Anda di halaman 1dari 7

C.

Pengertian Mazhab/Aliran Tafsir

Defenisi Secara bahasa, mazhib al-tafsr adalah kalimat idhfah dari dua kata
mazhib dan tafsr. Kata mazhib adalah jama (plural) dari kata mazhab yang antara
lain mengandung pengertian aliran, pendapat, pandangan dan teori . Sedangkan secara istilah,
kata mazhab biasa dipahami sebagai hasil-hasil ijtihad, pemikiran atau penafsiran para
ulama yang kemudian -oleh para pengikut atau muridnya- dikumpulkan lalu dinisbatkan
kepada tokohnya.

Adapun kata tafsr merupakan mashdar (kata benda abstrak) dari kata kerja fassara-
yufassiru-tafsr yang berarti al-ifhm (memahami), al-ibnah (menjelaskan) al-dhh
(menerangkan) dan perincian. Selain itu, kata tafsir juga berarti al-kasyf (menyingkap), al-
izhr (menampakkan makna yang tersembunyi). Secara terminologis, tafsir dipahami sebagai
sebuah hasil pemahaman terhadap ayat-ayat Al Quran yang dilakukan dengan menggunakan
metode dan pendekatan tertentu yang dipilih oleh seorang mufassir dengan tujuan untuk
menjelaskan makna dan maksud yang terkandung di dalamnya.

Aliran Tafsir adalah suatu hasil pemahaman manusia terhadap Al-quran yang
dilakukan dengan menggunakan metode atau pendekatan tertentu yang diplih oleh seorang
mufassir, yang dimaksudkan untuk memperjelas suatu makna teks ayat-ayat al-Quran.

D. Aliran Aliran Tafsir

Pada masa tabiin, aliran-aliran tafsir dikategorikan menjadi tiga kelompok:


a) Aliran Tafsir di Makkah, ditokohi oleh murid-murid Ibnu Abbas, seperti: Said bin
Jubair, Mujahid, Atha bin Abi Rabah, Ikrimah maula Ibnu Abbas, dan Thawus bin
Kisan al-Yamani. Para tabiin ini meriwayatkan penafsiran Ibnu Abbas tentang hal-
hal yang musykil kepada generasi berikutnya dan menambahkan pemahamannya.
Aliran ini sudah mulai memakai dasar aqli (rayu).
b) Aliran Tafsir di Madinah
c) Aliran Tafsir di Iraq

Karakteristik tafsir pada masa tabiin secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut:
a) belum terkodifikasi secara tersendiri
b) masih bersifat hapalan dan periwayatan
c) sudah kemasukan riwayat-riwayat Israiliyat
d) sudah muncul benih-benih perbedaan madzhab
e) sudah banyak perbedaan pendapat antara penafsiran para tabiin dengan para sahabat.
Adapun tokoh ahli tafsir di kalangan tabiin yang termasyhur dari Makkah antara lain
Mujahid ibn Jabbar (w. 103 H), Said in Jubair (w. 94 H), Ikrimah (w. 105 H), Thawus bin
Kisan al-Yamani (w. 106 H), serta Atha` ibn Rabah al-Makki (w. 114 H).
Dari Madinah ada nama-nama seperti Abdurrahman ibn Zaid (w. 182 H), Malik bin
Anas (w. 179 H), Hasan al-Bashri (w. 121 H), Atha` bin Abi Muslim al-Hurani (w. 135 H),
dan sebagainya.
Sedangkan dari Iraq dikenal nama-nama seperti Alqamah bin Qais (w. 102 H), al-
Aswad ibn Yazid (w. 75 H), Ibrahim al-Nakha`i (w. 95 H), serta al-Syabi (w. 105 H).
Kelebihan tafsir pada masa klasik secara umum adalah:
1) Tidak bersifat sectarian (penganut)
2) Tidak banyak perbedaan pendapat mengenai hasil penafsirannya
3) Belum kemasukan riwayat-riwayat Israiliyyat yang dapat merusak aqidah Islam
Sementara kekurangannya, antara lain:
1) Belum mencakup seluruh penafsiran ayat Alquran
2) Penafsiran masih bersifat parsial
3) Pada masa tabiin sudah mulai besifat sectarian
4) pada masa tabiin sudah mulai kemasukan riwayat-riwayat israiliyyat.

Aliran atau corak tafsir Al-Quran yang berkembang selama ini dapat dibagi atas dua
bagian, yaitu: aliran/corak atau corak yang bersifat klasik dan aliran / corak yang bersifat
modern.
1) Aliran Tafsir Klasik.
Yang Termasuk Corak Tafsir Klasik ialah:
a) Aliran Tafsir Aqidah
1) Tafsir Shalafi, yaitu tafsir yang berpedoman pada aliran dan dan pendapat-
pendapat shalaf, yang konsisten dalam ber pegang teguh pada Al-Quran dan Al-
sunah tanpa ada penambahan atau pengurangan.
2) Tafsir Itizaliy, yaitu tafsir Bial-rayi yang hanya mengadakan akal dan kurang
mengindahkaan an-naql, dan pada umumnya terarah pada usaha mendukung atau
mengitimasi faham-faham golongan mutazilah.
3) Tafsir suny, yaitu tafsir yng secara konsisten berpegang teguh pada Al-Quran
dan al-sunah, dan prinsip-prinsipatau orentasi paham Ahlisunnah.
b) Aliran Tafsir siyasah :
1) Tafsir Khaarizy, yaitu tafsir Birayi berdasarkan atas prinsip-prinsip faham
golongan khawarijdalam rangka mendukung atau mengitimasi ajarandan faham-
faham golongan tersebut.
2) Tafsir Syiiy, yaitu tafsir Birayi bardasarkan prinsip faham golongan syiah,
dalam rangka mendukung atau melegitimasi ajaran dan faham golongan tersebut.
c) Aliran filsafat (tafsir falsafly).
Penafsiran ayat-ayat Al-Quran berdasarkan pendekatan-pendekatan filosofis,
baik yang berusaha mengadakan sintesis dan singkretisasi antara teory-teory filsafat
dengan ayat-ayat AlQuran, maupun yang berupa menolak teori-teori filsafat yang
di aggap bertentangan denganayat-ayat Al-Quran.

d) Aliran Tasawuf (Tafsir Sufiy)


Tafsir yang berusaha menjelaskan makna yat-ayat Al-Quran dari sudut
esoterik atau berdasarkan sarat-sarat tersirat yang tampak seorang sufy dalam
sulukya.

e) Aliran Fiqh (Tafsir Fiqry)


Tafsir yang menitik beratkan bahasa-bahasa nya dan tinjauanya pada segi
hukumyang terkandung dalam Al-Quran.

f) Aliran Ilmu Pengetahuan (Tafsir Ilmiy)


Tafsir yang berusaha menafsirkan ayat-ayat suci Al-Quran berdasarkan
pendekatan alamiah, atau menggali kandungannya berdasarkan teory-teory ilmu
pengetahuan yang ada.

2) Aliran Tafsir Modern.


Yang termasuk dalam Aliran Tafsir Modern, ialah:
a) Aliran tafsir ilmu pengetahuan modern, yaitu penafsiran Al-Quran yang dikaikat
atau didasarkan pada ilmu pengetahuan moderen dalam berbagai disiplinya.

b) Aliran tafsir sastra budaya dan kemasyarakatan (sosio-


kultural)atau adabi-ijtimaiy yaitu yang menitik beratkan penjelasan ayat-ayat Al-
Quran pada segi-segi ketelitan pada redaksinya kemudian menyusun kandungan
ayat-ayat tersebut dalm suatu redaksi yang indah dengan penonjolan tujuan utama
dari tujuan-tujuan Al-Quran, yaitu membawa petujuk dalam kehidupan, kemudian
menggandengkan pengertian-pengertian ayat tersebut dengan hukum alam yang
berlaku dalam masyarakat dan pembangunan dinia

c) Aliran tafsir bayaniy yaitu penafsiran yang berdasarkan analisis analisis mufradat
dan uslub-uslub Al-Quran.

d) Aliran tafsir lainya yang muncul dalam masyarakat tetapi belum terbentuk menjadi
suatu aliran tertentu yang mapan, yang oleh Al-dzahabi dikatagorikan sebagai tafsir
yang bercorak sektarian.

Aliran-aliran penafsiran dilihat dari berbagai perspektif para ahli, sebagai berikut:

1. Kategori Tafsir Model Ignaz Goldziher


Dalam buku madzhab Tafsir (madzhab at-tafsir al-islami), karya Ignaz
Golziher kelahiran Hongaria menurutnya terdapat lima madzhab atau kecenderungan
dalam menafsirkan al-Quran yaitu :
a) Tafsir bil Matsur yaitu penafsiran dengan bantuan Hadits dan aqwal (perkataan)
para shahabat. Seperti tafsir Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ali Ibn Abi Thalib dan
Tafsir Thabari.
b) Tafsir dalam perspektif teologi rasional atau penfsiran bersifat dogmatis. Yang
termasuk kategori ini seperti tafsir al-Kasysyaf karya Zamarkhsyari, al-Gharar wa
Durar karya Amali al-Murthadha, dan Mafatih al-Ghaib karya Imam Fakhruddin ar-
Razi.
c) Tafsir dalam perspektif tasawuf seperti Ikhwan ash-shafa Ibnu Arabi dan Imam al-
Ghazali
d) Tafsir dalam perspektif sekte keagamaan (sektarian) sepeti tafsir yang di tulis para
pengikut ahl us-sunnah, syiah, Asyariyah, Khawarij, tema-tema yang dikaji
didalamnya lebih cenderung untuk membela madzhabnya masing-masing.
e) Tafsir era kebangkitan Islam (Tafsir modernis) tema-tema yang menjadi isu sentral
adalah tentang gerakan tajdid (pembaharuan), bagaimana Islam memotivasi untuk
memajukan peradaban, misalnya dengan menyuarakan pentingnya kebebasan
berfikir dan melepaskan taklid buta. seperti tafsir yang ditulis Sayyid Amir Ali,
Ahmad Khan, Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh dll.

2. Kategori Tafsir Model J.J.G Jansen


Kategori yang dilakukan oleh J.J.G Jansen lebih spesifik. Karena hanya mengacu
kepada tafsir-tafsir yang berkembang di kawasan Islam tertentu, yaitu Mesir. Dalam
kategorinya sebagai berikut:
a) Tafsir Ilmi, yaitu penafsiran yang dipengaruhi oleh pengadopsian temuan-temuan
ilmiah mutakhir.

b) Tafsir linguistik dan filologis penafsiran yang didalamnya menggunakan analisis


linguistik.

c) Tafsir praktis penfasiran yang banyak menyangkut keseharian umat.

3) Kategori Tafsir Model Muhammad Husain adz-Dzahabi


Ini bisa dilihat dalam kitabnya at-Tafsir wal Mufassirun, ia cenderung
mengkategorikan berdasar kronologi waktu, di antaranya:

a) Tafsir pada masa Nabi dan Sahabat


Karakteristiknya umum pada masa ini adalah,
1) Tidak menafsirkan seluruh al-Quran
2) Tidak banyak perbedaan dalam menafsirkannya
3) Bersifat ijmali
4) Cenderung hanya menafsirkan dari aspek makna bahasa
5) Jarang melakukan istinbat hukum secara ilmiah terhadap ayat-ayat al-Quran
yang ditafsirkan
6) Tidak bersifat sektarian (membela madzhab tertentu)
7) Belum terkodifikasi secara utuh, sebab kodifikasi mulai abad ke-2 Hijriah
8) Banyak menggunakan riwayat yang menggunakan secara oral atau lisan
9) Cenderung mitis (penafsiran cenderung diterima begitu saja tanpa kritik),
contoh : tafsir Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ali Ibn Abi Thalib.

b) Tafsir pada masa Tabiin


Karakteristiknyaa adalah,
1) belum dikodifikasi secara tersendiri
2) masih bersifat hapalan dan periwayatan
3) sudah dimasuki riwayat-riwayat israiliyat
4) sudah mulai ada benih-benih perbedaan madzhab
5) sudah banyak perbedaan pendapat dengan sahabat.

c) Tafsir pada masa Kodifikasi


Diperkirakan muncul pada pemerintahan Bani Umayyah, awal Bani Abbasiah.
Tafsir-tafsir mulai dibukukan. Sudah berkembang tafsir dengan berbagai madzhab,
seperti Mutazilah, syiah, Khawarij dan corak seperti corak sufistik, linguistik, fiqhi,
filosofis, teologis, adabi ijtimaI, dll.
Secara garis besar,bahwa tafsir dapat dikelompokkan menjadi dua bagian,tafsir yang
terpuji dan tafsir yang tercela.Beberapa aliran tafsir adalah sebagai berikut:
1. Aliran Ahlusunnah
Ahlusunnah dalam menetapkan aqidah,mereka menempuh jalan memadukan
antara aqal dengan naql.Golongan ini mengikuti jejak Iman Abu Hasan Asyari dan
Abu Mansur al-Maturudi serta tokoh-tokoh yang mengikuti metode dan cara
keduanya.Ada beberapa prinsip yang digunakan oleh kaum Ahlus Sunnah dalam
menyikapi ayat-ayat Al-Quran adalah:
a) Dalam prinsip-prinsip aqidah selalu berpegang teguh pada ayat Kitabullah dan
Sunnah.
b) Mengimani bahwa al-Quran adalah Kalamullah baik huruf ataupun
maknaya,berasal dari Allah dan kepada-Nya akan kembali; yang diturunkan,dan
bukan makhluk.Allah mempirmankannya denagan sebenar-benarnnya dan
mewahyukannya melalui jibril lalu jibril a.s turun dengannya untuk sampaikan
kepada Muhammad SAW.
c) Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak memperbolehkan penafsiran ayat-ayat al-Quran
denagan pendapat (logika)semata,karena hal itu termasuk mengatakan tentang
Allah tanpa dasar ilmu bahkan hal itu termasuk perbuatan syaitan.

2. Aliran Syiah
Prinsip-prinsip yang mereka pegang adalah:Tauhid (at-tauhid),keadilan (al-adl),
kenabian (an-nubuwwah), dan kepemimpinan (al-imamah). Yang termasuk aliran ini
adalah,
a) Aliran Mutazilah
prinsip-prinsip tersebut adalah:
1) Tauhidullah
2) Keadilan
3) Al-Manzilah baina al-Manzilatin
4) Amar maruf nahi munkar
Beberapa tafsir dari aliran Syiah adalah:
1) Tafsir Hasan al- Askari,disusun oleh Abu Muhammad al- Hasan bin Ali al- Hadi
Muhammad al-Jawad
2) Tafsir Iman Ali bin Ibrahim al-Qumi
3) Tafsir Iman Ibrahim bin Muhammad bin Said bin Hilal.
Kesimpulan
Aliran Tafsir adalah suatu hasil pemahaman manusia terhadap Al-quran yang
dilakukan dengan menggunakan metode atau pendekatan tertentu yang diplih oleh seorang
mufassir, yang dimaksudkan untuk memperjelas suatu makna teks ayat-ayat al-Quran.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar,Rosihun,Ilmu Tafsir.Bandung :Pustaka Setia.2000,hal .159.
Basuni Faudah,Tafsir tafsir al-Quran (perkembangan dengan metodologi
tafsir).Bandung:Pustaka.1987,hal.56
http/madzahibut-tafsir.html,di download 27/05/2008
Ash Shiddieqy, Hasbi M, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta,
1992.
Mustaqim Abdul, Madzahibut Tafsir, Nun Pustaka Yogyakarta, Yogyakarta, 2003.
http://alqorut.wordpress.com/2012/10/07/madzab-madzhab-tafsir/
1

[1] http/madzahibut-tafsir.html,di download 27/05/2008

[2] Op.cit hal.43-44

[4] Mustaqim Abdul, Madzahibut Tafsir, Nun Pustaka Yogyakarta, Yogyakarta, 2003.