitian, didapatkan psikologis. Hal ini sesuai dengan karakteristik usia
tiga efek samping tersering (efek samping yang responden dimana usia responden 40 - 48 tahun
dialami oleh >50% pasien) yaitu alopesia pada 48 yaitu 20 orang (42.5%), usia responden 49 - 56
(94,1%) pasien, mual pada 43 (84,3%) pasien dan tahun yaitu17 orang (36.2%) dan usia responden 57
muntah pada 30 (58,8%) pasien. Efek samping - 64 tahun yaitu 10 orang (21.3%). Dilanjutkan oleh
selanjutnya yaitu myalgia pada 20 (39,2%) pasien, Notoadmodjo (2007), umur merupakan periode
neuropati pada 16 (31,4%) pasien, rentan terinfeksi terhadap pola-pola kehidupan yang baru. Dengan
pada 13 (25,5%) pasien, stomatitis pada 12 (23,5%) bertambahnya umur seseorang akan terjadi
pasien, diare pada 10 (19,6%) pasien dan yang perubahan pada aspek fisik dan psikologi (mental).
paling jarang adalah trombositopenia pada 7
(13,7%) pasien. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa
penderita kanker payudara dengan kemoterapi
Sementara berdasarkan survei dari Health mayoritas memiliki harga diri rendah sebanyak 25
Information National Trends Survey (HINTS) responden (53.2%) terhadap efek samping
(2007) yang dikutip oleh Ananditha (2012) kemoterapi. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas
menunjukkan bahwa 12.239 pasien kanker yang jawaban responden 91% menganggap pengobatan
menjalani kemoterapi, ditemukan efek samping ini menjadi penghalang melakukan aktivitas, 67%
yang serius dan membutuhkan perawatan darurat responden malu terhadap perubahan fisik, 60%
sebanyak 16% dari pasien. Penyebab umum rawat responden malu untuk bergaul dengan orang
inap antara lain infeksi dan demam (8%), sekitar, 89% responden tidak mampu merawat
neutropenia atau trombositopenia (5,5%), gangguan keluarga dan 72% responden tidak lagi melakukan
elektrolit seperti dehidrasi (2,5%), mual muntah kegiatan dilingkungan sekitar.
(2,9%), kelelahan, pusing atau gangguan fisik yang
berhubungan dengan kondisinya (2%), trombosis Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian
vena dalam atau emboli paru (1,2%), dan Hartati (2008) yang mengungkapkan dalam
malnutrisi (0,9%). penelitiannya dengan judul konsep diri dan
kecemasan wanita penderita kanker payudara di
poli bedah Onkologi RSUP. H. Adam Malik Medan
Hal ini juga sesuai dengan pendapat Diananda Tahun 2008 bahwa konsep diri berubah hampir
(2009), efek samping yang ditimbulkan dari pada semua penderita kanker payudara yang
kemoterapi adalah gangguan pada sumsum tulang menjalani kemoterapi. Perubahan tersebut bukan
belakang yang menimbulkan penurunan sel darah hanya perubahan fisik saja tetapi juga beresiko
putih (leukopenia), penurunan jumlah trombosit mengalami perubahan-perubahan terhadap harga
(trombositopenia) dan penurunan sel-sel darah diri. Mayoritas penderita kanker payudara yang
merah (anemia) sehingga mudah lelah, gangguan memiliki konsep diri negatif adalah 87,9% dan
saluran cerna, seperti mual dan muntah serata yang memiliki konsep diri positif hanya 12,1%.
kehilangan nafsu makan, rambut rontok hingga Dimana yang mengalami harga diri rendah adalah
bahkan mengalami alopesia (kebotakan), gangguan 63,6%. Mereka merasa kehilangan keyakinan dan
pada kulit, mulut dan tenggorokan, ngilu pada semangat dalam menjalani hidup, merasa tidak
tulang, gangguan sistem neurologis seperti sering diterima dengan tulus dikeluarga dan lingkungan
merasa kesemutan pada ekstremitas dan kelemahan sekitar, menghalangi dalam beraktivitas sehingga
36
motorik. Susanti (2008) juga menambahkan menggangu peranan mereka didalam keluarga.
pengobatan kemoterapi berefek pada sel tubuh
yang sedang aktif membelah seperti sel akar Penelitian ini sesuai dengan pendapat Lubis &
rambut, sel darah dan sel selaput lendir. Hasnida (2009), tekanan psikologis dapat terjadi
pada pengidap kanker payudara akibat perubahan
Efek samping kemoterapi dapat dipengaruhi oleh bentuk tubuh dari penyakit serta pengobatan yang
faktor usia, seperti yang diungkapkan Diananda dilakukan. Sehingga kondisi ini akan
mempengaruhi konsep diri wanita tersebut. kondisi ini akan menimbulkan persepsi negatif dan
Siburian (2012) juga menyatakan bahwa pasien harga diri negatif. Sesuai dengan pendapat Smeltzer
kanker payudara yang menjalani kemoterapi & Bare (2001), bentuk tubuh, kerontokan rambut,
mengekspresikan ketidakberdayaan, merasa malu perubahan kulit, perubahan pola komunikasi dan
dengan bentuk payudara, ketidakbahagiaan, merasa disfungsi seksual adalah beberapa akibat yang
tidak menarik lagi, perasaan kurang diterima oleh menyulitkan dari kanker dan pengobatannya yang
orang lain, merasa terisolasi, takut, berduka, dapat mengancam harga diri pasien.
berlama-lama di tempat tidur, ketidakmampuan
fungsional, gagal memenuhi kebutuhan dan peran Menurut asumsi peneliti berdasarkan penelitian
dalam keluarga, kurang tidur, sulit berkonsentrasi, tentang pengaruh efek samping kemoterapi
kecemasan dan depresi. terhadap harga diri penderita kanker payudara
didapatkan bahwa responden yang mengalami efek
Perubahan harga diri seseorang dipengaruhi oleh samping berat cenderung memiliki harga diri
beberapa faktor diantaranya adalah usia. Seperti rendah seperti yang di dapatkan peneliti di
yang diungkapkan oleh Lubis & Hasnida (2008), lapangan, responden merasa malu terhadap
harga diri seseorang akan mengalami perubahan perubahan bentuk tubuhnya, tidak mampu
sesuai dengan perkembangan usianya. Penilaian melakukan aktivitas seperti biasa, tidak dapat
harga diri diperoleh melalui pengalaman dan merawat keluarga dengan baik, malu untuk
pentingnya pengalaman tersebut. Berdasarkan bersosialisasi dengan lingkungan. Keadaan ini
karakteristik usia dimana usia responden 40 - 48 sangat memprihatinkan dengan apa yang dialami
tahun yaitu 20 orang (42.6 %), usia responden 49 - oleh penderita kanker payudara yang harus
56 tahun yaitu 17 orang (36.2 %) dan usia menghadapi efek samping dari pengobatan
responden 57 - 64 tahun yaitu 10 orang (21.3 %). kemoterapi. Namun, ada juga diantara mereka yang
merasa kuat dan tegar dalam menjalani pengobatan
Selain itu pekerjaan juga mempengaruhi harga diri dan memiliki keyakinan sembuh melawan penyakit
seseorang, dimana pekerjaan responden yaitu IRT yang diderita. Sehingga mereka memilih semangat,
sebanyak 18 orang (38.3%), wiraswasta sebanyak tersenyum ketika mendapat pengobatan
17 orang (36.2%), pegawai swasta sebanyak 5 kemoterapi. Hal ini karena adanya dorongan
orang (10.6%) dan PNS sebanyak 7 orang (14.9%). motivasi dari keluarga. Untuk itu diharapkan
Menurut Lubis & Hasnida (2008), lingkungan kepada perawat dapat memberikan informasi
pekerjaan akan membentuk harga diri dari interaksi mengenai efek samping kemoterapi kepada pasien
dengan individu dan lingkungan kerjanya, yang hendak melakukan kemoterapi serta
penerimaan, penghargaan serta perlakuan orang menyarankan untuk menjaga asupan makanan yang
lain terhadap individu yang bersangkutan. Hal ini bergizi sebelum, selama dan setelah pengobatan
sejalan dengan faktor ekonomi. Ekonomi juga kemoterapi dan melakukan pendekatan psikologis
merupakan salah satu yang mempengaruhi harga kepada penderita seperti memberikan dukungan
diri. Dimana penghasilan keluarga responden yaitu dan motivasi sehingga penderita kanker payudara
< Rp. 800.000 sebanyak 9 orang (19.2%), Rp. dapat mempersiapkan dirinya dalam menjalani
800.000 Rp. 1.500.000 sebanyak 27 orang pengobatan.
(57.4%) dan > Rp. 2.000.000 sebanyak 11 orang KESIMPULAN DAN SARAN
(23.4%). Menurut Lubis & Hasnida (2008) status
sosial ekonomi mempengaruhi ke tahap harga diri. Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Efek
Penelitan lain yang dilakukan oleh Wiley & Sons Samping Kemoterapi Terhadap Harga Diri
(2008), yang berjudul Chemotherapy-induced Penderita Kanker Payudara di Rumah Sakit Umum
alopecia and effects on quality oflife among women Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2012, dapat
with breast cancer dengan penelititan kuantitatif diambil kesimpulan sebagai berikut: Mayoritas
menyatakan bahwa kebotakan merupakan efek efek samping kemoterapi yang dialami adalah berat
samping kemoterapi yang banyak dirasakan oleh sebanyak 40 responden (85.1%), dan harga diri
penderita sehingga sangat mempengaruhi rendah sebanyak 25 responden (53.2%). Uji
psikologis pasien kanker payudara daripada statistik menunjukkan ada Pengaruh yang
kehilangan payudara. Rambut merupakan identitas signifikan Efek Samping Kemoterapi Terhadap
diri sehingga ketika mengalami kebotakan akan harga diri Penderita Kanker Payudara yang
mempengaruhi penampilan mereka, sehingga
menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan :
Medan Tahun 2012 dengan nilai (P = 0,025). USU Press.

KEPUSTAKAAN Ramli, M., Dkk. 2005. Deteksi Dini Kanker.


Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Alsagaf, H. 1995. Kanker Paru dan Terapi Paliatif. Indonesia.
Surabaya : Airlangga University Press. Riyadi, S. & Purwanto, T. 2009. Edisi Pertama.
Andrianto, T. T. 2011. Ampuhnya Terapi Herbal Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta :
Graha Ilmu.
Berantas Berbagai Penyakit Berat.
Jogjakarta: Najah.
Sastro, S. 2012. Kanker The Silent Killer. Edisi I.
Penerbit Yashinta Akhiraputri.
Baradero, M. Dkk. 2007. Seri Asuhan
Keperawatan Klien Kanker. Jakarta : EGC.
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Tarsito :
Bandung.
Dalimartha, S. 2008. Ramuan Tradisional untuk
Pengobatan Kanker. Jakarta : Penebar
Sukardja & Gede, I. D. 2000. Cetakan kedua.
Swadata. Onkologi Klinik. Surabaya : Airlangga
Dalami, E. Dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa University Press.
Dengan Masalah Psikososial. Jakarta: Suzanne C. S & Bare, B. G. 2008. Keperawatan
Transinfomedia.
Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Utami, S. 2012. Aku Sembuh dari Kanker


Gale, D. & Jane, C. 1999. Rencana asuhan
Payudara, Mendeteksi Gejala Dini,
keperawatan onkologi. Jakarta : EGC. Pencegahan dan Pengobatan. Jakarta :
Oryza.
Diananda, R. 2009. Mengenal Seluk Beluk Kanker.
Jogjakarta : Katahati. Willey & Sons. Chemotherapy-induced alopecia
and effect on quality of life among
women with breast cancer : a literatur
Hawari, D. H. 2004. Psikiater Kanker Payudara, review. Psycho Oncology 17 (2008)
Dimensi Psikoreligi. Jakarta: Balai Penerbit : 317 328.
FKUI.

Hudayani, F. 2008. Ganggguan Makan Pasca


Kemoterapi & Radiasi. Artikel.

Jong, W. 2004. Kanker, apakah itu? Pengobatan,


Harapan Hidup, dan Dukungan Keluarga.
Jakarta : Arcan.

Lubis N. L. & Hasnida. 2009. Terapi Prilaku


Kognitif pada Pasien Kanker. Medan : USU
Pres.

Mubarak, W. I. & Nurul, C.. 2007. Buku Ajar


Kebutuhan Dasar Manusia : teori &
aplikasi dalam praktik. Jakarta : EGC.

Notoadmodjo, S. 2002. Cetakan kedua. Metodologi


Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.

____________________. 2007. Promosi


Kesehatan dan Ilmu Prilaku. Jakarta :
Rineka Cipta

Purba, J. M. Dkk. 2008. Edisi kedua. Asuhan


Keperawatan pada Klien dengan Masalah