Anda di halaman 1dari 10

KERATOSIS OBLITERANS DAN OBTURANS

KERATOSIS OBLITERANS

Keratosis obliterans adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan epitel liang telinga
luar. Keratosis obliterans jarang terjadi. Biasanya secara kebetulan ditemukan oleh pemeriksa
dalam pemeriksaan otoskopi. Keratosis obliterans biasanya ditemukan secara bilateral dan dapat
disertai dengan bronkiektasis dan sinusitis kronis. Pada keratosis obturans ditemukan gumpalan
epidermis di liang telinga disebabkan oleh terbentuknya sel epitel yang berlebihan yang tidak
bermigrasi ke arah telinga luar. Walaupun dapat diamati pelebaran liang telinga serta hyperplasia
dan radang epitel dan subepitel, namun tidak ada erosi tulang. Kondisi ini diduga disebabkan
oleh produksi epitel dan sumbat skuamosa yang berlebihan atau migrasi epitel yang salah. Terapi
yang dianjurkan adalah pengangkatan sumbat dan penanganan proses radang.

Pada tahun 1850 Tonybee menemukan gejala awal pada keratosis obliterans yaitu berupa
penumpukan jaringan epitel pada liang telinga, yang dideskripsikan secara sama dengan extra
auditory canal cholesteatoma(EACC). Pada tahun 1980 oleh Piepergedes et al menyatakan
bahwa EACC berbeda dengan keratosis obliterans. Pasien dengan Keratosis Obliterans datang
biasanya dengan keluhan nyeri dan gangguan pendengaran dan dapat pula disertai dengan gejala
seperti metallic taste. Pasien dapat datang tanpa gangguan telinga tetapi hanya dengan gangguan
metallic taste saja.

ETIOLOGI

Tidak ada penyebab pasti . Walaupun , dapat disebabkan oleh hyperemia kronis yang
meningkatkan desquamasi dari keratin dan pembentukan epidermal debris. Teori lain
menyangkut penyebab meliputi broncheotracheosinusitis, yang mana suatu refleks sistem nervus
simpatik pada glandula serumen menyebabkan hyperemia dan keratin yang berkembang. Dapat
pula suatu kesalahan migrasi epithelium indera pendengar yang bertanggung jawab untuk
akumulasi terkumpulnya debris. Migrasi yang abnormal mungkin adalah dalam kaitan dengan
suatu radang yang dicetuskan karena virus.

PATOFISIOLOGI

Terdapat dua bentuk patofisiologi yang berbeda dari keratosis obliterans.

Bentuk pertama terdapat suatu radang kronis di dalam subepithelial jaringan dan ini adalah yang
bertanggung jawab terhadap hyperplasia epithelium dan akumulasi keratin di dalam saluran
eksternal liang telinga.

Bentuk kedua tidak ada radang di dalam lapisan kulit saluran yang eksternal liang telinga.
Bentuk yang kedua ini terjadi secara bilateral dan mungkin ada kaitan dengan keturunan atau
didapat dalam suatu enzim ( belum dikenali) yang bertanggung jawab untuk separasi lapisan
keratin yang dangkal. Ini terjadi jika lapisan ini keluar secara normal.

Keratosis obliterans yang berhubungan dengan radang kronis, epithelium di dalam saluran liang
telinga luar dapat diobati ketika keratin dipindahkan dan mendasari radang sukses diterapi.
Bagaimanapun, pasien dengan keratosis obliterans yang tidak berhubungan dengan radang dari
saluran kulit akan memerlukan pembersihan telinga secara reguler karena berhubungan dengan
mekanisme perpindahan normal dari epitel. Terapi dilakukan dengan mikrosuctin reguler hingga
penumpukan debris di liang telingta luar berkurang. Diperlukan terapi ulang setia lima hingga 6
bulan sekali hingga timbul rasa metalik kembali.

GAMBARAN KLINIS

Gejala secara konvensional terdapat bilateral (kasus masa kanak-kanak yang lebih sering,
sedangkan penyakit secara unilateral terjadi lebih banyak pada dewasa)
Mengenai umur muda, kurang dari 40 tahun.
Akut
Kehilngan pendengaran secara konduktif
Kadang-kadang otorrhea
Penebalan tympani karena desakan dari keratin
Kemungkinan adanya granulasi
Pelebaran saluran telinga
Pada pengujian histopatologi keratin berbentuk lamelar seperti daun.

Kondisi dihubungkan dengan eksim, infeksi kulit seborrheic dan/atau furunculosis dan
berhubungan dengan radang dalam selaput lendir dan/atau bronchiectasis

Pada pasien dengan keratosis obturans terdapat :

tuli konduktif akut,

nyeri yang hebat,

liang telinga yang lebih lebar (karena adanya erosi tulang yang menyeluruh
sehingga liang telinga tampak lebih luas),

membran timpani utuh tapi lebih tebal dan

jarang ditemukan adanya sekresi telinga.

Gangguan pendengaran dan rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh desakan
gumpalan epitel berkeratin di liang telinga.

PEMERIKSAAN

Otoskopi untuk melihat adanya penumpukan keratin


Audiogram untuk melihat conductif hearing loss
CT untuk mengevaluasi kelainan jaringanlunak dari saluran liang telinga luar
Histopatologi

TERAPI
Penyakit ini biasanya dapat di kontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara
periodic, misalnya setiap 3 bulan. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau
gliserin dalam peroksida 3 %, 3 kali seminggu sering kali dapat menolong.

Yang paling penting adalah membuat liang telinga berbentuk seperti corong sehingga
pembersihan liang telinga secara spontan dapat lebih terjamin.
Keratosis diangkat

Tampon telinga menggunakan Zalf betadine.

KESIMPULAN
Keratosis obliterans jarang terjadi dan biasanya bilateral pada anak-anak dan unilateral
pada dewasa.
Penyebab dari Keratosis obliterans sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa yang
menyebabkannya.
Pasien datang biasa dengan gangguan pendengaran atau tanpa gangguan pendengaran
Pasien diterapi dengan pembersihan liang telinga yang regular setiap 3 atau 6 bulan sekali
agar liang telinga bersih dan dapat terhindar dari penyakit ini.
KERATOSIS OBTURANS

DEFINISI

Keratosis obturans adalah akumulasi atau penumpukan deskuamasi lapisan keratin epidermis
pada liang telinga, berwarna putih seperti mutiara, sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa
penuh serta kurang dengar. Penyakit ini tidak mengenai bagian kartilagenous meatus auditorius eksternus.
Secara khas, lesi ini hanya terbatas pada meatus, tanpa menyebabkan destruksi tulang. Bila tidak
ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan destruksi bagian tulang meatus auditorius
eksternus.

keratosis obturans sebenarnya telah diperkenalkan oleh Wreden pada tahun 1874 untuk
membedakannya dengan impaksi serumen. Penyakit ini juga harus dibedakan dari kolesteatoma primer
yang ditandai dengan invasi jaringan skuamosa dari telinga bagian tengah yang disertai dengan erosi dan
destruksi tulang. Piepergerdes dan rekannya pada tahun 1980 menyatakan bahwa keratosis obturans

dihasilkan oleh penyakit pada kulit meatus auditorius eksternus sedangkan penyakit pada tulang meatus
auditorius eksternus merupakan dasar bagi kolesteatoma pada meatus auditorius eksternus.

PREVALENSI

Keratosis obturans pada umumnya terjadi pada pasien usia muda antara umur 5-20 tahun dan
dapat menyerang satu atau kedua telinga. Morrison melaporkan bahwa terdapat 50 kasus keratosis
obturans pada tahun 1956 dimana 20 pasien berumur 5-9 tahun, 15 pasien berumur antara 9 19, dan 15
pasien berumur antara 20 59 tahun. Black and Clayton melaporkan terjadinya keratosis obturans pada
anak-anak pada tahun 1958 dengan insidens 90% terjadi secara bilateral.
ETIOLOGI

Etiologi keratosis obturans hingga saat ini belum diketahui. Namun, mungkin disebabkan akibat
dari eksema, seboroik dan furonkulosis. Penyakit ini kadang-kadang dihubungkan dengan bronkiektasis
dan sinusitis kronik

PATOGENESIS

Keratosis obturans terjadi karena migrasi abnormal epitel pada lapisan kulit liang telinga. Secara
normal, epitel dari permukaan membran timpani pars flaksida bermigrasi turun ke pars tensa dan
kemudian bergerak secara inferior melewati membran timpani. Namun, pergerakan sel epitel pada
penyakit ini nampak terbalik. Kegagalan migrasi ini atau adanya obstruksi pada saat migrasi yang
disebabkan oleh lapisan keratin menyebabkan akumulasi debris epitel pada meatus bagian dalam. Hal ini
sesuai dengan studi tentang kulit normal pada telinga luar yang dilakukan oleh Alberti (1964)
menunjukkan bahwa secara normal terdapat migrasi epitel dari membran timpani ke meatus auditorius
eksternus.

Menurut Paparella dan Shumrick, keratosis obturans dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain : produksi berlebihan dari sel epitel, kegagalan migrasi epitel kulit dan ketidakmampuan
mekanisme pembersihan diri oleh meatus auditorius eksternus. Mekanisme pembersihan diri oleh meatus
auditorius eksternus merupakan hasil dari kordinasi proses maturasi keratin dan migrasi sel ke luar. Pada
keratosis obturans, mekanisme ini tidak berfungsi.

Hubungan bronkiektasis dan sinusitis dengan kejadian keratosis obturans (secara frekuensi
muncul ipsilateral) telah dilaporkan sebelumnya (Morrison, 1956; Black 1964). Berkaitan dengan
penemuan ini menyebabkan munculnya hipotesis bahwa adanya pus menstimulasi sistem refleks simpatis
dari cabang trakeobronkial untuk merangsang refleks sekresi serumen yang menyebabkan obstruksi oleh
keratin dan pembentukan sumbat epidermal (Morrison, 1956).

GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang dapat timbul pada penyakit ini adalah tuli konduktif ringan-sedang, nyeri
telinga yang hebat, liang telinga yang lebih lebar, membran timpani yang utuh tapi lebih tebal dan tinnitus
serta jarang ditemukan otorea. Gangguan pendengaran dan nyeri telinga yang hebat disebabkan oleh
desakan gumpalan epitel berkeratin di liang telinga. Keratosis obturans disertai dengan bronkiektasis dan
sinusitis kronik serta bilateral.

DIAGNOSIS

Anamnesis

Sejarah otologi harus diperoleh dalam rangka untuk mengetahui gejala awal keratosis obturan.
Gejala yang paling umum adalah kehilangan pendengaran, otalgia yang hebat, otorea dan tinnitus yang
bilateral disertai dengan bronkiektasis dan sinusitis kronik.

Pemeriksaan Fisis

Selain pemeriksaan kepala dan leher, pemeriksaan otologi menjadi perhatian khusus. Penilaian
umum untuk menghindari terlewatnya penilaian demam, perubahan status mental dan penilaian lainnya
yang dapat memberikan petunjuk kearah komplikasi. Pada inspeksi, tampak terlihat adanya obstruksi di
sepanjang membrane timpani pada meatus auditorius eksternus oleh gumpalan debris keratin berwarna
putih yang berisi serumen berwarna coklat pada bagian tengah. Adanya gumpalan keratin dalam meatus
auditorius eksternus meningkatkan tekanan pada dinding meatus sehingga terjadi remodeling tulang. Hal
ini menyebabkan pelebaran tulang pada MAE yang disertai oleh inflamasi epithelium. Tes Rinne dan Weber dengan menggunakan
garputala 512 Hz dilakukan untuk mengetahui tuli konduksi dan dibandingkan dengan pemeriksaan audiometri.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

- Radiologi:

Pada CT-Scan tulang temporal dapat memperlihatkan erosi dan pelebaran meatus.

- Patologi:

Sumbatan keratin pada keratosis obturans terlihat seperti garis geometric di dalam meatus auditorius
eksternus yang terlihat seperti gambaran onion skin. Gambaran patologi ini dihubungkan denagan adanya hyperplasia
di bawah epithelium dan adanya inflamasi kronik pada jaringan subepitelium.

PENATALAKSANAAN

Pengobatan pada Keratosis obturan berupa pengangkatan desquamated squamous epithelium.


Selain itu, dapat dilakukan operasi dengan general anestesi untuk debridement, canal plasty dan
timpanomastoidektomi dapat dilakukan untuk mencegah berlanjutnya erosi tulang. Penyakit ini biasanya
dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodik setiap 3 bulan,
mengurangkan akumulasi debris. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alkoholatau gliserin dalam
peroksid 3%, tiga kali seminggu sering kali dapat menolong. Pada pasien yang telah mengalami erosi
tulang liang telinga, seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah
kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga. Yang penting ialah membuat agar liang telinga
berbentuk seperti corong, sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin.