Anda di halaman 1dari 11

Nama : Ghofur Yudhistira Hartono

NPM : 1553010018

Mata Kuliah : Agama Islam

Soal !

1. Jelaskan Konsep Ketuhanan dalam Islam ?


2. Jelaskan pemikiran manusia tentang Tuhan menurut Islam evolusionisme ?
3. Bagaimana Konsep ketuhanan menurut Al Quran ? Sebutkan ayat ayat Al Quran yang
berkenaan dengan konsep ketuhanan !
4. Jelaskan definisi Iman set korelasinya dengan ketaqwaan ?
5. Apakah keimanan dapat menghilangkan sifat sifat seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme ?
Jelaskan !
6. Jelaskan ciri ciri seseorang yang beriman ?
7. Upaya yang perlu diperlukan orangtua dam rangka pembentukan iman pada anak anaknya
? Jelaskan !
8. Apakah Iman dan tawa memiliki andil yang cukup besar dalam mengatasi problematika dan
tantangan kehidupan modern ? Jelaskan !

Jawaban

1. Konsep ketuhanan dalam Islam pada dasarnya terpaku pada pemikiran umat islam Aiu sendiri.
Karena perlu kita tahu bahwa kata tuhan dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing
asing Agama atau memiliki definisi tersendiri. Mengapa konsep tuhan itu penting ? Tentu saja
itu penting karena hal tersebut menyangkut pandangan hidup kita secara kedepannya.
Bagaimana kita bisa hidup tanpa bisa berpegang pada sesuatu apapun , seperti halnya orang
ateis ataupun orang komunis yang awalnya mengaku mereka tidak bertuhan tapi hal yang
sebenarnya mereka gagaskan, ideologi yang mereka terapkan dan amalkan serta hasil
pemikiran merekalah yang dianggap tuhan oleh orang semacam mereka. Dalam konteks ini
kita bisa tahu bahwa yang dianggap tuhan adalah untuk menyatakan berbagai objek yang
dibesarkan atau dipentingkan oleh manusia.

Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia
sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.

Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang


dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau
kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau
kerugian.

Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:

Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya,
merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya
tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal
kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan
menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya
(M.Imaduddin, 1989:56)
Atas dasar definisi ini, Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan manusia.
Yang pasti, manusia tidak mungkin ateis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan
logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan
begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka
ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.

Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat la ilaaha illa Allah. Susunan kalimat tersebut
dimulai dengan peniadaan, yaitu tidak ada Tuhan, kemudian baru diikuti dengan
penegasan melainkan Allah. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus
membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam
hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.

2. Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, atau Ilmu
Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Secara garis besar, ada aliran yang bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang
bersifat di antara keduanya. Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya
perbedaan metodologi dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan
kontekstual sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Sedang sebagian umat Islam
yang lain memahami dengan pendekatan antara kontektual dengan tektual sehingga
lahir aliran yang bersifat antara liberal dengan tradisional. Ketiga corak pemikiran ini
telah mewarnai sejarah pemikiran ilmu ketuhanan dalam Islam. Aliran tersebut yaitu:

a. Mutazilah yang merupakan kaum rasionalis di kalangan muslim, serta menekankan


pemakaian akal pikiran dalam memahami semua ajaran dan keimanan dalam Islam.
Orang islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mukmin. Ia berada di antara
posisi mukmin dan kafir (manzilah bainal manzilatain).

Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika Yunani, satu
sistem teologi untuk mempertahankan kedudukan keimanan. Hasil dari paham
Mutazilah yang bercorak rasional ialah muncul abad kemajuan ilmu pengetahuan
dalam Islam. Namun kemajuan ilmu pengetahuan akhirnya menurun dengan kalahnya
mereka dalam perselisihan dengan kaum Islam ortodoks. Mutazilah lahir sebagai
pecahan dari kelompok Qadariah, sedang Qadariah adalah pecahan dari Khawarij.

b. Qodariah yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam


berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah ia akan kafir atau
mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas
perbuatannya.

c. Jabariah yang merupakan pecahan dari Murjiah berteori bahwa manusia tidak
mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku
manusia ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.

d. Asyariyah dan Maturidiyah yang pendapatnya berada di antara Qadariah dan


Jabariah

Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran ketuhanan dalam kalangan umat islam
periode masa lalu. Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut di atas tidak bertentangan
dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu umat Islam yang memilih aliran mana saja
diantara aliran-aliran tersebut sebagai teologi mana yang dianutnya, tidak menyebabkan
ia keluar dari islam. Menghadapi situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang
ini, umat Islam perlu mengadakan koreksi ilmu berlandaskan al-Quran dan Sunnah
Rasul, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu. Di antara aliran tersebut
yang nampaknya lebih dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan
meningkatkan etos kerja adalah aliran Mutazilah dan Qadariah.

3. Dalam Islam, ada 1 surah di juz 30 yang sangat ringkas, tapi efektif menjelaskan konsep
Tuhan, yaitu Surah Al-Ikhlash: Qul huwallaahu ahad (Allah itu hanya satu). Allaahush-
shamad, (Allah tempat bergantung segala sesuatu). Lam yalid wa lam yuulad, (Allah
tidak beranak dan tidak diperanakkan). Wa lam yaqun lahuu kufuwan ahad, (Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya).

Ayat pertama langsung memperkenalkan konsep tauhidullaah, yaitu keesaan Allah.


Allah itu satu. Apanya yang satu? Dzat-Nya sudah pasti cuma satu. Dia-lah satu-
satunya Dzat yang bernama Allah. Para ulama berpendapat bahwa tauhidullah jauh
lebih dalam daripada sekedar menjelaskan tunggalnya Dzat Allah. Selain tunggal Dzat-
Nya, Allah pun tunggal dari segi sifat dan perbuatan-Nya. Artinya, sifat Allah hanya
milik Allah, dan perbuatan Allah hanya milik Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki
sifat seperti Allah, dan tak ada makhluk yang mampu berbuat seperti Allah.

Lihat perbuatan Nabi Ibrahim a.s. Berhala-berhala itu sifatnya sama seperti benda mati,
bahkan tak mampu berbuat apa-apa. Itukah konsep Tuhan yang benar? Maka, ayat
pertama dalam Surah Al-Ikhlash telah secara jitu menjelaskan konsep tauhidullaah.
Inilah konsep Tuhan yang khas milik Islam. Bukan milik yang lain.

Ayat kedua menjelaskan apa pekerjaan Allah. Kepada Allah-lah tempat bergantung
segala sesuatu. Tidak seperti orang Yunani kuno yang percaya bahwa tuhan cuma diam,
Islam percaya bahwa Allah senantiasa dalam kesibukan. Allah-lah yang membuat
keputusan atas segala sesuatunya di dunia ini. Karena itu, kita meminta kepada-Nya.
Kita beribadah pada-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya. Iyyaaka nabuduu wa
iyyaaka nastaiin. Di sini, kita dapat melihat perbedaan pandangan antara Islam dan
kepercayaan Yunani kuno tadi. Tuhan yang diam versi para filsuf Yunani itu tidak
bisa dimintakan pertolongan. Sebab maunya cuma diam. Dalam kepercayaan dewa-
dewi ala Yunani yang lebih kuno lagi, tuhan malah perlu disogok dan dirayu. Kalau
tidak diadakan pemujaan dan persembahan macam-macam, dewa-dewi Yunani tidak
peduli pada manusia.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk berdoa dan meminta pada Allah. Sebab semuanya
bergantung pada Allah. Kalau kita menganggap bahwa prestasi kita adalah hasil kerja
keras kita sendiri, maka itulah hamba Allah yang sombong. Jangankan kita, para Nabi
dan Rasul saja berdoa. Siapa yang lebih saleh daripada mereka?

Setelah menegaskan ketunggalan Allah, ayat ketiga menjelaskan bahwa Allah itu tak
punya keturunan dan bukan anak siapa-siapa. Sebab, bisa jadi orang menyangka bahwa
Allah itu memang satu, tapi Dia punya anak yang mewarisi kehebatannya. Jika kita
katakan bahwa Hanya ada 1 orang yang bernama X, maka bisa jadi si X punya anak
bernama si Y. Dan Y sejenis dengan X. Sebagaimana Zeus itu cuma 1, tapi anaknya
banyak. Ini bukan konsep Tuhan ala Islam. Dalam kepercayaan dewa-dewi Yunani,
Zeus jadi dewa terkuat setelah menggulingkan ayahnya, Kronos. Kronos pun
sebelumnya telah menggulingkan ayah kandungnya sendiri.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Allah hanya 1 dan takkan ada pesaing yang sejenis
dengan-Nya. Tapi, kalau berhenti di sini, bisa jadi ada orang berpikir bahwa Allah
hanya ada satu, tapi ada pengganti yang mirip. Sama saja seperti kita punya pisau, tapi
juga punya cutter yang bisa menjalankan fungsi yang mirip dengan pisau.

Ayat terakhir menuntaskan konsep tauhidullaah. Allah hanya satu, dan tak ada yang
serupa dengan-Nya. Ayat terakhir ini juga penting untuk menjelaskan dua konsep
tauhidullaah, yaitu ketunggalan sifat dan perbuatan-Nya. Apa pun yang bisa kita
bayangkan, itu bukanlah Allah. Karena Allah berbeda dari segalanya. Karena itu, Islam
tidak mengenal penggambaran Dzat Allah. Jika umat Kristiani dan Hindu
menggambarkan sosok tuhan mereka, maka Islam tidak menggambarkan sosok Allah.
Allah Maha Melihat, kita pun dapat melihat. Tapi penglihatan kita berbeda dengan
Allah. Tidak ada yang serupa dengan-Nya. Burung dan lalat bisa terbang, pesawat pun
bisa. Tapi burung dan lalat itu berbeda dengan pesawat.

4. Kebanyakan orang menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja amina-
yumanu-amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya
menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada
Allah dan selainnya seperti yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap
kesehariannya tidak mencerminkan ketaatan dan kepatuhan (taqwa) kepada yang telah
dipercayainya, masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan karena adanya
keyakinan mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia adalah Allah dan
dengan membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.

Dalam surah al-Baqarah ayat 165 dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang
yang amat sangat cinta kepada Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu beriman
kepada Allah berarti amat sangat rindu terhadap ajaran Allah, yaitu Al-Quran menurut
Sunnah Rasul. Hal itu karena apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak orang
yang beriman, sehingga dapat menimbulkan tekad untuk mengorbankan segalanya dan
kalau perlu mempertaruhkan nyawa.

Dalam hadits diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan


keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan
(Al-Immaanu aqdun bil qalbi waigraarun billisaani waamalun bil arkaan). Dengan
demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku
perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya
hidup.

Istilah iman dalam al-Quran selalu dirangkaikan dengan kata lain yang memberikan
corak dan warna tentang sesuatu yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa:51 yang
dikaitkan dengan jibti (kebatinan/idealisme) dan thaghut (realita/naturalisme).
Sedangkan dalam surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata bathil, yaitu walladziina
aamanuu bil baathili. Bhatil berarti tidak benar menurut Allah. Dalam surat lain iman
dirangkaikan dengan kata kaafir atau dengan kata Allah. Sementara dalam al-Baqarah:
4, iman dirangkaikan dengan kata ajaran yang diturunkan Allah (yuminuuna bimaa
unzila ilaika wamaa unzila min qablika).

Kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata lain dalam al-Quran, mengandung arti
positif. Dengan demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau
dengan ajarannya, dikatakan sebagai iman haq. Sedangkan yang dikaitkan dengan
selainnya, disebut iman bathil.

Korelasi Keimanan dan Ketakwaan

Keimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi dua,
yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis. Tauhid teoritis adalah tauhid yang membahas
tentang keesaan Zat, keesaan Sifat, dan keesaaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan
keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan,
persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis
adalah pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang
menjadi sumber semua wujud.

Adapun tauhid praktis yang disebut juga tauhid ibadah, berhubungan dengan amal
ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa
ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengertian tauhid
praktis (tauhid ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah. Dengan
kata lain, tidak ada yang disembah selain Allah, atau yang berhak disembah hanyalah
Allah semata dan menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan
langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengertian beriman kepada
Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan
Tuhan, tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan perbuatan,
tidak dapat dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara sempurna. Dalam
pandangan Islam, yang dimaksud dengan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang
tercermin dalam ibadah dan dalam perbuatan praktis kehidupan manusia sehari-hari.
Dengan kata lain, harus ada kesatuan dan keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid
praktis dalam diri dan dalam kehidupan sehari-hari secara murni dan konsekuen.

Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep dan
pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian bertauhid
adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan percaya kepada Allah melalui
pikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan
dengan perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa,
apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa
Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan
mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

5. Wujud Iman

Akidah Islam dalam al-Quran disebut iman. Iman bukan hanya berarti percaya,
melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu
lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang
muslim yang disebut amal saleh.

Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan


kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai
dengan keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan,
melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam
perbuatannya.

Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Ia merupakan
keyakinan yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan atau amal. Seseorang
dipandang sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia
berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai
amaliah seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak beraqidah, maka segala
amalnya tidak memiliki arti apa-apa, kendatipun perbuatan yang dilakukan bernilai
dalam pendengaran manusia.

Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia terikat dengan segala
aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi seorang muslim berarti
meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam. Seluruh
hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.

6. Tanda-tanda Orang Beriman

Al-Quran menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:


1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah
tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Quran, maka
bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (al-Anfal: 2). Dia akan
memahami ayat yang tidak dia pahami.
2. Senantiasa tawakal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah,
diiringi dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah
menurut Sunnah Rasul (Ali Imran: 120, al-Maidah: 12, al-Anfal: 2, at-Taubah:
52, Ibrahim: 11, Mujadalah: 10, dan at-Taghabun:13).
3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya (al-
Anfal: 3 dan al-Muminun: 2, 7). Bagaimanapun sibuknya, kalau sudah masuk
waktu shalat, dia segera shalat untuk membina kualitas imannya.
4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan al-Mukminun:4). Hal
ini dilakukan sebagai suatu kesadaran bahwa harta yang dinafkahkan di jalan
Allah merupakan upaya pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi ketimpangan
antara yang kaya dengan yang miskin.
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (al-
Mukminun: 3,5). Perkataan yang bermanfaat atau yang baik adalah yang
berstandar ilmu Allah, yaitu al-Quran menurut Sunnah Rasulullah.
6. Memelihara amanah dan menepati janji (al-Mukminun: 6). Seorang mumin
tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah dan menepati
janji.
7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (al-Anfal:74). Berjihad di jalan
Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah, baik
dengan harta benda yang dimiliki maupun dengan nyawa.
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (an-Nur: 62). Sikap
seperti itu merupakan salah satu sikap hidup seorang mukmin, orang yang
berpandangan dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.

Akidah Islam sebagai keyakinan membentuk perilaku bahkan mempengaruhi


kehidupan seorang muslim. Abu Ala Maudadi menyebutkan tanda orang beriman
sebagai berikut:

1. Menjauhkan diri dari pandangan yang sempit dan picik.


2. Mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu harga diri
3. Mempunyai sifat rendah hati dan khidmat
4. Senantiasa jujur dan adil
5. Tidak bersifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap persoalan dan
situasi
6. Mempunyai pendirian teguh, kesabaran, ketabahan, dan optimisme.
7. Mempunyai sifat ksatria, semangat dan berani, tidak gentar menghadapi
resiko, bahkan tidak takut kepada maut.
8. Mempunyai sikap hidup damai dan ridha.
9. Patuh, taat, dan disiplin menjalankan peraturan Ilahi.

Proses Terbentuknya Iman


Spermatozoa dan ovum yang diproduksi dan dipertemukan atas dasar ketentuan yang
digariskan ajaran Allah, merupakan benih yang baik. Allah menginginkan agar
makanan yang dimakan berasal dari rezeki yang halalanthayyiban. Pandangan dan
sikap hidup seorang ibu yang sedang hamil mempengaruhi psikis yang dikandungnya.
Ibu yang mengandung tidak lepas dari pengaruh suami, maka secara tidak langsung
pandangan dan sikap hidup suami juga berpengaruh secara psikologis terhadap bayi
yang sedang dikandung. Oleh karena jika seseorang menginginkan anaknya kelak
menjadi mukmin yang muttaqin, maka isteri hendaknya berpandangan dan bersikap
sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang
berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang
intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih iman.
Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian seseorang,
baik yang datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, maupun
lingkungan termasuk benda-benda mati seperti cuaca, tanah, air, dan lingkungan flora
serta fauna.

Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik yang
disengaja maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman seseorang. Tingkah
laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan contoh dan teladan bagi
anak-anak. Tingkah laku yang baik maupun yang buruk akan ditiru anak-anaknya.
Jangan diharapkan anak berperilaku baik, apabila orang tuanya selalu melakukan
perbuatan yang tercela. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda, Setiap anak, lahir
membawa fitrah. Orang tuanya yang berperan menjadikan anak tersebut menjadi
Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Pada dasarnya, proses pembentukan iman juga demikian. Diawali dengan proses
perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah
adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak
mengenal ajaran Allah, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah.

Seseorang yang menghendaki anaknya menjadi mukmin kepada Allah, maka ajaran
Allah harus diperkenalkan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu dari
tingkat verbal sampai tingkat pemahaman. Bagaimana seorang anak menjadi mukmin,
jika kepada mereka tidak diperkenalkan al-Quran.

Di samping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena


tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang. Seorang
anak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi
hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah dewasa menjadi senang dan terampil
dalam melaksanakan ajaran-ajaran Allah.

Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan
diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang tampak saja. Di dalamnya
tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi kecuali secara
fisik langsung (misalnya, melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat
menggambarkan sikap mental tersebut), bahkan secara tidak langsung itu adakalanya
cukup sulit menarik kesimpulan yang teliti. Di dalam tulisan ini dipergunakan istilah
tingkah laku dalam arti luas dan dikaitkan dengan nilai-nilai hidup, yakni seperangkat
nilai yang diterima oleh manusia sebagai nilai yang penting dalam kehidupan, yaitu
iman. Yang dituju adalah tingkah laku yang merupakan perwujudan nilai-nilai hidup
tertentu, yang disebut tingkah laku terpola.

Dalam keadaan tertentu, sifat, arah, dan intensitas tingkah laku dapat dipengaruhi
melalui campur tangan secara langsung, yakni dalam bentuk intervensi terhadap
interaksi yang terjadi. Dalam hal ini dijelaskan beberap prinsip dengan mengemukakan
implikasi metodologinya, yaitu:

1. Prinsip pembinaan berkesinambungan

Proses pembentukan iman adalah suatu proses yang penting, terus menerus, dan tidak
berkesudahan. Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan orang semakin lama
semakin mampu bersikap selektif. Implikasinya ialah diperlukan motivasi sejak kecil
dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu penting mengarahkan proses motivasi
agar membuat tingkah laku lebih terarah dan selektif menghadapi nilai-nilai hidup yang
patut diterima atau yang seharusnya ditolak.

2. Prinsip internalisasi dan individuasi

Suatu nilai hidup antara lain iman dapat lebih mantap terjelma dalam bentuk tingkah
laku tertentu, apabila anak didik diberi kesempatan untuk menghayatinya melalui suatu
peristiwa internalisasi (yakni usaha menerima nilai sebagai bagian dari sikap
mentalnya) dan individuasi (yakni menempatkan nilai serasi dengan sifat
kepribadiannya). Melalui pengalaman penghayatan pribadi, ia bergerak menuju satu
penjelmaan dan perwujudan nilai dalam diri manusia secara lebih wajar dan amaliah,
dibandingkan bilamana nilai itu langsung diperkenalkan dalam bentuk utuh, yakni
bilamana nilai tersebut langsung ditanamkan kepada anak didik sebagai suatu produk
akhir semata-mata. Prinsip ini menekankan pentingnya mempelajari iman sebagai
proses (internalisasi dan individuasi). Implikasi metodologinya ialah bahwa pendekatan
untuk membentuk tingkah laku yang mewujudkan nilai-nilai iman tidak dapat hanya
mengutamakan nilai-nilai itu dalam bentuk jadi, tetapi juga harus mementingkan
prosesdan cara pengenalan nilai hidup tersebut. Dari sudut anak didik, hal ini bahwa
seyogianya anak didik mendapat kesempatan sebaik-baiknya mengalami proses
tersebut sebagai peristiwa pengalaman pribadi, agar melalui pengalaman-pengalaman
itu terjadi kristalisasi nilai iman.

3. Prinsip sosialisasi

1. Pada umumnya nilai-nilai hidup bru benar-benar mempunyai arti apabila telah
memperoleh dimensi sosial. Oleh karena itu suatu bentuk tingkah laku terpola baru
teruji secara tuntas bilamana sudah diterima secara sosial. Implikasi metodologinya
ialah bahwa usaha pembentukan tingkah laku mewujudkan nilai iman hendaknya tidak
diukur keberhasilannya terbatas pada tingkat individual (yaitu hanya dengan
memperhatikan kemampuan seseorang dalam kedudukannya sebagai individu), tetapi
perlu mengutamakan penilaian dalam kaitan kehidupan interaksi sosial (proses
sosialisasi) orang tersebut. Pada tingkat akhir harus terjadi proses sosialisasi tingkah
laku, sebagai kelengkapan proses individuasi, karena nilai iman yang diwujudkan ke
dalam tingkah laku selalu mempunyai dimensi sosial.
4. Prinsip konsistensi dan koherensi

Nilai iman lebih mudah tumbuh terakselerasi, apabila sejak semula ditangani secara
konsisten, yaitu secara tetap dan konsekuen, serta secara koheren, yaitu tanpa
mengandung pertentangan antara nilai yang satu dengan nilai lainnya. Implikasi
metodologinya adalah bahwa usaha yang dikembangkan untuk mempercepat
tumbuhnya tingkah laku yang mewujudkan nilai iman hendaknya selalu konsisten dan
koheren. Alasannya, caranya dan konsekuensinya dapat dihayati dalam sifat dan bentuk
yang jelas dan terpola serta tidak berubah-ubah tanpa arah. Pendekatan demikian berarti
bahwa setiap langkah yang terdahulu akan mendukung serta memperkuat langkah-
langkah berikutnya. Apabila pendekatan yang konsisten dan koheren sudah tampat,
maka dapat diharapkan bahwa proses pembentukan tingkah laku dapat berlangsung
lebih lancar dan lebih cepat, karena kerangka pola tingkah laku sudah tercipta.

5. Prinsip integrasi

Hakikat kehidupan sebagai totalitas, senantiasa menghadapkan setiap orang pada


problematika kehidupan yang menuntut pendekatan yang luas dan menyeluruh. Jarang
sekali fenomena kehidupan yang berdiri sendiri. Begitu pula dengan setiap bentuk nilai
hidup yang berdimensi sosial. Oleh karena itu tingkah laku yang dihubungkan dengan
nilai iman tidak dapat dibentuk terpisah-pisah. Makin integral pendekatan seseorang
terhadap kehidupan, makin fungsional pula hubungan setiap bentuk tingkah laku yang
berhubungan dengan nilai iman yang dipelajari. Implikasi metodologinya ialah agar
nilai iman hendaknya dapat dipelajari seseorang tidak sebagai ilmu dan keterampilan
tingkah laku yang terpisah-pisah, tetapi melalui pendekatan yang integratif, dalam
kaitan problematik kehidupan yang nyata.

7. Peran Iman dan Takwa dalam Menjawa Problema dan Tantangan Kehidupan
Modern

Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan
beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.

1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda

Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah
hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat
mencegahnya. Sebaliknya, jika Allah hendak menimpakan bencana, maka tidak ada
satu kekuatanpun yang sanggup menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan
keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan
sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-
benda kramat, mengikis kepercayaan pada khurat, takhyul, jampi-jampi dan
sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah firman Allah surat al-Fatihah ayat
1-7 .

2. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut


Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak di antara
manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko.
Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan
orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah dalam QS 4 (al-
Nisa):78:

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu di
dalam benteng yang tinggi lagi kokoh

3. Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan .

Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, karena kepentingan penghidupannya.
Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan,
bermuka dua, menjilat, dan memperbudak diri, karena kepentingan materi. Pegangan
orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah dalam QS 11 (Hud):6:

Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata. (lauh mahfud).

4. Iman memberikan katentraman jiwa