Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Appendicitis merupakan salah satu jenis penyakit dari sekian banyak
penyakit yang banyak diderita oleh manusia pada saat sekarang ini. Dengan
saluran pencernaan yang merupakan yang merupakan lokasi appendicitis
yaitu appendiks yang merupakan suatu tube dengan panjang kira kira 9cm
dengan mengandung banyak limfe nodes. Appendicitis biasanya menyerang
pada usia dewasa antara 20 - 30 tahun. Namun demikian appendicitis dapat
menyerang semua kelompok manusia termasuk lanjut usia. Bila terjadi pada
lanjut usia maka kemungkinan bisa sangat serius.
Tindakan terhadap penyakit Appendicitis atau usus buntu adalah dengan
jalan operasi mengambil usus buntu yang disebut Appendectomy. Operasi ini
dilakukan jika kondisi peradangan bersifat lokal adan tidak terjadi ruptur.
Operasi abdomen yang lebih ekstensif (laparotomi abdominal) harus
dilakukan jika usus buntu ternyata pecah. Dengan melihat insiden dan
permasalahan yang ditimbulkan sangat kompleks serta merupakan tantangan
dalam asuhan keperawatan, maka peran perawat sebagai pelaksana asuhan
keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan,
diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang dijumpai dalam upaya
untuk meningkatkan kesehatan, mencegah kambuhnya penyakit serta
mengupayakan penyuluhan sehingga dapat terhindar dari komplikasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep dasar teori Appendiksitis?
2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan Appendiksitis?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana konsep dasar teori penyakit Appendiksitis

1|Page
2. Untuk mengetahui bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan pada
penyakit Appendiksitis

1.4 Metode Penulisan


Metode yang kami gunakan adalah dengan mengutip dari beberapa buku
dan searching di internet

2|Page
BAB II
KONSEP DASAR TEORI
1. Pengertian
Appendicitis adalah peradangan pada appendiks vermifornis dan
merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Appendiksitis adalah
merupakan peradangan pada appendik periformil. yaitu saluran kecil yang
mempunyai diameter sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci. Lokasi appendik
pada daerah illiaka kanan,dibawah katup illiocaecal,tepatnya pada dinding
abdomen dibawah titik Mc burney.

2. Epidemiologi
Dapat menyerang semua kelompok termasuk lanjut usia. Pada anak-
anak dan dewasa muda terinfeksi sistemik seperti infeksi pernapasan dapat
menyebabkan hyperplasia jaringan limfoid pada appendiks dimana respon
hiperplastik dapat melibatkan lumen appendiks dan mulai terjadi appendicitis.
Rata-rata insiden yaitu 1-2 per 1000 dengan dewasa muda antara 20-30 tahun.
Namun demikian apendisitis dapat menyerang semua kelompok termasuk
lanjut usia. (Doughty, D. B. et al. (1993).

3. Etiologi
Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh
hyperplasia Folikel lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena
adanya peradangan sebelumnya atau neoplasma.Obstruksi tersebut
menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa mengalami
bendungan.Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan tekanan intra lumen.Tekanan yang meningkat tersebut
akan menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi
mukosa.Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh
adanya nyeri epigastrium.
1. Ulserasi pada mukosa
2. Obstruksi pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras)

3|Page
3. Pemberian barium
4. Berbagai macam penyakit cacing
5. Tumor
6. Striktur karena Fibrosis pada dinding usus

4. Pathofisiologi

Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang


dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab
terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti :
cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab
lain misalnya : keganasan ( Karsinoma Karsinoid )

Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa


terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan
dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium
viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal
X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah,
kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu,
peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat,
sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan
appendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini
disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut
itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang
berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan
timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada
anak anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif
lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang
masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan
pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat

4|Page
ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka
terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).

PATHWAY

Hyperplasia Striktur Tumor Fecalith Peradangan Cacing


Folikel (feses keras)
Limfoid

Obstruksi Intralumen
Mual,Muntah

Tekanan intra lumen meningkat Aliran darah terganggu

Kurang
Volume Cairan Distensi Jar. Usus Bendungan sekresi Iskemia
mucus

Nyeri Aliran limfe Respons Aktivitas


tersumbat Inflamasi bakteri

Peningkatan Nekrosis
Odema appendiks
Suhu Tubuh

Appendik
Hipertermia Perforasi

Perubahan status
kesehatan
D
S
Cemas

M
e
n

5|Page g
e
l
u
5. Klasifikasi
Apendik dapat dibagi atas dua bagian yaitu:
a. Apendik Akut : jarang ditemui pada anak dibawah 5 tahun dan orang tua
diatas 50 tahun. Apendicitis dapat dibagi atas tiga bagian :
1. Apendicitis acut focalik atau segmentalis.
Terjadi pada bagian distal yang meradang seluruh rongga apendiks
sepertiga distal berisi nanah.
2. Apendicitis acut purulenta diffusa.
Pembentukan nanah yang berlebihan jika radangnya lebih hebat dan
dapat terjadi mikrosis dan pembusukan yang disebut appendicitis
gangrenous. Pada appendicitis gangrenous dapat terjadi perfulasi
akibat mikrosis kedalam rongga perut dan mengakibatkan peritonitis.
3. Apendicitis acut traumatic.
Disebabkan oleh karena trauma karena kecelakaan pada operasi
didapatkan tampak lapisan eksudat dalam rongga maupun permukaan.
b. Appendicitis kronik.
Appendicitis kronik dibagi atas dua bagian antara lain :
1. Appendicitis cronik focalis.
Secara mikroskopis nampak fibrosis setempat yang melingkar,
sehingga dapat menyebabkan stenosis.
2. Appendicitis cronik obliterative.
Terjadi fibrosis yang luas sepanjang appendiks pada jaringan sub
mukosa dan sub serosa, sehingga terjadi obliterasi (hilangnya lumen)
terutama dibagian distal dengan menghilangnya selaput lender pada
bagian tersebut.

6. Manifestasi Klinis
Sakit di sekitar umbilicus dan epigastrium disertai anoreksia, nausea
dan vomiting. Beberapa jam kemudian diikuti oleh sakit perut di kanan bawah
dengan diser atai kenaikan suhu tubuh yang ringan.
Pada bayi dan anak anak (balita) tidak menunjukkan letak sakit tapi
dirasakan menyentuh. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih kekwadran kanan
6|Page
bawah, yang akan menetap dan diperbilat bila berjalan atau batuk. Pada
permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap,
namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin
progresif, dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik
dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat
membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga
muncul. Bila tanda rovsing positif akan semakin meyakinkan diagnose klinis
appendicitis.

7. Pemeriksaan fisik. (Posisi klien berbaring)


Inspeksi :
a. Klien nampak kesakitan, penampilan (expresi) yang tidak ceria.
b. Pergerakan sangat hati-hati pada yang acut.
c. Bila berbaring kaki kanan sedikit ditekuk.
d. Klien merasa sakit kalau disuruh menekuk kaki kanan.
Palpasi :
a. Suhu badan hangat diukur berkisar 37 38 C
b. Pemeriksaan pada perut akan menunjukkan nyeri tekan pada perut kanan
bawah.
c. Palpasi ringan abdomen dari sisi kiri ke kanan memungkinkan pemeriksa
vigiditas atau devans muskuler ringan.
d. Bila appendiks yang meradang terletak didalam pelpis maka nyeri tekan
dapat dideteksi dengan cara rektaltose.
Perkusi :
Bila diketuk pada kuadran kanan bawah klien akan menjerit, meringis
karena sakit yang hebat.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi
1. Foto polos abdomen dikerjakan apabila hasil pemeriksaan riwayat
sakit dan pemeriksaan fisik meragukan

7|Page
2. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran
perselubungan mungkin terlihat ileal atau caecal ileus (gambaran
garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum)
3. Patognomonik bila terlihat gambaran fekolit.
4. Foto polos pada apendisitis perforasi:
Gambaran perselubungan lebih jelas dan dapat tidak terbatas di
kuadran kanan bawah
Penebalan dinding usus sekitar letak apendiks, seperti sekum dan
ileum.
Garis lemak pra peritoneal menghilang.
Scoliosis ke kanan.
Tanda-tanda obstruksi usus seperti garis-garis permukaan cairan-
cairan akibat paralysis usus-usus lokal di daerah proses interaksi.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis
sederhana lebih dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi.
Tidak adanya lekositosis tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis:
terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan urin: sediment dapat normal atau
terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang
meradang menempel pada ureter atau vesika.

9. Manajemen Medis
a. Sebelum operasi :
1) Observasi.
Dalam 8 12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
appendicitis sering kali masih belum jelas. Dalam keadaan ini
observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah
baring dan di puasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai
adanya appendicitis ataupun bentuk perinitis lainnya. Pemeriksaan
abdomen dan rekal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis)
diulang secara periodic.

8|Page
Foto Abdomen dan thorax tegak dilakukan untuk mencari
kemungkinan adanya penyulit lain, pada kebanyakan kasus didiagnosis
ditegakkan dengan lokasi nyeri di daerah kanan bawah 12 jam setelah
timbulnya keluhan. Status puasa cairan dan elektrolit perlu, persiapan
untuk pembedahan (informed consent, pendidikan preoperasi).
Terapi obat = antibiotik seperti metronidasole atau cofamandole
biasanya dosis tunggal sebelum pembedahan, dilanjutkan setelah
pembedahan bila perforasi dengan kontaminasi peritoneal diberikan
setelah pembedahan.
2) Pembedahan = appendictomy.
3) Pasca operasi. Observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan didalam shock, hiperternia, atau ganguan
pernapasan. Pasien dikatakan baik bila 12 jam tidak terjadi gangguan.
Selama itu pasien dipuasakan, bila tindakan operasi lebih besar,
misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan
sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai
15 ml per jam selama 4 5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml per jam
dan setelahnya berikan makanan saring dan lunak. Satu hari pasca
operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x
30 menit dan hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar.
Hari ketujuh angkat jahitan.

10. Terapi
Apendisitis perforasi
Persiapan prabedah : Pemasangan sonde lambung dan tindakan dekompresi.
Rehidrasi. penurunan suhu tubuh. Antibiotic dengan spectrum luas, dosis
cukup, diberikan secara intravena.

Apendisitis dengan penyulit peritonitis umum


Umumnya klien dalam kondisi buruk. Tampak septis dan dalam kondisi
hipovolemik serta hipertensi. Hipovolemik akibat puasa lama, muntah dan
pemusatan cairan di daerah proses radang, seperti udem organ intraperitoneal,
9|Page
dinding abdomen dan pengumpulan cairan dalam rongga usus dan rongga
peritoneal.

Persiapan prabedah:
1. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
2. Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
3. Rehidrasi
4. Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara
intravena.
5. Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil
untuk membuka pembuluh pembuluh darah perifer diberikan setelah
rehidrasi tercapai.

11. Penatalaksanaan
1. Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif dengan ditandai
dengan :
a. Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi
b. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas
terdapat tanda-tanda peritonitis
c. Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat
pergeseran ke kiri
d. Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien
dipersiapkan, karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan
peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-
baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada
pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.
2. Massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan:
a. Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih.
b. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh
tidak tinggi lagi.
c. Pemeriksaan lokal abdomen tanang, tidak terdapat tanda-tanda
peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan.
10 | P a g e
d. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.
Tindakan yang dilakukan sebainya konservati dengan pemberian
antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila
dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila
massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan
sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi
abses dengan atau tanpa peritonitis umum.

Pembedahan
Pembedahan dikerjakan bila rehidrasi dan usaha penurunan suhu tubuh
telah tercapai. Suhu tubuh tidak melebihi 38oC, produksi urin berkisar 1-2
ml/kg/jam. nadi di bawah 120/menit.

Teknik pembedahan
Insisi transversal di sebelah kanan sedikit di bawah umbilicus. Sayatan
Fowler Weier lebih dipilih, karena cepat dapat mencapai rongga abdomen dan
bila diperlukan sayatan dapat diperlebar ke medial dengan memotong fasi dan
otot rectum. Sebelum membuka peritoneum tepi sayatan diamankan dengan
kasa. Membuka peritoneum sedikit dahulu dan alat hisap telah disiapkan
sedemikian rupa hingga nanah dapat langsung terisap tanpa kontaminasi ke
tepi sayatan. Sayatan peritoneum diperlebar dan penghisapan nanah
diteruskan. Apendektomi dikerjakan seperti biasa. Pencucian rongga
peitonium mutlak dikerjakan dengan larutan NaCl fisiologis sampai benar-
benar bersih.
Cairan yang dimasukkan terlihat jerih sewaktu dihisap kembali.
Pengumpulan nanah biasa ditemukan di fosa apendiks, rongga pelvis, di
bawah diafragma dan diantara usus-usus. Luka sayatan dicuci dengan larutan
NaCl fisiologis juga setelah peritonium dan lapisan fasia yang menempel
peritonium dan sebagian otot dijahit. Penjahitan luka sayatan jangan dilakukan
terlalu kuat dan rapat.

11 | P a g e
Pemasangan dren intraperitoneal masih merupakan kontroversi. Bila
pencucian rongga peritonium benar-benar bersih dren tidak diperlukan. Lebih
baik dicuci bersih tanpa dren daripada dicuci kurang bersih dipasang dren.

Catatan
Infiltrat radang apendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oelh
omentum dan usus-usus dan peritonium di sekitarnya sehingga membentuk
massa (appendiceal mass). Umumnya massa apendiks terbentuk pada hari ke-
4 sejak peradangan dimulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. Massa
apendiks lebih sering dijumpai pada pasien berumur 5 tahun atau lebih; daya
tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang
dan tebal untuk membungkus proses radang.

12. Pencegahan
Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko
obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus
dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit
tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan
resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis
menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.

12 | P a g e
BAB III
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Data Subyektif
1) Sebelum operasi. mengatakan
Nyeri daerah pusar menjalar ke daerah perut kanan bawah mual,
muntah, kembung Tidak nafsu makan, demam Tungkai kanan tidak
dapat diluruskan.
2) Sesudah operasi. mengatakan
- Nyeri daerah operasi
- Lemas
- Haus
- Mual, kembung
- Pusing.
b. Data Obyektif.
1) Sebelum operasi
- Nyeri tekan di titik Mc. Burney
-
Wajah mengkerut
-
Perilaku distraksi
-
Respon otomatis
-
Spasme otot
-
Takhikardi, takipnea
-
Pucat, gelisah
-
Bising usus berkurang atau tidak ada
Demam 38 - 38,5 C
-
2) Sesudah operasi
- Terdapat luka operasi di kuadran kanan bawah abdomen
- Terpasang infus
- Terdapat drain/pipa lambung
- Bising usus berkurang
- Selaput mukosa mulut kering

2. Diagnosa Keperawatan
Sebelum Operasi
1. Nyeri abdomen b.d distensi jaringan usus

13 | P a g e
DS : Mengeluh nyeri di daerah pusar menjalar ke daerah kanan
bawah,menjadi lebih berat saat melakukan aktivitas
DO : Nyeri tekan di titik Mc Burney, wajah pasien meringis menunjukan
expresi nyeri,tungkai kanan tidak dapat diluruskan , pergerakan terbatas ,
abdomen ditahan agar tidak nyeri
2. Hiperthermi b. d respon inflamasi
DS : Mengeluh badan demam
DO : Peningkatan suhu tubuh 37 38,kulit teraba hangat
3. Resiko kekurangan volume cairan b.d mual, muntah
DS : Mengeluh mual dan muntah
DO : -
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
DS : Pasien mengatakan cemas,dan menanyakan hal hal yang belum
diketahui.
DO : Gelisah,sering bertanya tentang prosedur pembedahan.

3.Perencanaan Keperawatan
Sebelum Operasi
1. Nyeri abdomen b.d distensi jaringan usus.
Goal dan obyektif : Pasien akan mempertahankan kenyamanan selama
perawatan dengan kriteria evaluasi dalam 1 2 jam intervensi
penghilangan nyeri, persepsi subjektif pasien tentang nyeri menurun,
dibuktikan dengan skala nyeri, indikator indikator obyektif, seperti
men\ringis, wajah dan posisi tubuh relaks (tidak ada/menurun).

Intervensi Keperawatan
1. Kaji dan catat kualitas, lokasi dan durasi nyeri. Gunakan skala
nyeri dengan pasien dari 0 (tidak ada nyeri) 10 (nyeri paling
buruk). Waspada tentang karakteristik ketidaknyamanan selama
tahap tahap berikut dari appendicitis.

14 | P a g e
Tahap Awal : Nyeri abdomen (baik epigastrik atau umbilikal)
mungkin tidak jelas atau menyebar, mual dan muntah : demam
: sensitifitas di atas area appendiks.
Tahap Intermediet (akut) : Nyeri berpindah dari epigastrium ke
kuadran kanan bawah pada titik Mc. Burney dan meningkat
dengan berjalan atau batuk. Nyeri dapat disertai dengan sensasi
konstipasi, anoreksia, malaise, kadang kadang diare,
penurunan peristaltik usus juga terjadi.
Appendicitis akut dengan perforasi : peningkatan kekakuan
abdomen.
R /.Berguna dalam pengawasan keefektifan obat,kemajuan
penyembuhan.Perubahan pd karakteristik nyeri menunjukan
terjadinhya abses atau pertonitis memerlukan upaya evaluasi
medis dan intervensi.
2. Berikan tindakan kenyamanan.latihan relaksasi,napas dalam.
R /. Meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping
pasien .
3. Pertahankan pasien puasa sebelum pembedahan
R/. Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltic usus dini dan
iritasi gaster/muntah.
4. Bantu posisi pasien untuk kenyamanan optimal.
R/. Menemukan kenyamanan pada posisi miring dengan lutut
ditekuk, sedangkan yang lain merasa nyerinya hilang apabila
terlentang dengan bantal di bawah lutut.
5. Kompres es pada daerah yang sakit.
R/. Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan
rasa ujung saraf.

2. Hiperthermi b.d respon inflamasi.


Gold an obyektif : Pasien akan mempertahankan suhu tubuh yang
normal selama dalam perawatan dengan criteria 1-2 jam intervensi di

15 | P a g e
berikan dapat dilihat tanda sebagai berikut;suhu tubuh dalam batas
normal 36-37,bebas dari kedinginan.

Intervensi
1. Pantau suhu tubuh pasien
R/ Suhu 38 menunjukan proses penyakit infeksi
2. Berikan kompres hangat ,hindari penggunaan alcohol
R/ dapat membantu mengurangi demam

3. Kolaborasi pemberian anti piretik


R/ di gunakan utk mengurangi demam dgn aksi sentralnya pada
hipotalamus.

3. Kekurangan volume cairan b.d mual, muntah


Goal dan obyektif : Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan
yang normal selama perawatan dengan kriteria evaluasi dalam 1 2
jam intervensi diberikan dapat dilihat tanda sebagai berikut : bibir
tiadak kering, mukosa membran lembab, turgor kulit baik, tidak
kering.

Intervensi Keperawatan :
1. Kontrol TTV terhadap peningkatan suhu, peningkatan frekwensi
nadi, hipotensi tiap 4 jam.
R/. Tanda yang membantu mengindentifikasi volume intravascular
2. Auskultasi bising usus catat kelancaran flastus dan gerakan usus.
R/. Indikator kembalinya peristaltic,kesiapan untuk pemasukan
peroral
3. Pasang infus dan pipa lambung sesuai dengan program medik.
R/. Mempertahankan volume sirkulasi dan memperbaiki
ketidakseimbangan.
4. Kontrol cairan keluar dan masuk bila urin < 30/jam, laporkan
dokter.
16 | P a g e
R/. Memberikan informasi tentang status cairan/volume sirkulasi
dan kebutuhan pengantian .
5. Berikan sejumlah kecil minuman dan lanjutkan dengan diet sesuai
toleransi.
R/. Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan
kehilangan cairan

4. Kecemasan b.d penurunan status kesehatan.


Goal dan obyektif : Pasien akan meningkatkan pengetahuannya dengan
kriteria evaluasi pasien mengungkapkan pengetahuan tentang prosedur
pembedahan termasuk persiapan preoperasi dan sensasi dan perawatan
operasi dan mendemonstrasikan latihan pascaoperasi dan
menggunakan alat sebelum prosedur pembedahan atau pada
kedaruratan selama periode pascaoperasi segera.

Intervensi Keperawatan :
1. Kaji pemahaman pasien tentang diagnosis, prosedur bedah,
ritunitas preoperasi dan program pascaoperasi. Evaluasi tenatang
hasrat pasien terhadap informasi tentang diagnosa dan prosedur.
R/.Memberikan dasar pengetahuan pada pasien yang
memungkinkan membuat pilihan utk informasi .
2. Jelaskan tentang diagnosa dan prosedu pembedahan sesuai
kebutuhan.
R/ Informasi me3nurunkan cemas.
3. Jelaskan tentang peristiwa preoperasi :
Dimana pasien akan berada sebelum, selama dan segera setelah
operasi.
Obat obatan preoperasi dan waktu pembedahan.
Penatalaksanaan nyeri, termasuk sensasi yang akan dirasakan.
Pemasangan kateter, selang dan ala pemberian oksigen.
Perubahan aktivitas posisi.

17 | P a g e
Perlunya menghindari merokok selama periode preoperasi.
Jam kunjungan dan lokasi ruang tunggu.
R/ Mengetahui apa yg diharapkan dapat menurunkan kecemasan
4. Jelaskan aktivitas, latihan dan kewaspadaan pascaoperasi. Izinkan
pasien kembali mendemonstrasikan alat dan latihan berikut dengan
cepat :
Napas dalam dan latihan batuk.
Gerakkan naik turun dari tempat tidur.
R/ Mencegah kelemahan dan perasaan sehat.
5. Sebelum pasiena pulang, anjurkan tentang aktivitas yang akan
dilakukan :
Meningkatkan aktivitas secara bertahap, menghindari secara
bertahap sesuai toleransi, menghindari mengangkat beban (> 5Kg),
menghindari mengemudi mobil (sering selama 4 6 minggu).
R/ Menghindari peningkatan tekanan intra abdomen yg tidak perlu.
6. Berikan waktu pada pasien untuk mengajukan pertanyaan dan
mengekspresikan perasaan :.
R/ Meningkatkan proses belajar dan mengambil keputusan dan
menurunkan kecemasan.

4.Implementasi
Implementasi merupakan realisasi dari rencana tindakan yang telah di
susun dalam rencana perawatan. Implementasi bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan akan pelayanan keperawatan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan

5. Evaluasi
1. Nyeri pasien berkurang
2. Suhu tubuh dalam batas normal
3. Mempertahankan keseimbangan cairan
4. Mengatakan tidak cemas lagi.

18 | P a g e
6. Pendidikan Pasien Keluarga dan Rencana Penulangan
Berikan psien dan orang terdekat informasi verbal dan tertulis mengenai hal
berikut :
1. Obat - obatan termasuk nama obat, tujuan, dosis, jadwal, kewaspadaan,
interaksi obat obatan dan makanan/obat dan potensial efek samping.
2. Perawatan insisi, termasuk penggantian balutan dan pembatasan mandi
bila tepat.
3. Indikator - indikator infeksi : demam, menggigil, nyeri insisi, kemerahan,
bengkak dan keluar drainase purulent.
4. Menghindari enema untuk beberapa minggu pasca operasi, waspadakan
pasien tentang perlunya memeriksa pada dokter sebelum melakukan
enema.
5. Kewaspadaan pascabedah : Menghinadari mengangkat objek berat (>
4,5kg) selama 6 minggu pertama.

19 | P a g e
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Appendicitis merupakan penyakit yang bisa terjadi pada anak, orang

dewasa dan lanjut usia. Untuk mengatasi penyakit ini salah satu alternatif

pemecahan masalah adalah dengan tindakan pembedahan atau appendectomy.

Masalah yang timbul setelah pasien mengalami pembedahan

mempengaruhi seluruh sistem tubuh diantaranya sistem pernapasan, gangguan

keseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan rasa nyaman serata masalah

masalah post operasi lainnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, tidak hanya

tergantung pada dokter, tetapi juga sangat tergantung pada pelayanan perawat

dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

20 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Juall .(2000) Diagnosa Keperawatan ,Edisi 6 EGC

Dougthy, D. B. et al (1993) Gastrointestinal Disorders, Mosby, Toronto

Doengoes, M. E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Perencanaan


untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC,
Jakarta.

Engram, Barbara. (1991) Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Alih


bahasa Suharyati Samba, Volume I, EGC, Jakarta

Mansjoer Arif dkk.( 2000) Kapita Selekta Kedokteran,jilid 2 FKUI.

Reeves, J. C. dkk (2001), Keperawatan Medikal Bedah, Penerjemah Joko


Setyono, Salemba Medika, Jakarta.

21 | P a g e