Anda di halaman 1dari 10

MINGGU 12 & 13

EKONOMI KESEHATAN DAN


JAMINAN KESEHATAN DI
INDONESIA
Pendahuluan
Usaha pemerintah Indonesia untuk menjamin kesehatan warga negaranya
telah dirintis melalui penyelenggaraan jaminan sosial kesehatan. Seperti
halnya skema asuransi kesehatan pegawai negeri yang diinisiasi sejak tahun
1968 melalui ASKES, dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja atau Jamsostek yang
diperkenalkan pada 1992 (Malik 2002). Pada minggu ini, Anda akan
mempelajari perubahan-perubahan skema pembiayaan dan jaminan
kesehatan nasional yang ada di Indonesia. Pemahaman tentang topik minggu
ini akan berguna sebagai dasar untuk menjelaskan peran perawat kesehatan
komunitas dalam implementasi visi pembangunan kesehatan nasional.

Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan proses pembelajaran mandiri dalam minggu ini, Anda
diharapkan mampu untuk:

Memahami dasar ekonomi dan pembiayaan kesehatan


Menjelaskan kembali kebijakan universal health insurance di Indonesia
Memahami sumber dana dan pembiayaan kesehatan nasional
Menjelaskan kebijakan jaminan kesehatan universal di Indonesia
Mengidentifikasi peran perawat dalam jaminan kesehatan di Indonesia

Dasar Ekonomi Kesehatan


Secara definitif, ekonomi kesehatan merujuk pada pemanfaatan ilmu ekonomi
untuk penataan kuantifikasi dan kualifikasi, serta alokasi dan efisiensi
penggunaan sumber daya pelayanan kesehatan dalam upaya pembangunan
dan produktivitas kesehatan individu maupun kelompok yang lebih besar
dalam skala nasional. Secara konseptual, ekonomi dan kesehatan memiliki
hubungan timbal balik sebab akibat. Sebagai ilusitrasi, derajat kesehatan
yang buruk pada seseorang akan berdampak pada peningkatan beban
ekonomi terhadap individu tersebut, maupun terhadap keluarga yang
merawat. Sebagai contoh pada penderita diabetes mellitus, maka secara
ekonomi keluarga dan penderita tersebut akan mendapatkan beban biaya
tambahan, seperti: ongkos pengobatan sepanjang hayat, pemeriksaan
kesehatan rutin, ongkos transportasi menuju ke fasilitas kesehatan, dan biaya
perawatan harian selain beban finansial lain yang harus ditanggung
sebagaimana keluarga yang sehat.

Sebaliknya, kondisi ekonomi yang rentan juga berperan terhadap outcome


derajat kesehatan keluarga secara umum. Sebagai contoh pada keluarga pra-
sejahtera, akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan layanan kesehatan,
memberikan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembang anak, memberikan
persiapan kehamilan dan persalinan, dan pembebanan kesehatan lainnya.

Aktivitas Exploratory Learning 1:


1. Dapatkah Anda memberikan contoh dan penjelasan hubungan antara
kesehatan dan status ekonomi antara individu dengan individu lain,
keluarga, masyarakat, dan negara?
2. Bagaimanakah klasifikasi dan indikator keluarga sejahtera menurut
Undang Undang RI No. 10 tahun 1992?

Konsep Pembiayaan Layanan Kesehatan


Biaya layanan kesehatan didefinisikan sebagai dana yang harus disediakan
untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan
yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, dan masyarakat. Secara umum,
penyedia dana kesehatan di antaranya adalah: Pemerintah suatu negara,
individu warga negara, dan sektor swasta. Dalam sudut pandang transaksi
ekonomi sederhana, pembiayaan layanan kesehatan yang harus dikeluarkan
oleh penderita terbagi atas tiga beban:

1. Beban biaya langsung, adalah biaya yang harus dikeluarkan pengguna


untuk mendapatkan jasa layanan kesehatan. Seperti contohnya, biaya
pemeriksaan kesehatan dan peresepan oleh dokter praktik, biaya
pelayanan rawat luka, atau biaya pemasangan IUD,
2. Beban biaya tidak langsung, yang merujuk pada biaya yang harus
dikeluarkan atas waktu dan tenaga yang hilang, seperti: kegagalan
individu untuk mendapatkan pendapatan finansial akibat kesakitan
yang diderita, dan
3. Beban biaya externality, adalah beban finansial yang hilang akibat
dampak kesakitan yang luas. Contohnya: biaya mengantarkan
penderita ke fasilitas kesehatan, biaya konsumsi selama menunggu
penderita dirawat di fasilitas kesehatan dan yang lainnya.

Efisiensi dan Produktifitas Pelayanan Kesehatan


Sebaliknya, fasilitas pelayanan kesehatan sebagai penyedia jasa, mengukur
pembebanan biaya kesehatan melalui sudut pandang efisiensi, produktifitas,
dan equity of service.

1. Clewer & Perkins (1998) menjelaskan efisiensi produktifas sebagai


kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memproduksi
kuantitas jasa yang optimal dengan ketersediaan input yang ada.
Secara singkat, fasilitas kesehatan dikatakan produktif dan efisien jika
mampu memproduksi jasa yang optimum dan memuaskan
penggunanya dengan kapasitas sumberdaya dengan segala
keterbatasannya. Salah satu indikator pada kapasitas ini adalah
jumlah konsumen yang dapat memanfaatkan jasa fasilitas kesehatan
dan mendapatkan pengobatan secara layak.
2. Equity (keadilan) tidak selalu beriringan dengan equality
(kesetaraan/kesamaan) dalam perspektif kesehatan. Sebagai ilustrasi,
perlakuan antar penderita yang didasarkan pada kegawatan dan jenis
penyakit yang menyertainya (horizontal equity). Pada perspektif
ekonomi kesehatan yang lain, prinsip keadilan juga bermakna pada
fasilitas yang akan disediakan kepada pengguna jasa kesehatan
berdasarkan kemampuan menyediakan biaya pelayanan kesehatan
yang diharapkan (vertical equity).
Aktivitas Exploratory Learning 2:
3. Dapatkah Anda memberikan contoh untuk menjelaskan maksud
horizontal equity, dan
4. Dapatkah Anda memberikan contoh untuk menjelaskan maksud
vertical equity?

Skema Pembiayaan Layanan Kesehatan untuk Konsumen


(Mikro)
Secara umum dalam dunia ekonomi kesehatan, pengguna jasa memiliki hak
untuk memilih skema pembiayaan untuk kepentingan kesehatannya.
Setidaknya saat ini terdapat empat (4) skema yang dikenal, di antaranya out-
of-pocket, pajak (taxation), asuransi, dan medical saving. Adapun penjelasan
singkat tentang opsi skema di atas sebagai berikut:

1. Out of pocket. Dengan cara ini pasien membayar langsung kepada


dokter atau pembeli pelayanan kesehatan lainnya untuk pelayanan
kesehatan yang sudah diterima,
2. Pajak dan Pendapatan Negara lainnya. Pemerintah membayar biaya
pelayanan kesehatan pengguna jasa kepada fasilitas kesehatan yang
ditunjuk,
3. Asuransi (komersial). Sistem asuransi menarik premi (iuran) yang
dibayarkan oleh peserta asuransi setiap periode tertentu untuk
mendapatkan manfaat perlindungan (pembiayaan) kesehatan sesuai
dengan hak yang telah disepakati melalui perjanjian kontrak dengan
penyedia asuransi, dan
4. Medical Saving Account (MSA), yang mengharuskan warga menabung
uang untuk membiayai pelayanan kesehatan sendiri.

Aktivitas Exploratory Learning 3:


5. Dapatkah Anda menunjukkan keuntungan dan kerugian skema
pembiayaan out-of-pocket?
6. Dapatkah Anda memberikan contoh implementasi pembiayaan
pelayanan kesehatan di Indonesia yang menggunakan skema:
Pajak,
Asuransi, dan
MSA

Ekonomi Kesehatan Indonesia; Pra implementasi SJSN


2014
Proyeksi bank dunia pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan mencapai
jumlah 275 juta jiwa (Rokx et al. 2009). Jumlah penduduk sebesar ini
diprediksi akan merubah pola penyakit dan respon sakit masyarakat,
termasuk perubahan kebutuhan kesehatan, dan pemegang peran caregiver di
dalam keluarga. Di sisi lain, proyeksi populasi ini menjadi elemen penting
dalam penentuan kebijakan kesehatan nasional karena adanya tren
peningkatan usia harapan hidup, pergeseran epidemiologi penyakit menular
dan tidak menular.

Bacaan Pengantar Wajib (Kegiatan Mandiri)

Rokx, C, Schieber, G, Harimurti, P, Tandon, A & Somanathan, A 2009b,


Health Financing in Indonesia: A Reform Roadmap (Ringkasan
Eksekutif), ed. B World, Jakarta

Efendy, F & Makhfudli 2009, 'Ekonomi Perawatan Kesehatan', in


Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta, pp. 35-44.

Malik (2002) menekankan bahwa terdapat peran penting pemerintah dalam


menentukan keberhasilan implementasi kebijakan kesehatan untuk
mengendalikan penyakit-penyakit strategis di masyarakat (seperti
tuberculosis, HIV/AIDS, dan malaria). Salah satu peran penting pemerintah
dalam hal ini adalah sebagai pemegang utama program penjaminan
kesehatan nasional yang tepat sasaran. Rokx et al. (2009) menegaskan
bahwa selain pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta juga turut
berperan terhadap keberhasilan implementasi kebijakan kesehatan di
Indonesia.
Reading activity 1
Rokx, C, Schieber, G, Harimurti, P, Tandon, A & Somanathan, A 2009a,
Health Financing in Indonesia: A Reform Road Map, Directions in
Development. Human Development, World Bank, Washington, D.C.
Baca halaman 14-25 saja.

Tren Beban Pembiayaan Kesehatan Makro


Setiap tahun anggaran belanja kesehatan terjadi peningkatan. Hal ini terjadi
sebagai dampak pemanfaatan teknologi terkini dalam kesehatan, pengenalan
obat-obatan baru, penyesuaian upah tenaga kesehatan, perubahan stabilitas
ekonomi dan politik, dan perubahan demografi penduduk. Di sisi lain,
kompleksitas penyakit akut dan menular, perubahan pola penyakit kronis dan
degeneratif, serta kesadaran perilaku kesehatan individu dan keluarga yang
dinamis turut meningkatkan beban pembiayaan kesehatan di Indonesia
secara umum. Malik (2002) menjelaskan peningkatan pembiayaan ini menjadi
tanggungan pemerintah pusat dan daerah, swasta, dan masyarakat secara
langsung.

Reading activity 2
Malik, R 2002, 'Pembiayaan Kesehatan di Indonesia Tahun 1990-2000',
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol. 5, no. 2, pp. 93-105.

Jaminan dan Skema Pembiayaan Kesehatan Nasional


Pada era sebalum 2014, skema pembayaran biaya pelayanan kesehatan
yang disediakan pemerintah memberikan ruang gerak yang luas. Skema
pertanggungan yang ada diantaranya asuransi yang ditanggung pemerintah
(social health insurance, seperti ASKES, JAMSOSTEK, JAMPERSAL,
JAMKESDA, JAMKESMAS, dan ASKIN), asuransi swasta (private insurance),
dan sistem pembayaran langsung (out-of-pocket). Namun demikian, skema
yang ada di era ini menimbulkan kelompok yang tidak tertanggung asuransi
tetapi tidak mampu memanfaatkan sarana kesehatan yang ada akibat biaya
kesehatan yang tidak terjangkau. Seperti contoh kasus yang ada pada artikel
berikut:

Reading activity 3
Webster, PC 2013, 'Indonesia: stratified health the norm', CMAJ, vol. 185, no.
2, Feb 5, pp. E99-E100.
Aktivitas Exploratory Learning 4:
7. Dari manakah sumber pembiayaan kesehatan di Indonesia jika
penanggung pembiayaan tersebut adalah:
Pemerintah
Lembaga/Organisasi non-pemerintah
Rumah Tangga/Individu
Perusahaan Swasta

Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)


Implementasi SJSN di Indonesia berorientasi kepada paradigma penyediaan
biaya kesehatan untuk seluruh rakyat di Indonesia (Universal Health
Coverage). Melalui pendekatan ini, pemerintah memiliki kewajiban untuk
menyediakan pelayanan kesehatan yang dapat diakses seluruh lapisan
masyarakat. Secara global, di seluruh dunia mengenal dua model UHC:
Bismarck Model, dan Beveridge Model. Jika Bismarck Model mengenal
asuransi sosial, sedangkan Beveridge Model mengandalkan pajak sebagai
sumber utama pembiayaan kesehatan. Salah satu negara yang menganut
Beveridge Model adalah Britania Raya (Inggris).

Bacaan Pengantar Wajib


Undang-Undang RI Nomor 40 tahun 2004 tentang SJSN

Menilik Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28H dan 34, seluruh rakyat
Indonesia berhak jaminan sosial dan perlindungan kesehatan. Sejak jaminan
kesehatan sosial nasional (universal health insurance) diimplementasikan
(per 1 Januari 2014) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),
pada tahun 2019 diharapkan seluruh penduduk Indonesia mendapatkan
manfaat dari perlindungan kesehatan. Sehingga seperti kasus Irsan Nasution
tidak terulang kembali.

Keuntungan implementasi sistem ini seharusnya dapat dirasakan langsung


oleh pengguna jasa layanan kesehatan. Tidak hanya menekan sistem
pembayaran out-of-pocket, tetapi juga meningkatkan aksesibilitas masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan. Manfaat yang diharapkan salah satunya
adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Namun demikian, skema ini juga menimbulkan peningkatan pembiayaan
kesehatan secara nasional terutama untuk perbaikan kualitas dan
penambahan kuantitas fasilitas, sarana penunjang, dan sumber daya
kesehatan ('Indonesia strides towards universal health care' 2014).

Aktivitas Exploratory Learning 5:


8. Model Universal Health Coverage manakah yang dianut oleh Sistem
Jaminan Sosial Nasional Indonesia?

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


Melalui Undang-Undang RI nomor 24 tahun 2011, presiden RI bersama
Dewan Perwakilan Rakyat membentuk badan hukum penyelenggara program
jaminan sosial. Berdasarkan UU ini, kemudian penyelenggara asuransi
negara (ASKES dan JAMSOSTEK) berganti menjadi BPJS Kesehatan dan
BPJS Ketenagakerjaan. Adapun program yang dilaksanakan diantaranya
jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, pensiun, dan jaminan kematian.

Pemberlakuan aturan baru ini merubah skema pembiayaan berbasis asuransi


komersial menjadi universal social health insurance. Sebagai
konsekuensinya, kepesertaan dalam skema ini bersifat wajib bagi seluruh
penduduk Indonesia. Pemberi kerja, pegawai negeri dan swasta, dan individu
wajib menjadi anggota dan membayar premi bulanan BPJS. Adapun bagi
kelompok tidak mampu diatur kemudian (Vidyattama, Miranti & Resosudarmo
2014). Lebih jelas, melalui PP RI Nomor 101 tahun 2012, pemerintah
mengatur tentang penerima bantuan iuran jaminan kesehatan.

Bacaan Pengantar Wajib


Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 tahun 2012 tentang Penerima Bantuan
Iuran Jaminan Kesehatan
Peraturan Presiden RI Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
Reading activity 4
Vidyattama, Y, Miranti, R & Resosudarmo, BP 2014, 'The Role of Health
Insurance Membership in Health Service Utilisation in Indonesia',
Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 50, no. 3, pp. 393-413.

Aktivitas Exploratory Learning 6:


9. Dapatkah Anda menjelaskan dan mengidentifikasi siapa sajakah yang
dimaksud dengan Penerima Bantuan Iuran dan Non-Penerima
Bantuan Iuran dalam Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional di
Indonesia?
10. Siapakah sajakah yang menjadi target peserta:
BPJS Kesehatan, dan
BPJS Ketenagakerjaan?

Reflective Activity
Setelah mempelajari topik minggu ini, jelaskan bagaimana peran perawat
komunitas jika:

1. Di area kerja saudara terdapat keluarga yang belum menjadi peserta


BPJS?
2. Apa sajakah pengkajian yang perlu dipastikan agar keluarga tersebut
dapat memanfaatkan kepesertaan dalam BPJS? Jelaskan langkah-
langkah yang diperlukan!

Gunakan sedikitnya 2 referensi tambahan selain jurnal yang digunakan dalam


materi ini.

Dalam bentuk .doc atau .docx atau .pdf font size 12 spasi 1.5, kumpulkan
tugas ini kepada koordinator kelas anda untuk dikirimkan ke
setho.h@fkp.unair.ac.id dalam bentuk compressed folder (.zip atau .rar)
sebelum 16 Juni 2017.
Simpulan
Dalam topik minggu ini kita telah mempelajari dasar dan perubahan ekonomi
kesehatan dan pembiayaan kesehatan nasional di Indonesia. Melalui aktifitas
ini, Anda telah mempelajari bahwa pembiayaan kesehatan di Indonesia
sangat dinamis sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan sosial,
ekonomi, kemasyarakatan, dan teknologi. Terdapat peran penting perawat
sebagai advokat bagi masyarakat untuk mendapatkan kesamaan hak dalam
sebagaimana amanat UUD 1945.

Pustaka
Efendy, F & Makhfudli 2009, 'Ekonomi Perawatan Kesehatan', in
Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta, pp. 35-44.

'Indonesia strides towards universal health care', 2014, The Lancet, vol. 383,
no. 9911, p. 2.

Malik, R 2002, 'Pembiayaan Kesehatan di Indonesia Tahun 1990-2000',


Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol. 5, no. 2, pp. 93-105.

Rokx, C, Schieber, G, Harimurti, P, Tandon, A & Somanathan, A 2009, Health


Financing in Indonesia: A Reform Road Map, Directions in
Development. Human Development, World Bank, Washington, D.C.

Vidyattama, Y, Miranti, R & Resosudarmo, BP 2014, 'The Role of Health


Insurance Membership in Health Service Utilisation in Indonesia',
Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 50, no. 3, pp. 393-413.