Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

DISPEPSIA PADA ANAK

DI RSUD AHMAD YANI METRO

DISUSUN OLEH :

IKKA MEILITA SARI

(1514401058)

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG

JURUSAN DIII KEPERAWATAN

TAHUN 2016/2017
LAPORAN PENDAHULUAN

IMPETIGO

A. DEFINISI
Impetigo adalah salah satu contoh pioderma, yang menyerang lapisan epidermis kulit
(Djuanda,2005).
Impetigo biasanya juga mengikuti trauma superficial dengan robekan kulit dan paling
sering merupakan penyakit penyerta(secondary infection) dari pediculosis, skabies,
infeksi jamur, dan pada insect bites (Beheshti,2007).
Impetigo krustosa juga dikenal sebagai impetigo kontangiosa, impetigo vulgaris, atau
impetigo tillbury fox. Impetigo juga bisa dikenal sebagai impetigo vesikulo-bulosa
atau cacar monyet (Djuanda,2005).
Impetigo adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, yang menyebabkan
terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil yang berisi nanah (pustula). Impetigo biasanya
ditemukan di wajah, lengan dan tungkai, namun bisa juga di daerah mana saja pada
kulit.

B. ETIOLOGI
Impetigo disebabkan oleh staphylococcus aureus atau group A beta hemolitik
streptococcus merupakan phatogen primer pada impetigo bolusa dan ecthyma
(Beheshti,2007).
Staphylococcus merupakan bakteri sel gram positif dengan ukuran 1m, berbentuk
bulat, biasanya tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur, kokus tunggal,
berpasangan, tetrad, dan berbentuk rantai juga bisa didapatkan.

Staphylococcus dapat menyebabkan penyakit berkat kemampuannya mengadakan


pembelahan dan penyebarluasan ke dalam jaringan dan melalui produksi beberapa
bahan ekstraseluler. Beberapa dari bahan tersebut adalah enzim dan yang lain berupa
toksin meskipun fungsinya adalah sebagai enzim. Staphylococcus dapat menghasilkan
katalase, koagulase, hyaluronidase, eksotoksin, lekosidin, toksin eksfoliatif, toksik
sindrom syok toksik, dan enterotoksin. (Brooks, 317:2005).
Streptococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat, yang mempunyai
karakteristik dapat berbentuk pasangan atau rantai selama pertumbuhannya. Lebih
dari 20 produk ekstraseluler yang antigenic termasuk dalam grup A, (Streptococcus
pyogenes) diantaranya adalah Streptokinase, streptodornase, hyaluronidase,
eksotoksin pirogenik, disphosphopyridine nucleotidase, dan hemolisin (Brooks,
332:2005).

C. TANDA DAN GEJALA IMPETIGO


Tanda-tanda dan gejala impetigo yang umum adalah:
a. Luka merah dan lepuh yang segera pecah, mengeluarkan cairan selama beberapa hari
dan kemudian membentuk kerak coklat kekuningan
b. Luka kulit di sekitar hidung, mulut, atau daerah lain
c. Gatal dan nyeri
d. Pada kasus yang berat, cairan dan luka yang menyakitkan berubah menjadi ulkus
yang dalam
e. Pembengkakan kelenjar getah bening di dekat infeksi

KLASIFIKASI IMPETIGO
Impetigo diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu:
1. Impetigo krustosa
2. Impetigo bulosa (1)
1. Impetigo Krustosa

Tempat predileksi tersering pada impetigo krustosa adalah di wajah, terutama


sekitar lubang hidung dan mulut, karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut.
Tempat lain yang mungkin terkena, yaitu anggota gerak (kecuali telapak tangan dan
kaki), dan badan, tetapi umumnya terbatas, walaupun penyebaran luas dapat terjadi
(Boediardja, 2005; Djuanda, 2005).
Biasanya mengenai anak yang belum sekolah. Gatal dan rasa tidak nyaman dapat
terjadi, tetapi tidak disertai gejala konstitusi. Pembesaran kelenjar limfe regional lebih
sering disebabkan oleh Streptococcus.
Kelainan kulit didahului oleh makula eritematus kecil, sekitar 1-2 mm. Kemudian
segera terbentuk vesikel atau pustule yang mudah pecah dan meninggalkan erosi.
Cairan serosa dan purulen akan membentuk krusta tebal berwarna kekuningan yang
memberi gambaran karakteristik seperti madu (honey colour). Lesi akan melebar
sampai 1-2 cm, disertai lesi satelit disekitarnya. Lesi tersebut akan bergabung
membentuk daerah krustasi yang lebar. Eksudat dengan mudah menyebar secara
autoinokulasi (Boediardja, 2005).
2. Impetigo Bulos
Tempat predileksi tersering pada impetigo bulosa adalah di ketiak, dada,
punggung. Sering bersama-sama dengan miliaria. Terdapat pada anak dan dewasa.
Kelainan kulit berupa vesikel (gelembung berisi cairan dengan diameter 0,5cm) kurang
dari 1 cm pada kulit yang utuh, dengan kulit sekitar normal atau kemerahan. Pada
awalnya vesikel berisi cairan yang jernih yang berubah menjadi berwarna keruh.
Bila impetigo menyertai kelainan kulit lainnya maka, kelainan itu dapat menyertai
dermatitis atopi, varisela, gigitan binatang dan lain-lain. Lesi dapat lokal atau tersebar,
seringkali di wajah atau tempat lain, seperti tempat yang lembab, lipatan kulit, ketiak
atau lipatan leher. Tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening di dekat lesi.
(Yayasan Orang Tua Peduli, 1:2008). Pada bayi, lesi yang luas dapat disertai dengan
gejala demam, lemah, diare. Jarang sekali disetai dengan radang paru, infeksi sendi atau
tulang. (Yayasan Orang Tua Peduli, 1:2008).

D. PATOFISIOLOGI
Impetigo merupakan penyakit menular dan dapat menyebar ke bagian kulit pasien
yang lain atau ke anggota keluarga yang menyentuh pasien atau memakai handuk atau
sisir yang tercemar oleh eksudat lesi. Meskipun impetigo dijumpai pada segala usia,
namun penyakit ini terutama ditemukan di antara anak-anak yang hidup dalam
kondisi higiene yang buruk. Sering kali impetigo terjadi sekunder akibat pediculosis
capitis (tuma kepala), skabies (penyakit kudis), herpes simpleks, gigitan serangga,
getah tanaman yang beracun (poison ivy), atau ekzema. Kesehatan yang buruk, dan
malnutrisi dapat menjadi predisposisi terjadinya impetigo pada orang dewasa. Daerah-
daerah tubuh, wajah, tangan, leher, dan ekstremitas yang terbuka merupakan bagian
yang paling sering terkena.
Impetigo bulosa. Bentuk dari impetigo bulosa merupakan kondisi yang lebih
jarang terjadi dibandingkan bentuk nonbulosa. Agen penyebab impetigo bulosa adalah
staphylococcus aureus yang menghasilkan eksotoksin eksfoliatif ekstraselular disebut
Exfoliatins a dan b. Eksotoksin ini menyebabkan adhesi sel di epidermis, di mana
pada gilirannya menyebabkan timbulnya suatu bula dan pengelupasan dari epidermis.
Impetigo nonbolusa adalah bentuk yang paling sering dari impetigo dan terjadi sekitar
70% pada anak usia di bawah 15 tahun. Agen penyebab impetigo bulosa adalah
staphylococcus aureus untuk 50-60% dari kasus. Selain itu, sekitar 20-45% kasus
disebabkan kombinasi S.aureus dan S.pyogenes. pada negara-negara berkembang,
penyebab utama adalah S.aureus yang menghasilkan bakteriotoksin. Bakteriotoksin
mengisolasi S.aureus pada lesi yang menyebabkan akumulasi pus. Jika seseorang
melakukan kontak dengan orang lain (misalnya: anggota rumah tangga, teman
sekelas, rekan) yang memiliki infeksi kulit atau pembawa organisme, kulit normal
individu akan mengalami invasi bakteri. Setelah kulit yang sehat terinvasi oleh bakteri
piogenik, apabila terjadi suatu kondisi trauma ringan, seperti lecet atau gigitan
serangga, maka dapat mengakibatkan pengembangan lesi impetigo dalam waktu 1-2
minggu.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium.

Pada keadaan khusus, dimana diagnosis impetigo masih diragukan, atau pada
suatu daerah dimana impetigo sedang mewabah, atau pada kasus yang kurang
berespons terhadap pengobatan, maka diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan
sebagai berikut: Pewarnaan gram. Pada pemeriksaan ini akan mengungkapkan
adanya neutropil dengan kuman coccus gram positif berbentuk rantai atau
kelompok.
Kultur cairan. Pada pemeriksaan ini umumnya akan mengungkapkan adanya
Streptococcus aureus, atau kombinasi antara Streptococcus pyogenes dengan
Streptococcus beta hemolyticus grup A (GABHS), atau kadang-kadang dapat
berdirI sendiri.
Biopsi dapat juga dilakukan jika ada indikasi.
2. Pemeriksaan Lain:

Titer anti-streptolysin-O ( ASO), mungkin akan menunjukkan hasil positif lemah


untuk streptococcus, tetapi pemeriksaan ini jarang dilakukan.
Streptozyme. Adalah positif untuk streptococcus, tetapi pemeriksaan ini jarang
dilakukan. (3)

Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan gram untuk
menyingkirkan diagnosis banding dengan gangguan infeksi gram negative. Bisa
dilanjutkan dengan tes katalase dan koagulase untuk membedakan antara
Staphylococcus dan Streptococcus (Brooks, 332:2005).

F. PENATALAKSANAAN
1.Terapi nonmedikamentosa
Menghilangkan krusta dengan cara mandikan anak selama 20-30 menit,
disertai mengelupaskan krusta dengan handuk basah
Mencegah anak untuk menggaruk daerah lecet. Dapat dengan menutup
daerah yang lecet dengan perban tahan air dan memotong kuku anak
Lanjutkan pengobatan sampai semua luka lecet sembuh
Lakukan drainase pada bula dan pustule secara aseptic dengan jarum suntik
untuk mencegah penyebaran local
Dapat dilakukan kompres dengan menggunakan larutan NaCl 0,9% pada
impetigo krustosa.
Lakukan pencegahan seperti yang disebutkan pada point XI di bawah.

2.Terapi medikamentosa
a. Terapi topikal
Pengobatan topikal sebelum memberikan salep antibiotik sebaiknya krusta sedikit
dilepaskan baru kemudian diberi salep antibiotik. Pada pengobatan topikal impetigo
bulosa bisa dilakukan dengan pemberian antiseptik atau salap antibiotik (Djuanda,
57:2005).
b.Terapi sistemik
1). Penisilin dan semisintetiknya (pilih salah satu)
a.Penicillin G procaine injeksi
Dosis: 0,6-1,2 juta IU im 1-2 x sehari
Anak: 25.000-50.000 IU im 1-2 x sehari
b.Ampicillin
Dosis: 250-500 mg per dosis 4 x sehari
Anak: 7,5-25 mg/Kg/dosis4x sehari ac
c.Amoksicillin
Dosis: 250-500 mg / dosis 3 x sehari
Anak: 7,5-25 mg/Kg/dosis 3 x sehari ac
d.Cloxacillin (untuk Staphylococcus yang kebal penicillin)
Dosis: 250-500 mg/ dosis, 4 x sehari ac
Anak: 10-25 mg/Kg/dosis 4 x sehari ac
e.Phenoxymethyl penicillin (penicillin V)
Dosis: 250-500 mg/dosis, 4 x sehari ac
Anak: 7,5-12,5 mg/Kg/dosis, 4 x sehari ac

2). Eritromisin (bila alergi penisilin)

Dosis: 250-500 mg/dosis, 4 x sehari pc

Anak: 12,5-50 mg/Kg/dosis, 4 x sehari pc

3). Clindamisin (alergi penisilin dan menderita saluran cerna)


Dosis: 150-300 mg/dosis, 3-4 x sehari
Anak> 1 bulan 8-20 mg/Kg/hari, 3-4 x sehari

G. MASALAH KEPERAWATAN
a. Gangguan integritas kulit
b. Infeksi
c. Resiko penularan
d. Gangguan rasa nyaman : nyeri
Data Pendukung :
- Suhu : 37,8c
- RR : 35x/menit
- Nadi : 100x/menit
- Kesadaran: komposmentis
- Keadaan Umum: baik
- Pulmo: Vesikuler, Rh-/-, Wh -/-, lain-lain dalam batas normal

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. gangguan integritas kulit b.d infeksi
b. resiko penularan b.d adanya agen infeksius pada kulit
c. Nyeri b.d. resnpons inflamasi lokal sekunder dari kerusakan saraf perifer kulit.

I. TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


Tujuan intervensi keperawatan adalah menurunkan stimulus nyeri, penurunan suhu
tubuh, peningkatan citra diri, dan pemenuhan informasi. Untuk intervensi penurunan
suhu tubuh dan peningkatan citra diri, intervensi dapat disesuaikan dengan masalah
yang sama pada pasien varisela.
KRITERIA HASIL :
Dx 1 : gangguan integritas kulit b.d infeksi
Kriteria hasil :
o Anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan impetigo
o Anak mendapat nutrisi yang adekuat

Dx 2 : resiko penularan b.d adanya agen infeksius pada kulit


Kriteria hasil:

- Anggota keluarga dapat menjaga diri dari penderita impetigo


- Keluarga dapat melakukan perawatan segera pada anak yang menderita impetigo

- Dx 3 : Nyeri b.d. respons inflamasi lokal saraf perifer kulit


Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi
Kriteria hasil :
- Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala nyeri 0-1
(0-4).
- Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
- Pasien tidak gelisah.

J. INTERVENSI DAN RASIONAL


Dx 1 : gangguan integritas kulit b.d infeksi
a. Rawat bulae/krustae dengan prinsip aseptik. Untuk melepaskan krustae
(keropeng), basahi dulu bagian tersebut dengan larutan aseptik (misal:savlon).
Bila di rumah tangga bahan tersebut tidak tersedia, maka bisa menggunakan air
matang dan sabun. Jika krustae sudah hilang, oleskan salep antibiotik 2-3 kali
sehari.
Rasional : mengurangi terjadinya infeksi dengan merawat krustae dengan aseptik
agar tidak menimbulkan infeksi secara berlebih
b. Usahakan agar salep tetap berada pada luka dan anak tidak menggaruknya.
Rasional : agar luka cepat disembuhkan
c. Bila tidak ada perbaikan, anjurkan agar anak dibawa kedokter lagi. Kemungkinan
dokter akan mengkultur dan memberikan antibiotik jenis lain.
Rasional : mencegah terjadinya infeksi secara terus menerus
d. Berikan nutrisi yang cukup.
Rasional : nutrisi anak dapat terpenuhi dengan baik

Dx 2: resiko penularan b.d adanya agen infeksius pada kulit


a. Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Pisahkan celana/pakaian yang kotor,
pakaian anak yang menderita impetigo saat mencucinya.
Rasional : menghindari timbulnya infeksi yang dapat menyebar luas
b. Jauhkan kontak dari anak lain untuk sementara. Orang tua harus hati-hati, hindari
kontak dengan anak sehat.
Rasional : agar tidak menularkan infeksi pada orang lain
c. Jelaskan tentang impetigo kepada anggota keluarga lain, agar masing-masing
dapat menjaga dirinya sendiri. Apabila ada anggota keluarga yag tertular, segera
rawat dan obati.
Rasional : mencegah dan mengurangi terjadinya impetigo

Dx 3 : Nyeri b.d. respons inflamasi lokal saraf perifer kulit


a. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan
noninvasif
Rasional : Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi
lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
b. Lakukan manajemen nyeri keperawatan:
Istirahatkan pasien.
Rasional : Istirahat secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal.
c. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri kembali muncul.
Rasional : Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri sekunder
dari iskemia spina.
d. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
Rasional : Distraksi (Pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal.
e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik
Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.
K. DAFTAR PUSTAKA
Beheshti, 2007, Impetigo, a brief review, Fasa-Iran: Fasa Medical School.
Djuanda, 2005, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Buack, 2007, Ratapamulin: A New Option of Impetigo, Virginia USA: University of
Virginia Childrens Hospital.
Suswati. E, 2003, Efek Hambatan Triklosan 2% Terhadap Pertumbuhan Methicillin
Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), Jember: Fakultas Kedokteran Universitas
Jember.
Cole, 2007, Diagnosis and Treatment of Impetigo, Virginia:University of Virginia
School of Medicine.