Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Menurut International Health Regulation (2005), Public Health Emergency
Of International Concern (PHEIC) adalah suatu kejadian luar biasa yang dapat
menjadi ancaman kesehatan bagi negara lain.
Potensial PHEIC adalah penyakit yang sangat berpotensi untuk menjadi
Public Health Emergency Of International Concern (PHEIC). Berdasarkan kriteria
dari IHR 2005 Penyakit yang termasuk Potensial PHEIC adalah Lassa Fever,
Demam Berdarah Marburg, West Neil Fever, Kolera, Yellow Fever, Meningitis
Meningococcal dan PES.
IHR adalah suatu instrumen internasional yang secara resmi mengikat untuk
diberlakukan oleh seluruh negara anggota WHO (World Health Organitation),
maupun bukan negara anggota WHO tetapi setuju untuk dipersamakan dengan
negara anggota WHO. Tujuan dan ruang lingkupnya adalah untuk mencegah,
melindungi, dan mengendalikan terjadinya penyebaran penyakit secara
internasional, serta melaksanakan public health response sesuai dengan risiko
kesehatan masyarakat, dan menghindarkan hambatan yang tidak perlu terhadap
perjalanan dan perdagangan internasional. Pemberlakuan IHR (2005) ini akan
diikuti dengan pedoman, petunjuk, dan prosedur untuk melaksanakan pemeriksaan
rutin pada pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat.
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dalam hal ini adalah Unit Pelaksana
Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang bertanggung-jawab
langsung kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (PP&PL) yang mempunyai tugas dan fungsi antara lain melaksanakan
pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans
epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan,
pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit
baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan
pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat

1
Negara (Pasal 2 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
356/MENKES/PER/IV/2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan
Pelabuhan).

1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang Pemetaan
Penyakit Potensial PHEIC.

1.2.2. Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui jenis penyakit potensial PHEIC.
2. Untuk mengetahui cara penularan, pencegahan penyakit potensial PHEIC..
3. Untuk mengetahui peran KKP terhadap penyakit potensial PHEIC

1.3 Manfaat
1.3.1. Bagi Penyusun :
1. Dapat menyelesaiakan Tugas kelompok yang di berikan Oleh Dosen Pengajar.
2. Dapat menjadi tambahan literatur dalam peningkatan kajian dan pengetahuan
dari penyakit potensial PHEIC.
3. Menjadi bahan pembelajaran dalam penyusunan makalah.
4. Dapat melakukan tindakan pencegahan dari penyakit potensial PHEIC.

1.3.2. Bagi Pembaca :


1. Diharapkan dapat menjadi informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan
mengenai penyakit potensial PHEIC.
2. Diharapkan dapat memberikan informasi tentang langkah-langkah yang harus
diambil jika mengunjungi daerah-daerah yang terdapat potensial PHEIC.
3. Di harapkan dapat menjadi refrensi dalam penyusunan makalah ataupun laporan
yang berhubungan dengan Pemetaan Penyakit Potensial PHEIC

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Public Health Emergency Of International Concern (PHEIC)


Definisi

Menurut International Health Regulation (2005), Public Health Emergency


Of International Concern (PHEIC) adalah suatu kejadian luar biasa yang dapat
menjadi ancaman kesehatan bagi negara lain. Setiap kejadian yang merupakan
PHEIC sesuai dengan kreteria sebagai berikut:
1) Berdampak/berisiko tinggi bagi kesehatan masyarakat
2) KLB atau sifat kejadian tidak diketahui
3) Berpotensi menyebar secara International
4) Berisiko terhadap perjalanan ataupun perdagangan

Kedaruratan Kesehatan (KLB) yang MeresahkanDunia


Adalah KLB yang :
dapat menjadi ancaman kesehatan bagi negara lain.
kemungkinan membutuhkan koordinasi Internasional dalam penanggulangannya.
Pemberitahuan suatu kejadian kepada WHO secara tepat waktu dan
transparan, yang dikombinasikan dengan penelitian atas risiko bersama negara yang
mempunyai kepedulian, akan sangat mempertinggi keyakinan bahwa selama KLB
akan mengurangi kecenderungan kerugian unilateral terhadap larangan perjalanan
dan perdagangan internasional. Apabila suatu kejadian dianggap sebagai
PHEIC,WHO akan membentuk Emergency Committee yang independen untuk
mengkaji dan menginformasikan perkembangannya dengan memberi saran kepada
Direktur Jenderal WHO.

3
2.2 Potensial PHEIC

Definisi

Penyakit yang sangat berpotensi untuk menjadi Public Health Emergency Of


International Concern (PHEIC) .

4
Overview International Health Regulations (IHR)
IHR adalah suatu instrumen internasional yangsecara resmi mengikat untuk
diberlakukan oleh seluruh negara anggota WHO, maupun bukan negara anggota
WHO tetapi setuju untuk dipersamakan dengan negara anggota WHO.
Tujuan dan ruang lingkup adalah untuk mencegah, melindungi, dan
mengendalikan terjadinya penyebaran penyakit secara internasional, serta
melaksanakan public health response sesuai dengan risiko kesehatan masyarakat,
dan menghindarkan hambatan yang tidak perlu terhadap perjalanan dan perdagangan
internasional. Pemberlakuan IHR (2005) ini akan diikuti dengan pedoman, petunjuk,
dan prosedur untuk melaksanakan pemeriksaan rutin pada pelabuhan, bandara, dan
lintas batas darat.
Pada tahun 2005, cakupan IHR (1969) diperluas agar mampu menangani
penyakit new emerging dan re-emerging serta risiko kesehatan lainnya yang terjadi,
baik disebabkan oleh penyakit infeksi maupun non infeksi. Oleh karena itu, dalam
IHR (2005) dipersiapkan pula Legal Framework guna pengumpulan informasi
secara cepat dan tepat dalam menentukan apakah suatu kejadian merupakan Public
Health Emergency of International Concern (PHEIC) Kedaruratan Kesehatan
Masyarakat yang Meresahkan Dunia, yang diharapkan berguna bagi suatu negara
untuk mendapatkan bantuan. Di samping itu, dipersiapkan pula prosedur pelaporan
baru yang bertujuan untuk mempercepat alur informasi secara cepat dan akurat
kepada WHO tentang potensi PHEIC. WHO sebagai badan internasional netral
dengan jaringan komunikasi yang luas, dapat mengakses informasi secara formal
dan informal, merekomendasikan tindakan yang diperlukan serta memberikan
bantuan teknis yang dibutuhkan sesuai dengan kejadian yang dilaporkan. Dengan
demikian, penerapan IHR (2005) adalah suatu langkah penting bagi negara-negara
dalam bekerja sama guna memperkuat pertahanan dunia terhadap PHEIC umumnya
dan pengendalian risiko penyakit menular khususnya.

Justifikasi Pemberlakuan IHR (Buku Saku IHR 2005)


Beberapa pertimbangan mengingatkan kita pada KLB yang serius dan tidak
dapat dihindarkan, seperti SARS atau Avian Influenza. Sejalan dengan

5
perkembangan globalisasi serta semakin mudah dan lancarnya perjalanan lintas
dunia untuk wisata, bisnis, transportasi barang, maupun perdagangan, maka
permasalahan lokal dapat secara cepat menjadi perhatian dan masalah dunia.
Pertimbangan tersebut di atas menjadi dasar bagi negara-negara di dunia untuk
memberlakukan IHR, termasuk dalam menghadapi situasi atau keadaan krisis,
seperti:
1. Mencegah penyebaran penyakit yang berisiko tinggi terhadap kesehatan
masyarakat
2. Menghindarkan kerugian akibat pembatasan atau larangan perjalanan dan
perdagangan yang diakibatkan oleh masalah kesehatan masyarakat,
seperti penyebaran penyakit potensial wabah maupun PHEIC lainnya.

2.3 Pelaksanaan IHR (2005)


Pemberlakuan IHR (2005) dilaksanakan terhitung mulai tanggal 15 juni 2007

Status Hukum IHR (2005) Dan Pemberlakuannya di Suatu Negara


IHR (2005) merupakan peraturan yang secara resmi mengikat seluruh negara
anggota WHO (kecuali negara yang menolak atau memberikan pernyataan keberatan
dalam waktu 18 bulan sejak pemberitaan persetujuan IHR (2005) pada WHA).
Namun, jika penolakan itu sesuai dengan tujuan IHR (2005) dan dapat diterima oleh
sepertiga dari negara anggota dalam waktu 6 (enam) bulan dari masa penolakan,
peraturan ini dapat diberlakukan pada negara tersebut. Bagi negara bukan anggota
WHO, dapat menginformasikan kepada Dirjen WHO bahwa negara tersebut setuju
untuk ikut serta melaksanakan dan mengikuti IHR (2005) ini.
Penanggung Jawab Pelaksanaan IHR (2005) di Indonesia
Tanggung jawab dalam pelaksanaan IHR (2005) berada pada WHO dan negara
yang terikat pada peraturan ini. Di Indonesia, Depkes bertanggungjawab pada
pelaksanaan IHR (2005) dan WHO akan mendukung pelaksanaannya. Ditjen PP &
PL beserta Unit Pelaksana Teknis Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), pengelola
transportasi, dan stakeholder lain juga ikut serta dalam mengimplementasikan
pemeriksaan yang direkomendasikan .

6
Notifikasi (Pemberitahuan)
Setiap negara anggota diwajibkan untuk menginformasikan kepada WHO
tentang seluruh kejadian yang berpotensi menimbulkan PHEIC dan memberikan
verifikasi dari informasi tersebut. Hal ini dimaksudkan agar WHO menjamin
kerjasama yang baik untuk perlindungan yang efektif serta menginformasikan risiko
kesehatan masyarakat dan tindakan cepat dan tepat yang dapat dilaksanakan .
Ketentuan Kemampuan Dasar
Setiap negara anggota diwajibkan untuk mengembangkan, memperkuat, dan
mempertahankan kemampuan dasar pada setiap level administrasi, agar dapat
mendeteksi, melaporkan, serta menangani risiko kesehatan masyarakat yang
berpotensi menimbulkan PHEIC. Di samping itu, juga dibutuhkan kemampuan
khusus untuk melaksanakan pemeriksaan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas
darat.
Pemeriksaan yang Direkomendasikan
WHO merekomendasikan pemeriksaan yang dapat dilaksanakan oleh suatu
negara yang mengalami PHEIC, negara lainnya, dan pengelola transportasi.
Rekomendasi keadaan PHEIC sementara (temporary recommendation) dibuat oleh
WHO secara khusus, dalam waktu terbatas, dan didasarkan pada risiko yang
spesifik, sebagai jawaban dari PHEIC. Rekomendasi (standing recommendation)
mengindikasikan pemeriksaan yang tepat untuk pemeriksaan rutin terhadap risiko
kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung di bandara, pelabuhan, lintas batas
darat, yang dilakukan secara rutin maupun periodik. Pemeriksaan dapat dilakukan
kepada manusia, barang, kargo, kontainer, kapal, pesawat, transportasi darat, barang,
dan paket pos.

2.4 Fungsi & Peran KKP dalam Pelaksanaan IHR 2005


a. Melaksanakan pemantauan alat angkut, kontainer, dan isinya yang dating dan
pergi dari daerah terjangkit, serta menjamin bahwa barang-barang
diperlakukan dengan baik dan tidak terkontaminasi dari sumber infeksi,
vektor, dan reservoar.

7
b. Melaksanakan dekontaminasi serta pengendalian vektor dan reservoar
terhadap alat angkut yang digunakan oleh orang yang bepergian.
c. Melakukan pengawasan deratisasi, disinfeksi, disinseksi dan dekontaminasi.
d. Menyampaikan saran/rekomendasi kepada operator alat angkut guna
melakukan pemeriksaan lengkap terhadap alat angkut atau kendaraannya.
e. Melakukan pengawasan pembuangan sisasisa bahan yang terkontaminasi
(seperti air, makanan, dan sisa pembuangan manusia).
f. Melakukan pemeriksaan dan pemantauan terhadap pembuangan sisa-sisa
bahan alat. angkut yang dapat menimbulkan pencemaran dan penyakit.
g. Melakukan pengawasan terhadap agen pelaksana perjalanan dan angkutan di
wilayah kedatangan.
h. Melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan apabila terjadi hal-hal yang tidak
diharapkan, sesuai dengan kebutuhan (emergency case).
i. Melakukan komunikasi dengan National IHR Focal Point.
2. Melaksanakan pemeriksaan yang direkomendasikan oleh WHO untuk setiap
kedatangan dari daerah tertular apabila terindikasi bahwa pemeriksaan
keberangkatan dari daerah terinfeksi dianggap tidak benar/tidak sah.
3. Melaksanakan prosedur disinseksi, deratisasi, desinfeksi, dekontaminasi, serta
pemeriksaan sanitasi lainnya dengan tidak menyebabkan atau seminimalnya
kecelakaan, ketidak nyamana dan kerusakan.

8
Sumber : Buku Saku IHR 2005

2.4 Penyakit Yang Tergolong ke dalam Potensial PHEIC

1. Lassa Fever
A. Definisi
Lassa Fever adalah demam berdarah Lassa yaitu salah satu jenis penyakit
yang ditularkan dari tikus dengan akibat yang berbahaya

9
B. Epidemiologi

Gambar: Distribusi Demam Lassa di Afrika Barat.


Sumber : US National Library of Medicine National Institutes of Health

Kejadian Luar Biasa telah ditemukan di Republik Afrika Tengah, Guinea,


Liberia, Nigeria, dan Sierra Leone. Bukti serologis manusia yang terinfeksi telah
ditemukan di Republik Demokrat Kongo, Mali, dan Senegal.
Tikus menjadi salah satu pusat perhatian dan permasalahan dunia di mana
telah menyebarkan penyakit PHEIC danpenyakit Lassa Fever yang merupakan
WHO Epidemic and Pandemic Alert and Response (EPR) dan berpotensi menjadi
PHEICEndemik Lassa Fever terjadi di negara-negara Afrika Barat, dengan 300-
500.000 kasus setiap tahunnya dan kematian sekitar 5.000 jiwa. Terdapat 397 kasus
di Nigeria di mana 87 kasus telah dikonfirmasi positif dengan jumlah kematian 40
orang selama 6 minggu sejak terjadinya wabah (CFR : 45,97%).

10
Kasus Lassa Fever telah menyebar hingga beberapa negara di luar Afrika
Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Jerman sehingga
memungkinkan penyebaran yang lebih jauh termasuk ke Indonesia.

C. Etiologi
Berupa Lassa Virus (LASV) / Virus Lassa yang merupakan : Golongan :
arbovirus, Genus : arenavirus, Family : arenaviridae . Virus ini merupakan
virus zoonotic atau tergolong virus penyakit yang ditransmisikan oleh hewan.
Virus Lassa juga dapat menyebar antara manusia melalui kontak langsung dengan
darah, urin, feses atau cairan tubuh lainnya dari seorang dengan demam berdarah
Lassa

Stage Gejala

1 (hari 1-3) Lemah dan lesu, demam tinggi >39C, menetap


dengan puncak 40-41C

2 (hari 4 -7) Sakit tenggorokan (dengan bercak eksudat putih),


sakit kepala, punggung, dada, abdomen,
konjungtivitis, mual dan muntah, diare, batuk
produktif, proteinuria, sistolik rendah <100 mmHg,
anemia

3 (setelah 7 hari) Wajah bengkak, konvulsi, perdarahan mukosa


(mulut, hidung, mata), perdarahan internal, konfusi
atau disorientasi

4 (setelah 14 hari) Koma dan kematian

D. Pencegahan
Upaya Pencegahan Masuk dan Keluarnya Lassa Fever di Pintu Masuk
Negara
Pemberantasan tikus sebagai reservoir di pelabuhan, kapal, dan pesawat

11
Pencegahan lain :
Selain pencegahan dengan pemberantasan binatang pengerat secara spesifik,
dilakukan pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar

2.WEST NILE FEVER

A. Defenisi
West Nile Fever merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus
west nile yang termasuk dalam famili Flaviviradae yang ditularkan kepada manusia
maupun hewan melalui gigitan nyamuk Culex. Virus west nilemenjadikan nyamuk
Culex sebagai vektornya dan burung sebagai agents berkembang biaknya.

B. Etiologi
Virus West Nile digolongkan dalam kelompok Flavivirus yang mempunyai
kedekatan antigenik dengan virus Murray Valley Encephalitis (MVE) di Australia,
St. Louis Encephalitis (SLE) di Amerika dan Japanese Encephalitis (JE) di Jepang.

C . Epidemiologi
Virus West Nile sendiri pertama kali diisolasi dari darah seorang perempuan
yang sedang terserang demam di daerah Omogo, Propinsi West Nile (daerah delta
Sungai Nil), Uganda pada tahun 1937.Virus ini juga banyak ditemukan di Timur
Tengah, Asia Barat, Oceania, Amerika Utara dan juga daerah-daerah lainnya di
Afrika pada perkembangan selanjutnya.Epidemi pertama kali dilaporkan terjadi
pada orang di Israel (1950 1954).Antara tahun 1962 1964 ditemukan pada orang
di daerah Camargue, Prancis dimana beberapa penderita mengalami
encephalitis.Wabah terbesar dilaporkan juga terjadi di Afrika Selatan pada tahun
1974 dengan morbidity rate mencapai 55% namun bersifat ringan tanpa encephalitis.
Sejak tahun 1990-an jumlah kasus yang menimbulkan kematian semakin meningkat,
dibuktikan dengan kasus di Rumania pada tahun 1996, di Rusia pada tahun 1999dan
Israel pada tahun 2000.Tahun 1999, virus West Nile telah menyebar dengan cepat di
Amerika Serikat terutama New York mengikuti pola burung yang bermigrasi dan
dengan cepat menjadi wabah besar didaerah tersebut.

12
D. Mode of Transmission
Gigitan nyamuk yang mengandung virus WN merupakan kunci utama bagi
penularan infeksi westnile. Penelitian TURELL (Tahun 2000) menyatakan bahwa
Cx. Pipens, Ae. Japonicus, Ae. Sollicitans, Ae taeniorchynchus dan Ae. Vexans
merupakan vektor west nile. Bahkan Ae japonicus merupakan vektor yang paling
potensial dalam menularkan virus west nile.Nyamuk menjadi terinfeksi ketika
mereka makan pada burung yang telah terinfeksi. Nyamuk yang terinfeksi kemudian
dapat menyebarkan virus ke manusia dan hewan lain ketika mereka menggigit
manusia dan hewan tersebut. West Nile virus tidak menyebar melalui sentuhan atau
melalui kontak langsung dengan orang telah terinfeksi virus tetapi dalam beberapa
kasus, virus dapat menyebar melalui transfusi darah, transplantasi organ, menyusui
dan bahkan selama kehamilan dari ibu ke bayi.

Sumber: kkpmerauke.blogspot.com

E. Gejala Klinis
Masa inkubasi virus west nile pada manusia umumnya berkisar antara 3
hingga 14 hari. Infeksi virus ini pada manusia muda umumnya tidak terlalu
menimbulkan gejala klinis. Namun, pada manusia dengan sistem kekebalan tubuh
yang lemah dapat timbul gejala klinis berupa demam tinggi, lemah, sakit kepala,
gangguan pencernaanseperti mual, muntah dan diare, kaku kuduk, myalgia,
arthralgia dan bahkan sampai perubahan mental (CDC, 2004). Sedangkan pada
kuda, infeksi west nile menyebabk anataksia, inkoordinasi motorik, paresisdan
tremor.

13
F. Pencegahan
Pencegahan infeksi virus ini dengan cara mengurangi kontak dengan nyamuk
yang terinfeksi dan melakukan vaksinasi.Namun, vaksin pada manusia hingga saat
ini masih belum tersedia. Pencegahan pada manusia sebaiknya dengan
meminimalkan gigitan serangga vektor, seperti penggunaan repellent, memakai
kelambu atau menyemprot ruangan dengan anti nyamuk.Karantina yang ketat dalam
pemasukan hewan terutama dari daerah dimana infeksi west nile telah terjadi
diperlukan. Unggas yang terinfeksi virus west nile dapat dikonsumsi setelah dimasak
hingga matang terlebih dulu.

Pemetaan Marburg Fever dan West Nile Fever

14
3.Demam Berdarah Marburg

Demam berdarah Marburg adalah penyakit yang berbahaya dan sangat fatal
,Penyakit ini disebabkan oleh virus dari kelompok /golongan yang sama dengan
salah satu virus yang menyebabkan demam berdarah Ebola. Secara mikroskopis
dengan menggunakan mikroskop elektron, virus tersebut merupakan partikel yang
berbentuk filamen memanjang, kadang-kadang digulung seperti bentuk aneh,
Sehingga virus ini dikelompokan kedalam keluarga Filoviridae . Virus ini adalah
salah satu patogen paling ganas diketahui yang dapat menginfeksi manusia.

Epidemiologi
Agen penyebab. Marburg virus adalah dari keluarga Filoviridae. Secara
Geografis penyakit ini pernah terjadi, menjadi wabah, besar di Marburg, Jerman,
dan Belgrade, bekas Yugoslavia, pada tahun 1967, dimana merupakan penemuan
awal dari penyakit ini. wabah ini berkaitan erat dengan pekerja di laboratorium
yang menggunakan monyet hijau Afrika (Cercopithecus aethiops) dari Uganda.
Selanjutnya, penyakit dan kasus sporadis telah dilaporkan di Angola, Republik
Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan (pada orang dengan sejarah perjalanan
terakhir ke Zimbabwe) dan Uganda.

Transmisi
Penularan virus dari orang ke orang membutuhkan kontak dekat dengan
pasien.Transmisi tidak terjadi selama hasil inkubasi period.Infection dari kontak
dengan darah atau cairan tubuh lain (tinja, muntahan, urin, air liur, dan sekresi
pernafasan) dengan konsentrasi virus yang tinggi, terutama ketika cairan
mengandung darah. Transmisi melalui air mani yang terinfeksi dapat terjadi; virus
telah terdeteksi dalam air mani sampai tujuh minggu setelah pemulihan klinis.Pasien
menjadi semakin menular seiring dengan kondisi / gejala yang sedang mereka
alami, dimana virus sangat menular pada fase penyakit yang berat. Bila ini terjadi
Tutup kontak dengan pasien yang sakit parah, selama dirawat di rumah atau di
rumah sakit, dan praktek-praktek pemakaman tertentu rute umum infeksi.Penularan

15
melalui peralatan injeksi yang terkontaminasi atau melalui luka akibat jarum suntik
sangat berkaitan dengan terjadi penyakit yang lebih parah, kerusakan yang cepat,
dan kematian mungkin lebih tinggi.Masa inkubasi.Penyakit ini berlangsung antara
3 sampai 9 hari.

4. KOLERA

A. Definisi

Penyakit taun atau kolera (juga disebut Asiatic cholera) adalah penyakit
menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakterium Vibrio cholerae.
Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh melalui air minum yang terkontaminasi
oleh sanitasi yang tidak benar atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak benar,
terutama kerang.Gejalanya termasuk diare, perut keram, mual, muntah, dan
dehidrasi.Kematian biasanya disebabkan oleh dehidrasi.Kalau dibiarkan tak terawat,
maka penderita berisiko kematian tinggi.Perawatan dapat dilakukan dengan
rehidrasi agresif "regimen", biasanya diberikan secara intravena secara berkelanjutan
sampai diare berhenti.

C. Epidemiologi

Kolera dijumpai secara endemis di Delta sungai Gangga.Sepanjang sejarah,


dengan endemi tahunan di Bengali barat dan Banglades. Antara tahun 1817-1926,
penyakit tersebut menyebar ke seluruh dunia

C . Penularan Penyakit Kolera

Seseorang bisa mendapatkan kolera dengan minum air atau makan-


makanan tercemar dengan Vibrio cholerae. Sumber kontaminasi
cholerae Vibrio, selama epidemi, biasanya tinja orang yang terinfeksi.
Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat di daerah dengan pengobatan
yang tidak memadai limbah dan air minum.
Vibrio cholerae juga dapat hidup dalam lingkungan payau (air asin)
sungai dan perairan pesisir. Ketika dimakan mentah, kerang telah

16
menjadi sumber bakteri Vibrio cholerae, dan beberapa orang di Amerika
Serikat terjangkit kolera setelah makan kerang mentah atau kurang
matang dari Teluk Meksiko.
Karena Vibrio cholerae tidak mungkin menyebar langsung dari satu
orang ke orang lain, kontak biasa dengan penderita tidak risiko untuk
menjadi sakit.
Setelah Vibrio cholerae yang tertelan, bakteri perjalanan ke usus kecil di
mana mereka mulai berkembang biak. Penyebab utama diare berair,
gejala kolera karakteristik, adalah ketika Vibrio cholerae mulai
memproduksi racun mereka.
Dalam rangka mengembangkan gejala kolera, seseorang perlu menelan
banyak Vibrio cholerae. Jumlah yang dibutuhkan menurun pada mereka
yang menggunakan antasida (atau siapa yang baru saja dimakan makan),
ketika asam di lambung dinetralkan.
Penyakit dapat menyebar lebih lanjut jika orang yang terinfeksi mulai
menggunakan sumber air kotor untuk membersihkan diri mereka sendiri
dan untuk buang dari limbah.

Adapun cara penularannya yaitu:

Masuk melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi secara


langsung atau tidak langsung oleh tinja atau muntahan dari orang yang
terinfeksi.El Tor dan O139 dapat bertahan di air dalam jangka waktu yang
lama. Pada saat wabah El Tor sekala besar terjadi di Amerika Latin pada
tahun 1991, penularan yang cepat dari kolera terjadi melalui air yang
tercemar karena sistem PAM perkotaan yang tidak baik, air permukaan yang
tercemar, sistem penyimpanan air di rumah tangga yang kurang baik.
Makanan dan minuman pada saat itu di olah dengan air yang tercemar dan di
jual oleh pedagang kaki lima, bahkan es dan air minum yang di kemaspun
juga tercemar oleh Vibrio Cholerae. Biji-bijian yang dimasak dengan saus
pada saat wabah itu terbukti berperan sebagai media penularan kolera. Vibrio
Cholerae yang di bawa oleh penjamah makanan dapat mencemari salah satu

17
dari jenis makanan yang di sebutkan di atas yang apabila tidak di simpan
dalam lemari es dalam suhu yang tepat, dapat meningkatkan jumlah kuman
berlipat ganda dalam waktu 8-12 jam. Sayuran dan buah-buahan yang dicuci
dan di basahi dengan air limbah yang tidak di olah, juga menjadi media
penularan.
Terjadinya wabah maupun munculnya kasus sporadis sering di sebabkan
oleh karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang.Air yang
tercemar sering berperan sebagai media penularan seperti yang terjadi pada
KLB di Guam, Kiribati, Portugal, Itali dan Ekuador. Pada kejadian lain,
seperti di AS, kasus sporadis kolera justru timbul karena mengkonsumsi
seafood mentah atau setengah matang yang di tangkap dari perairan yang
tidak tercemar.

D . Penyebab Penyakit Kolera

Paparan kebersihan yang buruk


Makan makanan mentah atau kerang
Kekurangan asam klorida dapat meningkatkan kerentanan

E . Pencegahan

Penjernihan cadangan air dan pembuangan faeces yang memenuhi standar


Meminum air yang sudah terlebih dahulu dimasak
Menghindari sayuran mentah atau ikan dan kerang yang dimasak tidak
sampai matang
Sayuran dan buah-buahan harus dicuci dengan larutan kalium permanganate
Pemberian antibiotic tetrasiklin bisa membantu mencegah penyakit pada
orang-orang yang sama-sama menggunakan perazsbotan rumah dengan
orang yang terinfeksi kolera.

Vaksinasi kolera dengan vaksin kotipa 0,5ml .

F. Masa inkubasi : 3 6 hari

* Keluhan pokok

18
1) Tiba-tiba diare :

2) Tinja yang encer/lembek

3) Diikuti oleh cairan yang menyerupai air cucian beras, berbau amis

4) Mual muntah menyusul diare.

* Tanda penting

1) Dehidrasi (turgor kulit jelek, mata dan pipi cekung)

2) Jari-jari keriput

3) Asidosis dan Hipokalemi

4) Syok : nadi cepat dan kurang berisi, tensi turun, keringat dingin.

Pemetaan Kolera dan Pes

19
5. PES

Penyakit pes adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang
disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Pes disebut juga penyakit sampar, plague,
atau black death. Penyakit ini ditularkan dari hewan pengerat (terutama tikus)
melalui perantara kutu (flea). Kutu perantara yang paling sering adalah jenis
Xenopsylla cheopsis. Penyakit ini di Indonesia termasuk salah satu penyakit menular
dalam Undang-Undang Wabah yang harus dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
dalam waktu 24 jam pertama sejak diketahui. Pes disebut sebagai black deathkarena
salah satu gejala penyakit ini adalah kehitaman pada ujung-ujung jari dan tingkat
kematiannya yang tinggi.

EPIDEMIOLOGI

Pes dapat ditemui di seluruh dunia, terutama di benua Afrika.Sebagian besar


penderita pes merupakan penduduk desa, lebih banyak ditemui pada laki laki, dan
dapat terjadi pada semua umur. Pes disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis.
Pada tahun 1960 telah tercatat kematian sebanyak 243.375 orang. Tahun 1968-1969
masih terjadi wabah di Kabupaten Boyolali, Jawa tengah dengan kematian sebanyak
42 orang dan berulang pada tahun 1970 dengan 2 kematian. Penyakit ini di
Indonesia masih dalam pemantauan. Penyakit ini juga pernah ditemukan di Itali.

GEJALA

Gejala timbul 2 hingga 8 hari setelah gigitan kutu, jarang melebihi 15 hari.
Sebagian besar penderita mengalami gejala awal yaitu tidak napsu makan, rasa
dingin, berdebar- debar, dan nyeri di daerah selangkangan. Berdasarkan gejala, pes
dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu pes tipe kelenjar getah bening, pes tipe infeksi
luas, dan pes tipe paru.

PENYEBAB

Pada awalnya menginfeksi kutu. Ketika kutu menggigit tikus, maka tikus
tersebut akan terinfeksi bakteri pes. Dengan demikian, jika kutu lain menggigit tikus

20
sakit tersebut, maka kutu tersebut juga akan terinfeksi. Jika kutu kutu ini
menggigit manusia, maka bakteri dalam tubuh kutu akan masuk ke dalam tubuh
manusia, mengikuti aliran getah bening dan menyebar melalui sirkulasi darah. Di
kelenjar getah bening, bakteri ini menimbulkan reaksi radang berupa bengkak,
kemerahan dan nanah. Bakteri ini kemudian menyebar melalaui aliran darah ke
organ-organ lain seperti limpa, paru-paru, hati, ginjal dan otak. Ketika sampai paru-
paru, bakteri ini dapat menyebabkan radang (pneumonia) dan dapat menularkan
penyakit kepada orang lain melalui batuk atau bersin. Bakteri yang dibatukkan dapat
bertahan di udara dan dapat terhirup oleh orang lain. Pes tidak hanya dapat
menginfeksi tikus, namun juga bisa menginfeksi kucing, anjing, dan tupai.

Tindakan pencegahan pes dapat berupa menghindari daerah yang rawan pes;
menghindari hewan yang sakit atau mati; menggunakan obat pengusir serangga atau
baju pelindung jika berisiko terpapar kutu; serta menggunakan sarung tangan jika
harus menangani hewan mati.Tempat tinggal dan makanan hewan pengerat
(sampah, makanan hewan) harus dimusnahkan dari sekitar tempat tinggal.Jika
seseorang diketahui terpapar oleh kutu atau hewan mati, dapat diberikan pengobatan
antibiotik pencegahan selama 5 hari.Vaksinasi pes tersedia dan saat ini digunakan
untuk petugas laboratorium yang berisiko terpapar bakteri pes serta orang-orang
dengan pekerjaan yang berkaitan dengan binatang pengerat. Vaksinasi PES dengan
vaksin otten .

6.YELLOW FEVER

Definisi

Demam kuning (dijuluki "Yellow Jack") adalah sebuah penyakit


hemorrhagik virus akut.[1] Virus ini berupa sebuah virus RNA sebesar 40 hingga 50
nm dengan indera positif dari keluarga Flaviviridae.

Epidemiologi

Virus demam kuning ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina (nyamuk
demam kuning, Aedes aegypti, dan spesies lain) dan ditemukan di kawasan tropis

21
dan subtropis di Amerika Selatan dan Afrika, namun tidak di Asia. Satu-satunya
makhluk yang ditunggangi virus ini adalah primata dan beberapa spesies nyamuk.
Penyakit ini diyakini berasal dari Afrika, kemudian dari sana diperkenalkan ke
Amerika Selatan melalui perdagangan budak pada abad ke-16. Sejak abad ke-17,
beberapa epidemi besar penyakit ini tercatat muncul di Amerika, Afrika dan Eropa.
Demam kuning terjadi dalam rupa demam, mual dan nyeri dan penyakit ini
umumnya menghilang setelah beberapa hari. Pada beberapa pasien, fase beracunnya
terjadi setelah itu, dan kerusakan hati dengan jaundis (penguningan kulit yang
memberi nama penyakit ini) dapat terjadi dan mengakibatkan kematian. Karena
kecenderungan pendarahan yang meningkat (diatesis pendarahan), demam kuning
termasuk dalam kelompok demam hemorrhagik. WHO memperkirakan bahwa
demam kuning mengakibatkan 200.000 korban sakit dan 30.000 kematian setiap
tahunnya di daerah berpenduduk tanpa vaksin sekitar 90% infeksi terjadi di Afrika.

Vaksin teraman dan efektif melawan demam kuning sudah ada sejak pertengahan
abad ke-20 dan beberapa negara mensyaratkan vaksinasi untuk pelancong. Karena
belum ada terapi untuk penyakit ini, program vaksinasi ini, bersama peraturan
mengurangi populasi nyamuk pengangkut virus, memiliki kepentingan besar di
daerah-daerah terjangkit. Sejak 1980-an, jumlah kasus demam kuning terus
meningkat dan menjadikannya sebagai penyakit yang bangkit kembali.

Tanda dan gejala

Masa Inkubasi dalam tubuh selama 3 sampai 6 hari, diikuti oleh infeksi
yang dapat terjadi dalam satu atau dua tahap. fase akut, fase ini biasanya
menyebabkan demam, nyeri otot dengan punggung menonjol, sakit kepala,
menggigil, kehilangan nafsu makan, dan mual atau muntah. Kebanyakan pasien
akan menunujukan Penyembuhan dan gejala menghilang setelah 3 sampai 4 hari.

Transmisi

Virus demam kuning termasuk dalam kelompok arbovirus dari genus


Flavivirus, dan nyamuk adalah vektor utama. Nyamuk ini akan membawa virus dari

22
satu host ke yang lainnya, terutama antara monyet ke monyet, dari monyet ke
manusia, dan dari manusia ke manusia.

Beberapa spesies nyamuk Aedes dan Haemogogus dapat menularkan virus. Baik
nyamuk yang berkembang biak di sekitar rumah (domestik), di hutan (liar) atau di
kedua habitat (semi-domestik).

Adatiga jenis siklus penularan.

1 * Sylvatic (atau hutan) demam kuning: Di hutan hujan tropis, demam kuning
terjadi pada monyet yang terinfeksi oleh nyamuk liar. Monyet-monyet yang
terinfeksi kemudian menularkan virus kepada nyamuk lain yang memakan mereka.
Nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia yang masuk ke hutan, sehingga dalam
kasus-kasus tertentu penyakit demam kuning,Sebagian besar infeksi terjadi pada pria
muda yang bekerja di hutan (misalnya pekerja penebang pohon).

2* Intermediate demam kuning: Di daerah yang lembab atau semi-lembab Afrika,


pernah terjadi epidemi skala kecil. Nyamuk yang berkembang biak di alam bebas
dan di sekitar rumah tangga dapat menginfeksi monyet dan manusia. Peningkatan
Transmisi manusia dan nyamuk yang terinfeksi menyebabkan di suatu daerah bisa
menderita kasus secara bersamaan.Ini adalah jenis yang paling umum untuk wabah
di Afrika. Sebuah wabah dapat menjadi epidemi yang lebih parah jika infeksi terjadi
di suatu daerah penduduknya penduduknya tidak divaksinasi.dan perkembang
biakan nyamuk tidak di cegah.

3* demam kuning Perkotaan: wabah besar terjadi ketika orang yang terinfeksi virus
demam kuning masuk ke daerah-daerah padat penduduk dengan sejumlah besar
orang yang tidak kebal dan nyamuk Aedes. Nyamuk yang terinfeksi menularkan
virus dari orang ke orang.

Pencegahan

Vaksinasi

Vaksinasi adalah ukuran paling penting untuk mencegah demam kuning. Di daerah
berisiko tinggi di mana cakupan vaksinasi rendah, pengendalian wabah melalui

23
imunisasi sangat penting untuk mencegah epidemi.Untuk mencegah wabah di
seluruh wilayah yang terkena dampak, cakupan vaksinasi harus mencapai minimal
60% sampai 80% dari populasi yang berisiko. Hanya sedikit negara-negara endemik
yang baru-baru ini diuntungkan dari kampanye vaksinasi massal pencegahan di
Afrika saat ini memiliki tingkat cakupan. Vaksinasi pencegahan dapat ditawarkan
melalui imunisasi bayi rutin dan kampanye massa satu kali untuk meningkatkan
cakupan vaksinasi di negara-negara yang berisiko, serta untuk wisatawan ke daerah
endemik demam kuning. WHO sangat menganjurkan vaksinasi demam kuning rutin
untuk anak-anak di daerah beresiko untuk penyakit ini.Vaksin demam kuning aman
dan terjangkau, memberikan kekebalan efektif terhadap demam kuning dalam satu
minggu untuk 95% dari mereka yang divaksinasi.Sebuah dosis tunggal memberikan
perlindungan bagi 30-35 tahun atau lebih, dan mungkin untuk hidup.efek samping
yang serius sangat jarang. Efek samping serius telah dilaporkan jarang setelah
imunisasi di beberapa daerah endemik dan di antara para pelancong divaksinasi
(misalnya di Brasil, Australia, Amerika Serikat, Peru dan Togo).Para ilmuwan
sedang menyelidiki penyebab. Vaksinasi Yellow Fever .

Pemetaan Yellow fever dan Meningitis

24
7.Meningitis

Meningen adalah 3 lapisan jaringan ikat. Mereka terdiri dari pia mater (terdekat
ke organ-organ sistem saraf pusat), arachnoid dan dura mater (terjauh dari otak dan
sumsum tulang belakang). Mereka juga termasuk pembuluh darah dan berisi Cairan
serebrospinal.Ini adalah struktur yang terlibat dalam meningitis, peradangan
meninges, yang, jika parah, mungkin menjadi ensefalitis, radang otak.

Definisi

Meningitis adalah infeksi meninges.Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri


atau virus, dan mengarah ke meninges menjadi meradang (bengkak).Ini dapat
menyebabkan kerusakan serius pada saraf, otak dan sumsum tulang belakang.

Epidemiologi

Meningitis di daerah Afrika sub-Sahara memiliki pola epidemiologis yang


khusus. Daerah ini yang sering disebut juga sebagai meningitis belt meliputi kurang
lebih 10 negara di antaranya adalah Burkina Faso, Ghana, Togo, Benin, Niger,
Nigeria, Chad, Cameroon, Republik Afrika Tengah dan Sudan.
Di daerah ini, infeksi meningokokus yang disebabkan oleh serogrup A
timbul secara berulang setiap tahun sebagai suatu gelombang. Derajat serangan
penyakit meningkat pada akhir musim kering dan secara cepat menurun setelah
musim hujan mulai Pada saat puncak terjadinya epidemi, insidens penyakit dapat
mencapai 1000/100.000 penduduk.
Wabah yang palingbesar yang berasal dari Cina bagian utara dan menyebar
ke selatan dan kemudian ke seluruh dunia India pada tahun 1983 sampai 1987. Pada
tahun 1987, klon ini mencapai daerah Timur Tengah, kemudian menyebar lebih jauh
dan menimbulkan epidemi yang luas di jasirah Arab dan Afrika. Pada tahun 1990-
an, wabah ini bergerak kebagian lebih selatan dari daerah tradisional meningitis belt
sampai mencapai Afrika Selatan di tahun 1996.

25
Gejala meningitis

Meningitis umumnya diwujudkan oleh:

sakit kepala parah


muntah
demam tinggi
kekakuan leher
sensitivitas dan mata sakit pada paparan cahaya
ruam kulit

Gejala dapat berbeda dalam anak-anak dan bayi.

Orang-orang paling beresiko terkena meningitis termasuk:

mereka yang memiliki pleuroperitoneal CSF ditempatkan dalam otak mereka


untuk patologi lain
orang-orang dengan cacat di dura
menggunakan prosedur tulang belakang (misalnya tulang belakang anestesi)
penderita diabetes
mereka dengan bakteri Endokarditis
alkoholisme dan hati sirosis
penyalahgunaan narkoba suntikan
ginjal ketidakcukupan
Thalassemia
cystic fibrosis
hipoparatiroidisme
splenectomy
sabit cell penyakit dll.

Berkerumun (misalnya sekolah, perawatan hari, merekrut militer dan mahasiswa)


menimbulkan risiko meningitis. Pencegahan Meningitis dengan cara vaksinasi
sdengan vaksin menveo 0,5ml .

26
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kegiatan Pengawasan Keberangkatan Di Bandara


Langkah-langkah kegiatan:
a. Memberikan informasi kepada calon penumpang. Memberikan
pengumuman kepada seluruh penumpang dengan menggunakan papan
pengumuman, selebaran dan secara lisan tentang situasi dan kondisi yang
terjadi adanya episenter pandemi penyakit disalah satu area diwilayah
pelayanan bandara ini.
b. Petugas karantina kesehatan memberikan penjelasan kepada calon
penumpang bahwa akan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan
yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan suhu badan dengan cara semua penumpang harus
melewati thermoscanner yang dipasang sebelum pintu masuk ruang
X-ray security pertama di terminal keberangkatan domestik atau
internasional. Jika terdeteksi suhu tubuhnya >38oC maka calon
penumpang langsung dibawa ke poliklinik KKP yang berada di dekat
thermal scanner untuk dilakukan anamnesis dan pemeriksaaan fisik.
Jika suspek positif maka di rujuk ke RS rujukan dan barang yang
dibawa dilakukan disinfeksi. Jika suspek negatif maka diobati oleh
dokter KKP atau dirujuk ke RS. Jika hasil pemeriksaan dokter bukan
penyakit menular dan bukan penyakit berisiko untuk terbang, maka
diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan.
2. Apabila suhu tubuh <38oC dibagikan HAC (Health Alert Card) untuk
di isi dan selanjutnya dianalisa, diseleksi apakah ada riwayat kontak
dan memiliki keluhan gejala penyakit maka dibawa ke poliklinik
KKP untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, yaitu:
Jika hasil pemeriksaan dokter menyatakan suspek positif maka
calon penumpang tersebut di rujuk ke RS rujukan dengan
menggunakan mobil evakuasi penyakit menular. Bila hasil

27
pemeriksaan negatif maka calon penumpang tersebut di obati oleh
dokter KKP atau di rujuk ke RS.
Calon penumpang yang tidak memiliki keluhan dan tidak ada
riwayat kontak, maka calon penumpang tersebut di perbolehkan
untuk melanjutkan perjalanan dengan membawa kartu HAC.
Seluruh petugas yang melaksanakan tindakan karantina
diwajibkan memakai APD lengkap dan diberi vaksin (bila ada).
Kegiatan pemeriksaan diberlakukan untuk seluruh orang yang
memasuki wilayah bandara.

3.2 Kegiatan Pengawasan Keberangkatan di Pelabuhan


Langkah-langkah kegiatan:
1. Memberikan informasi kepada calon penumpang dan ABK. Memberikan
pengumuman kepada seluruh penumpang dan ABK dengan
menggunakan papan pengumuman, selebaran dan secara lisan tentang
situasi dan kondisi yang terjadi yaitu adanya episenter pandemi penyakit
disalah satu area di wilayah pelayanan pelabuhan.
2. Petugas KKP memberikan penjelasan kepada calon penumpang dan
ABK, bahwa akan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Seluruh calon penumpang dan ABK dibagikan HAC untuk diisi dan
diserahkan kepada petugas KKP setelah melewati thermal scanner.
b. Jika terdeteksi suhu tubuhnya >38oC maka calon penumpang
langsung dibawa ke poliklinik KKP yang berada di dekat thermal
scanner untuk dilakukan anamnesis dan pemeriksaaan fisik. Jika
suspek positif maka di rujuk ke RS rujukan dan barang yang dibawa
dilakukan disinfeksi. Jika suspek negatif maka diobati oleh dokter
KKP atau dirujuk ke RS. Jika hasil pemeriksaan dokter bukan
penyakit menular dan bukan penyakit berisiko untuk terbang, maka
diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan.

28
c. Apabila suhu tubuh <38oC petugas menganalisa apakah ada riwayat
kontak dan memiliki keluhan gejala penyakit.
d. Apabila terdeteksi memiliki keluhan gejala penyakit maka dibawa ke
poliklinik KKP untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, yaitu :
Jika hasil pemeriksaan dokter menyatakan suspek positif maka
calon penumpang dan ABK tersebut di rujuk ke RS rujukan
dengan menggunakan mobil evakuasi penyakit menular. Bila
hasil pemeriksaan negatif maka calon penumpang dan ABK
tersebut di obati oleh dokter KKP atau di rujuk ke RS.
Calon penumpang dan ABK yang tidak memiliki keluhan dan
ada riwayat kontak, maka calon penumpang tersebut dikarantina
selama 2 kali masa inkubasi. Barang-barang yang dibawa juga
dikarantina untuk di disinfeksi.

3.3 Kegiatan Pengawasan Keberangkatan di Bandar Udara


Langkah-langkah kegiatan:
1. Dari bandara udara yang mempunyai akses dengan wilayah Episenter
PHEIC
Tindakan terhadap penumpang atau crew, barang dan pesawat. Pesawat
yang datang dari bandara udara yang mempunyai akses dengan wilayah
Episenter PHEIC harus diparkir di tempat khusus (zona karantina) di
bandara.
Petugas karantina kesehatan mengarahkan penumpang yang sehat
untuk turun melewati jalur yang telah ditentukan. Terhadap para
penumpang tersebut dilakukan pemeriksaan kesehatan dan
pemeriksaan kartu kewaspadaan yang telah di bagikan di bandara
sebelumnya.
Bila ditemukan kasus suspek PHEIC maka penumpang langsung
dibawa ke klinik khusus karantina kesehatan untuk dilakukan
anamnesa dan melakukan pemeriksaan fisik, selanjutnya dirujuk ke
rumah sakit rujukan penyakit menular.

29
Penumpang yang berada tiga baris kiri, kanan, belakang, dan depan
suspek PHEIC di dalam pesawat di lakukan tindakan karantina
selama dua kali masa inkubasi di asrama karantina.
Sedangkan penumpang lain yang berada dalam satu pesawat
dipersilahkan melanjutkan perjalanan setalah diberikan pengarahan
mengenai penyakit tersebut.
Setelah seluruh crew dan penumpang turun dari pesawat dilakukan
tindakan penyehatan terhadap pesawat dan barang.
Apabila suatu negara sudah dinyatakan terjangkit penyakit yang sudah
termasuk kategori PHEIC, maka semua alat angkut berikut penumpang dan barang
sehausnya tidak boleh keluar dari negara tersebut. Tetapi tergantung dari setiap
negara yang bersangkutan. Untuk mencegah penyebaran ke negara lain harus
dilakukan pengawasan terhadap semua alat angkut dari negara yang terjangkit
tersebut.

3.4 Kegiatan Pengawasan Kedatangan Di Pelabuhan


1. Dari Pelabuhan Sehat
Pengawasan Orang
Semua penumpang dan awak kapal yang datang dari perjalanan
Internasional dilakukan pengamatan fisik secara visual. Bagi
penumpang dan awak kapal yang sakit dilakukan pemeriksaan dan
pengobatan di poliklinik karantina kesehatan.
Pengawasan Barang
Petugas karantina melakukan pengawasan OMKABA impor bekerja
sama dengan bea cukai untuk melakukan pemeriksaan dokumen
kesehatan OMKABA serta pemeriksaan fisik.
Pengawasan Alat angkut/Kapal Laut
Semua alat angkut yang datang dari perjalanan internasional harus
menunjukkan kesehatan alat angkut yang dipersaratkan oleh
pemerintah Indonesia.

30
2. Dari Pelabuhan Laut yang Mempunyai Akses dengan Wilayah Episenter
PHEIC
terhadap orang, barang, dan alat angkut.
Petugas dalam melakukan pemeriksaan wajib memakai APD.
Petugas juga melakukan penyelidikan epidemiologis terhadap pelaku
perjalan, memberikan informasi kepada pelaku perjalanan tentang
kondisi yang terjadi, melakukan pemeriksaan kesehatan pelaku
perjalanan, pemeriksaan suhu badan dan membagikan HAC.

31
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

32
1. Potensial PHEIC adalah penyakit yang sangat berpotensi untuk menjadi Public
Health Emergency Of International Concern (PHEIC).

2. Berdasarkan kriteria dari IHR 2005 Penyakit potensial PHEIC adalah Lassa
Fever, Demam Berdarah Marburg, West Neil Fever, Kolera, Yellow Fever,
Meningitis Meningococcal dan PES.

3. Fungsi & Peran KKP dalam Pelaksanaan IHR 2005


Melaksanakan pemantauan alat angkut, kontainer, dan isinya yang datang dan
pergi dari daerah terjangkit, serta menjamin bahwa barang-barang
diperlakukan dengan baik dan tidak terkontaminasi dari sumber infeksi,
vektor, dan reservoar.
Melaksanakan dekontaminasi serta pengendalian vektor dan reservoar
terhadap alat angkut yang digunakan oleh orang yang bepergian.
Melakukan pengawasan deratisasi, disinfeksi, disinseksi dan dekontaminasi.
Melakukan pengawasan terhadap agen pelaksana perjalanan dan angkutan di
wilayah kedatangan.
Melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan apabila terjadi hal-hal yang tidak
diharapkan, sesuai dengan kebutuhan (emergency case).
Melakukan komunikasi dengan National IHR Focal Point.
Melaksanakan pemeriksaan yang direkomendasikan oleh WHO untuk setiap
kedatangan dari daerah tertular apabila terindikasi bahwa pemeriksaan
keberangkatan dari daerah terinfeksi dianggap tidak benar/tidak sah.
Melaksanakan prosedur disinseksi, deratisasi, desinfeksi, dekontaminasi, serta
pemeriksaan sanitasi lainnya dengan tidak menyebabkan atau seminimalnya
kecelakaan, ketidak nyamana dan kerusakan.

4.2 Saran
A. Untuk masyarakat
1. Bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan wisata, sebaiknya
berkonsultasi dengan dokter.

33
2. Penggunaan masker bagi masyarakat setempat maupun turis pendatang
diwilayah terjangkit.
3. Bila ada mengalami gejala Penyakit Potensial PHEIC, setelah kembali
dari negara atau wilayah yang terjangkit wabah Penyakit Potensial
PHEIC, segera konsultasikan ke dokter dan ceritakan perjalanan
sebelumnya.
4. Selalu cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan dan setelah
melakukan kegiatan di luar.

B. Untuk KKP
1. KKP harus selalu waspada dan siap dalam mengantisipasi masuknya
Penyakit Potensial PHEIC ke Indonesia terutama di pintu masuk negara
(bandara, pelabuhan, dan perbatasan negara) dengan membuat langkah-
langkah, kebijakan-kebijakan serta peraturan-peraturan dalam mencegah
masuknya Penyakit Potensial PHEIC ke Indonesia serta
penanggulangannya.
2. KKP hendaknya melengkapi sarana dan prasarana dalam membantu
mendeteksi secara dini seseorang yang telah terinfeksi Penyakit Potensial
PHEIC.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Kolera. Availabe from : https://id.wikipedia.org/wiki/Kolera. Di akses


(3 November 2015)
2. Makalah Penyakit Kolera. Available from:
http://keslikers.blogspot.co.id/2015/01/makalah-penyakit-kolera.html.
Diakses (3 November 2015)
3. Demam Kuning. Available from:
http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_kuning. Di akses (3 November 2015)
4. Yellow fever. Available from:
https://wietf.wordpress.com/2011/06/14/demam-kuning-yellow-fever/. Di
akses (3 November 2015)
5. Pneumonia plaque. Available from: http://www.kerjanya.net/faq/3873-
pes.ht. Di akses (3 November 2015)
6. Demam berdarah Marburg. Available from:
http://wietf.wordpress.com/2011/06/09/demam-berdarah-marburg/. Di akses
(3 November 2015)
7. Virus West Nile. Available from:
http://www.scribd.com/doc/233953527/West-Nile-Virus-Paper-
Jadi#download. Di akses (3 November 2015)
8. International Health Regulation. Available from: File70809bukusaku_ihr-
1.pdf. Di akses (3 November 2015)
9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
356/MENKES/PER/IV/2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor
Kesehatan Pelabuhan.
10. WHO, 2005. Internasional Health Regulation 2005.

35