Anda di halaman 1dari 2

Suatu peta tektonik yang disusun berdasarkan usia perlipatan, fasa mineralisasi dan bentuk

struktur yang terdapat di berbagai pulau, telah diperkenalkan oleh Wester Veld (1952, dalam
Sukendar, 1976), dimana bisa dipisahkan 4 (empat) daerah orogen yaitu:

1) Orogen Malaya,

Yang mempunyai fasa perlipatan utama, dan aktifitas magma pada akhir Jura, merupakan suatu
sistem pegunungan yang membentang meliputi daerah Semenanjung Malaya, kepulauan Riau
Lingga dan daerah Timah (Singkep, Bangka dan Belitung), sebagian Kalimantan Barat, pulau-
pulau di laut Cina Selatan dan kemungkinan sebagian daerah dataran rendah Sumatera sebelah
timur. Aktivitas magmanya menghasilkan pluton-pluton besar bersusunan granitis dan tonalitis.

2) Orogen Sumatera,

Dicirikan dengan fasa perlipatannya yang berumur Kapur sampai Paleosen serta diikuti intrusi
batuan beku dalam. Daerah orogen ini meliputi pulau Sumatera melalui pegunungan Serayu
Selatan di pulau Jawa terus kea rah pegunungan Meratus di Kalimantan Tenggara. Aktifitas
magma yang menyertai orogen ini berupa batuan gabro sampai granitis.

3) Orogen Sunda,

Terbentuk pada Miosen Tengah, tetapi di beberapa daerah mungkin terjadi lebih dahulu,
menempati daerah yang terletak di bagian tengah antara daerah yang terkena orogen Sumatera
dan Orogen Maluku, serta merupakan daerah yang ditempati oleh gejala vulkanisme Miosen.
Daerah ini meliputi pesisir sebelah barat pulau Sumatera, pulau Jawa bagian Selatan, Kepulauan
Sunda kecil, pulau-pulau yang termasuk dalam Busur dalam Banda, Sulawesi bagian barat, dan
berakhir di daerah Mindanau (Filipina Selatan). Aktifitas magmanya menghasilkan gang-gang
andesitis dan dasitis serta pluton-pluton granit dan diorite.

4) Orogen Maluku,

Dicirikan oleh adanya perlipatan yang sangat kuat yang disertai dengan gejala pensesaran lapisan
batuan berumur paleozoik Akhir, Mesozoik dan Tersier Bawah. Selain itu juga dicirikan dengan
terbentuknya batuan Ultra basa yang sangat besar berumur Mesozoik Akhir sampai permulaan
Tersier, yaitu meliputi daerah-daerah kepulauan disebelah barat Sumatera, Pulau Timor, daerah
yang termasuk dalam Busur luar Banda dan akhirnya daerah Sulawesi bagian timur.

Konsep dan Pandangan Melalui Teori Tektonik Lempeng

Melalui perkembangan bidang pengetahuan geodinamika yang semakin pesat sejak pertengahan
abad 20, maka suatu konsep tektonik global yang baru telah diperkenalkan dan sekaligus dicoba
penerapannya guna penyusunan peta tektonik yang menampilkan hubungannya dengan daerah
mineralisasi.

Prinsip teori tektonik lempeng ini berawal dari suatu pengertian bahwasanya bagian dari kulit
bumi atau lithosfera, termasuk juga di dalamnya bagian paling luar dari selimut bumi (upper
mantle) dianggap sebagai lempeng-lempeng yang kaku. Lempeng-lempeng ini saling bergerak
satu terhadap yang lain dengan kecepatan minimal 10 cm/tahun atau akan memindahkan
lempeng-lempeng tersebut sejauh 100 km/10 juta tahun dan menurut beberapa ahli cenderung
dipengaruhi oleh gaya-gaya konvektif yang terjadi pada daerah astenosfera yang bersifat cair-
kenyal.

Akibat pergerakan tersebut, kemungkinan besar akan terjadi tumbukan antar lempeng, yang
dibatasi oleh suatu palung laut yang dalam, dimana salah satu lempeng akan mengalami
penyusupan yang sangat dalam di bawah lapisan kulit bumi melalui suatu bidang miring yang
dikenal sebagai jalur Benioff.

Jalur tersebut memiliki kemiringan lereng yang berbeda-beda dan merupakan zona penyebaran
pusat-pusat gempa bumi.

Menurut Sukendar (1976, hal.89), daerah dimana terjadi tumbukan lempeng akan merupakan
suatu jalur dimana terjadi kegiatan orogen yang meliputi gejala-gejala seperti:

Konvergensi lempeng
Pertumbuhan benua
Pengkerutan Lapisan-lapisan
Penebalan kerak bumi dalam pembubungan isostasi yang disertai dengan kegiatan magma dan
gejala metamorfisma.
Ahli tersebut mencatat bahwa batas antara masing-masing lempeng merupakan daerah yang
mengandung pusat-pusat gempa disamping gejala orogenesa dan tektonik dimana batas-batas
tersebut akan berujud sebagai:

Pematang tengah samudera


Sesar mendatar (transform faults)
Palung-palung laut dalam
Gejala tektonik yang terjadi di daerah tumbukan antara lempeng samudera dengan lempeng
kontinen akan mencerminkan suatu bentuk sistem busur kepulauan yang mengandung unsur-
unsur seperti palung laut dalam dan busur magmatic.

Sementara secara keseluruhan disebut dengan sistem palung busur (arc trench system). Daerah
yang terletak diantara sistem-sistem palung busur tersebut berbentuk rumpang yang memanjang,
dengan lebar yang berkisar antara 150-250 km dan rumpang palung busur (arc trench gap).

Sistem palung busur secara umum mengandung 4 (empat) unsur dimana setiap unsur memiliki
cirri, jenis batuan dan sifat struktur geologi yang berbeda