Anda di halaman 1dari 4

4.1.5.

Keadaan Batu Gamping Daerah Penyelidikan


Menurut Barber, et al, 2005, Fasa Pre-Reef di Cekungan Sumatera Selatan terjadi
pada masa Eosen dimana setelah beberapa lama dalam keadaan stabil, batuan dasar mulai
terpengaruh oleh perubahan rezim tektonik yang diindikasikan oleh adanya sedimentasi
pada pinggiran Sunda land. Sedimen terbentuk diantaranya adalah sedimen batu gamping
Numullitic berumur Eosen yang ditemukan di pinggir dari Cekungan Bengkulu. (Barber,
et al, 2005) Pada masa sebelum periode Horst dan Graben diindikasikan terjadi aktivitas
vulkanisme aktif yang diperkuat oleh ditemukannya kikim tuff yang terdiri dari batu pasir
tufaan. konglomerat, breksia dan lempung berumur kapur akhir dan Pleosen Awal serta
ditemukannya Old Andezite. (Pulunggono, et al, 1992)
A. Batu Gamping Formasi Baturaja
Anggota ini dikenal dengan Formasi Baturaja. Diendapkan pada bagian
intermediate-shelfal dari Cekungan Sumatera Selatan, di atas dan di sekitar platform
dan tinggian. Kontak pada bagian bawah dengan Formasi Talang Akar atau dengan
batuan Pra-Tersier. Komposisi dari Formasi Baturaja ini terdiri dari Batugamping
Bank (Bank Limestone) atau platform dan reefal. Ketebalan bagian bawah dari
formasi ini bervariasi, namun rata-rata 200-250 feet (sekitar 60-75 m). Singkapan dari
Formasi Baturaja di Pegunungan Garba tebalnya sekitar 1700 feet (sekitar 520 m).
Formasi ini sangat fossiliferous dan dari analisis umur anggota ini berumur Miosen.
Fauna yang ada pada Formasi Baturaja umurnya N6- N7.
Formasi Baturaja daerah tinggian berkembang sebagai batugamping terumbu
sedangkan di daerah rendah berkembang sebagai perselingan batugamping mikritik
dan serpih (Hutapea, 1998). Sebagian Formasi Baturaja diendapkan langsung di atas
batuan dasar sedangkan sebagian lagi diendapkan di atas endapan klastik yang disebut
sebagai Pre-Baturaja Klastik oleh De-Coster, 1974.
Formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Talangakar dengan
ketebalan antara 200 m - 250 m. Litologi terdiri dari batu gamping, batu gamping
terumbu, batu gamping pasiran, batu gamping serpihan, serpih gampingan, dan napal
kaya foraminifera, moluska, dan koral. Formasi ini diendapkan pada lingkungan
litoral- neritik dan berumur Miosen Awal.
B. Genesa Batu Gamping
Batu Gamping (limestone) CaCO3 adalah batuan sedimen terdiri dari mineral
calcite (kalsium carbonate). Sumber utama dari calcite ini adalah organisme laut.
Organisme ini mengeluarkan shell yang keluar ke air dan terdeposit di lantai samudra
sebagai pelagic ooze .
Pembentukan batu gamping terjadi secara organik, mekanik atau secara kimia.
Pembentukan secara organik yaitu pengendapan binatang karang/cangkang siput,
foraminifera, koral/kerang. Pembentukan secara mekanik yaitu bahanya sama dengan
organik yg berbeda hanya terjadinya perombakan dari batu gamping tersebut yg
kemudian terbawa arus dan diendapkan tidak terlalu jauh dari tempat semula, sedangkan
pembentukan secara kimiawi yaitu terjadi pada kondisi iklim dan suasana lingkungan
tertentu dalam air laut atau air tawar. Batu gamping dapat berwarna putih susu, abu muda,
abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya. Penggunaan
batu kapur sudah beragam diantaranya untuk bahan kaptan, bahan campuran bangunan,
industri karet dan ban, kertas, dan lain-lain.
1) Batu Gamping Bioklastik
Batugamping bioklastik tersusun oleh cangkang atau fragmen kerangka
organisme, umumnya dicirikan oleh fragmen/cangkang lepas terutama jika telah
tertransportasi. Penamaan batuan bioklastik umumnya berdasarkan organisme
penyusun utama, yakni batu gamping (bioklastik) foraminifera.
Lingkungan pengendapan gamping bioklastik meliputi, lingkungan laut dangkal
dekat pantai, dengan partikel-partikel telah terabrasi, lingkungan sekitar terumbu,
laguna, dan terumbu bagian depan. Endapan merupakan pecahan dari terumbu akibat
gelombang dengan butiran yang telah terabrasi, sedangkan di terumbu depan
merupakan talus pelongsoran terumbu dan berupa kepingan koral. Lingkungan daerah
neritik, misalnya foraminifera besar membentuk bank/gundukan.
Deskripsi :
Gambar Batuan Sketsa Batuan
1. Jenis Batuan : Batuan Sedimen Karbonat Klastik
2. Warna : Kuning
3. Struktur : Masif
4. Tekstur :- Ukuran Butir : Ruditt (>1 mm)
- Derajat Pembundaran : Angular
- Derajat Pemilahan : Terpilah Buruk
- Kemas : Terbuka
5. Komposisi :- Allochem : Skeletal
- Mikrit : Kalsit
- Sparit : Karbonat
6. Nama Batuan : Batugamping Bioklastik

2) Batu Gamping Kristalin


Batu gamping kristalin merupakan salah satu jenis batuan sedimen yang
terbentuk dari batuan sedimen seperti yang kita kira, batuan sedimen terbentuk dari
batuan sedimen, tidak juga terbentuk dari clay dan sand, melainkan batuan ini terbentuk
dari batu-batuan bahkan juga terbentuk dari kerangka calcite yang berasal dari
organisme microscopic di laut yang dangkal. Sehingga sebagian perlapisan batu
gamping hampir murni terdiri dari kalsit, dan pada perlapisan yang lain terdapat
sejumlah kandungan silt atau clay yang membantu ketahanan dari batu gamping
tersebut terhadap cuaca. Sehingga lapisan yang gelap pada bagian atas batuan ini
mengandung sejumlah besar fraksi dari silika yang terbentuk dari kerangka mikrofosil,
sehingga dimana lapisan pada bagian ini lebih tahan terhadap cuaca.
Deskripsi :
Gambar Batuan Sketsa Batuan
1. Jenis Batuan : Batuan Sedimen Non-Klastik
2. Warna : Putih
3. Struktur : Masif
4. Tekstur : Kristalin
5. Komposisi : Monomineralik (CaCO3)
6. Nama Batuan : Batugamping Kristalin

3) Batu Gamping Terumbu


Proses pembentukan batuan gamping terumbu berasal dari pengumpulan
plankton, moluska, algae yang keudian membentuk terumbu. Jadi gamping terumbu
berasal dari organisme. Batuan sedimen yang memiliki komposisi mineral utama dari
kalsit (CaCO3) terbentuk karena aktivitas dari coral atau terumbu pada perairan yang
hangat dan dangkal dan terbentuk sebagai hasil sedimentasi organik.
Gambar Batuan Sketsa Batuan

1. Jenis Batuan : Batuan Sedimen Non-Klastik


2. Warna : Putih
3. Struktur : Fosiliferous
4. Tekstur : Amorf
5. Komposisi : Monomineralik (CaCO3)
6. Nama Batuan : Batugamping Terumbu
Proses penambangan Batu Gamping :
Secara umum, penambangan batu gamping Indonesia dilakukan dengan cara tambang
terbuka Quarry tipe bukit (Side Hill Type). Tanah penutup (overburden) yang terdiri dari tanah
liat, pasir dan koral dikupas terlebih dahulu. Pengupasan dapat dengan menggunakan bulldozer
atau power scraper. Kemudian dilakukan pemboran dan peledakan sampai di dapat ukuran
bongkah yang sesuai. Untuk bongkah yang terlalu besar perlu di bor dan diledak-ulang
(secondary blasting). Pengambilan bongkah batu gamping biasanya dilakukan dengan wheel
loader, lalu dimuat ke alat transportasi (dump truck, belt conveyor, lori dan lain-lain).