Anda di halaman 1dari 5

JOURNAL READING

ANAK DENGAN HIDUNG BERAIR

Disusun oleh :

Fiki Setiawan

1102012086

Pembimbing :

dr. H. Gunawan Kurnaedi Sp. THT-KL

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu THT Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Periode Mei Juni 2017


ABSTRAK

Kata kunci : Rhinitis, Alergi, Anak, Manajemen

Hidung berair pada anak merupakan suatu keluhan yang sering terjadi, pada penelitian
terakhir didapatkan bahwa terjadi gangguan sebesar 40% dari kualitas hidup anak dan kehadiran
anak ke sekolah. Rhinitis alergi juga merupakan suatu factor resiko yang dapat menyebabkan
terjadinya serangan asthma pada anak. Ulasan ini akan menjelaskan tentang terjadinya Hidung
berair pada anak dan tatalaksana untuk serangan Rhinitis alergi.

Pendahuluan

Rhinitis merupakan suatu kasus dengan prevalensi tertinggi pada anak. Rhinitis didefinisikan
merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa hidung dengan karakteristik gejala rhinore,
bersin-bersin, rasa gatal pada hidung dan sumbatan pada hidung. Berdarsarkan dari British
society for Allergy and Clinical imunnology( BSACI), Rhinitis dapat dibedakan menjadi tipe
alergi, non-alergi dan infeksi. Pada anak Rhinitis dengan tipe alergi dan infeksi merupakan
penyebab tersering.

Rhinitis pada anak

Diperkirakan sekitar 40% dari populasi anak terkena rhinitis alergi. Banyak penelitian yang
mengatakan bahwa Rhinitis pada anak sering dianggap remeh oleh orang tua anak. Rhinitis dapat
dihubungkan dengan penurunan kualitas hidup pada anak, mengganggu tidur, dan menurunkan
performa anak di sekolah.

Rhinitis Alergi disebabkan oleh imunnoglobin E (IgE) yang terjadi karena respon terhadap
allergen. Allergen yang paling sering yaitu pollen, debu rumah, tungau dan bulu binatang
peliharaan. Pada individu dengan Rhinitis tipe non-alergi dapat dikategorikan sebagai; idiopatik,
vasomotor, hormonal, obat-obatan, iritan, kelainan struktur, makanan, dan kondisi inflamasi lain.

Rhinitis alerg dan non alergi dihubungkan dapat menyebabkan timbulnya asthma . banyak
penelitian menyatakan bahwa, manajemen yang buruk dan tidak terkontrol dengan baik Rhinitis
dapat meningkatkan terjadinya kejadian asthma dan angka kekambuhannya. Maka dari itu,
manajemen yang baik pada anak harus diberikan.

Rhinitis tipe infeksi utamanya disebabkan oleh Virus. Kebanyakan anak rata-rata akan terkena 6-
8 kali kasus Flue pertahun. Dalam studi cohort dikatakan bahwa gejala sistemik tersering yang
terjadi yaitu hidung tersumbat, hidung berair dan batuk. Gejala ini akan bertahan selama kurang
lebih 10 hari dan Rhinovirus dapat terdeteksi pada sebagian kasus pada anak.
Penegakan diagnosis pada anak dengan Hidung berair harus dilakukan dengan seksama dan
dengan bagian Otolaryongologi. Dalam kasus yang lebih sulit, diperlukan penanganan yang
multidisiplin dengan juga melibatkan bagian Pediatric Respiratory and Immunologist.

Penilaian Klinis

Penelusuran Riwayat pada anak dengan harus digaris bawahi, dan dikumpulkan secara seksama,
seperti riwayat pengobatan, riwayat penyakit sebelumnya, riawat atopi pada keluarga, adanya
hewan peliharaan, keluarga atau lingkungan yang merokok.

Rhinorea dapat ditemukan pada segmen anterior atau segmen nasal posterior sebagai post nasal
drip. Pada gejala yang mengenai kedua belah hidung dapat dikaitkan dengan alergi, dan adanya
secret yang purulent dikaitkan dengan adanya infeksi. Pada hidung dengan secret yang berdarah
dapat dikaitkan dengan gangguan perdarahan, seperti traumatic atau gangguan granulomatous
seperti Wegeners granulomatosis.

Pada Rhinorea yang terjadi secara unilateral merupakan suatu kasus yang jarang terjadi, klinisi
harus berhati-hati dan memikirkan kemungkinan diagnosis yang lain. Pada anak dengan rentang
usia 0-5 tahun mungkin dapat terjadinya karena adanya benda asing pada hidung. Pada secret
yang jernih dapat difikirkan merupakan suatu cairan Cerebrospinal (CBF), sering terjadi pada
kasus trauma maupun non-trauma dengan adanya defek pada struktur tengkorak kepala,
meningoencepalocele dan tumor.

Bersin- bersin dengan bagian hidung dan mata gatal dapat dikaitkan dengan Rhinitis alergi. Pada
kasus yang lebih berat,orang tua mengatakan terkadang hingga terjadi suara nafas yang berisik,
mendengkur, gangguan pada tenggorokan. Mengetahui factor pencetus meruopakan manajemen
utama pada anak dengan Rhinitis Alergi. ARIA Guideline mengklasifikasikan kekambuhan dari
Rhinitis menjadi , intermiten (<4 hari <4minggu) persisten (>4hari >4minggu). Beratnya gejala
dapat diklasifikasikan menjadi gejala ringan tanpa mengganggu kualitas hidup, moderate/severe
dengan gejala gangguan sering terbangun saat tidu, gangguan aktivitas, gangguan pada sekolah.

Faktor musim dapat diperhitungkan untuk mengetahui penyebab dari alergi, musim semi
mengarah pada alergi pollen, pada awal musim panas mengarah pada alergi terhadap rumput-
rumputan.

Inspeksi umum pada anak mungkin didapatkan manifestasi pada wajah yang mengarah pada
Rhinitis alergi. Pada anak yang bernafas dengan menggunakan mulut menunjukan bahwa telah
terjadi obstruksi saluran nafas yang berat. Pada atopic biasanya anak akan cenderung mengusap
hidungnya dengan tangan , gejala lain yang mungkin didapatkan pada Rhinitis alergi termasuk
conjungtivitis alergi, otitis media, rhinosinusitis.
Pemeriksaan pada dewasa harus dilakukan secara detil termasuk bagaimana aliran udara yang
masuk dan keluar dari jalan nafas, septum, adanya secret benda asing dan nasal polip. Nasal
polip biasanya jarang terjadi pada anak, mungkin bila didapatkan klinisi harus waspada dengan
kemungkinan adanya Sistik fibrosis.

Pemeriksaan skin test direkomendasikan sebagai lini pertama untuk melihat alergi. Hasil dapat
terlihat dalam waktu 10-20 menit. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan dengan angka
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Tetapi perlu dicatat bahwa hasil dapat menunjukan
positif palsu bula sebelumnya pasien telah mengkonsumsi obat-obatan antihistamin, steroid dan
anxiolyik. Pemeriksaan alergin spesifik igE dapat diterapkan sama baiknya dengan pemeriksaan
skin test, tetapi hasil dari pemeriksaan ini harus di interpretasikan dengan riwayat klinis
sebelumnya. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan termasuk adalah pemeriksaan hitung darah
dan C-raktif protein pada pasien yang disangka menderita bacterial rinosinusitis.

Manajemen Rhinitis alergi pada anak

Edukasi mengenai penyakit ini merupakan point utama dari manajemen penyakit ini,
menghindari allergen, farmakoterapi dan imunoterapi dapat diterapkan, operasi sangan jarang
dan tidak dipergunakan. Rhinitis alergi merupakan suatu kondisi kronis. Maka dari itu terapi
utama dari penyakit ini adalah edukasi yang baik kepada orang tua anak, diskusi menegeani
terapi, dan efek jangka panjang yang dapat terjadi pada anak.

Menghindari factor allergen sangat diutamakan pada anak dengan Rhinitis alergi. Data dari
SPACE( Study of prevention of allergy in children of Europe) yang didapat dari tiga Negara
eropa termasuk UK, menunjukan menghindari tungau rumah dapat mencegah terjadinya sensitasi
pada anak usia sekolah. Pada anak dengan laergi terhadap bulu binatang sangat disarankan untuk
tidak memelihara hewan peliharan didalam rumah penderita. Menghindari asap rokok dapat
menurunkan gejala klinis dari Rhinitis dan dapat mencegah kekambuhan pada anak.

Pada penelitian yang mendukung didapatkan penggunaan Hipertonik saline dengan cara nasal
irigasi dapat menyembuhkan gejala dan menurunkan angka penggunaan obat antihistamin.

Terapi lini pertama farmakoterapi pada anak dengan Rhinitis alergi termasuk antihistamin dan
nasal steroid. Pada anak yang lebih besar dapat diberikan terapi oral. Antihistamin dapat
menurunkan gejala bersin-bersin, rinorea, hidung gatal dan menurunkan obstruksi pada saluran
nafas. Pada penggunaan antihistamin oral juga dapat menurunkan gejala Conjungtivitis pada
penederita.

Penggunaan antihistamin generasi pertama sudah tidak direkomendasikan lagi penggunaanya.


Sedangkan antihistamin generasi kedua dapat digunakan seperti cetirizine, loratadin, fexofanide
dan desloratadin, dengan efek sedative yang lebih sedikit. Pada penggunaan cetirizine
direkomendasikan untuk dipergunakan pada anak dengan usia lebih dari 2 tahun.
Penggunaan intranasal steroid lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan antihistamin secara
oral dalam penanganan Rhinitis alergi, dan dapat menurunkan gejala dari obstruksi saluran nafas.
Penggunaannya sering pada kasus yang moderate hingga lebih berat. Menjadi catatan bahwa
penggunaan steroid ini harus dilihat keamanannya terutama ketika anak sudah mendapatkan
steroid dosis tinggi sebelumnya misalnya dalam terapi asthma karena penggunaan steroid dapat
menekan pertumbuhan anak. Fluticason, mometasone dan budesonide dapat digunakan pada
anak karena lebih aman karena cara kerja absorbs sistemik rendah.

Imunoterapi dapat diterapkan pada anak dengan cara mengektrasi allergen dan memaparkan
secara bertahap pada anak. Penelitian baru-baru ini mengatakan sublingual imunoterapi dari
serbuk rumput dapat diterapkan dengan angka perbaikan yang baik pada anak dengan usia lebih
dari 5 tahun terutama yang telah gagal dalam terapi medikamentosa.

Tatalaksana dengan metode operatif sangat jarang dilakukan, biasanya dilakukan pada kasus
obstruksi nasal yang kronis. Operasi adenoid dapat diterapkan bila sesuai dengan indikasi.

Kesimpulan

Rhinorea merupakan suatu gejala yang umum ditemukan pada anak dan dapat secara signifikan
menurunkan kualitas hidup dan mempengaruhi proses belajar pada anak. Manajemen pada anak
dengan Rhinitis perlu dilakukan secara menyeluruh. Walaupun tidak semua anak dengan hidung
yang berair merupakan suatu alergi, tetapi secara kuantitas sangat signifikan jumlah kasusnya.
Rhinitis alergi dapat di control dengan edukasi yang baik dan terapi farmakoterapi yang tepat.
Hal ini penting karena bila tidak ditangani dengan benar dapat berakibat timbulnya asthma.
Manajemen nya termasuk, edukasi, hindari allergen, farmakoterapi dan imunoterapi. Dibutuhkan
penelitian lebih lanjut untuk efek jangka panjang dari terapi operatif pada anak.