Anda di halaman 1dari 17

Kasus Suap Penanganan Sengketa Pilkada Akil Mochtar

yang Menggurita
Sabtu, 27 Desember 2014 | 15:53 WIB

WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil


Mochtar menjalani sidang dengan agenda putusan terkait kasus dugaan suap dalam
penanganan sengketa pilkada di MK, di Pengadilan Tipikor, Jalan Rasuna Said, Kuningan,
Jakarta Selatan, Senin (30/6/2014). Akil divonis hukuman penjara seumur hidup sesuai
dengan tuntutan jaksa.

Terkait

Abu Bakar Baasyir: "ISIS is Closed"


Yuk, Intip 5 Tip Diet yang Mudah Diterapkan Ini!
Penyebab Bakteri Tak Lagi Ampuh dengan Antibiotik
Mungkinkah Pencatut Nama Presiden Dijerat Secara Pidana?

Tweet

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus korupsi yang dilakukan mantan Ketua Mahkamah


Konstitusi Akil Mochtar telah menggurita. Akil pun diganjar hukuman seumur hidup karena
menerima suap dan gratifikasi terkait penanganan belasan sengketa pilkada di MK, serta
tindak pidana pencucian uang.

Bahkan, menurut jurnalis senior Harian Kompas yang menulis buku "Akal Akal Akil",
Budiman Tanuredjo, kasus korupsi Akil merupakan salah satu skandal terbesar sepanjang
sejarah peradilan Indonesia. Belum pernah terjadi seorang hakim yang juga Ketua MK masuk
penjara gara-gara terbukti melakukan korupsi dan pencucian uang yang melibatkan uang
sampai ratusan miliar rupiah. Tertangkap tangan pula.

Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi menyatakan, Akil terbukti menerima suap
sebagaimana dakwaan pertama, yaitu terkait penanganan sengketa Pilkada Kabupaten
Gunung Mas (Rp 3 miliar), Kalimantan Tengah (Rp 3 miliar), Pilkada Lebak di Banten (Rp 1
miliar), Pilkada Empat Lawang (Rp 10 miliar dan 500.000 dollar AS), dan Pilkada Kota
Palembang (sekitar Rp 3 miliar).

Hakim juga menyatakan bahwa Akil terbukti menerima suap sebagaimana dakwaan kedua,
yaitu terkait sengketa Pilkada Kabupaten Buton (Rp 1 miliar), Kabupaten Pulau Morotai (Rp
2,989 miliar), Kabupaten Tapanuli Tengah (Rp 1,8 miliar), dan menerima janji pemberian
terkait keberatan hasil Pilkada Provinsi Jawa Timur (Rp 10 miliar).

Akil juga terbukti dalam dakwaan ketiga, yaitu menerima Rp 125 juta dari Wakil Gubernur
Papua periode tahun 2006-2011, Alex Hesegem. Pemberian uang itu terkait sengketa Pilkada
Kabupaten Merauke, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digoel, Kota Jayapura, dan
Kabupaten Nduga.

Sejumlah kepala daerah dan juga pihak swasta turut terseret dalam pusaran kasus Akil. Sebut
saja, Gubernur Banten Atut Chosiyah dan adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.
Keduanya terbukti menyuap Akil terkait sengketa Pilkada Lebak. Kini keduanya telah
divonis penjara, empat tahun untuk Atut dan lima tahun untuk Wawan.

Berikut kasus sengketa Pilkada di MK yang dijadikan "proyek" oleh Akil, yang tengah
disidik KPK mau pun yang masih "hangat" di pengadilan Tipikor:

1. Sengketa Pilkada Lebak

Jatuhnya vonis terhadap Gubernur Banten Atut Chosiyah dan Adiknya, Tubagus Chaeri
Wardana alias Wawan tidak lantas membuat kasus sengketa Pilkada Lebak di MK ditutup.
KPK mengembangkan penyidikan terhadap kasus ini sehingga menyeret mantan kandidat
Pilkada Lebak 2013, yaitu Amir Hamzah dan Kasmin sebagai tersangka.

Amir dan Kasmin diduga bersama-sama Atut dan Wawan menyuap Akil untuk
memengaruhinya dalam memutus permohonan keberatan hasil Pilkada Lebak yang diajukan
pasangan tersebut. Dalam Pilkada Lebak, Amir-Kasmin kalah suara dengan pesaingnya,
pasangan Iti Oktavia Jayabaya-Ade Sumardi. Atas kekalahan itu, Amir mengajukan
keberatan hasil Pilkada Lebak ke MK. Adapun Susi Tur Andayani merupakan kuasa hukum
Amir-Kasmin.

2. Sengketa Pilkada Tapanuli Tengah

KPK menetapkan Gubernur Tapanuli Tengah Bonaran Situmeang sebagai tersangka pada 19
Agustus lalu. Dalam amar putusan majelis hakim Pengadilan Tipikor, Akil terbukti menerima
suap terkait dengan Pilkada Tapanuli Tengah sebesar Rp 1,8 miliar. Diduga, uang yang
berasal dari Bonaran itu disetorkan ke rekening perusahaan istrinya, CV Ratu Samagat,
dengan slip setoran ditulis "angkutan batu bara".
Pemberian uang diduga untuk mengamankan posisi Bonaran yang digugat di MK setelah
dinyatakan menang oleh KPUD Tapanuli Tengah. Pilkada Kabupaten Tapanuli Tengah
dimenangi oleh pasangan Raja Bonaran dan Sukran Jamilan Tanjung. Namun, keputusan
KPUD tersebut digugat oleh pasangan lawan.

Selanjutnya, pada 22 Juni 2011, permohonan keberatan hasil Pilkada Tapanuli Tengah
ditolak sehingga Bonaran dan Sukran tetap sah sebagai pasangan bupati dan wakil bupati
terpilih. Meski demikian, Akil sebenarnya tidak termasuk dalam susunan hakim panel. Panel
untuk sengketa pilkada saat itu adalah Achmad Sodiki (ketua), Harjono, dan Ahmad Fadlil
Sumadi.

3. Sengketa Pilkada Palembang

Wali Kota non-aktif Palembang Romi Herton dan istrinya, Masyito, didakwa secara bersama-
sama menyuap Akil sebesar Rp 14,145 miliar. Romi dan asangan kandidatnya, Harno Joyo,
mengajukan gugatan terhadap hasil Pilkada Palembang dan meminta l Berita Acara
Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota
Palembang dibatalkan. Hasil Pilkada Palembang menyatakan bahwa pasangan Romi-Harno
kalah suara dari pasangan Sarimuda-Nelly Rasdania dengan selisih 8 suara.

Dalam sidang putusan perkara sengketa Pilkada Palembang yang digelar 20 Mei 2013,
majelis hakim yang diketuai Akil mengabulkan permohonan Romi untuk membatalkan Berita
Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota
Palembang. Putusan tersebut membatalkan unggulnya pasangan Sarimuda-Nelly Rasdania
dan menyatakan Romi-Anwar memenangkan Pilkada Palembang.

Keterangan Tidak Benar dalam Sidang Akil

Selain kasus suap dan pencucian uang, orang-orang yang terlibat dalam pusaran korupsi
sengketa Pilkada Akil juga berusaha menutupi kesalahan sejumlah pihak dengan memberi
keterangan tidak benar dalam persidangan. Hal tersebut terjadi dalam kasus suap penanganan
sengketa Pilkada Palembang.

Selain menyuap Akil, Romi dan Masyito pun disebut memberi keterangan palsu dalan
persidangan. Bahkan, orang dekat Akil bernama Muhtar Ependy dianggap memengaruhi
saksi di persidangan dan mengarahkan saksi untuk memberi keterangan seperti yang
diperintahkan.

1. Wali Kota Palembang Romi Herton dan istrinya, Masyito

Wali Kota nonaktif Palembang Romi Herton dan istrinya, Masyito, didakwa memberikan
keterangan palsu dalam sidang Akil pada 27 Maret 2014, terkait perkara tindak pidana
korupsi terkait sengketa Pilkada di MK dan tindak pencucian uang.

Orang dekat Akil yang bernama Muhtar Ependy berperan mengarahkan keterangan Romi dan
Masyito selaku saksi untuk mengaburkan fakta di persidangan. Muhtar menyuruh keduanya
untuk mengaku tidak mengenal Muhtar dan tak pernah menyerahkan sejumlah uang kepada
Akil melalui Muhtar.

Padahal, keterangan saksi lainnya di sidang Akil dan sejumlah alat bukti memperkuat fakta
persidangan bahwa Romi dan Masyito menyuap Akil melalui Muhtar.

Romi dan Masyito juga dipaksa mengaku tidak pernah memesan atribut pilkada di PT Promic
Internasional milik Muhtar. Padahal, keduanya memesan atribut Pilkada di PT Promic
Internasional dengan bukti tagihan kepada Romi serta barang bukti berupa produk yang
dipesan Romi dan Masyito.

2. Pengusaha bernama Muhtar Ependy, teman dekat Akil

Muhtar Ependy, wirausahawan yang merupakan orang dekat Akil didakwa secara sengaja
merintangi proses pemeriksaan di pengadilan terhadap saksi dalam perkara korupsi. Jaksa
penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan, Muhtar memengaruhi
keterangan sejumlah saksi dalam persidangan Akil.

Dalam surat dakwaan, Muhtar disebut memengaruhi Romi dan Masyito, yang dihadirkan
dalam sidang Akil. Muhtar meminta keduanya untuk bersaksi bahwa tidak mengenal Muhtar
dan tidak pernah bersama-sama datang ke Bank Kalbar cabang Jakarta untuk menyerahkan
sejumlah uang.

Muhtar juga memengaruhi supirnya yang bernama Srino agar tidak mengakui pernah
mengantar Muhtar ke rumah Akil di kawasan Pancoran untuk menyerahkan sejumlah uang.

Padahal, berdasarkan keterangan saksi lainnya dari Bank Kalbar Cabang Jakarta yaitu Iwan
Sutaryadi, Rika Fatmawati, dan Risna Hasrilianti, dinyatakan bahwa Srino pernah mengantar
Muhtar ke bank tersebut untuk mengambil uang tunai senilai Rp 3 miliar dalam bentuk dollar
Amerika untuk diantar ke rumah Akil.

Muhtar lantas menghubungi Iwan untuk mencabut seluruh keterangannya dalam berita acara
pemeriksaan dan menggantinya dengan keterangan baru yang tidak benar. Muhtar pun
meminta Iwan untuk menyampaikan kepada Rika dan Risna untuk melakukan hal yang sama.
Sehingga pada saat bersaksi di sidang Akil pada 24 Maret 2014, Iwan, Rika, dan Risna
kompak menjawab tidak ingat pernah melihat kedatangan Masyito ke Bank Kalbar Cabang
Jakarta atau pun mengenali Masyito.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Gambar1.1 adalah salah satu badan Yudikatif Indonesia yaitu Mahkamah Agung

Seperti telah kita ketahui bersama bahwa badan Yudikatif sangatlah


penting fungsinya dalam penentuan proses hingga pemutusan masalah yang
diangkat dalam persidangan. Banyak sudah kasus-kasus yang telah
dipersidangkan didalam salah satu badan Yudikatif Indonesia, misalnya saja
dari Mahkamah Agung yang telah banyak dalam menyelesaikan masalah-
masalah yang dipersidangkan.
Namun prestasi yang dicapai oleh Mahkamah Agung tidak berbanding
lurus dengan banyaknya oknum-oknum hakim MA yang menyalahgunakan
wewenangnya hingga melakukan tindak pidana yang membuatnya harus terjerat
hukum, misalnya saja tentang adanya hakim yang terlibat kasus tindakan
asusila, penyalahgunaan narkoba hingga kasus suap (korupsi). Hal ini menandai
betapa masih buruknya kinerja badan Yudikatif di Indonesia dalam mengemban
amanah keadilan yang dipercayakan kepada mereka terutama oknum-oknum
hakim yang seharusnya dituntut bersikap adil dan bijaksana justru sibuk dengan
kesenangan mereka sendiri, termasuk dalam hal penyelewengan wewenang
guna memperkaya diri. Hal tersebut diatas membuat pentingnya tugas dan
masalah badan Yudikatif Indonesia untuk diamati dan dipelajari sebagai
pengetahuan yang penting dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

B. Identifikasi Masalah dan Contoh kasus


Seberapa parahkah keterlibatan para oknum Hakim Agung dalam
berbagai kasus yang harusnya mereka tangani dengan bijak?
Salah satu contoh kasus yang bisa kita ambil dalam badan Mahkamah
Agung adalah kasus yang menimpa hakim agung Yamani yang mengundurkan
diri dari tugasnya dengan alasan sakit Vertigo, Sinusitis dan Mag. Namun
pengunduran diri tersebut disinyalir banyak pihak sebagai tindakan untuk
menghindari dakwaan yang menimpa dirinya terkait dengan pembebasan
gembong narkoba. Berdasarkan catatan detik.com, Kamis (15/11/2012),
Yamani diketahui pernah membatalkan hukuman mati pemilik pabrik ekstasi
Hengky Gunawan. Hengky pun akhirnya divonis hukuman penjara selama 15
tahun. Alasannya, hukuman mati melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Selain
meringankan hukuman Hengky Gunawan, Yamani juga tercatat sebagai anggota
majelis hakim yang membatalkan hukuman mati terhadap warga Nigeria Hillary
K Chimezie atas kepemilikan 5,8 kilogram heroin. Hukuman Hillary pun
dianulir dari hukuman mati menjadi pidana 12 tahun penjara. Di luar gembong
narkoba tersebut, Yamani juga sebagai anggota majelis hakim pernah
membebaskan bandar sabu-sabu asal Kalimantan, Naga Sariawan Cipto Rimba
alias Liong-liong. Lewat tangannya, dia menyulap putusan 17 tahun penjara
menjadi bebas terkait kepemilikan sabu seberat 1 kg.

BAB II
PEMBAHASAN

Badan Yudikatif adalah suatu badan yang memiliki sifat teknis-yuridis


yang berfungsi mengadili penyelewengan dalam pelaksanaan konstitusi dan
peraturan perundang-undangan oleh institusi pemerintahan secara luas serta
bersifat independent (bebas dari intervensi pemerintah) dalam pelaksanaan
tugas dan fungsinya. Selain itu badan Yudikatif juga bertugas untuk
memberikan keputusan dengan adil seperti dalam masalah sengeketa-sengketa
sipil yang diajukan ke pengadilan untuk diselesaikan dalam putusan
persidangan.

Badan Yudikatif dalam Negara-negara Demokratis

Common Law Terdapat di negara-negara Anglo Saxon ( negara-negara


maritim kepulauan yang terletak di Eropa. Sebutan ini dapat disederhanakan,
Anglo-Saxon merupakan negara-negara yang termasuk Inggris Raya dan
negara-negara lainnya di kepulauan Inggris. Inggris, Irlandia, Amerika Serikat
dan Australia adalah negara-negara yang disebut sebagai Anglo-Saxon. ) dan
memulai pertumbuhannya di Inggris pada Abad Pertengahan. Sistem ini
berdasarkan prinsip bahwa di samping undang-undang yang dibuat oleh
parlemen (yang dinamakan statue law) masih terdapat peraturan-peraturan lain
yang merupakan common law, yaitu kumpulan keputusan yang dalam zaman
lalu telah dirumuskan oleh hakim.
Civil Law (hukum perdata) Terdapat banyak di Negara Eropa Barat
Kontinental. Dalam sistem ini, hukum telah lama tersusun rapi, dengan kata lain
penciptaan hukum secara sengaja oleh hakim adalah tidak mungkin. Hakim
hanya mengadili perkara berdasarkan hukum yang termuat dalam kodifikasi
saja.

Badan Yudikatif dalam Negara-Negara Komunis.

Berdasarkan konsep Soviet Legality. Anggapan ini erat hubungannya


dengan tahap-tahap perkembangan komunisme di Uni Soviet. Konsep ini
menjelaskan bahwa socialist legality secara aktif memajukan masyarakat Soviet
kearah komunis, dan karenanya segala aktivitas serta semua alat kenegaraan,
termasuk penyelenggara hukum dan wewenang badan yudikatif merupakan
prasaranan untuk melancarkan perkembangan ke arah komunisme. Fungsi
badan yudikatif tidak dimaksud untuk melindungi kebebasan individu dari
tindakan sewenang-wenang pemerintah (paham borjuis).

Kekuasaan Badan Yudikatif di Indonesia

Di Indonesia badan Yudikatif berfungsi menyelenggarakan kekuasaan


kehakiman yang kini dikenal dengan adanya 3 badan yang berkaitan dengan
penyelenggaraan kekuasaan tersebut diantaranya:

1.Mahkamah Agung (MA)

Sesuai Pasal 24A UUD 1945, Mahkamah Agung memiliki kewenangan


mengadili kasus hukum pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-
undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai
wewenang lain yang diberikan oleh undang-undang.

Sebagai sebuah lembaga yudikatif, Mahkamah Agung memiliki beberapa


fungsi. Fungsi-fungsi tersebut adalah:

Fungsi Peradilan.
Pertama, membina keseragaman dalam penerapan hukum melalui putusan
kasasi dan peninjauan kembali. Kedua, memeriksa dan memutuskan perkara
tingkat pertama dan terakhir semua sengketa tentang kewenangan mengadili,
permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang berkekuatan hukum
tetap, sengketa akibat perampasan kapal asing dan muatannya oleh kapal perang
RI. Ketiga, memegang hak uji materiil, yaitu menguji ataupun menilai peraturan
perundangan di bawah undang-undang apakah bertentangan dengan peraturan
dari tingkat yang lebih tinggi.

Fungsi Pengawasan.

Pertama, Mahkamah Agung adalah pengawas tertinggi terhadap jalannya


peradilan di semua lingkungan peradilan. Kedua, Mahkamah Agung adalah
pengawas pekerjaan pengadilan dan tingkah laku para hakim dan perbuatan
pejabat pengadilan dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas pokok kekuasaan kehakiman, yaitu menerima, memeriksa,
mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan. Ketiga, Mahkamah
Agung adalah pengawas Penasehat Hukum (Advokat) dan Notaris sepanjang
yang menyangkut peradilan, sesuai Pasal 36 Undang-undang nomor 14 tahun
1985 tentang Mahkamah Agung).
Fungsi Mengatur
Dalam fungsi ini, Mahkamah Agung mengatur lebih lanjut hal-hal yang
diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal
yang belum diatur dalam Undang-undang tentang Mahkamah Agung.

Fungsi Nasehat

Pertama, Mahkamah Agung memberikan nasehat ataupun pertimbangan


dalam bidang hukum kepada Lembaga Tinggi Negara lain. Kedua, Mahkamah
Agung memberi nasehat kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka
pemberian/penolakan Grasi dan Rehabilitasi.
Fungsi Administratif

Pertama, mengatur badan-badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan


Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara) sesuai pasal 11
ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 1999. Kedua, mengatur tugas dan
tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja Kepaniteraan Pengadilan.
Saat ini, Mahkamah Agung memiliki sebuah sekretariat yang membawahi
Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum, Direktorat Jenderal Badan
Peradilan Agama, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Tata Usaha Negara,
Badan Pengawasan, Badan Penelitian dan Pelatihan dan Pendidikan, serta
Badan Urusan Administrasi. Badan Peradilan Militer kini berada di bawah
pengaturan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Tata Usaha Negara.
Mahkamah Agung memiliki sebelas orang pimpinan yang masing-masing
memegang tugas tertentu. Daftar tugas pimpinan tersebut tergambar melalui
jabatan yang diembannya yaitu:
1. Ketua
2. Wakil ketua bidang yudisial
3. Wakil ketua bidang non yudisial
4. Ketua muda urusan lingkungan peradilan militer / TNI

5. Ketua muda urusan lingkungan peradilan tata usaha negara


6. Ketua muda pidana mahkamah agung RI
7. Ketua muda pembinaan mahkamah agung RI
8. Ketua muda perdata niaga mahkamah agung RI
9. ketua muda pidana khusus mahkamah agung RI
10. ketua muda perdata mahkamah agung RI
Selain para pimpinan, kini Mahkamah Agung memiliki 37 orang Hakim
Agung sementara menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 2004 Mahkamah
Agung diperkenankan untuk memiliki Hakim Agung sebanyak-banyaknya
enam puluh (60) orang.

2. Mahkamah Konstitusi (MK)

Sesuai Pasal 24C UUD 1945, mahkamah Konstitusi berwenang


mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final
untuk menguji
undang-undang terhadap Undang-undang Dasar, memutuskan sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-
undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan umum.

Mahkamah Konstitusi juga wajib memberikan putusan atas pendapat


DPR bahwa Presiden/Wapres diduga telah melakukan pelanggaran hukum
berupa penkhianatan terhadap negara, korupsi, tindak penyuapan, tindak pidana
berat atau perbuatan tercela. Atau, seputar Presiden/Wapres tidak lagi
memenuhi syarat untuk melanjutkan jabatannya. Mahkamah Konstitusi hanya
dapat memproses

permintaan DPR untuk memecat Presiden dan atau Wakil Presiden jika terdapat
dukungan sekurang-kuranya dua per tiga dari jumlah anggota DPR yang hadir
dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua per tiga dari
jumlah anggota DPR.
Susunan Mahkamah Konstitusi terdiri atas 9 orang anggota hakim
konstitusi yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Dari 9 orang tersebut, 1
orang menjabat Ketua sekaligus anggota, dan 1 orang menjabat wakil ketua
merangkap anggota. Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi masing-
masing menjabat selama 3 tahun. Selama menjabat sebagai anggota Mahkamah
Konstitusi, para hakim tidak diperkenankan merangkap profesi sebagai pejabat
negara, anggota partai politik, pengusaha, advokat, ataupun pegawai negeri.
Hakim Konstitusi diajukan 3 oleh Mahkamah Agung, 3 oleh DPR, dan 3 oleh
Presiden. Seorang hakim konstitusi menjabat selama 5 tahun dan dapat dipilih
kembali hanya untuk 1 kali masa jabatan lagi.

3. Komisi Yudisial (KY)

Sesuai pasal 24B UUD 1945, komisi yudisial bersifat mandiri dan
berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai
wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluruhan
martabat, serta perilaku hakim.

Dengan demikian, Komisi Yudisial lebih tepat dikategorikan sebagai


Independent Body yang tugasnya mandiri dan hanya berkait dengan kekuasaan
Yudikatif dalam penentuan personalia bukan fungsi yudikasi langsung.
Peraturan mengenai Komisi Yudisial terdapat di dalam Undang-undang nomor
22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

Komisi Yudisial memiliki wewenang mengusulkan pengangkatan Hakim


Agung kepada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta
menjaga perilaku hakim. Dalam melakukan tugasnya, KY bekerja dengan cara:
1. melakukan pendaftaran calon Hakim Agung
2. melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung
3. menetapkan calon Hakim Agung
4. mengajukan calon Hakim Agung ke DPR
Pada pihak lain, Mahkamah Agung, Pemerintah, dan masyarakat juga
mengajukan calon Hakim Agung, tetapi harus melalui Komisi Yudisial.
Dalam melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung, Komisi Yudisial dapat
menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim, meminta laporan berkala
kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim, melakukan
pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim, memanggil dan
meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku
hakim, dan membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan
disampaikan kepada Mahkamah Agung dan atau Mahkamah Konstitusi serta
tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR.

Anggota Komisi Yudisial diangkat oleh Presiden dengan persetujuan


DPR. Sebelum mengangkat, Presiden membentuk Panitia Seleksi Pemilihan
Anggota Komisi Yudisial yang terdiri atas unsur pemerintah, praktisi hukum,
akademisi hukum, dan anggota masyarakat. Seorang anggota Komisi Yudisial
yang terpilih, bertugas selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1
periode. Selama melaksanakan tugasnya, anggota Komisi Yudisial tidak boleh
merangkap pekerjaan sebagai pejabat negara lain, hakim, advokat,
notaris/PPAT, pengusaha/pengurus/karyawan BUMN atau BUMS, pegawai
negeri, ataupun pengurus partai politik.

BAB III
PENUTUP

C. Kesimpulan dan Saran

Tiga pilar negara yang berperan sangat penting dalam sebuah pelaksanaan
peradilan adalah Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Jika tiga pilar
ini bersinergi dengan baik maka akan kokohlah pondasi pilar sebuah negara,
tapi sebaliknya, jika tiga lembaga ini berkonspirasi dalam hal korupsi maka
akan runtuhlah negara tersebut.
Dalam pelaksanaannya, badan Yudikatif Indonesia tak jarang
mendapatkan kritikan bahkan hujatan dari masyarakat, hal tersebut ditandai
dengan adanya gejala seperti demonstrasi tatkala terkuaknya berbagai kasus
dari badan Yudikatif. Misalnya saja seorang hakim, terlebih Hakim Agung
sudah sepatutnya bersikap jujur, adil dan bijak dalam memutuskan suatu
perkara yang dipersidangkan tanpa pandang bulu sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku.
Atas semua fakta yang memperihatinkan tersebut sudah sepatutnya
pemerintah lebih mengawasi para hakim nakal dan menindak tegas mereka
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Ketidaktegasan pemerintah
terlihat dengan salah satu gejalanya yaitu kesan pembiaran serta kurang gesitnya
para Satgas Mafia Mukum dalam bertindak sesuai dengan kewenangan yang
mereka miliki. Disini juga fungsi dari Komisi Yudisial sangat penting dalam
menyeleksi kelayakan hakim Agung tanpa melibatkan DPR dalam
menyeleksinya, karena DPR hanya mempunyai kewenangan untuk menyetujui,
dan bukanlah ikut menyeleksi calon hakim agung.

Dalam kasus hakim Yamani sendiri sebenarnya sudah ada peraturan


perundang-undangan yang jelas tentang prosedur pengunduran diri hakim
agung, yaitu hakim agung tidak bisa berhenti atas permintaan sendiri secara
tertulis tanpa alasan logis, di antaranya sebagaimana tercantum di dalam Pasal
11 UU no.3 th 2009 tentang Mahkamah Agung yang mensyaratkan sakit
jasmani atau rohani terus menerus selama 3 bulan yang dibuktikan dengan surat
dokter ternyata tidak cakap dalam menjalankan tugasnya.
Entah apa yang ada dibenak oknum para hakim nakal saat
menyelewengkan wewenangnya. Apapun bentuknya, kelalaian dan
penyelewengan wewenang seorang hakim adalah sebuah kesalahan besar,
terlebih menyangkut kasus-kasus berat yang merugikan bahkan merusak masa
depan bangsa dan negara seperti membebaskan para terdakwa kasus besar misal
kepemilikan pabrik narkoba dengan alasan-alasan yang dibuatnya sendiri tanpa
mengacu kepada undang-undang yang berlaku.

Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia resmi jadi


tersangka korupsi
Diperbaharui 4 October 2013, 9:59 AEST
By Laban Laisila

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)


Indonesia, Akil Mochtar menjadi tersangka dua kasus dugaan suap dan menyita barang bukti
uang sekitar Rp 3 milyar dalam mata uang asing dan Rupiah.

Lambang Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia. (Credit: ABC)

Kepastian status tersangka bukan ketua MK itu disampaikan KPK Kamis (3/10/2013) malam
setelah penyidik menggelar pemeriksaan terhadap 13 orang selama lebih dari dua belas jam
sejak penggerebekan Rabu (2/10/2013) malam.

Ketua MK, Akil Mochtar, merupakan pejabat tertinggi negara yang pertama, sekaligus dari
institusi tertinggi penegak hukum di Indonesia yang ditangkap KPK.
Dia diduga menerima suap terkait perkara sengketa pemilihan dua kepala daerah, yakni di
Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan Kabupaten Lebak, Banten.

Dari kronologi yang disampaikan oleh pimpinan KPK, penyerahan uang dilakukan langsung
di rumah tersangka dalam mata uang US$ dan SING$ senilai Rp 2 milyar, sementara Rp 1
milyar lainnya disita dari tempat lain.

Kalau kita jumlah keseluruhan ini kurang lebih Rp 3 milyar, oleh karena itu KPK sudah
menetapkan secara resmi orang orang yang menjadi tersangka, ungkap Ketua KPK Abraham
Samad.

Total termasuk Akil, KPK menetapkan enam orang tersangka dalam dua kasus suap tersebut.

Penyelenggara negara lainnya yang ikut ditanggkap bersama dengan Ketua MK adalah
seorang anggota DPR dari fraksi Golkar, fraksi terkuat jaman Orde Baru yang juga ikut
dalam aliansi Sekertariat Gabungan (SetGab) bersama Demokrat yang dipimpin oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Keenam tersangka juga langsung ditahan sejak status tersangka diberikan.

Kini semua tersangka ditahan dalam Rutan KPK, jelas pimpinan KPK lainnya, Bambang
Widjoyanto.

KPK mendalami kasus dugaan korupsi ini setelah mendapat laporan dari masyarakat sejak
awal September lalu.

KPK juga akan melakukan penyelidikan lanjutan menyusul dugaan kemungkinan ada orang
lain yang terlibat dalam kasus korupsi ini.

Sementara kita akan fokus pada apa yang sudah kami temukan dulu, sehingga kami tidak
mengandai-andai apakah ada kolega dari pak AM yang terlibat, lanjut Widjoyanto.

Bentuk Majelis Kehormatan

Ini adalah kasus dugaan korupsi pertama yang menghantam Mahkamah Konstitusi juga
sekaligus melibatkan ketuanya.

Delapan hakim MK lainnya memutuskan untuk segera membentuk Majelis Kehormatan


Hakim untuk menentukan posisi Akil Mochtar.

Hakim MK yang baru saja diangkat beberapa pekan lalu, Patrialis Akbar, kepada media
menyatakan kalau Majelis Kehormatan dibentuk untuk mengembalikan integritas institusi
pengadilan tertinggi di Indonesia itu.

Jangan kejadian ini untuk menghancurkan MK, karena kejadian ini tidak menutup
kemungkinan terjadi dimanapun, elak Akbar.

Kasus ini juga mendapat respon dari berbagai pihak, bahkan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono juga sempat memberikan pernyataan.
Berat tugas seorang hakim Mahkamah Konstitusi dan hakim manapun sejatinya dan ini
menjadi pelajaran kita semua untuk pemilihan posisi posisi di lemabaga negara, katanya.